Bagian 1-4

​Sepertinya Mima hanya tidak memasak saja, sementara urusan rumah tangga lainnya seperti bersih-bersih dan mencuci dia kerjakan dengan sempurna. Di dalam rumahnya selalu tertata rapi seperti rumah contoh di pameran. Ada kesan bersih dan teratur, namun terasa kurang sentuhan manusiawi. Rumah itu benar-benar cerminan citra pemiliknya.

​Namun, cerita Inagaki tadi sungguh tak terduga. Apakah Mima tipe orang yang tidak suka mengundang orang lain ke rumahnya? Tapi jika memang begitu, lantas kenapa dia memintaku yang baru pertama kali ditemuinya untuk membuatkan makan malam?

Saat aku menuruni lantai dua, sosok orang-orang mulai terlihat di koridor. Dengan teka-teki yang masih tersimpan di benak, topik pembicaraan pun berakhir di sana.

​Malam itu dijadwalkan ada pesta untuk para sponsor, sehingga latihan berakhir lebih awal dari biasanya. Aktor yang ikut serta dalam pesta itu hanya lima orang: kedua pemeran utama, aktris veteran yang memerankan ibu Yumi, serta Inagaki dan aku. Jika bicara soal daya promosi, Inagaki dan aku yang masih pemula tidak bisa dianggap sebagai kekuatan utama. Keikutsertaan kami lebih dikarenakan koneksi Inagaki dengan Mima dan dorongan agensi untukku.

​Setelah mandi di ruang rias dan berganti pakaian dengan setelan jas yang kubawa, aku berangkat menuju hotel bersama manajerku, Shiraki-san, yang datang menjemput. Lokasi pesta berada di ruang perjamuan sebuah hotel kelas satu di Tokyo.

​Acara dibuka dengan penayangan video promosi film, diikuti sambutan dari produser dan sutradara di atas panggung. Untungnya aku tidak perlu memberikan sambutan; aku hanya diperkenalkan sebagai salah satu pemain setelah Yumi dan Mima selesai bicara. Begitu sesi promosi dan sambutan selesai, acara beralih ke sesi ramah tamah dengan format prasmanan berdiri.

​Shiraki-san sudah sering menghadiri pesta semacam ini, jadi dia mengenal banyak orang. Dia menarik siapa saja yang sedang luang—perwakilan perusahaan sponsor, agen periklanan, hingga orang-orang dari industri film dan media—untuk mempromosikan diriku. Aku merasa sangat berterima kasih, namun aku terlalu banyak tersenyum hingga pipiku terasa kaku.

​"Aku sudah menyapa semua orang yang penting, jadi sekarang kamu bebas makan dan minum. Aku mau bicara sebentar lagi dengan orang agensi iklan."

​Shiraki-san pun pergi meninggalkanku sendirian. Saat aku mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, kulihat Inagaki yang tadi juga berkeliling sepertinya sudah selesai menyapa orang dan sedang memilih makanan di meja prasmanan. Di ruangan ini, hanya Inagaki orang yang bisa kuajak bicara dengan santai. Aku pun mengambil beberapa makanan di piring, mengambil teh oolong, lalu menghampirinya.

​"Selamat atas kerja kerasnya hari ini."

"Oh, Natsuki. Semangat. Ayo makan dulu. Tadi waktu berkeliling menyapa orang, aku sudah menahan air liur terus."

​Aku mengangguk sambil tersenyum kecil mendengar gurauan Inagaki, lalu kami pindah ke meja yang masih kosong.

"Manajer mu sama dengan manajernya Mima?"

​Manajer Mima adalah seorang pria tinggi kurus yang entah karena kesibukan, selalu terlihat memiliki lingkaran hitam di bawah mata dan wajah yang pucat. Manajer itulah yang tadi terlihat mendampingi Inagaki di ruangan ini.

​"Agensiku tidak sebesar agensimu, Natsuki. Untuk film kali ini, manajer Haru-san yang mengurusku juga."

"Aku pun tidak punya manajer eksklusif. Shiraki-san juga mengurus empat talenta lain selain aku."

​Sambil menikmati makanan dan berbincang, tiba-tiba terdengar suara wanita yang lembut dari belakang kami.

"Boleh aku bergabung?"

​Ternyata itu Yumi. Tanpa menunggu jawaban, dia berdiri di antara aku dan Inagaki, lalu meletakkan gelas yang dipegangnya di atas meja. Setelah aku dan Inagaki menyapanya secara bersamaan, aku pun bertanya.

"Yumi-san belum makan apa-apa, kan? Mau aku ambilkan sesuatu?"

"Tidak perlu. Aku hanya sedang melarikan diri sebentar."

"Melarikan diri?" tanya Inagaki sambil memiringkan kepala.

​"Kalau aku sendirian, orang-orang akan langsung mengajak bicara. Aku sangat menghargai undangan mereka, tapi rasanya tidak enak jika harus menolak terus."

​Aku teringat rumor di kalangan staf yang menyebutkan bahwa Yumi tidak mengambil pekerjaan drama atau film setelah proyek ini selesai. Mereka bilang pembicaraan soal pernikahannya sudah di depan mata, jadi dia sepertinya sedang membatasi pekerjaan demi pernikahan itu.

​"Tentu saja orang-orang tidak akan membiarkanmu sendirian, Yumi-san," ucap Inagaki dengan nada bercanda, membuat Yumi tersenyum anggun.

​"Kakitani-kun."

Kali ini terdengar suara pria dari sisi kanan. Saat aku menoleh, yang berdiri di sana adalah Direktur Pelaksana agensiku.

"Direktur!"

​Aku buru-buru meletakkan piring dan sumpit di meja, lalu berdiri tegak menghadapnya.

"Ternyata Anda juga datang."

"Karena kamu sedang bekerja di sini, jadi aku pikir aku harus menyapa orang-orang yang terlibat."

​Pada kehidupan pertamaku, Direktur sesekali muncul di lokasi syuting atau acara ramah tamah film dan drama seperti ini. Namun kali ini, sejak sesi wawancara, beliau menjadi sosok yang sulit kutemui, sehingga kedatangannya membuat hatiku merasa tersentuh sekaligus bersyukur.

​"Lama tidak bertemu. Terima kasih sudah menjaga Kakitani dalam proyek ini."

Direktur kemudian memberikan senyum segar yang tak kalah menawan dari seorang selebriti kepada Yumi. Sepertinya mereka sudah saling kenal.

​"Kita belum bertemu lagi sejak pesta akhir tahun ya. Anda selalu sibuk mempromosikan talenta Anda secara langsung, talenta Anda pasti merasa sangat beruntung," balas Yumi dengan ramah.

​Inagaki memiliki aura seperti anjing besar yang ramah sehingga tidak terasa intimidasi Alpha-nya, namun Direktur memiliki aura lembut yang berbeda. Saat Direktur yang memiliki wajah ramah itu berdiri di samping Yumi, pemandangan itu terlihat sangat serasi, seperti pasangan kekasih yang sudah lama menjalin hubungan.

​"Bagaimana performa Kakitani? Karena ini pertama kalinya dia mendapat peran besar, aku khawatir dia merepotkan kalian."

"Ah, sama sekali tidak. Natsuki-kun sangat cepat menghafal dialog, aku pun sering terbantu olehnya. Katanya Anda sendiri yang merekrutnya? Pasti sudah ada sesuatu yang bersinar darinya sejak saat itu."

​Aku merasa sangat canggung saat mereka mulai asyik membicarakan diriku. Inagaki sendiri tidak peduli dan sudah pergi mengambil makanan lagi. Aku merasa seperti orang asing di tengah percakapan itu, namun karena mereka membicarakanku, aku tidak bisa pergi begitu saja.

​Terlebih lagi, aku merasa enggan membiarkan Yumi dan Direktur hanya berdua saja. Jika Mima melihat Yumi bersama Alpha lain, mungkin dia tidak akan merasa tenang. Aku teringat kata Marking yang pernah diucapkan penata rias Mika-san tempo hari.

​Dan benar saja, firasat burukku terbukti.

Aku merasakan sebuah tatapan, dan saat aku menoleh ke tengah ruangan, kulihat Mima bersama satu orang asing lainnya sedang berjalan ke arah kami. Semakin mereka mendekat, suasana terasa semakin tegang. Yumi dan Direktur yang tadinya mengobrol ramah sepertinya juga menyadari aura tidak menyenangkan itu, lalu menghentikan percakapan untuk menyambut mereka.

​Pria yang bersama Mima bukanlah manajernya. Dia tampak seperti pebisnis berkacamata, tingginya sedikit lebih pendek dari Mima, namun memiliki perawakan gagah yang tidak kalah saat berjalan berdampingan. Usianya mungkin sekitar tiga puluh tahun.

​"Aku Tsukishiro Tomoya, Direktur Pelaksana Tsukishiro Production. Ini pertama kalinya aku bertemu denganmu, Mima-san. Terima kasih sudah menjaga Kakitani. Katagiri-kun, lama tidak bertemu."

​Direktur menyapa Mima dengan sangat sopan, lalu memberikan senyum akrab kepada pria yang menyertainya.

​"Salam kenal. Aku Mima Haruhito. Maaf mengganggu pembicaraan kalian. Boleh aku meminjam Yumi sebentar? Para wartawan ingin mengambil foto kami berdua."

​Mima membalas dengan senyuman tipis, lalu menyentuh siku Yumi dan menariknya mendekat ke sisinya dengan alami.

"Bukankah foto saat di panggung tadi sudah cukup?"

"Mereka ingin kita terlihat lebih dekat. Nanti aku akan ambilkan makanan kesukaanmu."

​Mima berbicara dengan nada lembut seolah sedang menasihati Yumi yang tampak tidak puas. Kata-katanya terdengar sangat manis, dan aku yakin itu adalah caranya untuk memberikan peringatan kepada Direktur.

​Tanpa sadar aku memalingkan wajah dan tatapanku jatuh pada pria yang bersama Mima tadi. Pria yang dipanggil Katagiri itu tampak mengatupkan bibir rapat-rapat sambil menatap mereka berdua dengan tajam. Yumi sendiri meminta maaf pada Direktur karena harus pergi, namun dia tidak memberikan salam sedikit pun pada Katagiri, bahkan terang-terangan memalingkan muka saat meninggalkan meja. Sikapnya yang tidak ramah itu terasa sangat tidak biasa bagiku.

​Aku baru mengetahui alasannya setelah mereka berdua pergi.

"Lama tidak bertemu."

​Ternyata Katagiri dan Direktur adalah kenalan lama. Katagiri adalah presiden dari Applause Promotion, agensi tempat Mima dan Inagaki bernaung. Dia datang bersama Mima untuk menyapa para pemain, termasuk aku. Saat dia memberikan kartu nama bertuliskan Katagiri Tadayuki, aku teringat pernah melihat fotonya di situs web agensinya.

​Shiraki-san pernah bercerita bahwa Applause adalah perusahaan yang dibangun oleh presidennya saat ini setelah berhenti dari pekerjaan kantoran. Penampilannya tidak glamor, namun sorot matanya yang lembut di balik kacamata tanpa bingkai memberikan kesan intelektual dan profesional. Hanya saja, wajahnya memang tipe yang sulit diingat sehingga aku sempat melupakannya.

​Yumi aslinya bernaung di Applause, namun tahun lalu dia mendirikan agensi pribadi dan menjadi independen. Biasanya, perpindahan talenta antaragensi sering kali diwarnai konflik. Sikap dingin Yumi tadi mungkin disebabkan oleh hal tersebut.

​"Apakah kalian berdua saling kenal?" tanya Inagaki yang sudah kembali.

"Kami teman seangkatan saat SMA. Tsukishiro-kun sejak dulu sudah sangat berprestasi dan masuk ke universitas yang sulit kujangkau. Tapi selain belajar, dia juga sangat tertarik pada teater dan film. Setelah dia tahu aku ikut klub teater, dia sering datang menonton pertunjukan kami."

​Direktur sebenarnya sudah mengincar dan ingin merekrut Yumi sejak masih mahasiswa, namun saat Yumi lulus, Presiden Katagiri mendirikan agensi hiburan dan Yumi lebih memilih agensinya. Direktur menceritakan hal itu dengan nada sedikit menyesal, lalu mereka berdua asyik membicarakan masa lalu. Inagaki ikut bergabung dalam percakapan, sementara aku hanya tersenyum kaku dan menjadi pendengar.

​Proses syuting akan dimulai dua minggu lagi. Aku tidak seharusnya membuang-buang waktu dan pikiran untuk hal yang tidak penting. Aku berulang kali meyakinkan diriku sendiri akan hal itu.

​Setelah masa latihan selama satu bulan sejak pertemuan pertama, syuting film Looking Up at the Sky pun dimulai pada tanggal 5 Februari. Satu minggu telah berlalu, dan aku mulai terbiasa dengan suasana serta alur di lokasi syuting.

​Di kehidupan pertama, aku pernah menjadi pemeran utama dalam sebuah drama. Selama empat bulan syuting, tentu saja aku memiliki porsi adegan terbanyak dan paling sering berbicara dengan sutradara. Namun, masa latihan selama satu bulan kali ini terasa jauh lebih padat dan bermakna dibandingkan empat bulan tersebut.

​Itu pasti karena aku mulai memikirkan hal-hal yang tidak tertulis di dalam naskah. Dulu, aku terlalu mengkhawatirkan bagaimana penampilanku di depan kamera; nada suara seperti apa atau ekspresi bagaimana yang harus kupasang agar terlihat marah atau sedih. Namun setelah melihat Mima, Yumi, dan para aktor veteran yang disebut sebagai aktor watak, aku sadar bahwa cara itu salah. Selama ini aku hanya melakukan akting 'marah' atau akting 'menangis'. Aku belum bisa memerankan 'seseorang yang menjalani kehidupan yang berbeda dariku' seperti mereka. Aku baru menyadari perbedaan itu sekarang dan merasa sangat terpukul karena betapa tidak berpengalamannya aku sebagai aktor.

​Sutradara Tasaki yang memimpin film ini baru berusia empat puluh tahun, tergolong muda bagi seorang sutradara film. Dia tidak segan-segan memberikan instruksi kepada aktor besar dan juga meminta pendapat dari pemula yang belum berpengalaman. Berkat sikap sutradara tersebut, suasana di lokasi sangat bagus, dan aku hampir tidak pernah merasa rendah diri atau cemas.

​Selama latihan, fokus tidak diberikan pada instruksi akting secara spesifik, melainkan lebih pada mendalami masa lalu dan latar belakang karakter agar bisa memahami kondisi psikologis mereka saat ini. Fakta bahwa aku ditemani Mima untuk membaca naskah sambil memasak juga sangat membantuku. Mima sering bertanya apa yang kupikirkan dan kurasakan saat memerankan sebuah adegan.

​Sangat sulit bagiku yang hidup di era damai untuk memahami sepenuhnya perasaan seorang pemuda yang mengajukan diri menjadi pasukan serangan khusus. Namun melalui diskusi panjang dengan sutradara dan Mima, pemahamanku terhadap karakter Prajurit Dua Kaneda semakin mendalam, sehingga rasa bimbangku dalam berakting mulai berkurang. Kesadaran bahwa aku sedang 'berakting' memudar, dan gerakan serta ekspresiku mulai mengalir secara alami dari dalam hati.

​Karena ini adalah karya yang menggambarkan masa perang, perasaanku sering kali terasa berat dan sesak saat sedang memerankan karakter tersebut. Ego diriku seolah menghilang dan digantikan oleh pikiran serta perasaan Kaneda. Dan saat sutradara berteriak "Cut", sosok Kaneda menghilang dan aku kembali menjadi diriku sendiri. Merasakan keberadaan Kaneda di dalam diriku memberikan rasa kepuasan yang tidak bisa kudapatkan di tempat lain.

​Saat ini syuting masih dilakukan di studio menggunakan set bangunan. Di sela-sela waktu tunggu saat proses run-through, aku bersama tim prajurit lainnya menonton tayangan langsung dari monitor di ruang tunggu. Run-through adalah latihan menyeluruh yang dilakukan dengan persiapan kamera, pencahayaan, dan suara layaknya syuting yang sebenarnya.

​"Haru-san benar-benar luar biasa ya. Katanya dia menurunkan berat badan delapan kilogram dalam dua bulan," ucap Inagaki sambil menepuk-nepuk lututnya dengan naskah yang digulung.

​"Padahal aslinya dia tidak punya lemak berlebih, pasti sulit sekali menurunkannya. Aku pernah harus menguruskan badan untuk peran petinju, jadi aku tahu rasanya. Itu sangat menyiksa," sahut aktor muda lainnya yang ikut menonton monitor.

​Aku hanya mendengarkan suara mereka sambil lalu. Di monitor, terlihat Sumiko yang diperankan Yumi, Letnan Hirata yang diperankan Mima, serta dua anak kecil dengan wajah kotor dan pakaian compang-camping. Set tersebut menggambarkan bagian dalam kantin tempat Sumiko bekerja, dan ini adalah adegan pertemuan pertama mereka.

​Kantin yang biasanya ramai oleh tentara itu kini kosong karena sedang waktu persiapan siang hari. Seorang anak laki-laki dan anak perempuan yang lebih kecil sedang duduk di kursi kayu tua sambil melahap bola nasi. Mereka adalah yatim piatu korban perang yang bertahan hidup dengan mengemis. Karena terlalu lapar, mereka mencoba mencuri sayuran di ladang namun tertangkap dan dipukuli oleh pemiliknya. Saat itulah Letnan Hirata yang baru bertugas di sekolah penerbangan lewat. Dia membayar ganti rugi sayuran tersebut untuk membantu kakak beradik itu dan membawa mereka ke kantin dekat sekolah. Di sanalah dia bertemu dengan Sumiko, putri dari pemilik kantin.

"Aku yang akan menanggung biaya makan mereka, jadi bisakah Anda membiarkan mereka tinggal di sini? Kakaknya pasti bisa membantu pekerjaan apa saja."

"Saya ingin sekali membantu, tapi saya harus bertanya dulu pada Ibu..."

​Sumiko memasang wajah bersalah menanggapi permintaan Letnan. Ibu Sumiko sedang pergi untuk membeli bahan makanan. Ini adalah zaman di mana setiap orang harus berjuang keras hanya untuk bertahan hidup sendiri. Meskipun diberi uang, tidak ada jaminan bahwa mereka bisa memberi makan anak-anak itu. Tatapan mata mereka berdua saat melihat kakak beradik itu terasa sangat perih namun lembut.

​Seandainya Letnan tidak mengajukan diri untuk serangan khusus. Seandainya dia bisa selamat dari perang. Pasti akan ada masa depan di mana mereka berdua bisa menyayangi anak-anak mereka sendiri seperti ini. Padahal seharusnya yang mati bukan Letnan, melainkan aku...

​"Hasil latihanmu di pusat kebugaran sepertinya sudah mulai terlihat ya, Natsuki."

Aku merasa mendengar suara yang familier dari kejauhan.

"...Tapi, kenapa kamu menangis?"

​Kali ini suaranya terdengar lebih jelas dan dekat. Aku merasa gelombang emosi di dalam diriku perlahan mereda. Saat aku menoleh ke arah suara, penglihatanku beralih dari gambar di monitor ke bayangan orang yang samar. Sosok yang tadinya kabur karena air mata perlahan menjadi jelas, dan kesadaranku kembali ke realitas. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sedang menangis.

​"Ah, tidak, ini... aku melihatnya dari sudut pandang Kaneda..."

Aku buru-buru mengusap kelopak mata dan pipiku yang basah dengan telapak tangan.

​"Kalau saat latihan saja sudah seperti ini, kamu tidak akan kuat sampai syuting yang sebenarnya," ucap Inagaki sambil tertawa jengah dan menepuk kepalaku pelan.

​Aku merasa senang karena mulai bisa merasakan diri memerankan orang lain. Namun, aku belum bisa seperti kedua pemeran utama atau aktor veteran yang bisa langsung berganti karakter hanya dengan suara clapperboard. Belakangan ini, aku sering kali tidak bisa membedakan apakah perasaan yang kurasakan ini milikku sendiri atau milik Prajurit Dua Kaneda.

​Dapur di apartemen Mima adalah tipe island dan ukurannya tiga kali lebih luas dari dapur di rumahku. Katanya dia tidak memasak sendiri, namun tempat cuci piring yang luas, meja marmer, hingga peralatan elektronik dan masak dari merek ternama semuanya lengkap di sana. Ruangan itu jelas-jelas ditata untuk seseorang yang menikmati kegiatan memasak.

​Awalnya aku merasa agak minder, namun sekarang memasak di rumah Mima telah menjadi cara untuk menyegarkan pikiran sekaligus menjadi kesenangan tersendiri bagiku. Kegiatan memasak terasa menyenangkan karena ada orang yang memakan masakanku. Makan bersama seseorang adalah hal yang tidak pernah kurasakan lagi sejak Ibu meninggal.

​Namun hari ini, perasaanku tidak bersemangat bahkan untuk kegiatan memasak yang biasanya menyenangkan. Sambil menggerakkan tangan dengan perasaan muram, tanpa sadar masakan pun sudah selesai. Di televisi yang kunyalakan sebagai suara latar, berita pukul sembilan malam baru saja dimulai.

​Menu hari ini adalah nasi beras merah dengan kroket ampas tahu, dilengkapi dengan bayam rebus dan acar akar teratai asam manis. Untuk supnya, aku menyiapkan sup sayuran berisi seledri, tomat, dan jamur. Kroket ampas tahunya merupakan campuran daging cincang dan ampas tahu yang dipanggang di oven agar tidak menggunakan banyak minyak.

​Syutingku baru selesai sekitar pukul delapan, jadi hari ini aku tidak mampir ke pusat kebugaran. Aku berbelanja di supermarket terdekat lalu masuk ke apartemen pemiliknya lebih dulu menggunakan kunci cadangan yang dipinjamkan padaku. Jika dia akan pulang larut, biasanya dia akan mengirim pesan "makanlah duluan" sekitar jam segini. Karena tidak ada notifikasi pesan masuk, sepertinya dia akan segera pulang.

​Hari ini syuting sempat tertunda karena aku melakukan banyak kesalahan (NG). Sambil mencuci peralatan masak, aku berharap syuting setelah bagianku tadi berjalan lancar. Tak lama kemudian, terdengar suara pintu depan terbuka. Aku memanaskan kembali sup dan menunggu selama beberapa menit. Mima muncul di ruang tengah setelah sebelumnya mampir ke kamar mandi untuk mencuci tangan dan berkumur.

​Sebanyak apa pun aku melakukannya, aku tidak pernah terbiasa dengan momen ini. Semakin aku mencoba memasang 'ekspresi yang alami', otot wajahku malah semakin kaku.

"Selamat atas kerja kerasnya hari ini."

​Aku merasa enggan untuk mengatakan "Selamat datang kembali", jadi sejak pertama kali aku pulang ke rumah ini lebih dulu darinya, aku selalu menggunakan sapaan itu untuk menyambutnya.

"Semangat," balas Mima dengan wajah yang merupakan contoh sempurna dari 'ekspresi alami'. Dia meletakkan mantel dan tasnya di sofa ruang tengah, lalu kembali ke ruang makan.

​"Makanannya sudah siap. Boleh aku siapkan?"

"Oke, tolong. Apa aku perlu menyeduh teh?"

"Boleh, tolong ya."

​Sekarang pembagian tugas di meja makan sudah terbentuk dengan sempurna. Biasanya Mima langsung makan begitu sampai di rumah, namun pernah sekali dia bilang ingin mandi dulu dan menyuruhku makan duluan. Hari itu adalah hari di mana dia melakukan latihan adegan romantis, dan saat pulang, aroma parfum Yumi tercium dari tubuhnya.

​Sejak latihan film ini dimulai, sepertinya Mima membatasi pertemuan pribadinya dengan Yumi. Meski mungkin saja dia mampir ke apartemen Yumi setelah mengantarku pulang, setidaknya di dalam rumah ini aku tidak pernah merasakan jejak keberadaan wanita lain. Hubungan antara Letnan Hirata dan Sumiko memang diakhiri dengan mereka saling mengungkapkan perasaan dan menghabiskan malam bersama, namun sebelum itu hubungan mereka tidak menunjukkan aura manis layaknya sepasang kekasih.

​Jika Mima memang membatasi pertemuan dengan Yumi, itu pasti demi pendalaman peran. Sebagai sesama pria, aku bisa memahami jika hasrat seksualnya menumpuk sebagai dampaknya. Apa yang dilakukan Mima saat dia lebih memilih mandi daripada makan? Siapa yang sedang dia pikirkan? Imajinasi liar semacam itu melintas di kepalaku, dan hari itu aku tidak berselera untuk makan sendirian lebih dulu.

​Setelah selesai menata makanan, aku duduk di kursi di hadapan Mima. Meskipun makanan sudah siap, dia selalu menungguku duduk sebelum mulai makan. Kami merapatkan tangan bersama. Melihatnya mengucapkan "Selamat makan" dengan benar membuatku merasakan didikan keluarganya yang baik. Aku pun bergumam pelan dan mulai mengambil sumpit. Suara penyiar berita di televisi mulai bercampur dengan suara kunyahan dan denting sumpit serta piring.

​Sepertinya Mima tidak memiliki kebiasaan menonton televisi saat makan, jadi dia tidak pernah menyinggung isi berita yang kunyalakan hanya untuk mengusir rasa canggung. Kami berdua bukan tipe orang yang banyak bicara, jadi biasanya tidak ada percakapan yang berarti di antara kami. Awalnya aku sangat gugup sampai tidak bisa merasakan rasa makanan, namun belakangan aku mulai terbiasa dengan suasana makan yang tenang ini.

​"Tentang syuting hari ini ya?"

Setelah beberapa saat mulai makan, dia tiba-tiba bertanya, hal yang jarang dia lakukan. Aku mengangkat pandanganku dari mangkuk nasi. Aku mengartikan pertanyaannya sebagai "Apakah kamu sedang memikirkan kesalahan syuting hari ini?". Mungkin tanpa sadar aku memasang wajah muram karena masih kepikiran soal kesalahan beruntun tadi siang.

​Meskipun dia terlihat tidak tertarik pada orang lain, ternyata Mima sangat memperhatikan gerak-gerik dan ekspresi orang bahkan di luar urusan akting. Dan sepertinya saat dia ingin mengatakan sesuatu, dia selalu mempertimbangkannya dengan matang dan hanya mengucapkan hal yang diperlukan.

​Di kehidupan pertama, meskipun kami hampir tidak pernah berinteraksi secara pribadi, dia bersedia menerima ajakan makanku mungkin karena saat itu aku sedang terpuruk karena drama pertamaku gagal total. Padahal alasan sebenarnya aku mengajaknya adalah karena perintah agensi untuk mendekatinya demi pekerjaan selanjutnya, namun kenyataannya saat itu aku memang kehilangan kepercayaan diri dalam berakting, dan dia mendengarkan ceritaku dengan tulus. Bukan Mima yang berubah, melainkan aku yang tidak menyadarinya di kehidupan pertama. Dulu aku hanya menganggapnya pria pendiam dan tidak ramah, namun setelah mencoba mendekat, pandanganku berubah.

​"Maaf soal hari ini."

Saat aku membungkukkan kepala dengan formal, Mima melirikku sekilas.

"Hal seperti itu bisa terjadi pada siapa saja, jadi tidak perlu minta maaf. Tapi kalau ada hal yang membuatmu bimbang, mungkin aku bisa membantu."

​Suaranya yang entah kenapa terdengar lebih lembut dari biasanya membuat perasaan bersalah yang membelengguku perlahan memudar.

"Mima-kun, apakah kamu pernah merasa bingung apakah sebuah pikiran atau perasaan itu milikmu sendiri atau milik karakter yang sedang kamu perankan?"

​Aku merasa nyaman untuk mengutarakan hal ini secara jujur karena melalui pembacaan naskah, aku sudah sering berdiskusi dengannya soal peran. Mima meletakkan piring dan sumpitnya, lalu terdiam sejenak dengan wajah berpikir.

​"Untuk berakting kita butuh pengalaman pribadi kita sendiri, kan? Rasanya tidak mungkin ada garis batas yang jelas tentang mana pikiran dan perasaan kita sendiri dan mana yang milik karakter."

​Sekarang giliranku yang berpikir keras. Aku paham apa yang dia maksud. Misalnya saat memerankan seorang pembunuh yang kepribadiannya sangat bertolak belakang dengan kita. Seorang aktor akan menarik emosi yang mendekati hal tersebut dari pengalamannya sendiri, seperti rasa kesepian atau kebencian, lalu mendekatkan dirinya pada peran tersebut. Meskipun dia sangat meresapi peran tersebut hingga merasakan kebencian yang nyata, dasarnya berasal dari pengalaman sang aktor sendiri, jadi mungkin memang tidak ada batas yang jelas. Namun di sisi lain, kenyataan bahwa aktor dan karakternya adalah dua orang yang berbeda tetaplah benar. Meskipun kita menggunakan pengalaman pribadi sepenuhnya dalam berakting, jika ego diri terlalu menonjol, kita tidak akan bisa melakukan akting yang netral.

​"Terkadang, kita memang perlu mematikan diri kita sendiri hingga batas maksimal," tambah Mima, seolah tahu apa yang sedang kupikirkan.

Sambil secara publik mematikan identitas diri, di balik layar kita harus memungut emosi yang diperlukan untuk berakting dari tumpukan pengalaman hidup kita yang kacau. Aku benar-benar merasa bahwa berakting adalah tugas yang sangat sulit.

​"Secara spesifik, bagian mana yang membuatmu bimbang?" tanyanya kemudian.

​Karena aku tidak segera menjawab, dia mengganti pertanyaannya. Prajurit Dua Kaneda yang selamat karena nyawanya ditolong oleh Letnan Hirata segera menemui Sumiko setelah perang berakhir untuk menyampaikan pesan terakhir Letnan. Kantin yang dulu pernah ada kini sudah terbakar separuh akibat serangan udara, namun Sumiko tetap membukanya dengan menggunakan bagian yang tersisa. Sumiko, ibu pemilik kantin, dan anak-anak yang dititipkan Letnan semuanya selamat, dan di sana ada seorang bayi yang baru lahir. Setelah tahu bahwa anak yang lahir tepat di hari Jepang menyerah tanpa syarat itu adalah anak Letnan Hirata, Kaneda langsung menangis tersedu-sedu di tempat itu.

​Setelah itu, Kaneda hanya mengirim surat laporan kepulangannya ke kampung halaman dan memutuskan untuk menetap di tempat itu. Setelah perang, kelangkaan pangan masih berlanjut, sehingga Sumiko yang mengelola kantin harus mencari bahan makanan di pasar gelap. Mereka sering kali ditipu dengan harga yang sangat mahal, dan jika ketahuan hanya ada wanita dan anak-anak, ada risiko pencurian atau perampokan makanan. Untungnya, Kaneda bisa kembali ke pekerjaannya sebagai asisten masinis kereta api negara seperti sebelum perang, sehingga sambil bekerja dia membantu pekerjaan kantin dan memperhatikan Sumiko serta anak-anaknya. Dan setelah hidup mereka mulai stabil, dia melamar Sumiko dengan berkata, "Aku ingin mendukung kalian sebagai keluarga." Cerita berakhir saat Sumiko akhirnya menerima lamaran tersebut setelah sempat bimbang.

​Aku merunut skenario itu di dalam kepala dan menyampaikannya pada Mima.

"Di adegan setelah perang itu... aku pikir Kaneda melamar Sumiko karena rasa bersalah dan rasa tanggung jawab karena dialah yang selamat menggantikan Letnan... tapi aku tidak tahu apakah hanya itu alasannya..."

​Jika Kaneda memiliki perasaan yang mendekati cinta pada Sumiko, karena rasa sungkan pada Letnan, sepertinya dia malah tidak akan melamarnya. Namun jika alasan lamarannya hanya karena rasa hormat dan syukur pada Letnan serta rasa tanggung jawab karena selamat, rasanya ada sesuatu yang kurang. Saat latihan akting aku tidak terlalu memikirkannya, namun semakin aku mencoba memahami perasaan Kaneda, aku semakin tidak puas. Sepertinya ada sesuatu yang lebih dari itu, namun aku khawatir pikiran itu muncul karena aku terpengaruh oleh perasaanku sendiri. Karena mulai bimbang seperti itulah aku tidak bisa membangun emosi dan melakukan kesalahan beruntun. Karena itu adalah adegan penting, aku tidak mendapat persetujuan dengan akting yang setengah-setengah, sehingga akhirnya syuting adegan tersebut ditunda ke hari lain.

​Tatapan Mima seolah menunjukkan bahwa dia memiliki jawaban atas kebimbanganku. Namun, dia tidak segera memberitahuku.

"Apakah kamu ada rencana di hari libur?"

Pertanyaan yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kebimbanganku justru keluar setelah keheningan tadi.

​"Hari libur maksudnya hari Sabtu dan Minggu besok ya? Aku juga minta libur pada hari itu."

Akhir pekan ini dijadwalkan ada festival film di luar kota, dan karena sutradara serta Yumi akan menghadirinya, proses syuting diliburkan selama dua hari itu.

"Kalau begitu, ayo pergi."

"Pergi ke mana?"

"Kagoshima. Mungkin kamu akan memahami sesuatu jika melihat pemandangan yang dulu dilihat oleh Kaneda."

"Eh? ...Eh... Eeeh!?"

​Tanpa sadar aku berteriak sangat keras hingga Mima harus menutup kedua telinganya dengan tangan.



BAB EMPAT: PERTAMA DAN TERAKHIR

​Hari libur pertama sejak syuting film dimulai. Mima yang menjemputku ke rumah tidak memakai dasi, namun entah mengapa dia mengenakan setelan jas. Dia memadukan jas cokelat tua dengan motif garis halus serta atasan rajut hitam bermodel leher tinggi (mock neck).

​Sementara aku hanya mengenakan sweter, celana korduroi, dan jaket down bertudung, hampir sama dengan penampilanku saat pergi ke studio syuting. Aku sengaja berdandan seperti biasa karena tidak ingin dikira terlalu bersemangat dalam bersolek, tapi apakah ada alasan tertentu kenapa aku harus memakai jas?

​"Kenapa kamu pakai jas?" tanyaku setelah duduk di kursi penumpang.

Mima melirikku sekilas, lalu tanpa berkata apa-apa dia mengenakan kacamata hitamnya. Mobil mulai bergerak perlahan, membuatku buru-buru memasang sabuk pengaman.

​"Kalau pakai baju biasa, meskipun pakai kacamata hitam aku akan tetap dikenali dan diajak bicara. Kalau pakai jas, tidak ada yang mau mendekat."

Suaranya yang datar terdengar seolah dia tidak memakai jas karena keinginannya sendiri. Aku berpikir sejenak kenapa orang tidak mau menyapa pria yang memakai jas. Lalu aku menyadari alasannya. Jika Mima memakai jas dan kacamata hitam, dia terlihat persis seperti orang dari kalangan organisasi terlarang. Sebelum menyadari bahwa itu adalah Mima, orang-orang pasti sudah memalingkan muka saat dia masuk dalam jarak pandang mereka.

​Aku hampir saja tertawa, namun saat membayangkan aku harus menghabiskan waktu dua hari bersama pria dengan penampilan seperti itu, aku tidak bisa tertawa lagi. Kota di pegunungan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan darat dari Bandara Kagoshima. Kota yang dulunya memiliki lapangan terbang angkatan darat itulah yang menjadi latar film Looking Up at the Sky.

​Kali ini tidak ada syuting di Kagoshima; hanya adegan di laut yang akan diambil di Malaysia, sementara lokasi lainnya dijadwalkan di sekitar wilayah Kanto seperti Tochigi dan Ibaraki. Karena itulah, meskipun aku ingin berkunjung sekali saja, aku belum sempat mewujudkannya karena sibuk dengan jadwal yang ada. Di zaman sekarang, hampir semua informasi bisa didapat melalui internet. Meskipun tidak datang langsung, aku bisa melihat foto pemandangan yang dulu dilihat Kaneda dan membaca dokumen tentang pasukan serangan khusus.

​Namun, sebanyak apa pun aku mencari di internet atau dokumen, aku tetap bimbang karena tidak memahami perasaan Kaneda. Seperti yang dikatakan Mima, aku pun merasa mungkin saja aku bisa melihat hal-hal yang selama ini tidak terlihat jika aku mendatangi langsung tempat yang menjadi latar film tersebut. Mungkin itulah alasanku menjawab "Aku ingin pergi" tanpa ragu saat diajak olehnya.

​Tetapi setelah menjawab, aku baru teringat bahwa aku sudah berhenti dari semua pekerjaan paruh waktu sejak Januari demi fokus pada syuting, jadi aku tidak punya uang. Aku buru-buru ingin menarik ucapanku, namun Mima berkata "bayar saja kalau kamu sudah sukses nanti" dan tidak mendengarkan keberatanku, lalu dia langsung memesan tiket pesawat saat itu juga. Rasa sesal baru meruap perlahan setelah aku sampai di rumah dan mulai berpikir jernih.

​Masa Heat-ku dijadwalkan masih lebih dari satu bulan lagi. Selama ini meskipun pernah bergeser satu atau dua hari, namun tidak pernah bergeser lebih dari satu minggu. Tapi di kehidupan pertama, entah mengapa masa Heat-ku bergeser hampir tiga minggu, dan karena itulah aku akhirnya berhubungan dengan Mima.

​Meskipun seandainya masa Heat yang tidak teratur itu tidak datang, aku tetap merasa bersalah pada Yumi karena pergi berlibur bersama Mima dengan berpura-pura menjadi seorang Beta. Logikaku menyuruhku untuk berhenti. Namun berbanding lurus dengan rasa sesalku, perasaan antusias untuk pergi berlibur pun perlahan-lahan membesar seiring berjalannya waktu. Itulah sebabnya saat aku mencari tahu di internet dan mendapati biaya pembatalan tiket pesawat dan hotel sudah lebih dari lima puluh persen karena waktunya sudah sangat dekat, sejujurnya aku merasa lega karena mendapatkan alasan yang sulit untuk menolak.

​.. . . ......... 


Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang