Kisah Aneh Banwoldang – Volume 2
<Chapter 26>
Kisah ke-tujuh
<Hantu wanita di Malam tanpa Bulan>
Saat malam tiba, kota memang bersinar semakin terang, namun jika bergeser sedikit dari sana, maka akan ada dunia yang berbeda. Di setiap sudut taman yang tidak terjangkau cahaya lampu jalan, kegelapan selalu mendekam tanpa terkecuali. Kegelapan yang seolah-olah akan hidup dan bergerak jika ditatap lekat-lekat.
Ada seorang siswa laki-laki yang berjalan sendirian di jalur setapak yang sudah sepi. Dengan sorot mata yang sering dibilang terlihat galak, ia tampak sedang menatap tajam ke arah kegelapan—meski sebenarnya, dia sendiri tidak sedang memikirkan apa-apa.
Memutar jalan saat pulang ke rumah sudah menjadi kebiasaannya sekarang. Mungkin karena merasa tidak nyaman hanya berdua dengan ayahnya di rumah yang sunyi? Alasan itu memang ada. Namun, ia tetap melakukan hal ini sekarang meskipun tidak ada orang yang mencampurinya, mungkin saja karena ia merasa malam hari sangat nyaman.
Meskipun ia tidak tahu apa yang akan melompat keluar dari kegelapan, fakta bahwa malam hari lebih nyaman daripada siang hari adalah benar. Ia terutama, tidak membenci malam di musim semi, saat dimana hal-hal yang tak dikenal mulai terbangun dan bersemi di bawah telapak kaki.
Meski begitu, sepertinya ia sudah berjalan terlalu jauh. Tiba-tiba ia merasa suasana menjadi terlalu gelap.
Yu-dan menghentikan langkahnya.
Karena mata kirinya adalah Cheonan (Mata Langit) yang bisa menembus logika hidup dan mati, ia sering kali tidak sengaja melewatkan kegelapan yang tidak wajar karena pandangannya yang selalu sangat terang.
Saat mencoba menutup matanya dan melihat kembali, keadaan memang benar-benar gelap. Kegelapan yang pekat dan merata, sangat kontras dengan kerlip lampu-lampu kota.
Yu-dan menengadah ke langit. Tidak ada bulan.
Di malam tanpa bulan, hal-hal buruk akan merayap masuk mengikuti kegelapan pekat…
Ia pernah mendengar perkataan itu saat masih kecil. Setiap kali malam gelap tanpa bulan seperti ini, orang-orang tua di rumah kerabat ibunya di desa akan memotong dahan pohon berduri dan menggantungnya di gerbang. Jika ia duduk sendirian di halaman, ia sering melihat bayangan yang merayap mendekat namun mundur ketakutan di depan pintu gerbang.
Kira-kira apa sebenarnya mereka saat itu?
Yu-dan kembali melangkah. Di tengah kegelapan, bunga-bunga musim semi menebarkan aroma yang kuat. Angin berdesir pelan, dan bayangan dedaunan menari dengan ribut.
Entah mengapa, malam ini terasa seperti akan terjadi sesuatu yang aneh. Sebaiknya ia segera pulang ke rumah.
Musik bising mengalun dari earphone-nya, namun tidak merasuk ke pikirannya. Yu-dan mengecilkan volume dan memusatkan seluruh perhatiannya ke arah punggung.
Firasat buruknya tidak pernah meleset sekalipun.
Pada saat itu, ada suara lain yang mengikuti di ujung langkah kakinya yang berderap. Langkah-langkah kaki asing yang tidak bisa tertutupi bahkan oleh musik sekalipun.
Tanpa menoleh, Yu-dan hanya melirikkan matanya sedikit. Di ujung bayangannya yang memanjang di jalur setapak, benar saja, ada beberapa bayangan kecil yang menempel.
Ia diam-diam memasukkan tangan ke saku dan mematikan musiknya. Suara bisik-bisik dari belakang terdengar dengan jelas.
"Ya. Kalau yang itu sepertinya cukup."
"Bagus. Ayo segera kita bawa pergi."
"Tunggu sebentar! Dia pergi ke jalan yang salah!"
"Mantra! Cepat mantrai dia!"
Yu-dan otomatis mengernyitkan dahi. Mereka mau bermain-main?
Sepertinya mereka sama sekali tidak menyangka bahwa manusia ini bisa mendengar ucapan mereka. Begitu mereka berbisik-bisik, pemandangan di depan kakinya berubah seketika. Jalur setapak berubah menjadi semak belukar, dan di antara semak itu tiba-tiba muncul jalan lain yang asing.
Lihat lah makhluk-makhluk ini..
Saat Yu-dan mengerahkan tenaga pada matanya dan fokus melihat jalanan, semua yang semula buram kembali ke wujud semula. Mereka pasti kaget kalau aku tidak tertipu sihir mereka dan tetap berjalan di jalur yang asli, bukan? Ia sempat berpikir begitu, namun dia mengubah niatnya dan justru menginjak jalan palsu tersebut.
"Nah, benar kan! Dia terjebak!"
"Ikuti! Ikuti dia!"
Suara langkah kaki menjadi gaduh. Bahkan terdengar suara kepakan sayap.
"Hei! Jangan terlalu menempel! Bahaya……."
Bersamaan dengan kalimat itu, Yu-dan memutar tubuhnya dengan cepat.
Ia melihat sosok-sosok kecil yang berkerumun sembunyi di bayangannya. Sudah lama sekali ia tidak diserang oleh kroco-kroco seperti ini sejak masa kecilnya.
Ia menginjak dengan kuat sesuatu yang terbang paling dekat dengannya.
"Hiiiiiik!"
Ternyata itu adalah seekor burung warna-warni. Gerakannya yang meronta-ronta mirip dengan bebek mandarin, meskipun sulit dipastikan namun ada sesuatu yang terasa berbeda secara samar.
"Gawat! Kita dalam masalah besar!"
Sosok-sosok kecil itu mulai mengerumuninya.
Ada manusia kerdil zaman dulu dengan lengan baju lebar, seekor ikan mas yang memiliki tangan dan kaki, seekor kelinci bermata merah yang berjalan dengan dua kaki, serta sebuah buku tua yang terbang sambil mengepakkan halamannya… Mereka adalah siluman-siluman aneh yang seolah melompat keluar dari lukisan rakyat kuno.
"Lepaskan! Lepaskan dia!"
Semua menyerbu dan bergelantungan di kaki Yu-dan. Ada yang mencoba melepaskan rekannya, ada yang memukul dengan tinju kecil, ada juga yang menggigit; benar-benar membuat keributan yang heboh.
Yu-dan menatap mereka dengan heran. "Ternyata kalian punya rasa setia kawan juga huh?"
Di sebuah sudut yang bahkan tanpa bulan tidak akan terjangkau cahaya, di bawah tunggul pohon tua yang tidak akan didatangi siapa pun, siluman-siluman kecil itu duduk berlutut dalam satu barisan.
Yu-dan memarahi mereka. "Beraninya kalian mencoba memantrai orang yang lewat?"
"Maafkan kami, maafkan kami. Tolong ampuni nyawa kami. Mohon maafkan kami. Kami tidak tahu kalau Anda adalah orang hebat."
Yu-dan menatap ke arah para siluman yang sedang bersujud dan memohon dengan tulus itu. Biasanya, urusan akan selesai sampai di sini. Memberi mereka pelajaran, membentak agar jangan pernah menampakkan diri lagi di depan matanya, lalu selesai.
Namun, entah mengapa kali ini ia tidak ingin mengakhirinya begitu saja. Mungkin ia tidak ingin dianggap bodoh. Ada satu fakta baru yang ia pelajari belakangan ini. Bahwa dunia ini berputar dengan lebih rumit daripada kelihatannya. Dan di balik fenomena yang tampak sederhana, mungkin tersimpan sebuah kisah tertentu.
Setelah membiarkan mereka memohon beberapa saat lagi, Yu-dan bertanya pelan.
"Kalian mau membawaku ke mana?"
"Kami salah!"
"Sudahlah, katakan saja! Kenapa kalian begini? Apa yang kalian inginkan? Aku harus tahu alasannya agar bisa memberikan penilaian!"
"Eh?"
Semua mendongak dan menatap Yu-dan dengan wajah terkejut. Buku itu pun mengepakkan halamannya seolah ingin menunjukkan rasa kagetnya juga.
"Maksud Anda… Anda mau mendengarkan kisah kami?"
"Kenapa kaget begitu? Katakan yang sejujurnya. Kalau kalian punya niat jahat dan mencoba mencelakaiku, aku akan mengikat kalian semua dan membuang kalian ke tempat yang sangat menakutkan, tempat tinggal siluman berusia seribu tahun."
Siluman-siluman kecil itu tersentak kaget. Mereka saling senggol sampai akhirnya mendorong si ikan mas yang punya tangan dan kaki ke depan.
"Ehem. Kalau begitu, izinkan saya mewakili mereka untuk bicara. Kami semua sudah lama tinggal di sini. Karena ini adalah kawasan yang bersejarah dan tenang, tempat ini sangat cocok bagi makhluk seperti kami untuk menetap. Namun belakangan ini, muncul sebuah masalah besar. Yaitu……."
Si ikan mas ragu sejenak sebelum akhirnya menutup mata rapat-rapat dan berbicara dalam satu napas.
"Karena adanya Hantu wanita di malam tanpa bulan."
"Hantu wanita di malam tanpa bulan?"
"Benar. Entah sejak kapan, setiap kali malam tanpa bulan tiba, hantu wanita berambut putih yang mengerikan pasti muncul di sekitar sini. Kami tidak tahu sudah berapa banyak kawan kami yang menjadi korbannya. Sekarang kami sudah ketakutan setengah mati setiap kali malam tanpa bulan akan datang. Hari ini pun kami hanya bisa berkumpul dan gemetar karena tidak punya pilihan, namun kebetulan kami melihat Anda lewat dan Anda tampak luar biasa, jadi kami……."
Ucapannya memudar sambil ia melirik Yu-dan dengan waswas. Yu-dan langsung membentak.
"Jadi kalian berniat mengadu domba aku dengan hantu itu?"
"Bukan, yah, tidak harus begitu juga…" Si ikan mas dengan lihai mengalihkan pembicaraan. "Pokoknya Anda harus berhati-hati jika ingin melewati tempat ini di malam tanpa bulan. Jika tidak sengaja berpapasan, jantung Anda bisa berhenti berdetak. Rambutnya putih, wajahnya biru pucat, dan pakaian putihnya basah oleh darah……."
"Dia berkeliling sambil meraung dan menggendong kepala seseorang yang penuh darah. Maksud ku, potongan sampai leher."
"Aku baru pertama kali mendengar raungan hantu yang begitu mengerikan seumur hidup. Terlebih lagi, setiap kali wanita hantu itu muncul, cuaca tiba-tiba menjadi dingin dan……."
Semua orang berbicara dengan gaduh. Di tengah keributan itu, mereka terus mengawasi sekeliling dengan wajah ketakutan yang luar biasa.
"Berisik sekali. Bisa tenang sedikit tidak?"
"Bagaimana bisa tenang? Wanita hantu itu sangat kejam!"
"Mungkin dia punya alasan melakukan itu."
"Tentu saja ada alasannya, yaitu untuk membantai!"
"Sudah kubilang tenanglah sedikit! Aku akan lihat dulu apakah benar ada hantu sejahat itu yang berkeliaran di taman ini."
"Anda mau ke mana? Ayo pergi bersama! Bayangan Anda terasa sangat kokoh, tolong sembunyikan kami!"
"Jangan mengikutiku! Pergi sana!"
Saat mereka sedang berdebat, tiba-tiba sesuatu yang dingin menyentuh dahi Yu-dan.
Yu-dan menengadah ke atas. Dari langit yang hitam pekat tanpa bulan, serpihan putih berjatuhan dengan lembut. Saat ia menyentuhnya dengan jari, ia tersentak kaget.
Ini salju. Tapi bukankah sekarang musim semi?
Bunga-bunga yang sedang mekar di pohon perlahan tertutup oleh tumpukan salju putih. Angin dingin berembus dari suatu tempat. Di kejauhan, suara tangisan yang suram terdengar terbawa angin tersebut.
"Uwaa! Dia muncul! Dia muncul!"
Siluman-siluman kecil itu berteriak dan berhamburan ke segala arah. Namun mereka segera berhenti, lalu kembali lagi untuk menarik-narik baju Yu-dan.
"Apa yang Anda lakukan! Cepat kemari!"
Setelah menyembunyikan Yu-dan dengan baik di balik semak-semak, mereka semua menggumpal menjadi satu sambil gemetar hebat.
"Jangan mengeluarkan suara apa pun, dan jangan menoleh!"
"Jangan sampai ketahuan oleh wanita hantu itu! Kalau ketahuan, tamatlah kita!"
"Jangan bernapas sekalipun!"
Yu-dan menatap mereka dengan heran saat mereka memeganginya erat-erat. Manusia kalau tidak bernapas ya mati!
Lagipula, bukankah awalnya mereka ingin memanfaatkan Yu-dan untuk mengusir hantu wanita itu? Mengapa sekarang mereka malah sibuk menyembunyikannya? Sepertinya mereka semua sudah hilang akal karena terlalu takut.
Di tengah situasi itu, salju terus turun dengan lembut dari langit. Di antara pepohonan musim semi yang bersalju, hantu wanita berpakaian putih yang penuh darah perlahan mendekat.
Angin yang bertiup terasa semakin dingin hingga menusuk kulit. Yu-dan gemetar karena kedinginan. Semakin dekat hantu wanita itu, suasananya semakin dingin. Mungkin juga karena suara raungan hantu yang samar-samar terbawa angin dingin tersebut. Siluman-siluman kecil itu menutupi mata dan telinga mereka karena ketakutan.
Rambut putih yang terurai. Pakaian putih yang ternoda darah.
Apa itu darahnya sendiri?
Bukan. Dari benda bulat yang ia dekap di pelukannya, darah menetes satu per satu membasahi pakaian putihnya. Wanita hantu itu berjalan sambil menatap lurus ke depan dan mendekap benda tersebut erat-erat. Wajahnya yang biru membeku, membengkak, dan penuh bekas cacar yang aneh. Sosok itu semakin mendekat.
Yu-dan membuka matanya lebar-lebar. Aku tidak takut. Sama sekali tidak takut.
"Apa yang Anda lakukan?" Siluman burung menatap Yu-dan dari celah sayap yang menutupi wajahnya.
"Aku sedang adu menatap……."
"Hiiiiiik!"
Semua orang tersentak kaget luar biasa. "Anda adu menatap dengan hantu wanita? Anda benar-benar tidak punya rasa takut sama sekali! Nanti mati! Anda bisa mati!"
"Tapi aku harus melihatnya dengan jelas supaya tahu sesuatu…Ah? Tunggu sebentar."
Barulah ia menyadari ada sesuatu yang aneh. Yu-dan menanatap lurus ke arah dekapan wanita hantu itu.
"Sepertinya benda bulat itu punya tangan dan kaki?"
"Apa maksudnya! Itu malah terdengar lebih menyeramkan!"
"Bukan! Itu bukan potongan kepala! Siapa yang bilang itu kepala? Itu adalah…… bayi! Dia menggendong bayi!"
.....,.,.....,
Glosarium Istilah:
Cheon-an (천안): Mata Langit; kemampuan penglihatan supranatural yang sering dikaitkan dengan pencerahan atau kekuatan dewa.
Sobok (소복): Pakaian tradisional Korea berwarna putih polos, sering digunakan saat berkabung atau dikaitkan dengan hantu wanita.
Gwi-nyeo (귀녀): Hantu wanita; biasanya merujuk pada roh wanita yang memiliki dendam atau kisah tragis.
Malam tanpa bulan(Geumeum-bam): Malam terakhir dalam siklus bulan di mana bulan sama sekali tidak terlihat di langit.

