“Begitulah akhirnya... dia kembali ke tempatnya semula.”
“Tempatnya….”
Yu Dan mengulang pelan, meniru kata-kata Rubah.
“Ohh… begitu. Ternyata begitu ya... Aku benar-benar tidak tahu…. Selama ini aku cuma memarahi mereka, membentak, lalu mengusir jauh. Ternyata itu tidak ada gunanya. Harus dikembalikan ke tempatnya baru benar-benar selesai….” Dadanya terasa perih.
Potongan-potongan ingatan melintas cepat di benaknya. Kalau saja ia tahu dari awal… mungkin hari itu ia bisa mengusir “makhluk jahat” itu. Mungkin ia bisa menyelamatkan ibunya, juga orang-orang lain.
“….Benar, kan?”
“Itu hanya kecelakaan.” Baekran berkata seolah membaca pikirannya.
“Andai tidak terjadi tentu lebih baik, tapi memang tidak bisa diapa-apakan. Makhluk jahat ada di mana-mana. Kalau ada orang yang tahu dan membantu mungkin bagus… tapi ya, mau bagaimana lagi.”
“Ku dengar dunia sekarang sudah tidak seperti dulu.” Yu Dan mengangkat kepala. “Aku ini benci hal yang merepotkan. Aku juga tidak peduli orang lain kenapa-napa. Tapi… mungkin aku bisa membantu sedikit…. Karena aku juga pernah ditolong….”
“Cukup.” Seperti biasa, Baekran menolak tegas.
“Aku tidak tahu kamu mendengar omongan aneh apa, tapi aku penasaran dari mana kepercayaan dirimu sampai berani ikut campur urusan orang lain, padahal mengurus diri sendiri saja tidak bisa. Jangan mengganggu, itu sudah membantu. Lagipula apa pun yang kamu pikirkan sekarang, besok kamu akan lupa.”
“Aku tidak sebodoh itu!”
“Bukan itu maksudku.”
Rubah menoleh, lalu tersenyum.
“Hari ini kamu melihat terlalu banyak hal. Itu berat untuk kesadaran manusia. Aku sudah bilang, kan? Manusia punya naluri untuk melupakan hal-hal aneh (Unusuals). Semua ini sebentar lagi akan kamu lupakan.”
“Tunggu—.”
Di tengah kalimat Rubah, ada sesuatu yang mengganjal. Baru saat itu Yu Dan benar-benar memikirkan satu fakta yang selama ini ia lewati begitu saja.
“Itu berarti... orang-orang yang pernah kamu tolong sampai sekarang… semuanya melupakanmu? Mereka benar-benar lupa sama sekali?”
“Bagi mereka itu hanya mimpi buruk.”
“Tapi mereka sudah ditolong lho? Benar-benar tidak ada yang ingat?”
“Kenapa sepenting itu?”
“Ahh… jadi itu maksudnya.”
Sekarang Yu Dan paham.
Bukan karena “menolong manusia” itu sia-sia. Yang sia-sia adalah tidak ada yang tersisa, bahkan dalam ingatan mereka. Seolah semua itu tak pernah terjadi.
“Tapi aku tidak begitu.”
Ia mengatakannya spontan, tapi entah kenapa perasaannya jadi aneh.
Bukan.
Di dalam hati, ada yang berbisik.
Kamu juga sama. Kamu juga lupa semuanya.
Kepalanya terasa melayang.
Apa? Aku lupa apa?
Wujud Rubah bergoyang. Bayangan lain bertumpuk di atasnya. Apa ini? Kenapa rasanya…aku pernah melihatnya? Dulu sekali... ?
Dada Yu Dan mencelos.
“Kamu… siapa?”
“Siapa?”
Baekran berbalik.
“Melihat mu mulai linglung, sepertinya sudah dimulai. Sekarang pulanglah, kembali ke duniamu. Mimpi buruk sudah selesai.”
Suara Rubah terdengar jauh.
“Pulanglah. Seberangi gunung tanpa tanah, lewati jembatan tanpa dasar, arungi sungai tanpa air, dan pulanglah. Ikuti burung yang terbang tanpa sayap, ikuti binatang darat tanpa kaki, lalu pulanglah.”
Mendengar kata-kata yang seperti nyanyian sekaligus mantra itu, kesadarannya makin kabur. Rasanya seperti tenggelam dalam gelap yang dalam dan hangat.
Gelap yang selalu menyambutnya.
Ia ingin tidur saja di situ. Tapi tidak boleh. Kalau ia tidur sekarang, ia akan lupa selamanya.
Jelas ada sesuatu yang sangat penting—yang sudah ia lupakan terlalu lama.
Kepalanya makin kosong. Yu Dan berusaha mati-matian mencengkeram kesadaran yang memudar.
"Tidak boleh!”
Ia seperti menggelepar lalu membuka mata lebar.
Semuanya putih.
Sinar matahari pagi merambat dari jendela kamar tidur yang tertutup tirai setengah. Silau. Ia hendak mengangkat lengan untuk menutup mata, tapi ia tersadar tangannya menggenggam erat sesuatu
Perlahan ia membuka kepalan tangannya.
Di telapak tangannya ada sepotong kertas kecil.
Potongan jimat yang tersisa setelah terbakar.
Untuk pertama kalinya setelah lama, senyum tipis muncul di bibir Yu Dan.
“Lihat? Sudah kubilang, aku tidak akan lupa.”
Cahaya matahari yang memantul bening menyentuh bagian dalam telapak tangannya. Potongan jimat itu meleleh pelan seperti es, menguap jadi asap biru.
Lembar-lembar uang hijau meluncur licin di ujung jarinya.
Dari belakang, suara gumaman makin ramai. Beberapa yang tadinya cuma melongo akhirnya memberanikan diri mendekat.
“Dapat uang dari mana? Menang lotre?”
“Ku tebak! Nemu dari dompet orang kaya, ya?”
“Atau nemu HP? Pokoknya traktir! Paham? Beli pizza!”
Daya uang memang gila. Anak-anak yang biasanya tak menyapa kini berkerumun mengelilingi Yu Dan, ribut sendiri. Berbagai makhluk kecil yang biasanya nangkring di sudut kelas pun ikut heboh, berhamburan mendekat. Yu Dan hampir refleks memasang muka masam dan mengusir mereka…
Tapi ia mengurungkan.
“Maaf, tapi aku butuh uang ini.”
“Pelit!”
Teriakan protes langsung meledak. Ada yang sampai menghentak-hentakkan kaki, suasana jadi gaduh.
Canggung memang, situasi seperti ini tidak cocok untuknya. Harusnya tadi ia pasang wajah dingin seperti biasa dan mengusir mereka semua.
“Tidak bisa! Minimal bagi-bagi es krim!”
Akhirnya setelah “dipalak” beberapa puluh ribu, Yu Dan baru bisa lolos.
Meski begitu, uangnya masih cukup banyak. Harusnya cukup.
Saat pertama kali menemukan setumpuk uang itu di saku seragam, Yu Dan bengong. Setelah melewati kejadian sebesar “Kesialan”, ia bahkan lupa bahwa monster pemilik manik itu sempat menyelipkan uang ke saku seragamnya. Diapakan ya uang ini? Tak butuh lama, sebuah ide muncul.
Yu Dan naik bus dengan langkah ringan.
Jalan di jalanan tradisional masih sama: sunyi dan sejuk. Bangunan dua lantai beratap genteng yang tua itu juga masih ada.
Ia mendorong pintu Banwoldang.
Matanya terasa lega. Enak sekali—di sini “mereka” tidak terlihat.
Baru saja ia menemukan tempat yang nyaman begini… masa harus dilupakan begitu saja? Mana mungkin.
Dengan percaya diri ia melangkah masuk.
Pas sekali, Tuan Do sedang keluar sambil membawa batu tinta besar berbentuk daun teratai. Begitu melihat siapa yang masuk, matanya langsung melotot tajam.
“Haa? Siapa ini? Tuan pemilik cheonan, bukan? Ngapain datang lagi?”
Kelihatannya ia bisa saja “tanpa sengaja” memukul dengan batu tinta itu. Yu Dan dengan cepat menghindar dan menyusup masuk.
“Hari ini aku mau beli sesuatu.”
“Beli? Di sini memangnya ada yang bisa dibeli? Ini semua karya seni terbaik yang kukumpulkan satu per satu dengan mata ahli dan tidak akan kujual pada orang sembarangan--”
“Yang itu.”
Yu Dan memotong omongannya sambil menunjuk lantai.
『Majalah Bulanan Lukisan Timur』.
Tumpukan itu hari ini pun masih menutup sebagian pintu masuk.
Wajah Tuan Do—yang menatap tumpukan “stok mati” itu lalu berbalik menatap Yu Dan lagi—memasang ekspresi tak percaya.
“I-ini…? Kenapa….” Dia Sampai gagap. Yu Dan mengangkat bahu.
“Ruang tamu rumahku terlalu kosong. Sepupuku bilang aku harus punya buku di rumah. Jadi sekalian saja ku pajang ‘karya seni’ yang dikumpulkan dengan mata ahli, satu per satu dan penuh dedikasi.”
Wajah Tuan Do jadi aneh. Mulutnya membuka-tutup seperti akan tertawa, seperti akan menangis, lalu akhirnya keluar satu kalimat.
“Tapi ini sungguh tidak menarik….”
“Hah! Ternyata kau masih punya hati nurani?”
“Apa?! ‘Ternyata’ apaan? Mulutmu!”
“Turunkan dulu batu tintanya! Ambil uangnya, baru ngomel. Ongkir kirimnya kau yang tanggung, oke?”
Heukyo yang datang karena penasaran langsung membelalakkan mata. Si kembar saling pandang dan, tanpa aba-aba, lari ke belakang toko. Yu Dan buru-buru mengikuti mereka melewati beberapa kamar kosong yang memanjang, hingga sampai ke taman.
Halaman belakangnya luas. Pohon tua besar mengelilingi kolam kecil yang rapi. Suasananya jauh berbeda dari halaman depan.
Di bawah atap, di atas lantai kayu tua, Rubah berbaju putih sedang duduk. Ia menatap permukaan kolam, seperti sedang tenggelam dalam pikirannya. Saat mendengar langkah, ia menoleh pelan. Lalu menyipitkan mata.
“Apa…?”
Chaewoo yang pucat berseru. “Benar kan! Lihat, dia beneran datang bawa uang!”
Tuan Doyang sedang menghitung uang tampak canggung dan berdehem.
“Ah… ya….”
“Tapi anak SMA tidak mungkin bisa dapat sejuta won.” Chaeseol bergumam dengan wajah lebih pucat.
“Ini semua gara-gara Paman bicara sembarangan. Anak tanpa uang pilihannya cuma satu. Pasti dia pergi ke sana dan menjual itu! Berat badannya turun seratus gram, yang tadinya dua sekarang tinggal satu. Kalau rusak, dia tamat. Jangan beri dia makan garam.”
“Aku tidak jual ginjal!”
Yu Dan berteriak kesal.
“Siapa yang jual ginjal cuma buat beli majalah seni? Ini uang dari monster yang punya manik kesialan itu! Lagipula harusnya dipakai donasi untuk membantu, kan.”
“Siapa yang kamu sebut ‘membantu’?!” Heukyo menghentakkan kaki dan membentak.
“Ah, bukan maksudku begitu.”
“Bukan gimana? Kau meremehkan kita karena toko kita sedang rugi? Orabeoni! Jangan terima uangnya!”
“Kenapa sih? Kenapa mau menyiram air dingin pada Tuan yang semangat membaca?”
“Orabeoni! Apa aku harus cabut pedang?!”
Mereka semua ribut. Tapi begitu Rubah membuka mulut, suasana langsung hening.
“Aku yakin aku sudah bilang, kembalilah ke duniamu.”
Nada suaranya tetap datar tanpa emosi. Tatapan kosongnya juga sama. Tapi karena ini sudah kedua kalinya, Yu Dan tidak acuh.
“Aku sudah bilang juga, aku benci yang merepotkan.”
Yu Dan menatap Baekran lurus.
“Tapi aku lebih benci kalau dunia dipenuhi hal kotor berkeliaran. Hidup isinya memang hal-hal yang tidak kita suka. Jadi ya, terpaksa pilih yang paling tidak membuat muak. Aku tidak mau mati konyol, jadi sebisa mungkin aku akan menahannya. Tapi, kalau sudah kelewatan... aku cukup datang ke sini.”
“Siapa yang mengizinkan?”
“Aku juga punya satu keahlian, tidak mendegarkan omongan orang.”
“Benar-benar merepotkan.” Begitu berkata, Baekran langsung berdiri. Lengan baju putihnya melesat ke arah Yu Dan.
Yu Dan refleks menghindar, teringat bagaimana Rubah itu dulu mengayun tombak raksasa dengan enteng. Tapi Baekran justru menarik tangannya, tampak bingung.
“Sedang apa?”
Yu Dan tiba-tiba sadar, tangan kanannya terasa ringan. Tadi ia memegang apa? Ingatannya tertinggal.
“Ah… kue….”
Baekran mengangkat bahu tak peduli.
“Yah mau bagaimana lagi. Kata mereka, sudah lama sekali ada tamu yang membawakan kue seenak itu, jadi semuanya begitu senang….”
Yu Dan melepas pita dan membuka kotaknya, tapi tangannya kemuian membeku.
Rubah menatap ke dalam kotak tanpa berkedip, lalu bertanya.
“Ada satu hal yang ingin kutanyakan….”
“Apa?”
“Apa kamu tidak tahu apa yang terjadi jika bahan yang bentuknya tidak padat, seperti krim, diguncang?”
“……?”
Yu Dan panik.
Waktu kemarin ia membawanya dengan tegang, jadi ia pegang rapi. Tapi hari ini ia tidak merasa perlu tegang. Ia mengetuk kartu bus sambil tetap membawa kotaknya, minum air, dan sejak masuk Banwoldang… ia bahkan sempat lupa bahwa ia membawa kue.
“Aku tidak tahu. Jarang beli ini. Tidak kepikiran kalau diguncang bisa hancur….”
“Begitu.”
Baekran mengangkat kepala. Wajahnya benar-benar merasa bersalah.
“Sepertinya aku harus minta maaf soal pernah bilang kamu ‘terlihat bodoh’. Bukan ‘terlihat bodoh’, ternyata kamu memang bodoh. Kamu tahu kan, ada perbedaan yang sangat besar antara dua konsep itu? Sama seperti ada perbedaan besar antara kue dan sesuatu yang ‘mirip kue’.”
“Ini masih bisa dimakan tidak ya…?” Chaeseol hampir menangis.
“Tidak apa-apa. Makan pakai sendok, bukan garpu. Makan kue pakai sendok juga pengalaman yang seru, kan?”
Chaewoo berucap tenang dan pergi ke dapur. Tuan Do dan Hukyo menatap Yu Dan seperti melihat manusia paling memalukan di dunia, tapi—
“Perlu enam, kan?”
—begitu Chaewoo bertanya, mereka tidak membantah. Melihat itu, sepertinya Yu Dan tidak akan diusir hari ini.
Kalau begitu, itu sudah cukup.
Dan entah kenapa, Yu Dan merasa senang.
................
