Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 28>
Kisah ke-delapan
<Restoran Jiwa>
……Tubuh sang ibu kurus kering bagai lidi namun perutnya membuncit, dan kerongkongannya sekecil lubang jarum sehingga seteguk air pun tak bisa ia telan dengan benar. Saat ia mencoba menggenggam nasi, seketika nasi itu berubah menjadi gumpalan api yang menyala-nyala. Sang ibu, karena tak tahan menahan lapar yang melilit ususnya, terpaksa menelan gumpalan api itu dengan rakus.
Melihat pemandangan tragis ini, Yang Mulia Mokryeon menangis meraung-raung. "Buddha yang Maha Pengasih dan Penyayang! Mengapa hal ini bisa terjadi?" Buddha menjawab, "Ibumu telah menumpuk terlalu banyak karma buruk semasa hidupnya. Karena itulah ia menjadi Agwi (Hantu Kelaparan) yang menderita selamanya oleh rasa lapar yang tak pernah terpuaskan."
『Mokryeon-jonjajeon (Kisah Yang Mulia Mokryeon)』
●◉◎◈◎◉●
Sinar matahari yang hangat turun.
Bahkan angin pun membawa aroma matahari. Hari yang menyilaukan mata bahkan saat terpejam. Jenis hari yang langsung terlintas di pikiran saat membayangkan musim semi.
Tunas baru tumbuh pada pohon-pohon tinggi yang berwarna gelap. Di bawah kaki mereka, bunga narsis putih dan kuning mekar lebat.
Yu-dan sedang berbaring di atas padang rumput. Di balik dahan pohon, langit yang biru bersih terlihat. Burung-burung terbang sambil berkicau entah apa. Setelah menatap cukup lama, matanya terasa silau sehingga ia menutupi wajah dengan sebelah lengannya. Separuh langit yang tersisa pun masih tampak biru bersih.
Lama-lama ia merasa lemas dan nyaman. Terdengar suara makhluk-makhluk kecil yang perlahan terbangun dari tanah. Sepertinya mereka penasaran dan mengintip, bahkan ada yang memberanikan diri menyentuh helai rambutnya pelan. Meski terasa mengganggu dan ia sempat akan mengangkat tangan untuk mengusirnya, tapi Yu-dan merasa malas. Akhirnya ia menjatuhkan tangannya kembali. Suara bisik-bisik dan langkah kaki kecil terdengar di dekat kepalanya. Matanya perlahan terpejam.
Tepat saat ia hampir tertidur, ponsel di sakunya berdering.
Menyebalkan sekali…….
Panggilan itu sempat terputus namun kembali berdering. Terpaksa ia mengulurkan tangan dan mengambilnya. Ternyata dari Na Mia.
"Kenapa?"
「Cuma menelepon saja.」
Terdengar nada suram yang samar dari suaranya. Terlebih lagi, Mi-a bukanlah tipe orang yang menelepon tanpa alasan.
"Terjadi sesuatu?"
「A-ah, tidak. Ngomong-ngomong, sudah makan siang? Ayo bertemu, aku yang traktir.」
"Mau menipuku lagi? Kamu pasti punya niat mau menceramahiku, kan? Kamu kan tidak pernah benar-benar mentraktirku."
「Bukan! Kali ini bukan begitu!」
"Jadi kamu mengakui kalau selama ini memang begitu?"
「Kali ini kita harus pesan makanan dulu. Itu yang penting. Pokoknya harus makanan dulu…….」
"Kamu sedang bergumam apa di sana?"
「Pokoknya cepat lah datang. Di depan kampusku. Kedai pizza Italia.」
Telepon diputus sepihak. Yu-dan mencoba menelepon balik namun tidak diangkat. Sepertinya memang terjadi sesuatu. Entah apa yang merasuki kakaknya itu, ia akan tahu setelah bertemu nanti. Setidaknya ia akan mendapatkan makan siang gratis, kan?
Yu-dan berdiri dan mengibaskan bajunya. Ia keluar dari taman, membelah kerumunan orang yang sedang berwisata, lalu menuju stasiun kereta bawah tanah.
