Sudah berapa lama waktu berlalu? Apa aku sudah terlambat?
Apakah aku benar-benar berhasil? Jangan-jangan ada yang salah di tengah jalan tadi? Bagaimana jika kotak itu hancur bersama Gokdugi, lalu aku tertinggal sendirian di rumah tua yang mencekam ini dan segalanya berakhir begitu saja?
"Ada orang di sana?" seru Yu-dan cemas.
"Ada," sebuah jawaban tenang terdengar.
Bagian dalam ruangan itu mendadak terang benderang. Sesosok tubuh mungil melangkah keluar dari sana. Yu-dan menarik napas panjang.
Topi baret bundar. Atasan warna kuning anak ayam dengan gaun terusan motif kotak-kotak. Persis anak yang ada di foto itu. Wajahnya tampak damai, dan dadanya bergerak naik-turun dengan napas yang teratur.
"Aku sudah menemukannya."
Baek-ran melangkah keluar menyusul di belakang anak itu. "Dia sudah terkurung di dalam kotak terlalu lama. Sebaiknya jangan dibangunkan paksa, biarkan dia membuka matanya sendiri nanti. Setelah itu kita periksa kondisinya baru kita pulangkan. Sepertinya tidak ada luka yang serius."
Sambil berkata demikian, Baek-ran menjulurkan tangannya ke udara dan menarik kembali tombak emasnya.
Yu-dan menghela napas lega. Kakinya terasa lemas dan kepalanya berdenyut pening. Baru sekarang ia menyadari betapa tegang sarafnya sejak tadi. Matanya kembali berdenyut perih, ia menyambar kain penutup matanya dan melemparnya ke lantai.
Siluman rubah itu memperhatikan Yu-dan dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Berantakan sekali."
"Aku tahu."
"Kenapa tadi kamu menutup matamu?"
"Gokdugi benci mataku." Yu-dan jatuh terduduk di lantai yang berdebu.
"Dia sedang bermain petak umpet dengan bonekanya saat perampok masuk dan membunuh orang tuanya. Anak yang bersembunyi di dalam lemari itu akhirnya mati juga, tapi permainannya tidak pernah berakhir. Karena ia harus terus bermain tapi tak bisa menemukan bonekanya, jadi dia terus membawa anak-anak lain dari luar untuk ikut bermain…. Yah, kamu kan masuk ke dalam kotak itu, pasti kamu sudah tahu semuanya."
Baek-ran mengangguk pelan. "Jadi kamu menemukan bonekanya."
"Ya. Dan aku mengakhiri permainannya dengan sempurna." Yu-dan menatap siluman rubah yang berdiri tegak itu.
"Tadi kamu bilang tidak tahu kapan sebuah permainan berakhir, kan? Sejujurnya aku juga sempat bingung, tapi sekarang aku tahu pasti. Saat kita sudah puas bermain lalu berkata, 'Tadi seru sekali. Ayo besok main lagi.' Tepat di momen itulah permainan benar-benar berakhir."
"Aku tidak terlalu paham. Rasanya tidak ada logika di dalamnya."
"Tentu saja. Karena itu adalah logika hati anak-anak."
"Hati anak-anak ya. Pantas saja tidak logis. Pantas saja aku sulit memahaminya."
"Makanya aku bilang aku harus ikut," sahut Yu-dan.
Baek-ran menatap Yu-dan lekat-lekat. "Apa kamu merasa senang sekarang?"
"Ya... Tidak buruk lah."
"Padahal kamu diseret ke sana kemari oleh makhluk terkutuk, matamu perih karena memakai penutup mata bekas siluman, meski hanya ilusi tapi tubuhmu sempat tertikam pisau, dan isi kepalamu jadi kacau karena ingatan anak yang sudah mati itu?"
"Setelah kamu rangkum secara detail begitu, perasaanku jadi buruk lagi," gerutu Yu-dan. Ia menatap anak kecil yang masih terlelap. "Tapi setidaknya aku lega tidak harus melihat segalanya hancur sebagai konsekuensi dari pilihanku."
Keheningan melanda sesaat. Yu-dan tiba-tiba teringat perkataan si kembar yang wajahnya pucat ketakutan tadi. Ia kembali menatap Baek-ran.
"Jadi kali ini kamu tidak perlu memakai belati itu."
"Ah, ini maksudmu?" Baek-ran mengeluarkan belati emas dari balik jubahnya. Meski terlihat mewah dan indah, belati itu memancarkan aura yang mengerikan. Mungkin karena Yu-dan sudah mendengar cerita si kembar sebelumnya.
Dengan sedikit ragu, Yu-dan bertanya, "Waktu itu... apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu sampai berdarah?"
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
"Kamu... memotong-motong tubuhmu sendiri dengan belati itu?" tanya Yu-dan memastikan.
"Iya," jawab Baek-ran singkat sambil menatap belati di tangannya. "Tubuh ini tidak bisa dipotong kecuali dengan belati yang digunakan untuk upacara ritual."
"Kenapa kamu melakukannya? Si kembar maupun si Kodok hanya bilang tubuhmu terpotong-potong di mana-mana, tapi mereka tidak mau cerita lebih lanjut."
"Ceritanya agak rumit." Siluman rubah terdiam sejenak. "Menurutmu, bagaimana aku bisa tahu kalau kotak itu tidak boleh dibuka paksa?"
Yu-dan terdiam. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Benar juga, bagaimana Baek-ran bisa tahu? Jawabannya jelas: karena dia pernah membukanya.
"Pengetahuan lahir dari pengalaman. Saat pertama kali aku menemukan kotak itu dulu, aku tidak tahu apa-apa dan langsung membukanya. Hal yang kutemukan di dalamnya hanyalah 'sebagian' dari sang anak. Sama persis dengan legenda lama, saat orang tua memohon pada langit dan kotak dibuka paksa, hanya seikat rambut anak yang dibawa Gokdugi itulah yang jatuh."
Baek-ran menunduk, memutar kembali memori lama di kepalanya.
"Karena itulah, pada percobaan berikutnya, aku melakukan persiapan matang. Aku menciptakan sesosok makhluk dari tulang, daging, dan darahku sendiri. Sesosok Gokdugi yang lain. Saat seorang Gokdugi menjadikan Gokdugi lain sebagai teman bermain, saat sebuah kotak tercipta di dalam kotak lain untuk saling mengurung satu sama lain, di tengah kekacauan itulah aku berhasil mengeluarkan sang anak."
Ia memberikan senyuman misterius ke arah Yu-dan. "Tindakan seperti itu sebenarnya adalah sebuah kejahatan yang nyata."
"Sepertinya memang begitu."
"Makanya aku menyimpannya sebagai langkah terakhir. Syukurlah kali ini aku membawa seorang 'ahli', jadi aku tidak perlu menggunakan cara itu." Baek-ran menyimpan kembali belatinya.
Yu-dan menatap siluman itu lekat-lekat. "Apa kamu memang harus berbuat sejauh itu? Sampai harus mengiris tubuhmu sendiri hanya demi menyelamatkan anak manusia yang tidak kamu kenal?"
"Lalu, apa alasan orang lain sampai mau mengiris tubuh mereka sendiri?"
"Tidak ada orang yang melakukan hal gila seperti itu!" Yu-dan merasa gemas. Apa siluman ini benar-benar tidak tahu atau hanya pura-pura bodoh?
"Aku juga tidak peduli bagaimana orang lain hidup. Tapi karena yang lain tidak berani bicara, biar aku yang mengatakannya padamu. Gara-gara kejadian waktu itu, mereka semua ketakutan. Mereka mengalami trauma. Jika diperhatikan— tidak, sejak awal kamu memang selalu bertindak nekat. Tidakkah kamu merasa ini aneh? Kenapa kamu begitu keras kepala harus menyelesaikannya sampai akhir? Padahal kalau berhasil pun kamu tidak dapat apa-apa, dan kalau gagal kamu yang menanggung semua bebannya."
"Kenapa kamu berpikir aku tidak mendapatkan apa-apa?"
"Kan kamu tidak minta imbalan apa pun. Bahkan setelah semua selesai, ingatan mereka tentangmu juga akan terhapus."
"Kenapa kamu berasumsi aku tidak menerima bayaran? Bukankah sejak awal aku sudah bilang, bahwa aku melakukan ini untuk diriku sendiri?" jawab Baek-ran.
"Tidak ada makhluk yang bergerak tanpa imbalan. Sekalipun itu terlihat seperti pengorbanan diri yang berlebihan, setidaknya harus ada kepuasan batin karena telah berkorban agar seseorang bisa bergerak."
"Tapi kamu kan tidak punya perasaan semacam itu."
"Aku punya hal lain."
"Apa itu?" Yu-dan mengejar. Namun tak ada jawaban. Ia bertanya lagi, "Di ruang kerja dan gudangmu sudah ada segalanya. Harta karun yang bahkan belum pernah kudengar namanya pun kamu punya banyak. Apa masih ada hal lain yang kamu inginkan?"
"Karena hal itu tidak bisa ditukar dengan harta karun apa pun di dunia ini. Hal yang secara naluriah diinginkan oleh setiap makhluk. Tanpa hal itu, seseorang sama saja seperti sudah mati, namun kenyataannya sangat sedikit yang berhasil mendapatkannya. Tidak ada yang bisa mendapatkannya untukmu, kamu harus mencarinya sendiri. Meski mungkin kamu tidak akan mendapatkannya walau sudah berusaha seumur hidup, namun jika berhasil menggenggamnya, itu adalah berkah tertinggi yang bisa dimiliki."
"Jadi, benda apa itu sebenarnya?"
Siluman rubah hanya menatap Yu-dan dalam diam. Yu-dan merasa ini adalah waktu untuk mengganti topik, dan benar saja, Baek-ran yang melakukannya lebih dulu.
"Ngomong-ngomong, bagaimana caramu mengintip ingatan Gokdugi tadi?"
"…Eh?"
"Melihat dia menyuruhmu menutup mata, sepertinya dia tidak suka ingatannya diintip. Lalu bagaimana kamu melakukannya?"
Yu-dan tersentak. "Ah, itu…. Aku tahu itu berbahaya, tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku benar-benar tidak tahu apa yang dia inginkan…. Tapi, kenapa memegang tangan mereka itu berbahaya?"
"Karena kita tidak tahu apa yang akan merasuki jiwamu saat hubungan itu terjalin. Tidak masalah jika mereka sendiri yang ingin memperlihatkan sesuatu. Tapi jika kita mengintip secara paksa dari sisi kita, itu sangatlah berbahaya."
Tepat saat itu, si anak kecil mulai menggeliat.
Syukurlah. Yu-dan merasa lega, bukan hanya karena anak itu bangun, tapi juga karena ia bisa menghindari tatapan tajam siluman rubah itu. Baek-ran berhenti mendesaknya dan segera menghampiri sang anak.
Anak itu tampak linglung seperti baru bangun dari tidur panjang. Ia sepertinya belum menyadari sedang berada di mana.
"Sepertinya dia baik-baik saja. Aku harus segera mengantarnya pulang." Baek-ran memasukkan sebutir pil kecil ke mulut anak itu, lalu memanggil sebuah siluman. Kali ini yang muncul adalah Omiho (Rubah Ekor Lima) berbulu putih bersih.
Melihat ekor-ekor yang lembut dan bergoyang itu membuat pandangan Yu-dan kembali kabur. Rasa lelah yang luar biasa menyerangnya. Ia sudah tidak sanggup bertahan lagi, matanya mulai terpejam.
"Tolong bawa aku juga……."
"Jangan khawatir."
Sambil menatap Baek-ran yang menaikkan sang anak ke punggung Omiho, Yu-dan membatin: Rubah licik. Rubah yang sangat licik, yang selalu berhasil mencapai tujuannya dengan cara apa pun. Bahkan tanpa mau memberitahu apa alasannya melakukan semua ini……
Kelopak matanya benar-benar tertutup sekarang.
Sebenarnya ada satu hal yang mengganjal di hatinya. Tentang teman-teman bermain Gokdugi yang lain. Anak-anak yang menghilang sebelum gadis ini…. Apa yang terjadi dengan mereka di dalam 'kotak'? Apakah Baek-ran sempat melihat mereka?
Namun, itu adalah pertanyaan yang Yu-dan pilih untuk tidak ditanyakan. Setidaknya ia harus merasa cukup karena berhasil merebut kembali satu nyawa dari kegelapan itu.
Kini bayang rembulan telah menghilang. Selamat tinggal bagi anak-anak yang telah pergi. Dan bagi anak yang harus kembali, pulanglah ke rumah. Seseorang membisikkan nyanyian itu tepat di telinganya.
Pikirannya menjadi gelap. Sambil berharap matanya yang perih akan sembuh saat ia bangun nanti, Yu-dan pun kehilangan kesadarannya.
Hanya dalam beberapa hari, bunga-bunga sakura sudah banyak yang berguguran. Sebagai gantinya, dedaunan hijau muda yang segar mulai memenuhi dahan pohon.
Yu-dan menengadah menatap atap apartemen. Siswa laki-laki yang biasanya berdiri membelakangi langit malam itu kini tidak pernah muncul lagi. Sambil menatap ruang kosong di atas sana, ia teringat kata-kata Baek-ran.
Sesuatu yang tidak bisa ditukar dengan harta apa pun. Sesuatu yang diinginkan semua makhluk. Tanpa hal itu, seseorang sama saja seperti sudah mati, namun sangat jarang yang bisa mendapatkannya. Sesuatu yang harus dicari sendiri dan merupakan berkah tertinggi jika berhasil menggenggamnya.
Sebenarnya apa itu?
Seberapa keras pun ia memikirkannya, ia tetap tidak paham. Apa benar ada hal semacam itu? Apa dia cuma asal bicara karena tidak mau menjawab? Si rubah kan memang tipe yang suka begitu.
Setelah merenung sejenak, Yu-dan pun berbalik. Saat ia sedang menuntun sepedanya, sebuah suara memanggil dari belakang.
"Yu-dan?"
……Lagi-lagi mereka.
Saat ia menoleh, si kembar sudah berdiri di sana. Mereka tersenyum lebar saat mata mereka bertemu.
"Hari ini mengajak sepedanya jalan-jalan lagi?"
"Iya. Kalian sedang apa?"
"Kami juga sedang mengajak 'seseorang' jalan-jalan." ChaeWoo menarik tali kulit yang dipegangnya, dan seketika mata Yu-dan membelalak.
"Itu Husky, kan?"
Si kembar sedang membawa seekor Siberian Husky yang sangat gagah. Bahunya lebar dan matanya berwarna biru jernih seperti es. Saat kepalanya dielus, anjing itu langsung duduk manis sambil mengibaskan ekornya. Sepertinya ia sudah sangat terlatih. Yu-dan tidak bisa menyembunyikan rasa irinya.
"Aku juga ingin pelihara anjing seperti ini. Dapat dari mana?"
Mendengar itu, si kembar terkekeh. "Kamu tahu siapa namanya? Namanya Bolt."
"Bolt? Tunggu sebentar. Jangan-jangan… siluman yang waktu itu?"
"Iya. Thunderbolt. Berkat kamu, buktinya sudah jelas bahwa dia difitnah, jadi hukuman langitnya dicabut secara otomatis. Sebagai perayaan, dia berubah wujud jadi begini dan minta jalan-jalan."
"Tadi dia sedang jalan tenang, tapi tiba-tiba lari kencang. Saat kami ikuti, ternyata ada Yu-dan di sini. Dia tahu siapa yang sudah menyelamatkannya. Sepertinya dia sangat menyukai Yu-dan."
Benar saja, anjing itu mengibaskan ekornya dengan kuat sambil menatap Yu-dan. Begitu mata mereka bertemu, ia mendekat dan menggosokkan kepalanya ke kaki Yu-dan.
"Tapi asal tahu saja, dia ini betina lho."
"Hah? Di luar dugaan."
"Wah, dia menjilati tanganmu juga. Dia benar-benar suka padamu. Ini tidak biasa."
"Apa maksudnya?"
Alih-alih menjawab, si kembar kembali terkekeh jahil.
"Nah, ayo kita jalan? Di sini terlalu gelap. Seperti yang kubilang kemarin, siapa tahu ada yang mengincar matamu yang berharga itu…. Oh ya, bagaimana kondisi matamu?"
"Sudah tidak apa-apa kok."
"Syukurlah kalau begitu."
Bersama si kembar, Yu-dan melangkah keluar dari kompleks apartemen menuju jalur setapak yang dikelilingi pagar. Si anjing berjalan di depan memandu mereka.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu tidak pelihara hewan saja satu? Karena di apartemen tidak boleh anjing, mungkin iguana atau hamster bisa jadi pilihan. Tidak berisik dan tidak rontok bulunya…."
"Malas ah, repot."
"Aku jadi ingat, dulu ada tamu yang datang ke toko kami dan ingin memelihara Jewoong (boneka jerami ritual) sebagai hewan peliharaan. Sepertinya dia sangat suka dengan boneka buatan Cheonho-nim."
"Seleranya unik sekali."
"Kalau Yu-dan, apa tertarik memelihara siluman ginseng? Aku ingin sekali mencoba tinggal di apartemen."
"Boleh saja, asal kamu mau tinggal di balkon."
Sambil asyik mengobrol, tiba-tiba langkah mereka terhenti bersamaan. Di samping halte bus, ada sebuah toko sepatu dengan televisi yang menyala. Sebuah teks berita di layar tertangkap oleh mata mereka:
'Anak Hilang Ditemukan Secara Ajaib.'
Yu-dan dan si kembar memusatkan pandangan ke televisi. Terlihat gambar kantor polisi setempat diiringi suara penyiar berita.
「……Ditemukan oleh petugas kepolisian yang sedang berpatroli dan telah kembali dengan selamat ke pelukan orang tuanya. Saat ditemukan, Nona Kim masih mengenakan pakaian yang sama saat ia dinyatakan hilang, dan kondisi kesehatannya dilaporkan stabil……」
Lampu lalu lintas berganti warna. Mereka bertiga menyeberangi zebra cross.
"Bagaimanapun juga, menemukan anak yang hilang itu memang perbuatan baik."
"Benar. Sangat bagus."
"Aku terpaksa mengakuinya," sahut Yu-dan pelan.
Si kembar berhenti sejenak dan menatap Yu-dan. "Terima kasih banyak. Karena sudah mengabulkan permintaan kami."
"Yah, seperti kata si Kodok, ini pilihanku sendiri."
"Kami sudah duga kamu bakal bilang begitu."
Kedua anak itu saling bertatapan sejenak, bertukar isyarat, lalu kembali menoleh ke arah Yu-dan.
"Meskipun kata-katamu sering ketus, kami tahu kamu sebenarnya orang yang sangat baik."
"Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri, ya?"
Kalimat itu terucap begitu saja dalam satu tarikan napas.
"Apa?" Yu-dan menatap si kembar dengan bingung. Bayangan kedua anak yang sedang menutup mata itu tiba-tiba tampak tumpang tindih dengan sebuah gambaran lain.
"Kalian… siapa sebenarnya kalian ini?"
Tepat saat Yu-dan mempertajam penglihatannya untuk melihat wujud asli mereka, mendadak mata kirinya memercikkan kilatan cahaya. Rasa sakit yang tajam seperti sengatan listrik merambat melalui pembuluh darah dan menusuk bola matanya. Secara refleks Yu-dan mendekap mata kirinya.
Saat ia membuka matanya kembali, si kembar maupun si anjing sudah tidak ada di sana.
Apa-apaan ini?
Rasa sakitnya luar biasa. Air matanya mengalir hingga ia terpaksa menutup matanya kembali. Baru setelah rasa sakitnya mereda, ia berani membuka mata.
"Kalian di mana? Ke mana perginya mereka? Hei! Chaewoo! Chae-seol!"
Yu-dan berteriak memanggil, namun tidak ada jawaban. Ia mencari ke sana kemari sambil menuntun sepedanya, namun seberapa jauh pun ia berjalan, sosok si kembar tidak juga terlihat. Mereka benar-benar lenyap begitu saja seperti asap.
"Apa yang terjadi? Sebenarnya ada apa?" gumam Yu-dan sendirian di tengah kegelapan malam.
Matanya masih terasa berdenyut perih. Seberapa keras pun ia memikirkannya, ia tidak bisa menemukan jawabannya. Rasanya seolah-olah ia baru saja terkena gangguan yang sangat kuat.
. .....,....
