BAGIAN 1-5
Kami lepas landas dari Haneda sekitar pukul delapan lewat. Sambil merenungkan percakapan yang tergesa-gesa serta gejolak emosi hingga hari ini, tak terasa penerbangan selama dua jam itu membawa kami tiba di Bandara Kagoshima.
Begitu keluar dari lobi kedatangan, tujuan pertama kami adalah tempat penjemputan mobil sewaan. Aku sudah memesannya melalui internet sebelumnya. Cuacanya cerah tanpa awan. Meski sekarang pertengahan Februari, udara dinginnya tidak terasa menyiksa karena ini adalah ujung paling selatan pulau utama. Setelah menunggu sekitar lima menit di halte depan gedung terminal, mobil jemputan pun datang.
Saat proses administrasi di gerai, aku baru tahu bahwa nama Mima ternyata hanyalah nama panggung. Misumi Haruhito adalah nama aslinya. Mungkin karena itu pula petugas di sana tidak menyadari bahwa dia adalah aktor ternama.
Mima menyetir sekitar satu jam dari bandara menuju sebuah museum dokumen yang letaknya tak jauh dari bekas pangkalan udara Angkatan Darat. Mungkin karena jarang ada yang berkunjung di musim dingin, suasana di dalam cukup sepi meski ini hari Sabtu. Museum itu memamerkan berbagai dokumen yang berkaitan dengan Tokkotai—pasukan serangan khusus.
Sekitar delapan puluh tahun yang lalu, saat kekalahan dalam perang besar mulai membayangi negeri ini, sebuah strategi nekat dijalankan: memuati pesawat atau kapal dengan bom untuk menabrakkan diri ke kapal musuh. Mereka yang ditugaskan itulah yang disebut pasukan serangan khusus, atau singkatnya Tokkotai.
Foto-foto, surat, hingga barang peninggalan para anggota pasukan yang dipajang di sini bukan untuk mengagungkan tindakan mereka. Tempat ini ada untuk mencatat bahwa setiap orang yang menjadi korban pernah hidup di dunia ini, pernah menjadi sosok berharga bagi seseorang, serta untuk menyampaikan betapa pedih dan mengerikannya perang serta betapa berharganya nyawa manusia.
Letnan Hirata, Prajurit Dua Kaneda, dan Sumiko... mereka benar-benar pernah ada. Begitu juga sang ibu pemilik kantin, tim prajurit, dan keluarga mereka. Anak-anak yang diselamatkan sang Letnan, serta banyak orang lain yang tidak muncul dalam film, semuanya pernah menjalani hidup di zaman ini. Benar-benar ada orang-orang yang mendoakan kebahagiaan orang tercinta sambil berjuang melawan ketakutan akan kematian.
Aku tidak bisa membaca kata-kata terakhir mereka tanpa meneteskan air mata. Alasannya bukan sekadar simpati, bukan juga karena rasa kasihan. Meski sudah melihat foto dan membaca surat mereka, aku tetap tidak benar-benar paham apa yang mereka rasakan saat itu. Namun, aku merasakan kemarahan atas martabat, tekad, dan nyawa manusia yang dirampas secara paksa, hingga rasa sedih yang mendalam menyergapku.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu menyentuh kepalaku, lalu rambutku diusap pelan. Aku tahu dia tidak bermaksud sekadar menghiburku. Dia hanya sedang melihat hal yang sama dan berbagi perasaan yang serupa denganku. Aku merasa lega karena tidak sendirian di tempat ini. Kehangatan dari telapak tangannya seolah menyampaikan perasaan tersebut. Di saat yang sama, aku menjadi yakin sepenuhnya. Orang yang mencoba membunuhku di kehidupan pertama pastinya bukan pria ini.
Setelah berkeliling selama sekitar dua jam, saat kami keluar dari museum waktu sudah menunjukkan pukul satu siang lewat. Kami makan siang di dekat sana, melihat miniatur pesawat tempur dan peninggalan sejarah lainnya, lalu berkunjung ke kantin yang konon sering didatangi para siswa sekolah penerbangan. Itulah tempat yang menjadi model kantin yang dikelola ibu Sumiko di dalam film.
Kantin di film kami memang dibuat set syutingnya berdasarkan referensi tempat ini. Begitu melangkah masuk, aku merasakan nostalgia seolah baru saja pulang ke sarang lama. Sekarang tempat ini tidak lagi beroperasi sebagai kantin, melainkan hanya memajang dokumen dan foto saja.
Sepertinya Mima sudah menentukan semua tujuan perjalanan ini sebelumnya. Sepanjang jalan dia tidak melihat buku panduan atau ponsel, hanya bertanya "Aku mau ke sini setelah ini, boleh?" sambil memasukkan alamat ke navigasi. Aku yang tidak punya rencana apa pun hanya bisa mengikutinya saja.