Ia ingat betul lokasi kedai Italia di depan kampus Mi-a. Begitu masuk, ia langsung teringat mengapa tempat itu memberikan kesan yang kuat. Interior kayu putih bersih yang dipenuhi berbagai bunga palsu. Alih-alih siswa SMA laki-laki, bahkan laki-laki dewasa pun tidak ada di sana. Saat pintu terbuka, beberapa mahasiswi melirik ke arahnya.
Apa aku keluar saja ya?
"Lihat ke mana kamu! Di sini! Di sini!"
Suara Mi-a terdengar. Terlihat seorang mahasiswi sedang melambai dan berteriak sambil menempati kursi untuk enam orang di pojok sana. Tak ada seorang pun yang duduk di sekitarnya. Jika ada yang tak sengaja ingin duduk di sana, mereka akan langsung tersentak kaget dan pindah ke tempat lain.
Wajar saja.
Rambut hitam legam dengan rona kebiruan, mata tajam seperti kucing. Wajah yang memancarkan aura hantu dan bibir merah. Terlebih lagi, aura suram yang biasanya mengikuti Mi-a kini ganda berkali-kali lipat ganda.
Orang yang baru pertama kali melihat Mi-a pun pasti merasa pernah mengenalnya. Karena tidak ada seorang pun yang tumbuh besar tanpa melihat sosok hantu perawan (Cheonnyeo-gwisin) di televisi setidaknya sekali.
Tentu saja Mi-a sangat terbebani dengan hal ini. Dia sudah mencoba memakai jepit pita, mengikat rambutnya, bahkan mengeriting rambutnya besar-besar, namun semuanya akan segera terlepas atau luntur. Begitu juga dengan wajahnya. Meskipun ia sengaja memakai riasan warna gelap, riasan itu akan segera terhapus. Tubuhnya seolah menolak segala usaha memilukannya untuk menjadi orang normal.
Wajah sepupu Yu-dan itu hari ini tampak lebih pucat dari biasanya. Yu-dan bertanya sambil duduk.
"Kenapa kamu berbohong? Ternyata benar terjadi sesuatu, kan?"
Tak ada jawaban. Mi-a hanya bergumam dengan wajah linglung.
"Aku ingin mati saja……."
Yu-dan tersentak kaget. "Apa?"
"Ah, benar juga. Harus pesan dulu. Pelayan! Tolong semua jenis pizzanya, semua pastanya, dan kelima jenis steaknya juga."
"Kamu sudah gila? Apa cara bunuh dirimu adalah dengan makan sampai mati?"
"Bukan begitu," Mi-a menghela napas. "Sebenarnya aku punya kekhawatiran."
"Apa kekhawatiranmu tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan seperti biasanya?"
"Berisik. Kamu kan tahu aku bisa melihat hantu. Aku sudah menderita sejak kecil sepertimu, lalu setelah bertemu orang-orang di kantor dan melakukan berbagai hal, akhirnya aku bisa beradaptasi. Aku cukup ahli dalam pekerjaanku. Aku bahkan dapat piagam penghargaan karena mahir mengusir hantu."
"Kenapa tiba-tiba menulis biografi diri sendiri begitu?"
"Belakangan ini aku merenungi hidupku. Aku merasa sangat ragu. Aku pikir kemampuanku sudah cukup baik, tapi ternyata ada hal yang tidak bisa kuselesaikan dengan kekuatanku sendiri……."
Saat itu, ponsel Mi-a yang tergeletak di meja berdering kencang. Ia segera mengangkatnya. "Ah, Eun-bi! Kamu sudah masuk? Di sini, di sebelah sini!"
Yu-dan menoleh ke belakang dan tersentak kaget. Sebuah bayangan raksasa menghalangi pintu masuk kedai hingga ruangan seketika menjadi gelap. Pemilik bayangan itu adalah seorang mahasiswi yang memakai terusan motif bunga. Ukuran tubuhnya tiga atau empat kali lipat lebih besar dari orang normal. Lemak di tubuhnya bahkan tidak bergoyang saat melangkah, melainkan memancarkan keberadaan yang berat seperti batu.
Namun bukan ukurannya yang membuat Yu-dan kaget. Mahasiswi itu berjalan sambil terus makan tanpa henti. Batangan cokelat menghilang ke dalam mulutnya dengan kecepatan yang tak masuk akal.
"Maaf aku terlambat. Di jalan tadi aku merasa lapar sekali……."
"Tidak apa-apa, tidak apa-apa."
Mahasiswi bernama Eun-bi itu duduk di depan mereka. Kursi sofa itu langsung amblas ke dalam. Yu-dan baru bisa menguasai dirinya.
"Siapa… dia?"
"Temanku."
"Apa?"
Ini adalah hal yang paling mengejutkan. Teman Na Mi-a? Memangnya makhluk seperti itu ada di dunia ini? Saat Yu-dan menatap dengan ekspresi begitu, Eun-bi pun menatapnya dengan ragu.
"Dia…."
"Iya. Dia sepupu yang pernah kuceritakan. Dia juga bisa melihat hantu. Seperti yang kubilang, dia bahkan bisa melihat lebih baik dariku."
"Begitu rupanya…."
Suasananya sangat aneh. Ada apa sih ini?
Saat itu pelayan datang dengan troli. Semua makanan yang dipesan Mi-a keluar sekaligus. Beberapa loyang pizza di atas papan kayu besar, berbagai pasta dan steak… Meja yang luas itu seketika penuh sesak.
Wajah Eun-bi menjadi kosong. Ia menatap tumpukan piring itu seolah tersihir. Pada saat itu, terdengar suara-suara aneh.
「Lapar. Lapar. Lapar…….」
Ribuan suara berteriak bersamaan. Mendengar suara itu, Yu-dan merasa mual. Pandangannya terdistorsi, dan sosok Eun-bi tampak berbayang menjadi beberapa bagian.
Apa ini Unusuals?
"Lapar……."
Eun-bi mengulurkan tangannya dengan rakus ke arah piring. Pemandangan yang luar biasa terjadi. Ia melahap dua sampai tiga potong pizza sekaligus. Pasta ia makan langsung dari piringnya. Steak dipotong besar-besar lalu ditelan setengahnya sekaligus. Seumur hidup, Yu-dan belum pernah melihat orang makan selahap itu.
「Lapar. Lapar…….」
Meskipun makanan terus masuk, teriakan itu tidak berhenti. Dari balik punggung Eun-bi, sosok-sosok hitam berkerumun keluar, ikut menjulurkan tangan berebut makanan bersamanya. Piring-piring itu seketika menjadi kosong.
"Sebenarnya apa ini…." Yu-dan tidak bisa meneruskan kata-katanya.
Mi-a menutup tirai meja untuk menyekat mereka dari pelanggan lain. Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah lonceng bertangkai. Saat ia menggoyangkannya, terdengar suara denting yang jernih. Bagi orang lain suara itu tidak terdengar, namun di telinga Yu-dan suaranya sangat keras.
"Dewa Agung Langit, Dewa Agung Bumi, Dewa Lima Penjuru, Dewa Empat Samudra……."
Mantra yang digumamkan dari mulutnya pun terdengar seperti guntur. Setiap aksaranya mengandung kekuatan yang besar. Hantu-hantu yang menempel pada Eun-bi mulai gelisah. Beberapa yang berada di pinggir menutupi telinga mereka sambil menjerit.
Saat itulah.
PRANG!
Eun-bi menjatuhkan garpunya. "Jangan. Hentikan. Aku tidak bisa melakukannya. Aku benar-benar tidak sanggup."
Ia mengulurkan tangan dan menyambar lonceng Mi-a. Mi-a terpaksa berhenti menggoyangkannya.
"Eun-bi-ya……."
"Maafkan aku. Maafkan aku. Kalian sangat lapar, kan?" Eun-bi kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Air mata menetes dari wajahnya yang tertunduk.
Yu-dan menatap Mi-a. "Sebenarnya situasi macam apa ini?"
"Seperti yang kamu lihat. Eun-bi ditempeli para Agwi. Sejak kecil mereka mengikutinya satu per satu, dan karena merasa kasihan, Eun-bi memberikan tubuhnya. Itulah sebabnya mereka menempel dan makan bersama. Meskipun rasa lapar Agwi tidak akan pernah bisa terpuaskan."
Mi-a menghela napas panjang. "Jika manusia bersentuhan dengan energ hantu, ia akan menjadi lemah. Meski Eun-bi terlihat kuat, sebenarnya dia sudah di ambang batas. Karena dia harus memberi makan sekian banyak Agwi, seluruh energinya tersedot habis."
Benar saja, wajah Eun-bi diselimuti bayangan kegelapan. Jika ada biksu agung yang lewat, mereka pasti akan mendecakkan lidah sambil berkata, "Ck ck, sisa usianya tidak lama lagi."
"Aku sudah berkali-kali mencoba mengusir mereka tapi selalu gagal. Para Agwi itu sudah terlalu terbiasa menguasai tubuh manusia dan makan sepuasnya. Mereka sama sekali tidak mau pergi."
"Aku benar-benar tidak bisa. Mereka semua sangat kasihan."
"Eun-bi-ya. Kamu tidak boleh berpikir begitu. Kalau hantu-hantu ini tidak diusir, kamu akan mati. Kamu bisa mati. Yang benar-benar kasihan itu adalah kamu. Jadi ayo coba sekali lagi. Ya? Kita sudah janji kan? Kita akan coba menitipkannya pada adikku ini sekali saja."
Eun-bi menghapus air matanya dan mengangguk. Mi-a menatap Yu-dan.
"Tolong, lepaskan satu saja hantu itu. Memangnya aku bisa cerita hal ini pada Ibu, atau pada seniorku di kantor? Orang yang bisa kupercayai hanya kamu."
"Baiklah." Yu-dan mengulurkan tangannya.
Mi-a kembali menggoyangkan loncengnya. Begitu mendengar suaranya, Yu-dan merasakan energi mengalir dan tangannya menjadi kuat. Ia bisa dengan mudah menangkap salah satu Agwi yang sedang meraung di bagian luar.
"Dapat!"
Namun tepat saat ia hendak merenggutnya keluar, percikan api muncul dari tangannya.
"Akh!" Yu-dan berteriak kesakitan dan melepaskannya.
Agwi yang baru saja akan ditarik keluar itu tersentak kembali masuk. Kekuatannya sangat besar.
"Apa-apaan? Kekuatanku tidak ada apa-apanya dibanding mereka?" Yu-dan memijat tangannya yang sakit.
Para Agwi melolong. Eun-bi kembali menangis sesenggukan. "Memang tidak bisa. Mi-a, aku mau berhenti saja. Mereka semua mati kelaparan. Bagaimana mungkin aku tega mengusir jiwa-jiwa malang ini? Maafkan aku. Benar-benar maaf. Aku akan memberi kalian makan sampai kenyang."
"Eun-bi-ya! Jangan begini!" Mi-a sudah tidak tahan lagi dan merebut pizza dari tangan Eun-bi.
Eun-bi memohon sambil menangis agar diberi makanan. Para Agwi di belakangnya mulai mengamuk dan membuat keributan.
Astaga. Yu-dan bergidik ngeri.
Agwi. Hantu Kelaparan. Ia yakin pernah mendengar tentang hal ini.
"Benar. Agwi yang menyiksa manusia karena kelaparan, katanya rasa lapar mereka akan hilang jika diberi Air Embun Suci (Gamnosu)."
Mi-a mendongak seketika. "Bagaimana kamu tahu? Air Embun Suci memang bisa membasuh rasa lapar Agwi. Tapi di mana mencarinya? Itu kan cuma legenda."
"Apa benda itu selangka itu? Siluman rubah memberikannya begitu saja. Waktu itu aku lihat, ada tamu yang diberi Air Embun Suci karena ada hantu anak kecil yang terus mencuri makanannya."
Dan karena setelah kejadian itu ia langsung diserang oleh manusia serigala (Inrang), kejadian hari itu masih terekam jelas di ingatannya.
"Begitu rupanya…." Mi-a menatap Yu-dan dengan wajah bengong. "Kenapa aku tidak terpikir ya? Pak Guru Baek! Meskipun aku tidak bisa pergi ke sana, tapi kamu bisa!"
Seolah mendapat pencerahan, Mi-a mencengkeram lengan temannya yang sedang mengais sisa saus di piring.
"Eun-bi-ya. Ada cara untuk membuat para Agwi ini tenang. Bukan diusir, tapi kita tenangkan rasa lapar mereka dengan Air Embun Suci lalu mengirim mereka ke tempat yang baik."
Namun Eun-bi tidak mendengarkan. "Tadi kita sudah sepakat untuk berhenti. Aku benar-benar tidak bisa." Ia menutupi telinganya dan menggelengkan kepala. Meskipun ia tampak lembut dan baik hati, namun saat itu sikapnya sangat keras kepala.
Harus bagaimana lagi? Yu-dan menatap sepupunya. Mi-a mengangkat bahu.
"Baiklah. Ayo kita berhenti. Tapi ngomong-ngomong, kamu pernah ke Jalan Tradisional? Di sana ada sebuah kedai teh yang sangat bagus…."
Beberapa ekor kupu-kupu terbang masuk melalui jendela lantai bawah. Mereka terbang berputar di dalam ruangan lalu hinggap di perabotan kuno yang berukirkan kupu-kupu panca warna.
Radio tua di atasnya memutar musik klasik. Sesekali terdengar derau statis.
"Maaf ya, datang mendadak begini."
"Kapan memangnya kamu pernah datang tidak mendadak? Jangan khawatir. Bencana memang aslinya begitu. Aku sedang berusaha mengendalikan diri dengan baik."
Hanya siluman rubah yang mau meladeni percakapan Yu-dan. Sisanya berkerumun di seberang sana. Mereka semua menatap dengan mulut ternganga ke arah Eun-bi yang sedang duduk sendirian di satu meja besar, mendekap baskom besar dan melahap bibimbap seperti sedang kerasukan.
Mungkin karena tirai jendela diturunkan, sosok para Agwi yang menempel pada Eun-bi terlihat jauh lebih jelas. Meski Yu-dan sudah melihat sekilas tadi, pemandangan aslinya jauh melampaui bayangannya.
Leher para Agwi sekecil sedotan. Tangan dan kaki mereka kurus kering bagai tulang, namun perut mereka membuncit seperti sedang hamil besar. Mereka bahkan terlihat seperti laba-laba yang mengerikan. Melihat puluhan hantu seperti itu menempel dan saling dorong berebut makanan, Yu-dan akhirnya paham mengapa ada istilah "Agwi-datum" (perkelahian Agwi/perebutan yang ganas).
「Lapar. Lapar. Lapar…….」
Heuk-yo menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menambahkan lebih banyak nasi ke dalam baskom. "Maaf kami hanya punya lauknya seadanya saja."
"Tidak apa-apa! Enak sekali!" seru Eun-bi. Wajahnya yang tertempel sebutir nasi di pipi itu tampak sangat ceria.
. .. . .. . .. .
Glosarium Istilah:
- Yang Mulia Mokryeon (목련존자): Maudgalyayana; salah satu murid utama Buddha yang terkenal dengan baktinya kepada sang ibu yang terlahir sebagai Agwi.
- Agwi (아귀): Hantu Kelaparan; roh yang menderita kelaparan abadi sebagai hukuman atas keserakahan di masa hidupnya.
- Gamnosu (감로수): Air Embun Suci atau Amrita; air surgawi yang diyakini dapat membasuh penderitaan Agwi.
- Cheonnyeo-gwisin (처녀귀신): Hantu perawan dalam cerita rakyat Korea, biasanya digambarkan berambut panjang hitam dan berbaju putih (sobok).
- Agwi-datum (아귀다툼): Ungkapan bahasa Korea untuk menggambarkan persaingan atau perkelahian yang sangat sengit dan tidak sedap dipandang, merujuk pada hantu kelaparan yang berebut makanan.
