Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 12>
"Tunggu sebentar. Siapa bilang aku mau ikut makan? Aku sama sekali tidak lapar dan……."
"Bagus sekali kalau begitu!"
Semua orang tersentak kaget. Entah sejak kapan, sesosok dokkaebi setengah baya (paman Do) sudah masuk ke dapur tanpa suara. Ia tampak sangat gembira dan langsung mennghampiri Yu-dan.
"Karena energimu masih meluap-luap, itu sangat bagus. Kebetulan belakangan ini pergelangan tangan dan pinggangku sedang tidak beres. Setelah kamu membantuku, perutmu pasti akan kosong dan kamu bisa menikmati makan malam dengan sangat lezat. Ayo, cuma sebentar saja kok."
Seperti kata pepatah bahwa dokkaebi memiliki kekuatan raksasa, meskipun ia hanya memegang Yu-dan dengan ringan, kekuatannya luar biasa besar. Yu-dan terseret keluar bahkan sebelum sempat melawan.
Tempat yang mereka tuju adalah halaman samping toko.
Halaman di sisi ini memiliki atmosfer yang sangat berbeda dari halaman depan maupun halaman belakang. Di satu sisi, tumpukan kayu bakar menggunung dan ada berbagai peralatan pertanian. Ada juga deretan tempayan besar dan sebuah sumur. Saat Tuan Do membuka pintu kayu di dinding luar bangunan, terlihat sebuah tangga.
"Ada lantai bawah tanah juga?"
"Tentu saja. Ini semua gudang harta karun kami."
Bahkan sebelum mereka turun sepenuhnya, bau kayu apak sudah menusuk hidung. Di dalam lantai bawah tanah yang sangat tua itu, kotak-kotak besar memenuhi ruangan.
"Kita harus mengeluarkan semua yang ada di sini ke luar."
"Semua ini?"
Saat Yu-dan memutar tubuhnya, ia tidak sengaja menabrak salah satu kotak.
DUG!
"Hati-hati! Semua ini barang asli! Ini harta karun yang tidak bisa dibeli meski dengan uang bergunung-gunung! Gawat kalau sampai rusak!"
Padahal dia sendiri yang menyeret Yu-dan kemari dan menyuruhnya bekerja. Yu-dan langsung merasa kesal.
"Kalau begitu, aku pulang saja."
"Cih. Sudah kuduga. Tuan muda yang terhormat mana mungkin mau menolong dokkaebi tua yang malang ini. Aduh, duh! Pergelangan tanganku!"
Suara meratap si dokkaebi menggema keras di seluruh lantai bawah tanah. Gema yang tak kunjung berhenti itu membuat kepala Yu-dan terasa mau pecah.
"Iya! Iya! Aku bantu! Aku harus pindahkan yang ini dulu, kan?"
"Tunggu! Jangan diletakkan sekeras itu! Apa tadi ada suara barang pecah? Coba buka. Untungnya tidak pecah…… eh, astaga! Kotak yang di sana mau jatuh! Jangan menumpuk lebih dari tiga kotak!"
"Kenapa cerewet banget sih! Kerjakan saja sendiri kalau begitu!"
"Aduh, duh! Pinggangku! Jangan-jangan barusan itu suara pinggangku yang patah? Aduh! Aku bisa mati!"
Tuan Do mau bicara apa pun, kali ini Yu-dan benar-benar berniat untuk naik kembali. Namun, saat ia menginjakkan kaki di tangga, sebuah kalimat tiba-tiba melintas di benaknya.
Hati yang toleran.
Baek-ran itu siluman, jadi wajar saja kalau dia bicara dari sudut pandang siluman. Tidak perlu dipikirkan soal ucapannya tentang "zaman dulu lebih baik" atau semacamnya.
Namun, tetap saja, sikap itu sangat mengganggu. Menghina orang juga ada batasnya. Aku bukan tidak bisa melakukannya, tapi aku hanya tidak mau.
Yu-dan berbalik.
"Pekerjaan ini sepenting itu?"
"Tentu saja! Jika aku tidak merapikan gudang dengan benar, aku akan dimarahi habis-habisan oleh adikku. Dia sangat menakutkan, sampai-sampai belakangan ini aku terus bermimpi buruk setiap hari."
"Dokkaebi itu sendiri adalah mimpi buruk, memangnya mimpi buruk apa yang kamu alami?"
"Kamu tidak tahu apa-apa. Ada yang namanya mimpi buruk bagi kami. Dukun, biksu, dan pendeta Tao bermunculan…… ah, aku bahkan tidak mau memikirkannya. Pokoknya, kamu mau bantu, kan?"
"Tumpuk dua kotak saja, begitu?"
"Benar! Eh, bukan yang itu! Yang ini dan yang itu! Bukan, bukan! Yang itu dan yang itu! Tunggu! Letakkan pelan-pelan!"
Yu-dan langsung menyesal. Seharusnya tadi ia langsung naik saja.
Kotak-kotak ini bukan kotak biasa. Ada yang sangat berat, ada yang berderit seolah sedang menjerit, dan ada yang tutupnya terbuka sendiri lalu menghantam wajahnya. Saat mengintip ke dalam, ternyata isinya penuh dengan barang antik yang aneh.
Setelah bekerja keras selama beberapa jam sambil mendengarkan ocehan Tuan Do, akhirnya Yu-dan berhasil mengeluarkan semuanya ke halaman. Tidak ada satu bagian pun di kaki dan lengannya yang tidak terasa sakit. Ia kembali ke dapur dengan kondisi kelelahan luar biasa.
Begitu pintu dibuka, aroma pasta menyeruak.
Siluman ular itu sepertinya benar-benar membuatnya dengan serius. Aromanya asing namun terasa sangat lezat. Chaewoo melambai dengan riang.
"Kamu pasti lapar, kan? Ayo masuk!"
Chae-seol tampak sudah lelah menunggu dan telungkup di atas meja. Begitu Heuk-yo datang membawa nampan, ia langsung bangkit berdiri.
Piring pasta yang uapnya masih mengepul diletakkan satu per satu di depan Chaewoo dan Chae-seol. Terakhir, Heuk-yo meletakkan piring di depan Yu-dan…….
Begitu melihatnya, Yu-dan terpaku.
Yang ada di atas piring adalah sebuah bola nasi putih. Chae-seol dan Chaewoo pun terkejut.
"Kak, ini keterlaluan. Cuma bercanda, kan? Iya, kan?"
"Jangan! Kak! Jangan main-main soal makanan! Luka batinnya bisa membekas seumur hidup!"
Namun, yang paling terkejut adalah Heuk-yo sendiri. Ia menatap bola nasi itu dengan wajah tercengang.
"Bagaimana bisa begini? Aku yakin tadi membuat mi dalam jumlah yang cukup. Orabeoni bilang bocah ini sudah bekerja cukup keras, jadi meski dia menyebalkan, aku berniat memberinya porsi yang banyak. Tapi entah kenapa bisa jadi begini……."
Seolah tak percaya, ia menatap kedua tangannya sendiri.
"Ini sungguhan! Aku tidak sengaja! Saat aku memikirkan manusia ini, tanpa sadar aku mengambil nasi dari penanak nasi dan membuat bola nasi!"
"Mana mungkin! Akui saja! Kau memang tidak mau memberi makan, kan!"
"Bukan! Sudah kubilang bukan!"
Saat mereka berdua sedang berdebat, Chaewoo tiba-tiba bergumam, "Ah."
"Tuan Muda, sepertinya hari ini kami harus banyak berjalan."
"Apa? Apa maksudmu?"
"Insting Kak Heuk-yo sangat tajam. Dia tidak pernah salah. Pasti dia merasakan sesuatu, sehingga tanpa sadar membuatkan bola nasi untuk seseorang yang akan menempuh perjalanan jauh."
"Mana mungkin. Jam begini aku mau pergi ke mana? Aku akan langsung pulang ke rumah."
"Kalau begitu, kamu harus berhati-hati."
Chaewoo tersenyum penuh arti. Yu-dan seketika merasa merinding.
"Mana ada hal seperti itu! Aku mau pulang! Padahal dokkaebi itu sudah mempekerjakanku sampai lelah! Kalian keterlaluan!"
"Kenapa kamu malah marah padaku?" Heuk-yo melotot. "Aku hanya melakukan apa yang aku rasakan. Lagipula tidak ada jaminan hal itu akan benar-benar terjadi. Sudah, jangan dipikirkan dan makanlah yang banyak. Supaya kamu punya tenaga untuk berjalan jauh."
