Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 39>
Kisah ke-sepuluh
<Harapan Sang Angin>
Pamanku sejak muda sering menunjukkan perilaku aneh sehingga ia dijuluki sebagai Iin (orang sakti). Suatu ketika, aku mengikutinya bertamasya ke Gunung Mudeung dan kami menginap semalam di sebuah rumah penduduk. Begitu melihat pemilik rumah, paman bergumam, "Orang itu akan mencelakai banyak nyawa," dan segera berkemas untuk pergi saat itu juga.
Aku mengikuti paman dengan penuh tanda tanya, namun sebelum kami mencapai desa berikutnya, sebuah desas-desus terdengar. Putri dari pemilik rumah tadi dilecehkan oleh seorang bangsawan desa. Ayahnya yang murka mengambil kapak dan membantai seluruh keluarga bangsawan itu sebelum akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri.
Merasa ganjil, aku bertanya pada paman. Beliau menjawab bahwa ia mendengar suara roda kereta Hwangcheon—kereta penjemput mayat—datang dari arah orang tersebut. Paman berpikir karena banyaknya orang yang akan mati sekaligus, utusan alam baka tidak sanggup membawa mereka hanya dengan tali penjerat, sehingga mereka menyeret kereta. Itulah sebabnya paman bergegas menjauhi tempat itu.
『Guamyucho (Kisah Peninggalan Guam)』
●◉◎◈◎◉●
Tempat tidur itu terasa terlalu empuk hingga aku tak sanggup membuka mata. Bantal dan selimut seolah berubah menjadi rawa yang menyedot seluruh tubuhku. Aku tahu harus segera bangun, tapi anggota tubuhku tak bisa digerakkan sedikit pun.
Tapi, kenapa aku harus buru-buru bangun?
Saat alasan itu terlintas di kepala, segalanya sudah terlambat. Seseorang mencengkeram pergelangan kakinya dengan kuat. Tulang jemari yang keras itu terasa seperti tang baja yang menusuk kulit.
「Ini semua gara-gara kamu.」
Sebuah bisikan terdengar. Itu bukan suara manusia, bukan pula binatang. Suaranya menyerupai dengungan ribuan serangga yang memuakkan.
「Kenapa hanya kamu yang selamat? Kamu tahu kan? Itu semua karenamu. 'Sesuatu' itu memang datang mencarimu. Kamu tahu itu, tapi kamu memilih sembunyi. Kamu menonton mereka semua mati. Mata ini adalah bayaran yang kamu terima atas nyawa mereka.」
Bukan.
Yu-dan menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Itu bohong. Dia tidak tahu apa-apa saat itu. Dia hanya bersembunyi demi bertahan hidup. Saat kejadian mengerikan itu berlangsung, ibunya menutup matanya. Ketika dia tersadar, sudah tidak ada lagi yang bernapas.
Namun, setiap kali mendengar bisikan iblis ini, ingatannya seolah mengkhianatinya, membuat kata-kata makhluk itu terasa seperti kebenaran yang pahit.
「Mata seperti ini tidak pantas untukmu.」
Hembusan napas panas terasa menggelitik wajahnya. Jangan buka mata. Jangan pernah buka mata. Namun Yu-dan tahu pada akhirnya dia akan kalah. Dia tahu dia akan dipaksa untuk melihat. Karena makhluk itu….
「Jangan pura-pura tidur!」
Makhluk itu meraung sambil memaksa kelopak matanya terbuka. Wajah yang membusuk hancur berada tepat di depan matanya. Segumpal daging yang nyaris lepas dari tulang pipinya jatuh begitu saja, meninggalkan cairan dingin menyerupai jeli yang mengalir di pipi Yu-dan.
「Kamu juga tahu kan? Mata ini tidak cocok untukmu. Jadi, berikan padaku…….」
Jari-jari biru pucat muncul di depan matanya. Kuku-kukunya tajam, dilumuri gumpalan darah yang sudah menghitam. Sangat mengerikan. Yu-dan meronta sekuat tenaga.
Tolong, aku mohon, biarkan aku sendiri. Seandainya saja aku bisa hidup tanpa melihat hal-hal seperti ini.
Kuku tajam itu mulai menusuk pupil mata kirinya.
"Uwaaa! Jangan!"
Yu-dan melompat bangun dengan teriakan histeris. Jantungnya berdegup kencang seolah mau melompat keluar. Sudah lama sekali ia tidak memimpikan kejadian itu.
Itu adalah kejadian nyata. Setelah kecelakaan tragis itu, ketika matanya mulai bisa melihat hal-hal aneh, berbagai monster mendatanginya setiap malam. Makhluk tadi adalah salah satunya.
Kepalanya berdenyut seperti mau pecah. Lalu, apa yang terjadi setelahnya? Dulu dia begitu tidak berdaya di depan monster-monster yang ingin mencelakainya. Tapi bagaimana akhirnya?
Anehnya, dia sama sekali tidak ingat bagian itu. Dia hanya ingat bahwa pada suatu titik, langkah kaki mereka berhenti mendatanginya. Mungkin karena saking seringnya diganggu, dia jadi gampang marah dan sering menghajar makhluk serupa yang ia temui….
Pandangannya yang tadinya kabur mulai menjernih. Ia melihat dinding kamar berwarna krem lembut yang terpapar sinar matahari pagi. Bagaimanapun, mimpi hanyalah mimpi.
Yu-dan bangkit berdiri. Ia merenggangkan tubuhnya sambil berjalan, namun tiba-tiba langkahnya terhenti. Ada yang aneh. Ini jelas rumahnya, tapi terasa asing. Ia memperhatikan sekeliling, dari satu sudut ke sudut lain.
Sama sekali tidak ada noda. Tidak ada sesuatu yang menggeliat. Sudut-sudut ruangan pun kosong melongpong. Ia terpaku sejenak karena kagum. Ternyata rumahnya sebersih ini? Selama ini, tanpa sadar dia sudah terbiasa melihat noda-noda atau debu gaib yang tidak bisa dilihat orang lain.
Ia membuka pintu dan menuju ruang tamu. Ruang tamu pun bersih. Lantai yang tanpa debu sedikit pun itu berkilauan tertimpa cahaya matahari. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menikmati sarapan dengan tenang tanpa ada makhluk yang mencoba mengganggunya di meja makan.
Begini rasanya hidup seperti manusia normal.
Setelah mencuci muka dan mengenakan seragam, ia melangkah keluar. Apakah dunia memang sebersih ini? Rasanya seperti baru saja keluar dari sarang kuman dan masuk ke dalam ruang sterilisasi. Tidak ada lagi hawa gelap yang menggeliat dari pejalan kaki, tidak ada wajah bersimbah darah yang tiba-tiba menempel di kaca bus, juga tidak ada makhluk yang berbaring di samping pemabuk di pinggir jalan sambil melambai ramah padanya.
Namun, kenikmatan itu hanya bertahan sesaat. Perasaan janggal mulai merayap. Apa memang benar-benar sudah tidak ada? Ataukah….
Dengan perasaan aneh, ia memasuki gerbang sekolah. Sekolah pun sama. Bersih hingga terasa berkilauan. Itu mustahil. Ini sekolah tua, pasti ada beberapa 'penghuni lama' di sini, tidak mungkin mereka lenyap dalam semalam.
Berarti… mataku yang sudah tidak bisa melihat mereka.
Yu-dan masuk ke toilet. Ia menempelkan wajahnya ke cermin dan menatap mata kirinya. Semuanya normal. Bahkan setelah ia menyibak kelopak matanya, tetap saja tidak ada yang aneh. Pupil dan bagian putih matanya bersih sempurna.
"Apa sudah rusak?"
Ia bergumam tanpa sadar, lalu tersentak. Rusak? Kenapa aku berpikir begitu? Harusnya ini normal. Hantu atau siluman memang seharusnya tidak terlihat oleh mata manusia. Mata yang rusak saat usia tujuh tahun itu kini telah kembali normal.
Tapi, apa benar……?
Ia sulit mempercayainya. Keberuntungan macam apa yang datang tiba-tiba begini? Hidupnya tidak pernah semudah ini. Pasti nanti akan ada kejutan buruk yang menantinya.
Ia kembali ke koridor. Kebersihan ini terasa sangat asing baginya. Rasanya seperti baru saja melepas filter kotor yang selama ini terpasang di matanya. Inilah dunia yang dilihat orang normal. Sekarang dia melihat dunia dengan mata yang sama persis seperti orang kebanyakan.
Ia terlalu tenggelam dalam pikirannya hingga tidak menyadari waktu berlalu. Ia tersentak saat teman-teman sekelasnya mulai gaduh membereskan tas. Mereka semua bersiap pulang.
Kenapa? Ah, benar juga, hari ini hanya ada kelas pagi karena para guru ada acara. Kemarin dia sangat menantikan hari ini, tapi karena urusan matanya, dia sampai lupa.
Yu-dan mengemasi tasnya dan keluar. Dunia masih terasa seperti ruang steril. Tidak ada yang mengganggu pandangannya. Masih bersih? Lama-lama ini membuatku gelisah.
Tiba-tiba, sebuah kotak kaca transparan menarik perhatiannya. Di dalamnya penuh dengan boneka berbentuk cacing. Semuanya bertumpuk asal-asalan dan menatap ke arahnya. Entah mengapa, ekspresi boneka-boneka itu terasa seperti sedang mengejeknya.
Nah, ini dia. Tempat yang sangat cocok bagi para siluman untuk bersembunyi. Pasti nanti ada satu yang bergerak, atau ekspresinya berubah. Pasti. Dia sudah sering dikerjai seperti ini.
Ia berdiri diam dan menatap kotak itu cukup lama. Namun boneka-boneka itu tidak bergeming sedikit pun. Karena terlalu lama menatap, ia terkejut saat merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. Dua siswi SMP berdiri ragu membawa koin.
"Ah, maaf." Yu-dan memberi jalan.
Penjepit mesin itu bergerak perlahan, mencengkeram tubuh boneka dan mengangkatnya. Satu. Lalu satu lagi. Mereka cukup mahir. Dalam sekejap mereka mendapatkan banyak boneka. Salah satu siswi itu menyodorkan sebuah boneka kepada Yu-dan yang masih menonton.
"Eh?" Yu-dan menerimanya dengan bingung. "Kenapa diberikan padaku?"
"Semangat ya, Kak." Kedua siswi itu terkekeh dan berjalan pergi.
Apa mereka pikir aku menatap kotak itu dengan penuh keinginan karena tidak bisa mendapatkannya? Apa aku terlihat semenyedihkan itu sampai diberi sedekah boneka?
Yu-dan menatap boneka cacing di tangannya dengan perasaan konyol. Ekspresi si cacing tetap terasa menyebalkan. Mengejek? Menghina? Tunggu dulu… dia merasa pernah melihat ekspresi seperti ini di suatu tempat.
Ah, benar. Sebuah kesadaran muncul.
Apa yang sedang aku lakukan? Bodoh sekali. Dia tinggal datang ke 'sana' dan bertanya apa yang terjadi dengan matanya.
Perpisahan aneh dengan si kembar kemarin juga masih mengganjal di hatinya. Sesaat sebelum menghilang, wujud mereka tampak aneh. Apa mereka kena gangguan? Atau ada yang menjahili mereka?
Yu-dan segera menuju halte bus. Sesampainya di Jalan Tradisional, situasinya tetap sama. Karena tempat itu penuh barang antik, biasanya banyak hantu kecil bersembunyi di sana, tapi hari ini tidak terlihat satu pun. Hanya ada manusia dan benda mati. Kosong…
Barusan aku berpikir tempat ini 'kosong'? Tidak mungkin.
Ia menggelengkan kepala dan terus berjalan, lalu mendadak berhenti dengan ragu. Aneh. Bukankah harusnya di sekitar sini?
Langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah toko kue beras. Di sebelah kirinya ada toko hanbok tradisional, di kanannya toko mi. Sejauh matanya memandang, Banwoldang tidak terlihat.
Apa aku salah masuk gang? Ia menoleh ke arah pintu masuk jalan. Tidak, ini benar Jalan Hoehwa. Tapi kenapa tokonya tidak ada?
Saat benar-benar ingin mencarinya, ingatannya terasa kabur. Bangunan keberapa dari pintu masuk? Toko apa yang mengapitnya? Bagaimana pemandangan di sekitarnya?
Dia sama sekali tidak ingat. Sejak awal, dia memang tidak merasa perlu mengingatnya. Karena setiap kali dia berjalan asal, toko itu selalu muncul di depannya. Tanpa sadar ia mulai menggigit bibirnya dengan cemas.
Apa aku panik? Kenapa harus panik? Toko sebesar itu tidak mungkin lenyap ditelan bumi.
Yu-dan kembali ke toko pertama di gang itu. Ia memeriksa satu per satu dengan teliti. Ia mencoba tetap tenang, namun rasa panik mulai menguasainya. Dengan perasaan was-was, ia memeriksa hingga toko terakhir.
Tetap saja, Banwoldang tidak ada.
"Mana mungkin…." Kepalanya terasa pening.
Saat ia berdiri linglung, terdengar suara tak-tak. Ia menoleh dan melihat seorang ibu pemilik toko sebelah sedang membersihkan debu dari keramiknya.
Ia mendekat dan bertanya, "Permisi, apa Anda tahu di mana toko Banwoldang?"
"Eh? Toko apa?"
"Banwoldang!"
"Toko apa itu?"
"Itu toko yang menjual teh dan barang-barang antik."
"Tidak ada toko seperti itu di sini."
"Ada! Jelas-jelas ada di sini!"
"Sudah kubilang tidak ada. Aku sudah dagang di sini dua puluh tahun, masa aku tidak tahu? Mungkin maksudmu Hyangwol-jeong?" Ibu itu menunjuk sebuah kedai teh di kejauhan.
Bagaimana mungkin bisa begini? Seluruh situasi ini terasa sangat janggal. Ia merasa seolah terpisah dari lapisan realitas dan terombang-ambing sendirian.
Ia merogoh ponselnya dan menekan nama Mi-a. Tidak diangkat. Berkali-kali ia mencoba menelepon, namun tetap tidak ada jawaban. Rasanya seperti nomornya telah diblokir.
Hantu tidak terlihat, toko juga tidak bisa ditemukan. Ia terpaku diam dengan ponsel di genggamannya.
……Sudah berakhir. Pemikiran itu tiba-tiba melintas.
Selamat. Kemalanganmu sudah selesai. Saat matamu kembali normal, hidupmu pun kembali normal. Sekarang kamu bebas melihat ke mana saja. Kamu tidak perlu takut lagi ada sosok mengerikan yang menyelinap di pemandangan yang kamu lihat. Tidak akan ada lagi siluman yang menjahilimu. Tidak ada yang akan mengikutimu hanya karena tidak sengaja bertatapan mata. Tidak ada yang akan menyentuhmu karena penasaran.
Sekarang, aku bebas.
Ia mencoba mengucapkannya keras-keras. "Aku bebas."
Barulah itu terasa nyata. Betapa membahagiakan! Yu-dan melompat berdiri. Keinginannya terkabul, dia harus merayakannya. Bagaimana caranya? Pokoknya rayakan saja, karena dia merasa senang.
Langkah kakinya yang penuh semangat perlahan-lahan melambat hingga akhirnya berhenti total. Pejalan kaki yang sibuk berlalu-lalang menatapnya dengan heran seolah bertanya "Ada apa dengan orang ini?" dan menghindarinya.
Berdiri sendirian di tengah keramaian jalan, ia menyadari satu hal. Sama sekali tidak ada rasa senang.
Kenapa? Apa karena aku terlalu lambat meresponnya? Ia mencoba menunggu perasaan itu muncul, namun tetap saja, ia tidak merasa bahagia sedikit pun.
……Kenapa begini? Yu-dan jatuh dalam kebingungan yang mendalam.
Ia berjalan lesu melewati terowongan penyeberangan yang gelap. Sebuah kertas yang tertempel di dinding terowongan menarik perhatiannya. Itu adalah selebaran kucing hilang, seekor kucing Persia dengan warna mata yang berbeda.
Kucing hilang, huh…. Kalau diingat-ingat, beberapa waktu lalu ia baru saja membantu menemukan anak yang hilang. Mengingat hal itu membuatnya merasa aneh. Benarkah? Benarkah aku melakukan itu? Rasanya sulit dipercaya. Yu-dan berdiri lama menatap selebaran itu sebelum melanjutkan langkahnya.
Di depannya terbentang aliran sungai Han. Karena cuaca cerah, banyak orang berkumpul di taman rumput. Di antaranya, ia melihat seorang pria yang duduk linglung membawa botol soju. Jelas sekali pria itu baru saja patah hati.
Kenapa orang-orang selalu ke sungai Han saat sedang sesak pikiran? Ia sempat ingin melakukan observasi serius, namun ia batalkan. Dia tidak sedang dalam suasana hati yang tepat untuk itu.
Yu-dan duduk di bangku taman dan menatap langit. Sungguh aneh. Padahal matanya sudah normal kembali seperti yang ia dambakan selama ini, tapi bukannya senang, ia justru merasa tidak tenang. Tidak pernah ia duga akan merasa seperti ini.
Lucu sekali. Padahal dulu aku sangat membencinya, jangan-jangan sebenarnya aku menyukainya?
Bukan. Yu-dan menggelengkan kepalanya.
Dia ingin menjadi orang normal. Seperti orang-orang di taman ini. Yang berlari, berjalan, bersepeda, menerbangkan layang-layang, atau bermain bulu tangkis. Dia ingin menjalani keseharian seperti itu tanpa ada kekhawatiran hantu sedikit pun.
Dan sekarang ia bisa mewujudkannya. Yu-dan mengepalkan tangannya.
Pertama, dia harus belajar dengan giat. Tidak akan ada lagi yang mengganggunya saat membuka buku. Dia akan membuktikannya. Dia akan masuk universitas, bekerja di perusahaan bagus. Lalu suatu saat nanti ia akan menikah dan punya anak. Mungkin anaknya nanti akan bandel sepertinya, tapi saat cuaca cerah seperti ini, dia akan mengajaknya ke sungai Han. Dan dia akan bercerita, "Mungkin kamu tidak percaya, tapi dulu saat seusiamu, ayah bisa melihat hantu…."
Tidak. Bukan begitu. Yu-dan kembali menggeleng. Itu tidak akan terjadi. Tidak mungkin dia akan mengingatnya sampai saat itu.
Bukankah siluman rubah pernah bilang? Bagaimana insting manusia akan menghapus ingatan-ingatan semacam itu. Meskipun sekarang terasa sangat nyata, sebentar lagi semuanya akan terlupakan sepenuhnya.
. . .........
Glosarium Istilah:
- Iin (이인): Sebutan untuk orang yang memiliki kemampuan atau perilaku yang luar biasa dan di luar batas kewajaran manusia biasa (orang sakti/unik).
- Hwangcheon (황천): Dunia bawah atau alam kematian dalam kepercayaan tradisional Asia Timur.
- Sahwa (사화): Tragedi atau bencana besar; dalam teks ini merujuk pada pembantaian keluarga bangsawan.
