Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 31>


"Benar! Ini dia rasanya!"

​"Persis seperti rasa dalam ingatanku! Enak sekali!"

​Di luar sana, para Agwi semakin banyak berkerumun.

​「Jangan……. Tidak boleh…….」

​Meskipun terus bergumam menolak, mereka seolah tersihir dan terseret mendekat saat mendengar seruan "Ah, aku kenyang!" dari dalam toko. Mereka semua menempelkan wajah ke pintu kaca dan mengintip ke dalam. Meski rupa mereka sangat mengerikan, namun gurat iri terpancar jelas di wajah mereka yang cekung.

Tring.

​Akhirnya, seekor Agwi yang sudah tidak tahan lagi melangkah masuk atas kemauannya sendiri. Agwi-agwi lainnya pun segera mengekor di belakangnya.

​Emosi hebat yang mereka rasakan tampak seperti kobaran api yang membara di mata Yu-dan. Ia bisa membaca perasaan mereka dengan jelas bahkan tanpa harus mendekat.

​"Japchae buatan Nenek!"

​"Bindaetteok yang pernah dibelikan Pak Manajer!"

​"Gimbap yang dibawakan teman sebangku saat piknik sekolah!"

​Setelah meneriakkan pesanan-pesanan itu ke dapur, Yu-dan melirik ke arah lain.

​Seorang anak TK sedang berjalan menuju kursi di sudut ruangan. Bekas memar di lengan dan kakinya terlihat sangat mencolok. Chaewoo berlutut dan menyapa bocah itu dengan sangat lembut, lalu ia berlari menghampiri Heuk-yo.

​"Katanya dia ingin nasi kepal inari berbentuk beruang dan sosis gurita…. Apakah bisa, Kak?"

​"Jangan khawatir!" sahut Heuk-yo sambil merobek bungkus sosis dengan gesit.

​Mengikuti gerakan siluman ular, aroma masakan yang menggugah selera mulai menyebar luas. Di hadapan para Agwi yang matanya berbinar penuh harap, berbagai hidangan kenangan disajikan satu per satu.

​"Enak…."

​"Aku kenyang…."

​"Aku bahagia…."

​Suara-suara lirih itu memiliki daya tarik yang jauh lebih kuat bagi para Agwi daripada mantra apa pun.

​Lonceng pintu terus berbunyi tanpa henti. Tak terasa, ruangan toko sudah penuh sesak oleh para Agwi. Tuan Do bergegas membawa perabotan antik untuk menambah tempat duduk darurat. Ia bahkan mengatur beberapa Agwi yang terlihat lebih jinak untuk berbagi meja dengan yang lain.

​Si kembar sibuk berlari bolak-balik antara dapur dan meja pelanggan. Penampilan mereka yang membawa nampan bertumpuk tinggi layaknya menara sudah menyerupai atraksi sirkus tingkat tinggi.

​Sementara itu, Baek-ran tampak sedang serius memanggang panekuk. Namun entah mengapa, gerakannya terasa sangat lambat. Setelah diperhatikan baik-baik, Yu-dan baru paham alasannya.

​Setiap kali adonan dituang, deretan panekuk yang bentuknya bundar sempurna dan ukuran yang identik tercipta. Kemudian, Baek-ran akan menghitung dengan cermat dan merusak sedikit bentuk panekuk itu dengan penuh ketelitian agar terlihat lebih "manusiawi" dan alami.

Sebenarnya siapa di dunia ini yang memanggang panekuk dengan cara sekaku itu?

​Yu-dan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu kembali fokus mengupas kentang.

​"Huuu…."

​Mendengar helaan napas lega karena kenyang tersebut, Baek-ran menoleh ke arah ruang makan.

​Anak kecil yang sudah menghabiskan gimbapnya mengusap tangan ke celana. Begitu ia membungkuk sopan sambil berkata, "Terima kasih atas makanannya," sosoknya langsung lenyap seketika.

​Baek-ran menatap tempat anak itu menghilang. Cahaya yang berkedip lalu sirna seperti kunang-kunang itu meninggalkan jejak yang jelas di pupil mata sang rubah.

​Apa itu sesuatu yang spesial? Yu-dan memiringkan kepalanya bingung. Bagi Yu-dan, melihat hal itu hanya membuatnya berpikir, 'Oh, dia sudah pergi….' Tapi apa bagi siluman yang sudah hidup seribu tahun, rasanya berbeda?

​Tiba-tiba pisau pengupas kentang Yu-dan meleset. "Aduh."

​"Sadar lah. Tinggal sedikit lagi," ucap siluman ular sambil melesat membawa sawi putih.

​Benar saja, pesanan yang tadinya membanjiri tanpa henti mulai berkurang sedikit demi sedikit. Kursi-kursi pun mulai terlihat kosong.

​Pelanggan terakhir yang tersisa adalah seorang wanita.

​Meskipun topi berhias bulu yang dipakainya tampak miring, dan setelan dua potong berwarna biru kehijauan yang ia kenakan terlihat modis, jika dilihat lebih dekat semuanya sudah usang dimakan waktu. Wanita itu duduk menyilangkan kaki sambil menikmati es krim.

​"Dulu orang-orang heboh bilang ada bintang yang muncul seperti komet. Di hotel 'Sunroom' yang hanya boleh dimasuki kalangan atas dan orang asing, dikelilingi oleh para pria yang memujaku, aku pertama kali mencicipi es krim vanila ini. Sinar matahari yang bersinar dari atap kaca, pepohonan eksotis…. Rasa kenangan. Rasa kesuksesan."

​Ia bergumam seolah sedang melantunkan lirik lagu diiringi suara musik mengalun lambat dari radio tua.

​"Tidak kusangka aku yang dulu akan berakhir menyedihkan seperti ini."

​Wanita itu meletakkan sendoknya di atas tumpukan piring kaca yang menggunung. Ia mengambil kotak rokok bergambar burung nuri, mencabut sebatang lalu mengapitnya di bibir. Asap rokok pun mengepul tipis.

​"Aku sudah muak dengan rasa lapar ini. Aku sudah mencoba bertahan, tapi semuanya sia-sia. Sekarang, aku ingin pulang."

​Ia mematikan rokoknya di asbak lalu berdiri tegak.

​"Es krimnya enak. Aku juga akan memberikan hadiah terakhir untuk kalian."

​Setelah mengirimkan ciuman jauh dengan tangannya, ia membuka pintu dan melangkah keluar.

​Yu-dan tanpa sadar mengikuti punggung wanita itu dengan pandangannya, lalu ia tersentak kaget.

​Di antara kerumunan orang yang memenuhi jalanan, seorang wanita tampak berjalan mendekat. Rambutnya dikepang dua, mengenakan blus putih dan gaun terusan dengan tali bahu, serta mendekap sebuah buntalan kain besar di pelukannya.

​Wajahnya yang kusam dan matanya yang cekung itu terasa sangat familier.

​"Lihat wanita itu!" seru Yu-dan.

​Semua orang mengikuti arah pandang Yu-dan. Para siluman pun segera menyadari sosok wanita yang berjalan membelah kerumunan orang itu.

​"Akhirnya ia menampakkan diri," ucap Baek-ran pelan.

​"Bukankah itu pakaian pelayan?" tanya Tuan Do sambil mengangguk-angguk. "Benar. Di rumah-rumah orang kaya Gyeongseong dulu, semuanya mempekerjakan pelayan dengan seragam seperti itu."

​Tiba-tiba Yu-dan merasa ada yang janggal. Tapi kenapa hanya wanita itu satu-satunya yang tidak berwujud Agwi?

​Pelayan itu terus berjalan cepat tanpa menoleh dan mendekap buntalannya erat-erat. Namun, ia mendadak berhenti saat melihat wanita berambut pendek yang baru saja keluar dari toko tadi.

​Mata si pelayan membulat. Dengan wajah penuh semangat ia berlari dan membuka pintu kedai.

​"Wanita yang baru saja keluar tadi! Benar dia, kan? Aktris film itu……."

​Begitu pemandangan di dalam kedai masuk ke matanya, ia langsung ragu dan menghentikan kalimatnya. "Apa... tokonya sudah tutup?"

​"Belum!" jawab semua orang serentak.

​"Syukurlah," ucap pelayan itu sambil tersenyum lebar. "Padahal aku sudah lewat jalan ini puluhan kali, tapi aku tidak tahu ada kedai kopi (dabang) sebagus ini. Tidak disangka aku bisa melihat aktris film secara langsung! Hari ini aku benar-benar beruntung."

​Ia bergumam dengan dialek Chungcheong yang kental sambil menoleh ke sana kemari dengan kagum. Begitu menemukan bingkai foto di dinding, ia segera berlari ke sana dan menatapnya dengan wajah penuh damba.

​Meskipun pelayan yang mereka tunggu-tunggu sudah masuk dan berkeliaran di dalam, tak ada satu pun siluman yang bergerak. Yu-dan mendekati mereka dan berbisik cemas.

​"Bukankah kita harus melakukan sesuatu?"

​Baek-ran menjawab dengan santai, "Aku lelah sekali sampai tidak bisa menggerakkan satu jari pun."

​"Ayo lah, ini kan sudah hampir selesai—" Yu-dan berhenti bicara.

​Siluman rubah itu tiba-tiba saja sudah tersenyum licik. Firasat Yu-dan tidak enak; jelas-jelas rubah ini sedang ingin menjahilinya lagi. Mau apa lagi dia sekarang?

​"Aku juga pegal-pegal, mau istirahat sebentar," Tuan Do memijat pinggangnya lalu berjalan ke arah gramofon. Ia mengeluarkan sebuah piringan hitam dan menunjukkannya ke arah Yu-dan. "Bukankah ini album kesukaan Cheonho-nim?"

​Sang dokkaebi meletakkan piringan hitam itu ke gramofon. Musik jazz tempo dulu pun mengalir dari corong emasnya. Lagu itu memberikan nuansa seperti foto hitam putih yang telah memudar.

​Si kembar saling bertatapan sambil tersenyum penuh arti. Heuk-yo menyelonjorkan kakinya yang panjang sambil menguap lebar.

​Yu-dan panik. "Kenapa kalian mendadak santai begini? Katanya hantu itu adalah kuncinya? Bukankah kita harus menenangkannya agar para Agwi tidak menempel padanya lagi?"

​"Benar. Kamu paham sekali," jawab Baek-ran dengan nada tenang. "Lakukanlah sendiri apa yang bisa kamu lakukan."

​Yu-dan terdiam sejenak sambil berpikir keras. "Apa ini hal yang bisa aku lakukan?"

​"Entahlah," sahut si rubah sambil mengambil koran di meja. Iklan kosmetik yang berbunyi 'Putih seperti salju dan mekar seperti bunga……' serta iklan 'Cokelat' menghalangi pandangan Yu-dan.

Apa aku benar-benar sanggup?

​Bagaimanapun, jika para siluman tidak ada yang mau maju, terpaksa ia harus melakukannya sendiri. Yu-dan menatap ke arah seberang. Si pelayan sedang berdiri di depan rak buku sambil membolak-balik majalah berjudul 『Shin-yeoseong』 (Wanita Modern).

​Tiba-tiba Yu-dan menyadari fakta baru. Jika diperhatikan, fitur wajah pelayan ini sangat mirip dengan Eun-bi. Hanya saja yang satu kurus kering dan satunya berisi, sehingga sulit disadari dalam sekali lihat. Tapi semakin dipandang, mereka tampak seperti orang yang sama.

Apa hubungan di antara mereka berdua?

​Sambil berpikir, Yu-dan mendekat. Musik jazz lambat yang bercampur statis masih terus mengalun dari gramofon.

​Si pelayan menaruh kembali majalah tersebut lalu mengambil edisi 『Shin-yeoseong』 yang lain. Ia tampak tenggelam membacanya halaman demi halaman, sampai akhirnya ia tersadar karena merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

​"Ah, apa yang aku lakukan di sini? Aku harus pergi sekarang." Ia meletakkan majalahnya dan terburu-buru mengambil kembali buntalan yang ia taruh di sofa.

​Yu-dan melirik ke arah buntalan kain itu. Di sela-sela lipatannya, terlihat sekilas wajah yang sudah mengering dan menghitam. Itu adalah jasad si pelayan yang mati kelaparan.

​Yu-dan tersentak ngeri dan hampir berhenti melangkah. Namun ia menguatkan diri; ia harus menyelesaikannya. Ia menghalangi jalan si pelayan yang hendak keluar.

​Pelayan itu menatapnya bingung. Ekspresinya penuh tanya, seolah tidak mengerti mengapa siswa ini menghalanginya. Saat ia mencoba menghindar untuk keluar, Yu-dan kembali menghalangi jalannya.

​"Tunggu sebentar."

​"Kenapa? Aku harus segera pergi. Aku sempat lupa kalau Nyonya menyuruhku mengambil jubah bulu kelinci ini, aku pasti dimarahi kalau sampai terlambat. Aku harus cepat kembali."

​Yu-dan menatap wajah cemas pelayan itu. Ia teringat kembali kata-kata Baek-ran: Mati dengan sia-sia tanpa menyadari alasan kematian.

​Sepertinya ia mulai paham maknanya. Sampai sekarang pun, ada jiwa-jiwa yang berkeliaran tanpa menyadari status mereka sendiri. Seseorang harus memberitahu mereka.

​"Kamu sebenarnya bukan mau kembali kepada Nyonyamu. Kamu kembali untuk memanggil para Agwi lagi."

​Pelayan itu tersentak. Ia menatap Yu-dan dengan wajah bingung. "Aku?"

​"Benar."

​Di tengah keheningan toko, hanya suara musik yang bergema. Diiringi biola jazz, seseorang menyanyikan lagu dengan suara yang sangat lembut.

​"Aku…." Wajah pelayan itu perlahan berubah. Sepertinya kesadaran mulai mendatanginya secara perlahan.

​"Benar. Aku tahu rasanya mati kelaparan. Aku tahu persis rasanya. Karena itulah aku makan bersama mereka. Dengan memanggil mereka semua ke sini. Karena mereka semua adalah orang-orang yang malang…."

​Saat ia bergumam linglung, wajah Eun-bi tampak tumpang tindih dengan wajahnya. Melampaui jarak seratus tahun, wajah kedua orang itu menyatu. Sekarang Yu-dan yakin sepenuhnya.

​"Sudah cukup, Kak Eun-bi."

​"Eh…?" Bukan sang pelayan, melainkan Eun-bi yang menatap Yu-dan dengan wajah kosong.

​"Kalian bukan cuma mirip. Kalian adalah jiwa yang sama. Pelayan ini meninggal dan bereinkarnasi menjadi Kak Eun-bi. Karena ingatan saat mati kelaparan begitu nyata, bahkan setelah terlahir kembali pun Kakak terus menarik para Agwi. Kekuatan dahsyat yang dirasakan Kak Mi-a dan aku itu sebenarnya adalah keinginan Kakak untuk memberi makan para Agwi sampai kenyang. Benar bukan?"

​"Aku……?" Pelayan itu masih memasang ekspresi linglung.

​"Sekarang Kakak boleh berhenti. Para Agwi itu semuanya sudah pergi mereka sudah makan sampai kenyang."

​"Mana mungkin……"

​"Ini sungguhan." Yu-dan menunjukkan tangannya yang teriris pisau kentang tadi. Namun tentu saja itu tidak cukup untuk menjelaskan. Ia bingung bagaimana cara meyakinkannya lagi.

​Saat itulah siluman rubah akhirnya bangkit berdiri. "Sudahlah. Aku jadi tidak bisa istirahat kalau begini terus."

​Rubah mengibaskan lengan bajunya ke udara, dan seketika ribuan bayangan muncul. Mereka adalah para Agwi yang tadi sudah pergi. Semuanya kini duduk di kursi dengan wajah bahagia sambil tertawa dan mengobrol riuh. Ruangan itu seketika menjadi sangat ramai.

​"Ternyata benar," air mata mulai menggenang di mata si pelayan. "Benarkah sekarang aku boleh berhenti?"

​"Tentu saja. Semuanya sudah pergi, mereka merasa puas."

​"Kalau begitu… aku juga punya sesuatu yang ingin aku makan," ucap pelayan itu terbata-bata.

​"Terkadang saat pergi ke Stasiun Gyeongseong, saat pulang aku sengaja memutar jalan agar bisa lewat di depan restoran itu. Di saat aku menatap ke dalam, aku merasa seolah-olah aku menjadi seorang wanita modern. Menikmati sarapan sambil dilayani pramusaji, meletakkan koran di atas meja, dan mengobrol anggun dengan pria tampan. Di atas meja itu ada… ham dan telur, mentega, roti panggang, buah-buahan, susu, dan kopi. Namanya saja sudah terdengar hebat, sarapan seorang wanita modern…."

​Sebuah ilusi muncul memperlihatkan seorang gadis kecil yang menatap lekat ke dalam restoran dari balik jendela kaca. Orang-orang berpakaian mewah masuk ke dalam sambil mengobrol keras dalam bahasa Jepang.

​—Jangan melihat ke sana!

Kakaknya memukul kepalanya. Seakan matanya akan kotor jika melihat hal itu.

​Namun gurunya yang mengajarinya membaca setiap malam berkata bahwa ia boleh melihatnya.

​—Pengetahuan adalah kekuatan. Kita harus belajar agar bisa bertahan hidup. Jika kita belajar dengan giat dan berjuang, dunia yang baik pasti akan datang. Dunia di mana siapa pun bebas masuk ke restoran, bisa membeli baju bagus, bebas membaca buku sepuasnya, dan belajar bahasa asing…….

​Ia tidak percaya bahwa siapa pun bisa hidup seperti itu tanpa harus menjadi orang Jepang atau pengkhianat. Namun karena itu adalah perkataan gurunya, pasti itu adalah kebenaran, kan? Kalau begitu…

​"Aku, di kehidupan selanjutnya ingin sekali terlahir sebagai seorang wanita modern."

​Ia tersenyum meski matanya berkaca-kaca. Lalu ia mengangkat satu tangannya dan memesan dengan anggun.

​"Tolong ham dan telur, mentega, dan roti panggang. Juga buah-buahan, susu, dan kopi."

​"Baik! Ham dan telur, mentega, dan roti panggang!"

"Dan juga buah-buahan, susu, kopi!"

​Si kembar menyahut dengan nada bernyanyi, lalu berseru serempak:

"Satu paket Sarapan wanita modern—"

"—seperti yang dijual di Restoran Stasiun Gyeongseong!"

​Heuk-yo yang sudah berlari ke dapur menyahut lantang, "Dimengerti!"

​Si pelayan menghapus air matanya. Ia duduk di sofa mengikuti tuntunan sang dokkaebi, menatap ke arah dapur dengan wajah penuh harap.

​Taplak meja yang putih bersih dan kaku dibentangkan. Si kembar membawakan alat makan. Garpu, sendok, dan pisau yang berkilau perak menyilaukan. Serbet yang diletakkan di atas piring berpinggiran emas.

​"Benar-benar sama…." Pelayan itu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari semua itu.

​Satu per satu hidangan keluar. Roti panggang tebal yang berwarna cokelat keemasan. Telur mata sapi dan irisan ham tipis yang direbus sebentar. Mentega di dalam mangkuk keramik kecil dan satu botol kaca penuh susu dingin. Mata si pelayan membelalak setiap kali satu hidangan diletakkan di depannya.

​Sang dokkaebi menuangkan kopi panas dari teko perak dengan sangat mahir. Si pelayan memejamkan mata dan menikmati aromanya yang dalam. Hanya dengan itu saja, ia sepertinya sudah tidak sanggup menahan rasa haru yang membuncah di dadanya.

. ........... 

​Glosarium Istilah:

  • ​Gyeongseong (경성): Nama lama Seoul selama masa penjajahan Jepang.
  • ​Modern Girl (모던걸): Istilah untuk wanita Korea di tahun 1920-an/30-an yang mengikuti gaya hidup dan mode Barat yang modern.
  • ​Shin-yeoseong (신여성): "Wanita Baru"; gerakan intelektual dan budaya wanita terpelajar di era modern awal Korea.
  • Ham and Eggs (햄 앤드 에그): Menu sarapan barat yang dianggap sangat mewah dan modern pada masa Gyeongseong.
  • ​Yakgwa (약과): Kue tradisional Korea dari madu dan tepung terigu.
  • Dabang (다방): Kedai kopi tradisional Korea. 

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang