Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2

<Chapter 27>


 Benar saja, ada sesuatu yang aneh.

​Raungan hantu wanita yang mengerikan itu, jika diperhatikan sekarang, bukankah terdengar seperti suara isak tangis? Sambil mendekap bayi yang bersimbah darah dan menangis, bukankah dia sedang berusaha keras mengatakan sesuatu seperti, "Ugh, ugh……"?

Apa mungkin dia tidak bisa bicara?

​Begitu pikiran itu terlintas, sosok hantu wanita itu mulai terlihat berbeda di mata Yu-dan.

​Wanita itu tampak sangat lelah dan menderita. Meski terhuyung-huyung, ia memaksakan seluruh tenaganya untuk berjalan, sambil terus menoleh ke sekeliling seolah sedang mencari sesuatu dengan sangat putus asa.

Apa yang dia cari?

​Yu-dan bangkit. Para siluman kecil langsung panik.

​"Anda mau ke mana!"

"Jangan! Jangan pergi! Nanti mati!"

​Yu-dan melepaskan diri dari pegangan mereka yang mencoba menahannya lalu melangkah ke jalan setapak.

​Salju turun semakin lebat. Tanpa disadari, tumpukan salju mulai menebal di tanah. Meskipun ia tahu semua ini hanyalah ilusi yang dibawa oleh si hantu wanita. 

Kenapa rasanya bisa sedingin ini?

​Sambil sedikit menggigil, Yu-dan bertanya pada wanita hantu itu.

​"Ada apa? Apa ada masalah?"

​Wajah biru pucat yang membeku dengan bekas-bekas cacar itu menatap lurus ke arah Yu-dan. Matanya cekung dan hitam pekat. Sepertinya ia menyadari kehadiran Yu-dan melalui mata itu, karena ia mulai merangkak mendekat sambil mengerang, "Ugh."

​Yu-dan menatap ke arah bayi di pelukannya.

​Ia tersentak kaget dan segera memalingkan wajah. Entah apa yang telah terjadi, namun bagian tubuh atas bayi itu sudah hancur menyatu menjadi satu gundukan daging. Sungguh pemandangan yang sangat tragis sampai sulit disebut sebagai bayi lagi.

​"Ini keterlaluan… Apa yang terjadi?" tanya Yu-dan pada wanita yang kini sudah berada tepat di depan matanya.

​"Ugh, ugh……."

​Hantu wanita itu mencoba menjelaskan sesuatu dengan gerakan tangan dan kaki, lalu seakan merasa sesak karena tidak bisa bicara, ia tiba-tiba menyambar tangan Yu-dan. Melalui tangan yang pecah-pecah karena membeku itu, ingatan sang wanita tersalurkan.

​Sebuah pemandangan masa lalu dengan deretan rumah atap jerami.

​Namun, itu bukan masa yang terlalu purba.

​Di desa itu sudah dipasang rel besi dan kereta api mulai masuk. Semua orang keluar untuk menonton. Seorang bayi yang memakai popok melihatnya dan merangkak mendekat.

​Wanita yang sedang menjemur cucian terlambat menyadarinya menjerit histeris. Ia menumpahkan keranjangnya dan berlari kencang, namun semuanya sudah terlambat.

​Terdengar suara hancurnya sosok kecil secara mengerikan.

​Di tempat kereta yang membunyikan klakson itu lewat, hanya tersisa gundukan daging bersimbah darah. Sambil menjerit pilu, wanita itu mengangkat jasad mungil itu dengan tangan gemetar.

​——Bayiku! Bayiku……!

​Ia berteriak dengan lafal yang tidak jelas memanggil orang-orang, namun semua orang melarikan diri karena takut melihat pemandangan mengerikan itu.

​Tanpa disadari, senja mulai turun.

​Serpihan salju yang besar jatuh di atas kepala wanita yang terus berkeliaran tanpa tujuan itu. Tanpa sadar, rambutnya yang tidak tertutup salju memutih. Dari tenggorokan yang serak, terdengar tangisan yang terasa seperti memuntahkan darah.

​—Bayiku, bayiku…….

​Orang-orang hanya melintas dengan acuh tak acuh. Meskipun sesekali ada yang berhenti, mereka hanya menunjuk-nunjuk sambil berbisik sinis.

​——Bayiku sedang sekarat…….

​Getaran kecil di pelukannya perlahan mereda, hingga pada satu titik, sosok itu tidak bergerak lagi. Langkah kaki wanita itu semakin melambat. Meski ia mengerahkan seluruh tenaga di tubuhnya untuk melangkah satu kali lagi. 

​Akhirnya ia tumbang. Salju putih pun turun menimbun tubuhnya. 


​…Selembar kepingan salju kecil yang terbang ditiup angin musim dingin menyentuh pipi Yu-dan.

