Kisah Kelima: Tamu dari Alam Baka
Dahulu kala, hiduplah dua bersaudara yang sangat rukun. Namun suatu hari, saat sedang menyeberangi sungai, perahu mereka terbalik; sang kakak meninggal dan hanya si adik yang selamat.
Saat si adik yang tinggal sendirian sedang meratapi kesedihannya hingga membasahi bantal dengan air mata, tiba-tiba pintu terbuka dan sang kakak melangkah masuk. Wajahnya yang ramah tidak berbeda sedikit pun dengan saat ia masih hidup, kecuali satu hal: setiap kali ia melangkah, selalu tertinggal jejak kaki yang basah oleh air.
Sejak saat itu, sang kakak yang telah meninggal mendatangi adiknya setiap malam untuk membaca buku dan bermain bersama. Orang-orang yang mengetahui hal ini merasa sangat terkejut. "Batas antara dunia fana dan alam baka sudah jelas, bagaimana hal seperti ini bisa terjadi?", "Tamu dari alam baka membawa nasib buruk", "Dia pasti datang untuk menjemput adiknya", begitulah kata semua orang. Akhirnya, mereka menggunakan cara pengusiran hantu untuk mengusir roh sang kakak jauh-jauh.
Mengetahui hal itu, si adik merasa sangat sedih hingga seolah memuntahkan darah. Ia jatuh sakit dan tak lama kemudian meninggal dunia.
『Gimun-gi-i (Kisah-Kisah Aneh yang Pernah Didengar)』
●◉◎◈◎◉●
Sekeliling terasa sunyi. Sesekali hanya terdengar suara denting cangkir teh.
Yu-dan saat ini sedang menatap meja dengan ekspresi garang. Di tempat yang ia tatap itu, sebuah buku terbuka lebar.
Seorang gadis siluman ginseng yang baru saja masuk dengan melompat-lompat sambil bersenandung kecil tiba-tiba berhenti. Seolah melihat sesuatu yang tidak seharusnya dilihat, ia segera melarikan diri, namun tak lama kemudian kembali dengan mengendap-endap. Sambil bersembunyi di balik pilar, ia bertanya dengan suara kecil.
"Itu sebenarnya Unusuals jenis apa?"
Yu-dan mendongak. Ia memberikan tatapan datar kepada gadis yang sedang mengamatinya dengan wajah ketakutan itu.
"Kak, itu bukan Unusuals."
Chaewoo, yang sedang mengelap cangkir bersama Heuk-yo, menyahut.
"Lalu kenapa dia melotot begitu?"
"Mungkin itu sesuatu yang bahkan lebih menakutkan daripada Unusuals."
"A-apa itu?"
"Buku matematika."
"Apa?" Chae-seol tampak syok. "Kenapa kamu belajar? Apa kamu baik-baik saja? Apa terjadi sesuatu?"
"Apa-apaan? Memangnya aneh kalau aku belajar?"
Setelah membentak begitu, Yu-dan berpikir sejenak. Yah, memang aneh sih. Aku sendiri juga merasa aneh.
Tak. Heuk-yo meletakkan alas cangkir.
"Aku tidak mengerti kenapa aku harus mendengarkan percakapan bodoh ini. Katanya kamu mau ujian? Bukankah ayahmu akan memeriksa nilai ujianmu nanti? Cepatlah meringkuk di sudut sana dan baca bukumu! Gara-gara kamu diam di pintu masuk begitu, tidak ada pelanggan yang mau masuk…… kenapa? Kenapa kalian semua menatapku dengan ekspresi begitu?"
"Eonni, toko kita kan memang biasanya tidak ada pelanggan."
"Uwaa! Dia mengatakannya! Kakak mengatakan hal yang terlarang!"
"Apa maksud kalian!" Dokkaebi setengah baya masuk sambil membawa tumpukan koran.
"Siapa bilang tidak ada pelanggan? Kadang-kadang ada orang yang salah masuk saat ingin ke toko lain……."
"Paman. Kamu tahu tidak kalau itu malah terdengar lebih menyedihkan?"
"Khmm. Bukan itu, maksudku banyak pelanggan yang datang hanya untuk menemui pemilik toko ini. Ada yang sudah jadi langganan selama sepuluh tahun, dua puluh tahun, bahkan hampir enam puluh tahun, kan?"
"Memang benar sih," Chaewoo mengangguk. "Ngomong-ngomong, sepertinya sudah hampir waktunya tamu itu datang. Sebaiknya kita siapkan kue yakgwa dan teh hijau kesukaannya."
"Jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan semuanya," sahut Heuk-yo dengan penuh percaya diri. "Lihat lemari di bagian dalam itu? Buka laci kedua, barangnya ada di sana. Kalau aku tidak ada nanti, jangan panik dan berikan saja padanya. Mengerti?"
"Eh? Kakak mau pergi ke mana?"
"Apa kamu lupa? Sebentar lagi akan diadakan pesta ulang tahun (suyeon) si tua dari Gunung Inwang. Bukan ulang tahun ke-100 atau 200, tapi ke-500. Yah, tidak perlu heboh sampai membuat keributan sih, dan sebenarnya malas juga pergi jauh ke sana, tapi karena sudah diundang, aku harus hadir."
Meskipun siluman ular itu bicara begitu, ekspresinya sangat berbeda. Matanya berbinar dan wajahnya tampak bersemangat.
"Tunggu sebentar." Mata Chae-seol membulat. "Apa aku salah ingat? Bukankah kali ini giliran Kakak yang menjaga toko?"
"Apa? Mana mungkin……."
"Sepertinya benar. Terakhir kali Paman yang menjaga toko…… sebelumnya aku…… sebelumnya lagi Chaewoo," Heuk-yo mulai menghitung dengan jarinya. Tak lama kemudian, wajahnya menjadi pucat.
"Tidak mungkin……."
Cangkir teh tergelincir dari tangannya. Chaewoo menangkapnya dengan gesit lalu menghela napas.
"Ini selalu jadi masalah. Menyedihkan ya. Padahal akan sangat menyenangkan jika kita bisa pergi bersama, tapi salah satu harus tetap tinggal untuk menjaga toko."
"Bagaimana ini. Semangatku langsung hilang," Chae-seol menghampiri Tuan Do dan menggelayuti lengannya. "Paman, kali ini saja kita tutup tokonya diam-diam dan pergi bersama? Ini acara yang sangat spesial, sekali ini saja."
"Euh, kamu ini. Kamu kan tahu sendiri kenapa tidak bisa. Memangnya aku tidak mau pergi bersama? Bagaimana kalau terjadi sesuatu saat kita menutup toko dan pergi main?"
"Benar. Benar," gumam Heuk-yo dengan wajah hampa. "Tidak bisa. Tidak boleh. Meskipun hanya ditinggal satu jam, atau bahkan tiga puluh menit, kita tidak tahu tamu seperti apa yang akan datang. Kita tidak boleh membuat mereka datang sia-sia. Sudahlah, jangan dipikirkan lagi. Peraturan tetaplah peraturan."
"Tapi……."
Setelah ucapan Chaewoo, keheningan melanda. Tak ada yang membuka suara.
Akhirnya tenang juga. Yu-dan memainkan bolpoinnya. Ia berniat mulai belajar dengan serius, namun itu tidak mudah. Setelah bergulat sejenak, ia mendongak.
Chae-seol dan Chaewoo sedang mengelap cangkir dengan wajah seperti mau menangis. Heuk-yo melipat serbet dengan lesu, dan Tuan Do terus-menerus menghela napas di balik korannya. Suasananya suram seperti sedang berkabung.
Yu-dan tidak mengerti. "Apa serunya pergi ke pesta? Aku malah benci hal seperti itu. Itu hal yang paling aku benci di dunia."
"Memangnya ada hal yang kamu sukai?" sahut Heuk-yo.
Karena merasa akan terjadi pertengkaran, si kembar segera menengahi. "Tuan Muda, pesta para siluman itu berbeda dengan pesta manusia. Apalagi ini pesta ulang tahun ke-500. Hidangan pestanya pasti luar biasa. Berbagai hidangan lezat dari gunung dan laut yang belum pernah dilihat…… Ah, ngomong-ngomong Kak Heuk-yo kan sedang meneliti masakan tradisional? Kakak benar-benar harus pergi. Biar aku saja yang jaga tokonya."
"Jangan. Kamu juga sangat menantikan pesta ini, kan? Kamu sampai memberi tanda lingkaran di kalender karena ingin mendengarkan musik dari musisi siluman terbaik di ibu kota. Biar aku saja yang menggantikan Kak Heukyo Aku tidak perlu ikut pesta."
"Jangan bohong. Kakak juga memberi tanda lingkaran di kalender bersamaku. Kakak bilang sampai tidak bisa tidur karena ingin melihat dekorasi bunga yang cantik di meja pesta dan pertunjukan tarian para penari."
Keduanya mulai bertengkar karena masing-masing ingin mengalah untuk menjaga toko. Tuan Do melerai.
"Sudah, sudah. Biar aku saja yang menjaga toko. Paman sudah bosan dengan pesta. Jauh lebih nyaman menonton televisi di rumah. Kalian bertiga pergilah."
"Lihat siapa yang bicara! Bukankah Paman juga sangat menantikan untuk melihat berbagai harta karun emas dan perak yang akan diterima siluman Gunung Inwang sebagai kado ulang tahun? Paman sudah menunggu-nunggu sejak sebulan yang lalu! Ikuti saja peraturannya! Untuk apa ada peraturan kalau begini?"
Benar-benar berisik. Yu-dan meletakkan bolpoinnya. Ia merasa harus angkat bicara.
"Pakai orang saja, kan bisa."
"Hah? Pakai orang bagaimana maksudnya?"
"Maksudku, cari orang untuk menjaga toko sementara."
Seolah tidak paham, para siluman menatapnya dengan bingung. "Di mana mencari orang seperti itu? Memangnya ada orang yang mau?"
"Bukan, itu cuma kiasan. Tidak harus manusia, siluman pekerja paruh waktu pun……."
"Tunggu sebentar." Mata Chae-seol berbinar. "Kalau dipikir-pikir…… bukannya tidak ada orang seperti itu. Ada satu orang yang belakangan ini sering datang ke toko kita. Hanya perlu beberapa jam saja, apa hanya perasaanku saja kalau kita bisa menitipkan toko padanya sebentar?"
Semua orang mendongak serentak. Mereka menoleh dan menatap ke arah Yu-dan. Yu-dan panik.
"Jangan-jangan aku?"
Keheningan melanda. Keheningan yang membawa firasat buruk.
"Apa kalian serius mau menitipkan toko ini padaku? Apa kalian sudah gila? Aku ini anak SMA! Mana bisa kalian percaya dan menitipkan seluruh toko padaku?"
"Ini, untukmu." Tuan Do mencoba memberikan beberapa keping uang kuno yang berkarat dari sakunya. Yu-dan segera menepis tangannya karena terkejut.
"Kalian sungguh-sungguh? Bagaimana kalau ada tamu datang? Aku tidak tahu cara melayani tamu!"
"Benar juga," gumam Heuk-yo dengan nada ketus. "Sudahlah, batalkan saja. Aku setuju dengan bocah ini. Untuk pertama kalinya pendapat kami sama. Bagaimana mungkin dia bisa melayani tamu? Bisa-bisa tamunya malah diusir. Sudah bagus kalau tokonya tidak hancur. Euh…… biarkan saja. Mana mungkin dia bisa melakukan pekerjaan sulit seperti itu."
Begitu dikatakan seperti itu, perasaan Yu-dan menjadi aneh. Ia mengernyitkan dahi.
"Sulit apanya? Memangnya sesulit belajar ha?"
"Jangan meremehkan. Melayani tamu itu tidak semudah yang kamu bayangkan. Mungkin malah lebih mudah belajar."
"Apanya yang susah? Tinggal suruh mereka duduk di mana saja, kasih buku menu, kalau mereka pesan teh tinggal ke dapur masak air lalu tuangkan saja, kan?"
Ketiga siluman lainnya langsung bersorak. "Ternyata kamu paham sekali! Kami bisa tenang menitipkannya padamu!"
Tuan Do mencoba memberikan uang kuno itu lagi. Yu-dan segera menarik tangannya dengan ngeri.
"Menitipkan apanya! Kapan aku bilang mau menjaga toko?"
"Euh… lihat itu. Cuma berani bicara besar tapi tidak bisa melakukannya. Dia ketakutan lalu mundur."
"Apa katamu! Siapa yang takut dengan hal sepele begini! Katanya cuma beberapa jam, kan? Aku yang akan menjaga toko! Pergi saja kalian ke pesta sana!"
Teriakan Yu-dan yang lepas kendali itu bergema kembali ke telinganya sendiri. Ia berjingat. Aku barusan bicara apa?
"Sungguh? Kamu sungguh mau menjaga toko?" Chae-seol sangat gembira dan memegangi salah satu lengan Yu-dan. Di sisi lain, Chaewoo juga menghampirinya.
"Terima kasih, Tuan Muda. Kamu telah mengambil keputusan yang sulit. Kami tidak akan melupakan kebaikanmu ini." Si kembar tampak sangat terharu sampai mata mereka berkaca-kaca.
"Ya ampun. Padahal sudah kubilang jangan," gumam Heuk-yo dengan wajah tak suka. Namun, gerakan tangannya saat melipat serbet tiba-tiba menjadi sangat ringan dan cepat. Tuan Do tampak sangat lega dan kembali membaca korannya sambil tersenyum licik.
Aku kena tipu. Benar-benar tertipu. Yu-dan frustrasi dan membenturkan kepalanya ke meja.
"Aku tidak suka pergi ke pesta."
"Aigo, tentu saja. Level pesta itu tidak sebanding denganmu. Mana mungkin kamu sudi melangkahkan kaki ke tempat rendah seperti itu? Itu hanyalah pertunjukan bakat dari para siluman kelas rendah. Kalau kamu datang, siluman tua itu pasti akan jatuh pingsan karena terkejut."
Yu-dan menatap siluman ular yang sedang bicara dengan heboh itu. Waktu aku bilang benci pesta, dia menatapku seperti sampah masyarakat sambil mendecakkan lidah.
"Jangan khawatir. Kita sudah sepakat untuk membiarkan bocah ini berada di lantai bawah."
"Sepakat karena dipaksa, mungkin maksudmu."
"Kalau begitu, kami berangkat dulu." Keempat siluman itu mengabaikan ucapan Yu-dan, membungkuk sopan kepada Baek-ran, lalu berbalik pergi.
Entah sihir penyamaran apa lagi ini. Mereka telah melepas seragam pelayan toko teh dan kini berhias sangat menawan dengan pakaian sutra yang cerah. Mendengar cerita mereka, sepertinya hukum "kerajaan hewan" juga berlaku di sini. Saat bertemu setelah sekian lama, mereka harus mengintimidasi lawan dengan pakaian dan perhiasan mewah.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Jangan mengantuk dan jaga toko dengan baik."
"Jangan sampai tokonya terbakar."
"Kamu harus belajar dengan rajin."
"Kalau ada kue enak, aku akan menyembunyikannya di lengan bajuku untukmu!"
Terakhir, ujung rok ungu Chae-seol menyapu ambang pintu dengan lembut saat ia keluar. Pintu tertutup dengan bunyi keras. BRAK!
"……Maaf, tapi ini sangat menggangguku," gumam Baek-ran dengan nada tidak puas.
"Kamu langsung berubah sikap begitu, ya?"
"Memangnya tidak terlihat begitu? Padahal aku berniat menghabiskan malam ini dengan santai sambil merapikan buku."
"Apa! Aku juga sangat sibuk! Aku harus ujian! Kamu bicara seakan aku ini pengganggu saja."
"Kalau bukan pengganggu ya syukurlah," sahut siluman rubah dengan nada yang sulit ditebak antara mengejek atau mengeluh, lalu ia segera berbalik dan naik ke lantai atas.
Yu-dan ditinggal sendirian. Keadaan yang tiba-tiba menjadi sunyi membuatnya merasa aneh.
Toko ini tetap sama. Seperti yang selalu ia lihat saat berkunjung. Namun, hanya karena fakta bahwa tidak ada orang di sini, toko ini terasa sangat berbeda. Mungkin karena cahaya dari lilin dan lampu yang dinyalakan Chaewoo sebelum pergi.
Yu-dan berdiri sejenak dan memperhatikan sekeliling dengan saksama. Bayangan menari-nari di atas topeng-topeng yang tergantung tinggi, juga di atas kotak-kotak besar yang sepertinya masing-masing memiliki kisahnya sendiri. Keramik koleksi Tuan Do pun terlihat lebih tua dibanding saat siang hari. Pasti dulu bayangan orang-orang zaman dahulu pernah terpantul di permukaan halus itu, kan? Saat ia sedang melamun memikirkan hal itu, tiba-tiba sebuah bayangan mulai terbentuk dan bergelombang di permukaan keramik. Ia sempat terpaku sebelum akhirnya tersadar.
Aku harus belajar.
Di meja ada tumpukan kertas. Itu adalah daftar peringatan yang ditulis Chaewoo karena ia merasa sangat cemas. Yu-dan membacanya demi menghargai niat Chae-u.
"……Jangan mendekati perabotan kuno. Terutama lemari penyimpanan beras (dwiju). Jika terdengar suara ketukan, abaikan saja, dan jika ada yang minta dikeluarkan, jangan pernah mengeluarkannya. Jika ada yang mengelus kakimu di bawah meja, sebaiknya jangan bereaksi. Jika tiba-tiba api berkobar, jangan panik dan segera periksa detektor kebakaran. Jika detektor tidak berbunyi, berarti itu api dokkaebi (dokkaebibul), jadi injaklah dengan tenang sampai padam…… apa-apaan ini!"
Bukannya merasa tenang, membaca daftar itu justru membuatnya merasa tidak nyaman. Ia menyingkirkan kertas itu dan kembali membuka buku matematika.
Toko-toko di jalan tradisional banyak yang tutup lebih awal. Meskipun hari baru lewat petang, di luar sudah tidak ada orang yang lewat. Seluruh dunia terasa sunyi. Sesekali hanya terdengar suara sumbu lilin yang terbakar.
Suasananya sangat cocok untuk belajar. Karena tidak ada yang mengganggu, ia benar-benar bisa berkonsentrasi. Dalam sekejap ia sudah menyelesaikan beberapa halaman soal.
Ternyata benar nilaiku tidak bagus gara-gara gangguan para hantu.
Saat ia sedang asyik mengerjakan soal dengan penuh percaya diri, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu.
Yu-dan mendongak. Kenapa dia mengetuk pintu, masuk saja langsung, kan? Apa pedagang keliling?
Bayangan di balik pintu menghilang seketika. Yu-dan langsung berdiri dan membuka pintu.
Tidak ada siapa-siapa. Sebagai gantinya, ada sebuah pot bunga kecil di lantai. Itu adalah tanaman hias (bunjae) yang sudah sangat kering dan layu, dengan selembar memo putih tertempel di batangnya.
'Pohon yang ditempeli hantu. Tolong usir hantunya.'
Yu-dan merasa konyol. Ia menoleh ke sekeliling. Agak jauh dari pot itu, seorang gadis tampak sedang meringkuk. Dia bukan gadis biasa. Rambutnya putih bersih seperti salju. Dan dia mengenakan pakaian rumbai-rumbai yang seolah keluar dari lukisan dinding makam kuno.
"……."
Yu-dan menutup pintu dengan tenang. Aku tidak melihat apa-apa. Kalaupun melihat sesuatu, itu cuma ilusi optik.
Satu menit, dua menit, tiga menit…… Setelah waktu berlalu cukup lama, ia kembali mengintip dari celah pintu. Gadis itu masih meringkuk di posisi yang sama.
"Sedang apa kamu di depan toko orang?"
Tak ada jawaban. Yu-dan mencoba memasang wajah galak, namun gadis itu tetap menunduk dan bahkan tidak menoleh ke arahnya. Kalau diperhatikan, wajahnya tampak sangat sedih.
"Ya ampun." Terpaksa Yu-dan membuka pintu. Begitu ia mengambil pot bunga itu, barulah sang gadis berdiri dan mengikutinya masuk.
Yu-dan tidak tahu harus berbuat apa. Satu-satunya solusi adalah menyerahkannya ke atas. Namun saat melihat jam, situasinya gawat. Belum lewat sepuluh menit sejak ia sesumbar tidak akan mengganggu.
"Keterlaluan. Dunia ini benar-benar kejam padaku."
Gadis itu menatap Yu-dan yang sedang mengerang sambil memegangi kepala, lalu ia kembali menundukkan pandangannya.
Mau bagaimana lagi. Ia tidak mungkin belajar matematika bersama hantu yang menempel di pohon. Yu-dan membawa pot itu dan menaiki tangga. Sang gadis mengikutinya dari belakang.
Begitu ia membuka pintu geser, sesuatu yang kecil dan hitam melompat keluar. Benda itu segera berlari menuruni tangga dan menghilang tanpa menoleh. Siluman rubah yang sedang membuka buku sangat besar dan menulis sesuatu dengan rajin bergumam.
"7 menit 38 detik, ya."
"Aku bukan mau mengganggu! Ada pelakunya! Ngomong-ngomong, apa yang lari barusan?"
"Itu huruf."
"Huruf?"
"Kadang jika buku terlalu lama terkena 'cahaya bulan' (wolgang-yok), huruf-huruf yang terlalu bersemangat akan melarikan diri. Aku sedang membetulkan beberapa buku yang seperti itu."
"Tolong betulkan ini juga." Yu-dan meletakkan pot bunganya. "Tadi ada yang mengetuk pintu dan saat aku keluar benda ini sudah ada di sana. Katanya ada hantu yang menempel di pohon ini dan minta tolong diusir. Yah, sepertinya hantunya tidak terlalu kuat jadi harusnya cepat selesai, kan?"
"Bukan begitu."
"Kenapa?"
"Karena itu bukan hantu." Sebuah senyum misterius melintas di wajah Baek-ran.
"Lalu apa?"
