Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 29>
"Benar kata Mi-a, tempat ini sungguh menyenangkan. Rasa sesak dan pusing yang kurasakan tadi langsung hilang, aku merasa sangat segar."
Eun-bi mengosongkan baskom besarnya dalam sekejap, lalu melirik.
"Tapi itu yang di atas kepalamu... apa mungkin telinga rubah?"
Eun-bi mendadak berdiri dan menjulurkan tangannya. Baek-ran yang panik segera menghindar ke belakang. Chaewoo langsung berlari dan menarik Eun-bi menjauh.
"Kesini saja! Biar aku tunjukkan sesuatu yang menarik!"
"Boleh. Lagipula aku sudah selesai makan siang." Eun-bi pun berbalik mengikuti Chaewoo. Tuan Do mengikuti di belakang mereka, sibuk menangkap barang-barang antik yang nyaris jatuh karena tersenggol oleh Eun-bi.
Yu-dan terperangah. "'Sudah makan siang'? Lalu yang dia makan barusan itu apa?"
Perut Yu-dan berbunyi keroncongan. Rasa lapar yang sempat ia lupakan kini menyerang kembali.
"Tunggulah sebentar. Aku sedang memasak nasi baru," sahut Heuk-yo dari dapur. Di balik pintu yang terbuka lebar, terlihat tutup kuali besar yang bergoyang-goyang karena uap.
"Ngomong-ngomong, tadi aku sempat salah paham," ucap sang dokkaebi yang sudah kembali. "Tiba-tiba kamu masuk dan bilang ada orang paling penting sedunia yang sedang terancam bahaya, aku pikir kamu membawa calon istri yang cantik. Ternyata cuma teman Nona Mi-a."
"Paman tidak tahu apa-apa. Justru itu intinya. Dia itu spesies langka. Spesies yang hanya ada satu di dunia dan sekarang sedang terancam punah. Ternyata benar kata pepatah bahwa kutu pun punya bakat meloncat, tidak disangka Na Mi-a bisa punya teman."
"Siapa yang kamu sebut kutu? Kamu saja tidak punya bakat untuk meloncat," sindir Baek-ran.
Yu-dan hendak membalas dengan emosi, namun siluman rubah dengan cepat mengambil buku dari atas meja. Itu adalah Gogeum-goeijeon, kitab yang mencatat semua fenomena aneh di dunia yang selalu ia bawa setiap kali terjadi kejadian ganjil.
"Bagaimanapun, benar bahwa Air Embun Suci sangat efektif untuk menenangkan Agwi. Ada asal-usulnya." Baek-ran membuka buku tersebut. "Lihatlah di sini. Ketika Yang Mulia Mokryeon, salah satu dari sepuluh murid utama Sakyamuni, pergi ke neraka untuk mencari ibunya……."
"Kenapa awalnya langsung seseram ini? Ibunya masuk neraka?"
"Itu karena dia menumpuk banyak dosa semasa hidup. Saat melihat ibunya menjadi Agwi yang menderita kelaparan, Mokryeon menangis pilu, lalu Buddha menampakkan diri. Berdasarkan ajaran Buddha, Mokryeon memberikan titah bagaikan embun suci kepada para makhluk hidup, sehingga berhasil menyelamatkan ibunya dan ribuan Agwi lainnya. Terinspirasi dari kisah ini, jika kita memberikan Air Embun Suci kepada Agwi, rasa lapar mereka akan hilang seketika dan mereka bisa kembali ke tempat yang seharusnya."
"Air Embun Suci itu sebenarnya apa? Kata Mi-a sangat sulit mencarinya."
"Langit akan menurunkannya jika seorang penguasa memerintah dengan bijaksana."
"Kalau begitu pasti jarang turun. Apalagi zaman sekarang."
"Bagaimana kamu bisa tahu? Karena itulah aku sudah menyimpannya dalam jumlah banyak sejak lama."
Baek-ran menyibak kain yang menutupi meja, memperlihatkan botol-botol berleher panjang. Cahaya biru jernih yang memancar darinya menunjukkan bahwa itu bukan benda sembarangan.
"'Sejong Tahun 1426'."
"'Sejong Tahun 1426'?"
"Ketika Raja Sejong mengakui kaum budak sebagai rakyat langit dan menerapkan kebijakan kasih sayang seperti memperpanjang cuti melahirkan bagi budak pemerintah, langit sangat terkesan dengan ketulusannya merawat rakyat sehingga Air Embun Suci tercurah deras. Aku menampungnya saat itu."
Baek-ran mengukur ukuran tubuh Eun-bi, lalu memilih delapan botol.
"Boleh pakai sebanyak itu?"
"Lagipula aku mengumpulkannya memang untuk digunakan pada saat-saat seperti ini."
Baek-ran memberi isyarat kepada semua orang. Heuk-yo berbisik dengan wajah cemas. "Kita harus bergegas. Selain masalah stok beras kita yang hampir habis……."
Ia menunjuk ke arah seberang. Dari Eun-bi yang sedang asyik melihat-lihat perhiasan zaman Joseon, masih terdengar suara teriakan riuh.
「Lapar. Lapar…….」
Ada bayangan-bayangan hitam yang mendekat seolah tertarik oleh suara itu. Baek-ran mengangguk.
"Ternyata para Agwi masih menempel. Baik. Mari kita selesaikan sekaligus."
"Kalian, pancing Nona itu ke sini. Paman, pergilah ke arah sana. Kamu, berdirilah di sini bersamaku."
Heuk-yo, Tuan Do, dan Yu-dan masing-masing memegang dua botol Air Embun Suci. Dua botol sisanya dipegang oleh Baek-ran.
"Begitu masuk ke jarak tembak, lakukan pengeboman tanpa pandang bulu. Mengerti?"
"Baik, Cheonho-nim."
Saat itulah Eun-bi menoleh ke belakang. Semua orang terdiam seketika. Di tengah keheningan, hanya suara radio yang bergema.
「Grand Park Seoul telah dibuka hari ini. Seiring dengan selesainya pembangunan kebun binatang setelah 5 tahun 7 bulan, Presiden Chun Doo-hwan dan Ibu Negara Lee Soon-ja bersama anak-anak teladan berkeliling taman……」
Mata Eun-bi membelalak. "Eh?"
Baek-ran mengulurkan tangan dan mematikan radio. "Jangan hiraukan."
Namun Eun-bi sepertinya merasakan sesuatu dan mundur perlahan. Kedua matanya memancarkan cahaya aneh.
"Apa yang mau kalian lakukan? Jangan. Mereka semua adalah jiwa-jiwa yang malang."
"Tangkap!"
Heuk-yo segera menangkap Eun-bi yang hendak lari keluar. Tuan Do secepat kilat memercikkan Air Embun Suci.
"Terimalah!"
Aroma yang segar dan menyejukkan menyebar. Mengikuti percikan air yang memantul ke segala arah, pelangi panca warna yang indah muncul. Tubuh Eun-bi terhentak seolah tersambar petir. Para Agwi serentak meronta dan menjerit.
「Tidak! Tidak mau pergi! Mau makan! Mau makan lagi!」
Yu-dan memercikkan Air Embun Suci ke arah mereka. "Sekarang urusan kalian sudah selesai! Cepat keluar!"
Para Agwi yang terkena telak oleh Air Embun Suci berubah warna menjadi panca warna. Sambil mengembuskan napas panjang "Huuu……," mereka mulai melayang naik.
Namun…. Tiba-tiba terasa tekanan yang kuat.
Para Agwi yang tadinya mulai terlepas justru tersedot kembali masuk dengan paksa. Lantai bergetar dengan bunyi dug. Kekuatannya sangat hebat.
"Ini dia! Saat aku mencoba melepaskan Agwi tadi, kekuatan besar seperti ini menarik mereka kembali!"
"Sepertinya ada seseorang yang sedang menggunakan kekuatannya." Baek-ran menajamkan pandangannya.
Atmosfer berubah. Baek-ran menunjukkan sedikit aura yang biasanya ia tekan. Sebuah cahaya keemasan yangmenembus wujud siluman rubah. Cahaya unik yang belum pernah dilihat di mana pun. Menunjukan dia memang seorang Cheonho yang levelnya berbeda dari siluman lainnya.
"Ada batas yang tidak boleh dilanggar antara yang hidup dan yang mati. Siapa kamu yang masih keras kepala ingin menetap di sini?"
Suaranya tidak meninggi, namun memiliki wibawa yang tak terbantahkan. Eun-bi tersungkur sambil tubuhnya menggeliat.
"Lihat itu!" seru Yu-dan kaget.
Wujud Eun-bi bergelombang, lalu tampak tumpang tindih dengan sosok seorang wanita muda. Wajahnya berubah menjadi hitam dan pipinya cekung ke dalam.
「Lapar. Lapar. Lapar…….」
Suara penuh dendam wanita itu menarik para Agwi layaknya lubang hitam. Para siluman Banwoldang membelalak kaget.
"Identitasnya apa? Kenapa dia begitu kuat?"
Pada saat itu, getaran seperti gempa mengguncang seluruh lantai satu. Yu-dan kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Tepat saat lututnya menyentuh lantai, lantai itu amblas. Segalanya berubah menjadi hitam pekat.
Di mana ini? Aku diseret ke mana?
Terdengar derau statis dari suatu tempat. Seperti sedang mencari frekuensi, derau itu putus-nyambung sampai tiba-tiba sebuah suara bergema.
「J. O. D. K. Di sini adalah Stasiun Penyiaran Gyeongseong.」
Yu-dan tersentak dan mendongak. Suara itu berasal dari radio di atas lemari hias kupu-kupu. Sebuah radio kayu berwarna cokelat tua dengan beberapa dial logam besar.
Apa tadi radionya memang seperti itu?
Ia mengalihkan pandangan ke meja. Sebuah buku teks dengan bahasa asing yang tidak ia kenal terbuka asal-asalan. Begitu melihat sampul depannya, tertulis: 『Buku Bacaan Bahasa Jerman』.
Bahasa Jerman? Aku?
Di cermin seberang, ia melihat pantulan dirinya yang mengenakan seragam sekolah warna hitam dengan kerah Shanghai. Dengan bingung ia melihat sekeliling.
Ruangan itu terdiri dari pilar kayu tua dan jendela berjeruji. Di bawah bingkai potret aktor film asing, terdapat sebuah gramofon dengan corong emas.
Di depan rak buku yang memajang boneka eksotis dan hiasan kuningan, si kembar sedang berbisik-bisik sambil membaca majalah. Chaewoo mengenakan celana pendek dengan suspender dan dasi kupu-kupu, sementara Chae-seol tampak imut dengan rok suspender dan topi beludru.
Pintu dalam terbuka, dan Tuan Do muncul mengenakan topi maekgo (topi jerami) dan jas putih. Sambil mengagumi sepatu putihnya yang mengkilap, ia mengambil tongkat yang disandarkan di antara perabotan kuno.
Heuk-yo, yang mengenakan chima-jeogori gaya wanita modern (shin-yeoseong), melirik dari balik kasir.
"Mau pergi ke mana lagi?"
"Teman dokkaebiku yang kukenal di trem kemarin baru beli sepeda, aku mau pergi melihatnya."
"Jangan bohong. Siapa juga yang tidak tahu kalau Paman mau ke kedai kopi itu? Paman, kita ini punya kedai teh, apa pantas Paman malah pergi minum teh di kedai orang lain? Nyonya manajer yang genit itu pasti siluman yang menyamar. Suatu hari aku pasti akan membongkar identitas aslinya."
"Aduh, sudah kubilang aku tidak ke kedai kopi."
"Heh kau yang disana, daripada tidak belajar dan cuma mengantuk terus, lebih baik ikuti Paman dan awasi dia. Sekalian ambilkan brosur film di depan Teater Joseon."
"Oke." Yu-dan berdiri.
Di balik jendela jeruji, terlihat orang-orang Gyeongseong (Seoul zaman dulu sibuk berlalu-lalang. Cuacanya sangat bagus. Hari yang menyilaukan mata bahkan saat terpejam, hari yang langsung terlintas di pikiran saat membayangkan musim semi... Tunggu sebentar. Bukankah aku pernah memikirkan hal ini?
Yu-dan bertanya-tanya sambil membuka pintu. Seseorang berdiri di sana. Rambutnya cokelat dan wajahnya putih. Pemuda itu seumuran dengannya, namun penampilannya yang memakai jubah mangto di atas seragam sekolah terlihat cukup angkuh. Tapi karena dia pelanggan...
"Selamat dat—"
Tiba-tiba, air dingin mengguyur wajah Yu-dan.
"Apa yang kamu lakukan?!"
"...Eh?" Diguyur air dingin membuat Yu-dan langsung tersadar. Kalau dipikir-pikir, apa yang sedang mereka lakukan tadi?
Baek-ran melangkah masuk ke dalam. Yu-dan yang lehernya basah kuyup baru saja akan protes, namun kata-katanya tertelan kembali. Ternyata dalam sekejap mata, Tuan Do, Heuk-yo, dan si kembar pun sudah diguyur air dingin yang sama.
"Aduh, Cheonho-nim…."
"'Sejong Tahun 1426' juga memiliki efek seperti ini." Baek-ran meletakkan botol suci yang ia sembunyikan di balik jubah mangto-nya ke meja.
"Sadar lah semuanya. Rencana menenangkan Agwi dengan Air Embun Suci sudah gagal. Kita harus mencari cara lain."
Ingatan yang sempat hilang pun kembali. Saat sedang memercikkan Air Embun Suci ke Agwi di ruang kerja, tiba-tiba mereka berpindah ke tempat aneh ini. Padahal tadi semua orang menerimanya dengan sangat alami.
Meskipun sudah sadar, saat melihat sekeliling, pemandangannya tetap tidak berubah. Jalanan dengan papan nama toko zaman dulu seperti Toko Nyonya atau Toko Sepatu Karet. Orang-orang berpakaian hanbok dan berjas berjalan berbaur dengan alami. Saat sebuah mobil Ford hitam yang mengkilap muncul, semua orang berhenti melangkah untuk menonton.
Yu-dan tidak percaya matanya. "Apa kita kembali ke masa lalu?"
"Bukan," Baek-ran menggeleng. "Ini bukan kenyataan."
"Lalu?"
"Sepertinya kita sudah ditelan."
Semua orang tersentak kaget menatap siluman rubah. "Ditelan? Apa maksudmu?"
"Aku hanya bisa menjelaskannya seperti itu. Mereka membawa kita ke dunia mereka jika komunikasi tidak berjalan lancar. Mereka tidak hanya menelan kita, tapi juga sebagian dari toko ini. Sepertinya jumlah Agwi-nya terlalu banyak."
"Tunggu, jadi kita sekarang ada di dalam tubuh teman Kak Mi-a?"
"Lebih tepatnya, di dalam dunianya."
Penjelasan siluman rubah tetap terasa membingungkan. Siluman lain pun ikut memiringkan kepala. Tuan Do bertanya, "Tapi kenapa dunianya harus Gyeongseong?"
"Roh yang kita lihat terakhir kali. Wanita misterius yang menarik para Agwi dengan kekuatan besar itu. Pasti karena dia berasal dari zaman ini. Kuncinya adalah wanita itu."
Yu-dan bertanya lagi, "Jadi kita tidak bisa keluar sampai menemukan kuncinya?"
"Bukannya tidak bisa keluar, tapi dunianya yang robek……" Baek-ran menggantung kalimatnya.
Apa yang robek? Apa mungkin Eun-bi? Pandangan Yu-dan menjadi gelap. Bagaimana ia harus bilang pada Mi-a? "Sepupuku, satu-satunya temanmu sudah menelan kami. Aku sekarang ada di dalamnya." Kalimat itu mustahil diucapkan. "Maaf, perutnya kami robek agar bisa keluar." Itu lebih mustahil lagi.
"Ya ampun. Tertelan ke dunia Agwi. Kenapa tamu-tamu yang dibawa bocah ini selalu saja begini?" keluh Heuk-yo.
Saat itulah, bayangan-bayangan hitam berkelebat di luar jendela jeruji. Sosok yang mengerikan. Kepala besar yang bertengger di atas leher yang sangat tipis. Perut yang membuncit dengan empat anggota gerak kurus kering seperti kaki laba-laba.
Yu-dan tersentak. "Para Agwi!"
Semua orang menatap ke luar jendela. Tangan-tangan hitam menjulur ke arah mereka.
"Mereka mencari kita! Mereka mencari kita yang mencoba mengirim mereka ke alam baka!" Wajah Chae-seol menjadi pucat. Chawoo memegang erat tangan kakaknya, meski ia sendiri gemetar lebih jelas.
Baek-ran menghela napas. "Padahal aku baru saja mengeluarkan cangkir kesukaanku dan mau minum teh, malah ada bencana begini. Aku pikir Air Embun Suci tahun 1426 sudah cukup untuk menyelesaikannya."
Yu-dan merasakan sesuatu yang aneh dari nada bicaranya. Ia menatap siluman rubah itu.
"Tadi kamu bilang harus cari cara lain? Berarti ada caranya, kan?"
"Ada."
"Apa?"
"Kira-kira apa ya?"
"Kamu bercanda?"
"Tidak perlu berpikir terlalu sulit."
"Jangan-jangan rencananya begini: karena mereka Agwi yang lapar, kita beri mereka makan sampai perut mereka meledak?"
"Bukan itu," jawab Baek-ran dengan wajah yang tiba-tiba menjadi serius.
.........
Glosarium Istilah:
- Gyeongseong (경성): Nama lama kota Seoul pada masa penjajahan Jepang.
- Dabang (다방): Kedai kopi atau teh tradisional Korea yang populer di awal abad ke-20.
- Maekgo-moja (맥고모자): Topi jerami atau boater hat yang populer di masa modern awal Korea.
- Shin-yeoseong (신여성): Istilah untuk "Wanita Modern" di Korea pada awal abad ke-20 yang terpelajar dan mengikuti tren barat.
- Jeongbyeong (정병): Botol air suci (Kundika) yang biasanya dibawa oleh dewa atau biksu dalam ikonografi Buddhis.