​Yu-dan tersentak kaget dan kembali ke kenyataan.

​Tepat di depannya, wanita hantu itu kembali berusaha keras bicara sambil menggerakkan tangan dan kakinya.

​"Rumah sakit……? Kamu mau ke rumah sakit?"

​"Aaah, aaah." Wanita itu mengangguk dengan semangat.

​"Ikuti aku."

​Tidak perlu pergi jauh. Di balik kegelapan sana, papan nama rumah sakit bersinar terang. Yu-dan berjalan di depan menaiki jalan tanjakan.

​Untungnya di depan rumah sakit tidak ada orang. Di belakang ambulans yang terparkir sendirian adalah ruang gawat darurat. Lampunya menyala terang.

​"Di sini, sebelah sini."

​Yu-dan memberi isyarat memandu wanita hantu itu. Di belakangnya, pintu otomatis terbuka.

​"Aaah……."

​Wanita hantu itu menatap Yu-dan dengan mata penuh rasa terima kasih. Ia menundukkan kepala memberi hormat, lalu kembali mendekap bayinya erat-erat dan segera masuk ke ruang gawat darurat. Ia menghilang seketika, melebur di antara para dokter dan perawat yang sibuk berlalu-lalang.

​Apa sudah selesai?

Karena sudah ku antarkan, berarti sudah selesai, kan?

​Yu-dan menatap tempat wanita hantu dan bayinya menghilang sejenak sebelum berbalik pergi.

​Salju yang tadi memenuhi langit telah hilang entah ke mana, dan udara hangat musim semi kini menyelimuti malam dengan lembut.

​Di taman malam yang hanya diterangi oleh satu lampion kecil.

​Bunga-bunga musim semi di setiap pohon menghiasi kegelapan dengan indah seperti ujung pakaian seorang wanita cantik. Lalu saat angin berembus, kelopak-kelopak bunga itu bercampur dan berguguran dengan deras.

​Siluman rubah yang merupakan pemilik taman ini duduk di lantai kayu sambil bergumam.

​"Sungguh menyedihkan, makhluk hidup di enam alam (Yukdo). Sungguh menyedihkan, manusia biasa di tiga alam (Samgye). Terlahir dengan sia-sia tanpa mengetahui makna hidup. Mati dengan sia-sia tanpa menyadari alasan kematian."

​Yu-dan mendongak. "Kamu bicara apa?"

​"Hanya sebait kalimat dari buku. Tiba-tiba saja aku memikirkannya."

​Baek-ran mengalihkan pandangannya ke langit malam.

​Bunga-bunga mewah itu pun terlihat memudar di bawah kegelapan malam, namun siluman rubah yang katanya sudah hidup lebih dari seribu tahun ini tetap terlihat jelas dan bercahaya bahkan di malam tanpa bulan sekalipun. Setelah menatapnya sejenak, Yu-dan mengikuti arah pandang sang rubah ke langit.

​"Bintangnya terang ya."

​"Karena saat bulan tidak terbit, cahaya bintang menjadi lebih terang. Syukurlah. Setidaknya ada yang menerangi kegelapan."

​Kalau dipikir-pikir, hari ini bintang memang terasa sangat banyak. Seperti ribuan kisah yang tersembunyi di balik kegelapan kota di bawah langit malam. Yu-dan menatap langit sejenak dengan perasaan yang aneh.

​"……Jadi?" tanya Baek-ran.

​"Eh?"

​"Bukankah kamu bilang ada yang ingin kamu tanyakan?"

​"Ah. Benar juga." Yu-dan kembali menundukkan kepalanya.

​"Tadi saat aku berjalan setelah mengantarkan hantu itu ke rumah sakit…… entah mengapa aku merasa ada yang aneh."

​"Apanya?"

​"Meskipun dia mati penasaran karena tidak sempat ke rumah sakit, hal yang benar-benar diinginkan hantu wanita itu adalah agar bayinya mendapat pengobatan, kan? Tapi kenapa dia langsung menghilang begitu saja? Apa ada yang salah? Jangan-jangan sekarang dia masih berkeliaran di dalam rumah sakit? Aku tidak tahu apa aku sudah menyelesaikannya dengan benar."

​"Aaah…." Baek-ran mengangguk kecil. "Tumben sekali. Ternyata kamu bisa berpikir juga ya."

​"Yah, begitulah. Kalau tidak diselesaikan dengan benar nanti ketemu mereka lagi, kan? Aku tidak mau itu terjadi. Makanya aku berpikir sedikit..." Yu-dan mengangkat bahu. Karena merasa sedikit malu, ia mengaduk-aduk tumpukan kelopak bunga yang tadi dikumpulkan Baek-ran dengan ujung sapunya.

​"Tapi seperti biasa, kamu hanya memikirkan apa yang ingin kamu pikirkan saja. Kamu melewatkan hal yang benar-benar penting."

​Gerakan sapu Yu-dan terhenti. "Memangnya aku melewatkan apa?"

​"Soal rumah sakit itu," ucap Baek-ran santai sambil menatap kelopak bunga yang berguguran. "Kawasan pemukiman yang tenang. Jalur setapak yang sepi di bawah kaki gunung. Bagaimana mungkin ada rumah sakit seperti itu di sana? Terlebih kamu bilang kamu harus mendaki tanjakan yang cukup tinggi? Berarti itu ada di tengah gunung, bukan?"

​"Eh?" Yu-dan seketika panik. "Kalau dipikir-pikir memang aneh. Tapi tadi jelas-jelas itu rumah sakit! Begitu naik jalan gunung ada ruang gawat darurat—ah, benar juga, itu tidak masuk akal! Lalu aku mengantarkan hantu wanita itu ke mana? Sebenarnya tempat apa itu?"

​Baek-ran tersenyum. Yu-dan tidak tahu apa arti senyum itu. Apakah sedang mengejek, atau karena merasa ada yang lucu.

​"Mau lihat? Mau mencoba berkunjung ke sana sebentar?"

​Sambil berkata begitu, Baek-ran mengangkat lampion yang sejak tadi ada di sampingnya. Cahaya lampion itu mengusir kegelapan dan membentuk sebuah jalan.

​Yu-dan mengikuti siluman rubah itu.  Setelah berjalan beberapa langkah, ia merasa kehilangan arah. Tentu saja ini bukan jalan yang biasa. Sambil berpikir begitu, ia diam saja mengikuti dari belakang.

​Udara menjadi segar. Gunung yang diselimuti kegelapan tiba-tiba muncul dengan jelas di depan mata.

​"Ah, di sini tempatnya!" Yu-dan berlari lalu berhenti.

​Di tempat ia mengantarkan wanita hantu tadi, kini hanya ada pohon-pohon bunga seperti pohon sakura dan magnolia yang berdiri melingkar. Rumah sakit yang besar, ambulans, maupun ruang gawat darurat yang terang benderang tadi, semuanya lenyap tak berbekas.

​"Aneh! Padahal jelas-jelas di sini tempatnya! Bagaimana bisa begini? Tadi benar-benar sebuah rumah sakit! Aku yakin melihatnya seperti itu!" gumam Yu-dan dengan wajah pucat. "Sebenarnya apa yang sudah aku lakukan?"

​"Entahlah," sahut siluman rubah sambil berjalan melewatianya dengan santai. Yu-dan menatap punggung rubah itu dengan hampa, lalu ia kembali terkejut.

​Kini ia menyadari, di balik pepohonan bunga itu ternyata terdapat sebuah vihara kecil (Am-ja).

Ia kemudian mengikuti rubah masuk dan aroma dupa yang harum pun tercium. Cahaya lilin yang dinyalakan orang-orang di depan patung Buddha batu tampak bergoyang-goyang. Baek-ran melangkah masuk dengan tenang sambil membawa lampionnya.

​"Sepertinya kamu sudah mengantarkannya ke tempat yang tepat."

​Sambil berkata begitu, Baek-ran mengarahkan cahaya lampionnya ke sebuah lukisan dinding di vihara tersebut. Yu-dan menatap ke arah lukisan itu.

​Di antara kerumunan makhluk hidup di bawah kaki Buddha, sosok seorang wanita tampak menonjol. Ia sedang mendekap seorang anak kecil dengan wajah yang tersenyum cerah.

​"Pasangan ibu dan anak yang malang itu telah diterima oleh Bodhisattva Ksitigarbha (Jijang-bosal)," ucap Baek-ran.

​Yu-dan menengadah menatap wajah penuh belas kasih dari patung Buddha di atas sana. Lalu ia kembali menurunkan pandangannya ke arah lukisan. Barulah ia menyadari, pada wajah wanita di lukisan itu, terdapat sedikit bekas luka cacar yang samar.

. ....................... 

Glosarium Istilah:

  • ​Yukdo (육도): Enam alam reinkarnasi dalam ajaran Buddha.
  • ​Samgye (삼계): Tiga alam keberadaan (Alam Keinginan, Alam Bentuk, dan Alam Tanpa Bentuk).
  • ​Sobok (소복): Pakaian tradisional berwarna putih.
  • ​Am-ja (암자): Vihara atau kuil kecil yang biasanya terletak di tempat terpencil atau di gunung.
  • ​Jijang-bosal (지장보살): Bodhisattva Ksitigarbha, yang dikenal sebagai pelindung anak-anak dan arwah di alam baka.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang