Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 30>
"Tapi tebakanmu tidak sepenuhnya salah. Di pedesaan zaman dulu, orang-orang biasa menanak nasi putih dan menyajikannya di dapur untuk menenangkan Agwi. Tujuannya adalah menjamu mereka dengan hidangan berharga agar mereka mau makan lalu pergi dengan tenang. Seberapa keras pun Agwi bertahan, jika dipancing dengan makanan paling lezat di dunia dan diberi makan sampai kenyang, mana mungkin dendam mereka tidak akan hilang?"
"Jadi maksudmu semacam menghentikan dendam secara paksa?"
Yu-dan merenung. Penjelasan siluman rubah itu terdengar sangat masuk akal di telinganya.
"Lalu, apa makanan paling lezat di dunia itu?"
"Itu…," Chaewoo baru saja hendak menjawab, namun Baek-ran memotongnya dengan cepat.
"Bukankah itu Buldojang?"
"Buldo apa? Itu nama makanan?"
"Buldojang (Budaotiao). Alkisah pada zaman Dinasti Qing, seorang pria kaya bertekad menciptakan masakan paling lezat sealam semesta. Ia mengumpulkan segala jenis hidangan mewah dari gunung dan laut ke dalam kuali, lalu merebusnya bersamaan. Seorang biksu yang sedang bermeditasi di vihara dekat sana mencium aromanya dan tak sanggup menahan godaan hingga ia melompati pagar vihara tersebut. Ia mencicipi hidangan terbaik di bawah langit itu, namun akhirnya diusir dari vihara dan menjadi biksu yang melanggar pantangan. Karena itulah masakan ini dinamakan Buldojang yang berarti Buddha (Bul) yang melompati (Do) pagar (Jang)."
"Ceritanya meyakinkan juga. Tapi bukankah itu cuma ada dalam legenda?"
"Tidak. Resep aslinya benar-benar ada."
Yu-dan menoleh ke arah Heuk-yo. "Kamu bisa membuatnya?"
"Membuatnya sambil memejamkan mata pun aku sanggup. Sirip hiu, teripang, otot kerang, ayam, bebek, rebung, abalon…… semua bahannya sudah tersedia lengkap."
"Kalau begitu tolong buatkan."
"Kenapa harus aku? Kalau kamu butuh Buldojang, buatlah sendiri."
"Aku pasti akan mengacaukannya. Kamu kan jago masak, kamu ahlinya."
"Itu benar, tapi…." Heuk-yo hampir saja menyunggingkan senyum bangga, namun ia segera menggigit bibirnya. "Tetap tidak mau. Aku sudah cukup kesal diseret keluar di sore yang santai begini, mana sudi aku membuatkan Buldojang untukmu."
"Nanti aku belikan kue. Kue teh hijau yang kemarin kamu habiskan sendirian setengah kotak itu, lalu kue cokelat dan jeruk juga……."
"Kalau dipikir-pikir, usahamu demi teman sepupumu itu cukup menyentuh juga." Heuk-yo langsung mengubah sikapnya dan melangkah masuk ke dapur.
Siluman lainnya menonton kejadian itu dengan penuh minat. Chaewoo bertanya dengan penasaran,
"Anggaplah masakannya sudah jadi, tapi bagaimana cara memberikannya pada Agwi?"
"Tinggal dilemparkan saja ke mereka, kan?"
"Tentu saja tidak boleh. Kita harus memanggil mereka masuk," sahut Baek-ran sambil mengibaskan lengan bajunya yang lebar.
Sesaat kemudian, sebuah senjata muncul secara ajaib di tangan siluman rubah. Sebuah tombak emas bercabang sembilan yang memancarkan aura agung. Saat ia mengayunkannya, beberapa siluman dan monster pengikutnya menampakkan diri. Inilah kelompok yang dikenal sebagai pasukan Myeongbumado.
"Aku akan memberimu pengawalan sederhana. Tapi bergegaslah, keberadaan mereka akan mulai membebani dimensi dunia ini."
"Baik!"
Jumlah Agwi di luar sudah berlipat ganda dari sebelumnya. Rasanya benar-benar mengerikan harus melangkah mendekati mereka atas kemauan sendiri. Sambil membatin bahwa ia harus menagih imbalan besar dari Mi-a nanti, Yu-dan memantapkan hatinya dan membuka pintu.
Agwi-agwi yang sedang mengintip di barisan paling depan segera merengsek masuk. Mereka melotot liar layaknya binatang buas dan membuka mulut lebar-lebar siap menerjang, namun mereka langsung dilumpuhkan oleh siluman pengawal Baek-ran.
「Lapar. Aku mau makan. Lapar. Mau makan…….」
Tepat saat itu, Heuk-yo keluar membawa nampan. Yu-dan terkejut. "Cepet banget?"
"Tentu saja. Koki jenius sepertiku tahu cara mengendalikan api yang spesial."
Dengan bangga ia membuka tutup mangkuk besar itu. Katanya masakan paling lezat sedunia, namun penampilannya terlihat cukup biasa. Hanya sekumpulan bahan makanan yang diguyur kuah kental.
Atas isyarat mata dari Baek-ran, para siluman pengawal melonggarkan cengkeraman mereka. Para Agwi seketika melompat dan menerjang Buldojang itu dengan rakus.
「Makanan! Ada makanan!」
Hidangan di dalam mangkuk besar itu lenyap tanpa sisa dalam sekejap.
Nah, sekarang waktunya mereka naik ke alam baka.
Yu-dan membuka matanya, menunggu keajaiban terjadi. Namun, tidak ada perubahan apa pun.
「Lapar. Masih lapar. Mau makan lagi…….」
Para Agwi masih meneteskan air liur dan mulai mengamuk kembali, lalu mereka menyatu menjadi gumpalan energi gelap yang besar dan menerjang ke arah Yu-dan.
"Kyaaa!" Chae-seol menjerit ngeri.
Sebelum sesuatu yang buruk terjadi, Baek-ran mengibaskan lengan bajunya dengan kekuatan penuh. Angin kencang berembus mengguncang seisi ruangan. Para Agwi itu terpental bagaikan daun kering dan menghilang melalui celah-celah jendela. Tirai-tirai yang tadi berkibar gila-gilaan pun perlahan kembali tenang.
"Aku tidak tahu. Tidak ada yang salah dengan masakan Buldojang-ku," ucap Heuk-yo sambil menjilat ujung jarinya dengan santai.
Sepertinya Buldojang bukan jawabannya. Pikiran Yu-dan menjadi semakin rumit. Ia menatap Baek-ran, dan si rubah seolah sudah menunggu momen ini untuk angkat bicara.
"Ada yang namanya Manhan-jeonseok (Perjamuan Manchu-Han), sebuah jamuan di mana segala hidangan paling langka di bumi berkumpul dalam puncak kemewahan—"
"Bukan itu," potong Yu-dan.
Ia merasa metode seperti itu salah sasaran. Yu-dan rasa ia mulai paham mengapa masakan tadi tidak berhasil. Buldojang yang ia lihat tadi sama sekali tidak menggugah selera makannya. Mungkin bagi biksu zaman Dinasti Qing atau penggemar berat kuliner Tiongkok kuno itu terasa lezat, tapi tidak bagi hantu-hantu ini.
"Begitu rupanya. Selera tiap orang berbeda-beda. Tidak mungkin ada makanan yang 'paling lezat sedunia'. Itu benar-benar hanya sebuah legenda."
Siluman rubah terkekeh tipis. "Heh, butuh waktu yang sangat lama bagimu untuk menyadari fakta sesederhana itu."
"Iya, aku sadar sekarang. Harusnya bukan begini caranya. Kita harus menanyakannya langsung pada mereka satu per satu. Baru kita bisa membuatkan masakan yang paling lezat bagi masing-masing dari mereka."
"Bagaimana caramu bertanya? Kamu tidak sedang berpikir kalau mereka akan menjawab surveimu dengan ramah, kan?"
Benar juga kata Baek-ran. Agwi-agwi ini sedang meronta sekuat tenaga menolak pergi ke alam baka. Mana mungkin mereka mau diajak mengobrol.
Namun Yu-dan teringat sesuatu. Saat hantu wanita di taman tempo hari menyambar tangannya, ingatannya mengalir masuk secara otomatis. Kali ini, Yu-dan-lah yang akan mengambil inisiatif lebih dulu.
Yu-dan kembali membuka pintu. Tepat saat ia hendak menangkap Agwi yang menyerbu dan menyentuh tangannya, Baek-ran menghalangi langkahnya.
"Apa yang mau kamu lakukan? Sangat berbahaya memegang hantu dengan cara kasar seperti itu."
"Tapi aku ingin membaca pikiran mereka. Aku ingin tahu makanan apa yang sebenarnya paling ingin mereka rasakan……."
"Kalau begitu cukup dengan mengintip sedikit saja ke dalam batin mereka. Toh isi kepala mereka sekarang hanya dipenuhi tentang makanan. Konsentrasilah sedikit, maka ingatan itu akan mengalir masuk ke kepalamu."
Yu-dan mengikuti saran siluman rubah dan mulai memusatkan seluruh fokusnya. Seketika, rasa sakit yang luar biasa seolah ususnya sedang diperas menyerang tubuhnya. Kakinya lemas hingga ia hampir jatuh berlutut.
Rasa lapar yang benar-benar tak terbayangkan.
Perutnya kembang-kempis hingga bernapas pun terasa begitu berat. Kerongkongannya yang kering kerontang dan pecah-pecah terasa bagai terbakar api. Sungguh tragis terlahir sebagai makhluk hidup namun harus mengering dan layu dalam siksaan seperti ini. Rasanya ia lebih baik mati saja secepat mungkin…
Di tengah penderitaan yang membuatnya meracau itu, tiba-tiba sebuah aroma samar melintas di ujung hidungnya.
Ah, aroma ini…
"Jajangmyeon."
Agwi yang sedang meronta-ronta di tangan Yu-dan menunjukkan reaksi seketika. Dari dalam mulutnya yang terbuka lebar terdengar suara yang menggema.
「Jajangmyeon?」
"Benar! Bukankah kamu sangat ingin makan jajangmyeon?"
「Tidak! Jangan! Jika aku memakannya…….」
Yu-dan mencengkeram Agwi itu lebih erat saat ia mencoba meloloskan diri. Bersamaan dengan ledakan emosi yang kuat, sebuah gambaran ingatan yang lebih jelas mengalir masuk ke pikirannya.
"Ini bukan jajangmyeon biasa, tapi jajangmyeon dari Kedai Junghwa di persimpangan jalan itu. Jajangmyeon seharga dua ratus won dengan tumpukan bawang bombay goreng yang melimpah, yang kalian santap sekeluarga saat hari kelulusan putra sulungmu."
「Jangannnn!」
Tubuh Agwi itu seketika kehilangan tenaga. Sepertinya hanya dengan mendengar ceritanya saja, ia sudah menitikkan air liur dan lemas. Saat Yu-dan menariknya, ia terseret masuk begitu saja tanpa perlawanan. Begitu melewati ambang pintu toko, wujud Agwi itu mulai berubah.
Ia menjadi seorang kakek tua yang mengenakan jaket usang. Rambut putihnya berantakan, sementara mata dan pipinya tampak sangat cekung. Wujudnya benar-benar seperti tengkorak yang hanya dibalut selapis kulit tipis.
Chae-seol yang tadinya mengintip dari sela-sela jarinya perlahan menurunkan tangannya. "Aduh, malang sekali. Sepertinya ia seorang kakek yang hidup sebatang kara. Beberapa hari lalu juga ada berita polisi menyelamatkan seorang nenek yang hampir mati kelaparan…." Gadis itu kini menatap sang Agwi dengan tatapan penuh rasa iba.
Yu-dan teringat kembali ucapan Eun-bi bahwa ia tidak tega mengusir mereka karena semuanya terlihat sangat menyedihkan. Ternyata ini yang ia maksud.
"Kakek, apa Kakek ingin makan jajangmyeon?" Chaewoo mendekat dengan lembut.
"Ah, entahlah. Apa aku benar-benar bisa menyantapnya? Jika bisa, aku tidak peduli lagi apa yang akan terjadi nanti. Selama beberapa hari terakhir pikiranku hanya dipenuhi oleh jajangmyeon itu. Jika aku bisa merasakannya sekali lagi, aku tidak akan memiliki penyesalan lagi. Sampai sekarang meja putih di kedai itu masih terbayang jelas di mataku. Anak-anak berebut makan dari mangkuk, dan istriku yang tidak tega melihatnya lalu memberikan seluruh porsinya untukku. Kami berdua berbagi satu mangkuk yang sama. Rasanya sungguh luar biasa nikmat."
Kakek itu tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan hanya bisa menelan ludah berkali-kali.
"Kami mengerti. Tolong tunggu sebentar ya, Kek," sahut Heuk-yo sambil berlari kencang menuju dapur. Yu-dan segera menyusul di belakangnya.
"Apa kau benar-benar bisa membuatnya sama persis? Jajangmyeon dari Kedai Junghwa itu?"
"Jangan meremehkan adikku," Tuan Do yang menyahut kali ini. "Adikku sudah memasak di dapur ini selama ratusan tahun. Apa kamu belum paham juga setelah melihat bahan-bahan Buldojang tadi bisa keluar dengan begitu mudah? Lemari dapur ini sudah menyerupai museum fosil. Lihatlah, dia bahkan bisa menemukan pasta kedelai hitam dari tahun 70-an. Dan itu, lihat, bawang bombay dari tahun 70-an juga…."
"Batu keras itu tadi sebenarnya bawang bombay?"
"Berisik!" Heuk-yo melempar sebutir bawang ke arah Yu-dan. "Anggap saja urusan Buldojang tadi tidak dihitung. Sebagai gantinya, setiap kali aku memasak satu hidangan untukmu, kau berhutang budi kepadaku. Kau paham kan maksudnya?"
"Nanti Anda bisa terkena diabetes kalau begini terus," celetuk siluman rubah sambil tertawa ringan.
Sekarang bukan saatnya untuk pilih-pilih. Yu-dan mengangguk mantap. "Asalkan kamu mau memasaknya saja."
Heuk-yo memutar wajan Tiongkok yang besar dengan lincah. Tanpa sadar potongan bawang dan daging babi sudah berputar sekali di udara dengan ritme yang sempurna. Ia berlari ke meja dapur, meremas-remas adonan sejenak, dan pada detik berikutnya ia sudah sibuk menguleni mi buatan tangan (suta-myeon). Gerakan tangannya begitu cepat hingga gumpalan tepungnya seolah-olah tidak terlihat oleh mata manusia.
"Kakak benar-benar sedang beraksi serius……." Chae-seol melongo takjub.
Dalam sekejap mata, jajangmyeon pun sudah siap disajikan. Si kembar membawanya dan berlari menyajikannya tepat di depan sang kakek.
"Ini pesanan jajangmyeon-nya, Kek."
Kakek itu langsung menerjang makanan itu dengan sangat rakus. Mi yang bahkan belum sempat diaduk rata langsung lenyap dalam beberapa suapan besar. Setiap kali kerongkongannya bergerak menelan, guratan keriput di wajahnya tampak seakan mekar kembali. Pipinya yang tadi cekung perlahan mulai berisi dan merona.
"Benar, ini dia rasanya! Rasa yang selama ini kurindukan! Sungguh lezat!"
Suara bahagia kakek itu bergema luas hingga ke luar. Para Agwi lain mulai berkumpul mendekat. Meski tampak ragu dan ketakutan, mata mereka yang cekung tak sanggup berpaling dari wajah bersinar sang kakek yang sedang menyantap jajangmyeon dengan lahap. Akhirnya, potongan bawang terakhir pun menghilang ke dalam mulut sang kakek.
"Wah, aku benar-benar makan dengan sangat nikmat!" serunya puas. Begitu ia meletakkan sumpitnya, wujudnya perlahan berubah menjadi gumpalan cahaya dan menghilang ke atas.
"Bagus!" Yu-dan melompat berdiri dengan penuh semangat.
"Ini dia kuncinya! Akhirnya aku menemukan caranya! Makanan paling lezat di dunia bukanlah masakan mewah, melainkan makanan yang membawa kenangan! Seberapa keras pun para Agwi bertahan, mereka tidak akan pernah bisa menolak makanan itu!"
Yu-dan berteriak sambil berlari menuju pintu depan. Agwi-agwi yang tadinya mengintip mulai mundur. Yu-dan segera mengintip ke dalam aura kegelapan yang mereka pancarkan. Sekali lagi ia merasakan lapar yang melilit ususnya, namun karena ia sudah mempersiapkan mental, rasanya tidak lagi seberat yang pertama.
"Yang satu ini... Seolleongtang! Seolleongtang seharga lima belas sen yang kamu beli di depan stasiun saat pertama kali merantau ke Gyeongseong!"
「Seolleongtang…… depan stasiun Gyeongseong…….」
Agwi itu seolah tersihir oleh kata-kata Yu-dan dan terseret masuk ke dalam. Begitu melewati ambang pintu, wujudnya berubah menjadi seorang pemuda berkacamata bingkai bulat yang mengenakan jas usang.
"Dan yang ini… Miyeok-guk! Sup rumput laut yang dimasak khusus oleh ibumu untukmu setelah kamu melahirkan anak pertamamu!"
「Sup rumput laut…… buatan Ibu…….」
Agwi ini pun tidak mampu melawan kerinduan itu dan tertarik masuk. Wujudnya berubah menjadi seorang wanita berusia lima puluhan yang mengenakan pakaian pendaki gunung dan berjalan sedikit pincang, lalu ia segera duduk di kursi. Dua hantu dari zaman yang sangat berbeda kini duduk bersama di satu meja.
"Satu mangkuk Seolleongtang depan stasiun harga lima belas sen!"
"Dan satu porsi sup rumput laut buatan ibu!"
Si kembar berteriak memberikan pesanan ke arah dapur. Heuk-yo membuka kuali besar dan memasukkan tulang sapi serta daging segar. "Apa ada yang bisa membantuku mencarikan rumput laut?"
"Biar aku saja!" Yu-dan segera menggeledah lemari dan mengeluarkan sebungkus rumput laut. Baek-ran tiba-tiba datang, merampasnya, lalu mengeluarkan bungkus rumput laut yang lain.
"Kenapa yang tadi tidak boleh?" protes Yu-dan.
"Karena yang tadi kamu ambil itu adalah rumput laut kering untuk kaldu (dasima), bukan untuk dibuat sup."
Mendengar percakapan ini, Heuk-yo menoleh dengan kaget. "Cheonho-nim, silakan Anda duduk manis saja di sana!"
"Tidak apa-apa. Jika semuanya ikut membantu, bukankah pekerjaan ini akan selesai lebih cepat?" sahut Baek-ran.
"Benar juga. Mari kita gerakkan badan kita setelah sekian lama," Tuan Do datang membawa keranjang bambu. Ia mengeluarkan beberapa celemek dan membagikannya satu per satu. Yu-dan menerima dan segera mengikatnya di pinggang. Belum sempat ia menyelesaikan ikatannya, perintah dari sang "kepala koki" sudah turun.
"Ambilkan kecap asin dari tempayan di luar!"
"Baik!" Yu-dan menyambar gayung pemberian Tuan Do dan berlari menuju deretan tempayan besar (jangdokdae).
Aroma masakan yang sangat gurih kini mulai memenuhi ruangan yang dikelilingi oleh jendela-jendela berjeruji kayu itu. Pemuda yang duduk di sofa kain menelan ludahnya dengan susah payah. "Benar, aroma ini. Kuah yang direbus sangat lama dari daging dan tulang sapi hingga warnanya putih susu, lalu ditambahkan mi soun dan irisan daun bawang segar. Aku tidak pernah bisa melupakan rasanya, tapi dulu aku bahkan tidak berani membelinya karena uang sewa kamar pun aku tidak punya, jadi aku hanya bisa lewat berkali-kali di depan kedainya hanya untuk mencium aromanya saja."
Wanita berpakaian pendaki gunung itu pun ikut mengendus aroma yang menguar. "Ya ampun…… ini benar-benar aroma kecap asin buatan tangan ibuku sendiri. Selama aku tersesat di gunung yang dingin, aku tidak berhenti memikirkan sup hangat ini. Seharusnya aku tetap diam di pos perlindungan dan tidur dengan tenang. Aku malah nekat keluar hanya untuk melihat salju dan akhirnya malah kehilangan arah. Baterai ponselku juga habis total. Paman, nanti aku boleh meminjam telepon sebentar, kan?"
"Aigo, tentu saja boleh, Nona," jawab Tuan Do sambil memasukkan briket batubara baru ke dalam alat pemanas
ruangan.Tak lama kemudian, si kembar datang dengan nampan di tangan mereka. "Pesanan Seolleongtang sudah siap!"
"Dan ini sup rumput laut hangat untuk Bibi!" Kedua Agwi itu segera menyambar mangkuk mereka dan menyantap isinya dengan sangat lahap.
. .. .........
Glosarium Istilah:
- Buldojang (Buddha Jumps Over the Wall): Sup kental mewah dari tradisi kuliner Tiongkok yang berisi berbagai bahan mahal (seperti abalon, sirip hiu, dll).
- Myeongbumado: Istilah untuk prajurit atau makhluk yang berasal dari alam baka/dunia bawah.
- Jajangmyeon: Mi saus kedelai hitam yang populer di Korea.
- Seolleongtang: Sup tulang sapi khas Korea yang berkuah putih susu hasil rebusan lama.
- Miyeok-guk: Sup rumput laut; makanan tradisional yang wajib dimakan saat hari ulang tahun atau oleh ibu yang baru melahirkan di Korea.
- Dasima: Jenis rumput laut lebar (kelp) yang biasanya hanya digunakan untuk membuat kaldu dasar, bukan untuk dimakan langsung dalam sup rumput laut biasa.
- Jangdokdae: Tempat terbuka (biasanya di halaman) untuk meletakkan tempayan-tempayan besar berisi saus atau makanan fermentasi.
