Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 41>
"Ada apa?"
Dewa Sungai mengikuti dengan wajah penuh tanda tanya. Yu-dan tidak menjawab, ia terus melangkah maju seperti sedang ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.
Perasaannya tidak enak. Jantungnya berdegup kencang dan perutnya terasa mual. Sebuah ingatan yang selama ini terkubur jauh di lubuk hatinya tiba-tiba menyembul ke permukaan.
Potongan besi yang mencuat di antara reruntuhan beton. Orang-orang yang tertimbun di bawahnya. Jasad-jasad yang telah kehilangan nyawa, tampak seperti tumpukan boneka karet yang hampa….
"Bukan. Bukan itu."
Ada seorang anak yang meringkuk di celah sempit sambil gemetar hebat. Anak itu menutup mata dan telinganya rapat-rapat sambil terus bergumam.
"Ini bukan salahku…."
Yu-dan bergumam tanpa sadar sambil mendekati pria itu. Tiba-tiba pemandangan di sekitarnya berubah.
Kini ia berada di depan sebuah kedai es krim. Kaca depannya hancur berkeping-keping, dan papan namanya yang penyok tergeletak di lantai.
……Aku akan mati saja…….
Terdengar suara bisikan. Itu bukan suara si pria. Kegelapan pekat yang menyelimutinya seolah sedang membisikkan racun di telinganya.
……Perempuan jalang! Beraninya dia pergi dengan pria lain…….
……Saat dia sedang di kedai nanti…….
……Akan kubunuh semuanya, lalu aku juga akan mati…….
Pria itu mencengkeram kunci mobilnya erat-earat dengan tatapan mata kosong.
Suara alarm yang memekakkan telinga terdengar. Lemari pendingin es krim yang ringsek seperti kertas. Jasad-jasad yang bergelimpangan bersimbah darah. Sebuah mobil yang merangsek masuk menembus kedai. Dan di dalamnya, seorang pria yang mati dalam keadaan mengenaskan.
Yu-dan menyadari apa arti penglihatan itu. Kemarahan pun meluap.
"Apa yang sebenarnya mau kau lakukan?!" bentak Yu-dan keras.
Kegelapan itu seketika berkobar seperti api, lalu buyar dan menghilang ke segala arah. Pria itu menoleh dengan wajah linglung. Tatapan matanya yang tadi kosong perlahan-lahan mulai kembali jernih.
"Ah…?"
Ia tersentak ngeri dan melempar kunci mobilnya. Apa yang tadi aku pikirkan? Pengaruh alkohol di tubuhnya hilang seketika, digantikan oleh tubuh yang gemetar karena rasa takut yang luar biasa.
"Hampir saja kau membuat celaka orang lain! Sadarlah, Paman!"
"I-iya. Baik."
Pria itu menjawab dengan sopan karena terkejut, ia sempat berlari menjauh namun kembali lagi untuk memungut kuncinya, lalu menghilang secepat kilat.
"Fuuu…." Yu-dan menghela napas panjang.
Tadi jantungnya benar-benar terasa mau copot. Pria pengecut seperti itu sepertinya mustahil melakukan perbuatan senekat itu. Mungkin saja saat sedang menyetir karena bisikan kegelapan tadi, ia akan tersadar saat ada telepon masuk, saat merasa lapar, atau saat teringat harus menonton pertandingan bisbol. Lalu kejadian ini hanya akan berakhir sebagai bahan bualan saat mabuk: "Dulu aku pernah benar-benar gelap mata sampai mau menabrakkan mobil ke kedai."
Namun, bagaimana jika seandainya tidak ada yang meneleponnya? Bagaimana jika ia tidak sempat merasa lapar atau mengingat bisbol, lalu tiba di depan kedai itu begitu saja?
Mungkin tragedi itu benar-benar akan terjadi. Kecelakaan memang selalu terjadi seperti itu.
……Entah mengapa, penjelasan itu terdengar sangat mirip dengan gaya bicara siluman rubah. Bahkan suara Baek-ran yang tenang seolah-olah sedang bergema di dalam kepalanya.
Yu-dan menggelengkan kepalanya. Setidaknya ia lega sudah memarahi dan mengusir pria itu. Meski bayarannya adalah ingatan buruknya yang kembali muncul dengan sangat nyata.
Mungkin ini Unusuals terakhir yang aku temui. Siapa namanya? Kisah apa yang tertulis di dalam buku? Rasanya aneh menyadari bahwa ia tidak akan pernah tahu jawabannya.
Tapi biarlah. Toh sebentar lagi aku akan melupakan semuanya. Melakukan satu perbuatan baik sebagai kenang-kenangan terakhir tidaklah buruk. Tanpa harus menggerutu atau merasa repot.
Yu-dan menoleh ke belakang sambil berpikir demikian, namun…. Sang Dewa sudah tidak ada di sana. Ternyata kakek itu sedang bersujud di tanah sambil gemetar ketakutan.
"Kakek sedang apa?"
"Aku salah. Aku salah. Aku yang salah. Mohon jangan bunuh aku. Aku tidak punya niat buruk. Tolong ampuni nyawa hamba. Mohon ampuni hamba, Yang Mulia."
Kakek Dewa itu tampak kehilangan akal sehatnya. Yah, walau dari awal dia memang terlihat agak kurang waras. Yu-dan membantunya berdiri.
"Apa yang Kakek bicarakan? Yang Mulia siapa? Di sini tidak ada orang seperti itu."
"Ada! Dia ada di sini! Di sini…." Ia bergumam sambil gemetar, lalu tiba-tiba mendongak. "Eh? Ternyata benar-benar bukan Yang Mulia."
"Kan sudah kubilang!"
"Aduh, suaramu keras sekali sampai aku salah sangka…." Lalu kakek itu tampak bingung sendiri. "Tadi aku salah sangka jadi siapa ya?"
Benar-benar Dewa yang menderita demensia.
Setelah melewati rentetan kejadian aneh bersama Dewa yang unik namun tidak jahat ini, perasaan sesak di hati Yu-dan mulai mencair. Siapa tahu? Karena Dewa ini bisa dilihat orang biasa, mungkin sesekali ia bisa datang ke sungai Han untuk menemuinya….
Ah, tidak. Kenapa aku harus melakukan itu? Sebentar lagi semua ingatan ini akan sirna. Fakta bahwa ada berbagai makhluk aneh yang mengintai di balik sudut pandang manusia pun akan ia lupakan sepenuhnya.
Yu-dan mengangkat bahu. "Kalau begitu, sekarang benar-benar selamat tinggal."
Saat ia berbalik untuk melangkah pergi, angin kembali berembus kencang. Dewa itu tiba-tiba berlari dan mencengkeram lengannya erat.
"Aku ingat! Aku ingat sekarang! Pekerjaanku yang sebenarnya adalah mengantarkan orang-orang ke suatu tempat! Ke tempat yang seharusnya mereka datangi!"
Seketika kedua kaki Yu-dan melayang dari tanah. Sang Dewa menyeret Yu-dan dengan kecepatan tinggi. Langit malam, kerlap-kerlip lampu, kerumunan orang, semuanya menyatu menjadi satu lintasan warna yang melesat lewat.
Yu-dan berteriak panik, "Kakek mau bawa aku ke mana?!"
"Aku juga tidak tahu! Kamu siapa? Uwaaa!"
"Harusnya aku yang teriak begitu!"
"Ah, aku ingat sekarang!"
Tak lama kemudian, kedua kakinya kembali menyentuh tanah. Pandangan Yu-dan bergoyang, rasa mual menyerangnya. Ia terpaksa berpegangan pada pohon di dekatnya untuk menstabilkan diri.
"Di mana ini?"
Sang Dewa Sungai tampak menoleh ke sana kemari dengan wajah bingung. Yu-dan mengira tempat ini gelap… tapi ternyata tidak. Ia melihat semak-semak yang rimbun. Saat ia mundur selangkah, barulah sosok bangunan di depannya terlihat jelas.
"Lho?! Kenapa aku membawa anak ini ke sini?" Sang Dewa tersentak kaget. Yu-dan pun tak kalah terkejut.
Di tengah kegelapan, berdiri sebuah rumah tradisional yang megah. Lampu di lantai dua sudah padam, namun lantai satunya terang benderang di setiap sudut. Di bawah cahaya oranye yang hangat, sebuah pintu samping yang sangat akrab dan lesung batu terlihat jelas di matanya.
Mustahil ia salah mengenali tempat ini. Sudah puluhan kali ia membuka pintu samping dapur itu untuk membuang ampas teh ke halaman belakang ini. Hanya saja, ini pertama kalinya ia melihatnya dari sudut pandang luar seperti ini.
Bayangan-bayangan terpantul di pintu. Semua penghuninya tampak bergerak sangat sibuk dan enerjik. Mungkin selama ini ia memang ingin kembali ke sini, namun melihat kesibukan di dalam, ia mendadak jadi malas masuk.
"Aku tidak mau masuk."
"Tunggu sebentar! Di sini aman! Tidak berbahaya!" Dewa itu mencengkeram Yu-dan dan menyeretnya paksa. Karena tidak ada respon meski sudah digedor, ia langsung membuka pintu lebar-lebar dan masuk ke dalam.
Di sana terlihat Baek-ran, si kembar, dan Tuan Do. Mereka sedang duduk berkumpul dan serentak menoleh. Sang dokkaebi membuka mulutnya hendak bicara.
"Ah, Pak Tukang Perahu…."
Lalu matanya membelalak saat menyadari kehadiran Yu-dan. Keheningan melanda. Semua orang mematung, tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Mereka hanya menatap ke arah Yu-dan dengan wajah penuh takjub dan heran.
Saat itulah terdengar suara langkah kaki.
"Ada yang datang minta makan lagi? Hari ini tamu kita banyak sekali. Maaf, tapi langsung saja ke dapur dan makan apa yang ada di sana. Aku harus segera pergi mencari lagi—"
Rentetan kalimat dari siluman ular terhenti seketika. Ia menatap ke arah pintu dengan wajah seakan baru saja melihat hantu. Pedang panjang di tangannya terlepas karena lemas.
PRANG.
Suara itu sepertinya menyadarkan semua orang. Siluman rubah mengangkat bahunya. "Luar biasa. Benar-benar dalam berbagai cara—"
"Kamu itu apa-apaan!" bentak Heuk-yo keras. Saking emosinya, ia bahkan tidak sadar telah memotong ucapan "Cheonho-nim".
"Dasar bocah! Kamu tahu tidak betapa khawatirnya kami semua karena kamu menghilang begitu saja? Kenapa kamu egois sekali!"
Bukan hanya Yu-dan yang terkejut, Sang Dewa pun ikut kaget. "Lho, kalian saling kenal? Kalian kenal Mario?"
Lagi-lagi keheningan melanda.
"……Mario?" tanya semua orang serempak.
Sang Dewa merogoh sakunya dan membentangkan selembar kertas. Itu adalah selebaran yang Yu-dan lihat di sungai Han. Selebaran tentang kucing Persia yang hilang bernama "Mario".
"Kakek yang menemukannya. Dia kabur dari rumah dan terus menatap selebaran ini dengan sedih. Sepertinya meski bisa berubah wujud jadi manusia, dia tidak bisa baca tulisan. Kasihan sekali, dia tidak tahu kalau majikannya sedang mencarinya setengah mati… dia terus meratap kalau matanya sudah tidak bisa melihat jadi dia sudah tidak berguna, dan karena dia biasanya nakal, dia pikir tidak akan ada yang mencarinya. Dia benar-benar putus asa."
Sambil bicara, kakek itu menepuk-nepuk punggung Yu-dan dengan lembut. "Kakek tidak menyangka sama sekali. Kakek hanya berniat mengantarkannya pulang. Tidak disangka dia ternyata hewan peliharaan di rumah ini."
Semua orang mendengarkan penjelasan kakek itu dengan wajah cengo. Yu-dan menatap sang Dewa dengan tatapan bingUnG, benar-benar tidak paham apa yang sedang dibicarakan.
"Maksud Kakek, aku ini kucing itu?"
"Sudahlah, di sini kamu tidak perlu bersembunyi. Mereka semua juga siluman yang menyamar sepertimu."
"Aku tahu. Tapi aku bukan siluman!" Yu-dan kembali menatap foto di selebaran itu. Seekor kucing Persia dengan tampang galak. Mata kirinya berwarna merah.
"Apa mataku sekarang seperti ini?"
"Iya. Bersinar sangat terang. Apa itu sejenis penyakit menular siluman? Sepertinya kamu sendiri tidak bisa melihat sinarnya."
"Sudah kubilang aku bukan siluman! Aku manusia!"
"Hah?" Sang Dewa kini jatuh dalam kebingungan.
Baek-ran mendekat. Ia menatap mata kiri Yu-dan, lalu seolah mendapat pencerahan, ekspresinya berubah.
"Pantas saja aku tidak bisa menemukannya." Baek-ran mengangguk pelan. "Fungsi matanya berhenti total. Matamu terlalu lelah karena dipaksa bekerja keras. Sepertinya dia memutuskan untuk 'mogok kerja' sementara waktu."
"Apa?" Yu-dan terperangah. "Jadi begitu? Karena itu tiba-tiba aku tidak bisa melihat si kembar dan tidak bisa menemukan toko ini?"
"Kami pikir telah terjadi sesuatu yang buruk padamu! Saat kami sadar, kamu sudah menghilang. Bahkan Cheonho-nim pun bilang tidak bisa melacak keberadaanmu…."
"Kenapa tidak bisa? Kan kalian tahu rumahku di mana!"
"Tidak tahu," jawab Baek-ran singkat.
"Lalu tempo hari bagaimana kamu bisa mengirim rubah kertas ke kamarku?"
"Yah, itu karena sangat mudah melacak aura kuat dari matamu itu…."
"Tidakkah kamu berpikir cara itu punya masalah besar? Bagaimana kalau mataku rusak seperti sekarang!"
Siluman rubah itu memalingkan wajahnya untuk menghindar. "Mana aku tahu kalau matamu bisa mogok kerja."
"Ah, benar juga! Kalau dipikir-pikir, meski tidak tahu alamat rumahnya, aku kan sering menggeledah tasnya jadi aku tahu di mana sekolahnya. Harusnya kita cari ke sekolah ya," gumam Chaewoo.
"Baru sekarang otak kalian jalan," sindir Tuan Do sambil mendecakkan lidah.
"Kemarin itu benar-benar guncangan besar bagi mereka karena Yu-dan menghilang tiba-tiba di depan mata mereka sendiri. Tapi tidak kusangka kalian semua sampai kehilangan akal sehat begitu. Kenapa kalian tidak dengar kata-kataku? Sudah kubilang dia akan baik-baik saja. Kalau kita tunggu dengan tenang, dia pasti akan muncul kembali dengan selamat."
Baek-ran bertanya dengan wajah heran, "Kapan Paman bilang begitu?"
"Terus-menerus, di dalam hatiku…."
"Oh, ya? Sayang sekali hati kita tidak terhubung, jadi aku tidak bisa dengar suara hatimu. Yang aku dengar adalah… Paman bilang sekitar sembilan kali kalau kita harus mengerahkan lebih banyak siluman sebelum terjadi sesuatu yang fatal."
"Hahaha. Ternyata terdengar? Karena tidak ada respon sama sekali, aku bahkan sempat berpikir mau mengguncang bahu Cheonho-nim. Setidaknya kami sempat memejamkan mata sebentar, tapi Anda…."
"Bagaimana aku bisa tidur di bawah tekanan seperti itu? Atmosfer di sini rasanya sudah mencekam seperti mau mati lemas kalau tidak segera menemukannya."
Mendengarkan itu semua, Yu-dan baru menyadari sesuatu.
"Ternyata kalian semua mencariku dengan cukup serius," Yu-dan menyela dengan perasaan yang sedikit lebih baik. "Aku sendiri tadi cuma mencari sekali lalu langsung menyerah. Jadi merasa tidak enak hati. Tidak disangka kalian mencariku seheboh itu."
Mata Baek-ran seketika menajam. Yu-dan langsung menyesali kata-katanya. Sorot mata rubah itu seolah berkata bahwa kini gilirannya yang menjadi sasaran empuk.
"Sepertinya kamu salah paham besar. Bagiku tidak masalah kapan pun atau bagaimana pun kamu ingin menghilang. Entah atas kemauan sendiri atau dipaksa, aku akan menghargainya. Namun ada satu pengecualian, akan menjadi masalah besar jika kamu menghilang dari toko ini, atau menghilang tepat di depan mata kami. Apa kamu tidak lihat bagaimana hukuman langit itu dijatuhkan?"
Baek-ran berbalik untuk pergi. Si kembar segera menahan lengan bajunya.
"Cheonho-nim! Jangan marah!"
"Jangan naik dulu!"
"Aku tidak mau naik ke atas. Hanya saja, ada satu hal yang sangat membuatku penasaran sejak tadi." Siluman rubah itu menunjuk ke arah sudut rumah hanok tersebut.
"Apa kamu lihat ini? Ini apa?"
"Memangnya aku sebodoh itu? Itu kayu."
"Lalu yang ini?"
"Batu."
"Kamu paham sekarang? Ini adalah bangunan nyata yang terbuat dari kayu dan batu. Bangunan ini ada di dunia ini. Hanya karena matamu tidak bisa melihat hantu, bukan berarti bangunan ini tiba-tiba menjadi tidak kasat mata. Pelanggan biasa yang tidak punya kemampuan apa-apa pun bisa masuk ke sini dengan mudah. Jadi, kenapa kamu tidak bisa menemukannya tadi?"
"Aku juga penasaran soal itu. Aku sudah menyisir seluruh jalan ini dari ujung ke ujung tapi tokonya tidak ada. Pemilik toko lain pun bilang tidak tahu, dan teleponku ke Kak Mi-a juga tidak diangkat."
Mendengar itu, Tuan Do dan si kembar saling berbisik-bisik. Saat mereka kembali menatap Yu-dan, ekspresi mereka penuh rasa kasihan.
"Kenapa kalian menatapku begitu?"
"Itu adalah gejala khas dari 'terpikat' atau diganggu," jawab Baek-ran. Siluman rubah itu pun kini memasang wajah prihatin.
"Diganggu? "
"Ada legenda tentang orang yang terpikat oleh Dokkaebi sehingga ia hanya berputar-putar di tempat yang sama sepanjang malam. Pemilik toko yang kamu tanya tadi pastilah ilusi. Toko-toko lain yang kamu lihat di jalan ini pun hanya tipu daya mata, dan kemungkinan besar kamu tidak benar-benar menelepon sepupumu. Makhluk-makhluk rendahan memanfaatkan celah saat hatimu sedang goyah untuk mempermainkanmu. Biasanya mereka tidak berani karena takut dihajar, tapi sepertinya kondisi mentalmu tadi sedang sangat buruk sampai mereka berani beraksi."
Rubah berdecak lalu menatap ke arah Dewa Sungai. "Yah, apalagi menurut kakek ini, kamu tadi sedang 'berputus asa' sambil meratap kalau 'kamu sudah tidak berguna karena matamu tidak bisa melihat' dan 'karena biasanya kamu nakal, maka tidak akan ada yang mencarimu'."
"Bukan begitu! Itu karena Kakek pikun ini salah sangka aku ini kucing—"
Baek-ran mengabaikan protes Yu-dan dan bertanya kembali pada sang Dewa, "Bagaimana kondisi dia saat ditemukan tadi?"
. . . . .....
