Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 13>
Prajurit yang sudah berada jauh di depan itu melambai. Ia benar-benar gesit meskipun mulutnya tidak berhenti mengoceh sedetik pun.
Ia melesat jauh di depan trotoar yang dipenuhi lampu jalan sambil terus mendesak. Yu-dan sudah kehabisan napas dan mencoba mengusulkan untuk istirahat sejenak sambil minum air, tapi usul itu tidak digubris sama sekali.
"Mana ada sumur di sekitar sini? Jangan merengek dan percepat langkahmu."
Entah sudah berapa lama mereka menyusuri jalanan malam itu.
Setelah berputar-putar melewati kawasan yang ramai, mereka akhirnya memasuki pemukiman yang sepi. Sudah lima jam berlalu sejak mereka keluar dari Banwoldang. Yu-dan tidak tahu sudah berapa jauh ia berjalan kaki. Kakinya kini sudah mati rasa.
"Masih jauh?"
"Kita sudah semakin dekat dengan Nona. Sepertinya sudah hampir sampai."
"Kamu sudah bilang begitu sejak tadi."
"Ini sungguhan."
Prajurit itu memejamkan mata. Ia tampak memusatkan seluruh konsentrasi seolah mencoba merasakan sesuatu yang tak kasat mata, lalu menunjuk ke kawasan perumahan di seberang jalan.
"Nona sepertinya ada di sana. Ayo cepat!"
Sikapnya sangat penuh keyakinan.
Akhirnya titik terang terlihat. Yu-dan mempercepat langkahnya. Begitu masuk ke dalam gang, suasana menjadi remang-remang. Kucing-kucing yang sedang mengais kantong sampah terkejut dan berlarian pergi.
Prajurit itu menoleh ke kanan dan ke kiri, memperhatikan sekeliling dengan saksama.
"Di sana!"
Ia berlari kencang menuju rumah yang berada paling ujung.
"Nona! Nona! Sekarang sudah aman! Aku sudah datang!"
Prajurit itu begitu bersemangat sampai ia menggedor pintu tanpa berpikir. Pintu gerbang bergetar keras. Seekor anjing di salah satu rumah menggonggong dengan histeris.
"Apa yang kamu lakukan!" Yu-dan menarik prajurit itu.
"Kamu pikir mereka akan membukakan pintu kalau kamu begitu? Kita harus mencari kesempatan. Tunggu sampai ada yang masuk atau keluar, lalu masuklah diam-diam untuk menemui Nona."
"Harus begitu ya?" Prajurit itu menatap pintu gerbang dengan wajah cemas. "Baiklah. Kata-katamu benar. Aku akan menunggu."
Ia langsung duduk jongkok di depan pintu.
"Kenapa duduk begitu di depan rumah orang? Polisi... atau dukun atau orang berkekuatan super yang lewat bisa melihatmu! Jangan membuatku dalam kesulitan juga! Sini!"
Yu-dan menyeretnya ke balik tiang listrik tepat di samping rumah itu.
"Oh, kamu mau menemaniku menunggu? Ternyata penglihatanku tidak salah. Berbeda dengan penampilanmu, kamu punya hati yang hangat."
"Jangan salah paham! Kalau kamu tidak bisa bertemu Nona, kamu pasti akan mencariku lagi dan menggangguku! Aku hanya ingin memastikan ini selesai!"
Yu-dan bersembunyi di samping prajurit itu sambil memperhatikan rumah tersebut. Saat itu sudah lewat tengah malam. Bisa jadi tidak ada yang akan keluar-masuk karena banyak orang sudah tidur.
Namun beruntung, sepertinya tidak demikian.
Di balik tembok, rumah mungil itu tampak terang benderang. Lampu di setiap ruangan menyala. Bahkan lampu kamar mandinya pun terang.
"Benar-benar kediaman Nonaku. Di zaman dulu pun beliau selalu menyalakan lilin terang-terang di setiap kamar," gumam prajurit itu.
Suasana di dalam rumah itu sunyi seperti kuil. Mereka tidak sedang menonton televisi, tapi apa yang mereka lakukan selarut ini? Apa mereka sedang menunggu seseorang? Saat sedang berpikir begitu, terdengar suara langkah kaki dari ujung gang.
"Sini!"
Yu-dan menarik prajurit itu ke dalam gang.
Terdengar suara langkah sepatu hak kecil. Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sesosok manusia muncul. Seorang siswi SMP yang membawa tas sedang berjalan menuju rumah itu.
"Jangan-jangan itu Nona?"
"Hmm. Bukan," prajurit itu menggeleng.
Siswi SMP itu menekan bel. Pintu gerbang terbuka tanpa ada pertanyaan siapa yang datang. Pintu depan di dalam juga terbuka lebar, dan seorang wanita muncul.
"Itu Nona!" seru prajurit itu. Yu-dan merasa konyol.
"Itu sih bukan Nona!"
Meskipun wanita itu terlihat cukup muda, ia jelas adalah ibu dari siswi tersebut. Wajah dan auranya sangat mirip.
"Dia benar-benar Nonaku," gumam prajurit itu tanpa mengalihkan pandangan.
"Meskipun waktu telah berlalu sangat lama, Nona sudah tumbuh dewasa dan bahkan memiliki putri yang cantik. Orang yang harus aku lindungi bertambah jadi dua. Dadaku terasa sesak sampai aku tidak tahu harus bicara apa. Bukankah mereka pasangan ibu dan anak yang sangat menghangatkan hati?"
BRAK! Pintu gerbang tertutup di depan mata mereka. Yu-dan berseru kesal.
"Kita melewatkan kesempatan masuk!"
Bukan hanya itu, dari dalam gerbang langsung terdengar suara keributan.
"Dan juga, itu sama sekali tidak menghangatkan hati!"
Ibu dan anak itu sedang bertengkar dengan suara keras. Wajah prajurit itu berubah. Sepertinya ia tidak percaya dengan situasi ini.
"Nona marah! Bagaimana bisa ini terjadi!"
Yu-dan memasang telinga. Dari kata-kata yang terlontar, ia bisa memahami situasinya.
"Katanya dia memecahkan kaca sekolah saat bermain, jadi wali kelas menelepon ke rumah……."
Prajurit itu memiringkan kepala seolah tidak paham.
"Maksudnya, dia merusak pintu kertas di sekolah tempat dia belajar, jadi gurunya mengirim pesan ke rumah……."
"Aha!"
Meskipun kata-katanya mungkin tidak sesuai dengan zamannya, sepertinya ia mengerti. Prajurit itu tersenyum. "Berandal sekali. Benar-benar putri dari Nonaku."
Selagi mereka bicara, suara teriakan dari dalam masih terdengar. Saat Yu-dan sedang mengamati dengan napas tertahan, pintu depan rumah itu terbuka lebar secara mendadak.
"Aku mau pergi dari rumah!" sang putri lari keluar.
"Mau pergi ke mana jam segini! Cepat masuk sekarang juga!"
"Kalau aku tidak mau masuk, memangnya kenapa!"
Sang ibu segera memakai sandal dan mengejar keluar. Namun saat melihat kegelapan pekat di halaman, ia ragu dan mundur satu langkah. Putrinya mengambil kesempatan itu untuk lari keluar gerbang. Sang putri mendengus "Hmph!" ke arah ibunya lalu berbalik, namun tiba-tiba ia membeku.
Di ujung gang, sebuah bayangan besar berdiri tegak. Sesuatu yang bersembunyi dan bergerak di dalam kegelapan malam, sesuatu yang lebih pekat dan membawa firasat buruk daripada kegelapan itu sendiri. Begitu menemukan manusia, bayangan itu mulai membentuk wujud dan melangkah maju. Wajah siswi itu menjadi pucat pasi.
"I-Ibu!"
Pintu gerbang terbuka keras. Sang ibu yang berlari keluar tanpa pikir panjang langsung terperanjat melihat kegelapan besar yang hendak menerkam putrinya.
"Nona! Jangan khawatir! Aku akan melindungimu!" prajurit itu melesat maju.
Namun, sesuatu berkilat lebih cepat dari itu.
Sesaat kemudian, sang ibu sudah mendekap putrinya dengan seluruh tubuhnya. Meskipun sang ibu tampak masih muda dan mungil sampai terlihat seperti kakak bagi putrinya, namun tatapannya sangat tajam.
"Pergi!"
Sang ibu menghentakkan kakinya keras-keras dan berteriak sekuat tenaga. Tekanan auranya luar biasa.
Sesuatu yang tak dikenal yang baru saja mendekat itu seketika mengecil. Makhluk itu menyatu kembali dengan kegelapan dan menghilang ke kejauhan.
Ibu dan anak itu terengah-engah dengan wajah pucat. Sepertinya mereka masih linglung dengan apa yang baru saja terjadi.
"Ibu, apa itu tadi?"
"Entahlah."
Sambil memeluk erat putrinya, sang ibu melihat ke sekeliling kegelapan. Ekspresinya menunjukkan seolah ia sendiri tidak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Perlahan, rona merah kembali ke wajahnya.
"Kegelapan ternyata... bukan apa-apa," gumam sang ibu. Bahunya tegak, seolah tubuhnya bertambah tinggi. "Mungkin cuma anjing liar yang lewat. Ayo masuk."
Ia menarik putrinya yang masih bengong dan berbalik masuk. Yu-dan baru tersadar saat melihat gerbang tertutup kembali. Ia segera menoleh ke arah prajurit itu.
"Sekarang! Ikut masuk!"
Namun prajurit itu hanya berdiri diam. Sambil menatap ibu dan anak yang masuk ke dalam, ia bergumam pelan.
"Nona sudah berubah……."
Ia mengangguk pelan pada dirinya sendiri.
"Benar. Orang yang memiliki sesuatu untuk dilindungi pasti akan menjadi kuat. Nonaku sudah menjadi kuat. Sekarang aku tidak dibutuhkan lagi. Aku bisa pergi."
Yu-dan tidak percaya pendengarannya. "Pergi? Kamu sudah bersusah payah kemari untuk berada di sampingnya, kan?"
"Bukan," prajurit itu berbalik. "Sekarang sudah cukup."
Tubuhnya bersinar lembut, lalu mulai menjadi transparan dari bagian tepi. Yu-dan panik.
"Tunggu sebentar! Aku akan tekan belnya jadi kamu bisa……."
"Sudah cukup." Ia menggeleng. "Sekarang aku bisa tenang. Aku sudah bertahan selama bertahun-tahun dengan tekad untuk melindungi Nona…… tapi sepertinya janji lama itu sudah bisa aku lepaskan."
Angin malam yang lembut berembus. Prajurit itu bergumam pelan seolah menitipkan perasaannya pada angin.
"Kamu pun suatu saat akan memiliki sesuatu yang ingin kamu lindungi. Entah itu orang lain, atau sebuah keyakinan. Saat waktu itu tiba, janganlah takut. Karena kamu pasti bisa melakukannya dengan baik."
Lalu ia membungkukkan badan dan memberi hormat dengan sangat sopan.
"Berkatmu, aku bisa pergi dengan tenang. Terima kasih banyak, Yu-dan. Karena telah bersikap baik pada makhluk kecil dan rendah sepertiku."
"Aku tidak pernah bersikap baik padamu! Dan kamu……."
Prajurit itu tersenyum tenang. "Jika kamu menganggapnya begitu, aku sangat berterima kasih."
Segalanya berubah menjadi cahaya yang menyilaukan. Hingga kemudian…….
PRANG!
Suara sesuatu yang pecah terdengar. Yu-dan melihat ke bawah. Sebuah boneka tanah liat yang hancur tergeletak di sana. Boneka seorang prajurit. Wajahnya yang dibuat dengan kasar itu tampak seperti sedang tersenyum di bawah cahaya bulan.
"……Begitulah ceritanya."
Yu-dan membentangkan kainnya. Baek-ran memperhatikan potongan-potongan boneka itu dengan saksama.
"Ini adalah Tou."
"Tou?"
"Bisa juga disebut Toyong. Seperti namanya, ini adalah boneka yang terbuat dari tanah liat. Sudah ada sejak zaman purba dan banyak dibuat pada masa Silla. Boneka ini mengandung makna magis, seperti mendoakan panen yang melimpah, kesuburan, atau sebagai benda yang dikubur bersama orang mati."
Ia menambahkan. "Selain itu, di kalangan rakyat jelata, ada kepercayaan bahwa jika kamu membuat Tou dengan memasukkan keinginan yang tulus, boneka itu akan mengabulkan keinginanmu."
"Mengabulkan keinginan?"
"Benar." Baek-ran menyentuh ujung kepalanya yang hancur. Semua potongan itu bersinar terang. "Wolgwang (Cahaya Bulan). Itulah nama boneka ini. Gadis di masa lampau itu memberikan nama tersebut pada Tou buatannya, dan berharap agar ia dilindungi dari kegelapan."
"Benar. Dia bilang dia sudah berjanji untuk menjadi cahaya bulan."
"Selama ribuan tahun, jiwa gadis itu telah hancur dan menyatu kembali berulang kali, tapi Tou ini tetap sama. Lalu ia hanyut sampai ke sini dan terkurung di gudang, sampai akhirnya ia menemukan orang yang bisa membantunya dan segera mengikutinya."
Yu-dan menatap potongan boneka itu dalam diam. Wajah prajurit yang tersenyum lebar dengan membelakangi cahaya bulan masih terbayang jelas di matanya.
"Begitu ya. Jadi aku sia-sia……."
"Tidak." Siluman rubah seolah tahu apa yang dipikirkan Yu-dan. "Tidak begitu. Kamu tidak melakukan hal yang sia-sia. Kamu telah membebaskannya dari belenggu kutukan yang mengikatnya selama lebih dari seribu tahun, jadi kamu melakukannya dengan sangat baik. Tapi……."
Ia memiringkan kepalanya. "Aneh ya. Pasti sangat melelahkan. Dia sangat keras kepala, belum lagi perbedaan zaman yang membuat bahasa kalian sulit nyambung. Kamu pasti ingin menyerah puluhan kali, tapi bagaimana kamu bisa mengantarkannya sampai akhir? Sedikit tidak mungkin, tapi apa mungkin kamu berubah pikiran dan menjadi sedikit lebih toleran?"
"Apa maksudmu? Tanpa hal seperti itu pun semuanya berjalan lancar kok."
Yu-dan mengangkat bahu dan keluar dari ruang kerja. Begitu turun ke lantai bawah, ia berpapasan dengan Heuk-yo. Siluman ular yang sarafnya masih tegang itu menatap Yu-dan dengan tajam.
"Kenapa kamu memasang wajah sombong begitu?"
"Kapan aku begitu?"
"Barusan! Kamu tersenyum tipis menyebalkan!"
Tuan Do mengambil kesempatan itu untuk menyelinap pergi, tapi sebelum sempat berbalik, ujung bajunya sudah ditangkap.
"Mau ke mana, Orabeoni! Kamu harus menemaniku merapikan gudang dari awal lagi! Katanya kamu bisa membedakan barang antik meskipun sambil memejamkan mata, bukankah kamu ingin memejamkan mata?"
"Haaa……." Dokkaebi setengah baya itu mendesah sambil menjambak rambutnya. "Ternyata itu benar-benar barang asli! Aku menyesal setengah mati. Kalau tahu akan jadi begini, aku tidak akan membiarkan Tuan Muda itu... tidak, aku bahkan malas memanggilnya Tuan Muda. Aku tidak akan membiarkan si pembuat masalah itu masuk ke gudang."
"Apa maksudmu?" Yu-dan bingung. "Bukannya kau bilang semua yang ada di gudang itu harta karun asli? Kau bahkan memarahiku habis-habisan karena takut ada yang rusak……."
Tuan Do pura-pura tidak dengar dan berjalan gontai keluar pintu belakang.
"Hei, Dokkaebi! Katakan sesuatu!"
"Biarkan saja." Chaewoo mengerling. "Lagipula ini bagus. Setidaknya untuk sementara kamu tidak akan diseret ke gudang lagi. Barang antik yang asli tidak boleh sampai mengikutimu lagi."
"Tunggu sebentar. Jadi kalian sendiri tidak tahu barang di kotak itu asli atau bukan, tapi tetap memarahiku?"
"Kan sudah kubilang, keisengan dokkaebi itu memang ada-ada saja. Yah, tidak perlu mengungkit masa lalu, kan?" Chaewoo melihat ke arah langit sore di luar jendela.
"Bukankah itu romantis? Boneka tanah liat menyimpan janji dengan seorang gadis selama seribu tahun. Lihatlah bulan putih itu. Mungkin cahaya bulan dari seribu tahun yang lalu sedang menyinari kita melampaui ruang dan waktu."
"Itu salah," sahut Chaeseol. "Aku sudah mencarinya, jarak dari sini ke bulan sekitar 334 ribu kilometer. Dengan kecepatan cahaya, butuh waktu tepat 1,2 detik. Jadi, cahaya bulan itu adalah cahaya dari 1,2 detik yang lalu."
Lalu ia menghela napas. "Aah, tidak ada romantis-romantisnya."
Chaewoo tersenyum dan menggelengkan kepala. "Tidak. Tetap saja cahaya bulan itu sendiri tidak akan berubah. Dan akan tetap begitu selamanya. Benar kan?"
Ia menatap Yu-dan, meminta persetujuan. Yu-dan menatap bulan yang tergantung sendirian di balik bingkai pintu kertas. Setelah beberapa saat, ia mengangguk pelan.
"Mungkin saja."
........................
