Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 11>
Kisah ketiga
<Cahaya Bulan Seribu Tahun>
……Hal ini sangat marak terutama sejak zaman Silla, dan meskipun memiliki berbagai tujuan, makna utamanya adalah bersifat magis. Selain itu, banyak orang melakukannya karena percaya bahwa jika mereka menaruh harapan di sana, keinginan mereka akan terkabul…….
『Haedong-punsokji (Catatan Adat Istiadat Haedong)』
●◉◎◈◎◉●
Yu-dan sempat ragu sejenak di depan perpustakaan.
Melihat pintu masuknya saja, dorongan untuk pulang langsung muncul. Atmosfer hening dari perpustakaan umum yang sudah tua ini benar-benar bukan seleranya.
Namun, bukankah hari ini ia sudah bertekad untuk membaca buku?
Membaca sedikit buku mungkin tidak akan memberitahunya segala hal tentang benda-benda aneh yang ia lihat, tapi setidaknya, bukankah itu bisa mengurangi frekuensi ia diperlakukan seperti orang bodoh? Yah, mungkin saja?
Sambil membuat spekulasi penuh harapan tanpa dasar, ia memilih buku dari rak. Sebuah judul menarik perhatiannya.
『Apa Itu Hantu?』
Ia membawanya ke meja dan membukanya.
Namun sayangnya, hanya sampai di situ.
Ia sama sekali tidak bisa membaca satu huruf pun. Begitu buku dibuka, entah dari mana segala macam makhluk muncul dan berkerumun.
Bahkan saat ia sedang melotot sekarang pun, seekor siluman yang menyerupai siput raksasa menggeliat di atas buku dan membalikkan tubuhnya. Tanpa peduli pada perasaan Yu-dan, makhluk itu seolah sedang berdemonstrasi agar diperhatikan.
Bukan hanya itu saja.
Apakah karena perpustakaannya terlalu tua? Bukan hanya di meja, tapi di setiap sudut rak buku pun bayangan-bayangan gelap sedang meringkuk. Setiap kali pengunjung perpustakaan lewat, mereka semua ikut berkomentar.
—Buku itu awalnya bagus tapi akhirnya antiklimaks…….
—Seleramu dalam memilih buku buruk sekali…….
—Buku semenarik ini malah tidak dipinjam. Akan aku kutuk kau…….
Suasananya benar-benar sangat berisik dan kacau.
Bisa diam tidak?
Yu-dan menunjukkan ekspresi garang, tapi tidak ada yang peduli. Mereka hanya asyik melakukan urusan masing-masing dengan riang.
Tak tahan lagi, ia menutup buku itu dengan keras. BRAK!
Orang-orang menoleh dan meliriknya. Meski tidak berani bicara karena wajah Yu-dan yang galak, tatapan mereka seolah berkata: "Kalau tidak mau membaca, mending keluar saja."
Terpaksa, ia bangkit dari duduknya.
Ini salah. Ada yang salah besar. Membaca satu buku di perpustakaan saja mustahil. Kenapa tidak ada yang membersihkan tempat ini?
"Kalau begitu, aku sendiri yang harus melakukannya."
Ia bergegas keluar dari perpustakaan.
Rasanya benar-benar aneh.
Mengingat ukuran toko Banwoldang, seharusnya tidak mungkin ada ruangan sepanjang ini di dalamnya. Pintu-pintu geser dengan kerangka kayu bundar seperti bulan purnama dan ukiran pola kuno berjajar tanpa henti seperti dinding semu, membuat tempat ini lebih mirip lorong istana daripada sebuah ruangan.
Terakhir kali, tempat ini jelas tidak sepanjang ini.
Yu-dan terus memiringkan kepalanya bingung.
Bagaimanapun, karena Chaewoo menyuruhnya pergi ke halaman belakang, ia harus berjalan sampai ujung. Saat ia mulai lelah membuka pintu demi pintu, akhirnya pemandangan yang berbeda muncul.
Di bawah pintu lipat yang tergantung seperti kanopi, terdapat lantai kayu kayu yang telah memudar warnanya, menunjukkan jejak waktu yang panjang. Di sana, terlihat punggung siluman rubah yang sedang duduk. Ia tidak duduk tegak, melainkan menyandarkan seluruh tubuhnya pada pilar.
"Apa dia tidur?"
Bolehkah aku membangunkanmu? Saat Yu-dan sedang bimbang, Baek-ran tiba-tiba mengulurkan tangan dan menyentuh benda di sampingnya.
Ternyata itu adalah sebuah geomungo (kecapi tradisional Korea). Bagian kepalanya berbentuk wajah dokkaebi yang garang dan badan alat musik itu juga tampak mengerikan seperti tubuh dokkaebi. Sebaliknya, stik pemetik yang ia pegang terbuat dari sesuatu yang tampak seperti tanduk putih dengan hiasan permata yang sangat indah. Baek-ran memetik geomungo yang luar biasa itu dengan sangat malas dan asal-asalan.
"Gejala tidur berjalan yang aneh," ucap Yu-dan, namun tidak ada reaksi. Begitu lantai kayu di bawah kakinya berderit, barulah Baek-ran menoleh. Matanya yang semula sipit langsung membulat.
"Kapan kamu datang? Tanpa suara sama sekali……."
Belum selesai bicara, ia bergumam "Ah" lalu mendekatkan tangan ke telinganya, melepas penyumbat telinga yang tampak seperti gumpalan bulu putih bundar. Sepertinya ia tidak menyadari kehadiran Yu-dan karena telinganya tersumbat.
"Apa kamu mendengar suara geomungo ini?"
Melihat Baek-ran bertanya dengan wajah serius, Yu-dan menggelengkan kepala.
"Tidak, tidak ada yang perlu didengar. Kamu mainnya buruk sekali, tahu? Pantas saja kamu latihan sambil menyumbat telinga sendiri. Kalau aku yang main pun pasti lebih—"
Tiba-tiba kesadarannya terputus.
Kesadaran Yu-dan kembali saat sesuatu yang dingin tumpah ke wajahnya. Begitu membuka mata, ia melihat Baek-ran sedang menatapnya sambil memegang ember kayu. Ekspresinya tampak meremehkan.
"Pantas saja hari ini aku ingin melatih lagu ini. Sepertinya karena aku tahu akan ada tamu tak diundang yang datang."
"Lagu apa?"
"Sumyeong-gok. Dengan kata lain, lagu pengantar tidur."
"Apa aku baru saja tidur?" Yu-dan langsung melompat bangun. Bau amis tercium dari bajunya. "Tapi menuangkan air kolam itu keterlaluan, lho!?"
"Keterlaluan apanya? Jika tidak segera dibangunkan, kamu bisa tertidur selama puluhan hingga ratusan tahun. Mana sempat aku mengambil air bersih?"
"Pokoknya kamu memang harus menyiramku dengan air, begitu?"
Yu-dan mengambil kain di sampingnya dan mengusap wajahnya kasar. Ia mendapat pelajaran berharga bahwa mulai sekarang ia tidak boleh mendekati siluman rubah ini jika mendengar suara yang mirip alat musik.
"Jadi, ada perlu apa kamu mampir? Apa tidak sengaja lewat lagi dan melihat orang yang butuh bantuan?"
"Bukan, hari ini……." Karena kejadian mendadak tadi, Yu-dan sempat lupa tujuannya. "Ah, benar. Aku datang mau minta tolong buatkan selembar jimat."
"Jimat untuk apa?"
"Tadi aku pergi ke perpustakaan, tapi di sana penuh dengan makhluk-makhluk aneh. Begitu buku dibuka, mereka berbaring di atasnya, lalu ikut campur tiap kali orang mau pinjam buku…… aku sama sekali tidak bisa membaca buku."
"Apa katamu?" Baek-ran tampak terkejut. Yu-dan malah jadi lebih terkejut lagi.
"Apa seserius itu?"
"Bukan, bukan itu…… Aku hanya terkejut kamu pergi ke tempat seperti perpustakaan, bahkan sampai membaca buku segala. Benar-benar tidak disangka."
"Bisa tidak dengarkan aku dengan serius sebentar saja?"
"Aku sedang mendengarkan dengan serius."
"Jadi kamu mau buatkan jimatnya, kan? Aku harus mengirim mereka kembali ke tempat asalnya."
"Ya," Baek-ran mengangguk. "Tapi di sanalah tempat asal mereka."
"Apa?" Yu-dan menaikkan alisnya. "Bagaimana bisa? Itu kan perpustakaan! Tidak boleh berisik!"
"Coba katakan dengan jujur. Apakah orang lain juga merasa terganggu?"
"Pokoknya aku terganggu!"
"Jadi kamu ingin mereka diusir hanya agar hatimu puas?"
"Kalau dibiarkan saja, aku tidak bisa pergi ke perpustakaan."
"Sejak kapan kamu begitu suka perpustakaan? Kalau memang ingin sekali ke sana, bukankah ada cara lain selain cara kekerasan begitu?"
"Cara apa?"
Sebagai jawaban, Baek-ran menggeser sesuatu ke hadapan Yu-dan.
Benda itu adalah penyumbat telinga yang tadi.
"……."
"Kualitasnya sangat bagus."
"Masalahnya bukan soal kualitas!"
"Lalu apa? Perpustakaan adalah ruang buatan manusia, jadi makhluk selain manusia tidak boleh masuk? Kamu pasti tidak ingin mengatakan hal kekanak-kanakan seperti itu, kan? Jadi apa masalahnya?"
Baek-ran bergumam sambil membelai geomungo-nya.
"Mungkin mereka lahir di sana. Mereka hidup dengan baik sampai sekarang tanpa terlibat konflik besar dengan manusia. Meskipun terkadang mereka melakukan hal yang mengganggu, itu pasti bukan karena niat jahat. Mungkin karena mereka merasa takjub melihat ada manusia yang bisa melihat mereka. Tapi kalau kamu benar-benar benci, ya mau bagaimana lagi……."
Tiba-tiba ia mendongak dan menatap kejauhan.
"Mungkin kami yang terlalu banyak berharap pada manusia. Padahal dulu, di tanah ini, ada orang-orang yang menganggap segala sesuatu di alam semesta ini suci dan tidak memperlakukannya sembarangan. Mulai dari gunung dan air, pohon dan batu, angin yang lewat, segenggam biji-bijian, air sumur yang ditimba, bahkan ular yang bersembunyi di atas balok atap. Mereka…… berbeda."
"Bagaimana berbedanya?"
"Mereka lebih toleran."
Senyum tipis muncul di wajah siluman rubah itu.
"Bagaimana? Cobalah sesekali miliki hati yang toleran seperti itu, meskipun hanya sebagai bentuk pelarian sejenak?"
"Tawaran yang tidak menarik."
"Sudah kuduga. Memang terlalu banyak berharap pada manusia."
Seolah langsung kehilangan minat, ia memalingkan wajahnya.
Sikapnya yang menganggap hal itu sudah sewajarnya entah mengapa terasa menyebalkan bagi Yu-dan. Saat Yu-dan hendak membalas, Baek-ran sudah mengangkat pemetik-nya lagi.
Sepertinya kali ini ia tidak akan dibangunkan jika tertidur.
Sebelum nada pertama bergema, Yu-dan segera bergegas keluar dari sana.
Sambil menutup kembali pintu geser yang tadi ia buka satu per satu, ia kembali ke toko. Namun hanya ada barang-barang antik yang tergeletak sepi, tidak ada orang di sana.
"Ke mana semua orang?"
Di balik meja tempat minum teh, pintu kayu di belakang kasir sedikit terbuka. Pasti itu dapur, karena biasanya Chaewoo membawa teko dan kue dari sana.
Yu-dan melongokkan kepalanya ke celah pintu kayu itu.
Benar saja, itu adalah dapur.
Di satu sisi ada tungku dan kuali besar, di sisi lain ada oven dan kulkas. Di balik lemari kayu yang mengkilap, ada ruang lain yang berisi lesung kayu besar dan alat penumbuk yang biasa ada di lokasi syuting drama sejarah.
Dapur aneh ini terasa sunyi. Namun bukan berarti tidak ada orang.
Di bawah cahaya yang membelakangi, terlihat seorang wanita cantik berambut hitam yang mengikat rambutnya jadi satu, berdiri tegak sambil memegang pedang panjang. Hawa dingin yang terpancar dari seluruh tubuhnya, seperti pendekar pedang yang menghadapi musuh kuat, membuat napas Yu-dan tercekat.
Si kembar ginseng memperhatikan wanita itu tanpa berkedip.
Seketika, udara seolah terbelah menjadi dua.
Daun-daun hijau beterbangan di udara.
Wanita itu, Heuk-yo, mengayunkan pedangnya. Bahkan suara tebasan angin pun tidak terdengar, namun daun-daun itu terpotong menjadi puluhan, bahkan ratusan bagian. Daun hijau yang telah terpotong halus seperti bubuk itu jatuh dan menumpuk dengan rapi di atas piring di meja, tanpa meleset sedikit pun.
"Wah……." Yu-dan tanpa sadar berdecak kagum.
Semua orang menoleh padanya. Mata si kembar membelalak.
"Sudah selesai bicaranya?"
"Bagaimana? Apa kamu berhasil meminta tolong padanya?"
Yu-dan menggelengkan kepala. "Dia menolak mentah-mentah."
"Pasti kamu minta sesuatu yang tidak masuk akal lagi," Heuk-yo mendecak sinis. "Kamu ini, hal dasar saja belum benar. Beraninya menemui Cheonho-nim dengan pakaian seperti itu?"
"Memangnya bajuku kenapa?"
"Bukan baju, tapi syal itu. Musim dingin sudah lama berakhir, kenapa masih memakai benda seperti itu? Melihatnya saja membuatku sesak."
"Jangan ikut campur. Aku kedinginan."
"Pantas saja kamu tidak punya teman. Kalau kamu terus keras kepala, akan aku buat kamu tidak bisa memakai syal itu lagi."
"Jangan!" Chaewoo menghalangi. "Maafkan dia, Kak. Katanya ini syal buatan mendiang ibunya. Makanya dia bersikeras memakainya dari awal musim gugur sampai akhir musim semi."
Ekspresi Heuk-yo berubah. "Begitukah?"
Ia mengerutkan dahi lalu perlahan mundur.
Benar-benar tidak disangka. Tadinya Yu-dan mengira wanita itu akan menghunuskan pedang, tapi hanya karena satu kalimat itu, sikapnya langsung berubah. Ekspresinya jelas menunjukkan: "Meskipun aku tidak suka, tapi aku tidak bisa mencampuri urusan itu."
Mungkinkah ini yang dinamakan toleransi?
Bahkan siluman ular yang dingin dan selalu memelototi manusia itu pun tahu kapan harus mengalah jika itu menyangkut hal yang sangat penting bagi orang lain.
"……Tuan Muda? Apa yang kamu pikirkan?"
Yu-dan tersadar kembali. Chaewoo menatapnya dengan wajah penuh rasa ingin tahu.
"Ada apa? Apa yang dikatakan Cheonho-nim?"
"Tidak ada apa-apa!" Yu-dan memotong pembicaraan. Ia menoleh ke sekeliling mencari pengalihan topik, lalu melihat tumpukan daun yang tadi dipotong oleh siluman ular. "Itu daun apa? Baunya aneh."
"Kamu tidak tahu ini? Ini adalah daun nareuk."
"Daun apa?"
"Kamu tidak tahu apa itu daun nareuk?"
"Ini selasih (basil)," Chaewoo menjelaskan menggantikan Heuk-yo.
"Lalu apa itu basil?"
"Tanaman herbal. Kemarin di televisi ada tayangan pasta, kelihatannya enak jadi kami mengajak makan bersama. Tapi Kakak bilang dia akan membuatnya sendiri. Katanya makanan luar mengandung banyak bahan berbahaya yang tidak bisa digunakan."
"Dia benar-benar seperti ibu rumah tangga."
"Meskipun terlihat begitu, dia yang bertanggung jawab atas urusan dapur."
"Apa maksudmu 'meskipun terlihat begitu'? Memangnya aku kenapa? Di dunia ini tidak ada masakan yang tidak bisa aku buat. Mi dari negeri barat seperti itu bisa aku buat sambil memejamkan mata. Kamu tahu tidak? Daun nareuk akan cepat berubah warna menjadi cokelat jika terkena besi, jadi kamu harus memotongnya menggunakan energi pedang (geomgi) agar mata pisau tidak menyentuhnya. Ingat itu baik-baik."
"Energi pedang? Kalau punya kemampuan seperti itu, kenapa malah dipakai buat bikin pasta? Ah, tapi memang sedang dipakai sih sekarang."
"Jangan dipikirkan. Sebagian besar resep Kakak memang sulit ditiru orang lain. Tapi kemampuan masaknya adalah yang nomor satu di dunia."
Chaewoo tersenyum lebar namun tiba-tiba berhenti. Ia melirik Yu-dan dengan ragu.
"Eum, apa kamu sudah makan malam?"
"Sekarang baru jam berapa, mana mungkin sudah makan malam."
"Kalau begitu, bagaimana kalau nanti kamu makan bersama kami?"
"Kenapa?"
"Kalau kamu tanya kenapa, tidak ada alasan khusus. Tapi kalau kamu merasa tidak nyaman, maaf ya……."
Saat Chaewoo mulai bicara gagap, Chae-seol si kakak kembar maju membantu.
"Aku setuju! Sudah lama sekali aku tidak menghidangkan manusia di meja makan, eh maksudku, duduk bersama manusia di meja makan!"
"Kenapa kamu menelan ludah saat bicara begitu?"
"Jangan salah paham. Aku hanya membayangkan mi negeri barat tadi. Masakan yang enak akan terasa lebih nikmat jika dimakan bersama."
"Apa yang kalian bicarakan? Siapa yang mengizinkan manusia ikut makan malam?" Heuk-yo membentak.
"Tapi Kakak juga harus membayar imbalan karena sudah ikut makan kue, kan? Sampai kapan mau makan gratis terus? Kalau kamu sangat membenci manusia, bukankah seharusnya kamu lebih tidak suka lagi makan gratisan darinya? Jadi……."
Wajah Chae-seol yang semula bicara tegas tiba-tiba mendung.
"Ah, sudahlah. Melihat ekspresinya, dia pasti mau menolak. Seperti kebanyakan manusia yang mendapat tawaran yang membebani, dia pasti akan memberikan alasan basi seperti 'terima kasih, tapi hari ini aku ada urusan……' lalu pergi begitu saja. Kalau begitu aku pasti akan sangat kecewa. Aku tidak akan bisa menikmati pasta buatan Kakak karena terus memikirkan hal itu. Seharusnya aku tidak usah bicara tadi."
Ia menatap Yu-dan dengan tatapan sayu.
Ekspresinya benar-benar sangat menyedihkan dan malang, tipe yang tidak mungkin bisa ditolak oleh orang yang berhati dingin sekalipun. Siluman gadis ini pasti sudah menguasai cara licik untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Heuk-yo seolah sudah tahu ia kalah, ia menghela napas pasrah lalu mengambil segenggam pasta lagi.
"Ya, sudahlah. Anggap saja ini bayaran untuk makanan yang lalu."
..............
Glosarium Istilah:
- Bunhapmun (분합문): Pintu lipat tradisional Korea yang bisa diangkat dan digantung di langit-langit untuk membuka ruangan secara luas.
- Maru (마루): Lantai kayu tradisional Korea yang biasanya ada di teras atau ruang tengah.
- Geomungo (거문고): Alat musik petik tradisional Korea berupa kecapi dengan 6 senar.
- Dokkaebi (도깨비): Makhluk mitologi Korea yang mirip goblin atau raksasa kecil, sering dianggap membawa keberuntungan atau keisengan.
- Suldae (술대): Stik kecil yang digunakan untuk memetik senar geomungo.
- Cheonho-nim (천호님): Panggilan hormat untuk "Rubah Langit" (Baek-ran).
- Nareuk (나륵): Nama tradisional Korea untuk tanaman selasih atau basil.
- Geomgi (검기): Energi atau aura pedang dalam literatur bela diri Asia Timur.
