Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 21>
Kisah ke-enam
<Pasar Shin-Geomu>
Dahulu kala, sepasang suami istri lanjut usia akhirnya mendapatkan seorang anak setelah berdoa dengan tulus selama seratus hari. Namun, bayi yang lahir ternyata adalah monster yang menyerupai laba-laba. Orang-orang memanggil anak ini Shin-geom-u. Meskipun ia memiliki kekuatan raksasa, semua orang menjauhi dan mengucilkannya. Hal itu membuat watak Shin-geom-u semakin buas; ia membunuh manusia seperti menangkap lalat hanya karena masalah sepele. Terutama setiap kali ada gubernur baru yang menjabat, ia akan langsung membunuhnya malam itu juga, sehingga tidak ada yang berani turun menjadi gubernur. Lalu suatu hari, putra seorang pejabat yang sedang menetap di desa mendengar desas-desus ini dan…….
『Wirim-hanhwa (Kumpulan Cerita Hutan Ilalang)』
●◉◎◈◎◉●
Entah sudah berapa lama ia duduk seperti itu.
Lantai kayu yang terpanasi matahari terasa hangat. Karena mengira sebentar lagi akan panas, Yu-dan sedikit bergeser ke arah bayangan yang tidak terkena cahaya.
Dari suatu tempat di bagian dalam, terdengar suara radio. Suaranya bercampur dengan derau statis.
「……April adalah bulan yang kejam. Menumbuhkan bunga lilac dari tanah yang mati, mencampur kenangan dan gairah…….」
Sambil mendengarkan tanpa sadar, ia menolehkan kepalanya.
Entah mengapa ia menatap ke arah situ, namun seseorang berdiri di sana. Wajahnya tidak terlihat karena membelakangi cahaya.
"Kamu tidak boleh masuk ke sini……."
"Kau sudah janji. Kau bilang mau memberikannya."
Suara geraman terdengar sebagai balasan.
Sosok itu melangkah maju dan mengulurkan tangan. Pada tangannya yang dipenuhi bulu, jari kelingking dan jari manisnya tidak ada.
Melihat itu, barulah Yu-dan ingat.
Musim dingin yang dingin. Aroma pemanas ruangan. Bau sintetis dari permen karet balon lama. Mainan Pinokio dari kayu yang warnanya memudar… Mengapa ia bisa melupakan hal itu selama ini?
「……Musim dingin justru terasa lebih penuh belas kasih. Menutupi bumi dengan salju, membuat segalanya terlupakan…….」
Tangan berbulu itu mendekat ke depan matanya. Namun ia tidak bisa bergerak.
Tidak boleh. Aku, seperti ini…….
Klik, seperti sekring yang putus, pandangannya menjadi gelap gulita.
……Yu-dan tersentak dan mendongak.
Gorden berkibar ditiup angin dari jendela yang terbuka. Ia melihat guru yang sedang membacakan buku teks di depan papan tulis. Mendengar suara monoton itu, hampir semua murid di sekitarnya tertidur di meja mereka.
Apa aku baru saja bermimpi?
Bukan.
Keringat dingin membasahi tengkuknya. Mengapa ia bisa melupakan hal itu sama sekali? Tapi melupakan apa?
Perutnya mual. Kepalanya sakit. Ia mencoba menelusuri ingatannya, namun tidak ada lagi yang bisa ia ingat.
Apa itu? Apa yang benar-benar aku lupakan?
Kegelisahan yang dingin menekan dadanya. Ia tidak bisa memikirkan hal lain. Padahal ia berniat merayakan kepulangan sekolah yang lebih awal dengan bermain game. Ia membatalkan niat itu dan langsung menuju Banwoldang.
Begitu membuka pintu, terdengar suara percakapan yang asing. Sepasang pria dan wanita muda sedang duduk di sana. Mereka tampak membeku karena ketakutan.
Di hadapan mereka, sebuah payung kertas besar terkembang. Dari balik payung, satu tangan siluman rubah terjulur. Tangan itu memegang botol air berleher panjang yang sering terlihat di lukisan dewa. Saat si kembar menyodorkan botol air mineral kosong, Baek-ran menuangkan air jernih ke dalamnya. Tuan Do menyerahkan botol itu kepada pasangan tersebut.
"Nah, ini Gamnosu (Air Embun Suci). Jika Agwi (Hantu Kelaparan) meminum ini, rasa laparnya akan hilang. Tuangkan ke wadah yang bersih lalu letakkan di dapur. Hantu anak kecil yang terus-menerus mencuri makanan di dapurmu pasti akan pergi."
"Terima kasih banyak. Terima kasih banyak."
Pasangan muda itu membungkuk berkali-kali lalu berpamitan pergi. Baek-ran menutup payungnya. Bayangan yang berkelebat di bagian dalam payung menghilang seperti asap.
"Selanjutnya? Ada masalah apa?"
Yu-dan duduk di kursi yang barusan ditempati pasangan itu. Saat hendak menjelaskan, ia tidak tahu harus mulai dari mana.
"Apa kamu tidak merasakan sesuatu dariku?"
Siluman rubah menatap Yu-dan dengan ekspresi khasnya, menyipitkan mata. Lalu ia tampak terkejut.
"Apa hari ini kamu cuci muka? Wajahmu sangat putih."
"Tidak bisakah kamu menganggapku sedang pucat?"
"Kalau diperhatikan, kamu terlihat sangat tidak stabil," Tuan Do menyela. "Ada apa? Apa kamu melihat hantu di jalan? Ah, tapi kan memang biasanya sering kamu lihat, bukan?"
"Aku sedang serius sekarang……."
Yu-dan mulai bercerita dengan tidak teratur. Dahulu ia pernah berjanji memberikan sesuatu kepada seseorang. Sosok itu bilang akan datang menagihnya suatu saat nanti, namun Yu-dan sudah melupakan hal itu sepenuhnya. Sampai tadi tiba-tiba ingatannya muncul kembali. Sosok itu sepertinya bukan manusia.
Semakin ia bercerita, ekspresi para siluman semakin serius. Saat Yu-dan mendeskripsikan tangan sosok tersebut, Baek-ran sedikit mengernyitkan dahi.
"Dipenuhi bulu, dan dua jarinya hilang. Hanya itu?"
"Aku tidak ingat lebih dari itu."
"Petunjuknya terlalu sedikit." Baek-ran memanggil si kembar dan memberikan instruksi. Kedua siluman ginseng itu segera berlari ke lantai atas.
"Apa yang kamu janjikan untuk diberikan? Apa mungkin kamu pernah menerima sesuatu darinya?"
"Itu pun aku tidak ingat."
"Aku punya firasat yang sangat buruk. Aku sudah menduga hal seperti ini akan terjadi suatu saat nanti."
"Hal seperti apa maksudmu?"
"Bukankah sejak kecil kamu sudah bersinggungan dengan berbagai macam hal? Pasti banyak nasib buruk yang terjerat padamu. Suatu saat mereka akan menyerangmu satu per satu, dan saat itu kamu pasti akan berlari kemari dengan wajah pucat. Makanya aku sempat berpikir apa aku harus pindah rumah saja sebelum itu terjadi……."
"Memang visi mu sangat luar biasa," puji si dokkaebi. Yu-dan merasa emosinya meluap.
"Kenapa kalian malah bercanda lagi! Apa kalian pikir aku tidak bisa menemukan kalian kalau kalian pindah?"
Saat itulah si kembar turun membawa sebuah buku besar. Sepertinya buku itu cukup berat, mereka meletakkannya dengan bunyi brak lalu memijat tangan mereka.
"Bagaimana jika kamu menggunakan kegigihanmu itu untuk hal yang lebih bermanfaat. Contohnya seperti ini."
Baek-ran membalik halaman buku. Itu adalah buku spesimen yang ditempeli berbagai jenis bulu dengan nama tertulis dalam aksara Han di bawahnya.
"Bulu yang mana di antara semua ini?"
Yu-dan menatap berbagai macam bulu tersebut. "Yang ini? Bukan, yang ini ya?"
Pikirannya mulai kacau. Semuanya terlihat sama baginya. Saat ia menunjuk satu yang ia rasa mirip, di halaman berikutnya muncul yang lebih mirip lagi. Karena terus bimbang, kesan yang semula ada di kepalanya justru mulai memudar.
"Aku tidak tahu."
Baek-ran berdiri tanpa suara. "Di mana ya aku menaruh Chucheon-gyeong?"
"Biar ku bantu," Tuan Do ikut pergi. Melihat keduanya menghilang dalam sekejap, Yu-dan memiringkan kepalanya.
"Tumben dia pergi begitu saja. Padahal aku pikir dia akan menghina kecerdasanku karena tidak bisa menemukan bulunya meskipun sudah ditunjukkan di depan mata. Kenapa aku malah jadi gelisah ya?"
"Ah, begitu ya? Nanti akan kami sampaikan saat mereka kembali. Bahwa Yu-dan merasa lebih tenang kalau mendengar hinaan tentang harga dirinya."
"Kenapa kamu meringkasnya jadi terdengar aneh begitu! Bukan itu maksudku."
"Benar. Bukan begitu maksudnya. Daripada menunggu mereka kembali, ayo kita datangi saja dan beritahu. Yu-dan merasa lebih tenang kalau dihina harga dirinya."
"Kalian sebenarnya dengerin aku ngomong gak sih?"
"Tentu saja kami dengar. Nah, pokoknya ayo ikut kami."
Si kembar ginseng membawa Yu-dan ke halaman belakang.
"Chucheon-gyeong adalah cermin yang memantulkan sisi belakang dari hati. Kami akan mengambil tiang untuk menggantung cerminnya, jadi tunggulah di sini."
"Tebang saja, di sini aman. Kami segera kembali."
Yu-dan duduk sendirian di lantai kayu halaman belakang yang terkena sinar matahari.
Halaman itu terasa sunyi seolah terputus dari dunia luar. Waktu seakan berhenti berputar. Lantai kayu yang sudah tua itu terasa panas terpanggang matahari musim semi. Karena mengira sebentar lagi akan panas, Yu-dan sedikit bergeser ke arah bayangan.
Saat itulah, musik yang tidak ia sadari keberadaannya tiba-tiba berhenti. Dari dalam terdengar suara manusia. Sepertinya seseorang menyalakan radio. Penyiar radio itu sedang berbicara.
「……Penyair Inggris T.S. Eliot menulis dalam 'The Waste Land' seperti ini. April adalah bulan yang kejam. Menumbuhkan bunga lilac dari tanah yang mati, mencampur kenangan dan gairah…….」
Yu-dan tersentak dan mendongak.
Entah mengapa ia menatap ke arah itu, namun seseorang berdiri di sana. Wajahnya tidak terlihat karena membelakangi cahaya.
"Kamu tidak boleh masuk ke sini……."
Bulu kuduknya meremang. Kata-kata yang tanpa sadar keluar dari mulutnya adalah kata-kata yang sama persis dengan yang ia ucapkan di dalam lamunan tadi.
"Kau sudah janji. Kau bilang mau memberikannya."
Suara geraman terdengar sebagai balasan.
Sosok itu melangkah maju dan mengulurkan tangan. Pada tangannya yang dipenuhi bulu, jari kelingking dan jari manisnya tidak ada.
Seketika, seluruh ingatannya kembali seperti sebuah kebohongan.
Musim dingin yang dingin. Sebuah toko alat tulis kecil yang ia datangi sejenak bersama teman saat perjalanan pulang sekolah. Aroma pemanas ruangan yang menyeruak saat pintu dibuka. Bau sintetis permen karet balon. Mainan Pinokio dari kayu yang warnanya memudar—.
—Pada punggung mainan itu terdapat kunci pemutar.
Jika kunci itu diputar sampai habis lalu diletakkan, mainan itu akan melompat-lompat dan hidungnya akan memanjang. Meskipun sederhana namun terasa seru, sehingga ia terus memutar kunci itu berulang kali, sampai kemudian,
Terdengar suara buk dari bagian dalam toko. Ia mengintip ke kamar dalam melalui celah pintu.
Temannya tergeletak pingsan. Pemilik toko alat tulis itu mengulurkan tangannya. Tangan berbulu yang kehilangan dua jarinya.
Yu-dan melihatnya.
Pemilik toko itu memiliki wajah lain yang tersembunyi. Sosok itu adalah binatang berbulu. Wajah pria paruh baya yang terlihat ramah itu hanyalah sisa kulit tipis yang bergelantungan di atasnya.
Ia takut. Sangat takut hingga napasnya tersumbat. Mendengar suara napas yang memburu, sosok itu menolehkan kepalanya dengan cepat. Tatapannya bertemu dengan mata kuning yang memerah.
Mulut merah sosok itu terbuka lebar hingga ke telinga. Air liur menetes dari gigi-giginya yang penuh karang gigi kekuningan.
—Bocah. Kau melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat.
Aroma busuk tercium dari dalam tenggorokannya. Darah dan potongan daging yang entah milik siapa bercampur dan membusuk di dalam perutnya.
Benci. Takut.
Meskipun kakinya lemas karena ngeri, sisi lain dari hatinya bangkit. Kebencian terhadap makhluk-makhluk jahat yang bersembunyi di dunia dan melakukan hal mengerikan ini.
—Jangan! Hentikan!
Yu-dan mengambil sebuah tongkat di sampingnya dan berteriak dengan suara gemetar. Makhluk itu tertawa seolah hal itu sangat lucu.
—Coba kulihat. Kau punya aroma yang sangat menarik.
Kini itu bukan lagi bahasa manusia. Melainkan suara binatang. Makhluk itu melepaskan temannya dan membuka mulut lebar ke arah Yu-dan. Lalu ia mengeluarkan sesuatu dan menunjukkannya. Sesuatu yang sangat menakutkan.
—Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja? Jawab! Cepat!
Karena terlalu ketakutan, tanpa berpikir Yu-dan menganggukkan kepalanya.
—Itu janji. Sekarang belum bisa tapi aku akan menagihnya nanti. Aku akan mendatangimu secara tiba-tiba suatu hari nanti. Jangan berani melanggar janji saat itu. Kamu tahu kan apa yang terjadi pada anak yang berbohong?
Raungan binatang itu berubah menjadi tawa.
Boneka Pinokio yang jatuh di lantai mulai bergerak sendiri. Padahal kuncinya tidak diputar, namun ia melompat-lompat sendiri dan membenturkan kepalanya ke lantai. Hidungnya yang panjang hancur, wajahnya hancur, kepalanya hancur, menyisakan hanya bagian tubuh yang mengalami kejang-kejang.
"Nah, sekarang saatnya menepati janji, kan?"
Binatang dari masa lalu itu datang kembali dan berbicara. Seluruh tubuh Yu-dan merinding.
Kini ia menyadari makna dari gambaran yang ia lihat namun tidak ia pahami saat masih kecil. Pemandangan yang ia lihat melalui celah pintu. Hal yang ingin dirampas makhluk itu dari temannya adalah—.
Jantung.
Sesuatu yang tajam menusuk dadanya dengan dalam.
「……Musim dingin justru terasa lebih penuh belas kasih. Menutupi bumi dengan salju, membuat segalanya terlupakan…….」
Kakinya lemas. Ternyata itu adalah mimpi firasat.
Dari dadanya, melalui seluruh saraf di tubuhnya, rasa sakit yang mengerikan seolah seluruh organ inderanya terbakar putih mulai menyebar.
Dan kemudian…….
Pandangannya menggelap.
Berbagai macam suara bercampur aduk berputar di telinganya. Teriakan. Suara benda pecah. Suara tawa. Segalanya berputar dan menyatu. Di dunia di mana batas antara 'sini' dan 'sana' menjadi samar, suara berubah menjadi wujud dan jatuh di atas pipinya.
Tetesan air yang dingin.
……Hujan?
Ia memaksa matanya yang sayu untuk terbuka. Di tanah yang terlihat di depan matanya, bintik-bintik bundar mulai muncul satu per satu. Entah sudah berapa lama ia tergeletak seperti ini.
"Bangun."
Seseorang membangunkannya. Rambut hitam dengan pita hitam (daenggi) dan mengenakan chima-jeogori hitam. Seorang wanita cantik yang auranya terasa dingin seperti pahatan. Saat Yu-dan menatapnya dengan bengong, wanita itu menarik lengannya.
"Sedang apa? Ayo cepat. Hujan akan segera turun."
Yu-dan mengalihkan pandangannya. Benar saja, langit tampak sangat mendung. Angin membawa aroma hujan. Pada deretan tiang di bukit, kain putih seperti kain belacu berkibar-kibar.
"Ini…… di mana?"
"Kan sudah kubilang ayo cepat." Wanita itu menariknya lagi. Kini Yu-dan baru mengenali wajahnya.
"……Heuk-yo?"
Wanita itu tersentak. Ia berbisik dengan nada rendah. "Diamlah. Semuanya sedang memperhatikan."
"Semuanya?"
Ternyata benar. Desa rumah atap jerami, pepohonan yang suram, seluruh dunia ini seolah sedang menahan napas dan mengawasi mereka. Tatapan dari makhluk-makhluk yang tidak hidup terasa sangat gigih.
"Sebenarnya ini di mana……."
"Tempat di luar alam material. Sekarang waktumu sedang berhenti."
"Apa maksudmu?"
"Jangan menoleh ke belakang."
Tapi Yu-dan sudah melihatnya. Di tengah genangan darah, seseorang tergeletak. Seorang siswa laki-laki berseragam sekolah.
"Itu... apa itu aku?"
"Iya," Heuk-yo berkata sambil menyeret Yu-dan. "Kamu sekarang sedang sekarat."
"Mana mungkin……."
"Saat kami berlari datang, segalanya sudah terjadi. Kuku makhluk itu sudah merobek dadamu dan masuk ke dalam. Jika terlambat beberapa detik saja, jantungmu pasti sudah dicabut, tapi untungnya waktu kalian berdua berhasil dihentikan tepat di batas tipis. Oleh Cheonho-nim."
Yu-dan menatap wajah samping siluman ular yang berbicara dengan santai itu dengan hampa. Cerita yang benar-benar mustahil untuk dipercaya.
"Jantungku?"
Dengan perasaan asing ia meraba dadanya. Ternyata benar. Jantungnya tidak berdetak. Rasanya seolah bagian dalamnya kosong, tidak terasa apa-apa.
"Lalu bagaimana aku bisa bergerak?"
"Jangan berpikir terlalu dalam. Hal seperti ini aslinya tidak bisa ada di dunia. Maksudku, ini bukan kenyataan." Heuk-yo mempercepat langkahnya.
"Ingatlah ini saja. Jika kamu kembali sekarang, kamu akan mati. Luka fisik bisa diobati oleh si kembar. Tapi, sebelum waktu kalian berdua mulai berjalan kembali, jika makhluk itu tidak segera diatasi, jantungmu akan tercabut keluar."
Mereka melewati bukit dan sampai di tepi sungai. Di bawah dahan pohon dedalu yang bergoyang seperti rambut wanita, berdiri seorang tuan muda berpakaian sutra biru dan seorang gadis yang menutupi kepalanya dengan kain sseugae-chima. Keduanya menoleh serentak.
"Sudah datang!" Mereka berlari dengan wajah bersemangat dan mengerumuni Yu-dan.
"Kami semua sangat terkejut! Bagaimana bisa terjadi secepat itu!"
"Bagaimana caramu bisa menembus segel halaman belakang? Tidak bisa dipercaya!"
"Jangan khawatirkan tubuhmu. Paman sedang menjaganya agar tidak ada yang mencuri atau mencelakainya."
"Pikirkan saja cara untuk kembali. Mengerti? Kita harus kembali bersama dengan selamat!"
Heuk-yo memisahkan si kembar yang berebut bicara sambil memegangi Yu-dan erat-erat.
"Tidak ada waktu untuk bicara panjang lebar. mahluk itu mengejar."
Ia meletakkan tangan di dahinya dan menatap ke arah sungai. Dari sana, sebuah perahu tampak meluncur dengan tenang. Itu adalah perahu pesiar yang mewah. Di tengahnya terdapat paviliun yang ditutupi tirai, dan di anjungan perahu, para musisi, penari, serta rombongan pemain akrobat sedang mengadakan pertunjukan yang meriah.
. . . ...........
Glosarium Istilah:
- Gamnosu (감로수): Air suci atau nektar yang dipercayai dalam tradisi Buddhis dapat menghilangkan penderitaan roh, terutama rasa lapar Agwi.
- Agwi (아귀): Hantu Kelaparan; roh yang dihukum dengan rasa lapar abadi.
- Ak-yeon (악연): Nasib buruk atau hubungan yang membawa petaka.
- Chucheon-gyeong (추천경): Nama cermin mistis dalam cerita ini; Chucheon secara harfiah bisa merujuk pada ayunan atau gerakan bolak-balik.
- Daenggi (댕기): Pita tradisional Ko( digunakan untuk mengikat kepangan rambut.
- Sseugae-chima (쓰개치마): Pakaian luar wanita zaman Joseon yang digunakan untuk menutupi kepala dan wajah saat keluar rumah.