Ia membawa pancinya langsung dan menuangkan pasta dalam porsi menggunung ke piring Yu-dan. Ia bahkan tersenyum. Meskipun hanya tipis, itu adalah pertama kalinya Yu-dan melihat senyum seperti angin musim semi di wajahnya yang dingin.
Dia senang sekali ya.
Yu-dan merasa kesal, tapi karena lapar, ia mulai makan. Rasanya enak. Hal itu justru membuatnya semakin kesal.
Sambil makan dengan lahap, ia berpikir. Setelah menghabiskan ini, aku harus segera pulang.
Ia menolak tawaran untuk minum teh dan segera berdiri. Yu-dan langsung melangkah keluar dari Banwoldang.
Jalan pohon Hoehwa sudah diselimuti kegelapan. Cahaya dari toko-toko menyinari bahu orang-orang yang berjalan berkelompok. Bayangan tampak bergoyang di atas benda-benda kuno seperti topeng dan kipas.
Mungkin karena mendengar ramalan buruk dari siluman tadi, malam ini terasa aneh.
Yu-dan berjalan lurus ke depan. Di sana terlihat halte bus. Kalau sudah naik bus, ia pasti akan aman. Ia mempercepat langkahnya.
Namun saat itu.
"Permisi……."
Terdengar suara yang memanggilnya dengan hati-hati dari belakang.
Jangan menoleh. Berpura-puralah tidak dengar.
Saat ia terus berjalan, suara itu memanggil lagi.
"Permisi. Gawat sekali. Kamu ditempeli dokkaebi."
Apa?
Tanpa sadar, Yu-dan langsung berbalik. Ia terkejut melihat sosok di depannya.
Di tengah jalan yang dipenuhi pertokoan itu, berdiri tegak seorang pria muda mengenakan pakaian prajurit zaman dulu.
Apa dia aktor figuran drama sejarah? Apa ada syuting di sini? Saat Yu-dan menatapnya dengan bingung, pria itu tersenyum lebar.
"Ternyata kamu seorang pemuda. Maafkan aku. Sebenarnya soal ditempeli dokkaebi itu bohong. Aku harus bicara begitu agar kamu mau menoleh. Karena situasiku sangat mendesak, aku terpaksa berbohong, jadi maafkanlah."
Pria itu meminta maaf dengan wajah ramah dan langsung menggenggam lengan Yu-dan.
"Tolong bantu aku. Aku harus segera kembali kepada Nona, tapi aku tidak tahu jalannya. Tolong antarkan aku."
Apa-apaan ini? Gaya bicara kuno?
Meskipun prajurit muda yang seolah baru keluar dari drama sejarah ini menghalangi jalan dan melakukan tindakan yang mencolok, orang-orang yang lewat tidak melirik sedikit pun. Mereka melewatinya begitu saja seolah tidak ada apa-apa.
Seakan dia tidak kasat mata.
Benar. Ini bukan manusia.
Begitu menyadari hal itu, Yu-dan merasa ngeri. Di sisi lain, ia merasa konyol.
Ia tidak merasakan aura jahat dari prajurit ini. Ia benar-benar hanya meminta bantuan. Sekarang, apa makhluk-makhluk bukan manusia pun mulai menempel padanya untuk minta tolong?
"Sudahlah! Kamu cuma tersesat, kan? Pergi sana! Aku sedang lelah!"
Yu-dan melepaskan diri dari pegangan prajurit itu dan berbalik. Namun, pria itu terus mengikutinya.
"Jangan begitu, tolonglah bantu aku. Bukankah hari sudah gelap? Malam sudah tiba. Nona pasti sedang gemetar sendirian. Tidakkah itu menyedihkan? Tidakkah kamu punya rasa iba?"
"Menyedihkan apanya. Dunia ini adalah hukum rimba."
"Pemuda yang sangat kaku. Karena sudah begini, mau bagaimana lagi. Aku akan terus mengikutimu sampai kamu membantuku."
Pria itu terus menempel tepat di belakangnya.
"Di jam selarut ini, kamu mau pergi ke mana dengan terburu-buru? Apa kamu berjanji akan minum-minum bersama kawan di sebuah paviliun yang bagus? Di usia muda, jika terlalu menikmati hiburan dan minuman, kesehatanmu akan hancur. Ngomong-ngomong, dari wajahmu, sepertinya kamu bukan orang yang punya banyak kawan……."
Mempercepat langkah pun tidak ada gunanya. Pria itu sangat gigih mengikuti.
"Tapi tetaplah semangat. Menurut ajaran Konfusius…… orang yang berbudi tidak akan kesepian…… masalahnya, itu hanya berlaku jika kamu memiliki budi pekerti……."
Mendengar ocehan kuno tepat di belakang telinganya membuat Yu-dan merasa mau gila. Ia mengeluarkan penyuara telinga (headphone) dan memakainya, namun suara sang prajurit menembus musik dan bergema dengan jelas di kepalanya.
Tak tahan lagi, Yu-dan berhenti.
"Jangan-jangan kamu mau mengikutiku sampai ke rumah?"
"Ah, kamu sedang jalan pulang? Pergi ke rumahmu juga bagus. Lagipula aku tidak punya tempat tujuan lain." Pria itu menjawab dengan senyum cerah.
Yu-dan tercengang. "Tidak punya tempat tujuan apa! Jangan berkeliaran begini, kembalilah ke tempat asalmu!"
"Tepat sekali. Tempat asalku adalah di sisi Nona. Karena itulah, sebelum aku menemukan Nona, aku terpaksa berkeliaran tanpa tujuan seperti ini. Aku juga tidak ingin merepotkanmu, tapi apa daya aku tidak punya pilihan lain."
Tatapan sang prajurit bukan hanya memohon, tapi terasa sangat pedih. Namun, tersirat tekad yang kuat di sana. Sepertinya ia tidak akan melepaskan Yu-dan sebelum keinginannya terkabul.
"Apa itu sepenting itu bagimu?"
"Apa maksudmu? Melindungi Nona? Tentu saja. Itu lebih penting dari nyawaku sendiri. Tapi kenapa kamu bertanya? Apa kamu akan membantuku?"
Bahkan sebelum dijawab, wajah prajurit itu langsung cerah. "Terima kasih! Terima kasih banyak!"
"Kapan aku bilang mau membantu?"
"Aku tahu. Pemuda yang berwajah tampan dan berhati mulia sepertimu tidak akan pernah meninggalkan orang yang sedang dalam kesulitan!"
"Berisik! Jawab dulu pertanyaan ini dengan jelas! Kalau aku mengantarmu, kamu akan pergi, kan? Tidak akan mengikutiku lagi, kan?"
"Tentu saja. Begitu aku kembali ke sisi Nona, aku akan terus menetap di sana untuk melindunginya."
"Lalu di mana Nona itu tinggal?"
"Ke arah sana." Prajurit itu menunjuk ke arah barat laut.
"Sebelah mana tepatnya?"
Saat ditanya begitu, ia menggelengkan kepala dengan wajah polos. "Aku tidak tahu."
"Jaraknya?"
"Itu pun aku tidak tahu. Segalanya terasa sangat asing bagiku sehingga aku tidak bisa menemukan jalan. Bagaimana bisa dunia berubah sejauh ini saat aku tidak berada di luar? Aku hanya bisa merasakan arah keberadaan aura Nona secara samar."
"Jadi maksudmu kita harus berjalan asal-asalan saja?"
"Kalau tidak berjalan, lalu harus bagaimana?" Prajurit itu memiringkan kepalanya. "Apa kamu mau naik kereta lembu? Daripada mencari kereta lembu, lebih baik kita berjalan cepat. Kita akan sampai sebelum fajar tiba."
Lalu ia melompat menaiki tangga tanjakan taman. Gerakannya begitu cepat seperti anak panah yang melesat.
"Cepatlah, anak muda. Kenapa lambat sekali? Percepat sedikit langkahmu. Nona pasti sedang menunggu. Cepatlah!"
Kepala Yu-dan berdenging. Ia terengah-engah menaiki tangga yang sangat tinggi itu.
"Iya! Aku tahu! Pelan-pelan sedikit……."
Ia berhenti menggerutu.
Ia kemudian melihat punggung prajurit yang berdiri tegak di puncak tangga.
Di bawah kakinya, pemandangan kota terbentang luas.
Di tengah kegelapan pekat, ribuan lampu berpadu dan berkilauan. Dilihat dari tempat setinggi ini, kota itu tampak seperti permata raksasa yang memancarkan cahaya misterius.
"Bagaimana bisa berkilau seperti ini?" Prajurit itu terkagum-kagum. "Bahkan cahaya bulan pun sampai terasa pudar……."
Ia menyipitkan mata dan menatap langit. Di bagian langit malam yang tanpa awan, bulan putih tergantung dengan tenang.
"Di dunia yang aku kenal, cahaya bulan lah yang paling terang. Terutama saat bulan besar seperti itu muncul, kegelapan di seluruh penjuru dunia akan menjadi terang benderang."
Di bawah cahaya bulan, wajah sang prajurit tampak merana.
"Nona sangat takut pada kegelapan. Bahkan saat senja tiba, beliau sudah ketakutan dan tidak berani keluar kamar. Jika lilin padam, beliau akan membeku dalam kegelapan dan gemetar ketakutan. Karena beliau begitu takut pada kegelapan, aku berjanji akan menjadi cahaya bulan itu dan melindunginya."
Ia perlahan menundukkan kepala. Ia menoleh ke arah Yu-dan dan tersenyum lebar.
"Itu adalah cerita dari masa yang sangat lama sekali."
"……."
"Aku hidup dengan menggenggam satu janji itu di hatiku, baik saat tidur maupun terjaga. Selama tahun-tahun yang telah berlalu, tidak pernah sedetik pun aku melupakan Nona. Aku sangat merindukan Nona."
Lalu ia mulai melangkah menuruni tangga dengan lebar.
"Bisakah kamu sedikit lebih bergegas? Aku mohon."
Selagi Yu-dan mengambil napas sejenak, pria itu sudah sampai di bawah tangga. Tepat di depannya adalah jalan raya delapan jalur.
"Tunggu sebentar!"
Yu-dan berlari turun sambil terengah-engah. Ia berhasil menarik prajurit itu tepat sebelum ia tertabrak mobil yang melaju kencang. Mata prajurit itu membelalak.
"Binatang buas berkilauan yang barusan lewat itu apa?"
"Itu mobil!"
"Mobil?"
"Iya! Itu semacam…… kereta lembu!"
"Di mana lembu dan kudanya? Bagaimana bisa berlari tanpa lembu?"
"Bisa terlihat kalau kamu melihatnya dengan mata hati. Pokoknya, ini jalan khusus kereta-kereta itu, jadi kita harus menyeberang lewat sana."
"Ah, begitu rupanya." Prajurit itu segera mengikutinya. "Terima kasih untuk yang tadi. Jika aku bertabrakan dengan kereta tanpa lembu yang ganas itu, tubuhku pasti hancur jadi debu. Ternyata penglihatanku tidak salah. Kamu benar-benar pemuda yang luar biasa."
"Bukan."
"Apalagi kalau bukan luar biasa. Oh ya, kalau boleh tahu siapa namamu?"
"Yu-dan."
"Ternyata Tuan Muda Yu. Aku tidak tahu dari pakaianmu, tapi apa pekerjaanmu?"
"Siswa."
Yu-dan bahkan sulit untuk bernapas, kenapa dia terus mengajaknya bicara? Baginya terasa konyol bahwa makhluk yang bukan manusia ini sampai menanyakan identitasnya.
"Begitu rupanya. Karena kamu seorang sarjana, makanya langkahmu lambat sekali. Begini, Tuan Muda Yu. Jangan hanya membaca buku, kamu juga tidak boleh lupa melatih fisik. Karena di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Sejak zaman dulu, orang-orang hebat selalu menguasai sastra maupun bela diri. Sambil membaca buku, cobalah menunggang kuda atau memanah. Bagaimana kalau kamu menjelajahi gunung untuk berburu?"
"Kalau aku melakukan itu, aku akan ditangkap polisi."
"Apa katamu? Aku tidak dengar. Cepatlah!"
. . . .. . . . .. . ..
Glosarium Istilah:
Jangdokdae (장독대): Tempat terbuka di luar rumah untuk meletakkan tempayan-tempayan tanah liat berisi saus, pasta, atau fermentasi.
Geomgi (검기): Energi atau aura yang dipancarkan melalui pedang.
Hwangcheon (황천): Sungai di alam baka; sering digunakan sebagai metafora kematian.
Sarjana (Seosaeng/서생): Sebutan tradisional untuk orang yang mendedikasikan hidupnya untuk belajar atau pelajar.
