"Sudah selesai."

​Baek-ran melipat kertas itu menjadi dua, lalu melipatnya lagi, dan memasukkannya ke dalam kantong sutra. Chae-u menerimanya dan menyerahkannya kepada sang nyonya.

​Setelah memberikan penghormatan yang sopan ke arah Baek-ran, wanita itu menerima jimat tersebut. Kemudian, seolah meresap ke sudut ruang kerja, ia lenyap seketika. Beberapa helai sisik perak tertinggal di tempatnya, namun itu pun perlahan menjadi transparan dan menghilang.

​"Kalau begitu, kami permisi sebentar……."

​Si kembar berbisik pelan lalu keluar untuk mencuci batu tinta. Setelah pintu tertutup, Yu-dan membuka suara.

​"Ah, jadi, saat sedang di jalan tadi, di jembatan penyeberangan……."

​"Tidak perlu menceritakannya dari awal," potong Baek-ran. "Tadi saat kamu berbicara, aku sudah mendengar semuanya dengan jelas. Hanya ada satu hal yang perlu ku pastikan."

​"Apa itu?"

​"Tadi kamu bilang jendelanya terbuka?"

​Yu-dan mengangguk. "Ya. Jelas sekali ada sesuatu yang datang dan pergi, tapi aku tidak tahu apa itu. Saat aku melihat dengan mata ini, yang tertinggal cuma jejak kaki yang samar."

​"Aneh sekali. Biasanya makhluk-makhluk seperti itu secara insting akan menghapus jejak mereka. Meninggalkan jendela dalam keadaan terbuka adalah hal yang tak terpikirkan. Namun, jika jendela itu tetap terbuka……."

​Baek-ran mengalihkan pandangannya. Karena pantulan cahaya matahari, manik mata cokelatnya tampak keemasan.

​"Itu akan menjadi petunjuk penting. Mengapa ia tidak bisa menutup jendelanya?"

​"Mungkin karena lupa?"

​"Jawaban yang berdasarkan pengalaman pribadi mu sepertinya tidak akan banyak membantu. Dalam kasus ini, dia tidak bisa menutupnya meski ingin. Ada faktor penghambat. Aku menduga itu karena kedua tangannya tidak bebas."

​"Kenapa tangannya tidak bebas?"

​"Karena ia sedang memegang sesuatu. Dari situ kita bisa menduga identitasnya. Makhluk itu tidak menyerap atau melenyapkan jiwa anak kecil itu. Sebaliknya, ia membungkus dan membawanya pergi dengan kain."

​"Kain pembungkus?"

​"Itu adalah bungkusan jiwa."

​Baek-ran mengeluarkan buku tebal dari bawah meja dan membukanya. Itu adalah Gogeum-goeijeon, sebuah kitab yang mencatat semua Unusuals yang pernah diketahui hingga saat ini.

​"Pencuri jiwa mencuri jiwa dari tubuh orang yang masih hidup. Ia membungkusnya dalam kain lalu melarikan diri."

​"Kenapa?"

​"Mana ku tahu, aku kan bukan pencuri jiwa? Aku hanya menduga dia mengambilnya karena memang ingin memilikinya."

​Rubah segera menemukan bagian yang relevan dan menyodorkannya. Yu-dan menatap ilustrasi kuno di dalamnya.

​"Ini ayah dan anak?"

​"Benar. Saat sesosok yomul mencuri jiwa sang anak, seorang tabib yang punya ilmu alam ghaib, memberikan resep untuk mencari dan meminumkan rebusan banhon-cho sebelum malam itu berakhir. Banhon-cho yang muncul di sini berbeda dengan tanaman herbal biasa, ini adalah tanaman yang memiliki kekuatan magis murni. Tanaman yang mampu mengembalikan jiwa yang sudah dirampas."

​Baek-ran membalik halaman buku itu.

​"Sang ayah pergi mencari banhon-cho, namun ia tidak bisa menemukan di tempat yang pernah ia lihat sebelumnya. Saat waktu terus berlalu dan fajar semakin dekat, ia merasa sangat cemas. Lalu, ayah anak itu bertemu dengan seorang wanita yang sedang duduk di tanah sambil memeluk buntalan kain, dan bertanya apakah ia melihat banhon-cho. Wanita itu menunjukkan tempatnya, namun saat diperiksa, tidak ada apa-apa di sana."

​"Dia ditipu."

​"Benar. Sosok wanita itu tentu saja adalah yomul. Saat dia melarikan diri membawa jiwa anak itu dalam bungkusan jiwa, dia menyadari ayah sang anak mengejar. Ia pun duduk di atas banhon-cho untuk menyembunyikannya, lalu menunjuk ke arah yang salah."

​Yu-dan menatap gambar wanita itu. Sosok yang menunduk sambil mendekap erat kain pembungkus yang entah mengapa terasa mengerikan.

​"Pencuri jiwa tidak akan pernah melepaskan jiwa yang sudah berada di tangannya. Itu karena dia telah berkelana ke mana-mana mencari target sebelum akhirnya berhasil mendapatkannya."

​"Kalau begitu……."

​"Mungkin keinginan mendalam gadis itu yang memanggil pencuri jiwa. Meski itu bukan niat sesungguhnya, bagi pencuri jiwa, hal semacam itu sama sekali tidak penting."

​"Anak yang jiwanya dicuri, apakah dia akan mati?"

​"Jika sisa energi kehidupan yang ada sekarang habis, maka napasnya akan terhenti."

​"Begitu ya." Yu-dan mengernyitkan dahi. "Baiklah. Sekarang karena kita sudah tahu identitasnya, bagaimana cara menyelesaikannya? Banhon-cho……. Haruskah aku mencari tanaman itu? Di mana mencarinya?"

​"Aku memilikinya." Pandangan Baek-ran beralih sejenak ke arah halaman belakang. "Tapi itu tidak ada gunanya. Jika kamu melihat bagian ini, bukankah ada syarat bahwa itu harus diminumkan sebelum malam berakhir? Pencuri jiwa sangat cepat. Pada malam pertama, ia akan melintasi batas dunia fana dan melarikan diri ke dunia para makhluk bawah."

​"Kalau dia lari, tinggal tangkap lagi saja, kan? Kalian punya banyak bawahan dari dunia bawah atau apalah itu, hal sekecil itu seharusnya bukan apa-apa bagi kalian, kan?"

​"Menangkapnya memang bisa. Masalahnya adalah jiwa anak itu. Jiwa tanpa wadah pelindung (tubuhnya) sangatlah rapuh. Dalam kondisi itu, jika ia bersentuhan dengan siluman sepertiku, ia akan tekena energi siluman yang kuat dan berubah. Bahkan jika anak itu hidup kembali, ia tidak akan lagi bisa disebut manusia, melainkan jadi monster. Beberapa orang memohon agar jiwa mereka dikembalikan meskipun harus jadi seperti itu, tapi tentu saja akhirnya tidak pernah baik. Karena itulah, sebisa mungkin kami tidak terlibat dalam urusan seperti ini."

​Rubah menutup bukunya.

​"Sayang sekali. Padahal kamu sudah jauh-jauh datang ke sini—ah, maksud ku, mampir saat sedang jalan-jalan di sekitar sini, tapi kunjungan mu jadi sia-sia."

​"Tunggu sebentar. Jadi kamu mau membiarkannya begitu saja? Kenapa? Ini harus dibantu. Anak yang sehat tiba-tiba terancam mati. Napasnya sudah sangat lemah."

​"Aku tahu. Tapi jika tidak ada cara untuk menolong, mau bagaimana lagi?"

​Yu-dan berpikir sejenak. "Kalau masalahnya adalah jiwa yang berubah karena terpapar energi siluman…… kalau bukan siluman, tapi sesama manusia yang pergi mencarinya, bukankah itu tidak apa-apa?"

​"Secara teori memang begitu. Tapi, manusia mana yang berani masuk ke dunia para makhluk bawah berada? Begitu identitasnya sebagai manusia terbongkar, semua makhluk di sana akan menyerbu dengan rakus dan dalam sekejap mata sepotong tulang pun tidak akan tersisa. Siapa yang bisa melakukan pekerjaan berbahaya dan sulit seperti menyembunyikan identitas dengan sempurna di tempat seperti itu, menemukan pencuri jiwa, dan mengambil kembali jiwa yang hilang?"

​"Entahlah soal itu……." gumam Yu-dan. "Tapi memangnya di sini ada orang lain selain aku?"

​"Tidak boleh," potong Baek-ran tegas. "Lagi pula, ada banyak mata yang mengawasi. Jika terjadi kesalahan, akan sangat merepotkan. Mengirim orang yang masih hidup ke dunia makhluk bawah lalu orang itu tidak bisa kembali? Bagaimana aku bisa menanggung karma itu? Aku tidak bisa mengirim mu. Bukankah kamu juga tidak mengenal siswi itu dan hanya kebetulan bertemu di jalan? Memang menyedihkan bagi keluarga yang ditinggalkan karena harus kehilangan adik dalam semalam, tapi……."

​"Keluarga yang ditinggalkan apanya! Siapa yang sudah jadi keluarga ditinggalkan?!" Yu-dan protes, lalu ia menyadari sesuatu. "Jadi maksudmu, mengirimku ke sana sebenarnya memungkinkan? Hanya saja kamu tidak mau melakukannya karena bisa merepotkanmu?"

​"Kamu jeli juga di saat seperti ini. Bagaimanapun, yang tidak bisa tetap tidak bisa. Ini bukan masalah yang bisa diselesaikan dengan merengek."

​"Merengek?! Kamu pikir aku mau pergi? Tapi karena aku sudah terlanjur tahu, bagaimana bisa aku berpura-pura tidak tahu? Dunia mahkluk bawah atau apalah itu, aku benci pergi ke tempat seperti itu, tapi aku lebih benci jika tidak melakukan apa-apa! Aku cuma perlu pergi ke sana lalu kembali! Aku janji!"

​"Janji? Di dunia ini tidak ada yang lebih tidak berharga daripada itu. Kalau ada kepercayaan, janji tidak diperlukan. Dan kalau harus berjanji, itu berarti tidak ada kepercayaan, jadi bagaimanapun juga tidak ada nilainya."

​"Kenapa sih pikiranmu berbelit-belit begitu?"

​"Begitulah—" Rubah mengangkat bahunya. "Baiklah. Karena kamu begitu memohon, mau bagaimana lagi. Aku akan membukakan jalan."

​"Kapan aku memohon……." Yu-dan meringis. Ia merasa seperti sedang diperdaya. Katanya, mencari Unusuals melalui mata cheonan ini akan membantu siluman rubah itu, tapi mengapa tiba-tiba malah dia yang memohon bantuan? Padahal ini bahkan bukan urusannya sendiri.

​"Hanya saja, kamu harus ingat bahwa dunia di sana berbeda dengan dunia di sini. Segalanya berbeda dari awal sampai akhir. Di dunia para makhluk dunia bawah seperti itu, bagaimana caranya agar manusia bisa beraktivitas selama mungkin tanpa ketahuan?"

​"Entahlah. Bersembunyi dengan baik?"

​"Pertanyaan yang jawabannya lebih buruk daripada tidak bertanya sama sekali."

​Baek-ran berdiri dan membuka laci pada salah satu lemari di dinding.

​Ternyata penglihatan Yu-dan terakhir kali tidak salah. Laci itu benar-benar memanjang tanpa henti. Ia penasaran benda apa saja yang ada di dalamnya, namun karena ada bayangan aneh yang berkelebat dan suara-suara ganjil yang terdengar dari dalam, ia tidak berani mengintip.

​"Ada prinsip seperti ini. Misalnya, menurut mitologi perdukunan Pulau Jeju, Cheonjiwang Bonpuri, ketika manusia dan hantu sangat mirip sehingga sulit dibedakan, mereka ditentukan oleh berat badannya. Jika ditimbang di timbangan dan beratnya seratus geun, maka itu adalah manusia. Jika kurang satu geun alias sembilan puluh sembilan geun, maka itu adalah hantu. Dengan menggunakan prinsip ini, jika kita mengurangi berat satu geun dari manusia, kita bisa mengelabui mereka seolah-olah kamu adalah makhluk dunia bawah."

​"Benarkah?"

​"Memangnya aku akan berbohong?" Baek-ran memasukkan tangannya ke dalam laci. "Aku bisa memberikan mu pilihan."

​"Pilihan apa……?"

​Dengan mata yang sedang menimbang-nimbang, ia menatap Yu-dan dan bertanya.

​"Haruskah aku memotong tangan mu? Atau kaki mu? Mana yang lebih baik?"

​"Apa?!" Yu-dan terperanjat. "Tunggu! Tunggu sebentar! Apa yang kau keluarkan?!"

​Siluman rubah itu berputar dengan gesit. "Tadi itu bercanda."

​Yang ada di tangannya adalah sebuah jaring kecil yang biasa digunakan untuk menangkap ikan.

​"Meski dia bilang tidak apa-apa……." Wajah Chae-seol tampak penuh kecemasan. "Padahal berat badannya sudah lebih ringan seratus gram dibanding orang biasa, apakah tidak apa-apa jika dikurangi satu geun lagi? Kalau begini terus, tidak akan ada yang tersisa."

​"Lakukan saja dengan cepat, aku sedang sibuk!" Heukyo nyaris meledak. "Bukankah sudah ku bilang aku meninggalkan toko begitu saja! Aku tidak peduli kau mau membahayakan nyawamu sendiri, tapi aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kau membahayakan pendapatan toko kita!"

​Sementara itu, Tuan Do berdiri agak jauh dengan kedua tangan di dalam saku.

​"Haruskah aku ikut melakukannya? Belakangan ini pergelangan tanganku terasa linu karena sedang merapikan gudang."

​"Kami bertiga tidak kuat mengangkatnya. Lagipula sudah lama tidak melakukan hal seperti ini. Mari kita coba angkat bersama untuk bersenang-senang." Chaewoo berkata sambil mengawasi mata jaring yang berada di atas kepala Yu-dan dengan saksama. "Ah, sudah. Paman, cepat ke sini."

​Tuan Do mendekat sambil menggerutu.

​"Satu, dua, tiga."

​Sesuai aba-aba Chaewoo, mereka berempat mengangkat jaring itu secara bersamaan. "Ugh!" "Kya!" "Akh!" Berbagai teriakan terdengar.

​"Benar saja. Meski hanya satu geun, ini terlalu berat. Hati manusia itu." Tuan Do berkata sambil memijat pergelangan tangannya.

​Yu-dan hanya merasa bingung. Seperti yang ia duga, berat yang dikurangi bukan berasal dari tubuhnya. Melainkan dari hatinya. Mereka bilang itu karena yang pergi ke dunia makhluk bawah bukan raganya, melainkan jiwanya.

​Jaring itu sekarang menjuntai dengan berat. Baek-ran memasukkan sesuatu yang tak kasat mata itu ke dalam botol labu. Yu-dan memiringkan kepalanya.

​"Sepertinya tidak ada yang berubah. Apa yang kau keluarkan dari hatiku?"

​"*** itulah yang keluar."

​"Apa? Tidak kedengaran."

​"Wajar tidak terdengar. Karena saat ini kamu bahkan tidak tahu apa itu ……."

​Baek-ran menyegel botol labu itu dengan baik, memasukkannya ke dalam laci rak buku, dan menempelkan selembar jimat. Terdengar suara klik seperti terkunci dari dalam.

​"Akan ku kembalikan setelah kamu pulang."

​"Aneh sekali. Sebenarnya apa yang hilang?"

​"Tuan Muda, sekarang saatnya kamu menyamar menjadi makhluk dunia bawah." Chaewoo menyodorkan sesuatu yang dibungkus kain putih. "Karena kamu harus menyembunyikan wajah manusia mu. Aku memilihkan ini dengan sepenuh hati, sesuatu yang pasti cocok untuk mu."

​Sambil tersenyum ramah, ia membuka kain pembungkusnya.

​Itu adalah sebuah topeng merah. Mata besarnya yang hanya menyisakan bagian putih tampak menyipit panjang, dan permukaannya penuh dengan tonjolan kasar serta bintik-bintik putih. Meskipun Yu-dan sudah terbiasa dengan rupa mengerikan berbagai siluman, topeng ini termasuk dalam jajaran peringkat atas kegarangannya.

​"Apa ini! Ini terlalu mengerikan!"

​"Tentu saja. Karena ini adalah topeng Yeok-gwi."

​"Yeok-gwi? Hantu yang menyebarkan wabah penyakit? Inikah hasil pilihan sepenuh hatimu yang kamu bilang cocok untukku?"

​"Jangan berlebihan. Tidak ada bedanya dengan wajahmu sehari-hari." Siluman ular ikut menimpali. "Cepat pakai! Kenapa ragu-ragu? Bukankah Kakak ini sudah bilang kalau aku sibuk! Jangan ragu-ragu, berikan padaku……. Oh, Orabeoni! Bukankah ini Yeok-gwi yang sempurna? Seumur hidup aku telah melihat banyak Yeok-gwi, tapi baru kali ini aku melihat yang begitu membuat merinding!"

​"Jangan terus-terusan menatapnya. Melihatnya saja rasanya seperti akan tertular wabah."

​"Seram. Wabah itu tidak akan bisa disembuhkan bahkan dengan Dongjasam (ginseng legendaris). Itu pasti bisa memusnahkan satu desa dengan mudah."

​"Lihat, kan? Sudah kubilang aku memilihkan yang cocok."

​Mendengar bisikan mereka semua, Yu-dan merasa kesal. "Kalian keterlaluan!"

​"Kenapa begitu? Pilihan itu sudah tepat." Siluman rubah berkata sambil tersenyum. "Mau bagaimana lagi? Meski kamu menyamar sebagai hantu, kamu pasti akan bertingkah kikuk dan pasti akan menunjukkan gelagat sebagai manusia. Jadi, kita harus membuat makhluk lain tidak berani menatap mu. Yeok-gwi, yang membuat orang langsung membuang muka begitu melihat wajahnya, adalah yang paling tepat."

​"Benar. Dengan begini kamu tidak akan ketahuan. Jangan khawatir dan pergilah dengan selamat." Chaewoo membetulkan posisi topeng itu dengan riang. "Semua akan baik-baik saja. Kamu pasti bisa mengambil kembali jiwa yang dicuri pencuri jiwa dan kembali ke dunia ini dengan selamat. Ngomong-ngomong, apa nama toko tempat Tuan Muda biasa membeli kue itu?"

​"Kenapa kau menanyakan itu di situasi begini? Jangan-jangan kau berpikir aku tidak akan bisa kembali?"

​"Bukan begitu. Paman yang menyuruhku terus menanyakannya."

​"Kapan aku menyuruhmu! Aku tidak ingin kehilangan pelanggan yang selalu menghabiskan stok barang lama. Mengertilah perasaanku ini. Tapi jika terjadi sesuatu, bolehkah aku memiliki dompet yang kau tinggalkan sebagai warisan?"

​"Orabeoni. Bukankah kita sudah sepakat kalau itu bagianku? Aku harus membayar tagihan utilitas yang menunggak!"

​"Kalian jahat." Chae-seol bergumam sedih. "Kalian semua terlalu jahat. Bagaimana bisa percakapan terakhir yang didengarnya di dunia fana adalah hal seperti ini. Setidaknya aku akan mendoakan kedamaian arwahmu. Namu Amita Bul Gwan-se-eum……."

​"Jangan doakan arwahku!" Yu-dan bergidik ngeri. Terlebih lagi, sejak memakai topeng Yeok-gwi, ia merasa aneh seolah seluruh tubuhnya tertutup lapisan selaput. Rasanya seperti ia telah menjadi makhluk yang sama sekali berbeda.

​"Aku tidak ingin mendengar suara-suara sial lagi. Ayo cepat pergi. Kamu bilang akan memberiku pemandu jalan, kan?"

​"Baru saja saat melihat ini, pikiran ku berubah." Mendengar perkataan siluman rubah itu, wajah Yu-dan menjadi cerah.

​"Benar, kan? Kamu pikir aku bisa menemukannya sendiri, kan?"

​"Pemandu jalan biasa tidak akan cukup. Kamu pasti akan tersesat di antara kabut kelalaian dan jiwa-jiwa yang bergentayangan."

​"……."

​"Seperti yang ku katakan, jika itu terjadi, posisi ku akan sangat sulit, jadi mau tidak mau aku sendiri yang harus mengantarkan mu."

​Baek-ran membawakan sebuah kotak sutra. Saat tutupnya dibuka, tampak tumpukan bulu yang berkilauan warna-warni.

​"Bagi manusia, jaraknya sangat jauh hingga dikatakan 'tiga ribu li ke barat'."

​Ia mengambil sekitar sepuluh helai bulu dan menebarkannya ke udara.

​"Kalau kamu melangkah di atas bulu Daebung (burung raksasa mitologi) yang mampu terbang sembilan puluh ribu li dalam sehari, Anda akan sampai dalam sekejap mata."

​Bulu-bulu warna-warni itu melayang di udara, membentuk jembatan batu pijakan yang menyilaukan. Jembatan itu menembus salah satu dinding ruang kerja dan membentang jauh hingga ke ruang yang sangat luas di seberang sana.

​................


Got an error? Report now
Comments

Comments

Show Comments

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang