Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 25>
Kisah tambahan
<Cheongmyeong>
Langit yang terlihat di balik tulisan emas di jendela itu… benar-benar berwarna langit. Yu-dan menyesali kemampuan ekspresinya yang terbatas, lalu mengalihkan pandangan.
Di dalam ruangan yang dikelilingi dinding kaca, seorang pria bercelemek sedang mengemas kue.
Sejak hari ia ditempeli kesialan waktu itu, Yu-dan selalu membeli kue di sini. Untuk ukuran tempat yang ia masuki secara asal dan terburu-buru, tempat ini sangat bagus.
Ini bukan soal rasa kuenya. Jika mendengar ucapan para siluman Banwoldang, rasa kue ini bukan sekadar bagus, tapi yang terbaik. Namun, Yu-dan sendiri tidak memiliki indra perasa yang cukup peka untuk menilai rasa kue. Alasan ia menyukai tempat ini adalah karena ia tidak perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Pemilik toko yang berjenggot lebat itu sangat pendiam. Ia tidak pernah menanyakan hal tak berguna seperti "Siapa yang berulang tahun?". Cukup tunjuk kue yang diinginkan, dan ia akan mengemasnya sendiri.
Kadang saat Yu-dan baru membuka pintu, ia mendapati pemiliknya sedang membuat kue. Meski demikian, pria itu akan tetap menyelesaikan kuenya terlebih dahulu sebelum keluar dari kotak kaca, tanpa peduli ada pelanggan yang datang. Dulu Yu-dan akan keluar lagi dan berkeliling tempat lain baru kembali, tapi belakangan ini ia memilih menunggu dan menonton. Sangat ajaib melihat hiasan yang begitu detail dan cantik lahir dari tangan yang kasar dan besar itu. Rasanya ada semangat pengrajin yang terpancar, tidak ada satu pun yang dikerjakan asal-asalan.
Pita hiasannya juga unik. Meskipun Yu-dan sudah bilang, "Aku tidak butuh pita mungil ini," pria itu tetap mengikatnya. Seolah ingin menegaskan bahwa kesempurnaan sebuah kue ada pada pitanya.
Selagi ia menonton, pengemasan pun selesai.
Saat Yu-dan hendak membawa kotak itu keluar, sang pemilik memberi isyarat agar ia berhenti. Pria itu mengambil salah satu dari sekian banyak kertas di laci, membubuhkan cap, lalu menyodorkan satu kue kecil sebagai bonus.
Lho? Apa sudah genap dua belas kotak?
Ngomong-ngomong, apa pria ini mengingatku?
Yu-dan keluar dari toko membawa dua kotak kue. Meskipun mereka tidak pernah bicara, ia bertanya-tanya apakah pria itu merasa aneh melihatnya terus membeli kue seakan ingin terkena diabetes? Apa yang akan pria itu katakan jika tahu sebenarnya para silumanlah yang memakannya?
Sambil berjalan dengan pikiran seperti itu, ia melihat pemandangan aneh.
Entah hantu atau apa, seorang wanita dengan rambut terurai panjang sedang berjalan mendaki langit. Jejak awan putih memanjang mengikuti ujung kakinya.
……Apa itu?
Sambil bertanya-tanya, ia sampai di Banwoldang.
Si kembar sedang berada di halaman depan. Mereka merapatkan kepala sambil memetik kelopak bunga satu per satu dan bergumam.
"Datang, tidak, datang, tidak……."
"Lagi apa?"
Begitu Yu-dan mengintip, keduanya tersentak kaget.
"Seperti yang kamu lihat, kami sedang meramal apakah kamu akan datang atau tidak."
"Ternyata datang ya? Aneh. Padahal hasil ramalannya bilang tidak datang."
"Kan kalian yang menyuruhku datang!"
"Tapi bisa saja kamu tidak datang."
"Atau mungkin saja kamu tidak bisa datang."
"Kenapa hidup kalian rumit sekali? Sudahlah. Kenapa menyuruhku datang?"
Chaewoo tersenyum lebar. "Karena hari ini adalah hari Cheongmyeong."
"Apa itu?"
"Hari untuk mulai membajak ladang di musim semi," sahut Tuan Do dari kejauhan sambil menunjukkan cangkulnya.
"Kalau membajak ladang saat Cheongmyeong, hasil taninya akan sangat bagus. Lihat ini. Ini adalah kebun sayur Paman. Semua yang tumbuh di sini adalah organik."
"Dan kalau cuaca cerah saat Cheongmyeong, hasil tangkapan ikan tahun itu akan melimpah. Lihatlah. Tahun ini aku akan makan ikan sampai kenyang," ucap Heuk-yo yang duduk di lantai kayu. Ia sedang memeluk akuarium bundar dan menatap isinya dengan bangga.
"Memangnya ada ikan di akuarium itu?"
"Kamu tidak tahu apa-apa. Ini adalah tambak ikanku."
Begitu ia bicara, beberapa ekor ikan berpunggung biru melompat keluar dari akuarium. Air memercik ke seluruh lantai kayu.
"Mana mungkin! Satu ekor ikannya saja jauh lebih besar dari akuarium itu!"
"Memang aslinya begitu. Nanti saja lihat-lihatnya."
"Ayo ikut ke sini dulu," si kembar menarik Yu-dan masuk.
Yu-dan terkejut saat masuk ke dalam. Berbagai macam siluman sedang mengantre panjang sambil membawa wadah masing-masing. Apa ini? Ada makan bergizi gratis?
Saat naik ke lantai atas, ia melihat Baek-ran bersama si Kodok Pejabat sedang membagikan sesuatu kepada para siluman. Begitu melihat benda yang diambil dari tungku besar, ternyata itu adalah percikan api.
"Membagikan api?"
"Ini adalah api baru untuk tahun ini," jawab si Kodok Pejabat dengan sopan.
"Pada hari Cheongmyeong, api baru dinyalakan dengan menggosok kayu pohon dedalu dan elm. Raja membagikan api ini kepada para pejabat dan gubernur di seluruh penjuru negeri, yang disebut sebagai Sahwa (Api Anugerah). Kami para siluman menerima api baru dari Cheonho-nim sebagai pengganti Raja. Karena apinya sangat berkualitas, semua orang mengantre saat Cheongmyeong tiba."
"Itu sebabnya kami memanggilmu. Yu-dan juga ambillah."
"Ini akan membuat rumahmu terasa nyaman dan mengusir hantu-hantu jahat."
Mendengar itu, Yu-dan tertarik. "Benarkah?"
"Ehem. Kalau diingat-ingat, dulu manusia juga berebut untuk mendapatkannya, tapi belakangan ini jarang terlihat lagi."
"Aku juga akan diberi?" tanya Yu-dan sambil menatap Baek-ran.
"Karena kamu datang paling terakhir, tunggulah di sana," jawab Baek-ran, yang artinya ia memang berniat memberikannya.
Yu-dan duduk di sudut ruang kerja sambil menonton. Satu per satu siluman maju untuk menerima bara api. Apinya terlihat hangat dan penuh energi. Semua siluman mundur sambil memeluk wadah mereka seolah itu adalah harta karun yang sangat berharga.
Saat mereka melewati depan Yu-dan, ia bertanya, "Apa kamu siluman baik? Apa kamu pantas menerima ini?"
"Eh? Ah, iya……." Para siluman itu turun ke bawah sambil berkeringat dingin. Setelah ia melakukannya beberapa kali, Baek-ran angkat bicara.
"Berhentilah."
Seketika Yu-dan merasa bosan. Bukan rasa bosan yang buruk, karena meski ia tidak suka buku, aroma buku di sini lumayan enak. Sambil menghirup aroma waktu yang tersimpan di sana, kepalanya mulai terasa pening.
Tanpa sadar ia menyadari bahwa ia baru saja tertidur sejenak. Aku tidak boleh tidur…….
Ia mencoba terjaga tapi tidak bisa. Si Kodok melirik ke arahnya.
"Sepertinya manusia itu mengantuk."
"Dia memang selalu kurang tidur. Entah karena diganggu hantu, atau karena mimpinya tidak tenang."
"Kasihan sekali. Padahal dia masih sangat muda."
"Muda apanya. Jika dikali tujuh, usianya sudah seratus sembilan belas tahun."
"Kenapa harus dikali tujuh?"
"Entahlah, aku hanya ingin mengalinya saja."
"Bukankah biasanya angka tujuh digunakan untuk menghitung umur anjing?"
"Oh ya? Aku tidak tahu."
Percakapan pura-pura polos mereka berdua benar-benar menyebalkan. Namun itu hanya sebentar. Yu-dan tidak bisa bertahan lagi. Ia terlalu mengantuk. Ia menyandarkan kepalanya pada rak buku yang dingin. Saat ia mulai tenggelam ke dunia mimpi…
Terdengar suara panggilan yang lirih dari suatu tempat.
"Permisi. Tuan Manusia."
"Eh?"
Yu-dan membuka matanya sedikit. Siluman rubah dan kodok masih sibuk membagikan bara api.
"Di sini. Sebelah sini."
Yu-dan bangkit perlahan dan mengikuti suara itu. Ia berkeliling di ruang kerja sampai menemukan ruangan lain. Di sana tertumpuk barang-barang yang berbeda dari gudang Tuan Do, barang yang benar-benar sangat tua. Barang-barang antik yang belum pernah ia lihat seumur hidup.
"Di sini, Tuan Manusia."
Suaranya terdengar namun sosoknya tidak terlihat. "Di mana?"
"Di bawah. Lebih bawah lagi."
Yu-dan menunduk. Barulah ia menemukannya. Ada sosok kecil yang melompat-lompat karena terjepit di celah antara dua kotak besar. Ia mengenakan jeogori panjang, ikat pinggang yang menjuntai, dan rok lipit. Penampilan gadis itu seakan melompat keluar dari lukisan dinding zaman Tiga Kerajaan.
Apa ini? Peri kuno?
Yu-dan berlutut dan memperhatikannya dengan saksama. "Siapa kamu?"
Gadis kecil itu menangkupkan kedua tangan di dadanya dengan lega. "Ah, akhirnya ada yang melihatku. Setiap tahun aku berteriak begini tapi tidak ada yang menemukanku. Tolong keluarkan aku dari sini dulu."
Yu-dan menatapnya dengan curiga. "Bagaimana kalau kamu siluman jahat?"
"Bukan! Bukan! Aku tidak jahat! Aku pelayan Nona Jacheongbi yang memberikan kemakmuran bagi manusia."
"Jacheongbi? Pemimpin kejahatan mana lagi itu?"
"Masa kamu tidak tahu? Astaga. Jadi seperti apa dunia ini sekarang……." Gadis itu jatuh dramatis. Ia tampak frustrasi seolah langit runtuh dan meronta-ronta di lantai.
Yu-dan menutup mata kanannya dan memperhatikan lebih detail. Meskipun tadi ia membentak, gadis ini tidak terlihat jahat. Di luar itu semua, dia terlalu kecil untuk berbuat jahat.
Sepertinya dia benar-benar peri. Yu-dan memegang punggungnya dan mengangkatnya keluar.
"Omo, terima kasih, Tuan Manusia!"
Si peri segera bangkit dan membungkuk memberi hormat. Setelah dikeluarkan, ia terlihat jauh lebih kecil lagi. Seperti boneka yang dibuat dengan sangat detail.
"Apa dari dulu kamu sekecil ini?"
"Bukan. Aku mengecil. Aslinya aku besar. Sangaaat besar." Si peri merentangkan kedua tangannya lebar-lebar sambil melompat-lompat. Ekspresinya kaya dan gerakannya tegas sehingga seru untuk ditonton.
"Kenapa mengecil?"
"Karena tongkatku hilang. Saat pertama kali turun ke bumi, aku terlalu bersemangat sampai menjatuhkannya di suatu tempat. Aku mengikuti jejaknya sampai kemari, tapi malah terjepit di celah kotak."
"Tongkat? Yang itu?"
"Bukan. Tidak ada di ruangan ini. Seseorang sudah membawanya keluar sejak lama."
"Jadi sekarang kamu menyuruhku mencarinya?"
"Aku tidak terpikir begitu, tapi kalau kamu mau melakukannya, itu bagus sekali!" Si peri dengan alami melompat ke telapak tangan Yu-dan. Benar-benar seperti tupai.
"Seperti apa bentuknya?"
"Panjang. Di ujungnya ada papan kayu berbentuk persegi. Bahannya sangat lentur, bisa melengkung ke sana kemari."
Yu-dan melihat sekeliling lantai dua namun tidak menemukan benda seperti itu. Ia turun ke lantai bawah. Di bawah justru terlalu banyak benda yang mirip tongkat.
"Ada ciri-ciri lain?"
"Hmm……. Itu adalah tongkat suci pemberian Nona Jacheongbi. Di dalamnya tersimpan energi langit yang jernih, kelembutan hati sang angin, dan energi kemakmuran dari bulir padi yang matang."
"Kenapa deskripsinya sangat abstrak begitu! Siapa yang menyuruhmu menulis puisi?"
Setelah membentak, Yu-dan mencoba berpikir. Energi langit yang jernih. Kelembutan hati sang angin. Energi kemakmuran bulir padi. Begitu ya, aku harus merasakan energinya.
Ia kembali menutup mata kanannya. Ia berkeliling lantai bawah dan menyisir setiap sudut. Pada satu saat, sebuah pemandangan ladang gandum yang subur melintas cepat di depan matanya.
"Di sini!"
Ia mengulurkan tangan dan menangkap benda keras. Saat membuka kedua matanya, ternyata benda itu adalah sesuatu yang disandarkan di dinding, sebuah benda kayu yang lentur…….
"Ini kan pemukul lalat!"
"Hah?" Si peri tercengang. Ia melompat turun dan menyentuh tongkat itu, wajahnya seketika menjadi pucat.
"Tongkatku! Bagaimana bisa berubah jadi pemukul lalat di tempat ini! Aaah, gagal! Energinya terlalu keruh! Pasti karena sudah terlalu lama dipakai memukul ribuan lalat sampai energinya hancur total! Kekuatan magisnya sudah hilang!"
"Lalu harus bagaimana?"
"Cepat! Aku harus mendapatkan energi dari tanah yang bagus!"
"Tanah yang bagus? Ah, benar juga. Organik!"
Yu-dan membawa peri itu berlari menuju kebun sayur di halaman. Tuan Do tidak ada di sana, hanya cangkulnya yang tergeletak. Yu-dan menggali bagian tengah kebun dan mengubur pemukul lalat itu di sana. Lalu ia menunggu.
Namun tidak terjadi apa-apa. Si peri jatuh terduduk dengan putus asa.
"Gagal. Tanah ini pun sudah terkontaminasi. Tidak bisa mengembalikan kekuatan magis tongkatku." Ia merebahkan diri di tanah dan membenamkan kepalanya. "Sekarang aku tidak bisa kembali."
"……Begitukah?" Yu-dan tidak tahu harus merespons apa. Ia menggali tanah dan mengambil kembali pemukul lalat itu.
"Sana marahi para siluman di sini. Tanya kenapa mereka pakai tongkat orang buat pukul lalat. Minta ganti rugi sana."
"Tuan Manusia sepertinya juga terlihat lesu."
"Tentu saja. Aku kan ingin melihatmu pulang."
Si peri mendongak. Ia mengibaskan tanah yang menempel di rambut dan wajahnya. "Jadi kamu memberiku semangat?"
"Bukan begitu, ini seperti perasaan ingin membuang sampah kalau melihat sampah berserakan saja."
"Meskipun rasanya aku dianggap seperti sampah, tapi setidaknya aku jadi bersemangat. Berkat itu, aku tiba-tiba terpikir sesuatu. Mungkin ada cara lain."
"Apa?"
"Persembahan!"
"Aku sedang sibuk."
"Bukan! Aku bukan mau menjadikan Tuan Manusia sebagai persembahan! Tapi makanan yang enak! Jika kita menyajikan makanan cantik dan enak yang dibuat seseorang dengan sepenuh hati dan mengadakan ritual, kita bisa meminjam kekuatan Nona Jacheongbi."
"Makanan cantik dan enak yang dibuat seseorang dengan sepenuh hati……?"
Mendengar itu, Yu-dan langsung teringat sesuatu. Ia berlari menuju dapur. Terdengar suara obrolan dari ruang minum teh. Ternyata semua orang sedang makan kue di sana.
Kue kecil yang didapat sebagai bonus tadi masih ada. Untung tadi dapat dua. Sambil berterima kasih pada semangat pelayanan pemilik toko yang seperti beruang itu, Yu-dan membawa kotaknya keluar.
"Apa ini cukup?"
Melihat kue stroberi yang kecil dan cantik, wajah peri langsung bercahaya. "Wah! Aku benar-benar tidak tahu ini akan berhasil atau tidak!"
"Ekspresi dan kata-katamu tidak nyambung."
"Pokoknya aku akan coba!"
Si peri meletakkan kue di depan tongkat itu dan bersujud. Ia menempelkan dahi ke tanah dan berdoa cukup lama. Pada satu saat, tongkat itu mulai memancarkan cahaya. Cahayanya semakin terang, menyebar ke segala penjuru dan menyelimuti si peri. Seluruh tubuh peri itu bersinar menyilaukan.
Lalu, pat, cahaya itu padam.
Tongkatnya berubah menjadi hitam legam. Yu-dan menatap si peri. "Hanya itu?" Ia merasa konyol. Wujudnya tetap kecil, hanya saja di punggungnya tumbuh sepasang sayap biru.
"Sepertinya begitu. Sepertinya hanya ini hasilnya." Si peri menggaruk kepalanya. "Tapi tidak apa-apa! Lihat ini!" Ia memamerkan sayapnya yang dikepakkan dengan riang. Wajahnya tampak bangga. "Meski kecil tidak apa-apa. Aku tinggal mengepakkan sayap lebih rajin dari yang lain. Aku pasti bisa sampai ke langit hari ini."
Belum sempat kata-katanya selesai, ia sudah terbang melesat ke atas. Ia tidak langsung pergi, melainkan berputar satu kali di atas Banwoldang.
"Ah, ternyata selama ini aku menumpang di sini. Siluman rubah itu…… ternyata masih menetap di sini sampai sekarang." Si peri menangkupkan kedua tangan ke arah ruang kerja lantai dua dan membungkuk sopan. "Terima kasih. Dan juga Tuan Manusia."
Dengan cepat ia terbang ke arah Yu-dan dan mematuk dahinya. Rasanya keras dan tajam.
……Paruh?
Di langit, ada seekor burung biru. Burung itu melesat membelah angin menuju langit tinggi, meninggalkan jejak awan putih yang panjang di belakang ekornya. Saat menatapnya, Yu-dan merasa seolah dirinya akan ikut tersedot ke dalam langit biru yang luas itu.
kring. Suara bel terdengar. Asap biru seperti warna langit berhamburan.
"Sepertinya dia benar-benar mau mengikutinya." Suara siluman rubah terdengar. Di akhir kalimatnya terdengar sedikit tawa.
"Hehe. Mana mungkin manusia bisa melakukannya."
"Kita tidak pernah tahu. Mungkin matanya bisa melihat jalan yang terbuka menuju langit."
"Benarkah? Yah, dia memang bisa melihat hal-hal yang bahkan tidak bisa kita lihat. Berkat itu, meskipun sangat terlambat, syukurlah kita bisa memulangkan dia kembali……. Ngomong-ngomong, apa Cheonho-nim tidak akan kembali juga?"
"Masih ingin di sini sebentar."
"'Sebentar' yang kamu katakan itu sudah berjalan ratusan tahun. Padahal dulu kamu sangat membenci dunia ini. Mengapa sampai sekarang kamu masih belum bisa membuang penyesalanmu? Semua orang berharap kamu kembali kali ini. Sepertinya si tua ini harus kembali sendirian lagi."
Suara helaan napas panjang terdengar. Yu-dan membuka matanya yang tadi sempat terpejam.
Ternyata lawan bicara Baek-ran bukan si kodok. Melainkan seekor hewan misterius yang menyerupai rusa. Seluruh tubuhnya berwarna biru murni yang anggun, dengan janggut putih dan bulu hias yang berkibar indah.
"Siapa……?" tanya Yu-dan. Begitu ia bertanya, sosok itu langsung sirna. Di atas meja hanya tertinggal sepotong tulang tua yang tergeletak sendirian.
"Bohong," gumam Baek-ran. "Padahal sudah tidak ada lagi yang menunggu, atau pun menjemput." Ia membungkus tulang itu dengan kain sutra secara hati-hati dan memasukkannya ke laci. "Entah siapa yang ia sebut belum bisa membuang penyesalan. Biarpun sudah disimpan di laci yang dalam, setiap kali hari Cheongmyeong dia pasti selalu keluar seperti ini."
Baek-ran menatap Yu-dan dan tersenyum tipis. "Kadang-kadang aku benci manusia yang pendengarannya tajam."
"Tumben cuma 'kadang-kadang'."
"Itu karena biasanya aku memang sangat membencimu."
"Ya, ya, aku tahu." Yu-dan bangkit sambil berpegangan pada rak buku. Bajunya kotor terkena tanah. "Aku akan pergi sekarang. Sebelum itu, boleh aku tanya satu hal?"
"Silahkan."
"Peri yang mencari tongkat tadi identitas aslinya apa?"
"Dia bukan peri. Dia adalah dewa."
"Dewa? Sungguhan?"
"Iya. Jacheongbi adalah tokoh utama dari mitologi Jeju yang mendapatkan benih lima jenis biji-bijian dari langit dan menjadi dewa pertanian. Gadis yang terjepit di celah kotak tadi adalah pelayan yang melayani Jacheongbi, salah satu dari delapan belas ribu dewa yang pernah menetap di tanah itu."
"Jadi dia dewi."
"Benar. Pada hari Cheongmyeong, api baru dinyalakan dan dibagikan, ladang dibajak, dan nelayan meramal hasil tangkapan tahunan dengan melihat gelombang… Selain itu, di Pulau Jeju, hari ini juga disebut sebagai hari para dewa di bumi kembali ke langit. Karena itulah orang-orang menyelesaikan semua urusan yang biasanya mereka hindari karena takut menyinggung perasaan dewa, seperti merapikan makam yang rusak."
Begitu rupanya. Hari di mana para dewa kembali ke langit…….
"Tapi kenapa harus kembali hari ini?"
"Katanya mulai hari ini, langit akan menjadi jernih dalam setahun."
Mendengar itu, Yu-dan menatap ke atas kepala siluman rubah. Di balik pola bingkai jendela, langit biru terlihat jelas. Warna biru langit itu sangat jernih, hingga rasanya jalan menuju suatu tempat di atas sana bisa terlihat. Jika ditatap lama, rasanya deretan para dewa yang mendaki jalan itu pun akan terlihat. Ia sampai lupa berniat pergi dan terus menatapnya tanpa henti.
Setelah segala kerumitan itu, bara api yang didapat Yu-dan dari siluman rubah ternyata memang sangat bagus. Seluruh rumahnya menjadi hangat. Bukan suhunya yang naik, tapi ada aura kehangatan yang menyelimuti. Hantu-hantu kecil pun lenyap seketika.
Ia sangat menyukainya. Ia memeriksanya berkali-kali dalam sehari. Sebelum berangkat sekolah, begitu sampai di rumah, bahkan saat tidur pun ia selalu menjaganya dengan hati-hati. Namun api itu mulai melemah dan mati hanya dalam tiga hari. Saat ia membawa wadahnya kembali untuk meminta api lagi, ia ditangkap oleh sang dokkaebi.
"Hari Cheongmyeong sudah lewat, buat apa cari bara api? Lagi pula, apa kamu punya penjelasan tentang kebun sayurku? Sudah capek-capek aku bajak, kenapa malah kamu gali-gali?"
Ah gawat…….
Tuan Do menyeret Yu-dan ke kebun dan memberikan cangkul padanya. Apes sekali, tapi mungkin ini karma. Yu-dan pun terduduk dan mulai menggali tanah. Setiap kali cangkulnya menghujam, aroma tanah menyeruak kuat. Tidak terasa seperti terkontaminasi sama sekali. Apa karena aku sendiri yang terkontaminasi ya? Di bawah terik matahari yang menyengat tengkuk, ia mencangkul perlahan.
Heuk-yo yang baru pulang belanja melihat ini. Ia terperanjat dan berlari ke dalam. "Orabeoni! Kenapa bocah itu bermain tanah di kebun kita?"
Terdengar suara Tuan Do menyahut dari dalam. "Apa? Jadi Anda memberinya bara api?"
Heuk-yo berlari ke arah lain dengan langkah berdentum. "Kenapa memberinya api? Kenapa Anda memberikannya?" Lalu ia merendahkan suaranya. "Manusia itu, kalau yang menerimanya ibu rumah tangga yang menjaganya di dapur mungkin masih berguna. Tapi kalau dia yang pegang kan percuma saja. Benar bukan, Cheonho-nim? Apinya pasti langsung mati."
"Aku tahu."
"Kita tahu kok."
"Sudah tahu."
Ketiganya menjawab serempak seperti sudah direncanakan. "Tapi aku ingin memanggilnya."
"Aku ingin membawanya kemari."
"Aku ingin memberikannya padanya."
Heuk-yo bertanya dengan heran, "Kenapa?"
"Karena lucu," jawab ketiganya serempak.
Apa katamu? Yu-dan yang sedang mendengarkan langsung mengernyitkan dahi.
"Hmm, begitu ya? Yah, memang lucu." Siluman ular itu langsung setuju. Kemudian, terdengar suara tawa tertahan dari mereka berempat.
Tekanan darah Yu-dan langsung naik. Kalian pikir aku tidak dengar?! Yu-dan melempar cangkulnya dan melompat berdiri.
.. . . ........
Glosarium Istilah:
- Cheongmyeong (청명): Salah satu dari 24 periode musim tradisional Asia Timur (artinya "Cahaya Jernih"), biasanya jatuh pada awal April, menandai dimulainya kegiatan bertani.
- Sahwa (사화): Tradisi di mana Raja membagikan api baru kepada rakyatnya.
- Jacheongbi (자청비): Dewi pertanian dalam mitologi Pulau Jeju.
- Joyogyong (조요경): Cermin mitis yang dapat menunjukkan wujud asli atau masa lalu dari siluman/makhluk gaib.
- Saeng-gi (생기): Energi kehidupan atau vitalitas.
