Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 36>


 ​Angin malam menyelinap masuk melalui jendela yang terbuka lebar.

​Di bawah temaram lampu meja, Yu-dan sedang telungkup di atas tempat tidur. Ia sudah cukup lama bergulat dengan pikirannya, namun yang muncul hanyalah rentetan ide yang tak keruan, sementara kertas di hadapannya justru semakin penuh dengan coretan abstrak.

​Ia meletakkan penanya lalu berbaring telentang.

Kucing Schrödinger, makhluk terkutuk yang berasal dari anak kecil……. Kata-kata siluman rubah terus berputar-putar di kepalanya tanpa henti.

Apa yang sebenarnya ada di dalam kotak itu?

​Sambil menatap langit-langit dengan pandangan kosong, perlahan kamar itu berubah menjadi sebuah kotak gelap yang menyesakkan.

​Yu-dan tersentak bangun.

​Entah kapan tempat tidurnya pun sudah raib. Hanya ada kegelapan mutlak. Ia mencoba mengulurkan tangan, namun tak ada satu pun benda yang bisa disentuh. Saat ia meraba-raba dalam kebingungan, ujung jarinya mendadak menyentuh sesuatu.

​Ia mencengkeram benda itu.

​Logam yang dingin. Dan terasa ada cairan lengket yang melumurinya. Yu-dan menunduk menatap tangannya.

​Sebuah belati emas yang bersimbah darah segar terlihat di sana.

​Tepat saat ia berjingat ngeri, suara jeritan binatang terdengar menusuk telinganya.

​Yu-dan membuka mata lebar-lebar.

​Ternyata ia masih tertelungkup di atas tempat tidur. Sebelah lengannya menjuntai ke bawah hingga menyentuh lantai.

​……Cuma mimpi.

​Lalu suara itu terdengar lagi. Ia menoleh ke arah sumber suara.

​Pintu kamarnya sedikit terbuka. Di celah sempit yang membentuk sudut lancip itu, berdiri sesuatu dengan siluet yang asing.

​Seekor rubah kecil yang terbuat dari lipatan kertas. Begitu mata mereka bertemu, ekor kertasnya bergoyang pelan. Seolah-olah sedang memberinya isyarat untuk mengikutinya.

Ah, jadi suara tadi adalah suara rubah.

​Melihat Baek-ran mengirim benda ini untuk membangunkannya, sepertinya rumah tua itu sudah berhasil ditemukan. Padahal tadinya ia mengeluh bakal butuh waktu lama karena gambar Yu-dan yang sangat buruk.

​Yu-dan bangkit dan mengikuti rubah kertas itu. Ia sempat terpegun sejenak saat membuka pintu apartemen, angin malam terasa sangat menggigit. Ia menyambar jaket tipis lalu bergegas keluar.

​Si rubah kertas berlari di depan memandu jalan. Awalnya Yu-dan masih sadar bahwa ia sedang menuruni tangga apartemen, namun sesaat kemudian segala indranya mulai mengabur.

​Kecepatannya begitu luar biasa hingga pemandangan di kiri dan kanannya menyatu menjadi satu gumpalan warna yang melesat lewat. Seperti foto star trail yang menangkap pergerakan bintang, segala sesuatu memancarkan lintasan cahaya garis lurus yang menyilaukan. Jika diperhatikan baik-baik, ia mungkin bisa mengenali lokasinya, namun sebelum sempat melakukannya, tempat itu sudah berganti lagi.

Sebenarnya aku sedang dibawa ke mana?

​Rubah kertas baru berhenti setelah menempuh perjalanan yang cukup lama. Dug, pemandangan di sekitar mendadak berhenti.

​Cahaya-cahaya yang tadinya terdistorsi kini kembali ke posisi semula dan membentuk wujud yang familier. Langit hitam pekat. Rembulan. Lampu jalan yang pucat. Dan sebuah rumah tua yang berdiri tegak di tengah malam yang hanya bisa digambarkan dengan kata "mencekam".

​Di depan rumah itu, siluman rubah berdiri menanti. Ia menoleh saat merasakan kehadiran Yu-dan.

​Telinganya yang aslinya berwarna cokelat tampak hampir putih, mungkin karena sudut cahaya. Sebaliknya, mata yang menatap Yu-dan seolah menyerap seluruh sisa cahaya redup di sekitarnya, memancarkan kilau pekat yang membara. Meskipun angin bertiup, tak sehelai rambut pun dari siluman itu yang bergerak. Tempat yang telah mati dan kehilangan energi kehidupan ini sepertinya tak sanggup menanggung beban energi siluman miliknya. Kegelapan itu tahu benar siapa yang datang berkunjung. Udara bergetar hebat seakan menyebarkan berita kehadirannya. Memang, bagi siluman rubah yang telah hidup lebih dari seribu tahun, pertarungan semacam ini bukanlah hal yang menguntungkan baginya.

​"Sekarang, haruskah kita memulai permainan malam ini?"

​Baek-ran bertanya sambil menyunggingkan senyum tipis. "Atau sebelum kita mulai, kamu masih punya kesempatan untuk pulang sekarang."

​"Tidak mau."

​Lagi-lagi Yu-dan mendengar suara klik—suara roda gigi takdir yang saling mengunci. Ia pun melangkah mendekat.

​Di ujung gang yang terselimuti kegelapan itu berdiri sebuah rumah gaya barat berlantai dua. Dahulu mungkin rumah itu tampak sangat megah, namun sekarang kondisinya mengenaskan.

​Setiap jendela kaca yang ada di sana hancur tanpa sisa. Tanaman merambat dan sulur pepohonan melilit dindingnya dengan rapat, mengingatkan pada serangga yang menjajah bangkai binatang yang membusuk. Bangkai yang tak pernah disentuh siapapun, namun tak juga pernah benar-benar membusuk.

​"Bagaimana mungkin ada rumah seperti ini di tengah pemukiman warga biasa? Apa ini karena Unusuals?"

​"Benar. Karena alam bawah sadar mereka menutup penglihatan itu. Bagi mereka, rumah ini tidak ada. Pejalan kaki akan lewat begitu saja meski melihatnya dengan mata kepala sendiri, dan di semua dokumen resmi pun, rumah ini tercatat dengan 'tinta transparan'."

​Mereka melintasi halaman sambil menyibak semak belukar yang tinggi. Saat Yu-dan menarik pintu depan, terdengar suara derit yang menyerupai pekikan nyawa sebelum terbuka.

​Suasana di dalam rumah jauh lebih sunyi dan menyeramkan dibandingkan di luar. Aroma asam menyengat hidungnya. Aroma yang jahat. Mungkinkah ini hawa makhluk terkutuk itu? Perabotan di sana tampak hancur berkeping-keping karena tak sanggup menahan hawa tersebut.

​Yu-dan mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah. Di suatu tempat di dalam dimensi lain di rumah ini, anak kecil yang diculik itu pasti terperangkap, namun ia sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kehadirannya. Apa dia tidak berteriak minta tolong? Yu-dan mencoba menajamkan pendengarannya, tapi tak ada suara apa pun.

​Baek-ran duduk santai di samping sebuah televisi yang sudah hancur. Saat Yu-dan ikut duduk di sampingnya, sesuatu yang dingin dan mengerikan menyentuh kakinya. Ia tersentak ngeri dan saat menyingkirkannya, ternyata itu adalah sebuah kelereng kaca yang berkilau.

​Siluman rubah tertawa tanpa suara. "Karena reaksimu sangat lucu, kamu memang teman bermain yang sangat cocok."

​"Lucu menurutmu? Bagiku tidak," gerutu Yu-dan. "Sekarang, permainannya bagaimana?"

​"Permainan apa yang ingin kamu lakukan?"

​"Kamu saja yang pilih. Pasti ada permainan lain yang disukai Gokdugi, kan?"

​"Tentu saja ada."

​Baek-ran mengeluarkan sebuah buku kuno dari balik lengan bajunya. Saat ia membolak-balik halamannya, terlihat gambar-gambar anak kecil yang sedang bermain.

​"Menyesuaikan dengan selera Gokdugi ini, sepertinya permainan yang mirip dengan petak umpet akan bagus. Mari kita lihat…. Bagaimana kalau Bongsa-nori (Permainan Orang Buta)?"

​"Bagaimana bisa menjadi orang buta disebut permainan?"

​"Bukan orang buta dalam arti harfiah. Ini adalah Eommok-hui (Permainan Menutup Mata). Sering juga disebut permainan orang buta atau Kkamak-japgi (Tangkap Gelap). Sang penjaga harus menangkap lawannya dan menebak namanya dengan benar."

​Baek-ran memutar buku itu untuk memperlihatkan gambarnya kepada Yu-dan. Terlihat seorang anak yang matanya ditutup kain sedang berusaha menangkap teman-temannya.

​"Permainan anak-anak justru memiliki banyak hal yang harus diwaspadai. Mereka tertawa menonton sang buta yang jiwanya sedang tidak jernih. Jika tak sengaja tertangkap oleh tangannya, orang yang matanya terbuka pun akan menjadi lebih malang daripada si buta itu sendiri. Begitulah bunyi lagu Eommok-hui. Ingatlah baik-baik."

​Bersamaan dengan itu, ia mengeluarkan selembar sapu tangan putih.

​"Kamulah yang menjadi penjaganya. Biar permainannya lebih seru. Karena hanya jika permainannya menarik, Gokdugi akan datang."

​Yu-dan pun menutup matanya dengan kain tersebut dan mengikat simpulnya dengan kuat.

​Kegelapan yang menyelimuti matanya membuat perasaannya semakin aneh. Padahal sejak tadi segalanya sudah terasa tidak nyata, namun kini ia merasa benar-benar telah masuk ke dalam dunia surealis.

​"Sekarang, mari kita panggil Gokdugi keluar. Seperti yang kukatakan, permainan ini harus berjalan secara alami. Jangan merusak suasana di tengah jalan. Jika dia muncul tiba-tiba, jangan kaget dan tetaplah bermain dengan riang seolah-olah kamu sedang menikmatinya."

​"Baiklah."

​"Sebelah sini."

​Siluman rubah bertepuk tangan.

​Karena ingin segera melepaskan statusnya sebagai penjaga, Yu-dan segera berlari ke arah suara dan menyentuh sosok itu. Benda yang ia tangkap terasa seperti gumpalan bulu yang sangat lembut dan empuk.

​"Apa ini? Ekor rubah? Dapat!"

​"Itu bukan ekorku."

​"Eh?"

​"Ulangi lagi."

​Yu-dan kebingungan. Ia melepaskan benda yang ia duga sebagai ekor rubah, lalu saat sedang ragu melangkah, ia menabrak seseorang.

​"Ah, maaf—"

​Yu-dan membungkuk meminta maaf namun seketika membeku. …Siapa ini?

​"Sebelah sini."

​Baek-ran memanggilnya dari kejauhan sambil bertepuk tangan. Namun di saat yang sama, tepat di sampingnya, terdengar suara tepuk tangan lain.

​"Siapa di sana?"

​Bukan satu suara. Dua, tiga, empat…? Suara tepuk tangan terdengar dari berbagai arah. Yu-dan mengulurkan tangan secara asal, dan mendadak sesuatu yang dingin dan halus menyentuh ujung jarinya sebelum melesat pergi. Terdengar suara tawa cekikikan seseorang.

​"Apa-apaan ini. Ini aneh."

​"Tidak apa-apa. Kamu melakukannya dengan sangat baik."

​Yu-dan kembali mengulurkan tangan ke arah suara. Namun kali ini yang ia tangkap adalah rambut yang kasar dan berantakan. Saat ia merabanya, itu terasa seperti sebuah kepala dengan rambut yang kusut. Dan di bawah lehernya, tidak ada apa-apa.

​"Apa ini!"

​Suara tawa meledak di sekitarnya. Suara tepuk tangan dan langkah kaki yang gaduh terdengar dari segala penjuru. Kapan jumlah mereka bertambah sebanyak ini? Meskipun matanya tertutup, ia bisa merasakan ribuan bayangan yang berterbangan di sekelilingnya. Tanpa arah yang jelas, ia terus mengulurkan tangan secara acak, namun semuanya selalu luput dengan selisih yang sangat tipis.

​Suara tawa terdengar semakin keras. Pada satu titik, tangan dingin seorang wanita menyentuh dahinya.

​"Siapa kamu?"

​"Bukan siapa-siapa. Lanjutkan saja permainannya."

Apa aku bisa mempercayai kata-kata rubah?

Atau, apakah itu sungguh rubah?

​Segalanya mulai berputar-putar di kepalanya. Suara tepuk tangan yang berputar. Langkah kaki yang berputar. Ribuan bayangan yang bercampur aduk berputar seperti  dalam pusaran. Saat Yu-dan berjalan terhuyung-huyung, ia menabrak sesuatu lagi. Sebuah perabotan. Televisi yang hancur.

​Mendadak televisi hancur itu menyala. Musik iklan yang ceria namun dengan pengucapan yang tidak jelas bergema, hingga perlahan—

​Berubah menjadi suara anak-anak.

​「Permainan anak-anak justru memiliki banyak hal yang harus diwaspadai.

Mereka tertawa menonton sang buta yang jiwanya sedang tidak jernih.

Jika tak sengaja tertangkap oleh tangannya,

orang yang matanya terbuka pun akan menjadi lebih malang daripada si buta itu sendiri.

​Yu-dan langsung tersentak sadar sepenuhnya. Lagu Eommok-hui. Itu adalah lagu Gokdugi. Baek-ran bilang Gokdugi menggoda anak-anak dengan menyanyikan lagu.

Jangan merusak suasana. Tetaplah tenang. Bermainlah dengan riang.

​Sambil berusaha keras mengingat instruksi Baek-ran, Yu-dan terus mengulurkan tangannya ke sana kemari. Suara tepuk tangan dan langkah kaki terasa semakin bertambah banyak. Segalanya bercampur aduk dalam kekacauan yang terus berputar, sampai akhirnya…

​Seketika, bulu kuduk di lengannya berdiri.

​Dia datang.

​Tanpa sadar Yu-dan membuka matanya di balik kain penutup. Di balik ribuan bayangan yang berkelebat, di sudut ruangan sana, seorang anak berdiri diam.

​Rambut pendek dengan poni yang rapi. Memakai gaun terusan dan stocking putih. Wajahnya berwarna pucat layaknya tanah yang membusuk. Noda darah besar di dadanya sudah sangat lama hingga berwarna merah gelap persis seperti matanya yang tak berkedip menatap permainan, tanpa bagian putih, dan hanya penuh dengan urat darah merah yang mengerikan.

​Itulah makhluk terkutuk yang sedang bermain petak umpet. Gokdugi akhirnya menampakkan diri.

​"Apa yang sedang kamu lakukan? Berpura-puralah tidak tahu."

​Suara siluman rubah terdengar tepat di telinganya. Yu-dan segera memejamkan mata kembali.

​Ia mulai bergerak lagi mengikuti suara tepuk tangan yang terdengar kacau. Meski hanya ada kegelapan, ia bisa merasakannya. Seperti seekor hewan yang mendekat dengan rasa waspada dan penasaran secara bersamaan, makhluk itu perlahan-lahan datang menghampirinya.

​"Sekali lagi kamu berada di persimpangan pilihan. Apa yang akan kamu lakukan?"

​Yu-dan berpikir sejenak. Ia tidak tahu kapan Gokdugi akan menyeret mereka berdua ke dalam permainannya sendiri. Sebelum itu terjadi, sepertinya lebih baik ia bergerak lebih dulu.

​"Aku akan menangkapnya dulu."

​Di tengah suara langkah kaki yang berputar-putar tak keruan, ia mengulurkan tangannya.

​Ribuan ujung kain menyentuh jarinya. Sampai pada suatu saat, sesuatu yang sedingin es menyentuh tangannya dengan lembut. Yu-dan langsung menyambar ujung kain tersebut dengan kuat.

​"Ketemu. Kamu Gokdugi, kan?"

​Seketika segalanya berhenti total.

​Segala jenis bayangan yang tadi berkelebat di sekitarnya lenyap dalam sekejap mata. Kain penutup matanya ditarik dengan kasar dari belakang hingga terlepas.

​Cahaya lampu jalan yang pucat masuk menembus jendela kaca yang pecah. Sisa-sisa perabotan yang hancur memberikan bayangan panjang seperti nisan di pemakaman umum. Kesunyian yang mencekam kembali menyelimuti ruangan itu, seolah suara tepuk tangan, langkah kaki, dan tawa tadi tak pernah ada.

​Di sana, sesosok makhluk kecil berdiri mematung. Wujudnya benar-benar tak bisa lagi disebut manusia, namun rambut pendek, gaun terusan suspender, dan stocking putih dengan gambar anak ayam itu masih tetap sama. Hal itu justru membuatnya terasa semakin tidak manusiawi dan mengerikan. Makhluk seperti apa yang harus dilalui hingga ia terlahir seperti ini? Kejadian mengerikan apa yang sebenarnya terjadi di rumah ini?

​"Karena kamu sudah tertangkap, sekarang giliranmu menjadi penjaga."

​Baek-ran menatap ke arah mata makhluk yang penuh urat merah itu, sambil menyodorkan kain penutup mata di tangannya. Namun Gokdugi tidak menerimanya. Ia hanya berdiri diam tanpa ekspresi, bahkan tanpa bergerak sedikit pun.

​"Kenapa dia begitu?"

​"Sepertinya dia tidak mau bermain Permainan orang buta."

​"Lalu? Apa yang dia mau? Petak umpet?"

Gokdugi tetap tidak memberikan respon apa pun. Apa dia benar-benar mendengar ucapanku? Saat Yu-dan hendak bicara lagi, sebelah lengan anak itu bergerak. Lengan blus putihnya yang ternoda darah bergerak perlahan, dan dengan ujung jari yang menghitam membusuk, ia menunjuk ke arah Baek-ran.

​"Apa maksudnya?"

​Ekspresi Baek-ran mendadak berubah serius. "Dia menyuruhku untuk keluar dari permainan."

​"Hah?"

​Siluman rubah berpikir sejenak. Lalu ia mengibaskan salah satu lengan bajunya dengan sentakan kuat. Cahaya menyilaukan memancar keluar, dan sesuatu yang besar menghantam dinding dengan suara gaduh jatuh tergeletak. Itu adalah senjata milik rubah, tombak emas bercabang sembilan yang memancarkan kilau agung.

​"Apa begini sudah cukup?"

​Tak ada jawaban.

​Sesaat kemudian Gokdugi kembali mengangkat tangannya. Ia menunjuk ke arah siluman rubah lagi, lalu menunjuk ke arah kain penutup mata.

​"Kamu menyuruhku memakai kain ini?" tanya Baek-ran. Tetap tak ada jawaban.

Gokdugi tidak bergerak sedikit pun. Sepertinya ia takkan bergeming sebelum Baek-ran memakai kain penutup mata itu.

​"Harus bagaimana?" tanya Yu-dan.

​"Mau bagaimana lagi." Baek-ran mengangkat kain penutup mata ke wajahnya dan mengikatnya. "Apa sekarang sudah cukup?"

​Barulah Gokdugi berbalik arah. Ia berjalan perlahan melintasi ruang tamu, lalu meletakkan lengannya di salah satu dinding dan membenamkan wajahnya di sana. Sepertinya ia mulai menghitung angka.

​"Apa? Sudah dimulai tanpa aba-aba?"

​"Jangan lupakan fakta ini. Mulai sekarang aku sama sekali tidak berguna. Aku tidak bisa melihat, aku tidak punya senjata."

​Pilihan dan konsekuensi. Yu-dan teringat kembali kata-kata itu saat menatap siluman rubah yang matanya kini tertutup.

​Sementara itu, Baek-ran merobek sebagian dinding yang sudah rusak tanpa menimbulkan suara sedikit pun dan masuk ke dalamnya.

​"Hei tunggu aku!" Yu-dan segera menyibak lembaran kayu lapis dan menyusul masuk.


​Yu-dan tidak tahu apa yang sedang dipikirkan Baek-ran. Karena matanya tertutup kain, ekspresinya kini jauh lebih sulit dibaca daripada biasanya.

​"Situasinya jadi merepotkan. Padahal aku benar-benar berniat bermain dengannya secara riang, tapi dia tidak percaya padaku."

​"Yang benar? Bukannya tadi kamu berencana berbohong?"

​"Benar. Padahal aku tadi berencana berbohong, tapi dia tidak percaya."

​"Koreksimu malah bikin ceritanya makin aneh, tahu!"

​"Itu bukan hal penting sekarang."

​"Benar. Itu tidak penting. Kita sekarang terjebak bermain petak umpet dengan Gokdugi itu. Padahal aslinya kan mau main Bongsa-nori. Kenapa dia sebegitu terobsesinya dengan petak umpet?"

​"Aku tidak tahu. Tapi aku tahu situasi ini sama sekali tidak menguntungkan. Sekarang, mari kita dengar pendapat ahli. Bagaimana cara kita menghentikan permainan petak umpet ini?"

​Yu-dan menggigit bibirnya pelan. "Kita tidak boleh jadi penjaga. Kita harus bersembunyi agar tidak tertangkap, lalu kita harus lebih dulu memukul dinding tempat Gokdugi menghitung tadi. Jika kita terus melakukan itu, Gokdugi akan terus-menerus menjadi penjaga. Lama-lama dia pasti akan minta ganti permainan."

​"Untuk melakukan itu…."

​Baek-ran menghentikan kalimatnya dan menajamkan telinganya. Hampir di saat yang bersamaan, sesuatu melesat lewat di depan lubang tempat mereka bersembunyi. Saat Yu-dan mengintip keluar melalui lubang itu, ia melihat jejak kaki merah memenuhi seluruh ruangan. Sepertinya Gokdugi sudah mengitari rumah dalam satu putaran penuh.

​"Aku akan keluar sebentar."

​Baru saja Yu-dan hendak melangkah keluar, telinga rubah kembali berkedut. Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki kecil mendekat. Yu-dan tersentak kaget.

​"Dia sudah kembali? Cepat sekali!"

​"Tentu saja. Setelah satu putaran penuh, dia pasti akan memeriksa kembali tempat-tempat yang dia curigai."

​Yu-dan mengira rencananya tadi sudah bagus, namun belum sempat dicoba pun sudah menemui rintangan besar. Firasatnya mulai memburuk.

Jangan-jangan aku sedang tersesat di dalam labirin?

............

Glosarium Istilah:

  • Gokdugi (곡두기): Entitas gaib berupa anak kecil yang mati saat bermain dan berubah menjadi makhluk terkutuk yang menjebak orang lain dalam permainannya.
  • Eommok-hui (엄목희): Permainan tradisional menutup mata (mirip petak umpet di mana penjaga harus menangkap dan menebak identitas lawan).

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang