Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 40>
Benar. Begitulah seharusnya.
Yu-dan mengangguk pelan, namun tiba-tiba wajahnya mengernyit kesal.
Tapi aku benar-benar tidak suka kalau akhirnya jadi begini.
Bayangan pemandangan di Banwoldang melintas dengan sangat jelas di pelupuk matanya.
"Hehe. Sudah kuduga bakal begini. Manusia bodoh," siluman ular itu pasti akan menyeringai licik.
"Padahal dulu dia begitu keras kepala. Akhirnya dia tidak bisa berbuat apa-apa juga," siluman rubah pun pasti akan tertawa mengejek.
"Aduh, syukurlah suasananya jadi tenang! Aku bisa bernapas lega sekarang!" sang dokkaebi pasti akan menikmati kedamaian barunya.
Si kembar mungkin akan merasa sedikit sedih. Namun setelah murung sejenak, mereka pasti akan segera berpaling. "Kami sudah menemukan manusia lain yang lebih hebat!"
……Rasa kekalahan menyelimuti hatinya.
Yu-dan kembali bangkit. Ia harus kembali. Bagaimanapun caranya, ia harus kembali ke sana. Namun, ia tidak punya jalan.
Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun tetap saja tidak ada apa-apa. Tak ada satu pun hal ganjil yang tertangkap oleh penglihatannya.
Ia kembali terduduk lunglai di bangku taman. Tangannya terjulur menyentuh mata kirinya.
Sudah kukatakan, ini sudah berakhir.
Mungkin kain penutup mata itu memang penyebabnya. Bukankah ia sempat melihat hawa siluman (yogi) yang sangat kuat memancar dari siluman rubah di tengah kegelapan sebelum mereka masuk ke rumah tua itu? Jika hawa sekuat itu meresap ke dalam kain dan menyentuh matanya langsung….
Bisa jadi Cheon-an miliknya yang jauh lebih sensitif dari manusia biasa ini telah rusak. Ia teringat kembali guncangan yang terasa seperti kilatan api tepat sebelum ia berpisah dengan si kembar. Jika sebuah mesin saja bisa hancur karena guncangan sehebat itu, apalagi organ sesensitif mata, tentu sudah lebih dari cukup untuk membuatnya rusak total.
Begitulah cara segalanya berakhir.
Tapi, bagaimana tadi momen terakhir kami? Yu-dan mencoba mengingatnya satu per satu.
Si kembar? Mereka berpisah dengan cara yang sangat janggal di tengah jalan. Heuk-yo? Memori terakhirnya hanyalah mereka yang saling membentak karena tak sengaja bertabrakan saat hendak keluar. Tuan Do? Dia sedang asyik membaca koran di tempatnya yang biasa, dan atas kesepakatan bersama yang tak terucapkan, mereka hanya saling lewat begitu saja seolah tak saling kenal. Baek-ran? Dia hanya mengurung diri di lantai atas dan tidak turun. Saat terakhir kali mereka bertemu adalah sesaat sebelum Yu-dan pingsan di rumah tua itu.
Bodoh sekali. Atau dengan kata lain, ini sangat khas dirinya.
Yu-dan menghela napas panjang. Mereka sudah menyelamatkan nyawanya berkali-kali, namun pada akhirnya ia tidak pernah membalas budi. Segalanya berakhir dengan ia masih berhutang nyawa.
Ah, biarlah. Toh mereka siluman. Aku saja tidak peduli pada manusia lain, sejak kapan aku mulai mempedulikan nasib para siluman itu? Mari kita jalani hidup masing-masing dengan baik.
Angin berembus menerpanya. Entah mengapa terasa sangat menggigit. Bukankah ini sudah musim semi?
Sambil merapatkan kerah jaketnya, Yu-dan mendongak tanpa sadar dan seketika ia tersentak kaget. Di hadapannya berdiri sesosok dewa gunung—Shillyeong. Dengan janggut putih panjang menjuntai dan jubah dopo yang berkibar, sosok itu adalah gambaran dewa yang sangat klasik.
"……Eh?" Yu-dan melompat berdiri. "Sudah kembali! Mataku sudah kembali normal!"
Sang Dewa menatapnya dengan raut wajah heran. "Apa yang sedang kamu bicarakan, Nak?"
"Mataku tadi sempat rusak sampai aku tidak bisa melihat hantu atau siluman, tapi sekarang sepertinya sudah sembuh. Buktinya aku bisa melihat kakek, Dewa yang tidak bisa dilihat orang biasa."
Tepat saat itu, Yu-dan menyadari sesuatu. Orang-orang di sekitarnya sedang berbisik-bisik.
"Eh, lihat kakek itu!"
"Hari ini dia ada di sini lagi? Kemarin aku juga lihat!"
"Kamu tidak tahu? Kakek itu sangat terkenal!"
"Eksentrik sekali ya! Kenapa dia berpakaian seperti itu di jalanan?"
Yu-dan langsung merasa lemas. Ternyata Kakek Dewa ini bisa dilihat oleh semua orang. Ia kembali terduduk di bangku dengan perasaan frustrasi.
Namun, dari reaksinya barusan segalanya menjadi jelas. Di saat ia mengira matanya telah sembuh, ia merasakan kelegaan dan rasa menang. Ia tidak menyangka akan merasa seperti ini.
Mata kiri yang selama ini sangat ia benci, ternyata sebenarnya ia butuhkan. Meski benci, ia tetap membutuhkannya. Dadanya terasa nyeri berdenyut. Yu-dan kembali mengembuskan napas berat.
Sang Dewa datang dan duduk di sampingnya. "Suhu air sungai Han hari ini 9,8 derajat, lho."
"Hah?"
"Asal tahu saja, itu bukan suhu yang hangat."
"Memangnya siapa yang peduli?"
"Tadi wajahmu terlihat seakan sedang berpikir bahwa air sungai Han itu tampak hangat."
"Tidak juga."
"Aha. Jangan berbohong pada kakek yang sudah tahu kamu tadi berniat mengeceknya langsung dengan tubuhmu sendiri." Dewa itu tertawa terbahak-bahak.
Siapa sebenarnya orang tua ini? Yu-dan mengernyitkan dahi.
"Kakek jelas bukan manusia biasa. Kenapa kakek berkeliaran di tempat ramai begini tanpa menyembunyikan wujud? Sebenarnya kakek ini siapa?"
"Eh? Aku? Aku ini siapa ya? Hmm…." Sang Dewa memiringkan kepalanya. Sepertinya ia benar-benar tidak ingat identitasnya sendiri.
Apa dia dewa yang menderita demensia? Apa dewa juga bisa pikun?
Bagaimanapun, Yu-dan tidak merasakan aura jahat darinya. Walau dalam kondisi mata yang "rusak" sekarang, ia tidak yakin apakah bisa mempercayai instingnya itu.
"Sepertinya kakek bukan siluman. Apa kakek Dewa Penunggu Sungai ini?"
"Dewa ya? Sepertinya aku memang sering dipanggil begitu. Pokoknya, kakek bukan orang jahat. Sejak tadi kakek terus memperhatikan si Manis kesayangan kakek ini."
"Apa? Si manis siapa?"
"Bukankah anak sepertimu biasanya dipanggil begitu di rumah? Kalau bukan, kakek minta maaf. Tapi, kenapa kamu terlihat sangat kebingungan begitu? Kamu kabur dari rumah ya? Benar kan?"
"Bukan."
"Tidak apa-apa. Jangan khawatir, ceritakan saja pada kakek. Kakek berkeliling di sungai Han setiap hari untuk membantu orang lain. Dari semua manusia, hewan, hantu, siluman, dan makhluk tak dikenal lainnya yang kulihat hari ini, kamulah yang terlihat paling menyedihkan."
"Wah, sebuah kehormatan bagi saya," sahut Yu-dan sarkastis. Ia pun bangkit berdiri. Ia tidak ingin lagi meladeni Dewa aneh ini di saat pikirannya sedang semrawut.
Namun, ia tidak punya tempat tujuan. Akhirnya ia hanya pindah duduk ke bangku tepat di sebelahnya. Sang Dewa Sungai tentu saja mengekor di belakangnya.
"Sudahlah, ceritakan saja. Kakek ini tidak menetap di mana pun, dan kakek juga cepat lupa dengan apa pun yang dikatakan orang. Itulah sebabnya semua orang suka mencurahkan isi hati mereka pada kakek. Katanya perasaan mereka jadi jauh lebih plong setelahnya." Kakek itu tertawa ramah dengan wajah yang bijaksana.
Yu-dan menatap kakek itu sejenak, lalu mengalihkan pandangannya ke aliran sungai. Memangnya kakek pikir aku bakal curhat? Namun, mulutnya seolah bergerak sendiri.
"Sejak kecil, mata kiriku ini bisa melihat hantu. Sangat jelas sampai-sampai membuatku pusing. Makanya aku pikir aku akan sangat bahagia kalau mataku jadi normal dan tidak bisa melihat mereka lagi……."
"Haha. Dan sekarang kamu baru menyadari bahwa kenyataannya tidak seperti itu ya."
"Rasanya aku jadi seperti orang bodoh. Padahal dulu aku benar-benar membenci mata ini!"
Tepat saat itu, semak-semak di depannya bergoyang. Gerakannya jelas tidak wajar. Yu-dan menatap tajam ke sana, namun ia tidak melihat apa-apa.
"Lihat ini! Justru ini masalahnya! Karena aku tidak bisa melihat, aku jadi semakin terganggu!"
"Tenanglah. Itu hanya seekor anjing kecil. Kasihan sekali dia. Sepertinya saat masih hidup, ia sering bermain ke sini bersama pemiliknya." Sang Dewa mengulurkan tangan mengelus udara kosong.
"Tapi, sampai bisa melihat sejelas itu hingga membuatmu pusing… matamu itu pasti sangat sakti ya?"
"Katanya… ini Mata Langit, Cheon-an."
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu. Aku juga tidak tahu kenapa aku harus memiliki hal semacam itu…."
"Bagaimanapun, jika seseorang dianugerahi 'ekor' tertentu, pasti ada alasan di baliknya, bukan?"
"Ekor?"
"Ah, maksud kakek 'mata'." Dewa itu tertawa kikuk. "Lalu, apakah kamu sudah melakukan banyak perbuatan baik dengan mata itu?"
"Tidak terlalu. Aku tidak mengerti kenapa aku harus melakukan perbuatan baik. Aku harus berada dalam bahaya demi urusan orang lain, harus melihat hal-hal yang menakutkan dan menjijikkan, dan harus memikul tanggung jawab atas hasilnya…. Aku benar-benar tidak paham kenapa aku harus melakukan itu semua."
"Ya, benar, itu benar. Tentu saja kamu boleh tidak melakukan apa pun."
"Tapi masalahnya, aku sudah melakukannya. Awalnya aku berniat hanya melihat lalu memberitahu mereka saja, tapi sebelum aku sadar, aku sudah terseret jauh ke dalam masalahnya. Entah itu mencari tahu kisah di balik hantu, mengusir mereka agar tidak mencelakai orang, atau menemukan anak yang hilang…."
Sang Dewa tampak tertegun. "Wah, ternyata kamu hebat juga?"
"Masa?" Mendengar itu, Yu-dan merasa sedikit terharu. Bahkan Dewa aneh yang baru ia temui di jalan ini saja mau mengakuinya.
"Kalau dipikir-pikir, bukankah ini keterlaluan? Sebentar lagi aku akan kehilangan ingatanku sepenuhnya. Saat itu segalanya benar-benar berakhir. Harusnya sebelum itu terjadi, ada seseorang yang datang mencariku, kan? Apa hanya karena aku ini sedikit ketus, tidak sopan, dan gampang marah…." Suaranya mengecil perlahan. "……jadi tidak ada yang mau mencariku."
"Apa yang sedang kamu bicarakan, Nak?" Dewa itu mengulurkan tangan dan menepuk punggung Yu-dan. "Hal remeh seperti itu tidak masalah. Yang penting kamu tidak menggigit atau mencakar, bukan?"
"Aku tidak pernah memakai kekerasan! Hanya itu satu-satunya hal yang bisa kubanggakan dengan percaya diri, tahu!"
"Bagus, kamu sudah melakukannya dengan baik. Jangan terlalu berkecil hati. Mungkin saat ini mereka juga sedang berusaha keras mencarimu di sana."
"Tidak mungkin! Aku kan sudah tidak berguna lagi bagi mereka."
"Kakek bilang bukan begitu, ya bukan begitu." Sang Dewa yang tadi tertawa kecil tiba-tiba melompat berdiri. "Waduh! Bahaya!"
Ia segera berlari kencang menuju suatu tempat. Ia melesat begitu cepat hingga menghilang dari pandangan, kecepatan yang sulit dipercaya dimiliki oleh Dewa yang pikun.
Ada apa dengannya?
Yu-dan memperhatikan lebih saksama. Di kejauhan, sebuah sepeda balap tampak melaju dengan kecepatan penuh. Pengendaranya mencoba membelokkan stang dengan tajam untuk menghindari kerumunan orang yang sedang menyeberang jalan, namun ia tidak menyadari ada sebuah kursi roda tepat di hadapannya.
"Hati-hati!" Sang Dewa mengangkat satu tangannya tinggi-tinggi, dan seketika embusan angin kencang meledak. Sepeda itu terdorong menjauh dan jatuh terguling di atas padang rumput.
Yu-dan tertegun. Gabungan berat manusia dan sepeda itu pasti lebih dari seratus kilogram. Bagaimana mungkin ia bisa menerbangkannya hanya dengan satu gerakan tangan? Ia membuka matanya lebar-lebar dan kembali menatap sosok Dewa itu.
Sang Dewa kembali berlari menuju bangku. "Aduh, lengah sedikit saja pasti begini. Sepertinya waktu tersibuk sudah dimulai. Tunggu sebentar ya…" Namun saat menatap wajah Yu-dan, ia tampak linglung. "Ngomong-ngomong, kamu siapa?"
"Masa kakek lupa…."
"Ah, benar! Kamu anak yang tadi! Kamu tidak boleh pergi! Terlalu berbahaya kalau kamu berkeliaran sendirian di sini. Ayo ikut kakek jalan-jalan saja. Mengerti?" Sang Dewa menepuk-nepuk kepala Yu-dan lalu kembali berlari pergi.
Dan dimulailah pemandangan yang sangat unik. Dewa aneh ini melesat ke sana kemari di sepanjang sungai Han seperti kilat. Ia tidak melakukan hal yang luar biasa besar, hanya menepis bola sepak yang hampir menghantam tikar piknik, menangkap anjing yang talinya terlepas, atau menyangga seorang gadis mabuk yang hampir jatuh saat menyeberangi jembatan batu.
Ia muncul secepat kilat di mana pun bantuan dibutuhkan, menyelesaikan masalahnya, lalu menghilang seketika. Saat orang-orang menoleh dengan kaget, dia sudah tidak ada di sana.
"Aduh, aduh. Sibuk sekali aku." Dewa itu sepertinya hendak mengambil napas sejenak, namun ia kembali terbang ke arah lain. Saat Yu-dan mencarinya, ia melihat sang Dewa sedang sibuk memindahkan gundukan tanah yang tumpah dari kendaraan pengelola taman dengan tangannya sendiri.
Entah mengapa, untuk pekerjaan yang satu ini ia tampak sangat kikuk. Setiap kali lengan bajunya berkibar, debu tanah berterbangan ke segala arah.
Yu-dan tidak tahan lagi menontonnya. Ia mengepalkan tangannya. Perasaan ini lagi—perasaan tidak bisa diam saja saat melihat orang lain kesulitan. Meskipun malas, hatinya selalu tergerak untuk turun tangan. Sifat inilah yang sebenarnya menjadi masalah utamanya. Ia kira saat mata kirinya normal kembali, sifatnya ini akan ikut berubah. Ternyata tidak.
Terlebih lagi, tepat di seberang sana matanya menangkap sesuatu. Beberapa bilah sekop tergeletak begitu saja, seakan dipinjamkan bagi siapa pun yang butuh. Akhirnya, Yu-dan mengambil sekop itu dan memberikannya kepada sang Dewa.
"Aigo! Terima kasih banyak, Nak!" Sang Dewa tampak sangat kegirangan.
"Apa kakek sesuka itu dengan sekop?"
"Bukan begitu. Rasa bahagia saat menyadari bahwa anak yang kakek kira bukan anak nakal, ternyata memang benar-benar anak
… kebahagiaan itu tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata!"
Dewa itu dengan penuh semangat mulai menyekop tanah. Yu-dan pun ikut menyekop di sampingnya sambil bertanya.
"Apa kakek melakukan hal seperti ini setiap hari?"
"Iya. Setiap hari."
"Apa kakek tidak merasa repot? Aku tidak paham. Aku tidak sebaik itu. Kalau masalahnya ada di depan mata aku terpaksa membantu, tapi kalau harus melakukan sejauh ini untuk orang lain……."
Sang Dewa menggelengkan kepalanya. "Kakek tidak melakukannya demi orang lain."
"Lalu demi siapa?"
"Dengar. Kakek meninggal di sungai ini."
"Berarti kakek bukan Dewa, tapi hantu?"
"Entahlah. Kakek tidak ingat apa-apa. Setiap kali kakek mencoba mengingatnya, bagian sini terasa sakit. Meskipun sudah diobati dengan baik, rasanya tetap saja sakit." Sang Dewa meraba lehernya.
"Tapi dengar. Setiap kali kakek berkeliling dan membantu orang lain seperti ini, rasa sakitnya mereda. Saat kakek berpikir, 'Kali ini aku tidak gagal. Meski hal kecil, aku berhasil melakukan sesuatu,' rasa sakitnya akan berkurang. Itulah alasan kakek melakukannya. Bukan demi orang lain. Tapi demi diri kakek sendiri."
Yu-dan terhenyak. Kenapa kata-kata Dewa ini sama persis dengan kata-kata siluman rubah? Apakah itu benar-benar mungkin? Bahwa perbuatan yang terlihat seperti menolong orang lain, sebenarnya dilakukan demi kepentingan diri sendiri?
"Kek, sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan harta apa pun. Sesuatu yang diinginkan semua makhluk. Sesuatu yang jika tidak ada, kita seperti sudah mati, namun sangat jarang yang bisa mendapatkannya. Sesuatu yang harus dicari sendiri, dan merupakan berkah tertinggi jika berhasil menggenggamnya…. Apa kakek tahu itu apa?"
"Hmm, entahlah." Dewa Sungai itu berpikir keras sambil terus menyekop. "Ah, aku tahu!"
"Apa itu?"
"Satu loyang kue beras kukus (Sirutteok), kepala babi, dan semangkuk besar makgeolli! Sudah lama sekali kakek tidak dijamu dengan hidangan seperti itu."
Benar-benar Dewa yang pikun. Yu-dan menyerah untuk berdiskusi lebih jauh dan kembali menyekop tanah. Gundukan tanah yang tadinya menumpuk tinggi itu perlahan mulai habis.
"Berkat bantuanmu, pekerjaannya cepat selesai." Sang Dewa meregangkan punggungnya. Dengan wajah puas, ia menatap ke sekeliling. "Momen inilah yang terbaik. Saat badai masalah sudah berlalu."
Yu-dan ikut melihat ke sekeliling. Tanpa disadari matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Lampu-lampu mulai berkelip di sepanjang padang rumput yang luas. Kincir angin yang bercahaya berputar-putar, dan beberapa kembang api kecil meledak di langit. Dari kejauhan, terdengar suara seseorang menyanyi sambil memetik gitar. Di permukaan sungai di depannya, sebuah motorboat melesat kencang meninggalkan jejak buih, diiringi suara jeritan riang para penumpangnya yang perlahan menghilang di kejauhan.
"Hari ini pun, sungai Han berhasil dijaga dengan aman." Sang Dewa tersenyum cerah.
Tepat saat itu, di antara kerumunan orang yang duduk di padang rumput, penglihatan Yu-dan menangkap seseorang. Pria yang tadi ia lihat. Pria yang duduk muram memegang botol soju, seakan sedang memproklamasikan pada seluruh dunia bahwa ia baru saja patah hati.
Namun saat terus memperhatikannya, perasaan Yu-dan menjadi aneh. Ia merasa terus-menerus mendengar suara dari arah punggung pria itu. Yu-dan mendekatkan tangannya ke telinga untuk menajamkan pendengarannya.
gradak, gradak…….
Suara putaran roda kayu yang berat. Yu-dan melihat sekeliling, namun tidak ada kereta tangan atau gerobak apa pun di sana. Meski begitu, suara itu terus terdengar dengan jelas di telinganya.
Apa itu? Seolah tersihir, Yu-dan mulai melangkah mendekati pria tersebut.
. . . . . . .
Glosarium Istilah:
- Shillyeong (신령): Dewa atau roh suci dalam kepercayaan tradisional Korea.
- Dopo (도포): Jubah luar tradisional pria Korea.
- Sirutteok (시루떡): Kue beras kukus tradisional Korea yang sering digunakan dalam ritual persembahan.
- Makgeolli (막걸리): Minuman beralkohol tradisional Korea berbahan dasar beras.
