Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 44>


 "Kejadian itu terus berulang. Reinkarnasi demi reinkarnasi. Kebencian Hong-hwa semakin menjadi. Dia menghalalkan segala cara demi merebut Tuan Hwarang. Tapi tetap saja, sosok yang beliau pilih selalu saja aku. Akhirnya, Hong-hwa kehilangan akal sehatnya. Dia berubah menjadi iblis jahat. Karena kutukannya, kali ini aku bahkan tak sanggup terlahir sebagai manusia. Setelah membuatku menderita dalam wujud seperti ini, dia dengan tanpa tahu malu merampas Tuan Hwarang dariku."

​Air mata yang sempat mengering kini kembali menggenang di pelupuk matanya.

​"Beliau tidak tahu apa-apa dan akan segera melangsungkan pernikahan dengan iblis itu. Jika janji suci terucap, nyawa beliau akan melayang. Hong-hwa akan menyeretnya ke neraka dan menjadikannya milik dia selamanya."

​Cheong-hwa menatap siluman rubah dengan penuh harap. "Pernikahan ini harus digagalkan, entah bagaimanapun caranya."

​"……."

​Baek-ran terhanyut dalam pikirannya sendiri. Yu-dan tiba-tiba merasa ada sesuatu yang janggal.

​"Bukankah makhluk-makhluk jahat biasanya sangat takut pada siluman rubah dan memilih bersembunyi? Tapi kenapa pengantin wanita itu justru datang kemari dengan sukarela?"

​"Terkadang memang ada kasus seperti itu," sahut rubah tenang. "Ada iblis yang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya adalah iblis. Mereka melakukan kejahatan namun tetap meyakini bahwa tindakan mereka adalah sebuah kebenaran…."

​"Benar! Hong-hwa persis seperti itu!" seru Cheong-hwa.

​"Memang sulit bagi siapa pun untuk menilai dirinya sendiri secara objektif. Itulah sebabnya hukum dan pengadilan diciptakan. Untuk memberikan pukulan keadilan—atau mungkin lebih tepatnya, taring keadilan?"

​Yu-dan memiringkan kepalanya dengan heran. "Taring? Sepertinya kamu sedang membicarakan seseorang secara spesifik."

​"Benar," Baek-ran mengangguk pelan.

​"Membedakan apakah suatu jiwa jahat atau murni merupakanhal yang sulit. Namun, ada makhluk yang dianugerahi keahlian khusus untuk hal tersebut. Bagaikan anjing pelacak yang mampu mengendus narkotika meski hanya setitik di tengah tumpukan barang, mereka mampu mencium aroma kejahatan dan akan menggigitnya tanpa ampun."

​"Siapa makhluk itu?"

​"Haetae."

​Mendengar nama itu, para siluman seketika bergidik. Tuan Do angkat bicara dengan penuh kehati-hatian.

​"Cheonho-nim, jangan-jangan Anda……."

​"Kenapa? Siapa suruh pemiliknya meninggalkannya di sini?"

​"Bukan ditinggalkan, tapi lebih tepatnya beliau menitipkannya……."

​"Bagi standarku, benda itu adalah barang temuan. Pemiliknya bahkan tidak membayar biaya penitipan sepeser pun, jadi sah-sah saja kalau aku meminjamnya sebentar."

​"Masalahnya bukan pada biaya penitipan! Jika beliau tahu kita menyentuh barang itu……."

​"Asal kita tidak ketahuan menyentuhnya, semuanya akan baik-baik saja."

​Rubah menyunggingkan senyum tipis lalu beralih menatap Yu-dan.

​"Kamu ingin punya pengikut, kan? Bagaimana kalau aku pinjamkan pengikut yang jauh lebih hebat dari sekadar gumpalan bulu anjing?"

​"Tunggu dulu. Kenapa wajah mereka semua tampak ketakutan? Sebenarnya benda apa itu?"

​"Tenang saja, aku yang akan bertanggung jawab. Kalau kamu ragu, lihat saja dulu bentuknya sebelum memutuskan."

​Yu-dan mengekor Baek-ran menuju lantai atas. Siluman itu tidak menuju ruang kerja, melainkan masuk ke gudang penyimpanan. Di antara sekian banyak peti, ia mengeluarkan sebuah kotak panjang yang terikat rapat dengan tali merah. Saat tali dilepas dan tutupnya dibuka, tampaklah sebilah pedang.

​Yu-dan tak menyangka bahwa 'pengikut' yang dimaksud ternyata adalah sebuah senjata. Namun dalam sekejap, instingnya bicara. Apapun yang terjadi, ia harus menggenggam pedang ini.

​Benda itu menyerupai item langka dalam sebuah permainan video. Singkatnya, sangat memesona. Memancarkan aura klasik dengan nuansa kebiruan, gagang dengan ukiran emas yang rumit, serta rumbai panjang yang memancarkan wibawa bagaikan badai.

​"Bagaimana menurutmu?"

​Yu-dan segera menyembunyikan kekagumannya. "Yah… kelihatannya lumayan berguna. Siapa yang tega meninggalkan benda seindah ini?"

​"Mungkin orang itu sedang kehilangan akal sehatnya. Untunglah aku tidak membuangnya, kita jadi ada kesempatan memakainya. Jadi, kamu ingin mencobanya?"

​"Boleh…."

​Baru saja Yu-dan menjulurkan tangan, Baek-ran segera menarik kotak itu ke belakang.

​"Besok saja. Kita harus mengundang tamu itu kembali. Jika mereka datang besok, aku akan meminjamkannya padamu."

​Wajah Yu-dan seketika masam. Apa-apaan dia? Apa dia anak SD yang sedang pamer konsol game di rumahnya? Memangnya tamu itu pasti akan datang lagi besok?

​"Sepertinya sekolahmu pulang lebih awal hari ini?"

​Chaewoo memandu Yu-dan menuju halaman belakang. Di sana, Cheong-hwa tengah duduk di serambi sambil menatap telaga. Sesekali ia tersenyum sendiri, seolah sedang memutar kembali memori indahnya. Siluman ginseng kecil itu hanya bisa menghela napas saat melihatnya.

​"Kasihan sekali, ya?"

​"Begitulah. Sepertinya dia sudah mulai gila," sahut Yu-dan.

​"Bukan begitu……," Chaewoo ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Mungkin cinta memang sebuah bentuk kegilaan."

​Dengan wajah yang tampak sendu, Chaewoo pun melangkah pergi meninggalkan Yu-dan. Ia menoleh ke arah Chae-seol.

​"Kenapa dia? Punya kenangan buruk?"

​"Iya. Saat kami baru mulai tumbuh dulu, dia sempat jatuh cinta pada seorang gadis pencari ginseng yang sering berkunjung setiap hari."

​"Baru mulai tumbuh? Berarti masih bayi? Cepat sekali dia dewasa."

​"Dia memang lebih dewasa dari usahanya."

​Tak lama kemudian, Chaewoo berlari kembali dengan terengah-engah. "Mereka datang! Mereka sudah sampai!"

​"Cepet banget?"

​Padahal pesan singkat baru saja dikirimkan. Yu-dan dan si kembar segera kembali ke dalam toko, diikuti oleh Cheong-hwa yang bergerak dengan terburu-buru. Tampak sepasang kekasih tadi baru saja duduk di tempat yang disediakan oleh Tuan Do.

​"Tuan Hwarang!"

​Cheong-hwa yang berteriak sambil berlari segera dicegat oleh Baek-ran. Dengan terpaksa, ia duduk di balik sekat ruangan. Yu-dan menyusul ke sana, diikuti oleh Heuk-yo dan si kembar.

​"Tempat ini benar-benar sakti!" seru sang pria dengan wajah berseri-seri. "Sesuai perkataan Anda, sejak kami melangkah keluar dari sini, segala keganjilan itu lenyap seketika! So-yeon pun akhirnya bisa merasa tenang."

​Yu-dan memperhatikan sang wanita yang menggenggam erat tangan pasangannya. Tak ada aura aneh yang terpancar. Tak tampak jejak iblis maupun gangguan gaib lainnya. Wanita itu tersenyum manis lalu mulai berucap.

​"Benar. Semalam adalah tidur paling nyenyak yang ku rasakan setelah sekian lama. Hati ku terasa sangat ringan. Rasanya seolah… pengganggu itu sudah benar-benar musnah?"

​Cheong-hwa yang sudah tidak tahan lagi berteriak kencang, "Pengganggu itu adalah kau! Hong-hwa!"

​Heuk-yo dan si kembar segera memegangi Cheong-hwa agar tetap duduk.

​"Aku harus memberitahu Tuan Hwarang! Wanita itu adalah Hong-hwa! Dan Cheong-hwa, wanita yang benar-benar beliau cintai, kini menderita dalam wujud malang seperti ini!"

​"Mari kita serahkan dulu pada ahlinya," bisik Baek-ran sambil membuka kotak yang sudah disiapkan di balik sekat. "Baiklah, sesuai janji."

​Yu-dan mengulurkan tangan dan menggenggam gagang pedang tersebut. Sensasi dingin logamnya seketika menjernihkan pikirannya.

​"Makhluk suci Haetae mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Wibawa agung dan kesaktiannya luar biasa dalam melihat jati diri seseorang. Jika ia mendapati sosok yang jahat, ia akan menggigitnya tanpa ampun. Kamu hanya perlu mendekati mereka dan menghunus pedang ini. Jika benar ada iblis di sana, Haetae akan menerjang lebih cepat dari kilat."

​"Dimengerti."

​Yu-dan melangkah keluar dari balik sekat sambil menenteng pedang itu. Di sana, Tuan Do tengah asyik mengobrol santai dengan calon mempelai tersebut layaknya paman tetangga.

​"Jadi tinggal menunggu hari pernikahan dan berangkat bulan madu? Di mana lokasi pestanya?"

​"Kami menyewa gedung serbaguna hotel. Aku tidak suka kemewahan, tapi untuk pernikahan ini, aku ingin pestanya berkesan. Kami ingin merayakannya dengan meriah bersama banyak orang yang memberikan doa restu. Aku ingin seluruh dunia tahu bahwa kami telah menjadi sepasang suami-istri."

​Wanita itu bercerita dengan raut wajah penuh kebahagiaan. Yu-dan perlahan menghunus pedangnya.

​Cahaya terang memancar, diiringi dentuman keras saat sesosok binatang berbulu biru muncul tiba-tiba. Wujudnya asing di mata Yu-dan, namun jika dipadankan, ia paling menyerupai singa. Matanya yang berkobar, bulu tengkuknya yang melambai bagaikan kilatan api, serta aura mencekam yang memancar dari tubuhnya menegaskan bahwa ia bukan makhluk dari dunia ini.

​Lantai toko bergetar setiap kali Haetae melangkahkan kakinya. Namun, pasangan itu sama sekali tak melihat maupun mendengar kehadirannya. Haetae melangkah perlahan mengamati mereka.

​Yu-dan menahan napas. Baek-ran dan para siluman lainnya pun terpaku menonton tanpa berkedip. Namun, hanya sampai di situ saja.

​Haetae melintas melewati pasangan itu begitu saja. Ia berkeliling sejenak sebelum akhirnya memutar kepalanya yang besar dengan cepat ke arah Baek-ran.

​Seketika Haetae melompat menerjang. Belum sempat Yu-dan berteriak, sebuah bayangan raksasa sudah menghadang di depan Haetae. Sesosok serigala hitam bermata biru jernih dengan baju zirah emas—Bolt.

​Kedua makhluk agung itu saling berhadapan dengan aura yang mematikan. Haetae mengaum keras, yang segera dibalas dengan raungan lantang sang serigala. Di tengah suara yang memekakkan telinga itu, Yu-dan baru menyadari Baek-ran sedang meneriakkan sesuatu padanya.

​"……Hah?"

​"Masukkan kembali pedangnya!"

​"Ah, benar!"

​Yu-dan segera menyarungkan kembali pedang tersebut. Seketika wujud Haetae sirna, diikuti oleh hilangnya Bolt. Suasana ruangan kembali sunyi senyap.

​"……Tentu kami akan sangat senang jika Anda bisa datang memberikan doa restu. Kami sangat mengharapkan kehadiran Anda."

​Wanita itu tersenyum lebar sembari menyerahkan undangan pernikahan kepada Tuan Do. Sementara itu, wajah Cheong-hwa tampak pucat di balik sekat.

​"Bagaimana mungkin? Kenapa Haetae tidak menggigit Hong-hwa?"

​"Itu karena dia bukan iblis jahat," sahut Baek-ran pelan.

​"Mustahil! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri! Pernikahan ini akan membawa malapetaka! Hong-hwa benar-benar berubah menjadi sosok yang mengerikan di detik-detik terakhirnya! Dia bersumpah tidak akan membiarkan kami bersatu dan rela menjadi iblis demi menghentikan kami, dia mengutukku dengan sangat kejam…."

​Pandangan Yu-dan mendadak kabur, memperlihatkan sekilas bayangan wanita bersimbah darah yang berteriak histeris. Sosok iblis yang benar-benar menyeramkan.

​"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Yu-dan merasa kepalanya pening. Tuan Do pun hanya bisa menggelengkan kepala.

​"Paman juga jadi bingung."

​"Yang pasti, sang mempelai wanita bukanlah iblis maupun makhluk gaib. Dilihat dari sudut mana pun, dia hanyalah manusia biasa." Baek-ran beralih menatap Cheong-hwa. "Bagaimana menurutmu?"

​"Aku tidak tahu…." Cheong-hwa kembali terisak.

​"Aku benar-benar tidak mengerti! Kenapa takdir menjadi selucu ini? Hong-hwa yang jahat justru menjadi manusia normal, sementara aku harus mendekam dalam wujud hantu! Sial! Tak ada yang bisa menghukum Hong-hwa! Taktik licik apa yang dia gunakan? Padahal akulah wanita yang dicintai Tuan Hwarang setulus hati!"

​"Kamu yakin akan hal itu?"

​"Tentu saja!"

​"Jika memang begitu, ada satu cara yang bisa kita coba."

​Mendengar ucapan siluman rubah, Cheong-hwa langsung mendongak.

​"Apakah kamu yakin jika ingatan masa lalunya bangkit, Tuan Hwarang akan memilihmu daripada Hong-hwa?"

​"Pasti! Kami selalu bersatu di setiap reinkarnasi. Kami selalu berhasil menembus segala rintangan yang dibuat Hong-hwa untuk bersama."

​"Baiklah kalau begitu…." Baek-ran melanjutkan.

​"Aku akan memberimu satu kesempatan terakhir. Jika Tuan Hwarang memang memilihmu, aku yang akan menjamin kalian berdua bersatu. Namun jika tidak, kamu tidak boleh lagi mencampuri urusan manusia dan harus segera pergi."

​Cheong-hwa tersentak. "Pergi?"

​"Jika dibiarkan, kamu hanya akan terus membuntuti pasangan itu. Tidak akan baik bagimu maupun mereka. Aku sendiri yang akan mengantarmu pergi."

​Mendengar ketegasan siluman rubah, Cheong-hwa termenung sejenak. Namun keraguannya tak berlangsung lama.

​"Baiklah. Berikan aku kesempatan itu." Sorot matanya kini tampak mantap. Sepertinya ia sangat percaya bahwa sang pria akan memilihnya. "Aku berjanji, jika beliau tidak memilihku, aku akan melepaskan segala keterikatan ini dan pergi dengan sukarela."

​"Bagus." Baek-ran mengangguk setuju.

​"Cheonho-nim, menjanjikan mereka bersatu… apa tidak masalah membuat janji seberat itu?" tanya Chaewoo cemas.

​"Tidak masalah," sahut Baek-ran singkat. "Kalau kedua jiwa itu memang belahan jiwa sejati, rintangan kali ini pun akan dilewati dengan mudah. Namun jika ikatan mereka memang sudah berakhir, mereka akan berpisah di sini. Aku hanya bertindak sebagai jembatan di antara mereka."

​Yu-dan merasa Baek-ran sedang merencanakan sesuatu, namun ia tak mampu menebak apa itu.

​"Mari kita mulai sekarang."

​Atas perintah si rubah, si kembar segera naik ke lantai atas. Baek-ran memberikan instruksi singkat pada Heuk-yo sebelum melangkah keluar dari balik sekat. Di sana, Tuan Do masih berdebat kecil dengan sang pria.

​"Aduh, kami tidak menerima imbalan seperti ini. Masalahnya belum tuntas sepenuhnya."

​"Tapi anggap saja ini sebagai tanda terima kasih kami…."

​Sang pria yang sedang berusaha menyodorkan amplop pada Tuan Do menoleh ke arah Baek-ran. Begitu pula pasangannya. Mereka terpaku melihat sosok siluman rubah yang mengenakan jubah putih bersih tersebut.

​Tanpa mempedulikan tatapan mereka, Baek-ran mulai berbicara dengan tenang.

​"Yang terpenting dalam urusan ini adalah In-gwa (Hukum Sebab Akibat). Setiap akibat pasti bermuara dari sebuah sebab. Bagaikan benih yang tumbuh menjadi tunas, setiap hasil takkan lepas dari asalnya."

​Meski terdengar tiba-tiba, semua orang terdiam mendengarkan kata-kata siluman tersebut.

​"Menurut kitab 『Samguk Yusa』, pada masa Raja Sinmun dari Dinasti Silla, seorang pendeta bernama Hyetong berhasil mengusir naga jahat yang merasuki putri Dinasti Tang. Naga itu kemudian menyimpan dendam pada Hyetong, lalu menyeberang ke Silla dan mencelakai banyak orang. Seorang pria bernama Jeong-gong berangkat ke Tang untuk memberitahukan hal ini pada Hyetong. Setelah diusir kembali oleh sang pendeta, naga tersebut beralih menaruh dendam pada Jeong-gong."

​"Berarti naga itu sadar kalau dia takkan menang melawan Hyetong ya……," gumam Yu-dan. Baek-ran meliriknya memberi kode agar diam, lalu melanjutkan ceritanya.

​"Demi membalas dendam, sang naga berubah wujud menjadi pohon gandarusa. Tanpa curiga, Jeong-gong sangat menyayangi pohon tersebut. Setelah Raja Sinmun wafat, putranya, Raja Hyoso, bermaksud menebang pohon itu saat sedang membangun jalan untuk prosesi pemakaman. Jeong-gong yang menyayangi pohonnya bersikeras menolak penebangan tersebut. Raja Hyoso yang murka akhirnya menghukum mati Jeong-gong. Itulah cara sang naga menuntaskan dendamnya."

Apa-apaan itu? Jadi taktik naga itu hanya berubah jadi pohon agar disayangi? Balas dendam yang sangat pasif dan memakan waktu lama sekali. Kenapa tidak langsung dibunuh saja? batin Yu-dan gemas. Namun ia memilih diam karena suasana sedang sangat serius.

​"Sama halnya dengan kejadian yang kalian alami saat ini. Jika kalian tidak menemukan jawabannya di masa kini, barangkali jawabannya tersembunyi di masa lampau. Kita harus mengungkap akar penyebabnya agar masalah ini bisa dituntaskan selamanya."

​Si kembar turun membawa sebuah peti kayu. Saat dibuka, tampak sebuah cermin perunggu yang sangat kuno. Saat Baek-ran mengangkatnya, terlihat ukiran pohon gandarusa dan naga di bagian belakang cermin tersebut.

​"Inilah cermin yang mampu mengungkap rahasia sebab akibat. Mari kita intip sejenak bayangan dari masa lalu."

​Heuk-yo membawakan dupa dan mulai menyalakannya. Aroma harum yang kuat segera memenuhi ruangan. Putihnya asap yang menyebar dengan halus menyerupai tarian ujung baju seorang wanita, memberikan sensasi kantuk yang kuat.

​Tanpa sadar, pasangan itu sudah tertidur lelap dengan kepala tertunduk. Yu-dan pun mulai merasa kesadarannya meredup.

​Tiba-tiba, suara sorak-sorai membangunkannya. Ia berada di sebuah tanah lapang yang dipenuhi kerumunan orang. Rakyat Seorabeol tampak sedang melepas keberangkatan para Hwarang dan pasukannya menuju medan perang. Di antara barisan prajurit yang menuntun kuda, Yu-dan mengenali seorang pria.

​Sosok yang gagah dan berwajah ramah. Dialah sang calon mempelai pria.

​Di kejauhan, dua orang wanita menatapnya. Yang satu adalah Cheong-hwa si hantu, dan yang lainnya adalah sang calon mempelai wanita saat ini.

​Saat pasukan prajurit mendekat, gadis-gadis Seorabeol melangkah maju membawa bunga. Kedua wanita itu pun berdesakan di antara kerumunan. Saat mereka sampai di hadapan prajurit yang mereka puja, barulah mereka menyadari kehadiran satu sama lain.

​"Lho, kamu juga……?"

"Kakak juga……?"

​Keduanya terpaku tak mampu berucap. Sang prajurit pun tampak sangat kikuk menyadari situasi pelik di hadapannya.

​Seketika, siluman rubah muncul di tengah mereka. Ia mengenakan mahkota emas, perhiasan mewah, dan jubah putih panjang yang menjuntai—wujud aslinya dari zaman Silla.

​"Apakah kalian ingat? Inilah masa lalu kalian," ucap Baek-ran pada sang prajurit.

​"Dulu kamu hanya diam ragu tanpa mampu memilih, hingga akhirnya kamu berangkat ke medan perang. Akibatnya, kedua gadis yang mencintaimu ini memilih menenggelamkan diri karena termakan berita palsu. Kejadian tragis itu tidak boleh terulang kembali, bukan?"

​"Benar," sahut sang prajurit pelan sambil mengangguk.

. . . . . . . 

​Glosarium Istilah:

  • ​Haetae (해태): Makhluk mitologi Korea berbentuk singa bersisik yang dianggap sebagai penjaga keadilan dan mampu membedakan benar dan salah.
  • ​In-gwa (인과): Hukum sebab akibat atau karma dalam tradisi Buddha.
  • ​Samguk Yusa (삼국유사): Kitab sejarah dan legenda kuno Korea yang berisi kisah-kisah dari periode Tiga Kerajaan.
  • ​Gandarusa (버드나무): Secara harfiah berarti pohon willow dalam bahasa Korea, sering muncul dalam legenda sebagai simbol fleksibilitas atau transformasi.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang