Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 24>
"Ini kancing kemeja seragam sekolah, kan? Kalau kamu menjualnya, aku ingin membelinya."
Seorang wanita yang memegang payung berdiri di sana. Wajahnya tidak terlihat.
"Aku ingin sekali melihat putraku memakai seragam sekolah, tapi aku tidak sempat melihatnya. Kalau kancingnya lepas seperti ini, seharusnya aku yang menjahitkannya."
Wanita itu membungkuk dan memungut kancing tersebut. Ia menatapnya di bawah cahaya senja sambil bergumam pada diri sendiri.
"Maafkan aku. Karena tidak bisa berada di sampingmu."
Yu-dan menatapnya kosong. Ia hanya bisa terpaku menatap, tanpa mampu mengucapkan sepatah kata.
"Pokoknya, aku beli yang ini."
Wanita itu meletakkan satu keping koin kuno di lapak lalu berbalik. Ia menghilang di antara kerumunan hantu yang sedang meninggalkan pasar, lenyap dalam sekejap mata.
"Tunggu sebentar!"
Yu-dan melompat bangun dan berlari mengejar. Jantungnya yang tidak berdetak itu rasanya seperti berdegup kencang. Sambil merangsek maju membelah kerumunan hantu, tiba-tiba kedua lengannya ditangkap.
"Ketemu!"
"Kamu di sini rupanya!"
Si kembar berseru bersamaan.
"Kamu sedang apa? Kami sampai harus begini……." Kalimat celaan siluman rubah terhenti. Ia menatap wajah Yu-dan lekat-lekat. "Apa yang kamu lihat?"
"……."
"Siapa yang kamu temui?"
"……Ibu." Yu-dan nyaris tidak bisa menjawab. "Barusan di membeli barangku. Setelah semuanya dirampas dan tersisa satu kancing, dia mendatangiku……."
Keheningan melanda. Baek-ran berbicara kembali. "Jangan menangis."
"Aku tidak menangis!"
"Kalau begitu hapus air matamu atau masukkan kembali. Serigala itu bisa mencium baunya."
Yu-dan menoleh ke belakang.
Di seberang kerumunan hantu yang keluar paling terakhir dari pasar, terlihat sosok setengah manusia setengah hewan dengan jubah dopo merah yang berkibar sedang berlari kencang. Begitu akhirnya menemukan Yu-dan, kedua mata manusia serigala itu berubah menjadi merah darah.
"Kau tahu kan apa yang terjadi pada anak yang berbohong?"
Raungannya menggelegar mengguncang langit. Bayangannya memanjang dengan raksasa. Tidak, itu bukan bayangan. Bayangan tidak mungkin bisa bergerak secepat itu. Itu bukan apa pun. Tidak ada hal semacam itu di dunia ini.
Hati Yu-dan mencelos. Kegelapan yang menggeliat membawa firasat buruk itu membentuk sebuah wujud. Di tengah pusaran angin yang menyebar seperti tarian melingkar, muncul bola-bola api merah.
Dua, empat, enam, delapan. Delapan pasang mata.
Yu-dan membeku di tempat. Potongan ingatan terakhir yang selama ini terkubur kini muncul kembali. Apa yang ditunjukkan pemilik toko alat tulis waktu itu adalah benda ini. Hal mengerikan yang ia temui saat usia tujuh tahun. Makhluk yang menyebabkan kecelakaan tragis yang menewaskan ibunya dan banyak orang lain. Iblis itu—.
—Jika kau melanggar janji, aku akan mendatangimu.
Manusia serigala itu menyeringai dan berbisik di telinga Yu-dan kecil. Pikiran Yu-dan seketika menjadi kosong.
"Begitu rupanya. Pantas saja dia bisa menembus segel. Ternyata kalian saling terhubung melalui ketakutan yang paling mendalam." Suara Baek-ran terdengar.
"Itu adalah ilusi. Kamu pernah mencium bau makhluk itu saat bertemu dulu. Sekarang dia sedang mengendalikanmu melalui ingatan itu."
Yu-dan menoleh dengan linglung. Wajah samping siluman rubah yang putih itu kini terpapar cahaya kemerahan. Itu karena delapan mata iblis tersebut sedang berkobar.
Makhluk itu telah datang. Di dalam kepalanya yang kosong, petir seakan menyambar. Satu pemikiran, atau lebih tepatnya insting, benar-benar menguasainya.
"……Mati!"
"Eh?"
"Harus lari! Semuanya sudah mati!"
"Sudah kubilang itu ilusi. Jangan tertipu."
"Bukan! Mati! Semuanya mati! Kecuali aku, semuanya mati!"
Ingatannya terpotong-potong seperti dicincang. Di antara kepingan yang bercampur aduk, satu gambaran muncul dengan sangat jelas. Di tengah kobaran cahaya yang membara, tumpukan mayat muncul berlapis-lapis.
Mereka mati gara-gara kau. Semua orang mengatakan itu.
"Sadarlah! Harus berapa kali ku bilang kalau itu ilusi?"
"Semuanya mati! Sudah mati!"
"Bukan!" Seseorang memegang Yu-dan dengan kuat dan memutar tubuhnya. "Tidak semuanya mati! Karena hari itu, aku juga ada di sana!"
……Siapa?
Ah, Yu-dan ingat. Seekor rubah. Rubah putih bersih yang melangkah turun menapaki kegelapan dan menghalangi monster mengerikan itu. Rubah yang memiliki sembilan ekor namun mengaku bukan Gumiho, melainkan Cheonho yang turun dari langit.
Benar, begitu kejadiannya…….
Ilusi yang menutupi pandangannya akhirnya sirna. Si kembar sedang menariknya sekuat tenaga dari belakang.
Kenapa dari belakang? Barulah ia sadar. Tanpa sadar ia telah berbalik arah dan mencoba masuk kembali ke dalam pasar.
"Apa kamu sudah sadar sekarang?"
Yu-dan mengangguk pelan ke arah siluman rubah. Heuk-yo menariknya dengan sentakan. "Kalau begitu, ayo lari!"
Kini hanya mereka yang tersisa di pasar tersebut. Mereka berlari kencang melewati pintu dengan kain putih yang berkibar. Inrang yang murka langsung menerjang.
"Kau sudah janji! Bocah kecil!"
Sudah cukup. Riwayatmu tamat.
Manusia serigala itu terpental saat menghantam dinding yang tak kasat mata. Ia tampak terkejut sejenak oleh rintangan yang tak terduga, namun kembali menyeringai dan menerjang lagi.
Tapi percuma. Di belakang Inrang yang meronta ingin keluar, bayangan lain bangkit.
Bayangan putih. Itu adalah Shin-geom-u. Laba-laba raksasa itu bergerak tanpa menggerakkan kakinya. Namun itu tidak terlihat aneh, karena di dunia ini Shin-geom-u sendirilah hukum yang mutlak, bukan hukum fisika.
Inrang menoleh ke belakang. Saat sosok aneh itu terpantul di matanya yang haus darah, ia seketika membeku. Mata tunggal monster laba-laba yang tak bernyawa itu menatap mangsa yang jauh lebih kecil darinya. Sepasang kaki depannya menjulur tanpa suara dan menangkap manusia serigala tersebut.
Inrang menjerit. Ia mengayunkan kukunya namun hanya mencakar udara hampa. Hingga saat ia tertelan ke dalam mulut tanpa gigi yang menyerupai jurang tak berdasar, wajah binatang itu masih dipenuhi ekspresi kebingungan.
Segalanya terjadi dalam sekejap mata. Setelah tujuannya tercapai, Shin-geom-u menghilang seolah meresap ke dalam tanah. Sikapnya bukan sekadar memuaskan rasa lapar, tapi seolah telah menunaikan suatu tugas. Makhluk yang dulu dikucilkan orang-orang itu kini kembali ke tempat asalnya.
"Sudah berakhir……," gumam si kembar.
Yu-dan ingin mengatakan hal yang sama, namun suaranya tidak keluar. Seluruh tenaganya telah habis terkuras.
"Mari kita segera keluar dari sini," Baek-ran berjalan di depan.
Perahu yang mereka tumpangi masih terikat di tepi sungai. Kini tidak ada lagi pemusik, penari, maupun tukang perahu. Perahu itu kini tampak seperti perahu biasa yang permainannya telah usai.
Begitu semua naik, perahu mulai bergerak. Pasar Shin-geom-u yang sudah berakhir dan menyisakan bendera putih berkibar mulai menjauh dengan cepat.
"Antingku……," gumam Heuk-yo tiba-tiba. "Tadinya mau aku perbaiki. Gara-gara kamu, aku jadi menghilangkannya. Kamu harus ganti rugi. Asal tahu saja, itu anting emas murni yang sudah berusia lima ratus tahun."
"Bohong. Itu kan hadiah dari asuransi. Lagipula Kakak tidak pernah memakai perhiasan," sahut Chaewoo. Merasa ketegangan mulai mencair, si kembar saling bertatapan dan terkekeh.
"Tetap saja, ganti dengan yang bagus. Bagaimana kalau sepuluh kotak kue? Sebagai perayaan karena telah memutus nasib buruk yang lama," ucap Chae-seol sambil tersenyum manis. Baek-ran, yang sedang bersandar di langkan sambil menatap boneka aneh hasil beli di pasar, bergumam
"Memutus apanya, yang ada menambah kerumitan."
Boneka orang-orangan sawah itu menggeliat dan berubah menjadi monster bermata delapan. Meskipun tahu itu palsu, Yu-dan tersentak kaget. Hal yang sejak tadi mengganjal di hatinya tiba-tiba terlontar keluar.
"Sudah kuduga."
"Apa?"
"Kamu ada di sana saat kejadian itu. Pantas saja aku merasa sangat akrab saat pertama kali melihatmu."
Seketika boneka itu terbang dan memukul kepala Yu-dan. "Kenapa memukulku?"
"Sadar lah. Tadi itu bohong."
"Bohong?"
"Aku tidak ada di sana saat kejadian itu. Karena kamu terus mencoba pergi ke arah Inrang akibat dikendalikan, aku bicara asal saja untuk menghentikanmu. Apa kamu lupa? Kami ini penipu yang bisa mengubah angka satu sampai lima menjadi enam. Jangan percaya begitu saja pada kata-kata kami."
Begitu rupanya. Yu-dan mencoba menerima alasan itu, lalu kembali menatap siluman rubah.
"Kalau begitu, fakta bahwa kamu bilang itu bohong, bisa jadi adalah kebohongan juga?"
"Bisa jadi."
"Kalimat itu pun bisa jadi bohong juga."
"Benar sekali."
"Dan kalimat barusan pun……."
"Bisa kita berhenti di sini?"
Memang Yu-dan pun merasa tindakannya memperdebatkan hal itu sia-sia. Ia diam menurut. Meskipun ingin berpikir lebih jauh, otaknya sudah lelah. Ia tidak punya tenaga lagi untuk menginterogasi lebih dalam.
"Pada akhirnya hal-hal yang paling penting memang harus ditemukan sendiri," Yu-dan menatap aliran air sungai di belakang perahu. "Tapi jika nanti seseorang datang lagi……."
"Akan datang," sahut Baek-ran. "Pasti akan datang. Masa lalu jarang berakhir hanya sebagai masa lalu. Terutama di dunia kami. Seperti janji yang kamu buat tanpa tahu apa-apa saat kecil, ia akan muncul tiba-tiba saat kamu sudah melupakannya. Jawaban apa yang bisa kita berikan saat itu?"
"Sulit, ya……."
"Tentu saja tidak mudah. Tapi setidaknya kita bisa berpikir bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok akan lebih baik dari hari ini."
"Benar," Chaewoo mengangguk serius. "Ngomong-ngomong, bukankah ada kalimat yang selalu Anda ucapkan? Sepertinya sudah waktunya mendengar itu."
Yu-dan rasa ia tahu apa itu. Mimpi buruk sudah berakhir. Kalimat itu memiliki kekuatan sihir yang unik. Perasaan bahwa mimpi buruk yang mengerikan benar-benar selesai, dan kita kembali ke kenyataan yang membosankan namun aman. Heuk-yo dan si kembar menatap dengan penuh harap, namun Baek-ran justru tampak acuh tak acuh.
"Bukan. Belum berakhir."
"Belum berakhir?" tanya Yu-dan kaget.
"Tentu saja serigala yang menakutkan itu sudah mati, tapi bukankah sekarang kamu sedang tergeletak dalam keadaan terluka di halaman belakang?"
"Ah, benar juga."
Seketika wajah semua orang berubah. Mereka menatap Yu-dan dengan tatapan kasihan. "Kenapa? Ada apa?"
"Saat kamu membuka mata nanti, akan terasa sakit. Sangat sakit," sahut Heuk-yo. "Anak-anak akan pergi lebih dulu untuk mengobatimu dengan ilmu medis yang hebat, tapi tetap saja akan terasa luar biasa sakitnya. Karena jantungmu hampir saja tercabut keluar."
"Bagaimana ini. Aku takut. Aku rasa aku tidak tega melihatnya."
"Aku juga. Ayo kita tutup mata dan telinga kita."
Melihat wajah pucat si kembar, Yu-dan merasa ngeri. "Kalian cuma bercanda, kan?"
"Andai saja itu bercanda. Tapi mau bagaimana lagi. Kamu tetap harus membuka mata," ucap Baek-ran sambil menatap ke kejauhan. "Sekarang, bersiaplah."
Dug. Perahu menyentuh daratan. Yu-dan memejamkan matanya rapat-rapat.
Mereka benar-benar pembohong besar. Mimpi buruk tidak pernah berakhir. Ia hanya berpura-pura berakhir sambil terus berlanjut.
Yu-dan berpikir begitu sambil bermimpi sedang dikejar oleh seseorang tanpa henti. Lalu ia membuka matanya secara alami. Setelah matanya terbiasa dengan kegelapan, ia mulai melihat berbagai benda. Itu adalah pemandangan kamarnya yang biasa. Jendela tertutup rapat dan tirai terpasang.
Padahal ia berniat tidur selama sepuluh jam, tapi ternyata sudah terbangun. Yu-dan menunduk menatap dadanya. Perban yang dibalut erat oleh si kembar tampak mulai melonggar. Sekarang rasanya tidak terlalu menyakitkan. Hanya terasa sedikit berdenyut.
Sambil membetulkan balutan perban dan mengancingkan bajunya, ia mendongak. Ia menatap seragam sekolah yang tergantung di gantungan baju seberangnya. Meskipun sudah robek-robek oleh kuku manusia serigala, para siluman sempat berkomentar, "Ck ck, ini harus dibuang," namun entah mengapa mereka tetap mencucinya bersih dan memberikannya kembali.
Ia bangkit dan menghampiri seragam itu. Entah mengapa ia merasa ingin melakukannya… Ia meraba lengan kiri kemejanya.
Seketika napasnya tercekat. Ia mengangkat lengan kemeja itu dan menatapnya di bawah cahaya bulan yang masuk dari celah jendela. Ia tidak salah lihat. Sebuah kancing plastik yang salah satu ujungnya pecah terpasang dengan rapi di sana.
Yu-dan terpaku menatapnya dalam waktu yang lama. Hubungan dengan Ibunya di dunia fana telah terputus. Sekarang ia tahu betapa sulitnya untuk datang berkunjung kembali seperti itu. Mungkin ini benar-benar yang terakhir kalinya.
Benar-benar terakhir…….
Pandangannya mengabur. Namun ia tidak menangis. Karena ia sudah berjanji dulu. Seperti biasa, ia membuka matanya lebar-lebar dan menunggu. Menunggu sampai udara kering membawa pergi segalanya.
Pandangannya kembali jernih. Ia teringat kata-kata siluman rubah. Meskipun rubah itu menyuruhnya jangan percaya sepatah kata pun ucapannya, ia tetap ingin mempercayai satu hal. Bahwa hari ini lebih baik dari kemarin, dan esok akan lebih baik lagi…….
"Aku benar-benar ingin mempercayai itu," gumam Yu-dan.
Ia menggantung kembali seragamnya yang robek di tempatnya dan kembali ke tempat tidur. Ia berbaring hati-hati agar tidak menekan lukanya. Tak lama kemudian, tidur tanpa mimpi pun menghampirinya.
. . . . .. .. . . .
Glosarium Istilah:
- Dalma-do (달마도): Lukisan potret Bodhidharma yang secara tradisional dipercaya dapat mengusir energi jahat dan hantu.
- Dopo (도포): Jubah luar tradisional Korea.
- Cheonho (천호): Rubah Langit; pangkat tertinggi dari siluman rubah.
- Inrang (인랑): Manusia Serigala.
- Shin-geom-u (신거무): Monster laba-laba raksasa dalam legenda pasar hantu.
