Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 34>
"Tentu saja. Terutama bagi makhluk sepertiku yang memiliki kaitan erat dengan Langit, penilaian yang diberikan akan jauh lebih ketat. Langit bisa saja menunjukkan kasih sayangnya dengan menurunkan Air Embun Suci ke dunia, namun saat murka, Ia akan menjatuhkan Hukuman Langit tanpa ampun seperti ini."
"Kenapa dia sampai bisa menerima hukuman seberat itu?" tanya Yu-dan penasaran.
"Dia dituduh telah mencelakai seorang anak manusia. Sebenarnya, seperti kebanyakan siluman yang kutundukkan, Thunderbolt memang bukan siluman yang memiliki moralitas tinggi atau hidup dengan etika yang benar. Tapi sekarang tidak lagi. Kali ini, penghakiman Penguasa (Sang-je) telah keliru."
Seketika seisi ruangan menjadi gempar. Terutama para siluman tua yang tampak sangat terkejut.
"Beraninya Anda mengatakan hal seperti itu dengan begitu lugas!"
"Cheonho-nim, Anda harus lebih berhati-hati dalam berucap."
"Bagaimana jika ada yang mendengar perkataan barusan?"
Mereka semua tampak ketakutan dan melirik ke sana kemari dengan waswas. Beberapa siluman bahkan menatap Yu-dan dengan tatapan mengancam.
"Kita harus menghapus ingatan manusia ini sebelum dia melangkah keluar dari sini."
"Percuma saja, itu tidak akan mempan padanya," sahut Baek-ran santai.
Yu-dan kemudian bertanya, "Sebenarnya siapa Penguasa itu?"
"Dia adalah penegak hukum. Jika aku harus menjelaskannya padamu, anggaplah dia sebagai sebuah 'logika' atau aturan mutlak alam semesta. Manusia sering kali mempersonifikasikannya dalam wujud Tuhan."
"Rumit sekali."
"Misalnya begini. Apakah kamu tahu tentang garis-garis Nazca? Itu adalah lukisan yang sangat raksasa, sehingga jika kamu berdiri di tanah, kamu hanya akan melihat tumpukan batu dan garis-garis tak bermakna. Jika kamu terbang tinggi ke langit, barulah bentuk monyet, laba-laba, atau burung kolibri akan terlihat jelas. Aturan Langit pun serupa. Begitu besar dan luas hingga manusia hanya bisa melihat sebagian kecil saja. Apalagi dengan usia manusia yang sangat singkat, akan semakin sulit bagi mereka untuk memahaminya."
"Aku mengerti kamu sedang berusaha keras menjelaskan dengan kata-kata yang paling mudah, tapi jujur saja, aku tetap tidak paham."
"Nah, justru itulah intinya. Aku baru saja mengatakan bahwa hal ini memang sangat sulit untuk dipahami."
"Sudah, sudah," si Kodok menyela pembicaraan.
"Bagaimanapun, alasan kami mengajukan petisi ke langit sekarang adalah untuk meminta peninjauan kembali atas Hukuman Langit yang dijatuhkan pada bawahan Cheonho-nim. Situasinya saat ini sangat terjepit. Kekuatan makhluk yang turun dari langit seperti Cheonho-nim berasal dari kepatuhan mereka terhadap logika Langit."
"Di sini, arti 'patuh' adalah tidak ketahuan saat sedang melanggarnya," celetuk Baek-ran.
"Tidak mau mengusir pengikut yang sudah dijatuhi hukuman langit... itu sama saja dengan pembangkangan. Pasti akan ada dampak buruknya."
"Dan arti 'dampak buruk' di sini hanyalah seperti dipukul telapak tangannya beberapa kali," sahut Baek-ran lagi.
"Cheonho-nim! Sikap Anda itu……!" Heuk-yo tanpa sadar berteriak lantang sebelum akhirnya terdiam karena panik. "Anda tidak boleh begitu. Bagaimana jika Anda sampai kehilangan kekuatan Anda…." Kalimatnya menggantung dan ia telan kembali.
Baek-ran menggelengkan kepalanya pelan.
"Lagipula, meskipun aku mengusirnya sekarang, dampak buruknya tetap akan terasa. Jika aku mengakui bahwa salah satu pengikutku telah melakukan dosa, apakah kekuatan yang kalian semua khawatirkan itu akan tetap utuh? Aku sama sekali tidak berniat untuk mengaku kalah begitu saja."
Setelah menegaskan posisinya, Baek-ran kembali menatap Yu-dan.
"Pokoknya, aku rasa rasa penasaranmu sudah cukup terjawab, kan?"
Sepertinya Baek-ran hanya ingin bercerita sampai di situ saja. Namun bagi Yu-dan, itu sudah cukup untuk memahami gambaran besarnya.
"Jadi, karena kamu tidak berniat mengusir serigala itu, kamu harus menemukan anak yang hilang itu untuk membuktikan bahwa dia tidak bersalah?"
"Tepat sekali."
"Itu memang tindakan yang benar," ucap si Kodok dengan wajah cemas. "Namun aku tidak bisa berhenti berpikir. Bagaimana jika semua ini sebenarnya adalah konspirasi seseorang?"
"Teori konspirasi lagi, huh. Kenapa hewan suci sepertimu selalu membawa-bawa teori konspirasi setiap ada kesempatan? Berhentilah menonton drama tentang alien."
Meskipun Baek-ran mencelanya, si Kodok tetap bersikeras.
"Tapi semua orang pasti sudah menduga kalau Cheonho-nim akan bertindak seperti ini, dan sekarang Anda bergerak persis seperti dugaan itu. Kenyataan itu saja sudah cukup membuatku merasa tidak tenang."
"Itu karena jantung kodokmu terlalu kecil. Aku sarankan kamu segera mencari tubuh baru. Sudah waktunya juga, bukan?"
"……."
"Pokoknya, tidak ada kesimpulan lain. Kita harus menemukan anak itu bagaimanapun caranya. Lagipula, menemukan anak yang hilang adalah perbuatan baik, bukan?"
Tak ada yang sanggup membantah perkataan Baek-ran.
"Jadi, begitulah awal ceritanya," Chaewoo menengahi pembicaraan.
Begitu rupanya…
Yu-dan melihat sekeliling ruangan. Tanpa ia sadari, ruangan itu sudah dipenuhi oleh berbagai siluman yang ikut mendengarkan.
"Tapi jika ada urusan seperti ini, bukankah seharusnya kamu memanggilku juga?" tanya Yu-dan, membuat Baek-ran sedikit mengangkat alisnya.
"Kenapa kamu berpikir begitu?"
"Kan kamu sendiri yang bilang kalau mataku bisa melihat hal-hal yang tersembunyi rapat sekalipun. Bukan cuma itu, aku juga menarik mereka. Sejak kecil, siluman dan hantu selalu mengerumuniku, dan sekarang bahkan Unusuals atau orang-orang yang diganggu pun datang padaku. Aku ini seperti magnet hidup. Jadi mungkin saja aku bisa menemukan sesuatu, kan?"
Yu-dan menatap semua orang di ruangan itu. Si kembar tampak mengangguk setuju.
"Daripada membuat semua orang khawatir karena kamu mencoba menelusuri mimpi, kalau aku jadi kamu, aku akan memanggilku dan menyuruhku melihat foto itu. Apa sulitnya? Cukup telepon saja. Kalau malas menelepon, kirim pesan singkat juga boleh. 'Bisa datang ke sini sebentar untuk melihat ini?' Kalau kamu memanggilku apa adanya, aku juga akan melihat apa adanya. Kalau terlihat ya terlihat, kalau tidak ya sudah……."
"Benar juga. Itu terdengar sangat praktis. Kalau begitu, coba lihat ini."
Tuan Do menyodorkan sebuah foto. Gerakannya sangat cepat untuk ukuran seorang dokkaebi paruh baya, entah sejak kapan ia sudah memegang foto itu. Baek-ran sempat ingin merebut foto itu kembali, namun ia akhirnya menyerah melihat tatapan penuh harap dari semua orang.
Yu-dan menunduk menatap foto di tangannya. Seorang anak perempuan kecil berdiri dengan latar belakang lapangan bisbol. Ia memakai topi baret bundar, atasan berwarna kuning cerah seperti anak ayam, dan gaun terusan motif kotak-kotak. Anak itu tersenyum lebar hingga gigi taringnya terlihat, sambil memegang bola bisbol yang sudah ditandatangani.
"Itu foto yang diambil tepat di hari ia menghilang," jelas ChaeWoo.
Yu-dan memusatkan seluruh konsentrasinya pada foto tersebut. Namun meski sudah menatapnya cukup lama, ia tidak melihat apa pun. Bahkan tidak ada sensasi samar sedikit pun yang ia rasakan.
"Melihat benda mati jauh lebih sulit daripada melihat roh. Jangan memaksakan diri melakukan sesuatu yang belum pernah kamu latih sebelumnya," ucap Baek-ran mencoba mengambil foto itu kembali, namun Yu-dan mencengkeramnya erat.
"Aku mau melihat lebih lama lagi."
"Apa adanya sekal, heh."
"Tunggu sebentar. Baru juga berapa menit lho? Lagipula foto ini tidak akan kalian pakai dalam waktu dekat, kan?"
"Benar juga. Tapi sebaiknya Anda istirahat dulu sebentar," ucap Heuk-yo dengan tegas. Namun Baek-ran menggeleng.
"Sudah waktunya para siluman yang kukirim berpatroli kembali. Aku harus menemui mereka dulu."
Yu-dan kembali menatap foto itu lekat-lekat. Baek-ran yang hendak melangkah menuju ruang kerja ingin mengatakan sesuatu, namun si kembar segera menyela.
"Biarkan saja. Nanti dia juga akan berhenti sendiri kok."
"Benar. Sebentar lagi makhluk ini juga menyerah," tambah Yu-dan.
"Katanya begitu, Cheonho-nim," ucap Chae-seol sambil mendorong punggung Baek-ran keluar. Heuk-yo, Tuan Do, dan para siluman tua pun ikut mengekor keluar mengikuti siluman rubah itu.
Yu-dan kini duduk sendirian di kamar tidur yang sudah sunyi dan kembali fokus. Ia menatap wajah polos anak itu dan mulai berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada anak yang tersenyum cerah memakai baret ini? Jika ini perbuatan Unusuals, makhluk macam apa yang membawanya pergi?
Ia terus menatap tanpa berkedip. Entah sudah berapa lama, tiba-tiba ia merasa seolah-olah sosok anak itu mulai bergerak pelan. Mungkin itu hanya ilusinya saja. Namun perlahan-lahan garis tepinya mulai memudar, dan warna-warna di foto itu mulai tampak buram.
Tepat saat itu, foto itu bergerak. Secara refleks Yu-dan menyambarnya. Ternyata Baek-ran yang melakukannya.
"Kapan kamu masuk?"
"Sepertinya kamu memang benar-benar konsentrasi," sahut siluman rubah itu dengan nada takjub bercampur heran. "Aku sudah mondar-mandir di sini sejak tadi."
"Oh ya? Aku tidak tahu."
Yu-dan kembali menatap fotonya. "Biarkan saja aku begini. Nanti juga aku berhenti sendiri."
"Memangnya ada yang melarang?" sahut Baek-ran sebelum akhirnya keluar lagi.
Yu-dan mencoba berkonsentrasi kembali, namun kali ini Tuan Do masuk dengan langkah mengendap-endap. "Ada yang terlihat?"
"Belum. Rasanya seperti hampir terlihat tapi menghilang lagi... Entahlah, ternyata lebih sulit dari dugaanku."
"Jangan dipaksakan, nanti matamu bisa rusak. Sini coba Paman lihat. Tadi Cheonho-nim melarangku melihatnya. Berikan padaku."
Begitu Yu-dan menyerahkannya, foto itu langsung direnggut dengan kasar. Eh? Saat diperhatikan lagi, ternyata itu bukan Tuan Do melainkan Baek-ran.
"Apa-apaan! Sekarang kamu pakai trik segala?"
"Sudah waktunya makan malam."
"Hah? Makan malam?"
Barulah Yu-dan menyadari cahaya matahari yang masuk dari jendela bundar sudah berubah kemerahan. Perabotan di dalam kamar pun sudah terpapar warna senja.
"Kapan waktu berlalu secepat ini?"
"Turunlah dan makan malam. Setelah itu, pulanglah ke rumah. Apa kamu tidak berniat masuk sekolah?"
"Benar juga……."
"Ada satu hal lagi yang lupa kukatakan. Jangan naik ke atas sini lagi." Baek-ran mendorong Yu-dan keluar lalu menutup pintu rapat-rapat.
Yu-dan mengernyitkan dahi. Kenapa sulit sekali kali ini?
Biasanya, hal-hal seperti ini muncul sendiri di depan matanya meskipun ia tidak ingin melihatnya. Ia bahkan sering berharap agar tidak bisa melihat apa-apa. Namun kali ini, meskipun sangat ingin melihat, ia tidak bisa menangkap apa pun. Segalanya terasa sangat samar dan sulit dijangkau.
Jika Cheon-an adalah mata yang hebat, bukankah seharusnya ia bisa melihat ini? Yu-dan tenggelam dalam pikirannya dengan wajah serius.
Setelah makan malam, ia pun terpaksa "diusir" pulang. "Sekolah tetap harus yang utama," ucap para siluman serempak. Si kembar mengantarnya sampai depan.
"Yah, jangan terlalu dijadikan beban."
"Benar. Kalau terlihat ya syukur, kalau tidak ya sudah. Begitulah hidup."
Namun sorot mata kedua anak itu mengatakan hal yang berbeda. Tolong, temukanlah sesuatu. Tatapan mereka seolah-olah sedang memohon dengan sangat padanya.
Sebenarnya bukan karena permohonan mereka juga, tapi…. Kejadian itu terus terngiang di kepalanya. Saa mandi di rumah, y berbaring hendak tidur, pikirannya terus berputar.
Sebenarnya di mana anak itu sekarang?
Yu-dan bangun dan menyalakan komputernya. Saat ia mencari berita, ternyata benar bahwa kejadian itu sempat menghebohkan dua bulan lalu. Seorang anak yang hilang tiba-tiba dari parkiran apartemen. Banyak artikel yang bermunculan. Yu-dan mengklik sebuah video berita.
"……Hari ini memasuki hari ketiga sejak korban dinyatakan hilang, namun belum ada jejak yang ditemukan. Polisi telah mengerahkan 7 kompi pasukan yang terdiri dari 560 personel untuk menyisir perbukitan di sekitar lokasi. Selain itu, mereka juga melakukan analisis mendalam terhadap rekaman CCTV di sekitar area kejadian dan berencana membagikan 100.000 selebaran tambahan di seluruh negeri."
Adegan berganti memperlihatkan wajah orang tua yang menangis histeris. Hati Yu-dan terasa sesak.
Siapa sebenarnya yang menculiknya? Jika aku benar-benar punya Cheonan, bukankah seharusnya aku bisa melihat hal seperti itu?
Keesokan harinya setelah pulang sekolah, Yu-dan memutuskan pergi ke lokasi kejadian. Ia tahu lokasinya secara garis besar. Karena kasus ini sangat viral, meskipun lokasinya tidak disebutkan detail di berita, namun di forum-forum internet sudah tersebar informasi lengkap mengenai gedung apartemen dan profil orang tua anak tersebut.
Area parkir itu tampak sepi. Yu-dan mendatangi tempat persis di mana anak itu dikabarkan menghilang.
Malam itu, ayah si anak mengendarai mobil dan parkir di sini. Ia membuka pintu, menurunkan anaknya terlebih dahulu, lalu membungkuk mengambil barang di kursi penumpang… dan dalam waktu 10 detik yang singkat itu, sang anak lenyap.
Mungkinkah ada jejak yang tertinggal? Bekas kaki, atau sisa aura mistis tertentu? Meski sangat samar pun tak apa, tolong perlihatkan sesuatu.
Yu-dan menyisir setiap sudut area itu, namun ia tidak menemukan apa-apa. Tepat saat ia menyerah dan hendak berbalik, embusan angin kencang menerjang ujung seragam sekolahnya. Seketika, sebuah suara aneh melintas di telinganya. Seperti sebuah nyanyian.
Yu-dan menoleh dengan cepat. "Siapa di sana?"
Tak ada siapa pun. Kecuali sebuah mobil hatchback kuning yang terparkir di kejauhan, benar-benar tidak ada siapa-siapa.
Apa itu tadi…….
Dengan perasaan mengganjal yang tak kunjung hilang, ia melangkah menuju Banwoldang. Suasana di sana masih terasa suram. Namun saat melihat Yu-dan datang, wajah si kembar sedikit cerah.
"Kamu datang? Cheonho-nim ada di atas."
"Ada petunjuk baru?"
"Tidak ada."
"Fotonya?"
"Karena beliau berniat menyembunyikannya, aku sudah mengambilnya terlebih dahulu untukmu."
Tuan Do mengeluarkan foto anak itu dari sakunya dan menyerahkannya. Yu-dan menatap sang dokkaebi lekat-lekat lalu menusuk pipinya dengan jari.
"Aduh! Apa-apaan kamu ini?"
"Bukan, cuma memastikan kalau ini benar Paman." Sepertinya bukan Baek-ran yang sedang menyamar.
Sambil membawa foto itu, Yu-dan naik ke lantai dua. Baek-ran sedang duduk di ruang kerja bersama para siluman tua. Mereka tampak sedang berdiskusi sambil mengeluarkan sebuah kompas kuno yang sangat rumit, lalu menoleh ke arah Yu-dan dengan ekspresi 'Hah, dia datang lagi'.
"Biarkan saja dia," ucap si Kodok dengan cepat. "Bukan karena ada yang menyuruh, tapi karena dia sendiri yang mau melakukannya. Bukankah ini adalah pilihannya sendiri?"
Baek-ran menatap si Kodok. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, namun ia mengurungkan niatnya dan kembali terdiam.
Yu-dan pun duduk di sudut ruang kerja. Saatnya kembali memusatkan konsentrasi. Atas isyarat si Kodok, para siluman tua perlahan-lahan mundur dan keluar dari ruangan. Ruang kerja pun kembali sunyi.
Entah sudah berapa lama ia menatap foto itu. Kini, bahkan tanpa melihat foto pun, wajah anak itu sudah terbayang jelas di depannya. Namun ia tetap memfokuskan pandangannya pada foto itu. Seumur hidup, ia belum pernah menatap seseorang seintens ini.
Anak yang memakai baret. Anak yang tersenyum riang. Siapa sebenarnya yang berani menculik gadis kecil yang tampak penuh semangat ini? Jika ia tak ada di dunia fana maupun alam baka, lalu di mana ia sekarang? Makhluk macam apa pelakunya?
Sambil terus menatap, perlahan-lahan kesadarannya mulai meredup. Kelopak matanya terasa sangat berat. Ia tidak bisa menggerakkan jarinya, persis seperti sedang mengalami kelumpuhan tidur (sleep paralysis).
Melalui matanya yang setengah terpejam, ia melihat siluman rubah. Sepertinya sejak tadi Baek-ran terus mondar-mandir di ruang kerja, namun Yu-dan terlalu fokus pada fotonya hingga tidak menyadarinya.
Saat itulah Baek-ran melirik ke arahnya. Melihat Yu-dan yang tampak tertidur, ekspresinya berubah menjadi aneh. Ia mendekat dan mengamati wajah Yu-dan dari dekat. Setelah melambaikan tangan beberapa kali di depan wajah Yu-dan, ia bangkit berdiri, melihat sekeliling sekali lagi, lalu masuk ke kamar tidur.
Entah mengapa, Yu-dan bahkan tidak bisa menggerakkan satu ujung jaripun. Baek-ran menyibak tirai di dalam, dan sesaat kemudian lonceng emas yang tergantung di tali menjuntai keluar.
Apa dia pikir aku tidak akan berhasil?
Dalam kondisi antara sadar dan tidak, pikiran Yu-dan seolah-olah berubah menjadi ruang hampa udara. Seluruh pemandangan dan suara dunia ini tersedot habis, hanya menyisakan kesunyian yang mutlak. Di tengah keheningan yang mencekam itu, sosok anak di foto itu mulai tampak buram.
Tiba-tiba, suara berita terdengar di telinganya. Sebuah sesi wawancara.
"Seluruh penduduk di sini sangat terpukul. Kami semua berharap anak itu bisa segera kembali ke pelukan orang tuanya." Terlihat seorang pria paruh baya mengenakan baju olahraga berbicara dengan dialek yang kaku.
Hah…? Berita ini aku tidak melihatnya di internet tadi malam.
Mungkinkah aku sedang 'melihat' sesuatu sekarang? Tapi bukan ini yang aku inginkan. Bukan hal-hal semacam ini…
Foto itu kembali memudar. Sekali lagi garis-garis tepinya hancur, dan warna-warnanya mulai bercampur membentuk pusaran angin. Segalanya mulai berputar. Hingga pada satu saat, suara dengingan tajam menusuk telinganya.
Sensasi yang sangat ia kenal.
Yu-dan membencinya. Benar-benar membenci perasaan ini. Kebencian, amarah, kejijikan, dendam… semua emosi negatif di lubuk hatinya seolah terpancing keluar. Seluruh indranya menjadi sangat sensitif terhadap aura makhluk gaib.
Suara keramaian mulai terdengar di telinganya. Apa ini? Suara anak-anak yang sedang mengobrol?
……Bukan. Itu adalah nyanyian. Nyanyian yang sama dengan yang ia dengar di lokasi kejadian di apartemen tempo hari. Yu-dan memusatkan seluruh perhatiannya, hingga di antara derau statis yang mendengung, ia mulai bisa mendengar potongan kata-kata dari nyanyian tersebut.
... . . . . . . . ..
Glosarium Istilah:
- Cheon-beol (천벌): Hukuman Langit; hukuman mutlak dari otoritas dewa tertinggi yang tidak bisa dibatalkan oleh kekuatan siluman biasa.
- Cheon-an (천안): Mata Langit; kemampuan penglihatan supranatural tertinggi yang dimiliki Yu-dan.
- Sang-je (상제): Sang Maha Penguasa; personifikasi dari otoritas tertinggi atau dewa pencipta dalam mitologi Asia Timur.
