Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 10>


Seketika itu juga, tak terhitung banyaknya orang muncul di depan mata.

Orang dengan kepala pecah. Orang dengan kulit hangus legam. Orang dengan perut robek. Orang dengan bintik-bintik di sekujur tubuhnya…….

Semuanya adalah orang mati. Itu adalah barisan arwah yang baru saja tiba setelah melintasi batas dunia fana. Yu-dan membeku di tempatnya.

Saat itulah.

"Dan-ah, Dan-ah……."

Seseorang di antara barisan itu memanggil Yu-dan.

Itu kakeknya. Rasanya begitu melegakan sampai ingin menangis.

"Kemarilah. Mari pergi bersama."

Yu-dan baru saja hendak bergabung dalam barisan arwah itu mengikuti kakek yang melambai lembut, saat sebuah pikiran aneh terlintas.

Aku bahkan tidak tahu wajah atau suara kakekku. Kata orang, beliau meninggal di usia muda, jauh sebelum aku lahir.

Yu-dan menatap tajam ke arah sosok kakek itu.

"Siapa kamu?"

Wajah arwah itu berubah menjadi sangat mengerikan. Ia mengeluarkan teriakan melengking dan menyambar pergelangan tangan Yu-dan.

Pada saat itu—

Seseorang menghalangi di depan.

Sesosok makhkuk yang memakai topeng putih polos tanpa wajah (Mumyeon).

Begitu ia mengangkat satu tangannya, setangkai bunga teratai melayang di udara. Cahaya yang menyilaukan memancar ke segala arah.

"Aaaarrgh!"

Wajah arwah yang mencoba menyeret Yu-dan hancur berantakan. Semua orang mati di sana berubah menjadi asap dan melarikan diri. Hanya kabut biru kehitaman yang tersisa di tempat itu.

"Terima kasih."

Yu-dan membungkukkan kepalanya dalam-dalam. Si hantu tanpa wajah itu bertanya.

"Ini bukan tempat bagi manusia. Mengapa kamu tidak segera kembali dan malah tersesat di sini?"

"Aku mau kembali."

Yu-dan menjawab sambil menatap ke tanah, tapi tidak ada apa-apa di sana. Mungkin karena terlalu lama tertahan, jejak emas yang ditinggalkan si rubah sudah lenyap tanpa sisa. Yang ada hanya jalanan yang diselimuti kegelapan.

"Gawat! Bagaimana ini?!"

"Apakah ada masalah?"

Suara lembutnya membuat hati Yu-dan merasa tenang. Yu-dan menjawab dengan wajah nyaris menangis.

"Aku kehilangan jejak kakinya."

"Jejak kaki?"

"Rubah memberiku jejak kaki untuk diikuti, tapi aku kehilangannya. Bagaimana ini? Aku benar-benar dalam masalah. Aku sudah sesumbar akan kembali membawa neok-bojagi ini. Dia pasti akan mengejekku lagi, bilang kalau aku bodoh. Dia juga bilang kalau aku tidak kembali, dia akan menanggung karma besar. Bagaimana ini? Padahal aku yang memaksa agar dia mengirimku ke sini. Aku harus kembali!"

"Benar-benar masalah besar ya," ucap si hantu tanpa wajah. "Kalau begitu, bagaimana jika aku yang membuat jejak kaki untukmu?"

"Benarkah?"

"Tidak gratis. Apa yang akan kamu berikan padaku untuk setiap jejak kaki?"

Yu-dan langsung lesu.

"Aku tidak punya apa-apa."

"Tidak juga."

Hantu itu mengulurkan tangannya. Jarinya yang dingin menyentuh dahi Yu-dan pelan, dan tiba-tiba setangkai bunga putih muncul dari sana. Yu-dan hampir menangis, tapi pemandangan ajaib itu membuat tangisnya tertahan.

"Apa itu?"

"Itu Bunga Jiwa. Di dalamnya ada ingatanmu."

Jika diperhatikan, ada sesuatu yang berkelebat di kelopak bunganya. Sebuah kapal feri besar penuh orang yang mengapung di laut biru.

"Kamu pernah naik kapal besar rupanya."

"Benar! Saat aku masih sangat kecil. Lebih kecil dari sekarang. Aku pergi ke pulau bersama Ayah dan Ibu! Aku memberi makan burung camar, dan mengumpulkan kerang di pasir pantai! Seru sekali!"

"Sepertinya itu ingatan yang sangat kamu hargai."

Si hantu tanpa wajah memutar Bunga Jiwa itu.

"Bolehkah aku memiliki ini?"

Yu-dan berpikir sejenak sebelum menjawab.

