Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 20>


 "Apa semua rasa penasaranmu sudah terjawab?"

​"Kurasa begitu?"

​Baek-ran mengangkat kuasnya. Setelah menulis beberapa aksara, ia tiba-tiba bertanya.

​"Apa kamu ingin ibumu yang sudah tiada datang berkunjung sekali saja?"

​"Bukan, yah, tidak harus begitu juga sih…" Yu-dan bergumam sambil menulis rumus matematika. "Kadang aku membayangkannya. Akan seperti apa kalau dia masih ada. Lagipula aku sudah tidak terlalu ingat. Ah, kenapa tanya hal rumit begitu? Bukankah ibu memang seperti itu? Kalau ada, terasa sedikit menyebalkan, tapi kalau tidak ada, rasanya segala hal jadi berantakan karena tidak ada ibu…"

​Baek-ran memiringkan kepalanya.

​"Kamu tidak mengerti? Memangnya ada hal yang tidak kamu mengerti?"

​"Apa kamu tidak terpikir kalau kamu sendiri sangat buruk dalam menjelaskan sesuatu?" Yu-dan balik bertanya. "Apa kamu tidak punya ibu?"

​"Aku tidak ingat."

​"Saudara? Teman?"

​"Kenapa kamu menanyakan itu?"

​"Boleh saja kan aku tanya."

​"Setelah menginterogasi, kamu percaya diri sekali ya. Apa bedanya jika ada atau tidak ada? Jika menetap ya menetap, jika pergi ya pergi. Lagipula bukankah semuanya akan pergi?"

​"Begitukah? Enak ya kalau tidak punya obsesi atau keterikatan."

​Yu-dan menulis angka-angka dengan ogah-ogahan sambil sesekali melirik siluman rubah itu. Tapi kenapa dia tetap mencoba menyelamatkan orang? Meski tidak punya rasa penyesalan, kenapa dia tetap mengulurkan tangan?

​"Boleh aku tanya satu hal lagi?"

​"……."

​"Aksara yang kamu tulis di atas tirai bambu waktu itu apa? Delapan aksara yang dimulai dengan kata Langit."

​"Itu adalah Ho (gelar). Yang diterima dari langit."

​"……Waktu itu, terima kasih."

​"Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan."

​"Apa Cheonho itu aslinya hewan yang tidak punya emosi?"

​Akhirnya ada reaksi. Meskipun sedikit, tangan Baek-ran bergerak. "Bagaimana mungkin aku tidak punya emosi?"

​"Begitukah? Maaf kalau aku salah paham, tapi kamu benar-benar terlihat tidak punya emosi. Sampai pada tahap di mana……."

​"Sampai pada tahap di mana kata maafmu sama sekali tidak terdengar seperti permintaan maaf?" Baek-ran membalik halaman buku. "Bagaimana mungkin bisa sama? Di masa lampau yang bahkan sudah tidak kuingat lagi, aku sudah merasakan segala hal yang dirasakan orang lain berulang kali tanpa henti… Jika kamu mengharapkan aku tetap sama setelah itu… bukankah itu juga aneh?"

​"Begitu ya. Jadi kamu menjadi mati rasa."

​Saat sedang menyahut, Yu-dan tersentak kaget. Baek-ran mendongak, matanya tampak heran.

​Yu-dan baru menyadari sedetik kemudian. Ternyata barusan siluman rubah ini tidak bicara dengan mulutnya. Pupil mata cokelatnya menyempit.

​"Maaf. Sepertinya aku 'berpikir' terlalu keras di dalam hati sampai menjadi polusi suara. Tapi meski begitu, bukankah pihak yang sengaja menguping bisa membuat orang lain merasa ingin membunuh?"

​"Ingin membunuh? Tanpa lewat tahap kesal atau marah, langsung ingin membunuh?"

​"Karena itu lebih ekonomis."

​"Tunggu dulu! Kamu kan tahu aku memang begini! Terlihat meski tidak ingin melihat! Terdengar meski tidak ingin mendengar! Aku akan hati-hati kok—eh, meski sudah minta maaf kamu tetap mau menindihku sampai mati dengan buku? Apa aku ini lalat?"

​"Eh?" Baek-ran menunduk. Ia tampak sedikit terkejut saat menyadari sebuah buku kuno yang tebal sedang perlahan-lahan menekan Yu-dan. "Bukan aku yang melakukannya."

​"Memangnya ada siapa lagi selain kita berdua di sini? Maksudmu buku ini bergerak sendiri?"

​"Sepertinya begitu."

​"Mana mungkin!" Yu-dan mencoba mendorong buku kuno itu. Namun benda itu tidak bergeming. "Apa-apaan? Ini buku apa sih?"

​"Coba kulihat, apa ini buku aritmetika? Buku ajaib yang katanya bisa membuat siapa pun menjadi jenius berhitung……?"

​Telinga Yu-dan langsung tegak saat mendengar gumaman sang rubah. Membuat jadi jenius berhitung? Apa ini imbalan karena aku sudah bekerja keras kesana-kemari hari ini?

​"Sini, berikan padaku!"

​Begitu dibuka, ternyata isinya aksara Han. Tepat saat ia akan merasa kecewa, pandangannya menjadi kabur dan ia mulai bisa menerjemahkannya secara otomatis. Namun, tiba-tiba sebuah bayangan pekat menaunginya.

​Yu-dan mendongak. Di sana berdiri seorang jenderal berpakaian zirah dengan janggut panjang. Bahunya lebar dan otot lengannya tampak sekeras besi.

​"……Paman ini siapa?"

​"Ah, aku ingat." Suara Baek-ran menjadi cerah. "Itu adalah Hoyosangyeong (Kitab Aritmetika Cahaya Agung). Buku aritmetika kuno yang mirip dengan Gujangsansul atau Sanbeomtongjong. Tapi katanya buku itu ditempeli hantu penulisnya. Beliau menghabiskan seluruh hidupnya untuk menulis buku itu, namun karena orang-orang hanya mencari buku novel dan tidak melirik buku aritmetika, ia meninggal sambil memuntahkan darah. Sejak saat itulah, orang-orang yang mendapatkan buku ini satu per satu menghilang……."

​"Apa?"

​"Tenang saja. Mereka tidak mati. Hanya saja mereka semua ditemukan dalam keadaan linglung dengan tubuh penuh memar, sambil terus bergumam tanpa henti bahwa mereka benci angka dan benci berhitung. Tambahan lagi, mereka akan kejang-kejang setiap kali melihat benda yang mirip tongkat besi……."

​"Apa katamu?" Wajah Yu-dan menjadi pucat pasi. "Ini bukan buku ajaib! Ini buku pencabut nyawa! Kenapa kamu bohong?"

​"Aku tidak bohong. Itu kebenaran, kalau kamu menyelesaikannya sampai akhir, siapa pun akan jadi jenius berhitung. Kamu bisa melepaskan dendam sang hantu sekaligus mendapat nilai ujian yang bagus. Bukankah itu sangat bagus?"

​Baek-ran menyandarkan punggungnya di kursi dengan santai. "Sepertinya aku memang benar-benar siluman. Melihat manusia yang matanya buta karena serakah lalu menggali kuburannya sendiri dengan tangan sendiri ternyata sangat menyenangkan."

​Lalu ia tersenyum lebar.

Ah, begitu rupanya…. Bagi siluman rubah ini, senyum itu sama saja dengan tertawa terbahak-bahak. Sulit untuk mengetahuinya hanya dari luar. Sama seperti ucapannya yang ingin melepaskan, namun sebenarnya ia tidak akan pernah melepaskannya. Yu-dan mulai bisa sedikit memahaminya.

​Saat ia sedang berpikir begitu, "Dia sedang malas-malasan," ucap siluman rubah itu kepada sang hantu.

​Yu-dan murka. "Malas apanya! Aku sudah memikirkan ini sejak lama! Kalau Perang Dunia Ke-4 terjadi, itu pasti perang antara manusia melawan siluman!"

​"Menakutkan ya. Ternyata Perang Dunia Ke-3 sudah terjadi tanpa aku ketahui."

​"Hah! Jadi sekarang ini seharusnya yang ke-3 ya?"

​"Bahkan tidak bisa membedakan angka 3 dan 4, kondisimu benar-benar serius."

​Seolah membenarkan ucapan itu, sang hantu menekan bahu Yu-dan dengan tongkat besinya. Matematikawan macam apa ini? Apa dia meneliti matematika bukan dengan otak tapi dengan otot? Menghitung berapa kali pukulan sampai orang pingsan? Berapa derajat kemiringan tongkat yang paling efektif?

​"Kh……." Terpaksa Yu-dan menatap bukunya kembali.

​"Ada seekor Gumiho dengan satu kepala dan sembilan ekor, dan seekor Cheongjo (Burung Biru) dengan sembilan kepala dan satu ekor. Jika keduanya dimasukkan ke dalam kandang, terdapat total tujuh puluh dua kepala dan delapan puluh delapan ekor. Maka berapakah jumlah masing-masing Gumiho dan Cheongjo…… tinggal dihitung saja kan repot amat!"

​Seketika hantu buku aritmetika itu mengayunkan tongkatnya. Embusan angin terasa di dekat telinganya. Terpaksa Yu-dan mulai membuat rumus. Apa aku benar-benar harus menyelesaikan semua soal sebanyak ini? Aku bisa mati sebelum selesai. Apa tidak ada yang bisa menyelamatkanku?

​Saat itulah, sebuah suara keras bergema.

​"Ah, sungguh menyenangkan!"

​Mendengar suara nyaring sang dokkaebi, hantu tadi tiba-tiba menghilang seketika. Yu-dan langsung melompat bangun. Ia tidak pernah menyangka akan ada hari di mana ia merasa sangat senang mendengar suara dokkaebi setengah baya itu.

​Mereka telah kembali. Malam yang aneh ini akhirnya berakhir.

​"Si tua itu benar-benar menyiapkan segalanya dengan matang. Kalau kita tidak pergi ke pesta, pasti akan menyesal seumur hidup."

​"Benar sekali, Kak. Terutama hidangannya sangat luar biasa. Kaldu Sinseollo itu dibuat dari daging Phoenix, rasanya sangat bersih tanpa campuran."

​"Tapi kalau piringnya biasa saja pasti tidak akan berkesan. Si tua itu benar-benar tahu seni, dia langsung membuka kado piring yang ia terima dan menuangkan arak di sana. Tidak kusangka seumur hidupku aku bisa menyentuh cangkir arak dari porselen seladon yang seindah itu."

​"Eh, apa yang sedang Paman elus-elus itu? Paman! Apa itu yang ada di lengan bajumu? Jangan-jangan……."

​"Bukan! Bukan! Ini cuma sumpit! Sepertinya jumlah sumpitnya lebih banyak dari jumlah tamu, jadi aku ambil satu pasang saja diam-diam……."

​"Apa? Apa Paman sudah gila? Kalau ketahuan itu bisa jadi perang!"

​"Tunggu dulu! Paman, ini bukan sumpit tapi ranting pohon busuk! Paman benar-benar sudah mabuk berat ya. Dan kenapa Kakak terus senyum-senyum sendiri?"

​"Aku teringat tarian kipas tadi. Sungguh yang terbaik. Kipas-kipas itu benar-benar menari dengan indah, kan?"

​"Kenapa kipas bisa menari? Kakak lihat apa sih? Kakak juga sudah mabuk ya. Kan sudah kubilang minum sedikit saja. Tapi kalian malah minum semua yang ditawarkan tanpa menolak sampai selarut ini. Tadinya mau pulang sebelum tengah malam, tapi sekarang sudah dini hari. Bagaimana aku bisa menghadapi Tuan Muda karena tidak enak hati?"

​"Jangan khawatir. Kalau melihat tokonya sesunyi ini, dia pasti sudah ada di alam mimpi—"

​Heuk-yo tersentak saat pintu yang hendak ia buka terbuka dengan sendirinya. Matanya membelalak melihat Yu-dan berdiri tepat di depannya. "Eh, kenapa bocah ini memasang wajah putus asa begitu? Ada apa!"

​Begitu ia mengintip ke bagian dalam dari balik bahu Yu-dan, ia terperangah. "Mengapa Anda sudah turun kemari! Aaah, gawat. Pasti telah terjadi kecelakaan. Kecelakaan yang sangat besar."

​"Tidak juga," siluman rubah menggeleng. "Aku hanya turun sebentar untuk melihat-lihat. Dia mengerjakannya dengan sangat rajin, lho." Lalu tersenyum tipis. "Mungkin malah terlalu rajin."

​Para siluman melihat ke sekeliling toko. "Eh, apa-apaan ini! Kenapa ada lautan kelopak bunga di sini? Ini kan bunga plum perak! Harusnya ini jenis yang sangat langka?" Tuan Do yang insting kolektornya bangkit segera membawa sapu sambil berseru, "Kumpulkan! Kumpulkan!".

​"Lihat ini!" Chae-seol berlari menuju pot bunga di sudut ruangan. "Ada pohon kecil yang belum pernah kulihat sebelumnya! Tapi sudah mati!"

​"Ngomong-ngomong, apa tidak tercium bau anjing?" Chaewoo memiringkan kepala sambil menatap bagian depan seragam Yu-dan. "Bukankah itu bulu anjing? Apa tadi ada anjing yang datang ke toko? Ke mana anjing itu pergi dan kenapa cuma tersisa bulunya?"

​Sementara itu, Heuk-yo mengernyit menatap lantai. "Ini apa lagi? Kenapa semua buku menu berserakan di lantai! Sebenarnya apa yang terjadi?"

​Keempat siluman itu saling berbisik sambil merapatkan kepala. "Tapi cuma itu saja kan?"

"Iya, cuma itu. Tokonya sepertinya aman."

"Kalau begitu, jangan-jangan kita……"

"Benar-benar telah menemukan pekerja yang bisa diandalkan!" Suara mereka terdengar seperti sedang merencanakan konspirasi.

​Wajah Yu-dan menjadi pucat. "Bukan! Kan sudah kubilang aku salah! Tolong ampuni aku! Menjaga toko ternyata bukan hal yang mudah! Aku terlalu sombong!"

​Semua orang langsung tertawa terbahak-bahak. Bahkan Heuk-yo pun tidak bisa menahan tawa dan segera memalingkan wajahnya. "Jangan khawatir. Semuanya cuma bercanda kok. Bagi kami, sudah cukup kalian bisa menjaga malam ini dengan baik. Tuan Muda, kamu sudah bekerja keras. Ayo, cepat kita bersih-bersih."

​"Iya, ayo bersih-bersih. Yang ini biar aku yang menguburnya." Chae-seol memeluk pot bunga plum itu. Ia menempelkan pipinya pelan di sana. "Ajaib ya. Meskipun sudah mati, dia terlihat tersenyum lebar." Saat matanya bertemu dengan Yu-dan, gadis itu mengedipkan mata dengan senyum rahasia. "Sepertinya di saat terakhir, dia benar-benar bahagia."


​Buku tua itu mengeluarkan aroma apek yang menyengat. Mungkin karena air mata dan keringat dingin orang-orang yang sudah menatap buku ini selama ini. Di sana-sini terdapat banyak noda yang melebar. Yu-dan mengucek matanya lagi.

​"Ada sebuah tembok dengan ketebalan lima kaki, dan dua ekor tikus sedang menggali tembok itu dari sisi yang berlawanan. Tikus besar menggali satu kaki sehari, dan tikus kecil juga menggali satu kaki sehari. Jumlah tikus besar berlipat ganda setiap hari, sementara jumlah tikus kecil berkurang menjadi separuhnya setiap hari. Setelah berapa hari kedua tikus itu akan bertemu, dan berapa bagian tembok yang digali masing-masing…… mana aku tahu! Kenapa mereka tidak pakai racun tikus saja sih!"

​Meskipun ia memprotes setiap kali membaca satu halaman, fakta bahwa ia harus menyelesaikan semua soal ini tidak berubah. Ia mengukur ketebalan bagian yang tersisa lalu menghela napas panjang seolah bumi akan runtuh. Kepalanya sangat sakit.

Apa aku istirahat sebentar saja? Tidak. Ia harus menyelesaikan satu soal lagi. Agar ia bisa segera lepas dari neraka angka ini satu detik lebih cepat.

​Saat ia sedang menggigit bolpoinnya, suara pintu toko bergeser terdengar. Srek.

​Seseorang masuk ke dalam. Namun untuk waktu yang cukup lama, suasana tetap sunyi senyap tanpa suara sedikit pun. Yu-dan merasa aneh lalu mendongak.

​Seorang kakek yang memakai topi fedora sedang melihat-lihat barang antik. Namun tidak ada satu pun pelayan yang berlari menyambutnya. Saat Yu-dan melihat sekeliling, tidak ada siapa-siapa. Padahal barusan mereka semua ada di sana.

Ya ampun. Padahal sudah kubilang aku tidak mau menjaga toko. Entahlah. Ia memutuskan untuk pura-pura tidak tahu.

​Ia kembali bergulat membuat rumus. Namun ia merasakan tatapan hangat dari sang kakek. "Anu, apa pemiliknya sudah berganti?"

​Yu-dan menyahut tanpa berhenti mengerjakan soal. "Tidak…… kok."

​Meskipun itu jawaban yang sangat tidak ramah, sang kakek sepertinya justru berterima kasih karenanya. "Ah, begitu ya? Syukurlah kalau begitu. Jangan pedulikan aku dan teruskan urusanmu. Aku tidak mau beli apa-apa, cuma mampir main saja." Sang kakek memasang wajah lega lalu duduk di kursi sambil mengeluh, "Aduh, kakiku sakit sekali karena terlalu banyak berjalan."

​Tangan Yu-dan yang sedang menulis dan menghapus angka seketika terhenti. Ia mendongak dan menatap sang kakek.

Mengapa tadi aku tidak menyadarinya?

​Sosok yang memakai topi fedora, mengenakan jubah durumagi, dan memegang pipa rokok itu seolah baru saja melompat keluar dari foto hitam putih masa lalu. Denging kecil yang merangsang gendang telinganya pun baru ia sadari sekarang.

​"Sepertinya Anda datang dari tempat yang jauh?"

​"Bagaimana kamu bisa tahu? Benar, aku datang dari tempat yang jauh. Sangat jauh. Karena aku merindukan tempat ini. Meskipun segalanya berubah, tempat ini tetap sama. Sudah enam puluh tahun ya……."

​Enam puluh tahun. Sebuah pikiran melintas di kepala Yu-dan secepat kilat. Jangan-jangan dia pelanggan setia selama enam puluh tahun yang diceritakan Heuk-yo dan Chaewoo?

​Yu-dan melompat bangun bermaksud memanggil mereka. Namun saat melihat ke arah dapur, ia berubah pikiran. Kenapa aku harus heboh begini?

​Tadi Heuk-yo sudah bilang bahwa semuanya sudah disiapkan di laci kedua lemari dalam. Selama ia punya mata dan tangan, tidak ada yang tidak bisa dilakukan. Yu-dan masuk ke dapur dan membuka lemari.

​Benar saja, ada sebuah bungkusan kecil. Begitu dibuka, ternyata isinya daun teh yang dibungkus kertas tipis dan kue kecil. Teh hijau dan yakgwa.

​Lalu apa selanjutnya? Ia sempat bingung berdiri sejenak sampai ia menemukan cangkir teh di rak pengering. Begitu tutupnya dibuka, di dalamnya terdapat saringan keramik. Sambil meniru apa yang biasa dilakukan Chae-u, ia memasukkan daun teh ke sana, lalu menyeduhnya dengan air dari teko listrik yang baru saja ia didihkan kembali. Ia mencari nampan di antara tumpukan piring, menaruh kue yakgwa, lalu meletakkan cangkir teh di atasnya.

​Rasanya cukup meyakinkan, dan ia merasa bangga. Ia membawa nampan itu keluar dan meletakkannya di depan sang kakek.

​Kakek itu berseru "Ohh" dan menerimanya dengan senang. Setelah meminum teh dan mengunyah yakgwa, ia langsung terkagum-kagum.

​"Benar, ini rasa yang kucari. Rasa yakgwa buatan Nona di sini dan rasa teh yang luar biasa ini. Juga keramik-keramik yang dipilih dengan sepenuh hati dan dilap hingga bersih oleh manajer di sini. Atmosfer unik tempat ini. Aku sangat menyukai toko ini. Aku benar-benar tidak bisa melupakannya. Karena itulah sesekali aku datang berwisata kemari. Namun…" Mata yang menyipit bahagia itu sedikit meredup.

​"Entahlah apa aku bisa datang lagi. Tempatnya terlalu jauh. Mungkin lain kali aku tidak akan bisa datang lagi. Itulah sebabnya aku mau mengucapkan salam perpisahan, tapi…."

​Kakek itu berdiri kembali sambil mengerang pelan. "Jika semuanya sedang sibuk ya mau bagaimana lagi. Aku harus segera pergi. Terima kasih untuk tehnya."

​Air teh yang sama sekali tidak berkurang jumlahnya itu tampak bergoyang sedikit di dalam cangkir. Sang kakek sekali lagi melihat ke sekeliling toko untuk terakhir kalinya. Seolah ia ingin merekam setiap sudut toko di dalam hatinya. Lalu ia perlahan berjalan menuju pintu.

​Bayangan samarnya seolah akan segera sirna di bawah sinar matahari yang terlalu terang. Sebelum hal itu terjadi, Yu-dan merasa harus mengatakan sesuatu. Karena itu……

​"Semua orang sedang menunggu!" Yu-dan berteriak ke arah punggung yang membungkuk itu. "Teh dan kue sudah disiapkan karena mereka sedang menunggumu! Jadi, datanglah lagi……."

​Kalimat 'datanglah lagi' terasa agak memalukan sehingga ia telan kembali. Namun sang kakek sepertinya mengerti. Kakek itu menoleh perlahan dengan ekspresi yang sedikit terkejut. Lalu, wajah yang membelakangi cahaya itu tersenyum dengan sangat hangat.

​"Terima kasih."

​Senyum itu terasa jauh lebih cerah daripada sinar matahari sore hari.

. . . .. . . . . .. . 

Glosarium Istilah:

  • Ho (호): Gelar atau nama kehormatan.
  • Sinseollo (신선로): Hidangan sup tradisional mewah Korea yang dimasak dalam panci khusus dengan lubang di tengahnya.
  • Yakgwa (약과): Kue tradisional Korea yang manis, digoreng dan direndam dalam madu.
  • Durumagi (두루마기): Jubah tradisional Korea yang digunakan sebagai pakaian luar.
  • Jasi (자시): Periode waktu tradisional antara jam 11 malam hingga 1 dini hari.
  • Chuksi (축시): Periode waktu tradisional antara jam 1 pagi hingga 3 pagi.
  • Dalma-do (달마도): Lukisan Bodhidharma yang dipercaya memiliki kekuatan untuk mengusir energi negatif atau hantu.

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang