Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 45>
"Dua gadis seindah bunga. Hong-hwa yang memikat dan ceria, serta Cheong-hwa yang tenang dan lembut. Dicintai oleh dua wanita secantik mereka adalah hal yang terlalu berlebihan bagiku. Terlebih lagi, fakta bahwa mereka bersaudara membuat posisiku semakin sulit. Aku berangkat ke medan perang tanpa sanggup memberikan jawaban pasti. Namun di sana, aku akhirnya menyadari sepenuhnya. Wanita yang kucintai adalah……"
Pria itu mengulurkan tangan, menerima bunga yang disodorkan oleh sang mempelai wanita.
"……Cheong-hwa."
"Apa?!"
Hantu wanita itu terperanjat. "Bukan! Tuan Hwarang! Dia itu Hong-hwa! Cheong-hwa yang asli ada di sini!"
Mempelai wanita menatap hantu itu dengan raut penuh tanya. "Apa maksudmu? Akulah Cheong-hwa."
Yu-dan dan para siluman ikut tertegun. "Jadi maksudmu ada dua Cheong-hwa?" tanya Tuan Do bingung.
Mempelai wanita menggeleng pelan. "Bukan begitu. Gadis itu sebenarnya adalah Hong-hwa."
"Apa katamu?" Hantu itu kembali memekik tak percaya. "Kebohongan macam apa ini? Akulah Cheong-hwa! Cheong-hwa yang dicintai oleh Tuan Hwarang!"
"Hong-hwa yang malang…." Mempelai wanita menatapnya dengan iba.
"Kamu tidak pernah sanggup menerima kenyataan bahwa Tuan Hwarang hanya mencintaiku. Kamu terus mengikuti di setiap reinkarnasi kami. Namun seberapa keras pun usahamu untuk menghalangi, beliau selalu memilihku. Karena tak sanggup lagi menanggung rasa sakit itu, kamu kehilangan akal sehat dan berubah menjadi iblis jahat. Kamu bersumpah akan mengutukku agar tak bisa lahir sebagai manusia, lalu berniat menyeret beliau ke neraka agar menjadi milikmu selamanya."
Yu-dan merasa familier dengan cerita itu. Sebelumnya, sang hantu menuduh mempelai wanitalah yang merencanakan hal keji tersebut. Namun jika perkataan mempelai wanita ini benar, maka rencana itu sebenarnya disusun oleh si hantu sendiri.
"Namun kamu hancur karena tak sanggup memikul beban dosamu sendiri. Kutukanmu gagal. Kamu akhirnya tidak bisa terlahir kembali, sementara aku bisa bertemu dan bersatu dengan Tuan Hwarang tanpa hambatan sedikit pun."
"Bukan! Itu bohong! Akulah Cheong-hwa!" Hantu itu berteriak histeris dan mencoba menerjang sang mempelai wanita.
Namun, langkahnya segera terhenti oleh barisan prajurit alam baka yang menghunuskan senjata tajam. Yu-dan menoleh dan melihat Baek-ran telah menggenggam tombaknya. Suara-suara dari neraka mulai terdengar; pasukan Myeongbumado siap menyerang kapan saja begitu perintah sang rubah turun.
Baek-ran menunduk menatap hantu yang tersungkur itu. Motif bunga wisteria biru di pakaian kunonya perlahan berubah menjadi bunga merah yang bersimbah darah.
"Ternyata benar. Sosok lembut dan tenang tadi hanyalah kepalsuan. Inilah wujudmu yang sebenarnya, iblis yang terus mengusik sepasang kekasih ini di setiap reinkarnasi mereka. Kamulah pelakunya."
Sorot mata emas rubah memancarkan rasa simpati yang tipis. "Tapi sepertinya dia sendiri bahkan tidak menyadari kenyataan itu…."
"Bukan!" Hong-hwa berseru pilu. "Akulah Cheong-hwa! Perempuan itu yang Hong-hwa! Aku Cheong-hwa yang dicintai setulus hati oleh Tuan Hwarang!"
"Ya ampun…." Chae-seol ternganga. "Jadi karena saking cintanya pada Hwarang, dan saking irinya pada Cheong-hwa, dia sampai membohongi dirinya sendiri?"
"Benar. Ada iblis yang bahkan tak sadar jika dirinya adalah iblis. Mereka melakukan kejahatan namun tetap meyakini bahwa tindakannya benar. Menilai diri sendiri secara objektif memang hal yang sulit bagi siapa pun."
"Jadi semua cerita tentang mempelai wanita yang jahat itu sebenarnya adalah tentang dirinya sendiri," gumam Heuk-yo sembari mendecakkan lidah. Baek-ran mengangguk setuju.
"Begitulah. Dia menolak realitas dan tenggelam terlalu dalam pada peran palsu yang dia ciptakan. Mungkin itu satu-satunya caranya untuk mencari penghiburan."
Yu-dan memperhatikan Hong-hwa yang energinya perlahan mulai meredup. "Sejak kapan kamu curiga?"
"Aku tidak pernah memercayainya sejak awal, meski aku juga tidak mencurigainya secara khusus. Kepastian hanya bisa didapat setelah melihat hukum sebab-akibatnya langsung." Baek-ran menghela napas. "Jika dia tahu kebenarannya, dia takkan mungkin setuju dengan tantanganku tadi. Karena sudah jelas identitasnya akan terungkap saat dikonfrontasi begini."
"Dia menggali kuburannya sendiri. Seberapa besar dia ingin menjadi Cheong-hwa sampai bisa seyakin itu? Cinta benar-benar mengerikan…," ucap Tuan Do.
Di sisi lain, sang pria perlahan melepaskan genggaman tangan istrinya dan mendekat. Ia berdiri di depan hantu yang sedang meratap itu.
"Hong-hwa."
"Tuan Hwarang!" Mendengar suara pria yang dipujanya, Hong-hwa mendongak dengan wajah penuh air mata. "Kenapa bukan aku? Aku juga… aku juga mencintaimu setulus hati! Kenapa harus dia, bukan aku?!"
"Aku tidak bisa memilihmu," sahut sang Hwarang dengan nada menyesal. "Hatiku hanya milik Cheong-hwa sejak dulu."
"Kalau begitu biarkan aku tetap di sisimu! Aku tidak butuh perhatianmu! Biarkan aku hanya melihat bayanganmu saja, aku mohon!" Hong-hwa mencengkeram jubah pria itu, memohon dengan sangat.
"Maafkan aku. Membiarkanmu tetap di sini justru akan jauh lebih kejam bagimu. Hong-hwa, lepaskanlah keterikatan ini dan carilah kehidupan baru. Kami akan selalu mendoakan kedamaianmu."
Sang pria berbalik pergi. Hong-hwa hanya bisa menatap punggung itu dengan pandangan putus asa sebelum akhirnya terjatuh. Ia terus berteriak, memanggil nama pria itu berulang kali.
Semua orang terdiam melihat pemandangan memilukan itu. Sebenarnya, apa itu cinta? batin Yu-dan merenung. Ia tak menemukan jawabannya, namun satu hal yang ia yakini:
"Kalau aku, aku tidak sudi menatap orang yang jelas-jelas tidak menyukaiku."
"Benar juga katamu," sahut Heuk-yo, tumben sekali dia setuju. Ia mendekati Hong-hwa dan menyentuhnya pelan dengan kaki. "Bangunlah. Untuk apa kamu mengejar pria yang sudah menolakmu?
"Dunia ini luas, masih banyak pria lain," hibur Chaewoo lembut. Sementara Chae-seol hanya bersedekap. "Sudahlah, dia tidak akan bisa mendengar apa pun sekarang."
"Itu tidak boleh dibiarkan," sela Baek-ran. "Bukankah kita sudah punya janji? Ini saatnya kamu pergi. Tubuhmu sudah hancur akibat tumpukan dosa dari setiap reinkarnasimu. Seperti kata pria yang kamu cintai, lupakanlah dia dan mulailah lembaran baru. Karena kamu sudah cukup menderita, aku tidak akan menuntut dosa-dosamu di masa lalu."
"……."
"Kita tidak tahu kapan pengadilan langit akan menjemput. Bagaimana jika kamu bertemu makhluk seperti Haetae lagi? Tadi kamu selamat karena ada aku, tapi jika sendirian, kamu pasti akan dicabik-cabi. Sebelum itu terjadi, aku akan membersihkan dosamu dan mengantarmu ke tempat yang lebih baik."
"Iya, Nona. Terimalah kebaikan hati Cheonho-nim. Lahirlah kembali dan temukan pria baru yang mencintaimu," Tuan Do ikut membujuk.
Hong-hwa mendongak pelan. Wajahnya menggambarkan kepedihan yang tak terlukiskan. "Wajah terakhirnya saat menatapku tadi…." gumamnya lirih. "Wajahnya tampak sedih. Aku tidak suka itu. Aku ingin melihatnya tersenyum. Meski bukan tersenyum padaku, aku ingin melihatnya bahagia. Jika aku bisa melihatnya, mungkin aku benar-benar bisa pergi tanpa penyesalan."
"……."
"Ini permintaan terakhirku. Aku mohon." Hong-hwa kembali bersujud penuh harap. Siluman rubah itu terdiam, tampak menimbang-nimbang sesuatu.
Yu-dan tak menyangka bahwa menyewa seluruh gedung samping hotel untuk pernikahan akan semegah ini. Begitu melangkah masuk, ia merasa seperti berada di dalam kastel kuno Eropa. Sebuah tangga raksasa tempat para putri dalam film turun dengan gaun megah berdiri kokoh di sana. Di sisi kiri dan kanan, meja dan kursi yang tertutup kain putih bersih berjajar rapi tak berujung. Sayup-sayup terdengar obrolan tamu tentang mahalnya harga lampu gantung kristal, biaya dekorasi bunga, hingga harga per porsi hidangan pestanya.
Tuan Do sampai melongo melihatnya. "Wah, mereka kaya raya sekali! Tahu begini, seharusnya aku terima saja amplop pemberiannya kemarin!" Ia tampak sangat menyesal.
Chaewoo sibuk membidikkan kamera ke segala penjuru. Itu adalah kamera film kuno berukuran besar dari toko yang sebenarnya lebih pantas disebut barang rongsokan, namun anehnya masih berfungsi.
"Kalian ke sini cuma mau main, kan?" Celetuk Yu-dan.
"Ahaha, Tuan Muda ada-ada saja. Ini bagian dari studi untuk memahami kebudayaan manusia."
"Ini bukan budaya manusia biasa. Kalangan satu persen teratas ini sudah seperti dewa. Saat pengantin masuk nanti, kita harus sujud di lantai," gumam Chae-seol sembari menyesap jusnya.
Seorang pelayan dengan dasi kupu-kupu membawakan roti dan mentega. Mereka semua pun terdiam dan mulai menikmati hidangan pembuka itu.
"Wah, meja ini posisinya bagus sekali. Apa kursi ini kosong?" tanya seorang kameramen sambil menunjuk kursi yang tak berpenghuni.
"Ada isinya," sahut mereka serempak. Di kursi itu, sebenarnya sedang duduk sang hantu wanita yang terikat erat oleh tali ritual merah.
Ini adalah solusi tengah yang mereka ambil. Yu-dan melirik Hong-hwa dan mengingatkannya sekali lagi. "Ingat, ini permintaan terakhirmu. Setelah melihat pernikahan ini, kita kembali ke toko dan kamu harus segera pergi. Jangan macam-macam."
"Aku tidak akan melakukannya. Aku sudah tak punya tenaga lagi," jawab Hong-hwa pelan. Memang benar, penampilannya kini tampak sangat lesu dan tak bersemangat.
Tiba-tiba letusan kembang api terdengar dari arah tangga. Irama musik orkestra berganti menjadi simfoni biola yang romantis. Pintu di puncak tangga terbuka, menampakkan sang mempelai wanita. Rambutnya tersanggul anggun dengan mahkota perak di atasnya, mengenakan gaun putih bersih yang memperlihatkan bahunya yang indah. Sang mempelai pria yang menunggu di bawah tampak terpana melihatnya.
Bahu Hong-hwa gemetar. Meski mencoba tegar, ia tak sanggup membendung emosinya. Ia menggigit bibirnya sembari menatap tajam sang mempelai wanita.
"Jangan," tegur Yu-dan singkat. Hong-hwa segera mengalihkan pandangannya, kini ia menatap sang pria dengan sorot mata yang penuh kerinduan sekaligus kepedihan.
Pesta pernikahan itu benar-benar penuh suka cita. Orang tua kedua mempelai tak henti-hentinya tersenyum bangga. Teman-teman mereka pun bersorak sorai memberikan restu. Namun, di tengah kemeriahan itu…….
Pakaian kedua mempelai tiba-tiba berubah menjadi pakaian berkabung hitam di mata Yu-dan.
"Hah?" Yu-dan tersentak berdiri. Tuan Do dan si kembar pun tampak memucat menyadari hal yang sama.
"Lihat! Sudah kukatakan pernikahan ini akan membawa kematian!" pekik Hong-hwa.
Barulah Yu-dan menyadari sesuatu. Di antara kerumunan tamu yang bersorak, terselip bayangan-bayangan gelap yang mengerikan.
"Sudah kubilang, kan! Makhluk-makhluk jahat akan selalu berkumpul di sekitar perempuan itu!" teriak Hong-hwa.
Benar kata Hong-hwa. Di antara para hadirin, tersembunyi sosok-sosok tanpa wajah yang mengintai. Semakin keras sorak sorai dan doa restu bergema, semakin pekat pula aura kegelapan yang mereka pancarkan.
Kik-kik-kik…….
Suara tawa ganjil terdengar dari arah langit-langit. Yu-dan mendongak dan seketika ia terpaku ngeri. Di tengah langit-langit mewah yang dihiasi lukisan malaikat, pada lampu gantung kristal raksasa yang bernilai ratusan juta itu, puluhan hantu tampak berkerumun mencengkeram strukturnya.
"Gawat!"
Namun segalanya terlambat. Lampu gantung raksasa itu jatuh menghujam tepat ke arah mempelai wanita. Jeritan histeris memenuhi seluruh ruangan.
"Pengantinnya! Pengantinnya tertimpa!"
Hong-hwa pun tampak terkejut. Dalam sepersekian detik yang terasa lama, matanya sempat berkilat cerah. Sebuah kilatan kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
DUM!
Lampu gantung itu menghantam lantai dan hancur berkeping-keping.
Pernikahan yang membawa kematian… ternyata mempelai wanitalah yang menjadi korbannya. Suasana pesta seketika berubah menjadi kekacauan.
"So-yeon!" Sang pria berteriak pilu dan berlari menerjang reruntuhan kristal. Dengan kekuatan yang ada, ia mengangkat kerangka besi lampu itu.
Tepat saat itu, mempelai wanita perlahan bangkit berdiri. "Ah, aku tidak apa-apa."
Suara jernih itu membuat semua orang terpaku. Sang mempelai wanita berdiri tanpa luka, padahal jelas-jelas ia berada tepat di bawah jatuhnya lampu tersebut.
"Benar, aku selamat. Hanya gaunku yang sobek…."
"Astaga, lenganmu!" teriak seseorang. Mempelai wanita melihat lengannya, lengan kanannya bersih, namun lengan kirinya dipenuhi goresan pecahan kristal dan berdarah.
"Hanya luka ringan di lengan kiri. Selain itu aku baik-baik saja."
"Ya Tuhan! Syukurlah!" Ibu mempelai wanita jatuh terduduk sembari berdoa penuh syukur. Sang pria pun langsung memeluk istrinya dengan erat seolah tak ingin melepaskannya lagi. Para tamu mulai bisa bernapas lega.
"Sungguh keajaiban!"
"Panggil ambulans! Cepat!"
"Jangan diinjak pecahannya! Minggir!"
Di tengah keriuhan itu, Yu-dan, Tuan Do, dan si kembar mendekati reruntuhan lampu gantung. Di bawah kerangka besi yang berat itu, Hong-hwa tergeletak tak berdaya. Tubuhnya hancur tertusuk pecahan tajam yang dipenuhi energi jahat para hantu tadi.
"Kenapa…?" tanya Yu-dan pada Hong-hwa. "Bukankah kamu sangat membencinya?"
Hong-hwa mengangguk lemah dengan sisa kekuatannya. "Benar. Aku…… sangat membencinya…. Saat tahu dia akan mati… aku senang…… Tanpa Cheong-hwa… akhirnya aku bisa bersamamu…."
Ia memalingkan kepalanya, menatap ke arah sang mempelai pria di kejauhan.
"Tapi… nanti…." Ia mengumpulkan napas terakhirnya untuk berucap lirih. "…beliau akan bersedih."
Sang pria masih terus memeluk istrinya sembari mengucap syukur berkali-kali dengan wajah penuh kebahagiaan. Melihat senyuman tulus di wajah pria yang dicintainya, Hong-hwa pun ikut menyunggingkan senyum tipis. Itulah momen terakhirnya sebagai sosok ruh yang hancur dan perlahan memudar hingga akhirnya lenyap sepenuhnya.
Siluman rubah duduk terdiam di tepi telaga halaman belakang, menatap permukaan air. Bayangan pohon tua terpantul terbalik di sana. Embusan angin sesekali membuat dahan menyentuh air, menciptakan riak kecil yang tenang. Rambut cokelat Baek-ran pun bergoyang pelan tertiup angin.
"Hal seperti itu tidak ada……." Ia berucap setelah sekian lama membisu.
"Datang mencari bantuan di toko ini bukan berarti akan hidup bahagia selamanya. Aku pun tidak tahu apa yang akan menimpa mereka nantinya. Ada banyak kasus di mana seseorang yang kuselamatkan justru tewas dalam kecelakaan sebulan kemudian." Semua orang mendengarkannya dalam diam.
"Semakin terang cahaya, semakin pekat pula bayangan yang tercipta. Ikatan yang tak terputus meski telah melewati sekian banyak reinkarnasi dan kembali bersatu dalam doa restu… itulah yang orang-orang sebut sebagai cinta sejati atau belahan jiwa. Pasangan yang begitu membuat siapa pun iri, serta pesta yang begitu megah dan meriah, justru menjadi magnet bagi kegelapan."
"Hantu yang merasa iri. Mereka akan merampas hal yang paling berharga." Yu-dan bergumam teringat kata-kata Baek-ran sebelumnya. Sang rubah mengangguk pelan.
Keheningan kembali melanda. Tiba-tiba Heuk-yo bangkit berdiri. Ia melirik meja persembahan yang telah disiapkan di halaman; di sana tertata rapi pakaian hanbok kertas, bunga, miniatur kuda, serta boneka pelayan untuk mengantar ruh pergi.
"Dasar gadis bodoh. Padahal sudah kusiapkan baju yang indah, kuda yang gagah, lengkap dengan pelayan dan pengawal agar dia bisa pergi ke tempat yang baik dengan tenang," gerutunya kesal sebelum melangkah masuk ke dalam.
Baek-ran menatap taman sejenak lalu bangkit berdiri. Ia menyapukan jarinya di tanah lembap tepi telaga, membentuk sebuah aksara. Aksara Yeon (戀).
"Aksara Yeon yang berarti rindu. Maknanya adalah kata-kata di dalam hati yang tak sanggup tersampaikan, seperti terhalang oleh pintalan benang."
Siluman rubah menutup aksara tersebut dengan tanah, membentuk gundukan kecil layaknya makam. "Aku tetap tak habis pikir dengan perasaan yang memaksa seseorang untuk melindungi wanita yang sangat ia benci dengan nyawanya sendiri. Namun, ada satu hal yang aku yakini."
"Dia pasti merasa bahagia bisa pergi dengan cara seperti itu," sahut Yu-dan sembari merogoh sakunya. Ia mengeluarkan hiasan bunga kecil yang jatuh dari jas sang mempelai pria tadi.
Di atas gundukan tanah tanpa nisan itu, setangkai bunga merah diletakkan dengan tenang.
Glosarium Istilah:
- Myeongbumado (冥府魔道): Jalan menuju dunia bawah atau alam baka; sering merujuk pada kekuatan atau makhluk yang menguasai alam kematian.
- Yeon (戀): Aksara Hanja yang bermakna rindu, kasih sayang, atau keterikatan batin yang mendalam.
- Seogi (瑞氣): Aura atau energi keberuntungan yang dianggap suci.
- Hwarang (화랑): Kelompok elit pemuda dari zaman Silla yang dilatih dalam bidang militer, seni, dan spiritual.