Pria ini sulit ditebak pikirannya, namun mungkin saja dia memikirkan banyak hal melebihi dugaanku. Dia pasti tipe orang yang menyusun rencana dengan sangat rapi saat bepergian. Apakah yang seperti ini disebut "terbiasa berkencan"? Pikiran itu tiba-tiba melintas dan aku buru-buru menepisnya—ini bukan kencan.
Membaca teks penjelasan dan merenungkan setiap barang pajangan itu ternyata cukup menguras tenaga. Belum lagi situasi di mana Mima terus berada di sampingku selama dua puluh empat jam penuh benar-benar membuatku tegang. Saat selesai melihat kantin, aku sudah merasa lelah secara mental.
Waktu sudah lewat pukul empat sore, dan aku mulai ingin bersantai di hotel. Meski aku mencoba tetap tegar, mungkin rasa lelah itu terpancar di wajahku. Saat aku masuk ke mobil dan mengecek jam tangan, Mima bertanya dengan nada yang sedikit lebih ragu dari sebelumnya.
"Ada satu tempat lagi yang ingin aku datangi, boleh?"
"Ke mana?" jawabku.
Jujur saja, jika harus pergi ke museum dokumen lagi rasanya mentalku sudah tidak sanggup. Kapasitas otakku sepertinya sudah hampir penuh.
"Nagasaki-bana."
Itu nama yang baru pertama kali aku dengar. "Nagasaki-bana?" aku mengulanginya dengan bingung. Di Kagoshima tapi ada nama Nagasaki? Kepalaku dipenuhi tanda tanya.
"Tanjung di ujung paling selatan Semenanjung Satsuma," jelasnya.
Mima mulai menjalankan mobilnya perlahan. Biasanya dia tipe orang yang tidak sabaran, namun cara menyetirnya jauh lebih halus daripada manajerku, Shiraki-san.
"Terserah kamu saja," jawabku pelan.
Sambil melihat pemandangan yang berlalu, aku mencoba mengingat peta Kagoshima. Prefektur Kagoshima memiliki dua semenanjung yang menjorok ke selatan seperti kaki. Aku ingat namanya Semenanjung Satsuma dan Semenanjung Osumi, namun aku selalu bingung mana yang di barat dan mana yang di timur.
Karena sekarang kami berada di sisi barat, berarti berdasarkan pembicaraan tadi, Semenanjung Satsuma adalah yang di barat. Hotel tempat kami menginap ada di Ibusuki, yang setahuku berada di sisi timur semenanjung ini. Kata "tanjung" biasanya merujuk pada daratan yang menjorok ke laut. Berarti tempatnya sudah dekat dari sini.
Setelah melewati deretan bangunan tua, pemandangan berubah menjadi pedesaan dengan hamparan ladang dan pegunungan. Di sela-selanya terdapat pemukiman kecil. Tak lama kemudian rumah-rumah penduduk menghilang, berganti dengan pemandangan luas semak belukar hijau yang rendah.
"Banyak sekali tanaman serupa yang ditanam di sana. Apa itu?" tanyaku.
"Sepertinya kebun teh. Katanya jika sedang musim tunas baru, pemandangannya jauh lebih cantik dari sekarang."
Di musim dingin seperti sekarang warnanya hijau kusam, namun di musim tunas baru pasti hijaunya akan sangat segar. Aku bisa membayangkan hamparan warna hijau muda di bawah langit biru. Aku hampir saja berkata "Lain kali kita datang di musim itu", namun aku buru-buru menelan kata-kata tersebut. Karena terus bersama sejak pagi, aku jadi menganggap situasi sekarang sebagai hal yang wajar.
Padahal tidak akan ada "lain kali". Aku dan Mima bukan teman, apalagi kekasih. Kami hanya rekan main film. Begitu syuting film ini selesai, hubungan ini pun akan berakhir.
"Pasti cantik sekali," jawabku singkat setelah sempat bimbang, sambil tetap menatap hamparan hijau kusam di kejauhan.
Fakta bahwa itu kebun teh dan informasi bahwa musim tunas baru itu cantik pasti sudah dia cari tahu sebelumnya. Mima sedang menyetir jadi dia tidak bisa menikmati pemandangan dengan santai, maka dia mencari tahu semua itu untukku. Rasanya itu saja sudah cukup bagiku.
Dasarnya kami berdua memang bukan orang yang pandai bicara. Percakapan berakhir di sana, dan keheningan di dalam mobil kembali diisi oleh suara penyiar radio yang ceria. Sambil merasa canggung mendengar lagu cinta yang sesekali diputar, akhirnya laut mulai terlihat dan kami tiba di tempat bernama Nagasaki-bana itu.
Mungkin karena sedikit turis, tempat parkirnya hanya cukup untuk belasan mobil saja. Hanya ada dua mobil yang sudah parkir, dan Mima memarkir mobilnya di tempat yang kosong di bagian dalam. Di ujung tempat parkir terdapat jalan setapak, dan di sisinya terlihat bangunan dengan papan nama toko oleh-oleh.
Begitu turun dari mobil, angin dingin langsung merampas suhu tubuhku hingga aku menggigil. Karena dekat laut, anginnya jauh lebih kencang dan jauh lebih dingin daripada di daratan tadi. Kami masing-masing membuka pintu kursi belakang untuk mengambil mantel dan jaket yang kami letakkan di sana. Karena turis sepi, kami tidak memakai masker maupun kacamata hitam.
Mima yang memakai jas pasti jauh lebih kedinginan dariku. Kenapa juga dia repot-repot ke ujung semenanjung ini dalam kondisi sedingin ini? Tujuan perjalanan ini adalah untuk mengenal Tokkotai, merasakan apa yang dipikirkan Letnan Hirata dan Kaneda, serta bagaimana mereka hidup. Aku tidak paham kenapa dia mampir ke tempat yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan Tokkotai dan jauh dari sekolah penerbangan ini. Tidak mungkin dia ternyata penggemar pemandangan tanjung.
Mima memberi isyarat dengan tatapannya agar aku mengikutinya ke jalan setapak. Rasanya agak malu jika berjalan bersandingan, jadi meski jalannya lebar, aku berjalan setengah langkah di belakangnya. Di sepanjang jalan setapak yang dikelilingi pepohonan itu terdapat beberapa toko oleh-oleh yang tersebar. Tak lama kemudian bangunan dan pepohonan menghilang, pandangan terbuka luas dan laut pun terlihat.
Mima yang berjalan setengah langkah di depanku berhenti, lalu menoleh ke arah kanan. Aku pun ikut mengalihkan pandanganku ke sana.
"Kaimon-dake..." gumamku tanpa sadar. Aku sudah berkali-kali melihat nama gunung itu hari ini. Gunung berbentuk kerucut yang indah itu konon disebut juga sebagai Satsuma Fuji.
Gunung itu seharusnya berada di semenanjung yang sama dengan tempat kami berpijak sekarang, namun karena Nagasaki-bana ini menjorok ke arah laut, gunung itu terlihat seperti terpisah oleh lautan. Di balik Kaimon-dake itu, matahari mulai terbenam.
Di saat itulah aku mengerti kenapa harus ke sini. Dia ingin memperlihatkan Kaimon-dake yang terlihat dari balik laut itu padaku. Daratan utama terakhir yang dilihat oleh para anggota pasukan Tokkotai. Konon para anggota yang terbang menuju Okinawa untuk serangan khusus akan menoleh berkali-kali ke arah gunung itu untuk berpamitan pada kampung halaman dan orang-orang tercinta, demi memantapkan tekad mereka.
Dan Kaneda... dia juga terbang dari pangkalan bersama rekan-rekannya dengan tekad mati, namun hanya dia yang selamat dan kembali ke daratan utama. Dia pasti melihat pemandangan ini juga dari atas kapal saat dalam perjalanan pulang.
"Mungkin kamu akan memahami sesuatu jika melihat pemandangan yang dulu dilihat oleh Kaneda."
Kata-kata Mima beberapa hari yang lalu terngiang di benakku. Pemandangan inilah yang paling ingin dia perlihatkan padaku. Pemandangan yang pasti pernah dilihat oleh Letnan Hirata dan Prajurit Dua Kaneda. Mengingat hal itu, air mataku kembali tumpah entah untuk yang ke berapa kalinya hari ini.
Mima yang sempat menoleh ke arahku sepertinya menyadari air mataku, lalu dia kembali membuang pandangannya ke gunung di kejauhan.
"Ini cuma pemikiranku saja, jadi dengarkan sebagai referensi saja," ucapnya dengan nada yang lebih tenang dari biasanya, seolah sedang meresapi setiap katanya. "Aku rasa... Kaneda yang kembali dari perang merasa bahagia saat melihat Sumiko dan bayinya..."
Aku juga memikirkan hal yang sama. Dia terbang dari pangkalan dengan tekad mati demi negara, namun rekan-rekannya semua gugur dan hanya dia yang selamat karena ditolong gurunya. Saat perang berakhir dan dia melihat kembali daratan utama terakhir dari atas kapal, hati Kaneda pasti terasa kosong dan hampa. Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan hidup hanyalah tekad untuk menyampaikan pesan terakhir Letnan Hirata pada Sumiko. Mungkin saja dia berpikir akan bunuh diri setelah menyampaikan pesan itu.
Tapi dia bertemu kembali. Dengan Sumiko yang berhasil bertahan hidup di tengah kobaran perang. Dan dengan anak sang Letnan yang terlahir ke dunia. Bukti bahwa sang Letnan dan rekan-rekannya pernah hidup. Saat itu, Kaneda yang menangis tersedu-sedu...
"Aku rasa... dia merasa bahagia," Mima mengulangi kata-katanya dengan sedikit lebih tegas. "Bukan cuma soal sang Letnan. Fakta bahwa ada bukti hidup dari semua rekan-rekannya yang telah gugur di sana... Rasanya kebahagiaan itu sanggup membalikkan semua penyesalan, rasa malu, hingga seluruh beban hidupnya... Aku rasa dia sangat bahagia."
Itulah sebabnya dia memutuskan untuk hidup. Dia menetapkan bahwa alasan hidupnya adalah untuk menjaga bukti hidup Letnan Hirata dan segala hal yang dilindungi rekan-rekannya dengan nyawa mereka. Matahari terbenam di balik Kaimon-dake, mewarnai langit, lereng gunung, dan lautan dengan warna senja yang lembut. Pemandangan yang pernah dilihat oleh seseorang di masa lalu. Daratan utama terakhir yang terlihat kabur karena air mataku itu terasa sedih, namun sekaligus memberikan harapan.
Setelah berkendara sekitar dua puluh menit dari Nagasaki-bana, kami tiba di hotel tempat kami menginap. Letaknya di ujung timur semenanjung, berlawanan dengan Kaimon-dake, dan juga menghadap ke laut. Padahal sebelumnya aku sudah minta tolong agar mencari penginapan yang tidak terlalu mahal, tapi yang ada di depanku sekarang adalah sebuah ryokan bergaya Jepang murni yang terlihat sangat mewah.
Meskipun dia bilang bayarnya nanti saja kalau aku sudah sukses, tapi jika ditambah tiket pesawat, rasanya gaji sebulanku sebagai aktor pun tidak akan cukup untuk melunasinya. Bisakah aku membatalkan bagianku saja? Tapi jika dibatalkan sekarang pasti tetap kena biaya pembatalan. Di musim dingin begini sulit kalau harus tidur di mobil, dan rasanya mustahil bisa menemukan penginapan murah di dekat sini secara mendadak.
Selama aku termenung di kursi penumpang, Mima juga tidak segera turun. Di bawah cahaya redup lampu kabin yang menyala otomatis, dia menatap wajahku yang lelah dengan lekat.
"Soal nama..."
"Eh?" aku tersentak.
"Kalau panggil pakai nama keluarga mungkin rahasia kita bisa terbongkar, jadi di dalam penginapan nanti bagaimana kalau kita panggil pakai nama kecil saja?"
Tanpa menunggu jawabanku, Mima mengambil kacamata tanpa bingkai dari wadah di antara kursi kami, memakainya, lalu mengenakan masker. Itu kacamata baca tanpa ukuran untuk penyamaran. Di museum tadi pun dia memakai itu saat berkeliling, bukan kacamata hitam.
"Jadi, aku panggil kamu 'Haru'?" ucapku spontan. Itu semua gara-gara memori dari kehidupan pertamaku.
"Kalau begitu, panggil nama kecilku."
"Panggil tanpa sebutan kehormatan."
Kata-kata yang dibisikkan di telingaku itu membekas sangat kuat dalam ingatanku. Mata tajam di balik kacamata itu sedikit membelalak. Sesaat, dia mengernyitkan alis dan wajahnya tampak menahan sakit, namun dia segera membuang muka seolah ingin menghindar.
"Biasanya pakai imbuhan '-san'," jawabnya pelan.
Dari suaranya dia tidak terlihat marah, tapi aku merasa sudah melakukan kesalahan besar. Dulu saat dia minta dipanggil tanpa embel-embel, itu pasti karena dia tidak ingin sadar bahwa orang yang sedang dia tiduri itu adalah aku. Setelah berputar kembali dan tahu bahwa Yumi memanggilnya "Haru", aku baru sadar alasan permintaan anehnya waktu itu. Di kehidupan pertama saat aku jadi Omega pun aku tidak rasa aku bisa menggantikan wanita itu, apalagi sekarang saat aku jadi Beta. Jika aku memanggilnya dengan cara yang sama seperti Yumi, aku hanya akan terlihat sebagai orang yang tidak tahu sopan santun.
Rasanya jarak yang sempat memendek sepanjang hari ini tiba-tiba menjauh kembali ke posisi semula. Padahal logikaku bilang lebih baik tidak terlalu dekat, tapi kenapa aku selalu lengah.
"Aku cuma bercanda! Mana berani aku memanggil seniorku tanpa embel-embel! Aku panggil 'Haru-san' saja, boleh?" aku tertawa kering untuk menutupi rasa ingin menangis di hatiku. "Kamu boleh panggil aku Natsuki atau Natsu, panggil sesukamu saja." Aku tidak berani menatap matanya, berbicara cepat sambil melepas sabuk pengaman, lalu turun dari mobil.
Dia hanyalah senior di dunia akting yang berbaik hati padaku demi menghasilkan karya yang lebih baik. Aku ingin membuang semua perasaan tidak penting selain rasa terima kasih padanya.
Bangunan beton yang megah setinggi tujuh atau delapan lantai itu memiliki lobi di lantai satu yang dihiasi atap genting dan pilar kayu bergaya Jepang murni. Begitu melewati pintu otomatis, kehangatan kayu meruap di lobi yang luas. Rasanya aliran waktu di sini menjadi lebih lambat. Lantainya dilapisi karpet empuk, di sisinya berjajar lemari kaca yang memajang guci antik serta lukisan kaligrafi yang seolah memancarkan aroma tinta. Suasananya bergaya modern, namun tetap tradisional. Di ujung koridor terdapat ruang santai dengan deretan sofa yang rapi, dan dari balik kaca terlihat taman dalam yang artistik.
Selagi Mima melakukan proses lapor masuk di resepsionis, aku duduk di sofa ruang santai untuk melepas lelah. Dari ruang santai yang berdinding kaca penuh itu, aku bisa melihat laut biru tua yang mulai tertutup tirai malam. Di antara langit ungu kebiruan, garis cakrawala terlihat samar. Sambil asyik menatap pemandangan itu, tiba-tiba terdengar suara "Natsu" dari belakang. Panggilan yang tidak biasa itu membuat jantungku mencelos.
Aku menoleh dan mendapati Mima berdiri bersama seorang wanita paruh baya berpakaian kimono yang sepertinya pelayan penginapan. Aku buru-buru berdiri.
"Terima kasih sudah berkunjung ke penginapan kami," ucap pelayan senior itu sambil membungkuk dalam. Aku pun ikut menunduk, "Terima kasih atas bantuannya."
"Kami menyediakan layanan teh matcha sebagai minuman selamat datang, apakah sang Istri juga ingin teh matcha? Kami juga menyediakan jus sebagai gantinya," tanya pelayan itu setelah aku mengangkat wajah.
Aku tertegun. Jika aku tidak salah dengar... dia tadi bilang "Istri", kan?
"Tolong teh matcha untuk kami berdua," jawab Mima mewakili aku yang masih terpaku dengan mulut setengah terbuka.
Pelayan itu mengangguk kecil lalu menghilang ke bagian dalam lobi. Mima meletakkan barang bawaan dan duduk di sofa di sampingku. Aku pun ikut duduk pelan-pelan sambil tetap menatap wajahnya.
"Anu, tadi... sepertinya aku salah dengar. Rasanya tadi dia bilang 'Istri', tapi itu cuma salah dengar, kan?"
"Bukan salah dengar. Aku mendaftarkanmu sebagai istriku," jawab Mima tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Hah..." aku melongo.
Hampir saja aku berteriak, namun Mima langsung membekap mulutku dengan tangannya dari balik masker. "A-Apa maksudmu!?" inginnya aku bicara begitu, tapi yang keluar cuma suara merintih karena mulutku dibekap.
"Aturannya makan malam itu di ruang makan bersama, tapi aku bilang 'istriku sedang mengalami mual-mual kehamilan yang parah jadi aku ingin makan di kamar'. Akhirnya kami diizinkan makan di kamar. Ruang makan bersama itu bukan ruangan tertutup penuh, jadi ada risiko wajah kita terlihat orang lain," jelasnya.
Memang benar, jika pengunjung lain sadar, bisa saja mereka mengambil foto sembarangan dan mengunggahnya ke media sosial. Karena penampilanku sebagai pria Omega tidak terlihat aneh, jika dibilang istri yang sedang hamil, pasti pelayan akan percaya. Tapi tetap saja...
Mima melepaskan tangannya setelah yakin aku tidak akan berteriak lagi.
"Harusnya bilang dulu, dong!" bisikku sambil melotot tajam padanya.
"Tadinya mau kubicarakan di mobil, tapi kamunya..."
Kamunya apa? Gara-gara aku bilang "boleh panggil Haru?" jadi dia lupa bicara? Mima menelan kembali kata-katanya lalu menggelengkan kepala pelan.
"...Maaf. Ini seratus persen salahku. Maaf sudah menjadikanmu istri tanpa izin."
Yah, bukan begitu... Bukannya aku tidak suka dijadikan istri... Tapi jika dia minta maaf dengan wajah serius begitu, aku malah merasa tidak enak hati.
"Ah, tidak... aku cuma kaget saja. Kamu sudah memikirkan banyak hal untukku, maaf malah aku protes," aku tertawa kering untuk menutupi rasa canggung.
Tak lama kemudian, pelayan tadi kembali membawa dua mangkuk matcha dan kue tradisional di atas nampan. Aku menekan rasa kesalku dan mencoba memasang wajah ramah. Karena waktu makan malam dan tidak ada tamu lain di sekitar, kami melepas masker dan menikmati matcha yang konon dibuat langsung oleh pemilik penginapan. Pelayan itu tidak menyadari identitas asli kami, malah mulai bercerita tentang kuil terdekat yang terkenal untuk mendoakan kelancaran persalinan.
...Ngomong-ngomong, di buku panduan dari klinik kandungan dulu pernah tertulis bahwa selama hamil harus membatasi asupan kafein. Sambil meniup matcha untuk mendinginkannya, aku teringat buku panduan yang dulu kupandangi dengan hampa saat merasa putus asa. Mungkin itulah alasan dia bertanya "Istri juga ingin matcha?". Jika mau berpura-pura jadi istri yang baik, harusnya aku menahan diri dari kafein demi si bayi. Teh matcha yang kuminum untuk pertama kali itu rasanya pahit sekali.
Dengan sisa rasa pahit di lidah, kami diantar melewati koridor penghubung menuju paviliun terpisah. Sepertinya semua kamar di paviliun ini dilengkapi dengan pemandian air panas terbuka (rotenburo). Jika ke pemandian umum, kami harus melepas kacamata dan masker, jadi risiko ketahuan akan lebih besar. Sepertinya itulah alasan dia memilih kamar dengan pemandian pribadi. Pastinya harganya jauh lebih mahal daripada kamar biasa.
Begitu melangkah masuk ke kamar, aku kembali terpesona. Ruangannya luas dengan dua tempat tidur besar yang berjajar, bahkan ada ruang bergaya Jepang dengan meja penghangat (kotatsu) tanam. Bagiku yang biasanya cuma menginap di kamar tunggal hotel bisnis, ini terasa semewah kamar suite hotel kelas satu.
Karena waktu makan malam, hidangan segera diantarkan ke meja di ruang Jepang. Selagi menunggu, Mima masuk ke pemandian air panas di dalam kamar. Saat keluar, rambutnya tidak basah, sepertinya dia cuma berendam sebentar untuk menghilangkan keringat. Tapi, sosoknya yang memakai jubah yukata longgar dengan uap air beraroma sabun yang meruap darinya memancarkan aura seksual yang sulit untuk tidak dilihat. Aku mencoba sekuat tenaga agar tidak menatap bagian dadanya yang maskulin, hingga gerak-gerikku jadi kaku sekali.
Mima duduk lebih dulu di kursi tanpa kaki (zaisu), sementara aku malah duduk bersimpuh di atas lantai tatami, agak jauh dari meja.
"Mima-san."
"Haru."
Dia membetulkan panggilanku lagi. Kenapa? padahal cuma ada kita berdua di sini, panggil seperti biasa kan tidak apa-apa.
"Haru-san," aku mengoreksinya dengan patuh, menganggap ini bagian dari latihan. "Terima kasih sudah membawaku ke sini." Aku membungkuk dalam sampai dahiku menyentuh tatami.
Saat aku mengangkat kepala, aku bertatapan dengannya yang tampak salah tingkah atau mungkin bingung sampai alisnya turun.
"Apakah perjalanannya sedikit membantumu?" tanyanya.
"Iya. Berkat kamu, rasanya aku mulai menemukan sesuatu. Suatu saat nanti aku pasti akan membalas budi ini."
"Kamu berlebihan," Mima tertawa kecil hingga sudut matanya melunak. "Tidak perlu balas budi. Ini cuma tanda terima kasih karena kamu selalu buatkan makan malam untukku. Soal bayar nanti kalau sukses, sebenarnya aku tidak berniat minta ganti rugi. Soalnya aku juga punya tujuan sendiri."
Tujuan apa? Aku penasaran, tapi dia segera mengalihkan pembicaraan dengan berkata "Makanannya nanti dingin". Merasakan dia tidak ingin ditanya lebih lanjut, aku pun menelan kembali pertanyaanku.
"Jika makan semua ini, program dietnya bisa langsung gagal total," ucapku ceria untuk mencairkan suasana. Kenyataannya, melihat hidangan mewah di depan mata, rasa gundahku sejak sampai di penginapan tadi langsung menguap.
Ada irisan sashimi segar yang tebalnya tidak pernah kulihat di supermarket, serta daging babi hitam (kurobuta) dengan lemak yang halus. Sup bening berisi bola ikan tenggiri (sawara) menebarkan aroma jeruk yuzu, dan uap air mengepul dari panci kecil untuk shabu-shabu porsi perorangan. Nasi putih yang berkilau, telur kukus (chawanmushi) berwarna keemasan dengan hiasan daun mitsuba, tempura ikan khas daerah (satsuma-age dan kibinago), tumisan bunga nanohana, hingga tahu wijen. Meja itu penuh sesak dengan makanan yang kalorinya pasti tiga kali lipat makan malamku biasanya.
Kukira Mima akan minum alkohol hari ini, tapi dia malah minum teh juga, sepertinya dia menyesuaikan diri denganku. Padahal di kehidupan pertama dia minum anggur, jadi sepertinya dia bukan orang yang tidak bisa minum alkohol.
Kami merapatkan tangan untuk berdoa lalu mulai menyantap sashimi. Sesuai dugaan, semuanya sangat lezat hingga aku merasa terharu. Tapi setelah terus menggerakkan sumpit dan memuji kelezatannya berkali-kali, keheningan mulai terasa mengganggu. Mungkin karena ini tempat asing, padahal biasanya tidak masalah jika kami sedang berdua tanpa bicara. Satu-satunya topik yang sama adalah soal syuting film, tapi jika membicarakan itu, suasana pasti akan jadi muram karena teringat apa yang kami lihat hari ini.
Aku mencoba mencari topik ringan, lalu teringat sesuatu.
"Mi... Haru, kenapa kamu memutuskan jadi aktor?"
Tepat setelah mengucapkannya, aku tersadar bahwa aku menanyakan hal yang sama di kehidupan pertamaku dulu. Mima menghentikan sumpitnya. Melihatnya berpikir keras untuk menjawab, aku merasa heran. Di kehidupan pertama, pembicaraan ini terjadi saat sesi pillow talk setelah kami berhubungan intim karena masa Heat yang tak terduga. Saat itu kami mengobrol untuk mengusir rasa canggung dan bersalah. Tapi waktu itu dia menjawab cepat, "Karena aku direkrut oleh presiden agensi". Aku membalas kalau aku juga direkrut oleh direktur agensiku, lalu pembicaraan selesai.
"Keluargaku dulu punya banyak masalah, rasanya tidak nyaman di rumah..."
Mima memberikan jawaban yang berbeda dari ingatanku. Dia mulai menggerakkan sumpitnya lagi sambil bercerita dengan tenang. Pandangannya tertuju pada makanan, tapi dia tidak terlihat terpaksa bercerita. Aku pun kembali makan dan menyimak ceritanya dengan seksama.
Ternyata ibu Mima yang seorang Omega adalah istri kedua. Antara Alpha dan Omega ada hubungan khusus yang disebut bond (ikatan). Saat berhubungan intim di masa Heat, Alpha akan menggigit tengkuk Omega untuk membuat ikatan tersebut, dan konon ikatan itu tidak bisa diputus. Jika sudah terikat, Alpha maupun Omega hanya akan bereaksi terhadap feromon pasangannya saja. Masalahnya, meskipun Omega cuma bisa punya satu pasangan, seorang Alpha bisa mengikat banyak Omega sekaligus.
Dulu obat penekan masa Heat itu harganya mahal dan tidak semua orang bisa membelinya. Maka ada sistem di mana orang yang sudah menikah pun bisa didaftarkan sebagai istri atau suami kedua di kartu keluarga jika mereka terikat karena kecelakaan masa Heat. Kabarnya tidak sedikit Alpha yang sengaja berpura-pura kecelakaan demi mengikat Omega favorit mereka jadi istri kedua. Mima tidak menjelaskan detailnya, namun nada bicaranya yang penuh kebencian saat bilang "Ayahku memaksanya untuk terikat" membuatku sadar bahwa itu bukan keinginan ibunya.
Dia tidak tinggal bersama ayahnya untuk waktu yang lama, namun setelah ibunya meninggal karena sakit saat dia SMP, dia ditarik ke rumah utama ayahnya. Tentu saja di sana ada istri sah dan anak-anaknya, sehingga Mima merasa sangat terasing.
"Sampai SMP aku masih mencoba bertahan... tapi saat SMA, aku jadi tidak ingin bertemu dengan keluarga di rumah. Aku selalu menghabiskan waktu di luar sampai waktu makan malam selesai. Saat sedang luntang-lantung itulah aku bertemu presiden agensi dan Yumi..."
Mendengar nama itu, jantungku berdegup kencang. Aku tahu Yumi dulu satu agensi dengannya, tapi aku tidak menyangka mereka sudah kenal sejak SMA. Agar tidak ketahuan sedang gelisah, aku mencoba tetap tenang sambil meminum supku.
"Mereka berdua ikut klub teater universitas. Waktu itu aku kelas dua SMA, presiden sudah tingkat tiga, dan Yumi tingkat satu. Saat aku sedang menonton pemuda yang berisik di pinggir sungai, tiba-tiba Chu-san memanggilku."
Aku ingat nama presiden agensi Applause itu Katagiri Tadayuki. Jadi dia panggil Chu-san. Sepertinya waktu itu mereka sedang latihan teater.
"Karena ada satu orang yang tidak bisa datang bekerja paruh waktu, dia tiba-tiba memaksaku memerankan peran itu kalau aku punya waktu luang."
Mima menatap ke luar jendela dengan mata yang menyipit penuh nostalgia. Aku merasa iri melihat Mima bisa menunjukkan wajah seperti itu saat membicarakan presiden agensi dan Yumi.
"Sejak dulu aku memang cepat menghafal, jadi aku bisa ingat hampir semua dialog cuma dengan sekali baca. Karena semua orang di klub memujiku, aku jadi besar kepala dan berpikir mungkin aku punya bakat akting. Setelah itu aku ditraktir makan dan diminta datang lagi... Karena tidak punya kegiatan lain, akhirnya setiap hari setelah sekolah aku ikut kegiatan klub teater."
Aku teringat cerita Shiraki-san bahwa presiden agensi membangun Applause setelah berhenti bekerja kantoran tepat saat Yumi lulus kuliah. Jika dilihat dari waktunya, rasanya dia membangun agensi itu khusus untuk Yumi. Tapi tahun lalu Yumi malah keluar dari Applause dan pindah ke agensi pribadi. Rumornya itu karena dia akan menikah dengan Mima. Agensi pasti rugi besar kehilangan aktris penghasil uang nomor satu mereka. Jika rumor itu benar, mungkin Mima dibenci oleh presiden agensinya. Dia tidak dilepas sekarang mungkin cuma karena rugi jika Mima juga ikut pergi.
Mengingat tatapan penuh arti presiden agensi saat di pesta sponsor dulu, aku jadi kepikiran banyak hal. Tapi melihat ekspresi Mima saat membicarakan sang presiden, dia tidak terlihat merasa bersalah atau punya utang budi yang membebani. Mima ini memang sering sulit ditebak, dan aku rasa dia berbaik hati padaku bukan cuma karena rasa peduli. Tapi, fakta bahwa dia menceritakan hal-hal yang tidak dia ceritakan di kehidupan pertama pasti karena dia lebih memercayaiku sekarang. Aku merasa senang sekali karena dipilih sebagai orang tempatnya berbagi kenangan berharga.
"Kalau kamu? Kenapa kamu ikut audisi film ini?" tanyanya balik.
Aku merasa deja vu. Seingatku Shiraki-san pernah bilang hal yang sama saat syuting acara spesial dulu: "Mima-san bertanya kenapa kamu memilih pekerjaan ini, jadi jelaskan sendiri". Sama seperti waktu itu, aku heran kenapa aktor populer sepertinya tertarik dengan pekerjaan pendatang baru sepertiku.
"Apakah Direktur Tsukishiro yang menyuruhmu ikut audisi?" tanyanya bertubi-tubi tanpa menunggu jawabanku.
"T-Tidak. Direktur tidak bilang apa-apa," jawabku cepat.
Pihak agensi sebenarnya menyarankanku ikut drama sekolah sebagai pemeran pendukung, karena di kehidupan pertama aku jadi pemeran utamanya. Kali ini Mima yang jadi gurunya di drama itu, dan alasan utama aku menolaknya adalah untuk menghindari beradu akting dengannya. Tentu saja aku tidak bisa jujur soal itu.
"Karena aku belum pernah memerankan karakter serius... jadi aku pikir ini bisa jadi pelajaran berharga... Kalau Haru, kenapa kamu mau menerima peran di film ini?" tanyaku sambil meliriknya.
Mima menatapku tajam. Rasanya dia tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu. Aku tidak bohong, cuma itu memang bukan alasan utamaku. Aku memang ingin memperluas jangkauan aktingku dengan mengambil genre yang tidak bisa kupilih saat masih jadi Omega dulu.
"Aku juga mirip-mirip sepertimu," jawabnya singkat.
Aku merasa dia juga sedang menyembunyikan alasan aslinya. Tapi aku tidak tahu kenapa dia harus bohong. Merasa suasana jadi tidak nyaman, aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ngomong-ngomong, Ibusuki terkenal dengan mandi pasirnya. Besok mau coba?"
"Itu yang seluruh tubuh dikubur pasir cuma sisa kepala, kan. Jika identitas kita ketahuan saat posisi begitu, rasanya bakal terlihat konyol sekali, bukan?"
Benar juga. Aku bisa membayangkan berita internet "Mima Haruhito Mencoba Mandi Pasir di Ibusuki" dengan foto kepalanya yang menyembul dari pasir hasil jepretan turis yang lewat. Membayangkannya saja membuatku ingin tersenyum.
"Jika kamu mau coba, coba saja," tambahnya.
"Eh, tidak. Aku juga tidak jadi coba," jawabku.
Suasana yang sempat tegang kembali mencair. Aku merasa lega dan melanjutkan makanku.
. .. .......