"Asal kamu mau membuat jejak kakinya. Karena aku benar-benar harus pulang."

"Baiklah."

Hantu tanpa wajah itu berbalik.

Setiap kali ia melangkah, setangkai Bunga Jiwa keluar dari kepala Yu-dan dan menempel padanya. Di setiap kelopak yang berkibar, pemandangan berbeda tampak berkelebat. Ingatan saat memakai sepatu bot di hari hujan dan melompat di genangan air. Ingatan saat memencet tuts piano asal-asalan di samping Ibu yang sedang bermain. Ingatan saat merakit teleskop bersama Ayah. Ingatan saat jatuh dan melukai lengan waktu belajar main skate. Ingatan saat menghabiskan waktu seharian mencari anjing Jindo milik nenek yang hilang bersama sepupu-sepupu…….

Melihat semua itu berkelebat seperti film terasa sangat ajaib dan entah mengapa terasa indah. Padahal tidak semua ingatan itu adalah ingatan yang manis.

Sambil mengikuti hantu tanpa wajah itu, akhirnya terlihat pintu keluar yang bercahaya terang di depan. Yu-dan berteriak.

"Sudah sampai!"

"Ya. Tapi bagaimana ini? Bunga jiwanya sudah habis."

Hantu tanpa wajah itu menoleh ke belakang.

"Butuh bayaran untuk jejak kaki terakhir. Mau bagaimana lagi. Sebagai ganti bunga jiwa, maukah kamu memberikan kain itu padaku?"

Eh? Apa aku punya kain?

Yu-dan melihat ke bawah.

Kedua tangannya sedang memegang erat sebuah kain pembungkus putih. Itu adalah benda yang baru pertama kali dilihatnya. Siapa yang memberikannya dan kapan? Seberapa keras pun mencoba mengingat, ia tidak tahu.

"Baiklah……."

Ia hampir menyerahkannya, tapi berhenti. Ada sesuatu yang mengganjal di hati.

"Tidak, tunggu. Sepertinya yang ini tidak boleh."

"Kenapa?"

Ia tidak bisa menjawab. Yu-dan yakin ada alasan yang sangat penting, tapi ia tidak bisa mengingatnya.

Hantu tanpa wajah itu bicara lagi.

"Bukankah tidak masalah apa pun yang terjadi?"

"Benar juga."

Yu-dan mengangguk. Kepalanya terasa kosong. Ia tidak ingat apa-apa.

"Tidak masalah juga kan kalau kamu tidak kembali?"

"Ya……," jawabnya hampa. "Tidak masalah kalau aku tidak kembali. Tapi, sepertinya ada seseorang yang meninggalkan jejak kaki untukku. Itu artinya dia menyuruhku pulang. Itu artinya dia sedang menungguku."

Yu-dan mengatakannya dengan tegas.

"Jadi, aku akan pulang."

Tiba-tiba, bunga jiwa yang menempel di tubuh hantu tanpa wajah itu bergetar pelan. Sepertinya ia sedang tersenyum.

"Kalau begitu, aku kembalikan semuanya padamu."

Bunga-bunga jiwa itu berhamburan. Dalam sekejap, Yu-dan tertutup oleh bunga. Saat bunga terakhir hinggap di atas kepalanya, ingatan pun mengalir masuk.

Tampak sebuah padang rumput hijau yang rimbun. Anak-anak yang memakai chima-jeogori katun sedang berlari dan bermain.

"Ini bukan ingatanku."

"Ingatan ini menempel padamu."

Suara tawa anak-anak tumpang tindih dengan suara hantu tanpa wajah itu.

Pergi sana! Kamu kotor!

Ibuku bilang aku tidak boleh main denganmu!

Benar. Tidak ada yang mau mengajaknya bermain. Mereka bilang tidak bisa mengajaknya karena dia anak seorang penderita kusta.

Meski begitu, ia selalu mengikuti mereka. Ia tidak peduli meskipun dilempari batu. Asalkan ia bisa berada di dekat anak-anak yang selalu terlihat bahagia itu.

Hari itu pun ia terus mengikuti mereka sampai akhirnya ia terperosok ke dalam lubang. Tumpukan batu di mulut lubang runtuh dan menimbun kepalanya.

Tolong aku. Aku di sini.

Ia berteriak, tapi tidak ada yang mendengar. Semua orang asyik bermain. Hanya suara gaduh dan tawa mereka yang terdengar dari atas.

Udara semakin tipis. Ia mulai sesak napas.

Aku hanya ingin bersama kalian saja.

"Uhuk! Uhuk!"

Yu-dan terbangun sambil terbatuk-batuk.

Tempat itu bukan lubang yang tertimbun batu. Bukan juga dunia para makhluk dunia bawah. Pohon-pohon seperti tulang putih, kabut biru kehitaman—semuanya lenyap seperti mimpi. Sebagai gantinya, terlihat rak-rak buku yang memenuhi keempat dinding ruangan.

Itu adalah ruang kerja siluman rubah.

Hari sudah gelap dan matahari telah terbenam. Cahaya lilin yang menyala tenang menciptakan bayangan di sekeliling. Baek-ran sedang membalik-balik halaman buku seolah buku itu tidak terlalu menarik. Melihat wajah itu, Yu-dan baru menyadarinya.

"Ternyata itu kamu."

Hantu tanpa wajah itu ternyata adalah siluman rubah ini. Kalau dipikir sekarang, meskipun wajahnya tertutup, suara dan auranya benar-benar sama. Mengapa bisa sampai tidak mengenalinya, Yu-dan merasa konyol sendiri.

Yu-dan bangkit berdiri.

Bungkusan jiwa itu ada di dekapannya. Tidak ada beratnya, tapi terasa kehangatan yang nyaman. Terdengar pula suara napas kecil yang teratur. Dia masih hidup. Dia berhasil bertahan melewati semua itu.

Berhasil.

Napas lega mengalir keluar.

"Syukurlah. Aku berhasil membawanya kembali."

"Syukurlah," sahut si rubah.

Bungkusan jiwa itu menggeliat kecil. Yu-dan meletakkannya di atas meja dan bertanya.

"Ngomong-ngomong, kenapa kamu memakai topeng tanpa wajah dan mengerjaiku?"

"Aku tidak pernah memakai topeng."

"Tidak pernah?"

"Bukankah kamu kembali menjadi anak kecil di Hutan Mangnyang? Karena itu adalah masa sebelum kita bertemu, kamu tidak mengenaliku dan menganggapku sebagai hantu tanpa wajah. Beraninya kamu menuduhku sembarangan, padahal aku sampai harus menempuh jarak tiga ribu li lagi karena merasa tidak cukup hanya meninggalkan jejak kaki saja. Kamu benar-benar keterlaluan."

Yu-dan terdiam seribu bahasa. Namun sesaat kemudian, ia kembali merengut.

"Tapi kamu tetap mengerjaiku, kan?"

"Ketahuan ya."

Senyum tipis muncul di wajah rubah. 

Tiba-tiba, si kembar siluman ginseng masuk membawa sapu dan kain pel. Sepertinya mereka mau membersihkan ruangan. Melihat Yu-dan sudah bangun, mereka berdua tampak senang.

"Tuan Muda, kamu sudah kembali dengan selamat membawa neok-bojagi! Bagus sekali! Kakak perempuan anak itu pasti sangat senang!"

"Benar-benar kerja bagus! Padahal itu pasti tidak mudah!"

Setelah memuji, mereka mendekat dan bertanya.

"Ngomong-ngomong, bagaimana dunia di sana? Kamu pasti mendapat pelajaran berharga untuk hidup sehat dan rajin, kan? Seru, kan? Sesekali berkunjung ke sana saat kamu merasa bosan atau tidak bersemangat bukan ide buruk, kan?"

"Bukan begitu. Menurutku riasan kita terlalu bagus. Kamu pasti sangat menikmati petualanganmu di dunia para makhluk dunia bawah sebagai Yeok-gwi. Lihat, wajahmu seolah-olah sudah merindukan tempat itu. Kita harus menyingkirkan semua alkohol dan rokok di lantai bawah, lalu memeganginya erat-erat agar dia tidak menyeberang saat lampu merah."

Yu-dan merasa kesal.

"Tenang saja! Aku tidak akan mati! Riasannya memang bagus tapi akhirnya ketahuan juga. Gara-gara tempayan aneh yang terus membesar saat dilihat manusia. Aku hampir saja dimakan kalau tidak segera lari……. Tunggu sebentar. Kenapa di sana aku tiba-tiba berubah jadi anak kecil?"

"Kamu baru menanyakan itu sekarang?"

Baek-ran mengeluarkan sebuah botol labu dan menjawab.

"Sederhana saja. Karena inilah yang aku ambil darimu."

Begitu ia membuka tutupnya, sesuatu tersedot masuk ke dalam dada Yu-dan. Bahunya terasa sedikit lebih berat.

"Apa ini?"

"Tanggung jawab."

"Tanggung jawab?"

"Benar. Anak kecil tidak tahu apa itu tanggung jawab. Itulah perbedaan terbesar antara manusia dengan siluman, monster, dan hantu. Mereka tidak bertanggung jawab. Mereka akan melakukan apa pun selama itu menyenangkan, dan mereka juga cepat bosan. Jika ada sesuatu yang berharga, mereka akan merebutnya tanpa memikirkan akibatnya, dan setelah mendapatkannya, mereka tidak akan mau mengembalikannya."

Baek-ran menempelkan jimat kecil pada bungkusan jiwa.

Saat ia melepaskannya ke luar jendela, kain itu melayang tinggi ke langit. Yu-dan memperhatikannya, lalu tiba-tiba teringat sesuatu.

"Mungkin bukan itu saja. Bunga jiwa terakhir yang kembali padaku adalah ingatan milik si pencuri jiwa yang menempel di kain itu, kan? Kalau begitu, mungkinkah mereka hanya merasa kesepian? Mungkinkah mereka hanya tidak ingin sendirian, apa pun caranya?"

Tidak ada yang menjawab. Hal semacam itu, sepertinya semua siluman sudah tahu tanpa perlu diucapkan.

"Begitu ya. Kalau nanti kita bertemu lagi, saat itu……."

"Bersikaplah lebih lembut padanya."

Siluman rubah itu berkata seolah bisa membaca pikiran.

Di langit di balik kepalanya, bungkusan jiwa yang seperti balon putih itu perlahan melintasi langit malam untuk kembali kepada pemiliknya.

 

Terkadang, kita ingin melewati jalan yang berbeda dari yang biasa kita lalui.

Yu-dan menghentikan sepedanya sejenak.

Ia sempat ragu, tapi ternyata…… dugaanku benar.

Saat hari mulai gelap dan lampu jalan mulai menyala satu per satu. Di taman bermain yang sudah sepi karena semua orang sudah pulang, tampak seorang siswi berseragam dan seorang bocah kecil sedang bermain bola. Sepertinya mereka sedang bertaruh siapa yang bisa menangkap bola yang dilempar. Mereka terlihat sangat bahagia.

"Ini pasti tidak bisa kamu tangkap!"

Bola yang dilempar sekuat tenaga oleh si bocah mengenai tiang besi dan memantul ke arah Yu-dan. Bola itu mengenai kakinya dan berputar di sana.

"Maafkan kami!"

Kakak beradik itu teriak serempak. Si bocah berlari untuk mengambil bola. Saat ia menerima bola yang diberikan Yu-dan, tiba-tiba ia tersentak dan menatap wajah Yu-dan lekat-lekat.

"Ah……?"

Sepertinya ia pernah melihatnya. Tapi di mana ya?

Begitulah ekspresi wajahnya.

"Sedang apa?"

Si kakak perempuan berjalan mendekat dengan cepat.

Tatapannya yang penuh curiga memperhatikan Yu-dan dari atas sampai bawah. Apa yang dilakukan siswa SMA sendirian di taman bermain jam begini? Apa dia benar-benar tinggal di apartemen ini? Apa dia murid nakal? Berbagai kecurigaan terpancar dari matanya saat ia menarik adiknya yang masih berdiri melamun.

"Ayo pulang. Bukankah kita berjanji mau membersihkan rumah sebelum Ayah dan Ibu pulang untuk memberi mereka kejutan?"

"Ah, benar juga!"

Si bocah langsung berbalik pergi.

Yu-dan memperhatikan punggung kakak beradik itu.

Seperti kata siluman rubah.

Mereka tidak ingat apa-apa. Mimpi buruk sudah berakhir, dan sekarang mereka harus kembali ke dunia yang seharusnya. Memang begitulah hukum alamnya.

Tapi…….

Setelah berjalan beberapa langkah, sang kakak memiringkan bahunya sedikit dan menjulurkan tangannya ke bawah. Adiknya mengangkat tangan tinggi-tinggi. Dua tangan dengan ukuran yang berbeda itu bertaut. Dan mereka saling menggenggam erat seolah tidak akan pernah melepaskannya lagi.

Hanya karena tidak ingat, bukan berarti tidak pernah terjadi apa-apa.

Meskipun otak mungkin lupa, tapi hati pasti tahu.

Yu-dan berbalik. Perasaannya sedang tidak buruk.

......................... 

Glosarium Istilah:

  • Mumyeon (무면): Tanpa wajah.
  • Bunga Sukma (Neok-kkot): Manifestasi ingatan dalam bentuk bunga.
  • Chima-jeogori: Pakaian tradisional perempuan Korea.
  • Yeok-gwi: Hantu pembawa wabah.


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Login untuk akses konten

Konten yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu untuk akses

Konten Terkunci

Konten ini khusus untuk supporter aktif

Konten yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Support sekarang melalui halaman profil untuk membuka konten ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu