Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 16>
"Ah……."
Yu-dan menatap tubuhnya sendiri. Kini semuanya telah menjadi satu gundukan rambut. Seluruh tubuhnya terlilit begitu erat hingga ia tidak bisa lagi membedakan di mana posisi kakinya.
Seketika, sebuah perasaan asing menyeruak. Sampai di sini rupanya.
Benar kata rubah. Meskipun sudah berusaha, terkadang segalanya tetap bisa meleset. Yu-dan menatap jauh ke arah langit yang entah di mana ujungnya.
"Kamu tahu. Aku sudah berusaha sampai akhir. Sungguh. Aku tidak bergantung pada kebaikanmu. Aku tidak berniat membebanimu."
"Aku tahu," sahut siluman rubah dengan nada datar. "Jadi, tolong jangan menyimpulkan sendiri begitu."
Tubuh Yu-dan yang kaku seperti batu tiba-tiba ditarik dengan kuat. Rambut-rambut yang melilitnya seperti tali seketika putus berhamburan.
"Aku belum melepaskannya. Meskipun aku ingin melepaskannya berkali-kali. Saat aku harus melakukan segalanya hanya dengan satu tangan. Saat aku tidak bisa keluar ruangan karena harus menjagamu. Padahal aku sudah bersusah payah mengulur waktu agar kamu berpikir, tapi kamu malah tidur."
"Sudah kubilang aku tidak tidur—ngomong-ngomong, apa? Apa yang tidak kamu lepaskan?"
"Nyawamu."
"Nyawaku?"
"Iya. Jika separuhnya sudah digenggam oleh pihak sana, bukankah harus ada seseorang yang memegang separuh sisanya?"
"……Apa?" Yu-dan bertanya dengan bengong.
Potongan-potongan teka-teki yang mengganjal itu kini akhirnya menyatu. Ternyata itu alasannya. Hal aneh yang ada di balik lengan baju kanan itu.
"Jadi itu sebabnya kamu terus menggunakan satu tangan. Saat mengikat tali, membuat jimat, atau memegang belati. Karena tanganmu yang satu lagi harus terus memegang nyawaku. Itu sebabnya Kodok bilang kamu terjepit di antara siluman dan hantu. Tapi, setidaknya kamu harus mengatakannya padaku! Kalau tahu, aku akan……."
"Kamu pasti akan lengah. Seperti sekarang ini. Berhenti mengoceh dan cepat keluar!"
Sebuah kekuatan besar menyeret tubuh Yu-dan. Ia ditarik keluar, berguling-guling, dan membentur dinding dengan keras. Namun, ia bahkan tidak merasakan sakit.
Area yang disegel dengan tirai bambu itu masih utuh. Sebaliknya, area lainnya bergetar hebat seolah akan runtuh. Lukisan itu mengamuk. Energi jahat berputar-putar seperti badai.
Siluman rubah berbulu emas berdiri di tengah badai itu. Ia memegang tombak bercabang sembilan, dan di belakangnya, pasukan dari alam baka yang ia pimpin membentang tanpa akhir.
"Sekarang aku sudah bisa melepaskannya." Baek-ran mengibaskan lengan bajunya dan membuka tangan kanannya. Di tengah telapak tangannya, terdapat bekas luka seperti terbakar hitam.
"Meskipun tahu itu akan menyulitkan satu sama lain, begitu aku melihatnya, aku langsung menangkapnya. Sepertinya aku punya kebiasaan buruk. Tidak, merekalah yang buruk."
Entah karena merasa kesal, Baek-ran menatap lukisan yang meronta-ronta itu dengan pupil mata yang menyempit.
"Teka-tekinya sudah terpecahkan. Sumber kekuatanmu. Aku sudah tahu rahasia kematian mengerikan yang berusaha kamu sembunyikan."
Lukisan itu murka. Suara angin yang seolah merobek langit dan bumi terdengar, atau seperti suara ribuan kucing yang mengeong bersamaan. Dengan teriakan mengerikan itu, ia menerjang siluman rubah. Namun, ribuan monster dari alam baka sedang mengawasi. Tatapan mereka menekan lukisan itu hingga terpaku di lantai.
"Ada masa di mana orang-orang harus mati hanya karena alasan kehormatan dan kesucian. Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika ada satu saja bagian dari ceritaku yang salah, aku akan melepaskanmu. Tapi jika semuanya benar, kamu harus pergi."
Baek-ran menawarkan taruhan namun tidak menunggu jawaban. Ia langsung melanjutkan.
"Pasukan biru. Itu sangat sederhana. Tentara Qing. Pasukan dari Dinasti Qing. Meskipun aksara Cheong (Dinasti Qing) dan Cheong (Biru) berbeda, kamu membayangkannya sebagai pasukan yang mengerikan dan biru seperti laut itu. Saat itu sedang terjadi perang. Satu keluarga mengungsi ke pulau. Kamu pikir mereka tidak akan sampai ke sana, tapi akhirnya mereka menyeberangi laut juga. Para pria di keluarga itu gemetar ketakutan. Bukan takut akan kekejaman perang, melainkan takut jika istri, putri, ibu, dan saudara perempuan mereka dinodai oleh penjajah dan mencoreng nama baik keluarga……."
Hantu itu meraung. Jimat-jimat yang tulisannya telah terhapus tadi terbang bergerombol, menerjang Baek-ran seolah ingin membungkam mulutnya, namun Baek-ran menepisnya dengan mudah.
"Hewan-hewan ini adalah mereka. Ayah dan saudara laki-lakimu. Hewan-hewan bodoh yang memiliki mata namun tidak bisa melihat, yang tega membunuh keluarga sendiri demi kehormatan kosong. Di bawah paksaan yang dingin itu, ibu dan kakak-kakak tercintamu satu per satu gantung diri. Pasti mengerikan. Kamu pasti tidak percaya. Kamu memohon agar dibiarkan hidup, tapi mereka tidak bergeming sedikit pun. Kamu mencoba lari tapi tertangkap hanya dalam beberapa langkah. Jadi, soal bagaimana kamu mati……."
Sang rubah terdiam sejenak seolah mencoba membayangkan masa itu. Rambut dan ujung pakaiannya berkibar hebat.
"Melihat betapa terobsesinya kamu pada leher, sepertinya lehermu yang pertama dicekik. Apakah kedua kakakmu memegang kedua lenganmu? Apakah ayahmu membawakan kain? Ya, bagus. Teruslah berteriak begitu. Semakin keras kamu berteriak, segalanya semakin jelas terlihat dari sini."
Benar saja. Kini Yu-dan pun mulai bisa melihatnya. Nona dengan rambut terurai itu meraung seolah memuntahkan darah.
Yu-dan tidak percaya. Padahal barang-barang hiasan wanita masih berserakan di lantai kayu itu. Bukankah baru saja ia menyisir rambut dan tertawa bersama ibu dan kakak-kakaknya? Namun tiba-tiba ayah dan saudara laki-lakinya masuk dengan wajah pucat. Mengatakan bahwa semua harus mati demi kehormatan keluarga.
"Kamu pasti tidak bisa menerimanya. Kenapa hanya wanita yang harus mati? Terlebih karena hal yang bahkan belum terjadi. Untuk pertama kalinya dalam hidup, kamu melawan ayahmu. Karena suasana di luar semakin gaduh, ayahmu menjadi panik, dan akhirnya ia menghunuskan pedang."
Rasa sakit yang hebat menusuk bahu. Seberapa kuat pun tekad sang ayah, ia tetaplah seorang ayah. Perasaan yang rumit membuatnya salah sasaran dan tidak mengenai titik vital dengan tepat. Itu justru membuatnya semakin tragis. Ia menusuk berulang kali dengan terburu-buru, namun napas sang anak tidak kunjung berhenti.
Seluruh tubuh perlahan dingin dan basah oleh darah. Kesadarannya mulai memudar.
——Padahal katanya tahun depan aku akan menikah.
——Padahal aku ingin menyelesaikan sulaman bunga mawar bulan ini.
——Siapa yang akan memberi makan kucing tua yang tinggal di belakang tempayan itu kalau aku tidak ada?
——Aku benar-benar tidak mengerti.
——Apa yang sedang dilakukan ayah dengan tangan yang biasanya mengelus rambutku dengan lembut itu? Mengapa mata kakak-kakakku yang biasanya tersenyum kini begitu dingin?
Tenaga di tangan dan kaki yang meronta perlahan menghilang.
——Ini demi kamu. Kami melakukan ini karena menyayangimu.
Semua orang mengatakan itu.
——Tapi jika memang begitu…….
——Kenapa kalian tidak membiarkanku hidup saja?
Air mata darah mengalir dari mata hantu di dalam lukisan itu. Siluman rubah pun menatapnya.
"Inilah kisah di balik kematianmu. Kamu sangat ingin hidup, tapi harus mati karena alasan yang tidak masuk akal, sehingga kamu membenci segala sesuatu yang hidup. Itu sebabnya kamu mencelakai siapa pun secara acak. Tapi kamu tidak boleh begitu. Sekarang, berhentilah."
Baek-ran mengangkat tombaknya dan menghantam lukisan itu. Getaran menyebar ke segala penjuru. Udara mendingin. Yu-dan bisa merasakan keberadaan "itu". Akhirnya, hantu itu tidak tahan lagi dan terusir keluar dari lukisan. Namun karena adanya segel, ia tidak bisa terlihat meskipun berdiri tepat di depan tirai bambu.
"Pergilah. Tidak ada tempat bagimu di dunia ini."
Suara Baek-ran tidak tinggi, namun mengandung perintah yang tak bisa dibantah. Hantu itu perlahan terdorong menuju pintu. Ia tidak menyerah begitu saja. Meskipun terusir paksa, ia mengerahkan sisa kekuatannya untuk melawan terakhir kalinya.
"Apalagi yang kamu inginkan sekarang?" Baek-ran kembali menghantamkan tombaknya ke lantai.
Dua energi berbenturan dan menciptakan pusaran angin. Rak obat sebagian hancur dan bahan-bahan jamu berhamburan. Yu-dan menggelengkan kepalanya. Keras kepala sekali. Jika sudah kalah seharusnya pergi saja. Apalagi rahasianya sudah terbongkar dan dia tidak punya kekuatan lagi. Lukisan ini sekarang bukan lagi Gwi-hwa. Sudah tidak menakutkan.
Tiba-tiba, hantu itu menoleh dan menatap Yu-dan. Tatapannya menempel seperti ular. Yu-dan mundur, dan baru menyadari sesuatu. Gara-gara keributan ini, syalnya hampir terlepas. Salah satu ujungnya terjulur keluar dari tirai bambu.
Yu-dan segera menariknya. Tapi pihak sana lebih cepat. Hantu yang sedang terusir itu dengan putus asa meraih ujung syal tersebut. Leher Yu-dan tersentak tertarik.
Begitu tersadar, Yu-dan sudah memegang erat syalnya. Kini terjadi tarik-menarik antara hantu dan Yu-dan, yang justru membuat leher Yu-dan tercekik. Kekuatannya luar biasa besar. Ia bisa mati jika begini terus.
Tapi ia tidak bisa melepaskannya. Yu-dan terseret sampai membentur pintu geser. Tiba-tiba pandangannya menjadi terang. Pintu lorong terbuka lebar. Siluman ular masuk dengan wajah bingung, lalu terkejut melihat pemandangan itu.
"Makhluk licik ini! Masih saja tidak mau menyerah dan malah mencelakai manusia!" Heuk-yo menghunus pedangnya dan berlari mendekat. Si kembar dan Tuan Do juga menyusul dengan panik.
Namun mereka semua berhenti tepat di depan tirai bambu. Mereka tidak berani melintas dan menoleh ke arah Baek-ran dengan cemas.
"Bagaimana ini! Cepat lakukan sesuatu sebelum dia dibawa pergi……." ucap Chaewoo.
Siluman rubah menggeleng. "Dia tidak sedang mencoba membawanya pergi. Di tengah kepanikannya melarikan diri, mana mungkin dia mau membebani diri dengan memanggul satu jiwa manusia? Dia hanya merasa sangat tidak adil, sehingga ingin merampas satu hal saja."
"Merampas apa?"
"Benda yang sedang ia tarik itu."
Yu-dan terkejut meskipun sedang setengah sadar. ……Syal-ku?
Tidak boleh. Apa pun boleh, tapi yang ini jangan. Aku tidak akan melepaskannya.
Meski napasnya tersengal karena tercekik, Yu-dan memegang ujung syalnya semakin erat.
"Apa kamu sudah gila?!" teriak para siluman.
"Apa kamu mau menukar nyawamu dengan sebuah syal?!"
"Paman akan memberimu syal yang lebih bagus! Aku akan memberimu syal dari bulu tikus api (hwaseo)!"
"Percuma! Dia tidak akan mendengar apa pun yang kita katakan! Dia tidak akan melepaskannya! Katanya itu kenang-kenangan ibunya! Keterlaluan! Beraninya hantu itu meminta benda itu! Benar-benar keterlaluan!"
"Bagaimana ini! Bisa gawat kalau begini terus! Cheonho-nim, tolong selamatkan dia!"
Semua orang menatap Baek-ran dengan penuh harap. Baek-ran berjalan mendekat dan menyibak tirai bambu itu dengan kasar. Kilatan petir memercik di lengan bajunya.
"Lepaskan." Perintah itu mengandung daya paksa yang kuat. Tapi Yu-dan menggelengkan kepalanya sekuat tenaga.
"Kenapa tidak dilepaskan?"
"Aku sudah berjanji…… tidak akan menghilangkannya……."
"Jadi menurutmu mati tercekik sambil memegang benda ini adalah tindakan yang benar?"
"Kamu tidak tahu……. Ini satu-satunya…… janji yang bisa kujaga……." Leher Yu-dan tertarik ke belakang.
Baek-ran menatapnya tajam. "Baiklah. Mati dengan alasan apa pun adalah pilihanmu sendiri. Aku tidak punya hak untuk mencampuri. Tapi, bolehkah aku mengatakan satu hal?"
Rubah berlutut dan menatap mata Yu-dan langsung. "Beberapa hantu memang mencelakai kita. Mereka mengganggu tanpa alasan, melukai, bahkan mengancam nyawa kita. Tapi, meski begitu……."
Pandangannya beralih sejenak ke ujung syal yang ditarik kencang keluar celah pintu.
"Kita boleh mengalah sedikit pada mereka."
"Kenapa?"
Mata emas penuh kekuatan magis yang sulit ditebak itu menatap Yu-dan. "Karena kita memiliki sesuatu yang sangat mereka inginkan namun tidak akan pernah bisa mereka miliki lagi."
"……."
Seketika Yu-dan kehilangan kata-kata. Ucapan siluman rubah itu merasuk ke dalam pikirannya. Sesuatu yang paling mereka inginkan namun takkan pernah bisa mereka miliki lagi.
Kita…… setidaknya masih hidup.
Sebuah perasaan aneh membuncah di hati Yu-dan. Tadinya ia berniat tidak melepaskannya meskipun napasnya terhenti. Ia tidak sanggup melepaskannya…….
Tenaga di jemarinya perlahan mengendur. Kain yang lembut itu menggesek telapak tangannya dan melesat pergi. Hilang seketika melalui celah pintu geser.
Cengkeraman di lehernya terlepas. Napas yang tersumbat mengalir kembali bersamaan dengan batuk yang pecah. Yu-dan langsung melompat bangun. Sebelum pandangannya yang kabur kembali normal, ia segera membuka pintu geser di depannya.
Halaman yang gelap. Di kejauhan, terlihat bayangan yang melilitkan syal di sekujur tubuhnya merayap pergi. Sosok itu tampak seperti ular raksasa yang mengerikan.
Setelah menatap cukup lama, Yu-dan menoleh ke belakang. Para siluman berdiri di sana. Ia mengira mereka akan mengejek atau marah, tapi mereka hanya mengangguk-angguk kecil. Baek-ran sedang mengikuti jejak ular itu dengan pandangannya.
"Kamu membiarkannya pergi begitu saja?"
Baek-ran terdiam sejenak sebelum menjawab. "Ya... makhluk seperti yeommae (kutukan) adalah neraka berjalan bagi dirinya sendiri. Jika ada yang melenyapkannya, dia justru akan berterima kasih."
Jadi dia tidak mau memberikan belas kasihan semacam itu, ya. Meski begitu, tatapan Rubah tidak terasa terlalu dingin.
Leher Yu-dan terasa sepi. Angin malam langsung menyentuh kulitnya. Karena masih tidak percaya dengan kehilangan itu, ia meraba lehernya berulang kali. Padahal syal itu sangat hangat. Rasa sedih dan kehilangan membuat matanya terasa panas.
"Kenapa dia harus membawa benda itu……."
"Mana mungkin aku tahu isi hatinya. Mungkin dia hanya ingin usil karena gagal mengambil nyawamu, atau……."
"Atau apa?"
"Atau mungkin dia hanya kedinginan. Anginnya cukup kencang." Baek-ran menutup pintu geser tersebut.
Yu-dan ikut berbalik. Kakinya menabrak sesuatu. Itu adalah lukisannya. Gambar yang tadinya begitu tajam kini perlahan memudar. Semua warnanya meleleh, hingga akhirnya hanya tersisa kertas putih kosong. Yu-dan menatap kertas kosong itu sejenak, mengangkat bahu, lalu menggulungnya dan menyerahkannya kepada Tuan Do. Wajah si dokkaebi langsung merengut.
Benar. Mungkin memang begitu. Menjadi hidup mungkin berarti memiliki hal yang paling berharga. Pikirkanlah, karena masih hidup, aku bisa berjalan seperti ini, bisa merasakan angin, dan melihat pemandangan musim semi yang cerah…….
Saat itulah kakinya goyah karena seseorang menabraknya dengan kuat.
"Lihat jalan kalau mau lari-larian!"
Begitu ia melihat ke bawah, itu bukan anak kecil. Melainkan manusia-manusia katak dengan tanduk di belakang kepalanya.
"Apa-apaan siluman ini malah keluar buat lihat bunga? Pulang sana, pulang." Saat Yu-dan mendorong punggung mereka untuk menyuruh pulang, orang-orang menatapnya dengan aneh. Wajar saja, karena di mata mereka, Yu-dan terlihat seperti sedang berbicara sendiri sambil menggerakkan tangan di udara kosong.
Sudahlah. Aku jalan saja. Yu-dan mempercepat langkahnya menyeberangi jalan. Saat hendak membuka pintu halaman bergaya tradisional yang asri, ia berhenti. Dari dalam terdengar suara orang-orang sedang mengobrol.
"……Jangan terlalu keras padanya. Semua orang pasti punya satu hal yang sulit dilepaskan, kan? Bahkan Kak Heuk-yo pun jika diancam harus menyerahkan pedang pusaka itu atau nyawa, pasti tidak akan bisa langsung memilih."
"Memang benar, tapi…… ah, jangan berpikir terlalu rumit. Seharusnya kalau dia mendengarkanku dan melepas syal itu sejak awal, hantu itu tidak akan punya kesempatan merampasnya. Salah siapa lagi? Salah dia sendiri. Sekarang lehernya sudah kosong, aku tidak akan merasa sesak lagi melihatnya."
"Benar juga. Sayang sekali memang, tapi mendiang ibunya pasti tidak membuatkan syal itu supaya anaknya mati kepanasan. Katanya tahun ini cuacanya sangat panas. Mungkin saja sebentar lagi dia pingsan karena kepanasan (heatstroke). Tunggu sebentar. Kalau dipikir begitu, hantu itu justru penyelamat nyawanya! Dari mana alur pikiranku mulai salah?"
"Setidaknya dia adalah penyelamat fashion. Si perusak benda cagar budaya itu, kenapa barang apa pun yang ada di tangannya tidak pernah awet? Memikirkannya saja sudah membuatku emosi, kalau dia muncul pakai syal lagi, aku bisa jatuh sakit karena darah tinggi."
Mendengarnya saja sudah keterlaluan. Yu-dan membuka pintu dengan keras. "Apa-apaan! Kalian bergosip saat aku tidak ada!"
Semua orang menoleh dengan wajah terkejut. Keterkejutan itu segera berubah menjadi syok. Siluman rubah yang sedang duduk santai di dalam pun wajahnya menjadi kaku.
Yang pertama beraksi adalah Chae-seol. Ia melompat berdiri dan berlari mendekat dengan wajah tak percaya. "Bagaimana bisa begini? Apa syal juga bisa jadi hantu setelah mati? Lalu bagaimana cara menguburkan hantu syal itu?"
Chaewoo juga mendekat. Dengan wajah linglung ia mengulurkan tangan. Begitu menyentuh syal itu, ekspresinya menjadi semakin kaget. "Kak! Ini bukan hantu! Kita tidak sedang berhalusinasi! Ini syal asli!"
"Itu artinya—" Si kembar menatap Yu-dan dengan takjub. "Kamu pergi mendatangi hantu itu dan merebut kembali syalnya?!"
Mereka serentak berlutut. "Luar biasa!"
"Kami salah menilaimu…… eh, maksudku, kami kagum padamu."
"Apa maksud kalian hah!" Yu-dan membangunkan si kembar. Ia malah merasa konyol. Apa-apaan reaksi ini? "Syal yang itu tentu saja sudah dibawa hantu itu! Ini syal yang lain! Memangnya kenapa kalian pikir aku cuma punya satu syal?"
"Apa?!" Heuk-yo menyambar bahu Yu-dan dan mengguncangnya. "Dasar bocah! Berapa banyak syal yang kamu tumpuk di rumah?!"
"Delapan."
"Apa? Memangnya kamu itu ular berkepala sembilan?!"
"Terserah aku lah! Karena aku sering menghilangkannya, makanya ibuku membuatkan banyak!" Yu-dan segera membetulkan simpul syalnya agar tidak lepas. Melihat itu, wajah Tuan Do memerah.
"Aduh, aku rasa aku demam." Ia terduduk lemas di kursi. Karena itu, cangkir tehnya bergoyang dan airnya tumpah. Sudut buku yang sedang dibaca Baek-ran basah terkena air, namun Baek-ran sepertinya tidak menyadarinya.
"Begitu rupanya……." Baek-ran bergumam dengan wajah bengong. "Meskipun punya banyak syal, kamu tetap melakukan keributan itu. ,ya. Meskipun lukisan hantu memiliki kekuatan misterius, sepertinya manusia adalah makhluk yang jauh lebih mustahil untuk dipahami. Tapi meskipun begitu……." Ia menutup bukunya dengan keras dan berdiri. "Tetap saja rasanya menyebalkan."
Lalu ia berjalan dengan langkah berat menuju lantai atas.
"Jangan! Padahal kamu baru saja turun!" Heuk-yo berteriak. Ia menatap Yu-dan dengan tatapan dendam, lalu kembali memutar bahu Yu-dan. "Apa kamu tidak tahu? Benda putih di luar sana itu namanya bunga. Sekarang ini musim bunga mekar. Jadi lepas! Lepas sekarang juga!"
"Gak mau. Kan sudah kubilang aku kedinginan." Yu-dan berhasil melepaskan diri dan duduk di sudut ruangan.
Mau bagaimana lagi. Musim semi memang selalu datang lebih lambat baginya dibanding orang lain. Tapi meskipun begitu…….
Ia menatap kain yang melilit lehernya. Apa memang sedikit panas ya? Sepertinya dalam beberapa hari ke depan ia memang harus melepasnya. Yu-dan mengusap lembut kain yang mulai sedikit berbulu itu dengan rasa sayang, lalu memejamkan mata.
............................
