Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 42>


 "Keadaannya sudah sangat parah. Raut wajahnya tampak seperti orang yang ingin segera melompat ke sungai Han hanya untuk memeriksa suhu airnya. Dari semua manusia, siluman, hantu, hingga hewan di sana, dialah yang terlihat paling menyedihkan. Matanya bahkan sampai berkaca-kaca…."

​"Kapan aku begitu!"

​Yu-dan berusaha membungkam mulut kakek penunggu sungai yang bicara melantur itu, namun sudah terlambat. Baek-ran, Tuan Do, dan si kembar kini menatapnya dengan sorot mata yang penuh rasa iba.

​"Aneh sekali. Bukankah kamu sendiri yang ingin agar mata itu tidak bisa melihat hantu lagi? Katanya kamu ingin hidup tenang tanpa perlu peduli dengan urusan makhluk lain?"

​"Itu, ya maksudku…."

​"Yah, terlepas dari apa pun keinginanmu, aku maklum jika kamu menyerah setelah sekali mencari. Energinya pasti sudah terkuras habis. Ini murni kelalaianku. Serepot apa pun itu, seharusnya aku mencatat alamat rumahmu sedari awal."

​"Bukan, ini salah kami. Mulai sekarang, ke mana pun kita pergi, tangan Yu-dan harus digenggam erat agar tidak menghilang lagi."

​"Jika sampai hilang, kita sebar selebaran saja. Pemilik Mario saja melakukannya. Sebaiknya kita siapkan desainnya dari sekarang, supaya bisa langsung dibagikan sewaktu-waktu dibutuhkan."

​"Maafkan Paman karena tidak segera menemukanmu. Paman tidak menyangka kamu begitu mengandalkan kami. Rasanya Paman ingin menangis."

​Setelah masing-masing menyampaikan isi hatinya, semua pandangan beralih pada Heuk-yo. Siluman ular itu sedari tadi hanya membisu dengan wajah kaku sambil menatap lurus ke depan.

​"Adikku, tidak ingin bicara sesuatu?"

​Mendengar teguran Tuan Do, Heuk-yo melirik sekilas. Bibirnya bergerak-gerak sejenak sebelum akhirnya tatapannya kembali menajam.

​"Kalau memang ada masalah begitu, seharusnya kamu berterus terang dari awal! Kenapa harus membuatku berteriak! Seandainya kamu segera diobati, kerumitan ini tidak akan terjadi! Aku benar-benar benci manusia!"

​Setelah meluapkan amarahnya, dia langsung masuk ke dalam begitu saja. Tuan Do hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah adiknya.

​"Begitulah wataknya. Maksudnya tadi adalah ungkapan maaf karena sudah membentakmu tanpa alasan, sekaligus memberi tahu bahwa dia sudah bersusah payah mencarimu. Dia bicara begitu tapi nanti pasti akan menyesal lagi."

​"Itu karena Kakak yang paling merasa cemas selama mencarimu, Tuan Muda," Chaewoo menimpali dengan nada maklum.

​"Katanya Kakak kepikiran sekali karena sempat memarahimu saat berpapasan di pintu tempo hari. Dia merasa seharusnya tidak bersikap kasar dan semestinya bisa lebih ramah padamu."

​"Tapi tetap saja percuma. Barusan malah marah lagi. Kak Heuk-yo memang susah diatur," keluh Chae-seol sambil meraih lengan sang kakek. "Bagaimanapun, syukurlah berkat Pak Tukang Perahu, Yu-dan bisa kembali dengan selamat. Terima kasih, Kek!"

​"Hah?" Kakek itu menatap Chae-seol dengan bingung. "Memangnya aku melakukan apa?"

​"Ah, lupakan saja. Jangan dipikirkan."

​"Aku tidak berbuat salah, kan?"

​"Tentu saja tidak! Kakek sudah melakukannya dengan sangat baik!"

​"Syukurlah kalau begitu. Aku ingin sekali membalas budi yang kuterima, meski aku sama sekali tidak ingat apa budinya……" Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Ngomong-ngomong, sudah lama aku tidak mampir ke sini. Tempat ini menyenangkan dengan segala benda uniknya. Mumpung sudah di sini, bagaimana kalau bermain sebentar?"

​Seketika wujud sang kakek menghilang. Meski tidak terlihat, kehadirannya terasa saat ia melintasi setiap sudut halaman. Di mana pun ia lewat, dedaunan berhamburan dan bunga-bunga seakan menari mengikuti langkahnya.

​Barulah Yu-dan menyadari identitas aslinya. Sesuatu yang tidak pernah menetap di satu tempat. Sesuatu yang sanggup berpindah dari satu titik ke titik lain dalam sekejap mata. Jawabannya begitu sederhana, namun ia sama sekali tidak terpikirkan sebelumnya.

​"Ternyata dia adalah angin."

​"Benar. Sondol-baram, angin yang berasal dari masa lalu…," kalimat Baek-ran terputus. "Kenapa aku repot-repot menjelaskan? Terserahlah. Cari tahu saja sendiri kalau penasaran."

​Tanpa membuang waktu, Baek-ran melangkah menuju lantai atas. Si kembar yang tampak mulai kelelahan pun menyusul pergi dengan langkah gontai.

​"Jangan dimasukkan ke hati. Mereka hanya kelelahan setelah merasa terlalu khawatir. Memang dasar mereka itu gampang panik. Seharusnya mereka bisa tetap tenang sepertiku setiap saat."

​Dokkaebi itu tersenyum santai sembari mengeluarkan sebuah pena dari saku, lalu menyulut ujungnya dengan pemantik api layaknya sedang merokok.

​"Sondol-baram…… nah, ini dia. Angin dingin yang berembus kencang akibat dendam Sondol, seorang tukang perahu di sungai Han yang tewas difitnah. Pada masa Goryeo saat tentara Mongol menyerang, raja melarikan diri menggunakan perahu Sondol. Karena Sondol mengambil jalur memutar demi mencari arus yang aman, raja justru curiga dan memerintahkan untuk memenggal lehernya. Sebelum meninggal, Sondol berpesan agar raja menghanyutkan labu air ke sungai dan mengikutinya untuk menghindari musuh serta arus deras. Saat tentara musuh mendekat, raja yang terdesak akhirnya mencoba saran itu, dan benar saja, ia berhasil mencapai Pulau Ganghwa dengan selamat. Barulah raja menyadari kesetiaan Sondol dan menggelar ritual untuk menenangkan jiwanya…… cerita macam apa ini? Sama sekali tidak lucu."

​Yu-dan mematikan ponselnya. Dalam cerita rakyat, sering kali bagian pembukaan terdengar meyakinkan, namun bagian akhirnya terasa tidak masuk akal.

​"Sudah dibantu malah dihukum mati. Harusnya dia muncul di depan raja sambil membawa pedang dan menghabisi mereka semua, kan?"

​"Tiap jiwa punya caranya sendiri," sahut siluman rubah dengan ekspresi datar.

​"Bagaimanapun, aku setuju kalau bagian akhir cerita itu terasa aneh. Katanya angin kencang berembus karena dendam, padahal Sondol tetap berusaha menolong hingga napas terakhirnya. Mana mungkin dia menyimpan dendam."

​"Lalu kenapa angin itu terus berembus?"

​"Dia hanya merasa kesakitan. Begitu pedih hingga dia tidak tahu harus berbuat apa. Saat pertama kali kami bertemu, dIa tampak sangat menderita. Karena itulah aku membuatnya merasa lebih tenang."

​Angin masuk melalui jendela ruang kerja yang terbuka. Saat Baek-ran mengulurkan tangannya, angin itu melilit ujung jarinya dengan lembut.

​"Setiap kali ingatan menyakitkan dihapus, mau tidak mau banyak hal lain yang ikut hilang. Itulah sebabnya dia bahkan tidak mampu mengingat namanya sendiri dan pikirannya sering kali kacau. Salah mengira manusia sebagai siluman kucing hanyalah hal kecil baginya. Di dalam benaknya yang berantakan itu, yang tersisa hanya harapan menolong sesama. Terutama dalam urusan mengantarkan seseorang ke tempat tujuan, dialah ahlinya, mungkin karena latar belakangnya sebagai tukang perahu."

​"Tapi apa tidak masalah membiarkannya berkeliaran dalam wujud dewa seperti itu? Orang-orang memperhatikannya, lho."

​"Ah……," Baek-ran terkekeh.

"Kenapa?"

​"Di mata orang biasa, dia tidak terlihat seperti dewa. Dia tampak seperti kakek biasa. Hanya saja, dia memang cukup mencolok. Karena pikirannya sering linglung, dia terkadang memakai baju bekas yang dibuang orang lain karena mengira itu miliknya, atau bahkan lupa mengenakan celana…."

​"Apa?" Yu-dan terkejut. "Jadi aku berkeliling sungai Han sekian lama bersama kakek yang tidak memakai celana?"

​"Itu hanya dalam kasus yang ekstrem. Mari kita lihat…. Hari ini dia memakai jaket ala geng motor bertuliskan 'Berani Senggol, berani dibacok', kakinya telanjang, dan mengenakan kacamata hitam berbentuk hati."

​"Itu sama sekali tidak normal!"

​Ucapan si rubah sama sekali tidak memberikan penghiburan. Yu-dan menghela napas panjang sembari menekan mata kirinya.

​"Kukira sudah benar-benar rusak, tapi ternyata kakek itu masih bisa melihat keadaanku yang sebenarnya."

​"Barangkali karena dia tahu kamu adalah orang yang akan membantunya," Baek-ran kembali tersenyum. "Lalu, katanya kamu juga merasakan hal lain?"

​"Ah, benar. Suara kereta."

​"Itu adalah Kereta Hwangcheon (kereta pembawa mayat)," Baek-ran membuka buku kuno miliknya.

​"Fenomena ini muncul pada orang yang akan menyebabkan kecelakaan besar. Hal itu sendiri tidak memicu kejadiannya, melainkan lebih ke arah pertanda atau penglihatan masa depan. Sebuah kisah yang cukup membuat merinding, tentang malaikat maut yang menyiapkan kereta terlebih dahulu untuk menjemput banyak jiwa sekaligus."

​"Coba kulihat. Pemilik rumah yang memberi tumpangan mengeluarkan suara kereta, sehingga tamunya bergegas pergi dan selamat dari petaka…. Apa-apaan. Bukannya dicegah malah kabur. Padahal tuan rumahnya sudah baik memberi tempat menginap. Tidak tahu terima kasih sekali."

​"Yah, bagi orang zaman dulu, hal semacam itu dianggap sebagai takdir yang sudah gariskan, jadi manusia tidak boleh ikut campur."

​"Takdir?" Yu-dan bertanya balik dengan wajah serius.

​"Ada apa?"

​"Sebenarnya, saat mendekati fenomena itu, kenangan lama ku kembali muncul. Kecelakaan waktu itu……. Apakah itu juga bagian dari takdir?"

​"Jika kamu bertanya pendapatku, aku merasa tidak ada yang mutlak digariskan. Segalanya dibentuk seiring berjalannya waktu. Ingat soal roda gigi yang pernah kubilang?"

​"Tetap saja ada hal yang bisa kita baca sebelumnya, kan? Apakah hari itu suara roda kereta itu juga terdengar dari diriku?"

​"Ternyata kamu masih menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian itu?"

​"Tidak," Yu-dan menggelengkan kepala. "Dulu ada makhluk-makhluk yang mendatangi dan membisikkan hal itu padaku. Tentu saja aku tidak memercayainya…. Tapi terkadang pikiran itu muncul. Kenapa hanya aku yang selamat? Apa ada alasan tertentu?"

​"Itulah yang dinamakan menyalahkan diri sendiri," tandas Baek-ran.

​"Ingat kan, sebelum matamu mogok kerja, si kembar sempat membahasnya? Mereka memintamu untuk berhenti menghukum diri sendiri. Setelahnya, mereka sangat menyesal karena merasa telah lancang bicara. Namun mereka tidak punya pilihan lain selain mengatakannya. Terkadang, suara itu memang terdengar. Kamu selalu membangun benteng yang begitu kokoh hingga tidak ada suara yang bisa mmenembusny, namun sesekali bisikan 'ini semua karenamu' itu tetap saja menyelinap masuk. Bagi yang mendengarnya, itu sama sekali tidak menyenangkan."

​"Aku tidak tahu soal itu," jawab Yu-dan pelan sambil mengembuskan napas berat.

​Mungkin itu hanyalah pengulangan dari apa yang pernah diucapkan para siluman. Namun kenyataan bahwa ia masih menyimpannya di hati sampai sekarang…. Apakah ia memang sedang menghukum dirinya sendiri?

​Keheningan melanda sejenak. Angin kembali masuk melalui jendela.

​"Sondol merasakan kegembiraan saat bisa membantu orang lain. Melalui itu, dia melupakan kepedihan kematiannya yang tragis. Ini bukan soal pengorbanan, melainkan soal bertahan hidup. Dia melakukannya agar tetap ada. Terkadang, demi bertahan hidup, seseorang memang harus mengulurkan tangan pada orang lain. Saat itu, sosok yang menyambut uluran tangan tersebut bukanlah orang asing, melainkan dirimu sendiri. Anak yang sedang gemetar sendirian di tengah lokasi kecelakaan yang mengerikan. Anak yang mungkin berpikir dunia ini kejam, atau malah menganggap dirinya sebagai pembawa sial. Bisa jadi kamu sedang mengulurkan tangan pada anak itu."

​"……."

​Memang agak berat mencerna pembicaraan semacam ini. Di tengah keheningan itu, seberkas cahaya masuk mengikuti putaran angin yang mengitari ruang kerja. Kilauan misterius berwarna-warni layaknya aurora menyebar di atas deretan buku.

​"Ini apa?"

​"Ini disebut Seogi, sebuah aura keberuntungan." Wajah siluman rubah tampak cerah tertimpa cahaya itu. "Aura ini muncul saat sesuatu yang baik akan terjadi, dan sepertinya angin membawanya kemari agar kita bisa melihatnya. Orang zaman dulu menganggap ini sebagai air liur naga suci yang sangat berharga."

​"Air liur? Menjijikkan."

​"Intinya, matamu tidak selalu memperlihatkan hal mengerikan. Kamu juga tidak selalu menjadi pihak yang memberi bantuan, ada kalanya kamu juga ditolong seperti hari ini. Dunia punya banyak sisi, dan jalan mana yang akan kamu tempuh sepenuhnya bergantung pada pilihanmu sendiri."

​"Mungkin begitu," Yu-dan mengangguk pelan.

​"Namun, ada satu hal yang tidak memberimu pilihan."

​"Apa?"

​"Mata itu. Kilauannya terus memancar hingga mataku sendiri terasa perih. Jika kamu berkeliaran dalam kondisi begitu, kamu akan dianggap sebagai bencana alam berjalan. Mulai besok, datanglah setiap hari untuk pengobatan."

​"I-iya, baiklah," jawab Yu-dan terpaksa.

​Pada hari pertama pengobatan, saat memasuki apotek, Yu-dan dibuat tegang. Siluman rubah tampak menyiapkan palu besi dan alat suntik raksasa, sementara si kembar sibuk menahan, "Bisa mati! Manusia bisa mati kalau diperlakukan begitu!".

​Namun seperti biasa, itu hanyalah gertakan. Pengobatan yang sesungguhnya sekedar menempelkan kantong ramuan herbal untuk menyerap hawa beracun di matanya serta meminum obat. Meski ia tidak suka bau ramuan maupun rasa obatnya, dibandingkan ancaman palu besi tadi, ini tidak ada apa-apanya. Yu-dan pun menjalani pengobatan dengan patuh.

​Ia mulai merasakan gelagat aneh pada hari ketiga. Entah mengapa, si rubah, dokkaebi, dan si kembar tampak sering berbisik-bisik di belakangnya. Bahkan saat ia duduk di lantai bawah demi memantau efek samping obat, pasti selalu ada satu orang yang mengawasinya.

Ada apa sebenarnya? Meski biasanya ia acuh tak acuh pada sekitar, hal ini tetap mengusik pikirannya.

​Beberapa hari berlalu. Saat ia sedang melamun menatap ke luar jendela setelah meminum obatnya, Baek-ran yang sedari tadi asyik membaca buku di pojok ruangan tiba-tiba bersuara.

​"Dia datang."

​"Siapa?"

​Belum sempat dijawab, pintu terbuka dengan sentakan keras. Siluman ular yang selama beberapa hari terakhir tidak menunjukkan batang hidungnya itu masuk dengan wajah ketus. Ia melangkah dengan hentakan kaki yang berdentum, lalu meletakkan sesuatu di atas meja di hadapan Yu-dan dengan bunyi tang yang keras.

​Ternyata sebuah kaleng kola.

​"Ini untuk apa?"

​"Aku menemukannya di jalan," jawab Heuk-yo sambil memalingkan wajah.

​"Menemukannya?"

​"Iya. Jatuh begitu saja tadi."

​Yu-dan kembali menatap kaleng itu. Tidak ada setitik debu pun, hanya butiran embun dingin yang menempel. Segalanya menunjukkan minuman ini baru saja dibeli.

​Cukup mengejutkan memang. Dulu mereka sempat berselisih soal ini. Siluman ular itu sangat membenci minuman bersoda. Saat Yu-dan bertanya kenapa Banwoldang tidak menyediakan kola, Heuk-yo malah mengamuk dan bilang lebih baik ia menjual air rendaman tengkorak busuk daripada menjual kola.

​Tapi sekarang, ia justru membelinya dan memberikannya secara cuma-cuma.

​Yu-dan melirik ke arah siluman rubah di belakang. Baek-ran telah meletakkan bukunya dan menonton adegan itu dengan wajah penuh minat. Saat mata mereka bertemu, Baek-ran memberi isyarat. Ia menangkupkan kedua tangan, menggelengkan kepala, lalu menempelkan jari telunjuk ke bibir.

Maksudnya ini adalah bentuk permintaan maaf, jadi aku harus pura-pura tidak tahu dan menerimanya dengan tenang?

​Yu-dan kembali menatap Heuk-yo. Siluman itu berdiri angkuh dengan dagu terangkat dan tangan bersedekap, menatap ke arah lain. Namun jika diperhatikan saksama, ujung jarinya tampak mengetuk lengannya dengan gelisah karena gugup.

Seharusnya dia mau aku menerimanya tanpa banyak tanya, namun…. Melihat pemandangan yang tidak biasa itu, Yu-dan justru merasa kikuk.

​"Sebenarnya aku yang lebih banyak salah," kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutnya.

​Heuk-yo tersentak kaget. "Hah? Siapa yang peduli? Bicara omong kosong apa kamu—" Kalimatnya tidak selesai seiring dengan wajahnya yang memerah padam.

​Ia segera menyambar kembali kaleng kola itu dan berlari tunggang-langgang menuju dapur. Pintu ditutup dengan suara keras.

​"Tadinya aku sudah berniat untuk tidak mengucapkan kalimat ini lagi, tapi sepertinya aku tidak punya pilihan……," siluman rubah kembali membuka bukunya.

​"Dasar bodoh."

​. ............... 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Chapter Gratis

Login & tonton iklan untuk membuka chapter ini

Chapter yang kamu pilih:

-

▶ Chapter ini tersedia gratis!

Masuk ke akun kamu, lalu tonton iklan singkat untuk membaca chapter ini tanpa biaya.

Setelah login, tonton iklan singkat untuk membuka chapter gratis selama 3 jam ▶

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang