Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 32>


 ​"Nah, kalau begitu……."

​Ia mengiris roti panggangnya, lalu mengoleskan mentega perlahan. Di bawah tatapan semua orang yang menahan napas, ia memasukkan suapan pertama itu ke dalam mulutnya.

​Semua orang memperhatikannya dengan perasaan waswas.

​Rasa lapar yang diderita Agwi ini bukanlah sekadar rasa lapar fisik biasa. Di dalamnya terkandung impian akan dunia baru, sekaligus dendam yang mendalam. Itulah sebabnya ia mampu memancarkan kekuatan yang begitu dahsyat.

Benar.

​Isi batin dari jiwa tersebut mulai meresap ke sekeliling.

Sekarang, roti tawar, telur, ham, mentega, maupun susu, bukan lagi barang mewah yang mustahil digapai. Siapa pun kini bisa bebas melangkah masuk ke restoran maupun kedai kopi, dan siapa pun bisa belajar sepuas hati.

​Meskipun ia sendiri tidak sempat melihat pemandangan itu saat masih bernapas, tapi tetap saja…. Guratan keras di wajahnya perlahan mencair dalam kebahagiaan.

​"Rasanya sungguh luar biasa nikmat. Aku bahagia."

​Begitu kalimat itu terucap, sang pelayan seolah tenggelam ke dalam dunianya sendiri yang damai.

Seperti apa rasanya mati kelaparan? Yu-dan merenung sejenak.

​Ia teringat pernah tidak makan sampai dua kali hanya gara-gara asyik bermain game. Waktu itu ia masih SMP, jadi hal itu terasa mungkin saja. Sekarang kalau dipikir lagi, itu adalah tindakan yang sangat konyol dan bodoh. Seteguk susu yang ia minum dari kulkas saat itu sambil berpikir 'Apa begini rasanya mau mati?'

​Namun terlepas dari itu, jika ia harus memilih satu makanan yang paling lezat sepanjang hidupnya…

​Suara denting garpu yang diletakkan menyadarkannya kembali ke masa kini. Yu-dan kembali menatap sang pelayan.

​"Terima kasih atas hidangannya."

​Dengan raut wajah puas, ia perlahan bangkit dari kursi. Jiwa-jiwa lain yang tadi memenuhi restoran dengan hiruk-pikuk pun entah kapan sudah menghilang tanpa jejak. Pelayan itu kembali mendekap buntalan kainnya erat-erat. Saat ia melintas di samping Yu-dan, ia berbisik. "Terima kasih."

​Pada saat itu, potongan ingatannya ikut terlintas di benak Yu-dan. Sebuah kata yang asing baginya tiba-tiba muncul di kepala.

'Yangpum-jeom' (Toko Barang Modis).

​Terlihat sebuah rumah mewah dari masa lampau. Seorang nyonya yang mengenakan bulu binatang dan kalung mutiara tampak menampar pipi sang pelayan dengan keras. Masalahnya sepele, satu buah kancing giok hilang dari jubah bulu kelinci yang baru saja diambil dari toko pakaian.

​"Orang Joseon memang benar-benar tidak bisa diandalkan!"

​Nyonya itu—yang dalam dirinya sendiri juga orang Joseon namun selalu menghina bangsanya sendiri—menyeret sang pelayan dan mengurungnya di sebuah kamar kecil yang pengap di pojok rumah.

​Dengan begitu semuanya berakhir. Sang pelayan mengembuskan napas terakhirnya dalam keadaan tangan diborgol dan tubuh terikat pada pilar kayu, mati dalam kelaparan yang sunyi.

​"Aku sebenarnya tidak terlalu ingin tahu hal-hal seperti ini…." gumam Yu-dan lirih.

​"Dia tidak sengaja memberitahumu, dia hanya melepaskan beban itu sebelum pergi," sahut Baek-ran tenang.

​Semua siluman kini berdiri di depan jendela, menatap ke luar. Matahari perlahan mulai tenggelam. Cahaya senja yang kemerahan menyinari mobil Ford yang berkilauan di jalanan. Di antara pejalan kaki Gyeongseong yang sibuk berlalu-lalang, sosok sang pelayan perlahan mengecil, memudar, hingga akhirnya sirna sepenuhnya.

​"Ck ck. Ternyata semua ini terjadi karena dia memiliki hati yang terlalu baik."

​"Benar. Meskipun sama-sama mati kelaparan, alih-alih menjadi Agwi yang mengamuk liar, dia justru mengorbankan tubuhnya sendiri demi memberi makan orang lain sampai kenyang."

​"Gara-gara itu kita jadi sangat kerepotan, tapi menjadi orang baik itu hal yang mulia, kan? Iya kan, Kak?"

​"Entahlah. Yang penting sekarang dia sudah tersadar dan bisa memulai awal yang baru," sahut Heuk-yo sambil berbalik memunggungi jendela.

​Yu-dan tersentak sadar sepenuhnya. Dapur kini dalam keadaan berantakan total. Berbagai bahan makanan aneh berserakan di lantai, dan tumpukan piring kotor menggunung setinggi bukit. Heuk-yo berdiri mematung sambil menatap kekacauan itu.

Gawat, dia pasti akan menyemburkan api kemarahannya lagi. Yu-dan bersiap-siap kena semprot.

​Namun dugaannya meleset jauh. Tak disangka, Heuk-yo justru menyunggingkan senyum tipis.

​"Ternyata makanan memang hal yang paling luar biasa. Kenangan, kasih sayang, penghiburan, hingga impian…. Segalanya terikat di dalamnya. Menenangkan jiwa-jiwa yang lapar dengan 'embun' yang dibuat dan dibagikan antarmanusia ternyata tidak seburuk yang kubayangkan."

​"Benar, adikku," Tuan Do mengangguk-angguk setuju. "Aku juga tidak merasa keberatan. Sudah lama sekali aku tidak merasakan nostalgia dari zaman itu."

​Si kembar pun ikut tersenyum lebar.

​"Aneh, ya? Kakak pelayan itu menelan kita, lalu kita dikejar-kejar Agwi dan dipaksa kerja rodi. Dilihat dari sudut mana pun tidak ada sisi serunya, tapi kalau dipikir-pikir ternyata menyenangkan juga."

​"Dan tahu tidak? Kita berhasil melayani semua tamu itu dengan selamat tanpa ada insiden besar. Aku rasa daripada kedai teh, lebih baik kita buka restoran saja. Bagaimana menurutmu, Cheonho-nim?"

​"Jangan libatkan aku dalam rencana itu," siluman rubah mengangkat bahu dengan cuek.

​"Cara paling efisien untuk menenangkan Agwi tetaplah memakai 'Sejong Tahun 1426'. Tapi gara-gara keras kepalanya jiwa-jiwa itu, kita terpaksa memakai cara yang merepotkan dan menguras tenaga. Sore ini jadi terbuang sia-sia begitu saja. Ayo segera kembali dan selesaikan urusan kita masing-masing. Lagipula, mimpi buruk ini sudah berakhir."

​Semua orang mengangguk setuju. Keheningan melanda ruangan itu. Namun keheningan tersebut terus berlanjut. Yu-dan menatap Baek-ran dengan bingung.

​"…Kok dunianya tidak berakhir?"

​Baek-ran tampak mulai panik. Ia mengernyitkan dahi sambil melihat ke sekeliling yang tidak menunjukkan tanda-tanda perubahan apa pun.

​"Pasti akan berakhir sebentar lagi."

"Kamu yakin?"

"Iya. Karena kondisi jiwanya terlalu lemah, makanya proses kembalinya agak lambat."

"Aku sudah lapar sekali nih."

"Aku punya ide bagus!" Chaewoo tiba-tiba berseru. "Bagaimana kalau kita makan juga? Mumpung sihir dunia ini belum menghilang…."

​Karena rasa lapar yang menyerang, kata-kata selanjutnya dari Chaewoo tidak lagi terdengar di telinga Yu-dan. Ia sudah dalam keadaan lapar saat pertama kali masuk ke Banwoldang, dan selama membaca ingatan para Agwi tadi, ia harus ikut merasakan pedihnya lapar mereka puluhan kali.

​Entah sejak kapan perutnya bahkan tidak lagi mampu berbunyi keroncongan. Rasanya seolah ada gua raksasa tanpa dasar yang terbuka di dalam perutnya. Yu-dan berjalan terhuyung-huyung menuju meja makan dan duduk lunglai.

​"Ngomong-ngomong, kita harus makan apa ya? Itu masalahnya," ucap Tuan Do. Chae-seol menjawab dengan cepat, 

​"Aku makan apa saja mau. Tapi kalau bisa, aku ingin mencicipi salah satu makanan yang dimakan para Agwi tadi. Mereka makannya terlihat enak sekali, kalau saja bukan karena mereka hantu, aku sudah minta satu suap tadi."

​"Sepertinya di antara kita pun ada seekor Agwi," Baek-ran melirik Yu-dan dengan jahil. "Sekarang, tentukanlah. Makanan yang rasanya tidak akan pernah kamu lupakan meski sudah mati sekalipun. Apa ada makanan seperti itu bagimu?"

​Baek-ran bertanya sambil tersenyum. Karena kebetulan Yu-dan baru saja memikirkan hal itu, ia menjawab tanpa ragu sedikit pun.

​"Kari."

​Semua orang tampak tertarik mendengar jawabannya. "Kari? Yang seperti apa?"

​"Kari rumahan. Yang sering kumakan di hari Sabtu siang."

"Rasanya seperti apa?" tanya Heuk-yo penasaran.

"Hmm…." Sulit bagi Yu-dan untuk menjelaskannya lewat kata-kata. Namun ia mencoba sebisa mungkin. "Banyak potongan kentang dan dagingnya… rasanya entah mengapa membuat hati merasa aman… mungkin bisa dibilang rasa yang membuatku yakin bahwa tidak akan ada hal buruk yang terjadi?"

​Para siluman tampak terdiam sejenak, mencoba membayangkan rasa seperti apa yang dimaksud Yu-dan.

​"Baiklah. Kalau begitu kita buat kari," Heuk-yo berdiri tegak. "Kari gaya Gyeongseong. Di restoran toserba dulu, mereka menyebutnya 'Rice Curry'. Kari yang dituangkan di atas nasi putih, dengan acar sebagai pendamping. Disajikan juga dengan semangkuk sup miso hangat. Di zaman itu, pergi ke restoran toserba bersama keluarga adalah tren yang paling populer."

​Yu-dan merasa konyol mendengarnya. "Apa-apaan. Itu kan bukan kari yang kumaksud. Kalau akhirnya mau buat seenaknya sendiri kenapa pakai tanya segala?"

​"Tenanglah. Kak Heukyo cuma takut Yu-dan akan langsung 'naik ke surga' kalau makan kari pesanannya sendiri karena terlalu bahagia."

"Benar. Tidak boleh begitu. Kamu kan masih punya hutang membelikan kami lebih dari seratus kotak kue ke depannya."

​"Ah, benar juga…." Yu-dan teringat kenyataan pahit yang sempat ia lupakan. Wajahnya seketika menjadi pucat. Chaewoo segera bangkit untuk mencairkan suasana.

​"Baiklah, urusan masa depan dipikirkan nanti saja. Untuk sekarang, silakan pakai serbet ini di atas pangkuanmu."

"Tentu," sahut Baek-ran yang menerima serbet paling pertama sambil tersenyum lembut.

​"Ah, tempat ini benar-benar terasa istimewa," ucap Chae-seol sambil melihat ke sekeliling sekali lagi dengan pandangan baru. "Katanya ini adalah tempat berkumpulnya para Modern Boy dan Modern Girl paling berkelas di Gyeongseong, kan?" Gadis siluman ginseng itu mengedipkan matanya dengan jahil.

​Yu-dan hanya bisa tertawa tipis pasrah. Cahaya lampu berwarna oranye temaram dari tudung kaca, alunan musik jazz dari corong gramofon tua yang mengingatkan pada adegan film bisu. Di tengah suasana itu, aroma kari mulai menyebar dengan sangat harum dan menggoda.

​"Nah, sudah matang!"

"Kelihatannya lezat sekali!"

​Mereka semua membawa piring masing-masing dan duduk mengelilingi meja bundar. Di atas nasi putih yang mengepul, kuah kari dengan potongan daging dan sayur melimpah tertuang dengan sempurna. Si kembar mengambil satu suapan besar nasi kari ke mulut mereka.

​"Ini dia! Benar-benar ini rasanya!"

"Sama persis seperti rasa waktu itu!"

​Di atas bayangan si kembar yang mengacungkan jempol dengan bahagia, sebuah adegan ingatan tumpang tindih terlintas dalam benak mereka.


​"Bagaimana ini! Padahal kita sudah menunggu lama karena katanya dia pasti akan datang mengambilnya kembali…."

"Sepertinya dia benar-benar lupa dengan toko kita! Terus bagaimana dengan dana militer ini?!"

"Mau bagaimana lagi. Ini pasti uang yang dikumpulkan dengan darah dan keringat, kalau begitu biar kita sendiri yang pergi ke Shanghai untuk mengantarkannya."

​Di belakang punggung si kembar yang memakai topi musim dingin dan mengangkat senapan panjang berkarat, Heuk-yo berteriak lantang. "Kalian berdua! Apa kalian lupa kalau siluman dilarang keras mencampuri sejarah manusia?!"

"Kakak! Ayo kabur!"


​Adegan dalam ingatan itu sirna seketika. Namun…….

​"Benar kan? Rasanya tetap sama, kan? Aku sampai benar-benar terkejut saat pertama kali mencicipinya dulu," ucap Heuk-yo dengan nada bangga. Di atas wajahnya, adegan ingatan lain muncul.


​"Sudah kubilang tidak apa-apa. Aku punya uang." Seorang nona dengan rok hitam dan mata yang sangat jernih menarik tangan Heuk-yo menuju restoran di dalam toserba mewah. Heuk-yo terperangah saat melihat label harga pada replika makanan di lemari pajangan.

"Tapi ini mahal sekali!"

"Karena kalian selalu membantu mengajar di sekolah malam kami, hari ini aku ingin menjamu kalian dengan sesuatu yang istimewa selain mi. Aku punya simpanan uang kok. Dan lagi…." Nona itu tersenyum manis sambil membuka buku menu.

​"Aku ingin sekali memberitahu kalian ini. 'Ra-i-seu-ka-re'. Dalam bahasa Jepang ditulis begitu, tapi dalam bahasa kita, kita bisa mengucapkannya lebih dekat dengan bahasa aslinya. 'Rwa-i-seu-ko-rwi'. Menarik, bukan?" Matanya berbinar penuh semangat saat melanjutkan.

"Memiliki Hangeul yang sehebat ini berarti bangsa kita sudah memiliki harta yang sangat berharga. Ke depannya Hangeul akan menjadi kekuatan bangsa kita. Menjaga bahasa kita ini juga merupakan bentuk gerakan kemerdekaan yang luar biasa."

​"Aha," Heuk-yo mengangguk sambil menyuapkan satu sendok benda berwarna kuning di depannya ke mulut. Seketika matanya membelalak kaget karena rasanya yang unik. Nona itu pun tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya. "Lihat! Enak, kan?"

​Ingatan Heuk-yo perlahan pudar dan berganti dengan ingatan milik Tuan Do.


"A, adikku! Sudah keluar uang banyak, masa aku harus sampai mengantarkannya sendiri begini?"

"Hanya orang pengangguran santai yang punya wibawa seperti Paman yang bisa keluar-masuk tempat itu tanpa dicurigai! Gunakanlah penampilanmu yang tidak berguna itu untuk momen penting seperti ini. Jangan banyak protes, pakai baju terbaikmu dan cepat berangkat. Nanti aku buatkan mi yang sangat lezat."

​"Hmm……." Atas perintah adiknya, Tuan Do berpakaian sangat narsis dan membawa tongkat jalan baru menuju tempat pertemuan. Begitu pintu dibuka, asap rokok memenuhi ruangan. Di sana-sini tertempel poster film terbaru, dan orang-orang duduk berkelompok sambil mengobrol dengan suara keras.

​Sesuai permintaan, Tuan Do mencari seorang penulis novel bernama Tuan Kim, lalu menyerahkan tas yang berisi tumpukan uang kepadanya.

"Ini dia. Bundel naskah yang Anda tinggalkan di toko kami tempo hari."

"Hah?" Sang penulis terkejut dan langsung menggenggam erat tangan Tuan Do. "Terima kasih! Terima kasih banyak, Kamerad!"

"Kamerad apanya? Aku bukan siapa-siapa." Tuan Do hendak langsung berbalik pergi karena merasa kikuk.

​Tepat saat itu. "Karena Anda sudah jauh-jauh kemari, silakan nikmati secangkir kopi dulu." Tuan Do menoleh saat mendengar suara lembut itu. Seorang wanita berusia sekitar empat puluh tahun dengan sanggul yang rapi dan gaun barat hijau muda sedang berdiri sambil tersenyum anggun. Tuan Do terpaku menatapnya tanpa mampu berkata-kata. Orang-orang di sekitar pun mulai menggoda.

"Wah, ada apa dengan Nyonya Manajer? Sepertinya beliau sangat terkesan dengan tuan yang satu ini."

"Dia rekan perjuangan kami," ucap sang penulis sambil menepuk pundak Tuan Do dengan mantap.

"Ee-eeh……." Akhirnya Tuan Do pun hanya bisa terduduk di sana dengan wajah memerah.


​"Benar-benar rasa yang sama persis seperti saat itu." Bayangan-bayangan ingatan itu sirna, menampakkan kembali wajah Tuan Do yang sedang tersenyum lebar di hadapan Yu-dan.

​"Kamu tidak tahu betapa terkenalnya aku dulu, kan? Saat aku memakai topi jerami dan sepatu putih, bahkan para Gisaeng dari Jongno yang paling sombong sekalipun akan mengantre hanya untuk bisa bicara satu patah kata denganku. Kapan-kapan aku akan wariskan teknik memikat itu padamu."

"Paman! Jangan! Itu kan teknik kuno dari seratus tahun yang lalu!"

"Benar. Apa Paman berniat menghancurkan masa depan seorang remaja?" Chae-seol dan Chaewoo tertawa terbahak-bahak melihat tingkah paman mereka.

​Baek-ran pun ikut tersenyum tipis. "Bagiku tidak ada makanan kenangan yang terlalu spesial, tapi…."

"Bohong! Cheonho-nim juga punya makanan yang sangat Anda sukai sejak kecil." Baek-ran mengabaikan godaan Chae-seol dan melanjutkan dengan nada tenang.

"Memakan makanan kenangan berarti kita sedang mencicipi kembali kepingan ingatan yang tersimpan di dalamnya. Sebuah rasa hingga aroma yang ada pada waktu itu. Mungkin itulah alasan kenapa semua orang merindukannya sepanjang hidup mereka, bukan?"

​"Mungkin saja," sahut Yu-dan pelan sambil membayangkan sinar matahari sore di hari Minggu yang masuk miring ke ruang tamu rumahnya, diiringi suara denting piano dari rumah tetangga…. Ia pun menyuap satu sendok besar nasi kari buatan Heuk-yo ke mulutnya.


​Restoran itu masih tetap putih bersih, dipenuhi dengan bunga-bunga palsu yang tak bernyawa. Meskipun dalam hati ia sempat berharap, rupanya desain interior restoran itu tidak akan berubah hanya dalam hitungan hari. Pelanggan utamanya pun tetap sama. Masih tetap hanya dirinya satu-satunya laki-laki yang ada di sana. Udara di sekitarnya rasanya masih dipenuhi aroma permen yang manisnya menyengat.

​Yu-dan merasa sangat tidak nyaman. Bagi siswa SMA yang kaku seperti dirinya, masuk ke dunia para "Kakak-kakak" ini adalah tantangan yang sangat berat. Untuk menenangkan hatinya, ia memutuskan untuk menganggap mereka sebagai sebuah suku dengan kebiasaan yang unik. Suku "Kakak-kakak" punya kebiasaan menjerit histeris setiap melihat sesuatu yang lucu, dan akan saling memukul bahu jika ada hal yang sangat mengundang tawa. Dan lagi….

​"Pesanlah apa saja. Kamu sudah bekerja keras kali ini," ucapan Mi-a memutus lamunannya. Yu-dan menoleh menatap sepupunya itu.

​"Aku merasa tidak melakukan banyak hal penting."

"Kamu kan yang memberikan informasinya pada Tuan Baek."

"Tunggu sebentar. Bukan cuma iti. Aku ikut memercikkan Air Embun Suci, membaca ingatan para Agwi, dan membantu memasak juga…."

"Tadi katanya tidak melakukan banyak hal, sekarang malah pamer. Oh ya, uang ganti kue untuk Kak Heuk-yo nanti biar aku yang bayar."

"Sudahlah. Dia bilang tidak mau kena diabetes jadi jangan terlalu sering dibelikan. Aku ingin segera melunasi hutangku saja. Kalau begini terus aku bisa berakhir membelikan kue sampai aku tua nanti."

​Mi-a tersenyum penuh arti.

"Jangan tersenyum begitu. Jujur saja, kalau kamu tersenyum itu malah terlihat menyeramkan," ucap Yu-dan ketus.

"Apa? Kamu pikir senyummu sendiri terlihat manis?"

"Tentu saja lebih baik daripada senyummu."

"Enak saja! Senyumku jauh lebih baik! Mau kita tanya orang-orang yang lewat di depan sana?"

​Saat mereka sedang asyik berdebat, terdengar sebuah suara dari belakang mereka. "Eh? Kalian sedang bertengkar?" Yu-dan menoleh dan seketika tersentak kaget.

"Siapa?"

​Seorang mahasiswi langsing yang mengenakan gaun terusan motif bunga sedang berdiri di sana. Wajahnya yang tampak sangat ramah memancarkan aura yang begitu cerah hingga mahasiswi lain di sekitar pun ikut meliriknya.

"Masa kamu sudah lupa? Ini aku, Eun-bi."

​Meskipun dia sendiri yang mengatakannya, Yu-dan tetap tidak bisa mempercayai matanya sendiri. Ia berbisik lirih pada Mi-a. "Ke mana perginya dua pertiga bagian tubuhnya yang lain?"

"Tentu saja berat badannya langsung turun drastis setelah para Agwi itu terlepas. Sampai-sampai orang di kampusnya merasa khawatir… tapi Eun-bi, kamu benar-benar sudah merasa baikan?"

"Tentu saja! Aku merasa sangat segar." Namun Eun-bi justru hampir jatuh tersungkur saat hendak duduk di kursinya. "Sebenarnya aku masih agak pusing. Tubuhku terasa terlalu ringan sampai-sampai aku belum terbiasa."

​Ia bangkit kembali dengan wajah sedikit malu. Kepada Yu-dan yang masih menatapnya dengan mata membelalak heran, ia memberikan senyum yang sangat tulus.

"Maaf ya soal kejadian kemarin. Aku merasa kondisiku memang kurang fit, tapi aku tidak menyangka sampai pingsan dan merepotkan seperti itu. Kamu pasti sangat kaget, ya? Maafkan aku. Dan terima kasih banyak sudah cepat-cepat menghubungi Mi-a. Berkat kalian berdua, aku bisa selamat."

​"Dia bersikeras sekali harus mengatakan hal ini padamu hari ini. Katanya kalau tidak diucapkan sekarang, dia merasa ingatannya tentang kejadian itu akan menguap begitu saja," Mi-a mengedipkan mata ke arah Yu-dan.

​Sebenarnya Yu-dan sempat merasa khawatir. Manusia yang terkena gangguan Unusuals biasanya hanya meminta bantuan orang lain demi bisa bertahan hidup. Apakah Eun-bi mendekati Mi-a juga hanya demi memanfaatkannya untuk menyelesaikan masalahnya? Apakah setelah urusannya tuntas, ia akan melupakan Mi-a begitu saja?

​Namun rupanya ketakutan Yu-dan tidak terbukti. Eun-bi memang tidak ingat detail kejadian aneh yang menimpanya, namun ia tetap tersenyum sangat cerah saat menatap Mi-a. Itu adalah sebuah persahabatan yang murni. Sorot matanya adalah sorot mata yang menatap seorang teman yang sangat ia sayangi.

​Tapi…. Entah mengapa Eun-bi juga memberikan tatapan serupa ke arah Yu-dan. Yu-dan pun merasa sedikit merinding karenanya. Kenapa aku juga ikut-ikutan ditinggali kesan baik seperti ini? Ia segera mencoba mengalihkan pembicaraan.

​"Semuanya sudah lewat, jadi tidak perlu dipikirkan lagi."

"Iya, kamu benar," Eun-bi mengangguk sambil tersenyum lebar.

​Tiba-tiba Yu-dan menyadari sesuatu yang menarik. Restoran yang dipenuhi sinar matahari cerah. Koran yang dibawa Eun-bi tergeletak di atas meja. Mahasiswi-mahasiswi di sekelilingnya yang sedang mengobrol dengan riang…… Bukankah dulu jiwa di masa lalu itu bilang ia ingin sekali menjadi Modern Girl di kehidupan selanjutnya? Sekarang impiannya sudah menjadi kenyataan, bukan?

​Namun perasaan haru itu hanya bertahan sejenak. "Ngomong-ngomong," ucap Eun-bi tiba-tiba dengan nada ragu.

​"Melihat adikmu, aku tiba-tiba teringat sesuatu. Rasanya sesaat sebelum aku pingsan, aku seperti pergi ke sebuah tempat yang sangat indah. Tempatnya sangat klasik, banyak barang-barang cantik, dan orang-orang di sana semuanya sangat ramah… Ah, benar! Sepertinya aku juga melihat seseorang yang memiliki telinga seperti telinga rubah di sana."

​Mendengar itu, Mi-a dan Yu-dan seketika panik secara bersamaan.

"Bukan! Eun-bi! Itu cuma mimpimu saja!"

"Benar! Itu cuma halusinasi karena kamu kurang makan! Mana mungkin ada telinga rubah asli di kepala manusia!" Keduanya berteriak serempak bahkan sampai menjatuhkan garpu mereka masing-masing.

​Kenapa mahasiswi yang merupakan satu-satunya teman Mi-a ini harus memiliki ingatan setajam itu? Apa ini juga bagian dari efek 'proses pemulihan yang lambat' seperti yang dikatakan siluman rubah? Ataukah karena ia memiliki hati yang terlalu polos dan jernih? Sambil terus bersikeras membantah dan menyebut Eun-bi salah lihat…

​Keajaiban di hari mereka menenangkan jiwa-jiwa lapar, rasa dari "Rice Curry" buatan siluman ular yang membangkitkan nostalgia, dan perasaan hangat yang aneh saat melihat Eun-bi yang kini sudah kembali normal, semuanya bercampur aduk secara acak di kepala Yu-dan, membuatnya merasa sangat kikuk dan canggung. Yu-dan menggaruk pipinya pelan dengan ujung jari. Benar-benar sebuah emosi yang sangat aneh bagi dirinya.

. . ....... 

Glosarium Istilah:

  • Agwi (아귀): Hantu Kelaparan; roh yang menderita kelaparan abadi.
  • Modern Girl (모던걸): Istilah untuk wanita Korea di tahun 1920-an/30-an yang melek mode barat dan bergaya hidup modern.
  • Rice Curry (라이스 카레): Sebutan tradisional lama untuk nasi kari di Korea.
  • Hangeul (한글): Alfabet asli Korea yang melambangkan identitas bangsa.
  • Gisaeng (기생): Wanita penghibur tradisional Korea yang terdidik dalam seni dan sastra.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang