Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 22>
Para tukang perahu yang mengenakan topeng merapatkan perahu ke tepi sungai. Yu-dan menyusul Heuk-yo dan si kembar naik ke atas perahu.
Begitu menyibak tirai dan masuk ke dalam paviliun perahu, terlihat Baek-ran yang sedang duduk di depan meja. Ia mengenakan dopo putih dengan kedua telinganya tersembunyi di balik topi gat. Bahkan siluman ular yang sedingin es itu tampak sedikit tegang, namun si rubah ini terlihat sangat santai.
"Duduklah."
Yu-dan hendak duduk di kursi depannya, namun Baek-ran menghentikan. "Bukan di situ."
Terpaksa Yu-dan duduk di kursi kecil di sampingnya. Di atas meja terdapat papan permainan kayu. Bidak merah dan biru saling berpaut, tampaknya sedang berada di tengah pertempuran sengit. Baek-ran mengulurkan tangan dan mengambil dadu yang terbuat dari gading.
"Kamu sedang apa sekarang?" tanya Yu-dan.
"Ini permainan bernama Ssangnyuk (Permainan Ganda Enam)."
"Permainan?"
"Dia sedang menghentikan waktu melalui pertarungan ini," tambah Chaewoo menjelaskan.
Baek-ran melemparkan dadu satu per satu. Setelah angka 6, dadu lainnya juga menunjukkan angka 6. Bidak biru pun bergerak.
"Ayo berangkat?"
Perahu pesiar itu membelah arus sungai dan melaju kencang. Heuk-yo dan si kembar duduk di langkan paviliun sambil mengawasi ke luar.
"Apa dia terlihat mengikuti?"
"Belum."
"Jangan lengah. Makhluk itu bisa muncul tiba-tiba kapan saja. Makhluk itu cepat, kuat, dan sangat lapar."
"Sebenarnya makhluk apa itu?" tanya Yu-dan.
"Sepertinya dia seorang Inrang," jawab Baek-ran.
"Inrang?"
"Manusia serigala. Dahulu kala dia hanyut sampai ke tanah ini dan diam-diam memangsa manusia."
"Dia datang!" seru Chae-seol.
Di sela-sela tirai yang berkibar kencang, terlihat sebuah bukit di seberang tanggul sungai. Di puncak bukit itu, sosok tersebut berdiri. Sosok setengah manusia setengah hewan yang mengenakan gat dan dopo merah. Bulu binatangnya tampak berdiri tegak.
"Dia pasti sedang sangat marah sekarang. Karena mangsa yang sudah ada di genggamannya direbut tanpa tahu alasannya."
Inrang itu mengikuti perahu dengan punggung membungkuk. Meskipun ia berwujud manusia yang berdiri dengan dua kaki, langkahnya bukan langkah kaki manusia. Kecepatannya membuat bulu kuduk meremang.
—Bocah. Kau harus menepati janji. Kau tahu kan apa yang terjadi pada anak yang berbohong?
Gigi yang menguning. Kuku-kuku yang ditempeli gumpalan darah dan daging.
Ketakutan masa kecil Yu-dan kembali bangkit. Ia berusaha keras mengusir rasa takut yang mulai menggerogoti hatinya.
"Aku bukan bocah lagi."
Ketakutan itu masih terasa sama seperti dulu. Namun, ada emosi lain yang kini lebih jelas: kemarahan terhadap makhluk-makhluk yang bersembunyi di dunia ini untuk melakukan perbuatan jahat. Makhluk itu telah berburu manusia sambil menyamar sebagai pemilik toko biasa. Entah sudah berapa banyak orang yang menjadi mangsanya.
"Aku tidak akan lari. Aku akan melawannya."
"Sikap yang bagus," sahut Baek-ran sambil menyandarkan punggung ke kursi.
"Sayangnya cukup sebatas itu saja. Lawanmu adalah pemangsa yang telah hidup selama ratusan tahun. Di hadapannya, manusia hanya seonggok mangsa. Waktu yang tersisa cuma beberapa detik. Takdir sudah ditentukan. Yang menunggumu bukanlah pertarungan, tapi pembantaian sepihak."
"Kalau lawan kita Inrang, aku juga harus mengerahkan seluruh tenagaku," ucap Heuk-yo.
"Kamu dengar itu? Jangan mengharapkan keberuntungan sekecil apa pun. Waktu kalian berdua sudah dihentikan sekali, tidak bisa dihentikan lagi. Begitu tertangkap lagi, semuanya berakhir."
"Lalu harus bagaimana? Apa aku harus lari selamanya begini?"
"Kedengarannya menarik juga," Baek-ran menjawab dengan nada bercanda, namun matanya tidak menunjukkan secercah senyum. "Tapi waktu tidak bisa dihentikan selamanya. Meskipun kita mengulur waktu seperti ini, suatu saat kamu harus mengambil keputusan. Seperti sedang melakukan eutanasia."
Wajah si kembar seketika menjadi pucat. Siluman rubah kembali mengambil dadunya.
"Tidak ada seorang pun yang bisa ikut campur di antara kalian berdua. Karena kamu sudah membuat janji dengan Inrang. Janji untuk memberikan jantungmu."
"Itu penipuan! Waktu itu……."
"Mereka memang terlahir sebagai penipu." Baek-ran melempar salah satu dadu. Dadu gading itu berputar-putar lalu berhenti di angka 4. "Bukan, kita semua adalah penipu."
Dadu kedua menghantam dadu pertama. Keduanya berputar bersama, lalu keduanya berubah menjadi angka 6.
"Tidak terlalu seru. Karena aku bisa mengubah angka satu, dua, tiga, empat, maupun lima semuanya menjadi enam."
Bidak biru bergerak sekali lagi.
"Jadi, apa yang harus aku lakukan?"
"Mau aku beritahu caranya? Jika kamu tidak punya pedang untuk membunuh Inrang, pinjamlah."
Mendengar itu, Yu-dan menoleh ke arah Heuk-yo. "Kau dengar? Pinjamkan padaku."
"Bukan itu maksudku. Chado-sal-in (借刀殺人). Artinya membunuh dengan meminjam pedang orang lain. Gunakan kekuatan pihak lain untuk menyingkirkan musuhmu. Meskipun kedua tanganmu kosong, kalau kamu mencari dengan baik, pasti ada senjata lain."
Baek-ran kembali mengangkat dadunya. "Sesuatu yang aneh yang muncul tiba-tiba di dunia. Sesuatu yang tidak diketahui asalnya sehingga tidak ada yang bisa berbuat apa-apa."
"Unusuals?"
"Benar. Manfaatkan Unusuals."
Perahu berbelok arah. Baek-ran memberi instruksi ke luar. "Pelankan kecepatannya. Pancing dia agar tidak terlalu cepat."
Para penari membentangkan kipas mereka. Ujung rok warna-warni berputar dengan gemerlap. Pemimpin musisi memukul gendang yang tergantung tinggi di anjungan perahu. Suara alat musik bergema semakin nyaring.
Barulah Yu-dan menyadari. Mereka semua adalah Imae-mangnyang (makhluk-makhluk dunia bawah) yang dipimpin oleh siluman rubah. Bukan hanya di atas perahu, di dalam air pun terdapat kelompok besar yang mendukung dan memandu jalan perahu.
"Jika kamu ingin melawan, maka lawanlah. Namun, bertarung bukan hanya soal menggunakan tenaga. Menyembunyikan isi hati dan berakting dengan tenang. Tetap sabar menunggu meski emosi bergejolak. Lalu bertindak dengan cepat saat waktu yang paling tepat tiba. Dengan begitu, kamu bisa memutus napas lawan tanpa meneteskan setetes darah di tanganmu. Hal seperti ini mungkin merupakan tingkat pertarungan yang lebih tinggi daripada sekadar menerjang dengan pedang."
Baek-ran bangkit dari duduknya. "Lagipula kamu tidak punya pilihan lain. Jika berhasil melakukannya, kamu akan mengubah takdir dan bertahan hidup. Jika tidak, kamu akan dibantai."
Air sungai terbelah ke kedua sisi, membuka jalan air. Makhluk-makhluk besar dan kecil bekerja sama menaikkan perahu pesiar itu ke atas jalan air tersebut. Dug, perahu pun melaju mengikuti arus.
Di balik kabut, terdapat sebuah tempat.
Awalnya hanya terlihat bendera-bendera yang dipasang tinggi. Begitu mendekat, garis besarnya mulai terlihat. Di bawah deretan kanopi, kain warna-warni berkibar. Suara musik yang meriah juga terdengar. Sekilas tampak ramai oleh banyak orang, namun setelah diperhatikan lagi, tidak ada satu pun manusia di sana.
"Di sini……?"
"Tempat ini sendiri adalah sebuah Unusuals. Pasar Shin-geom-u," jawab Baek-ran. "Ini adalah pasar para hantu yang berada di luar hukum ruang dan waktu. Tempat ini ada berdasarkan aturannya sendiri."
Perahu menyentuh daratan.
Sekelompok hantu yang sedang masuk ke pasar menoleh ke arah mereka. Mereka menunjuk-nunjuk sambil mengoceh, namun entah mengapa Yu-dan tidak bisa memahami sepatah kata pun. Suara mereka hanya terdengar seperti kaset yang diputar cepat.
"Kenapa aku tidak bisa mengerti ucapan mereka?"
"Tempat ini memang begitu. Diam saja. Kita tidak boleh menarik perhatian."
Baek-ran berkata demikian lalu turun lebih dulu dari perahu. Si kembar dan Heuk-yo menyusul di belakangnya masuk ke pasar. Di dalam gerbang yang dihiasi kain putih berkibar, hantu-hantu memenuhi tempat itu.
"Dengar, siapa pun boleh masuk ke sini meskipun bukan hantu, tapi imbalannya adalah jangan mengganggu ketertiban. Terutama, waspadalah pada para prajurit penjaga itu," bisik Chae-seol.
Di tempat yang ditunjuknya, terdapat siluman-siluman aneh. Mereka memakai topi jeonrip dan rompi kwaeja seperti prajurit sungguhan, namun di bawah pinggang mereka terdapat kepala binatang.
"Kalau membuat keributan sedikit saja, mereka akan menangkap dan menginterogasi kita. Kalau sampai tertahan, kamu tidak akan bisa keluar sampai pasar berakhir."
"Itu poin yang sangat penting. Berakhirnya pasar," ujar Baek-ran sambil menoleh.
Di kiri dan kanan, lapak-lapak dagangan membentang luas. Baik penjual maupun pembeli, semuanya adalah hantu. Meski Yu-dan tidak mengerti bahasa mereka, pemandangan mereka menawar harga atau berdebat meminta bonus sangat mirip dengan manusia. Saat melihat sekeliling, Yu-dan menyadari ada simbol laba-laba putih yang terukir di setiap tiang lapak.
"Itulah Shin-geom-u."
Baek-ran menghampiri lapak tepat di depannya. Sambil berpura-pura memilih barang di antara perhiasan yang terbuat dari tengkorak, ia berbicara dengan suara rendah.
"Dahulu ada pasangan suami istri tua yang tidak punya anak, lalu akhirnya mereka mendapatkan seorang putra. Namun saat lahir, anak itu adalah monster menyerupai laba-laba. Anak itu, Shin-geom-u, memiliki kekuatan raksasa, namun karena penampilannya yang mengerikan ia dikucilkan semua orang hingga wataknya menjadi eksentrik. Jika ada orang yang membuatnya kesal, ia akan membunuhnya tanpa pikir panjang. Terutama para gubernur yang baru menjabat selalu celaka karena Shin-geom-u— kenapa? Ada bagian yang tidak kamu mengerti?"
"Apa itu gubernur?"
"Itu sebutan untuk pejabat yang memerintah daerah. Singkat cerita, setelah kejadian itu terus berlanjut, putra seorang pejabat yang sedang menetap di desa mengajukan diri menjadi gubernur dan mengorbankan nyawanya untuk membunuh Shin-geom-u. Shin-geom-u muncul kembali sebagai arwah penasaran, tapi dia berkata jika dibuatkan sebuah pasar atas namanya, dia tidak akan mencelakai nyawa orang yang tak bersalah lagi."
"Kenapa harus pasar? Apa dia sebegitu sukanya dengan pasar? Apa dia merasa dendam karena tidak bisa pergi ke pasar sepuasnya saat masih hidup?"
"Aku pun tidak terlalu tahu alasannya. Sekarang juga bukan waktunya untuk memperdebatkan itu. Pokoknya, begitulah awal mula Pasar Shin-geom-u ini terbentuk. Shin-geom-u memang menepati janjinya untuk tidak mencelakai orang lagi, namun sebagai gantinya, siapa pun yang meninggalkan pasar ini paling terakhir pasti akan mati. Ia akan dimangsa oleh Shin-geom-u. Selama Pasar Shin-geom-u ini ada, itu adalah hukum yang mutlak."
Baek-ran meletakkan perhiasan tengkorak yang tadi ia pegang. "Sekarang kamu mengerti apa yang harus dilakukan?"
"Dia datang." Di seberang sana, Heuk-yo mengangkat cermin tengkorak. Pada permukaan logam yang mengkilap itu, terpantul pemandangan di belakang. Manusia serigala yang mengenakan gat dan dopo merah tampak sedang berjalan membelah kerumunan hantu.
"Ternyata dia benar-benar mengejar sampai kemari. Kalau begitu kita harus mulai, kan?"
"Apa kita lakukan sekarang, Cheonho-nim?" tanya si kembar. Baek-ran mengangguk.
Heuk-yo, Chae-seol, dan Chaewoo menghilang di antara kerumunan hantu. Sesaat kemudian mereka muncul kembali di sekitar Inrang. Mereka mengepungnya dari tiga arah dan mendekat perlahan. Gerakan mereka sangat alami hingga tidak ada yang menyadarinya.
"Apa? Apa yang mau mereka lakukan?"
"Katanya mereka ingin memberikan hadiah kecil untuk serigala."
Baek-ran pindah ke lapak sebelah. Ia mengambil sebuah boneka orang-orangan sawah yang bola matanya akan copot jika perutnya ditekan, lalu mulai memperhatikannya dengan saksama seolah itu adalah benda paling ajaib di dunia.
Sementara itu, si kembar tiba-tiba muncul di depan Inrang. Chae-seol menjatuhkan kantong uangnya. Suara denting uang membuat semua orang berhenti melangkah. Seketika jalur pejalan kaki terhambat dan jalanan menjadi sesak.
"Maaf, maaf. Kakak, seharusnya kamu lebih hati-hati." Chaewoo terburu-buru memungut kantong itu namun malah menjatuhkannya lagi. Koin-koin kuno bundar menggelinding ke mana-mana. Semua orang mulai gaduh dan menjulurkan tangan untuk membantu (tepatnya mengambil).
Di tengah keributan kecil yang menyita perhatian semua orang ini, Heuk-yo muncul dari belakang manusia serigala tersebut.
"Ada apa ini? Kenapa jalannya ramai sekali?"
Saat ia mendengus kesal dan melesat lewat begitu saja, sesuatu berkilat di ikat pinggang Inrang. Itu adalah anting emas dengan hiasan giok.
Yu-dan sama sekali tidak paham apa yang sedang terjadi. Jika dilihat dari metodenya, ini adalah teknik pencopetan klasik. Tapi apa ada pencopet yang malah memberikan barang alih-alih mencurinya?
Di balik jubah dopo merah si Inrang, anting emas itu terlihat sangat mencolok. Beberapa hantu yang sedang mengintip situasi di depan melihatnya. Mereka tampak sangat menginginkannya dan gelisah, hingga akhirnya salah satu hantu memberanikan diri menyambar anting itu.
Inrang menggeram dan menoleh ke belakang. Si hantu ketakutan dan langsung menciut. Ia meneriakkan sesuatu dengan suara melengking, lalu merogoh koin kuno dan melemparnya ke dalam lengan baju Inrang sebelum segera melarikan diri.
Kenapa dia begitu?
Hanya Yu-dan yang merasa penasaran. Inrang sendiri tidak terlalu peduli dan melanjutkan langkahnya. Ia tampak hanya terobsesi mengejar mangsanya yang lepas. Saat Yu-dan menatap punggung sosok setengah manusia setengah hewan itu, ia menyadari sesuatu. Di jubah merahnya muncul noda yang tadinya tidak ada.
"Apa itu? Noda itu?"
"Itu—" Baek-ran hendak menjawab namun ia langsung bungkam. Mata cokelat di balik topi gat-nya seketika berkilat tajam dan mengawasi ke arah sana.
Dua hingga tiga prajurit jaga sedang berjalan cepat ke arah mereka.
"Ternyata kita terlalu mencolok." Siluman rubah berdiri. Ia membawa boneka orang-orangan sawah yang matanya bergelantungan itu, lalu melemparkan beberapa keping koin kepada dokkaebi yang menjaga lapak.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertemu lagi di kedai minum di bagian dalam?" Hanya dengan satu kalimat itu, dia menghilang seketika.
Dalam sekejap, si kembar maupun Heuk-yo juga sudah tidak terlihat. Yu-dan kini ditinggal sendirian di pasar yang aneh ini.
Tiba-tiba ia teringat dan meraba dadanya. Jantungnya masih tidak berdetak. Saat ia terus memeganginya, ia merasa mual. Kalau tubuh asliku sedang tergeletak penuh darah di halaman belakang Banwoldang, lalu aku yang sedang berkeliaran di sini apa?
Seperti kata siluman ular, sepertinya lebih baik tidak berpikir terlalu dalam. Bukan karena alasan lain, tapi karena rasanya kepalanya bisa jadi tidak waras.
Saat sedang berjalan maju, sesuatu yang merah tiba-tiba masuk ke dalam pandangannya. Itu manusia serigala. Tadi ia pergi ke arah berlawanan, namun sepertinya ia kehilangan jejak Yu-dan dan kini berbalik kembali.
Jangan panik, aku harus menghindar.
Jangan takut. Pasar ini sangat rumit, aku pasti bisa menipunya.
Yu-dan mengingat kembali kata-kata Baek-ran: Menyembunyikan isi hati dan berakting dengan tenang. Tetap sabar menunggu meski emosi bergejolak. Lalu bertindak dengan cepat saat waktu yang paling tepat tiba. Dengan begitu, kamu bisa memutus napas lawan tanpa meneteskan setetes darah di tanganmu.
Aku bisa. Pasti bisa.
Ia berbalik arah dan melebur ke dalam kerumunan hantu yang ramai. Bau asam dan busuk menusuk hidungnya. Meski menjijikkan, ia terpaksa menahannya. Sambil menyelip di antara hantu-hantu yang sedang melihat barang dagangan, ia masuk semakin dalam ke bagian dalam pasar.
Yu-dan berjalan sambil menoleh ke sekeliling pasar. Ke mana pun ia memandang, simbol laba-laba selalu terlihat. Bahkan terukir pada tombak yang dibawa para prajurit jaga.
Itulah Shin-geom-u. Menurut legenda, monster laba-laba ini muncul saat pasar bubar dan memangsa siapa pun yang paling terakhir meninggalkan pasar.
Siasat "Membunuh dengan Meminjam Pedang Orang Lain" ternyata adalah ini. Di saat Baek-ran menghentikan waktu mereka berdua, mereka memancing manusia serigala ke pasar ini agar ia menjadi mangsa Shin-geom-u. Dengan begitu mereka bisa menang tanpa bertarung secara fisik. Tidak, itu adalah pertarungan itu sendiri.
Meskipun Yu-dan sudah paham, ia masih punya keraguan. Membuatnya keluar paling terakhir… mengucapkannya memang mudah. Tapi apakah kenyataannya akan semudah itu? Apa ada cara yang pasti?
Dia terus berjalan sambil mengamati keadaan. Meski ini adalah pasar mengerikan yang bisa merenggut nyawa, para hantu tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan. Sebagian besar justru tampak santai melihat-lihat.
Lalu ia menemukan seseorang yang tampak terburu-buru. Sesosok hantu kura-kura dengan cangkang besar di punggungnya. Sepertinya hantu kura-kura itu sudah selesai berbelanja dan membawa buntalannya menuju pintu samping pasar untuk keluar. Namun ia tidak bisa keluar. Tubuhnya terus menabrak sesuatu seolah terhalang oleh dinding yang tak kasat mata.
Apa pintunya belum dibuka?
Bukan itu masalahnya. Hantu-hantu lain bisa keluar-masuk dengan normal. Hanya hantu kura-kura itu saja yang tidak bisa. Mendengar suara gaduh itu, semua orang menoleh ke arahnya.
Seorang prajurit penjaga mendekat dan meneriakkan sesuatu. Ia menyeret hantu kura-kura itu ke samping dan menggeledah buntalannya. Semua isinya tumpah ke tanah. Apa dia membeli barang yang terlarang?
Prajurit itu membagi barang-barang menjadi dua tumpukan. Satu tumpuk barang yang baru dibeli hari ini, tumpukan lainnya adalah barang milik pribadi kura-kura itu seperti kotak bekal dan handuk.
Para hantu mulai berkerumun. Saat mereka mengaduk-aduk barang pribadi kura-kura itu, salah satu hantu mengambil sebuah pipa rokok kuno. Prajurit jaga menerima koin dari hantu tersebut lalu memberikannya kepada si kura-kura, kemudian mendorongnya kembali ke arah pintu.
Hantu kura-kura itu keluar dengan wajah linglung. Kali ini ia bisa lewat tanpa masalah sedikit pun. Barulah ia memasang wajah yang seolah berkata "Ah, begitu rupanya".
Yu-dan pun memasang ekspresi yang sama.
Ternyata harus menjual sesuatu dulu baru bisa keluar.
Bukan hanya itu. Saat ia mengamati sejenak, ada hantu pedagang yang juga bingung karena tidak bisa keluar. Prajurit penjaga membawanya ke sebuah lapak dan menyuruhnya membeli sesuatu, barulah setelah itu ia bisa melewati pintu.
Benar. Di pasar ini, kamu harus membeli dan menjual sesuatu.
Ternyata ada aturan seperti itu. Yu-dan mengangguk sendiri lalu kembali memperhatikan sekeliling. Setelah memastikan sosok serigala tidak terlihat, ia mulai membelah kerumunan hantu untuk mencari kedai minum.
. .. . .. . . . .
Glosarium Istilah:
- Ssangnyuk (쌍륙): Permainan papan tradisional Korea yang mirip dengan Backgammon.
- Dopo (도포): Jubah luar tradisional Korea yang biasanya dipakai oleh bangsawan atau sarjana pria.
- Gat (갓): Topi tradisional Korea yang terbuat dari rambut kuda dan bambu, biasanya berwarna hitam.
- Inrang (인랑): Manusia serigala (Werewolf).
- Imae-mangnyang (이매망량): Istilah umum untuk berbagai macam siluman, hantu, dan monster penunggu alam (gunung, hutan, air).
- Jeonrip (전립): Topi militer tradisional Korea yang berbentuk bulat dengan hiasan bulu.
- Kwaeja (쾌자): Rompi panjang tanpa lengan yang biasanya dipakai di atas durumagi atau pakaian militer.
- Pojol (포졸): Prajurit penjaga atau polisi tingkat rendah pada masa dinasti.
