Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 23>
Yu-dan bisa menemukannya dengan cepat. Di atas atap jerami, terpasang sebuah lampion raksasa dengan ukiran aksara Ju (Arak). Di antara hantu-hantu yang sedang mengobrol riuh sambil memenuhi bangku-bangku kayu, terlihat sosok siluman rubah, ular, dan si kembar ginseng yang duduk membaur dengan alami.
Heuk-yo melirik ke arah bangku kosong tepat di belakang mereka. Yu-dan segera ke sana dan duduk membelakangi mereka, berpura-pura tidak saling kenal.
"Kamu terlambat," ucap Baek-ran.
"Aku sibuk mencari tahu. Selain aturan bahwa siapa pun yang keluar paling terakhir akan mati, ada aturan lain, kan? Untuk keluar dari Pasar Shin-geom-u ini, seseorang harus membeli setidaknya satu barang, dan juga menjual satu barang."
"Hebat. Meski di sisi lain, ini cukup membuat frustasi."
"Apanya yang membuat frustasi?"
"Karena sepertinya otakmu baru mau berputar setelah kuku manusia serigala menancap di jantungmu dan kamu terancam mati dalam beberapa detik. Kamu ini bukan bongkahan batu, kan? Kenapa sulit sekali bergerak?"
Dari arah seberang, terdengar suara tawa tertahan.
"Syukurlah! Akhirnya kamu mendengar hinaan tentang harga dirimu. Sekarang hatimu pasti sudah merasa tenang."
Yu-dan melirik kesal ke arah bocah siluman ginseng yang tidak sedang mengejeknya, melainkan benar-benar tampak ikut gembira itu.
"Setelah kembali nanti, aku ingin bicara berdua denganmu."
"Benarkah? Aku akan menyambutmu kapan saja. Kudapan apa yang kamu su—"
"Pokoknya, apa yang aku katakan benar, kan?" Yu-dan memotong ucapan Chaewoo dan bertanya kembali. Chae-seol menjawab dengan senyum cerah.
"Benar. Kami semua sudah melakukannya. Kami masing-masing sudah membeli sesuatu, dan sudah menjual sesuatu juga."
"Sudah?"
"Karena setiap kali datang ke pasar ini aku selalu merasa gelisah. Meskipun kali ini kami datang mendadak tanpa persiapan. Untungnya kami membawa koin, dan di saku kami masing-masing ada barang yang layak jual. Cheonho-nim menjual selembar jimat, Kak Heuk-yo menjual ikat rambut, adikku menjual kue, dan aku menjual permen tongkat ini."
Gadis itu mengeluarkan permen warna-warni dari sakunya dan menunjukkannya. "Ini laku keras, lho."
"Kalau begitu pinjamkan aku satu. Aku akan membelikanmu sepuluh setelah kembali nanti."
"Tidak perlu beli. Ini."
"Apa yang sedang kalian lakukan?" Baek-ran menghalangi di tengah-tengah. Chae-seol langsung mundur.
"Aku tahu ini tidak boleh, tapi……."
"Kak, apa kamu bodoh? Barang yang dijual haruslah barang yang dibawa sendiri sejak awal masuk. Kalau melanggar aturan, kamu tidak bisa keluar sampai diadili di kantor kepolisian. Yang ada Kakak bisa dimangsa oleh Shin-geom-u."
……Saat mengatakan itu, Chaewoo justru mencoba memberikan kue kepada Yu-dan, namun Heuk-yo segera mencegahnya.
"Lalu kamu sendiri kenapa malah mau memberinya? Apa kamu tidak tahu istilah selaras antara perkataan dan perbuatan?"
"Anu, aku juga tahu itu tidak boleh, tapi……."
Melihat tingkah laku mereka, sebuah kilasan muncul di kepala Yu-dan. Tepatnya, itu berarti…….
"Aku mengerti. Tadi kalian memakai tipu muslihat agar manusia serigala itu menjual barang yang bukan miliknya, kan? Sekarang dia tidak akan bisa keluar begitu saja."
"Aku sempat ragu, tapi ternyata dia memang tidak tahu tentang Unusuals ini. Sepertinya dia menganggap tempat ini hanya pasar hantu biasa," sahut Baek-ran.
"Tapi jangan lengah. Inrang itu punya sesuatu yang aneh. Padahal seharusnya dia tidak bisa masuk ke halaman belakang, tapi dia bisa masuk tiba-tiba. Aku tidak tahu rahasia apa yang dia sembunyikan. Karena itu kamu harus lebih waspada. Jika kamu mematuhi aturan tempat ini, kami bisa membawamu keluar nanti."
"Kamu dengar, kan?" Chaewoo mengedipkan mata sambil menyodorkan sebungkus koin kuno dari bawah bangku.
"Apa ini boleh diberikan?" tanya Yu-dan.
"Tentu saja tidak boleh," Heuk-yo melirik ke arah prajurit jaga yang berdiri di sana sambil membentangkan lengan baju jeogori-nya lebar-lebar untuk menutupi koin tersebut. "Anggap saja kamu menemukan koin yang terjatuh di kedai. Mengerti?"
"Iya, aku mengerti."
"Mengerti apanya. Cepat simpan dengan wajah linglungmu itu. Barang apa yang kamu punya? Harus barang pribadi yang tersimpan terpisah di saku atau semacamnya. Tidak boleh menjual pakaian yang sedang dipakai atau memotong anggota tubuh untuk dijual."
"Soal yang pertama aku tidak tahu, tapi aku sama sekali tidak berniat melakukan yang kedua."
"Itu karena kamu belum tahu saja. Kalau sudah terdesak, apa pun bisa dilakukan. Jangan banyak bicara dan keluarkan saja apa yang ada di sakumu."
Yu-dan merogoh sakunya dan mengeluarkan semuanya. Ada ponsel, kunci sepeda, dan earphone.
"Earphone ini tidak bisa. Salah satu sisinya tidak bunyi."
"Di sini tidak butuh kejujuran seperti itu! Jual saja apa yang bisa dijual! Mengerti?"
Para prajurit penjaga yang sedang minum di bangku seberang melirik ke arah mereka.
"Sepertinya kita mendapat perhatian khusus," ucap Baek-ran sambil berdiri.
Yu-dan bertanya, "Sekarang kita bertemu di mana lagi?"
"Di pintu keluar."
"Pintu yang mana?"
"Saat pasar berakhir, hanya ada satu pintu," ucap Baek-ran tanpa menoleh. "Tugas kami sudah selesai. Mulai sekarang kamu harus mengurus dirimu sendiri. Seperti biasa, hanya dirimu sendirilah yang bisa menyelamatkan nyawamu."
"Kamu paham? Cepatlah jual-beli barangmu. Dan selalu perhatikan apakah Inrang ada di sekitar atau tidak."
"Benar. Tempat ini sangat rumit sehingga bagus untuk menipu lawan, tapi sebaliknya itu juga berarti sulit untuk menyadari keberadaan lawan. Kita tidak tahu kapan serigala menakutkan itu akan muncul."
Si kembar tampak berat hati saat berbalik pergi.
"Kamu harus datang ya. Kami akan menunggumu."
"Ini janji, lho. Kami akan mempercayaimu."
Heuk-yo menyeret kedua anak yang masih berlama-lama itu. "Sudahlah. Ingat baik-baik. Kamu pasti sudah menyadari betapa mengerikannya sebuah janji kali ini."
Setelah ucapan itu, mereka semua menghilang.
Yu-dan menatap tempat yang baru saja ditinggalkan para siluman itu sejenak. Lalu ia tersadar. Ini bukan waktunya melamun. Ia harus menyelesaikan bagiannya agar bisa keluar dari Pasar Shin-geom-u dengan selamat.
Ia meninggalkan kedai dan kembali menuju deretan lapak dagangan. Namun saat hendak membeli sesuatu, ia ragu untuk mengulurkan tangan. Tumpukan organ dalam yang menggeliat, patung-patung yang berteriak saat ditatap, atau buku yang menggigit tangan dan tidak mau lepas……. Semuanya adalah barang-barang aneh. Salah langkah, benda-benda itu justru bisa menjadi beban baginya.
Setidaknya ia memilih sebuah kantong keberuntungan yang terlihat paling normal. Meskipun tampilannya terkesan tidak selaras. Ia bertanya langsung kepada hantu keriput yang menjaga lapak.
"Berapa harganya?"
Hantu itu membuka tangannya. Ternyata tangannya buntung tanpa jari. Ia tampak bingung sejenak, lalu membawa hantu dari lapak sebelah dan menunjukkan dua jari hantu tersebut.
"Dua?"
Begitu Yu-dan meletakkan dua keping koin kuno, mereka semua tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang aneh dan menusuk telinga.
"Kenapa? Ada apa? Sini kembalikan."
Namun hantu keriput itu menyembunyikan koinnya dalam-dalam dan berpura-pura tidak tahu. Sepertinya Yu-dan membayar terlalu mahal.
Entahlah. Yang penting aku sudah membeli.
Tapi apa yang ia beli? Saat ia membuka kantong keberuntungan itu, ternyata di dalamnya ada sebuah bola mata. Saat pandangan mereka bertemu, bola mata itu mengedipkan mata padanya.
"Apa-apaan ini!" Yu-dan membentak ngeri dan segera mengikat mati tali kantong tersebut.
Sekarang ia harus menjual barang. Bagaimana caranya? Ia mulai melakukan pengamatan lagi.
Di ujung deretan lapak, para hantu sedang berkumpul. Mereka mengantre menunggu giliran, dan begitu ada lapak yang kosong, mereka satu per satu mulai menggelar dagangan. Yu-dan pun pergi ke sana dan ikut mengantre.
Ternyata antreannya tidak bergerak secepat yang ia kira. Apa mungkin Inrang akan muncul tiba-tiba? Ia terus menunggu dengan perasaan waswas sambil mengawasi sekeliling. Setelah sekian lama, barulah gilirannya tiba.
Ia duduk di lapak dan menggelar barang-barangnya. Ponsel, kunci sepeda, dan earphone.
Barang-barangnya jelas berbeda dari lapak di sekitarnya. Hantu-hantu yang lewat langsung berkerumun dan mengintip rasa ingin tahu. Ada yang mencoba menyentuhnya, ada juga yang menanyakan sesuatu dengan suara berderit.
"Aku tidak tahu," jawab Yu-dan sambil menggeleng.
Apa mereka menanyakan harga? Ia baru terpikir begitu, lalu menunjukkan satu jari.
Keributan kecil terjadi. Para hantu berebut mengeluarkan uang. Di tengah kebisingan itu, terdengar suara langkah kaki yang berat. Tiga hantu berkepala kambing dengan tubuh berwarna biru muncul dan melongokkan kepala ke lapaknya.
Hantu-hantu yang berniat membeli tadi langsung berhamburan. Jelas sekali mereka menghindari ketiga hantu itu. Hantu berkepala kambing itu tampak tertarik dengan barang dagangan Yu-dan. Karena mereka seolah bertanya berapa harganya, Yu-dan menunjukkan satu jari. Mereka pun tertawa terkekeh lalu masing-masing mengambil satu barang. Sampai di situ segalanya baik-baik saja, namun…….
Mereka berbalik pergi begitu saja seolah tidak melihat tangan Yu-dan yang menagih pembayaran.
"Hei!" Yu-dan segera mengejar dan menarik salah satu hantu itu. "Kalau sudah beli harus bayar dong!"
Ketiga hantu itu memasang wajah tidak mengerti. Melihat wajah sok polos itu, emosi Yu-dan langsung memuncak. "Jangan pura-pura bodoh! Cepat serahkan uangnya!"
Ia menghalangi jalan dan memprotes mereka. Namun mereka hanya cengar-cengir dan terus mengelak.
Gara-gara keributan ini, para penonton mulai berdatangan. Prajurit penjaga yang sedang berpatroli pun mendekat. Yu-dan merasa ini kesempatan bagus dan langsung mengadu.
"Hantu-hantu ini membeli barang tapi tidak mau bayar!"
Para prajurit jaga justru memasang wajah bingung. Ah, benar juga, bahasa mereka tidak nyambung.
Hantu berkepala kambing itu mengatakan sesuatu yang panjang lebar. Mendengar itu, para prajurit jaga justru menangkap Yu-dan.
"Apa yang kalian lakukan! Pencurinya ke arah sana!"
Saat Yu-dan mencoba meronta, penonton semakin banyak yang berkerumun. Para hantu yang sedang berbisik-bisik seru tiba-tiba semuanya menoleh ke satu arah.
Terdengar suara kegaduhan yang luar biasa. Barang-barang beterbangan dan hancur. Hantu-hantu yang sedang belanja menyingkir dengan wajah kaget. Di tengah kerumunan itu, sosok setengah manusia setengah hewan dengan jubah dopo merah sedang berlari sambil menggeram.
Pikiran Yu-dan langsung kosong. Astaga. Aku sempat melupakannya sejenak.
Melihat manusia serigala yang berlari membuat kekacauan, para prajurit jaga langsung memasang wajah galak dan mengangkat tombak mereka.
Sekarang kesempatannya. Yu-dan segera meloloskan diri dan kabur.
Ia tidak peduli arahnya ke mana. Ia masuk jauh ke dalam gang-gang pasar yang berkelok seperti jaring laba-laba. Tepat saat ia berbelok di sebuah sudut yang digantungi kulit binatang, wajah serigala tiba-tiba muncul di depannya.
"Bocah! Kau harus menepati janji!"
Yu-dan berhasil menghindari cengkeraman kuku yang menerjangnya hanya dalam hitungan milimeter. Raungan serigala itu mengguncang gendang telinganya. Bau busuk dari napas panas yang sempat menyentuh wajahnya tadi tidak mau hilang dari ingatannya.
Cepat. Sangat cepat.
Seberapa keras pun ia berusaha menjauh, ia selalu terkejar dalam sekejap. Meskipun jantungnya tidak berdetak, ia tetap merasa sesak napas. Kakinya pun mulai lemas. Berapa lama lagi ia bisa lari? Saat ia merasa terdesak tanpa jalan keluar, ia melihat sebuah gerobak.
Di belakang gerobak itu tertumpuk banyak kandang hewan. Anjing, kucing, kelinci, burung nuri…… hewan-hewan dari dunia manusia.
Benar. Ini dia. Yu-dan menempel erat di belakang gerobak untuk menyembunyikan tubuhnya.
Manusia serigala itu mendadak berhenti. Ternyata dugaannya benar. Aroma tubuh Yu-dan menjadi samar karena bercampur dengan bau hewan-hewan tersebut. Gerobak itu mulai bergerak kembali, dan Yu-dan terus mengikutinya.
Entah sudah berapa jauh mereka berjalan, tiba-tiba langit-langit di atasnya menjadi gelap. Saat ia mendongak, ternyata mereka berada di dalam sebuah tenda besar. Di sana penuh dengan kandang-kandang hewan. Semua orang tampak berbisik-bisik sambil melihat hewan-hewan di dalam kandang.
Jangan-jangan ini pasar gelap? Yu-dan merasa tidak nyaman. Saat ia hendak menyelinap keluar, ia melihat Inrang baru saja melangkah masuk ke dalam tenda. Ia terjebak, tidak bisa keluar.
Inrang mulai memeriksa kandang satu per satu untuk mencari Yu-dan. Sambil menghindari jangkauannya, Yu-dan masuk semakin dalam. Hantu-hantu yang datang untuk membeli hewan dunia fana menatapnya. Beberapa tampak tertarik dan mendekat.
"Aku bukan barang dagangan!" Yu-dan bersembunyi di sudut untuk menghindari mereka. Monyet di dalam kandang yang terkejut mulai berputar-putar, burung-burung mengepakkan sayap mereka.
"Sst. Diam." Yu-dan meringkuk di sudut yang gelap.
Inrang melintas tepat di depannya. Namun ia tidak boleh lengah. Mengingat bagaimana sosok itu tiba-tiba muncul di depan matanya tadi membuatnya merinding.
Entah berapa lama waktu telah berlalu. Apa sudah boleh keluar? Ia perlahan melongokkan kepalanya.
Tepat saat itu matanya bertemu dengan hantu yang sedang mengintip ke kandang ini. Hantu itu menjerit melengking sambil menunjuk ke arah Yu-dan. Seorang pedagang mendekat dan menangkap lengan Yu-dan. Saat pedagang itu bicara sesuatu, sang pembeli segera mengeluarkan tumpukan koin kuno.
"Apa? Kalian mau membeliku? Gila ya?" Yu-dan mengibaskan lengan si pedagang sekuat tenaga dan melarikan diri.
Sambil berlari tanpa menoleh ke belakang, ia menabrak sesuatu. Ternyata itu hantu yang memakai kulit beruang. Hantu itu mencengkeram tengkuk Yu-dan dan mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Lepaskan! Aku bukan barang dagangan!"
Pedagang tadi mengambil alih Yu-dan. Ia memegang borgol leher di satu tangannya dan mencoba memasangkannya pada Yu-dan. Yu-dan merasa dunianya menjadi gelap. Diperlakukan seperti binatang dan dijual. Mungkin lebih baik mati di tangan manusia serigala.
"Sudah kubilang lepaskan!"
Saat ia sedang bergulat hebat, tiba-tiba terdengar suara terompet yang menggelegar dari luar.
Si pedagang tersentak kaget. Ia melepaskan Yu-dan hingga terjatuh lalu terburu-buru kembali mengemasi kandang-kandang hewannya. Para pembeli yang menonton pun berhamburan menuju pintu keluar.
Apa ini? Ada apa? Yu-dan berdiri sambil memijat lengannya yang kesemutan. Tenda di atas kepalanya disingkap dan langit pun terlihat. Tanpa disadari, awan-awan sudah berwarna kemerahan.
Hatinya mencelos. Sudah waktunya pasar berakhir.
Kini tak ada lagi yang memedulikan Yu-dan. Mengemasi barang dan keluar dari Pasar Shin-geom-u secepat mungkin jauh lebih penting bagi mereka. Semua hantu membawa barang bawaan mereka dan bergegas menuju satu arah.
Pasti di sana pintunya. Namun meski ia ke sana pun ia tidak bisa keluar. Karena ia belum menjual apa-apa. Ia justru habis tertipu. Yu-dan merogoh sakunya sekali lagi untuk memastikan. Selain kantong keberuntungan berisi bola mata, benar-benar tidak ada apa-apa lagi.
Pandangannya nenggelap. Jika tidak bisa keluar dari pasar, ia akan tinggal berdua saja dengan serigala itu. Dimangsa oleh serigala, atau dimangsa oleh Shin-geom-u.
Tidak. Tidak boleh begitu. Ia kembali memasukkan tangannya ke dalam saku. Pasti ada sesuatu. Harus ada. Tolonglah…….
Saat ia meraba-raba dengan putus asa, jarinya menyentuh sesuatu secara ajaib. Sebuah kancing kecil. Kancing plastik yang salah satu ujungnya sudah pecah. Ini, kapan? Sepertinya kancing yang lepas dari lengan kiri seragam sekolahnya yang ia pungut dan masukkan ke saku lalu ia lupakan. Ternyata selama ini tersangkut di sela jahitan saku.
Dengan membawa kancing itu, ia pergi ke sebuah lapak. Kini tak perlu lagi mengantre. Ia duduk sendirian di lapak yang sudah kosong dan meletakkan kancing kecil itu. Ia sama sekali tidak menaruh harapan.
Semua orang sibuk keluar sebelum pasar benar-benar berakhir, tak ada yang melirik lapaknya. Lagipula, siapa yang mau membeli kancing kecil yang sudah rusak seperti ini. Cahaya senja menyinari lapaknya yang menyedihkan.
"Maaf. Sepertinya aku tidak bisa keluar." Yu-dan bergumam entah pada siapa.
Ia sering membayangkan akan seperti apa kematiannya nanti. Ia membayangkan banyak skenario, namun ia tidak menyangka akan mati sendirian di tengah senja sambil menjaga lapak kosong.
Apa itu lumayan juga? Tidak. Itu buruk. Semua jenis kematian itu buruk. Aku tidak mau mati. Masih banyak hal yang harus aku lakukan…….
Ia menundukkan kepala dan menatap lantai. Entah sudah berapa lama ia berdiam seperti itu. Tiba-tiba, sesuatu muncul di depan matanya. Sepasang sepatu kulit hitam.
"Apa kamu menjual itu?"
Yu-dan tersentak kaget dan mendongak ke atas.
. ........
Glosarium Istilah:
Bok-jumeoni (복주머니): Kantong sutra tradisional Korea berbentuk bulat yang diyakini membawa keberuntungan.
Pocheong (포청): Singkatan dari Podocheong, kantor kepolisian atau pusat penegakan hukum pada zaman dinasti.
Ak-sa (악사): Musisi tradisional.
Mu-hui (무희): Penari wanita tradisional.
Chado-sal-in (차도살인): Strategi militer kuno yang berarti "Membunuh dengan pedang pinjaman" (menggunakan kekuatan pihak ketiga).
Yeop-jeon (엽전): Koin kuno Korea yang memiliki lubang di tengahnya.
