Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 33>

Kisah ke-sembilan

<Permainan Gokdugi>


Ini adalah kejadian nyata yang aku saksikan sendiri saat aku sedang menetap di Yeongcheon.

​Suatu hari, seorang anak di desa itu menghilang secara misterius tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Seluruh penduduk desa turun mencari dengan membawa obor yang menyala, namun keberadaannya tak kunjung ditemukan. Selama berbulan-bulan, orang tuanya berhenti makan dan minum, hanya bisa bersujud memohon bantuan langit. Hingga tiba-tiba, seikat potongan rambut kepang sang anak jatuh begitu saja dari langit. Bentuk kepangan dan warna pitanya masih persis sama dengan saat terakhir kali dirapikan oleh ibunya di pagi hari saat ia menghilang.

​Meski orang tuanya menangis hingga suaranya serak, anak itu tak pernah kembali sampai akhir.

​『Cheongheomunjip (Kumpulan Tulisan Cheongheo)』


●◉◎◈◎◉●


​Malam telah turun, membuat pepohonan bunga di tengah kota bersinar dengan warna yang berbeda di bawah pendar lampu jalan. Setiap kali angin berembus, kelopak-kelopak bunga yang berkilauan berguguran dengan anggun.

​……Apa di sini tempatnya?

​Yu-dan menghentikan sepedanya tepat di depan sebuah kompleks apartemen.

​Gedung A dan Gedung B. Hanya ada dua gedung apartemen tipe lorong di sana. Pohon-pohon sakura yang tinggi seakan mengepung seluruh kompleks tersebut. Yu-dan mulai menuntun sepedanya masuk ke dalam.

Apa 'sesuatu' yang kulihat saat lewat beberapa hari lalu masih ada di sana?

​Ternyata dugaannya benar. Sesuatu itu masih di sana.

​Yu-dan menengadah, menatap tajam ke arah atap apartemen. Membelakangi langit malam yang pekat, seorang siswa laki-laki berdiri mematung di tepian atap. Ia terdiam cukup lama sebelum akhirnya tiba-tiba melompat terjun.

BRUK!

​Suara itu sebenarnya hanyalah imajinasi yang muncul di kepala Yu-dan. Tubuh siswa itu hancur berantakan di atas lantai semen tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Darah merah mulai merembes dan menyebar di permukaan jalan.

​Yu-dan terus memperhatikannya dalam diam.

​Tak lama kemudian, gundukan daging yang hancur itu mulai menggeliat perlahan. Lengan yang terpelintir meraba-raba lantai untuk mencari tumpuan. Setelah beberapa kali usaha yang memilukan, kepala yang pecah itu akhirnya berhasil terangkat dari tanah. Siswa itu berjuang bangkit berdiri sekuat tenaga. Anggota tubuhnya yang semula bersimbah darah perlahan-lahan kembali ke wujud semula seolah waktu diputar balik.

​Siswa itu mulai berjalan perlahan. Punggungnya yang melangkah masuk ke pintu lobi apartemen segera tertelan oleh kegelapan.

​Hanya berselang sejenak, siswa itu muncul kembali di atas atap. Ia kembali berdiri diam, lalu tiba-tiba melompat terjun lagi. Dan hancur lagi di lantai semen.

​Yu-dan menunggu dengan sabar. Ini adalah pekerjaan yang benar-benar menguji ketahanan mental. Akhirnya siswa itu bangkit lagi. Saat sosok itu mulai melangkah lesu menuju lobi, Yu-dan memanggil punggungnya.

​"Hei, kamu. Tunggu sebentar…."

​Namun seolah tuli, siswa itu masuk begitu saja ke lobi. Kemudian ia jatuh lagi. Hancur lagi.

​Saat sosok itu mulai merangkak mencari wujudnya kembali, Yu-dan mendekatinya.

​"Tunggu dulu."

​Ia mengulurkan tangan, namun tangannya menembus tubuh hantu itu layaknya menyentuh udara hampa. Siswa itu kembali naik ke atas atap.

​BRUK! Sekali lagi, sosok berseragam sekolah itu hancur di lantai semen.

Aneh. Padahal biasanya kalau aku memegang, mendorong, atau memukul hantu, tanganku selalu bisa menyentuh mereka.

​Yu-dan menatap telapak tangannya sendiri dengan bingung. Begitu siswa itu bangkit lagi, ia mendekat dan mencoba menangkapnya sekali lagi.

​"Kamu……."

​Tangannya kembali menembus. Ia mulai berpikir sambil menatap siswa yang muncul lagi di tepian atap. Apa aku harus melakukannya lebih pelan? Lebih lembut? Seperti sedang mencoba menyapa seseorang?

​Siswa itu hancur lagi di depan matanya. Tak lama berselang, ia mulai melangkah pelan untuk jatuh kembali. Yu-dan mengulurkan tangan menuju ujung seragam sekolah birunya.

​"Tunggu sebentar."

​Kali ini ia berhasil. Ujung pakaian itu terasa di genggamannya. Siswa itu mendadak berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menatap Yu-dan dengan mata roh yang kosong. 

Yu-dan berkata pelan, "Kenapa kamu melakukan ini terus? Sekarang kamu tidak perlu melompat lagi. Kamu sudah mati."

​Roh itu hanya menatap Yu-dan dengan wajah yang memilukan. Sesaat kemudian, ia menunduk melihat ke bawah. Lantai semen terlihat menembus tubuhnya yang transparan. Sepertinya, ia baru menyadari statusnya sendiri sekarang.

​「Huuu…….」

​Meninggalkan suara yang terdengar seperti helaan napas panjang, sosoknya perlahan memudar. Cahaya redup berkedip lalu berhamburan di udara. Yu-dan menunggu sejenak sambil mengikuti sisa cahaya itu dengan pandangannya.

​Ia tidak merasakan apa pun.

​Siluman rubah biasanya menatap cahaya sisa roh seperti ini seolah-olah sedang menyaksikan keajaiban. Yu-dan mengira mungkin ada sesuatu yang spesial, namun ia tetap tidak bisa merasakan apa-apa. Ini adalah pertama kalinya ia berinisiatif secara sukarela mencari dan membantu sebuah roh, namun sepertinya pekerjaan semacam ini memang tidak cocok untuknya. Hanya terasa canggung dan membuat salah tingkah.

​Angin malam yang dingin menyadarkannya kembali. Berharap tidak ada orang yang melihat tingkah lakunya yang aneh tadi, ia segera menuntun sepedanya keluar dari kompleks apartemen itu dengan terburu-buru, namun…

​"Yu-dan?"

​Sebuah suara memanggilnya dari belakang. Ia tersentak kaget dan menoleh. Ternyata seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Sepertinya mereka baru saja pulang menjalankan tugas, masing-masing membawa bungkusan kain sutra besar. Saat bertemu di tengah kota seperti ini, seragam pelayan kedai tradisional dan wajah imut mereka yang sangat mirip terlihat sangat mencolok.

​Si kembar ginseng tersenyum cerah dan bicara bersamaan.

​"Oh, ternyata benar ini Yu-dan."

"Sedang apa di tempat seperti ini?"

​Karena merasa tertangkap basah, Yu-dan menjawab asal. "Yah, cuma jalan-jalan lalu tersesat…."

​Pandangan si kembar serentak tertuju pada sepeda Yu-dan. Ekspresi mereka berubah menjadi sangat unik.

​"Hmm, sepertinya kamu sedang mengajak… sepeda jalan-jalan…."

Ah, sial. Benar-benar memalukan.

​Namun di luar dugaan, si kembar tidak terlalu mempedulikan alasan konyol itu.

​"Begitu rupanya. Kami baru saja selesai menjalankan tugas."

"Tugas di sekitar sini?" tanya Yu-dan.

"Bukan. Sebenarnya tadi kami melihatmu naik sepeda, kami merasa itu pasti Yu-dan jadi kami mengejarmu. Kami sudah panggil berkali-kali tapi kamu sama sekali tidak menoleh."

​Barulah Yu-dan menyadari bahwa sepatu kedua anak itu penuh dengan debu tanah. Sepertinya mereka benar-benar berlari kencang dari tempat yang cukup jauh.

​"Begitukah? Aku benar-benar tidak dengar."

​"Kenapa kamu berkeliaran di tempat sepi selarut ini? Kita tidak tahu apa yang sedang mengintai di dalam kegelapan. Kamu kan punya mata yang berharga. Siapa tahu ada yang menginginkannya dan berniat mencelakai. Kamu harus lebih waspada."

​"Terima kasih atas perhatiannya." Yu-dan pun berjalan perlahan bersama si kembar.

​"Aku sempat bertanya-tanya kenapa belakangan ini kamu tidak mampir ke toko. Tentu saja itu sebenarnya hal yang bagus. Artinya lingkungan di sekitar Yu-dan sedang tenang dan damai, kan? Syukurlah kalau begitu. Tapi sepertinya kamu sedang sibuk?"

​"Tidak juga. Cuma ada yang harus aku pikirkan sedikit…." Yu-dan baru menangkap makna tersembunyi di balik ucapan Chae-seol sedetik kemudian. "Jadi maksudmu di tempat kalian sedang tidak damai?"

​Wajah si kembar seketika berubah murung.

​"Belakangan ini ada masalah yang membuat Cheonho-nim sangat pusing."

"Benarkah? Rasanya sulit dipercaya dia bisa pusing," sahut Yu-dan.

"Ini sungguhan, Tuan Muda," Chaewoo menghela napas panjang.

​Yu-dan terperanjat. Siluman ginseng yang biasanya selalu tersenyum positif ini sampai menghela napas? Sepertinya memang ada masalah yang sangat serius.

​"Sebenarnya ada masalah apa?"

​"Selama Tuan Muda tidak datang dan keadaan terasa tenang, hari-hari kami di toko juga berlalu dengan sangat sunyi. Tidak ada orang yang datang melaporkan kejadian aneh. Sampai beberapa hari yang lalu, kami mengetahui sebuah kasus. Lebih tepatnya, kami menerima sebuah 'pemberitahuan'."

​"Pemberitahuan?" Yu-dan menatap wajah Chaewoo bingung. Istilah yang terdengar sangat formal dan aneh.

​"Ada kejadian yang sangat ganjil," Chae-seol menyambung pembicaraan. "Seorang anak perempuan menghilang hanya dalam waktu 10 detik di area parkir apartemen. Tepat 10 detik. Setelah ibunya menurunkan anak itu dari mobil dan hendak mengambil barang di kursi depan, anak itu sudah hilang. Tidak ada siapa pun di sekitar sana, hanya deretan mobil yang parkir. Petugas keamanan tidak melihat apa-apa, saksi mata lain pun tidak ada. Anak itu lenyap begitu saja seperti ditelan bumi."

​Yu-dan mengernyitkan dahi sambil mulai berpikir keras. "Apa menurut kalian ini perbuatan Unusuals?"

​"Kemungkinan besar iya. Tapi masalahnya tidak ada petunjuk sedikit pun. Kejadiannya sudah berlangsung agak lama, dan makhluk yang suka menculik anak-anak itu jumlahnya terlalu banyak. Anak itu menghilang dari dunia fana, namun anehnya dia juga tidak ditemukan di alam baka. Cheonho-nim sudah mencoba menyelidiki ke sana kemari, tapi karena benar-benar tidak ada sisa energi yang ditemukan, beliau menyerah memberikan jawaban seperti itu, namun…."

​Chae-seol ragu sejenak untuk melanjutkan. Wajah si kembar kini tampak semakin suram dan gelap.

​"Tiba-tiba muncul alasan mendesak mengapa anak itu harus ditemukan, apa pun risikonya."

"Alasan apa?" tanya Yu-dan penasaran.

"Hanya sebuah alasan pribadi. Ah, aku sebenarnya tidak boleh menceritakan ini padamu."

​"Hei! Mana boleh kalian berhenti bercerita di bagian paling seru begitu? Kalian sedang bercanda?"

​"Bercanda apanya. Apa kamu tidak lihat ekspresi kami? Kami tidak pernah seserius ini seumur hidup."

​"Sudahlah, ceritakan saja semuanya. Ayo kita masuk ke kedai itu, aku akan belikan kalian burger."

​Yu-dan mencoba menahan mereka, namun si kembar menghindar dengan sangat lincah.

​"Ehehe. Kami sedang sangat sibuk sekarang."

"Mereka di toko pasti sudah khawatir kenapa kami terlambat pulang. Apalagi suasana di dalam toko sedang kacau."

​Tanpa terasa mereka sudah sampai di pinggir jalan raya yang terang.

​"Kalau begitu, sampai jumpa lagi."

"Jangan begitu. Jika kita bertemu, itu artinya ada hal merepotkan lagi yang akan menimpa Yu-dan. Lebih baik kita tidak usah bertemu saja."

"Ah, ucapan Kakak ada benarnya. Sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi. Selamat tinggal!"

"Selamat tinggal!"

​Si kembar ginseng menghilang dari pandangan dengan sangat cepat.

​"Tunggu sebentar!" Yu-dan mencoba mengejar dengan sepedanya, namun kedua anak itu sudah hilang tanpa jejak. Bahkan bayangannya pun tak lagi terlihat.

Apa-apaan mereka itu……. Yu-dan merasa benar-benar konyol.

​Jalan tradisional yang rimbun dengan pepohonan Hoehwa. Tempat di mana berkumpulnya berbagai restoran Korea, kedai teh, toko hanbok, toko barang antik, dan galeri kerajinan. Kini Yu-dan sudah sangat terbiasa dengan atmosfer klasiknya yang kental. Terutama rumah hanok berlantai dua dengan papan nama "Banwoldang", ia bahkan merasa bisa menemukannya meski dengan mata tertutup sekalipun.

​Begitu ia membuka pintu kayu toko tersebut, firasatnya terbukti benar. Suasana di dalam terasa sangat mencekam dan tidak tenang. Si kembar yang sedang berjaga di balik kasir segera memalingkan wajah mereka saat melihatnya.

​"Langsung datang kemari... Rasanya seperti kamilah yang memanggilmu tadi."

Memang kalian yang memanggilku tadi kan, batin Yu-dan ketus, namun ia menelan kalimat itu kembali.

​Sepertinya memang sedang terjadi kejadian luar biasa. Terlihat beberapa siluman asing di dalam toko. Mereka bukan jenis siluman jelata yang biasa ia temui di jalanan, melainkan siluman-siluman tua berwibawa yang mengenakan pakaian pejabat zaman dinasti. Mereka tampak sedang bersujud di lantai sambil berbisik-bisik dengan nada cemas.

​"Sedang apa mereka semua?" tanya Yu-dan.

​"Sedang mengajukan petisi kepada langit," sebuah suara nyaring menyahut. Si Kodok berpakaian pejabat tiba-tiba bangkit berdiri dan mendekat ke arahnya.

​"Senang kamu datang di saat genting seperti ini. Katanya di antara sekian banyak manusia yang pernah menerima budi baik Cheonho-nim, hanya kamulah yang unik karena tidak pernah melupakannya dan rajin berkunjung? Selain menemani beliau mengobrol, katanya kamu juga sering membantu urusan di sini? Sungguh pemuda yang terpuji."

​Si kodok mengulurkan tangannya seolah ingin mengelus kepala Yu-dan. Tentu saja itu hanyalah angan-angan semata. Seberapa tinggi pun ia berjinjit, tangan hijaunya bahkan tidak mampu mencapai tulang kering Yu-dan. Akhirnya ia menyerah dan meminta bantuan siluman di sekitarnya.

​"Tolong naikkan aku ke bahu manusia ini agar aku bisa mengelus kepalanya dengan layak."

​"Sudahlah, jangan macam-macam! Ngomong-ngomong kamu ini sebenarnya makhluk apa? Kenapa sampai ikut-ikutan mengajukan petisi?"

​"Aku? Aku hanyalah seorang pejabat. Dulu aku melayani Raja Naga, tapi saat ini aku tidak memiliki instansi tetap. Rasanya jauh lebih tenang jika ada seseorang yang bisa kulayani, namun Cheonho-nim masih belum mau menerimaku."

​"Berarti kamu itu pengangguran, kan?" sahut Yu-dan telak.

​"Beliau ini sebenarnya adalah Shinsu (Hewan Suci). Tugas utamanya adalah menjalankan kehendak langit untuk menertibkan hal-hal jahat di tanah ini," Chaewoo memberikan penjelasan.

​"Kodok? Hewan suci? Kodok suci?"

​"Aku hanya mengambil wujud yang paling memudahkan pergerakanku saat ini saja."

​"Sudahlah, ayo naik dulu ke atas," Chae-seol mendorong punggung Yu-dan untuk segera menaiki tangga.

​Yu-dan naik ke lantai dua diikuti oleh ChaeWoo, Tuan Do, si Kodok, bahkan siluman-siluman tua tadi pun ikut mengekor di belakangnya. Di depan pintu masuk lantai dua, Heuk-yo tampak sedang duduk berjaga sambil mememgang pedangnya erat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun saat melihat Yu-dan, seolah sudah memprediksi kedatangannya.

​Ruang kerja Baek-ran tampak terbuka di salah satu sisinya. Yu-dan baru menyadari kalau salah satu bagian dari rak buku besar itu sebenarnya adalah pintu rahasia. Di dalamnya, terlihat sebuah ruangan lain yang belum pernah ia lihat.

​Dari balik kepulan asap dupa yang sangat pekat, terlihat sebuah tempat tidur raksasa berbentuk kotak yang terbuat dari kayu berwarna gelap. Ukirannya tampak sangat mewah, rumit, dan detail. Tirai sutra tebal menutupi seluruh sekelilingnya, dan di bagian atas tampak sebuah lonceng emas yang tergantung pada seutas tali sutra merah.

​"Beliau saat ini sedang tidur," bisik Chae-seol, dan dari nada bicaranya, Yu-dan langsung tahu bahwa itu bukanlah sekadar tidur siang biasa.

​"Seperti yang sudah kukatakan, makhluk yang gemar menculik anak-anak itu jumlahnya sangat banyak. Ingat kasus Pencuri Jiwa dulu? Saat itu Yu-dan melihat langsung lokasinya dan menceritakannya kepada kami, sehingga Cheonho-nim bisa langsung tahu identitas pelakunya. Tapi untuk kasus kali ini, lokasi kejadiannya benar-benar bersih dan tidak ada bukti fisik sedikit pun."

​"Karena itulah beliau mencoba mencari petunjuk melalui penjelajahan mimpi. Namun sampai sekarang masih belum ada hasil yang memuaskan," Chaewoo menunjuk ke arah lonceng emas di atas. "Jika beliau pergi terlalu jauh di alam mimpi, lonceng itu akan berbunyi dengan sendirinya. Saat itulah tugas kami untuk segera membangunkannya."

​"Aha. Jadi itu fungsi loncengnya."

​"Untuk sekarang, mari kita tunggu saja di sini."

​Yu-dan pun akhirnya duduk di lantai. Asap tipis mengepul dari pembakar dupa berbentuk naga yang terbuat dari batu giok hijau. Di baliknya, terlihat sebuah jendela bundar yang indah. Di dinding tergantung sebuah lukisan kaligrafi gulung yang aksaranya tidak mampu ia pahami. Di atas meja kerja terdapat sebuah vas bunga berisi dahan bunga plum hijau yang segar dan beberapa buku tebal.

​Tiba-tiba, lonceng emas itu berbunyi nyaring, tring tring. Si kembar ginseng segera berlari dan menarik tali sutra tersebut.

​Di balik tirai sutra yang tebal, bayangan siluman rubah tampak bangkit berdiri. Sesaat kemudian, sebuah tangan putih terjulur keluar dan menyibak tirai tersebut.

​Chae-seol segera angkat bicara dengan nada khawatir, "Cheonho-nim. Sudah cukup. Melakukannya tiga kali dalam dua hari itu sudah sangat berbahaya bagi Anda."

​"Tapi—" Kalimat Baek-ran terhenti saat ia menyadari keberadaan Yu-dan di ruangan itu. Ia perlahan meletakkan foto seorang anak kecil yang sejak tadi ia pegang di tangannya yang lain.

​"Apa telah terjadi sesuatu yang aneh lagi di sekitarmu?" tanya Baek-ran.

"Tidak. Semuanya tenang-tenang saja."

"Lalu siapa yang berani membiarkannya masuk sampai ke ruangan ini?" tanya Baek-ran kepada para pengikutnya.

​"Sudahlah, pokoknya aku sudah mendengar garis besar ceritanya," Yu-dan memotong pembicaraan. Baek-ran menatap yang lain dengan tatapan mencela, membuat semua siluman di sana serentak memalingkan wajah mereka karena tak enak.

​"Tapi aku masih belum mendengar bagian yang paling penting. Katanya kalian menerima sebuah 'pemberitahuan', sebenarnya siapa yang memberitahukannya pada kalian? Dan kenapa anak itu sangat penting untuk ditemukan?"

​Saat itulah Yu-dan menyadari sesuatu yang janggal. Di punggung tangan kiri Baek-ran terdapat sebuah noda hitam yang sangat pekat. Saat Yu-dan memperhatikannya dengan saksama, noda itu tampak menggeliat seolah hidup, membentuk sebuah aksara kuno. Aksara Tulang Ramalan (Gapgolmunja)? Sepertinya itu adalah jenis tulisan dari masa yang sangat purba.

​"Kenapa dengan tanganmu itu?" tanya Yu-dan tanpa basa-basi.

​Baek-ran segera menyembunyikan tangan kirinya di balik lengan baju. Si Kodok Pejabat berdecak kagum di samping Yu-dan. "Kamu sungguh bisa melihat tanda itu? Benar-benar kemampuan Cheonan. Penglihatanmu bisa menembus apa pun."

​"Percuma saja bisa melihatnya jika dia sendiri tidak tahu apa artinya," sahut siluman rubah dingin sambil menatap tajam ke arah Yu-dan.

​"Hal-hal yang melibatkan logika keseimbangan langit dan bumi seperti ini sama sekali tidak akan berguna jika diketahui oleh manusia biasa. Apa kamu masih bersikeras ingin tahu?"

"Iya."

​Baek-ran memutar pergelangan tangannya dengan gerakan anggun. Sebuah pola kecil di kulitnya terlihat berkilat sekilas, dan di detik berikutnya, sebuah tombak emas agung sudah tergenggam erat di tangannya. Ternyata begitulah cara dia mengeluarkan senjatanya.

​Baek-ran menggumamkan sebuah mantra rahasia, dan tiba-tiba seekor siluman muncul di hadapan mereka. Seekor serigala hitam raksasa yang saking besarnya membuat kamar tidur yang luas itu terasa sangat sempit. Sosoknya tampak sangat gagah dengan topeng emas dan baju zirah yang berat, namun entah mengapa sebagian besar tubuhnya tampak membusuk dengan sangat parah. Di beberapa bagian, bahkan tulang-belulangnya yang putih terlihat menonjol dengan sangat tragis.

​Serigala itu tampak sedang mengatupkan giginya sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit yang luar biasa. Baek-ran mengulurkan tangannya dan mengelus kepala serigala itu dengan lembut.

​"Noejeong-byeokryeok (Thunderbolt). Dia adalah salah satu bawahan ku yang paling setia, dan merupakan kekuatan tempur yang sangat penting bagi."

"Tapi kenapa lukanya tidak kamu obati? Kamu kan sakti," tanya Yu-dan heran.

"Luka ini tidak bisa diobati dengan cara apa pun di dunia ini. Karena ini adalah sebuah Hukuman Langit (Cheonbeol)."

​Yu-dan tersentak kaget. "Hukuman langit? Ternyata hal semacam itu benar-benar ada di dunia ini."

. . . . .... 

​Glosarium Istilah:

  • ​Cheon-an (천안): Mata Langit; Tingkatan penglihatan supranatural tertinggi yang dimiliki Yu-dan, mampu menembus segala jenis penyamaran atau sihir makhluk gaib.
  • ​Shinsu (신수): Hewan suci atau makhluk mistis berkedudukan tinggi yang sering dianggap sebagai utusan atau penjaga dalam mitologi Asia Timur.
  • ​Gapgolmunja (갑골문자): Aksara tulang ramalan; tulisan kuno Tiongkok yang diukir pada cangkang kura-kura atau tulang hewan untuk keperluan ramalan kerajaan.
  • ​Noejeong-byeokryeok (뇌정벽력): Nama siluman serigala pengikut setia Baek-ran; secara harfiah berarti kilat dan guntur yang menggelegar menghancurkan angkasa.
  • ​Cheon-beol (천벌): Hukuman atau kutukan yang dijatuhkan langsung oleh otoritas langit (dewa tertinggi) yang bersifat permanen dan tidak bisa dihilangkan oleh sihir biasa.


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Chapter Gratis

Login & tonton iklan untuk membuka chapter ini

Chapter yang kamu pilih:

-

▶ Chapter ini tersedia gratis!

Masuk ke akun kamu, lalu tonton iklan singkat untuk membaca chapter ini tanpa biaya.

Setelah login, tonton iklan singkat untuk membuka chapter gratis selama 3 jam ▶

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang