Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 35>
「Saat lonceng berbunyi…… tak ada yang boleh berkeliaran.
Anak-anak bermain…… menggenggam pemukul…….
Hingga bayang rembulan menghilang…… mereka takkan pulang.」
Pandangan Yu-dan mengabur, lalu sebuah bayangan mulai terbentuk di atas foto itu.
……Rumah tua?
Sekilas namun sangat jelas, bayangan sebuah rumah berlantai dua yang diselimuti semak belukar melintas begitu saja.
Tepat saat itu, suara denting lonceng menusuk tajam ke telinganya. Yu-dan tersentak sadar.
Lonceng emas yang menjuntai di luar tirai bergoyang. Dengan panik, Yu-dan berlari dan menarik talinya. Terdengar suara buk yang keras dari dalam tempat peraduan.
Semua siluman yang ada di bawah pun berlari naik karena terkejut.
"Bisa tidak kamu melakukannya dengan sedikit lebih lembut?" keluh Baek-ran kesal sambil menyibak tirai sutranya.
"Aku melihatnya! Aku mendengar suara nyanyian anak-anak dan melihat sebuah rumah! Rumah tua yang terbengkalai!"
Mendengar ucapan Yu-dan, wajah semua orang seketika berubah.
"Nyanyian anak-anak?" tanya Baek-ran serius.
"Lonceng berbunyi, tak boleh berkeliaran. Anak-anak bermain, menggenggam pemukul, hingga bayang rembulan menghilang, mereka takkan pulang."
Begitu Yu-dan melantunkan potongan lagu aneh yang didengarnya tadi, ekspresi Baek-ran kembali berubah drastis.
"Saat lonceng berdentang sekali, para penjaga berpencar, dan orang-orang tak berani berkeliaran di malam hari. Anak-anak dengan jahil menggenggam pemukul petugas penjara, dan takkan kembali dari halaman hingga bayang rembulan menghilang."
Yu-dan tertegun mendengar Baek-ran membacakannya dengan lancar. "Kamu tahu lagu itu?"
"Itu adalah puisi dari buku 『Haedongjukji』. Tidak disangka lagu ini dinyanyikan oleh suara anak-anak…." Baek-ran menatap lurus ke arah Yu-dan. "Sepertinya kamu baru saja mendengar nyanyian Gokdugi."
"Gokdugi?"
Semua siluman tersentak kaget mendengarnya.
"Lihat kan! Sudah kubilang ini pasti konspirasi!" seru si Kodok sambil melompat-lompat. Namun Baek-ran mengabaikannya.
"Pantas saja anak itu tidak ditemukan baik di dunia fana maupun alam baka. Kita harus segera mencari rumah tua itu."
Baek-ran mencoba bangkit dari tempat tidurnya, namun tubuhnya limbung. Para siluman panik, Chae-seol segera berlari menyangga tubuhnya.
"Cheonho-nim! Anda baik-baik saja?"
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku terbangun dengan terlalu kasar tadi…."
"Maaf," gumam Yu-dan merasa bersalah.
"Bukan salahmu." Baek-ran memegang dahinya yang tampak pening. "Aku akan segera keluar. Bawa Yu-dan ke ruang kerja dan berikan kertas. Dia harus menggambar rumah tua yang dilihatnya tadi."
Meski perintah sudah turun, si kembar hanya berdiri mematung. Wajah mereka tampak pucat.
"Kubilang bawa dia keluar," ulang siluman rubah itu, barulah si kembar tersadar.
"Ah, baik."
Mereka semua berbalik pergi. Tuan Do dan Heuk-yo turun ke lantai bawah sambil berbisik-bisik dengan nada gelisah. Yu-dan menatap si kembar.
"Ada apa? Sebenarnya Gokdugi itu apa sampai kalian ketakutan begitu?"
"Hmm…." Si kembar ragu-ragu. Ketakutan terpancar jelas di mata mereka.
"Cheonho-nim pernah berurusan dengannya sekali dulu," si Kodok yang menjawab mewakili mereka.
"Lalu? Bagaimana hasilnya saat itu?"
Mendengar pertanyaan itu, bahkan si Kodok pun tidak berani langsung menjawab. Akhirnya, Chaewoo angkat bicara dengan suara gemetar.
"Waktu itu…."
Udara di ruang kerja terasa mencekam.
Baek-ran sibuk mencari-cari di antara deretan rak buku. Setelah sekian lama, ia mengambil sebuah buku, membacanya sejenak, lalu menggelengkan kepala. Chae-seol yang membantu di sampingnya segera menyodorkan buku lain.
"Bagaimana dengan yang ini? Apa tidak membantu?"
"『Jinbeob-eonhae』? Kurasa ini tidak akan banyak membantu."
Yu-dan terus melirik ke arah mereka sambil memegang kuas, hingga akhirnya ia meletakkan kuasnya dan bertanya.
"Sebenarnya Gokdugi itu makhluk macam apa?"
Baek-ran menarik buku lainnya. "Dia adalah anak kecil yang mati saat sedang bermain."
Jawaban tenang itu justru membuat bulu kuduk Yu-dan meremang.
"Bukan hantu, bukan pula siluman, melainkan sebuah Mamul (makhluk terkutuk). Namanya diduga berasal dari gabungan kata 'Gokdu' yang berarti ilusi, dan 'Mokdugi' yang berarti hantu tak dikenal. Saat Gokdugi muncul, suara nyanyian akan terdengar. Lagu yang dulu dinyanyikan anak-anak saat bermain. Gokdugi menyanyikan lagu itu untuk menggoda dan membawa pergi anak-anak yang seumur dengannya."
"Dibawa pergi untuk apa?"
"Untuk dijadikan teman bermain."
"Makhluk semacam itu bermain dengan anak manusia?"
Baek-ran mengangguk. "Dan permainannya beragam. Melalui lagu yang dinyanyikan, kita bisa tahu permainan apa yang sedang dia mainkan. Lagu yang kamu dengar tadi adalah lagu permainan petak umpet."
"Tadi ada kata 'Penjaga (Sunragun)', apa itu?"
"Sejenis polisi malam di zaman dulu. Mereka bertugas menangkap siapa pun yang melanggar jam malam setelah lonceng berbunyi. Permainan 'Menangkap Penjaga' yang meniru tugas mereka inilah yang menjadi asal mula petak umpet."
"Petak umpet ya…… berarti di rumah tua itu?" ucap Yu-dan. Namun, wajah siluman rubah yang biasanya lancar menjelaskan itu kini tampak sedikit bimbang.
"Kenapa?" tanya Yu-dan heran.
"Ini agak rumit. Apa kamu tahu tentang 'Kucing Schrödinger'?"
Yu-dan merasa pernah mendengarnya, tapi… tiba-tiba yang terlintas di kepalanya justru anjing abu-abu berjenggot lebat. Itu kan Schnauzer. Lalu Schrödinger itu apa? Apa ya…?
Keheningan melanda. Chae-seol yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menyela.
"Tuan Schrödinger adalah seorang pria tua yang kesepian. Suatu hari saat hendak mengambil uang pensiun, ia menemukan seekor anak kucing yang menggigil kedinginan karena hujan di bawah mobil. Ternyata itu kucing belang jingga yang dibuang pemiliknya saat pindah rumah—"
"Bukan begitu," potong Baek-ran sambil terkekeh konyol. "Bukan cerita seperti itu."
"Aku tahu. Itu ceritaku sendiri. Tapi aku berharap cerita Kucing Schrödinger manis seperti itu," sahut Chae-seol.
"Sayangnya, sama sekali tidak manis. Itu adalah eksperimen pikiran tentang kucing dan racun di dalam kotak tertutup."
"Hah? Tidak kusangka Tuan Schrödinger sekejam itu!"
Pintu berderit terbuka, Chaewoo masuk dengan terburu-buru. "Maaf, maaf!" Ia meminta maaf ke sana kemari lalu menarik kakaknya agar duduk tenang. "Kan sudah kubilang jangan mengganggu!"
"Apapun itu—" Yu-dan kembali menatap Baek-ran. "Kenapa siluman sepertimu tahu hal semacam itu?"
"Aku hanya tertarik pada bagian 'ceritanya'. Seekor kucing di dalam kotak tertutup bersama racun. Sebelum kotak dibuka, tidak ada yang tahu apakah kucing itu hidup atau mati. Di antara semua cerita dari berbagai belahan dunia, kisah ini yang paling mirip dengan dunia Gokdugi."
Jangan-jangan dia menganggap Kucing Schrödinger sejenis legenda urban Barat? Yu-dan merasa lega karena sepertinya ia tidak perlu mendengarkan penjelasan sains yang rumit.
"Permainan adalah sebuah janji. Begitu janji dibuat, seseorang bisa menjadi 'penjaga', 'pencuri', atau 'jenderal'. Sejak saat itu, tempat tersebut berubah menjadi dunia yang berbeda. Atau mungkin, bisa kita sebut sebagai kotak tertutup."
Baek-ran mendekat dan duduk di depan meja kerja. Ia mengambil kuas dan menggambar sebuah kotak persegi di atas kertas.
"Secara logika, manusia tidak mungkin bertahan hidup dua bulan tanpa makan dan minum. Namun, anak itu sampai sekarang masih terus bermain petak umpet di suatu tempat. Tepatnya dia berada di dalam 'kotak' bernama permainan. Jika demikian, apakah anak itu hidup atau mati? Tidak ada yang tahu bagaimana pengaruh Unusuals ini terhadap dirinya. Bahkan Gokdugi sendiri tidak tahu. Dalam kondisi seperti itu, mampukah kita menghentikan permainannya secara paksa? Dengan kata lain, beranikah kamu membuka kotaknya?"
Yu-dan terdiam sejenak. "Aku tidak berani. Kalau dia masih hidup syukurlah, tapi kalau ternyata dia sudah mati bagaimana?"
"Tepat sekali."
"Tapi kita tidak bisa membiarkannya begitu saja. Kita harus menyelamatkannya. Kalau tidak bisa membuka kotaknya, lalu bagaimana cara mengeluarkannya?"
Alih-alih menjawab, Baek-ran menggerakkan kuasnya. Gambar kotak tadi perlahan memudar menjadi putih, dan di dalamnya muncul gambar kucing belang jingga yang hidup. Bahkan gambar kucing itu menggaruk telinganya dengan kaki belakang lalu mengeong, "Meong—".
"Caranya adalah seperti ini."
"Menghapus kotaknya?"
"Benar. Dunia yang tercipta saat permainan dimulai akan lenyap saat permainan berakhir, dan semuanya kembali ke kehidupan normal. Jadi, kita juga akan memulai permainan. Permainan yang jauh lebih seru daripada milik Gokdugi. Kita harus memancing Gokdugi masuk ke permainan kita, dan mengakhiri permainan abadi miliknya."
Yu-dan mulai mengerti maksudnya, meski masih agak samar.
"Itu sebabnya aku sedang mempelajarinya sekarang. Tema 'permainan' ini jujur saja agak asing bagiku."
"Wajar saja. Kamu kan cuma baca buku. Apa waktu kecil kamu tidak pernah bermain?"
"Entahlah. Ingatan masa kecilku yang sangat jauh hanyalah tentang memakai baju kebesaran dan menerima sembah sujud dari orang-orang. Mereka datang untuk bertanya sesuatu, atau meminta sesuatu padaku."
Sepertinya siluman rubah benar-benar tidak pernah merasakan indahnya bermain saat kecil.
"Yah, tapi kan kamu sudah pernah menghadapinya dulu…. Ngomong-ngomong, bagaimana gambarmu?" tanya Baek-ran sambil melirik ke arah meja. "Wah, bagus sekali."
"Sulit dipercaya. Tumben kamu memuji begitu."
"Itu kalau gambar ini memang dimaksudkan untuk aliran dekonstruksionisme atau surealisme."
"Sudah kuduga, tidak mungkin kamu tulus memuji."
"Aku ingin sekali memberikan pujian yang membantu, tapi aku tidak terlalu paham seni modern jadi ini agak sulit. Lain kali, tolong buatkan lukisan pemandangan yang normal saja."
"Lukisan pemandangan…?"
"Gambarlah ulang. Setidaknya sampai terlihat seperti bentuk rumah." Setelah berkata begitu, Baek-ran pun melenggang keluar.
Yu-dan menggerutu, "Di situasi genting begini pun sifatnya tetap konsisten."
Chaewoo melirik. "Benar juga. Padahal gambarmu bagus, kenapa beliau begitu ya. Sini, biar ini aku buang saja."
"Katanya bagus, kenapa malah dibuang?!"
Tanpa peduli, Chaewoo segera membuang kertas itu. "Tidak apa-apa. Tinggal gambar lagi kan?" Chae-seol membawakan satu kotak penuh kertas baru. "Semangat!"
"Melihat kalian membawa kertas sebanyak ini saja sudah membuatku lemas. Kalian sedang mengerjaiku?"
"Tidak. Kami benar-benar serius," sahut si kembar sambil menatap Yu-dan dengan wajah sungguh-sungguh.
"Terima kasih banyak karena kamu tidak menyerah mencari petunjuk. Itu sangat membantu. Kami tidak salah menilaimu. Kami senang."
"Kalau bukan karenamu, kami pasti akan buntu. Kami cuma bisa cemas melihat Cheonho-nim kesulitan sendirian."
"Tapi, meski kami sangat berterima kasih…." Chaewoo ragu sejenak lalu menatap kakaknya. Chae-seol memberanikan diri untuk bicara.
"Bisakah kamu ikut pergi bersama kami?"
"Eh?" Yu-dan menatap si kembar dengan heran.
"Terakhir kali saat kami mencoba menjemput anak yang dibawa Gokdugi, kami semua sama sekali tidak membantu. Tapi sepertinya kamu berbeda, Yu-dan. Mungkin kamu bisa membantu."
TAK! Yu-dan meletakkan kuasnya dengan keras. Si kembar tersentak, begitu juga Yu-dan. Ia tidak bermaksud meletakkannya sekeras itu.
"Aku juga… daripada duduk diam penasaran apa yang terjadi, lebih baik aku bergerak meski harus dimarahi. Itu lebih cocok dengan sifatku."
Sambil bicara, Yu-dan tanpa sengaja melirik ke arah pintu ruang kerja dan menyadari ada bayangan yang terpantul. Ternyata Heuk-yo dan Tuan Do sedang menguping di sana. Kedua bayangan itu pun tersentak kaget.
"Sedang apa kalian di situ?" tanya sebuah suara dingin.
"Ah, b-bukan apa-apa." Heuk-yo dan Tuan Do segera mundur menjauh.
Baek-ran melangkah masuk ke ruangan sambil menggenggam sebuah belati emas. Ukirannya sangat halus dan rumit, namun saat ia mencabutnya sedikit, bilahnya yang sedingin es tampak berkilat tajam. Semua orang tersentak ngeri.
"Aku akan ikut," cetus Yu-dan mantap.
Baek-ran menatapnya dengan ekspresi tak percaya. "Kamu dengar apa dari siapa?"
"Bukan karena aku mendengar sesuatu." Yu-dan menunjuk ke arah tumpukan buku yang dibaca Baek-ran tadi.
"Caramu itu sudah salah dari awal. Permainan itu bukan sesuatu yang bisa dipahami lewat belajar dari buku."
"Oh, jadi sekarang kamu merasa jadi ahlinya?"
"Setidaknya ini satu-satunya bidang di mana aku bisa bilang aku lebih hebat darimu. Lagipula, kudengar terakhir kali…." Yu-dan menelan kembali kalimatnya sambil melirik belati di tangan Baek-ran. "…katanya kamu sangat kesulitan?"
Siluman rubah diam seribu bahasa. Wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Jadi, kalau kalian sudah tahu di mana lokasi rumah tua itu, aku ikut. Bukankah terakhir kali kamu membawa seseorang juga? Pasti lebih menguntungkan kalau ada yang menemani."
"……."
"Apa yang harus aku lakukan? Cukup dengan berhati-hati? Jangan hanya memikirkan apa yang ingin kupikirkan dan jangan melewatkan hal yang penting… begitu kan? Aku tidak akan melakukan kesalahan itu."
"……."
"Kalau di tengah jalan kamu merasa aku mengganggu, tinggal pulangkan saja aku. Aku tidak akan merepotkan lagi."
Baek-ran terus menatap Yu-dan dalam diam. Hingga akhirnya ia berucap pelan, "Ini bukan soal meminta izin padaku. Ini semua tergantung padamu sendiri."
"Tergantung padaku?"
"Bukankah si Kodok Pejabat tadi sudah mengatakannya?"
"Siapa? Si Kodok?"
"Iya. Dia bilang, biarkan saja karena ini adalah pilihanmu sendiri. Kata-katanya membuatku terpikir sesuatu. Apa kamu sadar bahwa kamu selalu membuat pilihan?"
"……Maksudnya?" Yu-dan memiringkan kepalanya bingung.
Baek-ran melanjutkan, "Sejak awal, ini semua adalah pilihanmu. Memilih untuk kembali kemari meski urusan Unusuals-mu sudah selesai. Memilih untuk membantu orang-orang yang diganggu alih-alih mengabaikan mereka. Dan masih banyak pilihan lainnya, bukan?"
"Ya, begitulah."
"Sudah kukatakan bahwa dunia ini seperti labirin. Kita tidak tahu apa yang menanti di depan. Yang terlihat hanyalah persimpangan di depan mata. Kita memilih dan terus memilih jalan mana yang akan diambil. Di saat pilihan dibuat, roda takdir akan berputar dan terkunci. Tak ada jalan kembali. Kamu hanya bisa menonton dengan pasrah bagaimana takdirmu hancur atau kemalangan apa yang akan menimpamu akibat pilihan yang salah."
Siluman rubah berbicara dengan nada lembut dan senyum yang manis, namun Yu-dan justru merasa bulu kuduknya meremang.
"Bukankah ini cerita yang menakutkan?" tanya Baek-ran seolah bisa membaca pikiran Yu-dan.
"Begitulah sifat asli siluman. Saat kecil, mereka bisa bermain denganmu dengan sangat ramah, namun saat kamu menoleh sejenak, wujud mereka bisa berubah menjadi sosok lain yang mengerikan. Membuatmu bergidik ngeri menyadari, 'Makhluk macam apa yang tadi bermain denganku?'"
Sudut bibir Baek-ran terangkat membentuk senyum yang sempurna bak lukisan. "Bagaimana? Apa kamu masih mau bilang kalau aku tidak tahu apa-apa soal permainan?"
"……." Yu-dan hanya bisa terpaku menatap rubah.
"Seperti yang kukatakan, sekali memilih tak ada jalan kembali. Jadi aku tanya sekali lagi. Apa pilihanmu?"
Keheningan yang berat melanda. Semua pasang mata tertuju pada Yu-dan, menanti dalam napas yang tertahan.
"Aku tetap akan ikut."
Tepat saat itu, di tengah kesunyian, Yu-dan seolah mendengar suara klik, suara roda gigi takdir yang saling mengunci satu sama lain.
...........
Glosarium Istilah:
- Haedongjukji (해동죽지): Kumpulan puisi sejarah dan adat istiadat Korea yang ditulis pada akhir abad ke-19.
- Gokdugi (곡두기): Entitas gaib(hantu) yang memberi ilusi atau bayangan yang mempermainkan penglihatan.
- Sunra-gun (순라군): Petugas patroli malam pada masa dinasti di Korea yang bertugas menjaga keamanan dan menegakkan jam malam.
- Mamul (마물): Makhluk atau benda terkutuk yang memiliki kekuatan gaib jahat.
- Jinbeob-eonhae (진법언해): Kitab kuno yang berisi strategi militer atau formasi perang.
