Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 43>
Kisah ke-sebelas
<Kisah bunga Wisteria>
Pada masa pemerintahan Raja Jinheung, raja ke-24 Dinasti Silla, hiduplah dua bersaudara yang rupawan bernama Hong-hwa dan Cheong-hwa di wilayah Jeomryang-bu, Seorabeol. Tanpa diduga, keduanya jatuh hati pada pemuda prajurit (nangdo) yang sama. Namun, rahasia itu baru terungkap saat mereka pergi memberikan bunga sebagai salam perpisahan bagi sang prajurit yang hendak berangkat ke medan perang. Demi satu sama lain, Hong-hwa dan Cheong-hwa bertekad untuk menghapus perasaan mereka.
Suatu hari, tersiar kabar bahwa sang prajurit telah gugur di medan pertempuran. Saking hancurnya, mereka lupa akan janji untuk melupakan sang prajurit dan memilih menenggelamkan diri ke telaga dalam duka yang mendalam. Namun ternyata, berita itu rupanya isapan jempol semata. Saat prajurit itu kembali dengan gelar Hwarang dan bergegas menuju tepi telaga, yang ia temukan hanyalah dua batang pohon wisteria. Di satu pohon mekar bunga semerah Hong-hwa yang memikat, sementara di pohon lainnya mekar bunga sebiru Cheong-hwa yang anggun.
『Yeonchunjip (Koleksi Musim Semi Tahunan)』
●◉◎◈◎◉●
Yu-dan mengenakan masker dan sarung tangan dengan penuh kehati-hatian. Di sampingnya, si kembar mengangguk dengan wajah tegang. Ketiganya melangkah mengendap-endap menuju halaman depan.
Sasaran mereka sudah terlihat: seekor Siberian Husky yang sedang asyik mengejar kupu-kupu dengan polosnya. Melalui tatapan mata, mereka saling memberi aba-aba. Satu, dua, tiga!
Serentak, mereka menerjang dan meringkus anjing itu.
"Kena!"
Si Husky yang terkejut meronta-ronta, berusaha melepaskan diri. Chae-seol menepuk pantat anjing itu dengan gemas.
"Jangan kabur! Kamu kan sedang ganti bulu sekarang. Kalau tidak disisir, kamu dilarang berkeliaran di dalam toko!"
"Benar!" Chaewoo ikut menimpali. "Apalagi Kak Heuk-yo sudah mengamuk karena bulumu masuk ke dalam masakan! Tenang dan sabarlah sebentar. Lihat, siapa yang datang membantumu?"
Anjing yang semula memberontak itu melirik ke arah Yu-dan. Seketika ekornya terkulai lemas, wajahnya nampak pasrah menerima nasib. Chae-seol segera membagikan sisir kepada mereka semua.
"Lihat! Dia langsung nurut! Ternyata dia memang paling suka Yu-dan!"
"Kenapa dia begini padaku?" tanya Yu-dan heran.
"Memangnya butuh alasan untuk menyukai seseorang? Itu kan terserah perasaannya. Contohnya aku dulu, aku sangat mengagumi guru pianoku. Tiap kali beliau memujiku, beliau akan menjentikkan jari, dan bunyinya sangat keren… ah, kenapa aku masih belum bisa ya."
"Maksudmu bunyi seperti ini?" Chaewoo menjentikkan jarinya. Tak! Bunyinya terdengar sempurna. Chae-seol memasang wajah masam.
"Kadang aku benar-benar benci anak itu."
"Aku paham perasaanmu," sahut Yu-dan singkat.
Yu-dan menyisir bulu Thunderbolt dengan telaten. Bulu yang rontok dari tubuh siluman itu sangat banyak, bahkan mungkin cukup untuk membuat selembar selimut tebal. Terlebih lagi, itu bukan bulu biasa. Karena dia adalah siluman, setiap kali mereka lengah sedikit saja, gumpalan bulu itu akan menyatu sendiri dan merangkak pergi.
"Mau lari ke mana!" Yu-dan menginjak gumpalan bulu itu hingga pipih. Uniknya, benda itu bangkit kembali dan mulai berjalan lagi.
"Wah, dia hidup!"
"Coba panggil dia!"
"Kemari!" seru Yu-dan. Benda itu seolah mengerti perintahnya dan mendekat. Si kembar tertawa terpingkal-pingkal melihatnya.
"Luar biasa. Sepertinya Tuan Muda baru saja membuat 'anak buah' pertama. Punya bawahan sangat memudahkan hidup. Kamu bisa menyuruhnya mengambil remote TV sambil rebahan, mencari ponsel yang lupa ditaruh di mana, atau menyuruhnya mengikatkan tali sepatu saat kamu sedang malas……."
"Oh ya?" Yu-dan sempat merasa tertarik sebelum akhirnya menoleh tajam ke arah Chaewoo. "Tunggu, dari mana kamu tahu detail gaya hidupku seakurat itu?"
"Itu, ya... begitulah…." Siluman ginseng itu langsung membuang muka. "Pokoknya, benda ini tidak akan bertahan lama. Cepat beri dia nama, itu hal yang paling penting."
"Nama? Nama apa yang cocok?"
"Daripada bingung, ayo minta saran dari Cheonho-nim!"
Mereka bertiga segera naik ke lantai atas. Pintu ruangan Baek-ran tertutup rapat, lengkap dengan tempelan catatan bertuliskan: ‘Dilarang Masuk Bagi Manusia’ (In-gan Sa-jeol).
"In…… apa bacanya?" tanya Yu-dan.
"Manusia dilarang masuk," jawab Chae-seol singkat sambil merogoh saku dan menulis di buku catatannya.
Wajar saja beliau merajuk. Siluman bawahannya sendiri malah lebih patuh pada Yu-dan daripada pada tuannya sendiri—
"Bukan begitu," suara dari balik pintu menyahut seketika. Chae-seol yang kaget sampai menjatuhkan pensilnya.
"Bukan?"
"Bukan."
"Kalau begitu, maukah Anda mengabulkan permintaan kami? Lihat, Yu-dan baru saja membuat bawahan siluman pertamanya! Tapi karena dibuat dari bulu anjing yang diinjak, kekuatannya lemah dan sepertinya akan segera musnah. Tolong berikan nama yang bagus untuk memberinya kekuatan."
"Gae-teol-i (Bulu Anjing)."
"Hah?" Yu-dan merasa dipermainkan. "Kalau memang tidak mau membantu, bilang saja!"
"Apa yang kamu bicarakan? Aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk memikirkan nama yang mengandung kebijakan leluhur, tapi kamu malah menghinaku. Aku sungguh merasa kecewa," sahut Baek-ran dengan nada pura-pura sedih.
"Kamu tahu Kaisar Gojong? Tahukah kamu siapa nama kecil beliau dulu?"
"Mana aku tahu."
"Gae-ttong-i (kotoran Anjing)."
"Apa?!"
"Kamu tahu Perdana Menteri Hwang-hui? Siapa nama kecilnya?"
"Tidak tau."
"Do-ya-ji (Babi)."
Yu-dan terperangah. "Kenapa mereka melakukan itu? Apa tujuannya? Kenapa pikirannya begitu menyimpang?"
"Ini bukan soal menyimpang. Orang zaman dulu berakting memperlakukan anak-anak yang berharga dengan semena-mena. Mereka akan mencoreng wajah anak itu dengan jelaga, memakaikan baju compang-camping, atau memberi nama rendahan seperti 'Kotoran Anjing'. Alasannya karena mereka takut para hantu akan merasa iri. Semakin terang cahaya, maka bayangannya akan semakin pekat. Jika seorang anak diberi nama yang terlalu indah, hantu akan menganggap anak itu sangat berharga, merasa iri, dan menjadikannya target utama untuk diculik."
Baek-ran memberikan penjelasan panjang lebar. "Maka dari itu, beri dia nama Gae-teol-i."
Mendengar penjelasan itu, Yu-dan merasa ada benarnya juga. Ia menatap gumpalan bulu itu dan berseru, "Hei, Gae-teol-i!" Namun tepat saat ia memanggilnya, bulu-bulu itu justru berhamburan dan tercerai-berai.
"Yah, dia sudah mati!" Yu-dan merasa hampa. "Apa gunanya nama penuh kebijakan leluhur itu kalau kamu membuang terlalu banyak waktu untuk menjelaskan sampai akhirnya dia musnah!"
"Aku memberi namanya dengan cepat. Kamunya saja yang kurang wawasan sehingga butuh waktu lama bagiku untuk memberikan pemahaman."
"Hmm. Tapi Cheonho-nim, apa Anda akan membiarkan kami terus berdiri di luar seperti ini?" tanya Chae-seol.
"Tidak. Aku akan menyuruh kalian turun ke lantai bawah."
"……."
"Silakan turun."
Ketiganya melangkah menuruni tangga dengan lesu.
"Rasanya seperti kita kalah telak."
"Bahkan tidak balik modal," gumam Chaewoo.
"Rasanya seperti beliau ingin bilang kalau kita masih terlalu hijau," tambah Chae-seol sambil mengambil gumpalan bulu dari tangan Yu-dan dengan sedih. "Wahai Gae-teol, kenapa kamu harus tiada semuda ini?"
"Padahal kamu anak yang baik. Kami takkan melupakanmu," Chaewoo ikut meratap.
Kedua siluman ginseng itu pergi ke halaman belakang, menggali tanah di bawah pohon, dan mengubur bulu-bulu tersebut. Sayup-sayup terdengar suara mereka yang sedang membacakan doa pemakaman yang baru saja mereka karang saat itu juga.
Yu-dan menguap sambil menyandarkan punggungnya di kursi. Sore musim semi yang begitu damai dan tenang….
Tepat saat pikiran itu melintas, pintu toko terbuka tanpa suara.
"Selamat data—" Ucapan Yu-dan tertelan kembali.
Tamunya adalah sepasang pria dan wanita. Sosok yang sering disebut orang sebagai pasangan serasi; sang pria tampak gagah dan berwajah ramah, sementara wanitanya cantik dan bersahaja. Namun, beberapa langkah di belakang wanita itu, seseorang sedang berdiri.
Sosok itu bukan manusia.
Rambutnya panjang menjuntai, wajahnya pucat, dan ia mengenakan pakaian kuno dengan motif bunga biru. Dia tidak mempedulikan sekelilingnya, pandangannya hanya tertuju ke arah calon mempelai wanita. Sebuah tatapan penuh kepedihan yang mendalam.
Pasangan itu melirik Yu-dan lalu saling bertukar pandang. Merasa ada yang tidak beres karena Yu-dan terus menatap ke arah ruang kosong di belakang mereka, sang pria akhirnya bertanya dengan hati-hati.
"Maaf, apa kamu melihat sesuatu?"
Merasakan atmosfer yang janggal, si kembar segera menghampiri. Mereka pun terkejut melihat penampakan hantu tersebut. Chae-seol segera berlari ke atas, sementara Chaewoo memanggil Tuan Do dan Heuk-yo.
Setelah semua berkumpul, sang pria mulai bercerita. "Kami datang kemari setelah mendengar bahwa tempat ini bisa membantu menyelesaikan masalah-masalah aneh. Kami rencananya akan segera melangsungkan pernikahan."
Wanita itu menggenggam tangan kekasihnya dengan erat. Tuan Do memperhatikan mereka sejenak lalu berdecak kagum.
"Kalau diperhatikan, kalian berdua memang sangat serasi."
"Terima kasih," sahut si wanita dengan wajah sedikit merona.
"Memang banyak yang bilang kami adalah pasangan sejati. Sejak pertama kali bertemu, kami sudah yakin bahwa kami telah menemukan belahan jiwa masing-masing. Kedua keluarga kami pun sangat mendukung, dan semuanya berjalan lancar sampai sekarang… tinggal menunggu hari H."
Karena wanitanya tampak ragu, sang pria melanjutkan pembicaraan. "Tapj belakangan ini, kejadian ganjil terus menimpa kami. Calon istriku merasa ada yang terus memperhatikannya dari belakang, tapi saat menoleh, tak ada siapa-siapa."
Yu-dan melirik ke arah hantu di belakang mereka. Sosok itu masih terus memelototi sang wanita tanpa berkedip.
"Awalnya ku pikir ini hanya rasa cemas menjelang pernikahan. Namun saat sesi pemotretan studio, aku melihat seorang wanita menatapku dari cermin rias. Ku pikir aku sedang lelah, tapi saat melihat hasil fotonya……."
"Di belakang kami terlihat penampakan hantu wanita berambut panjang. Kami melihatnya dengan sangat jelas, tapi saat dilihat kembali, bayangan itu sudah lenyap."
"Malamnya aku bermimpi buruk. Seorang wanita penuh darah menatapku dengan dendam dan berkata pernikahan ini tidak boleh terjadi. Dia menyuruh ku melepaskan calon suami ku, karena pria itu adalah miliknya. Dia bersumpah tidak akan diam dan tidak akan membiarkan ku memilikinya…… dia mengutuk ku dengan kata-kata mengerikan."
"Sejak saat itu, kecelakaan mulai terjadi. Tiba-tiba saja gelas kaca jatuh hampir mengenai kepala So-yeon, atau rem mobil yang sedang parkir mendadak blong dan meluncur ke arah kami……."
"Aku yakin melihat lampu lalu lintas sudah hijau, tapi saat hendak menyeberang, ternyata masih merah. Kalau tidak segera sadar, aku pasti sudah tertabrak mobil."
Suara wanita itu bergetar menahan tangis. Sang pria segera merangkul bahunya untuk menenangkan.
"Tolong bantu kami. Kami terus merasakan firasat buruk. Kami takut sesuatu yang besar akan menimpa kami di hari pernikahan nanti."
"Aku sendiri sebenarnya tidak percaya takhayul, tapi karena ini terasa sudah di luar batas wajar, aku mencari informasi ke mana-mana dan akhirnya menemukan tempat ini."
Semua penghuni Banwoldang mendengarkan penuturan mereka dengan wajah serius. Akhirnya, Tuan Do angkat bicara.
"Ya. Memang ada sesuatu yang mengikuti kalian."
"Benarkah?" Pasangan itu menoleh ke belakang dengan gemetar, namun mereka tetap tidak melihat apa pun.
"Kita lepaskan saja dia dari kalian. Bagaimana adikku?"
"Baik," sahut Heuk-yo. Ia pergi ke dapur dan kembali membawa Geum-jul (tali ritual pengusir setan). Ia memasang tali itu berlapis-lapis di depan pintu toko.
"Jika kalian melewati tali itu, makhluk itu akan terlepas."
"Sungguh?"
"Kalian akan segera merasakannya malam ini. Tapi untuk berjaga-jaga, boleh minta nomor kontak kalian?"
"Tentu saja." Mereka memberikan kartu nama masing-masing.
"Kami juga ingin meminta kontak di sini apabila ada keadaan darurat nanti, jika tidak keberatan," pinta sang pria dengan sopan. Para siluman saling lirik; siluman rubah, ular, maupun dokkaebi tentu saja tidak punya ponsel. Akhirnya, Yu-dan yang menyimpan nomor pria itu di ponselnya sendiri.
"Kalau begitu, kami pamit dulu."
"Terima kasih. Kami akan menghubungi lagi nanti."
Pasangan itu berpamitan dan berbalik. Sambil berpegangan tangan, mereka melangkah hati-hati melewati tali ritual di pintu masuk.
Hantu wanita mencoba mengekor di belakang mereka. Namun begitu ia mencoba melewati pintu, ia terpental ke belakang seolah menghantam tembok tak kasat mata. Ia mencoba menerjang sekali lagi dengan sekuat tenaga, namun kembali terlempar setelah benturan keras terjadi.
Pintu toko pun tertutup tepat di depan wajahnya.
Melihat pasangan itu menjauh, sang hantu tampak panik. Ia berteriak memanggil mereka, namun hanya bibirnya yang bergerak tanpa ada suara yang keluar. Ia terus membenturkan tubuhnya ke pintu dengan putus asa.
"Percuma saja," ucap siluman rubah dengan nada dingin.
Hantu itu tersentak dan menoleh. Sepertinya barulah ia menyadari kehadiran Baek-ran, Yu-dan, dan para siluman lainnya di ruangan itu. Ia tampak ingin memekikkan sesuatu, namun tetap tak ada suara yang terdengar.
Baek-ran mengangkat tangannya. Sesuatu yang menyerupai panah cahaya emas melesat dan meresap ke dalam tubuh hantu itu. Seketika, wujud sang hantu menjadi jauh lebih jelas dan padat.
"Kenapa kalian menghalangi jalanku?!" suara kini terdengar dengan sangat jernih.
Alih-alih menjawab, Baek-ran justru balik bertanya. "Energimu sudah hampir habis karena kamu sudah meninggal sejak lama, tapi kenapa kamu masih berkeliaran dan mengganggu manusia yang masih hidup?"
"Aku… mengganggu mereka?" Hantu itu jatuh terduduk, air matanya tumpah seketika.
"Bagaimana kalian bisa bicara begitu tanpa tahu kebenarannya? Tolong biarkan aku pergi!" ia memohon sambil bersujud di lantai.
"Gadis licik itu yang membuatku jadi seperti ini! Dia menghalangiku untuk bereinkarnasi agar dia bisa memiliki Tuan Hwarang sendirian. Gara-gara kalian, Tuan Hwarang tidak tahu apa-apa dan akan menikah dengan iblis itu. Jika pernikahan ini terlaksana, beliau akan celaka! Aku harus mencegahnya!"
Yu-dan dan para siluman saling pandang dengan bingung. "Ceritanya kok jadi aneh? Apa si mempelai wanita tadi yang sebenarnya jahat?"
"Entahlah. Kelihatannya dia bukan orang jahat," gumam Tuan Do sambil mengernyitkan dahi. "Bukankah hantu ini yang melempar gelas, merusak rem mobil, dan membisikkan agar menyeberang saat lampu merah?"
"Bukan! Sumpah, itu bukan perbuatanku! Seperti kata siluman rubah, energiku sudah habis. Bahkan mengeluarkan suara saja aku tak mampu, bagaimana mungkin aku bisa melakukan hal-hal fisik seperti itu? Hal-hal buruk menimpa Hong-hwa karena dialah iblis yang sesungguhnya. Karena dia jahat, maka segala hal buruk akan selalu tertarik padanya!"
"Hong-hwa?" Baek-ran menatap hantu itu tajam. "Kamu memanggilnya Hong-hwa?"
"Iya. Dan namaku adalah Cheong-hwa," ia menunjuk motif bunga biru yang terukir di pakaian kunonya. Baek-ran mengangguk paham.
"Hong-hwa. Cheong-hwa. Aku mengerti sekarang. Kisah Nona Bunga Wisteria."
"Benar. Itulah kami," hantu itu mengangguk sambil terus terisak. "Dua wanita yang mencintai Hwarang yang sama."
Seorang hantu wanita dari masa lampau dengan rambut panjang menjuntai kini duduk di meja sambil berderai air mata. Pemandangan yang sulit untuk dibiasakan, meski Yu-dan sudah sering melihat hal serupa.
Chaewoo membawakan nampan berisi cangkir teh yang masih mengepul panas ke hadapan sang hantu.
"Minumlah. Aroma teh ini akan membantu menenangkan hatimu."
"Terima kasih," bisik sang hantu sambil membungkuk sopan.
Meskipun para siluman ini telah mengurungnya, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa marah atau dendam. Ia hanya tampak sangat sedih dan gelisah.
"Hong-hwa dan Cheong-hwa. Legenda bunga wisteria…," gumam Baek-ran pelan.
"Pada zaman Silla. Ada dua saudara perempuan bernama Hong-hwa dan Cheong-hwa. Mereka berdua mencintai prajurit yang sama. Mereka berniat saling mengalah demi satu sama lain, namun saat mendengar berita kematian sang prajurit, mereka tak sanggup menahan duka dan menenggelamkan diri di telaga. Setelah itu, Hong-hwa berubah menjadi wisteria berbunga merah, dan Cheong-hwa menjadi wisteria berbunga biru……."
"Kisah yang sangat indah ya," sahut Chaewoo. Namun hantu itu menggelengkan kepala.
"Tidak. Itu hanyalah cerita. Kenyataan di baliknya sama sekali tidak indah." Ia menghela napas panjang.
"Sejak awal sifat kami bertolak belakang. Hong-hwa sangat glamor, berwatak keras, dan agresif. Sementara aku cenderung pendiam dan pasif. Saat kami menenggelamkan diri di telaga karena kalap didera duka, ternyata sang prajurit masih hidup. Sejak saat itulah Hong-hwa mulai menyiksaku."
Ingatan itu tampaknya masih sangat membekas di batinnya. "Hong-hwa sangat yakin bahwa Tuan Hwarang lebih mencintai dirinya. Dia terus meratap bahwa Tuan Hwarang pasti akan memilihnya, dan dialah yang akan bahagia seandainya aku tidak ada. Akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam pusaran reinkarnasi. Kami bertekad untuk lahir kembali sebagai orang asing, bukan sebagai saudara, untuk melihat siapa yang akan beliau pilih nantinya. Maka kami pun terlahir kembali dan mencari beliau, namun beliau……."
Wajah sang hantu merona merah. "Beliau memilihku. Cheong-hwa. Itu seperti mimpi yang menjadi nyata. Aku sangat bahagia. Namun Hong-hwa tidak menepati janjinya. Dia tidak bisa menerima kekalahannya. Dia mengutukku, lalu memilih mengakhiri hidupnya tepat di hari pernikahanku. Dia bersumpah akan lahir kembali dan merebut beliau dariku. Entah karena kutukan itu, kami pun terus terlahir kembali dan bertemu beliau di setiap kehidupan. Namun di setiap kehidupan pun beliau tetap memilihku, dan Hong-hwa akan selalu mengutukku lalu bunuh diri."
"Luar biasa keras kepalanya," gumam Tuan Do sambil geleng-geleng kepala.
Glosarium Istilah:
- Nangdo (낭도): Pengikut atau prajurit muda dalam organisasi Hwarang di zaman Silla.
- Hwarang (화랑): Kelompok elit pemuda terpelajar dan prajurit di kerajaan Silla yang dikenal karena ketampanan dan kemampuan militer mereka.
- Geum-jul (금줄): Tali jerami yang dipasang sebagai pembatas suci untuk mengusir energi negatif atau makhluk halus.
- In-gan Sa-jeol (人間 謝絶): "Manusia Dilarang Masuk" atau "Tolak Tamu Manusia".
