Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 37>
Yu-dan menatap siluman rubah. Merasakan ditatap, Baek-ran menoleh sedikit ke arahnya.
"Ada apa?"
"Aku ingin menanyakan satu hal. Kalau aku terseret masuk ke dalam kotak itu, apa kamu akan menyelamatkanku?"
"Tidak."
Bagaimana bisa dia menjawab secepat itu tanpa berpikir dulu? Baru saja Yu-dan hendak menggerutu, ia menemukan sesuatu.
Di hadapannya, pada lembaran kayu lapis, terdapat beberapa lubang kecil. Salah satu lubang yang tingginya sejajar dengan mata Yu-dan yang tengah duduk meringkuk itu tampak pekat dan hitam.
Ia memusatkan pandangannya ke sana.
Di tengah kegelapan lubang itu, terlihat beberapa garis halus seperti urat darah merah yang menyebar. Itu adalah sebuah mata. Mata milik Gokdugi.
Seketika tubuh Yu-dan membeku kedinginan. Hawa sedingin es merayap naik dari bawah. Yu-dan menunduk dan melihat tangan busuk Gokdugi entah kapan sudah menyelinap masuk melewati celah kayu dan mencengkeram ujung pakaiannya.
"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Baek-ran yang matanya masih tertutup kain.
Yu-dan tak mampu menjawab. Otaknya berhenti berputar.
"Sepertinya roda gigi sudah rusak. Tapi mau bagaimanapun, seseorang harus tetap membuat pilihan."
Baek-ran mengulurkan tangan. Ia melepaskan jemari kecil yang mencengkeram ujung pakaian Yu-dan satu per satu. Kemudian, ia menarik tangan busuk itu dan memberikannya ujung pakaiannya sendiri untuk digenggam.
Yu-dan terperangah. "Apa yang kamu lakukan?"
Alih-alih menjawab Yu-dan, Baek-ran justru bertanya pada Gokdugi.
"Siluman rubah sepertiku... bukankah sejak tadi terus mengganggumu? Aku akan pergi agar tidak menghalangimu lagi."
Gokdugi menarik pakaian Baek-ran. Mereka berdua keluar bersama dari ruang sempit di bawah kayu lapis. Siluman rubah melepas kain penutup matanya, lalu sedikit mengernyitkan mata seolah kegelapan di luar sana terlalu menyilaukan baginya.
"Pergi? Kamu mau ke mana?"
"Masuk ke dalam kotak. Aku akan menyiapkan langkah terakhir di sana."
Hati Yu-dan mencelos. "Langkah terakhir?"
"Aku juga baru saja membuat pilihan. Dan aku sudah siap melihat segala sesuatunya hancur sebagai konsekuensi dari pilihan itu."
Baek-ran menyunggingkan senyum tipis. Ia melambaikan sebelah tangannya seakan sedang mengucapkan selamat tinggal, lalu berbalik. Sosok putihnya melebur ke dalam kegelapan.
"Tunggu dulu!"
Suara Yu-dan hanya bergema hampa di ruangan yang kosong itu. Ia berdiri mematung di tengah kegelapan, mencoba mencerna keadaan.
Kini hanya tersisa dia dan Gokdugi.
Harus bagaimana? Roda gigi yang sempat rusak itu perlahan mulai berputar kembali, namun Yu-dan benar-benar buntu. Bisakah ia mengeluarkan mereka? Si rubah dan anak kecil itu? Bagaimana sebenarnya cara mengakhiri permainan ini?
Gokdugi tidak mendesaknya. Makhluk itu hanya menatap Yu-dan dengan mata hitam penuh urat merahnya. Sepertinya ia juga ingin memasukkan Yu-dan ke dalam kotak, namun Yu-dan tidak bisa membiarkan itu terjadi.
Yu-dan memberanikan diri angkat bicara. "Permainan petak umpet ini... apa kamu tidak bosan?"
Tak ada reaksi.
"Ada apa?"
Alih-alih menjawab, makhluk itu mengangkat satu tangannya dan menunjuk ke arah mata kiri Yu-dan.
"Kenapa dengan mata ini? Kamu tidak suka?"
Kali ini Gokdugi menunjuk ke arah kain penutup mata yang tergeletak di lantai.
"Kamu menyuruhku menutup mata juga?"
Yu-dan merasa konyol. Sepertinya memilih permainan Eommok-hui adalah sebuah kesalahan besar sejak awal. Namun karena takut merusak suasana permainan, ia pun memungut kain itu dan mengikatnya erat menutupi mata kirinya.
Seketika, rasa sakit yang tajam menusuk matanya. Rasanya seperti bola matanya sedang dicungkil dengan bor.
Aku membuat pilihan yang salah lagi, batinnya di tengah rasa sakit.
Ia benar-benar tidak mengerti apa yang diinginkan makhluk ini. Ia teringat kata-kata Baek-ran: Jika komunikasi tidak berjalan lancar, mereka akan membawa kita ke dunia mereka. Dengan cara memegang tangan, seperti yang dilakukan hantu wanita itu.
Kalau begitu, aku juga bisa melakukannya.
Dulu saat Yu-dan ingin memegang tangan para Agwi, Baek-ran melarangnya karena berbahaya. Tapi apakah ada situasi yang lebih berbahaya daripada saat ini?
Yu-dan memantapkan hati. Ia mencengkeram tangan Gokdugi yang hitam dan membusuk itu.
Makhluk itu tampak terkejut. Dia mencoba melepaskan tangannya, namun Yu-dan tidak membiarkannya lepas.
"Ayo pergi. Ke duniamu."
Seketika kegelapan mulai berputar. Televisi yang hancur itu kembali menyala, dan suara nyanyian pun terdengar.
「Saat lonceng berdentang sekali, para penjaga berpencar...
Hingga bayang rembulan menghilang, mereka takkan kembali dari halaman…….」
Bersamaan dengan lagu petak umpet itu, Yu-dan merasakan sensasi seolah dirinya ditarik paksa ke suatu tempat hingga kepalanya pening. Saat rasa pusing itu hilang, ia membuka matanya.
Tempat itu bukan lagi rumah tua yang terbengkalai.
Ia berada di sebuah ruang tamu dengan lantai kayu yang mengkilap dan lampu gantung kristal yang berkilauan. Di dinding, tergantung foto keluarga yang terdiri dari pasangan muda dan seorang anak perempuan. Yu-dan melihat sekeliling dengan bingung, ada piano, sofa, dan berbagai perabotan rumah tangga lainnya.
Yu-dan menunduk. Seorang anak berdiri di sana.
Itu bukan Gokdugi. Meski gaya rambut dan pakaiannya sama, anak ini adalah manusia yang masih hidup. Setidaknya, dia terlihat seperti manusia hidup. Anak itu menggelengkan kepala dan melambaikan kedua tangannya, seolah ingin berkata, "Bukan. Bukan. Bukan ini."
"Ada apa?"
Tepat saat itu, jam dinding berdentang. Anak itu tersentak kaget lalu berbalik dan berlari kencang. Ujung roknya berkibar-kibar mengikuti gerakannya.
"Tunggu!"
Suara langkah kaki bergema di dalam rumah yang sunyi itu. Yu-dan mencoba mengejarnya, namun anak itu seperti mustahil untuk ditangkap. Setiap kali ia mengikuti ujung rok yang menghilang di balik sudut dinding, ia tidak menemukan apa-apa di sana. Saat ia mengira anak itu sembunyi di tempat lain, tiba-tiba sosoknya muncul dari balik pintu atau bawah kursi dan kembali melarikan diri.
Lagi-lagi, permainan petak umpet dimulai.
Namun dari wajah yang terlihat sekilas, anak itu sama sekali tidak tampak senang. Dia seakan dipaksa melakukan permainan ini.
Kenapa?
Saat sedang melamun, sosok anak itu menghilang sepenuhnya. Yu-dan mencari ke sana kemari. Setelah memastikan anak itu tidak terlihat, ia sedikit mengangkat kain penutup mata kirinya. Sebuah lemari pakaian besar di kamar kecil langsung tertangkap oleh penglihatannya.
Di sana.
Ia berlari dan menarik gagang pintu lemari. Namun lemari itu tidak mau terbuka, hanya terdengar suara dug. Memangnya lemari bisa dikunci dari dalam? Yu-dan mengintip melalui celah pintu.
Ia tersentak ngeri.
Anak perempuan itu sedang meringkuk bersembunyi di dalam lemari. Namun yang mengejutkan, ada anak perempuan lain yang tergeletak di sampingnya. Matanya yang seperti kelereng kaca sudah kehilangan nyawa. Di sekeliling jasad anak itu, genangan darah hitam pekat sudah meluas.
Ada dua anak……?
Yu-dan terdiam melihat pemandangan yang tak terduga itu. Tanpa sadar ia mundur selangkah.
Tepat saat itu, terdengar suara derit pintu depan yang terbuka pelan.
Seketika pintu lemari terbuka lebar. Anak yang masih hidup tadi menarik Yu-dan mmasu. Yu-dan pun terseret ke dalam lemari.
"Ada apa sebenarnya?"
Pintu lemari tertutup dengan bunyi bam.
"Kubilang ada apa? Siapa yang datang?"
"Ssst—." Anak itu meletakkan jarinya di bibir.
Di luar, terdengar suara langkah kaki yang berat mendentum di lantai. Yu-dan mengintip melalui celah lemari. Beberapa bayangan hitam tampak berkeliaran di luar. Saat salah satu dari mereka memutar tubuh, Yu-dan melihat kilatan benda tajam di tangannya.
Dari arah lain, suara jeritan terdengar. Pintu kamar utama terbuka lebar, memperlihatkan dua orang yang tergeletak bersimbah darah. Seorang pria dan seorang wanita.
"Itu orang tuamu?" tanya Yu-dan ngeri.
"Ssst—." Anak itu kembali memberi isyarat diam. Air mata mulai menggenangi matanya yang besar.
Sebenarnya apa yang terjadi? Perampokan? Pembunuhan orang tua?
Suara langkah kaki di luar masih terus terdengar. Tubuh anak itu gemetar hebat. Sangat hebat.
"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja……."
Yu-dan menyadari suaranya sendiri terdengar kaku. Karena ia tahu itu adalah kebohongan. Saat ini para pelaku sedang menggeledah setiap sudut rumah. Dan ada foto keluarga di dinding, jika mereka melihat foto itu, mereka pasti tahu ada seorang anak di rumah ini. Lagi pula, Yu-dan sudah melihat akhirnya, bukankah dada Gokdugi tadi ada noda darah?
Gokdugi. Anak yang mati saat bermain.
"Bagimu, kejadian ini adalah sebuah permainan?"
Anak itu hanya terus gemetar. Napasnya memburu dan sesak, seolah hampir mengalami gagal napas karena trauma. Ia pasti sangat ingin percaya bahwa ini semua hanyalah permainan petak umpet saat ia bersembunyi di dalam lemari ini.
"Benar. Ini bukan kenyataan. Ini hanya permainan petak umpet. Orang tuamu, juga orang-orang itu, semuanya sedang bermain denganmu."
Anak itu mengangguk cepat.
"Tapi apa kamu benar-benar ingin meneruskan permainan ini? Kamu tidak ingin mengakhirinya?"
Terdengar suara dentuman di luar. Karena ketakutan, anak itu semakin merapatkan tubuhnya ke pojok lemari. Sambil memeluk lututnya, ia menggelengkan kepala kuat-kuat.
"Kamu tidak mau? Tidak mau mengakhirinya?"
Ia menggeleng lebih keras lagi.
"Kamu tidak tahu? Kamu tidak tahu bagaimana cara mengakhirinya?"
Di belakang mereka, suara langkah kaki terdengar mendekat. Mereka sudah sampai. Pintu lemari di belakang punggung Yu-dan mulai diguncang dengan kasar. Yu-dan segera menahan pintu lemari itu dengan punggungnya.
"Jangan takut. Aku menahannya, jadi mereka tidak bisa membukanya. Pintu ini tidak nyata. Tempat ini hanyalah ruang di dalam kepalamu."
Yu-dan terus bergumam, entah kepada si anak atau kepada dirinya sendiri. Entah itu sebuah fakta atau sekadar harapan. Pikirannya kacau, ia bukan ahli seperti Baek-ran. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Namun satu hal yang pasti. Meskipun akhirnya sudah ditentukan dan tidak bisa diubah, ia tidak ingin melihat anak ini ditikam lagi. Ia tidak ingin melihatnya tergeletak di genangan darah lagi…
Tunggu sebentar.
Sebuah kesadaran tiba-tiba menghampiri pikirannya. Ia sempat melupakan sesuatu. Tadi saat mengintip dari luar, jelas-jelas ada satu anak lagi di dalam lemari ini. Yu-dan kemudian melihat sekeliling, namun hanya ada kegelapan.
"Apa kamu punya kakak atau adik?"
Tak ada jawaban. Bukan, anak ini tidak punya saudara. Di foto keluarga hanya ada satu anak—.
Jleb!
Sesuatu menusuk punggung Yu-dan dan menembus ke depan. Pikirannya terputus. Rasa sakit yang tajam membuat kepalanya putih seketika. Ia menunduk menatap dadanya. Darah merah menyembur keluar, membasahi pakaiannya. Sensasi hangat yang mengerikan itu dalam sekejap mendingin dan membuat pakaiannya menempel di kulit, sebuah perasaan yang sangat menjijikkan. Tetesan darah mengumpul di permukaan kancing plastik yang halus. Segalanya terasa sangat nyata, namun….
Ini palsu. Ini hanya ilusi.
Ia menggelengkan kepala, mencoba menyangkal seluruh inderanya.
Berpikirlah. Gunakan otakmu.
Bukankah ia sudah sesumbar pada siluman rubah tadi? Bahwa ia akan sangat berhati-hati. Bahwa ia tidak akan hanya memikirkan apa yang ingin ia pikirkan dan tidak akan melewatkan hal yang penting. Jadi, ia harus berpikir.
Ia memutar kembali kejadian tadi di kepalanya. Gokdugi sedang bermain petak umpet. Dia sudah bermain bahkan sebelum para penjahat itu datang. Namun, permainan petak umpet tidak bisa dimainkan sendirian. Lalu dengan siapa dia bermain?
—Anak yang tergeletak di genangan darah.
Yu-dan, sambil tetap menahan pintu lemari dengan punggungnya, mengulurkan tangan ke arah kegelapan yang dalam di hadapannya.
Ruang di ujung jarinya terdistorsi. Kesadaran dan indera, masa lalu dan masa kini, semuanya tumpang tindih. Benda yang kusentuh ini puing ataukah tulang? Perasaan dingin seolah sedang mengaduk-aduk isi perut ular mati membuatnya merinding. Namun ia terus menjulurkan tangannya. Ingatan-ingatan kuat yang tersisa di tempat ini, memori yang seharusnya terkubur selamanya, kini menjerit dan melilit tangannya.
……Pintu lemari terbuka lebar, mereka mengayunkan pisau. Anak yang bersembunyi di sela-sela pakaian tertikam di dadanya dan tumbang…….
Yu-dan mengatupkan giginya kuat-kuat menahan memori kematian yang tragis itu. Aku benci ini. Benar-benar benci. Kenapa hal semacam ini harus terjadi di dunia. Ia ingin menarik tangannya kembali, namun saat ini di dalam "kotak" entah di mana itu, siluman rubah dan anak yang harus ia temukan sedang terperangkap. Jika ia lari, siapa yang akan mengeluarkan mereka?
Yu-dan mengatupkan gigi lebih keras dan menjulurkan tangan lebih jauh lagi. Melewati batas waktu, akhirnya ia menyentuh sesuatu. Sebuah kain yang terasa kaku karena cairan yang mengering.
"Ketemu."
Ia menariknya keluar dari kegelapan. Ternyata itu adalah sebuah boneka yang sangat tua. Noda darahnya sudah menghitam hingga boneka itu tampak seperti mengenakan gaun hitam…. Ini adalah teman bermain anak itu yang sesungguhnya.
Entah mengapa, meskipun ia tidak merasa sedih atau sakit, air mata mengalir dari mata kirinya yang tertutup kain dan membasahi pipinya.
"Ini dia. Ternyata kamu bersembunyi di tempat yang sangat sulit ditemukan ya?"
Anak itu sedikit membuka bibirnya hendak bersuara. Disaat yang sama dia segera mengulurkan tangan dan memeluk boneka itu. Wajahnya yang masih berlumuran air mata kini tersenyum untuk pertama kalinya. Seolah-olah ia malu karena sempat kehilangan bonekanya dan merasa lega karena kini telah menemukannya kembali.
Melihat senyum itu, Yu-dan teringat sesuatu. Masa lalu. Masa kecilnya. Tepatnya saat ia merasa permainan dengan teman-temannya 'benar-benar telah berakhir'. Ia teringat kata-kata yang ia ucapkan saat itu.
"Udahan dulu ya! Tadi seru sekali. Besok ayo kita main lagi!"
Anak itu mengangguk. Sekali lagi, dia tersenyum dengan sangat cerah. Kemudian berputar balik. Saat rambut pendeknya berkibar membentuk lengkungan, tubuh anak itu perlahan hancur berkeping-keping seperti potongan puzzle.
Sihir makhluk terkutuk itu telah hancur. Kegelapan pekat pun memudar, dan ruang yang terdistorsi kembali normal. Yu-dan melihat sekeliling. Ia kembali berada di rumah tua yang terbengkalai.
Tiba-tiba terdengar suara dentuman keras seakan ada sesuatu yang runtuh. Ia bergegas menuju sumber suara. Di tempat lemari di kamar kecil tadi berdiri, debu beterbangan dengan pekat. Yu-dan terbatuk-batuk dan mundur beberapa langkah.
"Ada orang di sana?" tanya Yu-dan. Namun hanya keheningan yang menjawab.
Jantungnya berdegup kencang menanti jawaban.
. . . . . . . .
