Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1
<Chapter 4>
“Bukan begitu. Selama ini kebetulan saja kamu terlalu beruntung. Dunia ini seperti labirin yang sangat berbahaya. Kita tak pernah tahu apa yang muncul setelah belokan berikutnya. Setidaknya demi mereka yang mengkhawatirkanmu….” Ia terdiam di tengah kalimat. “Ah, aku juga aneh. Untuk apa bicara sepanjang ini? Takdir setiap orang tetap milik masing-masing. Lagipula, sekalipun kuberi nasihat, toh kamu tak akan mengingatnya.”
Yu Dan tersulut.
“Aku tidak sebodoh itu!”
“Bukan begitu maksudku. Tadi sudah kubilang, kan? Naluri manusia. Apa yang kita alami hari ini terasa nyata sekali, tapi perlahan akan memudar dari ingatanmu. Banwoldang, toko barang antik dan buku itu, bahkan siluman yang tinggal di lantai dua, semuanya akan kamu lupakan.”
Ia berkata begitu sambil tersenyum tipis.
“Sekarang sudah cukup.”
Buku itu ditutup tegas.
Mata cokelat itu tersenyum, tapi jelas artinya: pergilah. Jangan membantah.
Yu Dan berdiri dengan ragu, lalu keluar dari ruangan.
Dengan perasaan seperti menginjak tanah yang lembek dan dalam, ia menuruni tangga kembali ke lantai bawah.
Mereka ternyata sudah membongkar kue.
“Kalau tampilannya cantik biasanya rasanya tidak enak. Kue ini terlihat sangat tidak enak.”
“Tidak! Ini enak! Sangat enak! Cepat coba!”
Karena didesak si bocah lelaki, gadis itu mencubit sedikit bagian pinggirnya lalu menjilatnya pelan. Wajah imutnya seketika memerah.
“Aah~ Gimana ini~! Enak banget! Tapi tinggal empat potong! Aku jadi sedih~!”
“Masih ada empat! Kita semua bisa makan satu lagi!”
“Aku cukup.”
Siluman pria tua itu melambaikan tangan.
“Sisakan satu potong terpisah. Beliau memang tidak suka manis, tapi kadang kalau sedang berpikir serius, dia makan sedikit.”
“Mungkin sambil berpikir bagaimana bisa orang makan benda seperti ini.”
Heukyo berkata sinis. Tapi garpunya bergerak teratur. Baru setelah itu ia menyadari Yu Dan ia membeku.
“Makan saja yang banyak. Jangan pedulikan aku.”
Yu Dan melangkah melewati mereka.
“Tunggu!”
Si kembar laki-laki buru-buru maju.
“Tidak boleh! Sudah membelikan kue seenak ini, masa tidak kami balas apa-apa? Minum teh dulu sebelum pergi.”
“Tidak mau.”
“Tolong….”
“Kalian aneh. Takut denganku tapi bersikap begini? Suka menyiksa diri?”
“Bukan! Sama sekali bukan! Kami cuma pegawai yang ingin bersikap sopan pada tamu! Kalau tamu pulang tanpa kami jamu teh, seratus hari ke depan tidurku pasti tidak nyaman….”
"Panjang banget penyesalannya!?”
“Justru itu. Jadi tolonglah….”
Tatapan putus asa membuatnya tak bisa menolak. Akhirnya Yu Dan duduk asal di kursi terdekat.
“Terima kasih. Keputusan yang bagus.”
Anak laki-laki itu tersenyum lebar dan membawa teko. Si kembar perempuan yang tadinya mengamati dari jauh juga mendekat dan duduk pelan-pelan.
“Oh ya, belum sempat memperkenalkan diri. Namaku Chaewoo, Tuan. Ini kakak kembarku, Chaeseol. Meski pesimis, tapi dia baik kok. Yang di sana itu Heukyo, ular hitam. Seram, tapi sebenarnya penyayang. Dan yang itu dokkaebi yang mengelola toko ini, panggil saja Paman Do….”
“Siapa juga yang butuh dipanggil!”
Do-ssi menjawab ketus.
“Jadi, apa yang beliau katakan? Tentang mata itu.”
“Katanya… cheonan.”
“Apa?”
Semua terkejut.
“Kupikir itu hyungan(mata sial)!”
“Kami juga!”
“Hebat! Jadi benar-benar ada yang seperti itu!”
Mereka ramai sendiri. Yu Dan malah tak terlalu peduli.
“Kalau memang sebagus itu, ambil saja.”
“Kalau bisa, aku juga ingin sekali.” Heukyo bergumam. “Bagaimana bisa sesuatu seperti itu jatuh ke orang seperti dia? Sayang sekali. Kalau sampai padaku, pasti bisa sangat membantu Cheonho-nim.”
Ia menatap mata Yu Dan kesal.
“Maksudmu rubah di atas itu? Dia kelihatan tidak butuh bantuan siapa pun.”
“Sama sekali tidak.” Chaewoo menggeleng. “Sejak dulu beliau sudah membasmi hal-hal jahat. Karena itu kabar tentangnya menyebar, dan mereka bersembunyi rapat-rapat. Tapi dunia semakin semakin kotor, jadi tak lagi semudah dulu.”
“Begitu? Aku bisa melihat dan mendengar dengan kalian jelas. Kalau memang bisa menyelamatkanku, sebagai balas budi aku bisa bantu dia menangkapnya.”
“Tidak perlu.”
Chaewoo tersenyum dan melambaikan tangan.
“Kakak tadi hanya asal bicara. Tuan Do benar. Beliau tidak akan menerima bantuan siapa pun. Itu kebanggaan seorang cheonho.”
“Ngomong-ngomong, Apa itu Cheonho? Cheon seperti langit?”
“Begitulah.” Heukyo menjawab singkat. “Makhluk mulia yang tak pantas kau sebut. Berbeda dengan gumiho (siluman rubah) kelas rendahan. Jadi hentikan sikap tak sopanmu.”
“Tapi tetap siluman, kan?”
Heukyo mendelik. “Hanya karena kau punya satu mata aneh, bukan berarti kau bisa memandang rendah semuanya. Kalau begitu hebat, kenapa sekarang meminta tolong pada siluman yang kau remehkan?”
“Sudah sudah, tenang.” Do berkata santai.
“Sifat manusia memang begitu. Bikin masalah sebanyak-banyaknya, lalu saat terpojok datang minta tolong tanpa malu. Kepada siluman yang mereka hina dan remehkan. Sudah berapa lama kita melihat manusia seperti itu?”
“Ini semua gara-gara novel dan komik pengusiran roh. Manusia selalu membuat masalah lebih dulu, lalu minta tolong seolah itu hak mereka. Dan siluman bodoh yang menolong tanpa imbalan jadi dianggap naif, bukan? Padahal punya kemampuan bukan berarti berutang pada mereka.”
“Betul! Novel yang kubaca kemarin juga begitu! Exorcist juga harus makan, tapi jangankan diberi imbalan, ucapan terima kasih saja susah!”
Oh. Jadi maunya dibayar?
Yu Dan refleks merogoh dompet, tapi Chaewoo buru-buru menghentikan.
“Tidak usah. Mereka cuma sedang mengomel. Saat baca novel pengusiran roh mereka juga terharu. Bahkan saling berlomba menggarisbawahi bagian favorit. Menolong tamu juga sebenarnya mereka suka. Hanya saja… melihat Cheonho-nim yang selalu mengerahkan tenaga begitu sia-sia rasanya menyedihkan.”
“Sia-sia? Menyelamatkanku sia-sia?”
“Bukan begitu! Maaf, aku salah bicara.”
Chaewoo cepat mengganti topik. “Pokoknya jangan terlalu dipikirkan, nikmati saja tehnya. Jarang-jarang bisa terjerat Unusuals seburuk itu. Anggap saja semacam berkah.”
“Berkah? Bagaimana caranya ini disebut berkah?”
“Kenapa tidak? Setelah jadi pengganti kesialan sekali, kau jadi sadar betapa berharganya kehidupan biasa. Bukankah itu bagus?”
Paman Do ini sepertinya tipe yang optimis.
Sebaliknya, Chaeseol terlalu pesimis. Saat Yu Dan mengangkat cangkir, ia bergumam muram.
“Akan tumpah. Pasti tumpah.”
Mana mungkin. Aku bukan anak kecil.
Begitu cangkir hampir menyentuh bibirnya, ia melihat kepala naga terendam di dalam teh.
“UAK!”
Cangkir hampir terlepas. Tapi ia berhasil menahannya tepat sebelum jatuh.
“Ini apa sih! Teh macam apa ini?! Ini teh sungguhan?”
“Itu Yongseol Gamrocha(teh manis embun lidah naga). Sangat berharga, jadi tolong jangan dibuang.”
Chaewoo memohon. Yu Dan menatap isi cangkir dengan wajah jijik. Kepala aneh dalam minuman sudah biasa ia lihat di rumah, tapi kepala naga tetap saja sulit diterima.
“Lihat, kan. Wajahnya seperti habis menggigit serangga. Pasti tidak diminum. Teh mahal yang kuracik dengan sepenuh hati bakal masuk tempat sampah. Setiap kali lihat kepala naga di lemari, aku akan sedih. Lima kali sehari sedih seumur hidup.”
Chaeseol merapal seperti mantra.
Benar-benar si kembar dengan penyesalan panjang.
Yu Dan menutup mata dan meneguk sedikit.
Wajah Chaeseol langsung bersinar.
“Tidak boleh senang. Nanti pasti muntah. Tapi aku sangat senang. Boleh senang kan, sampai sebelum muntah?”
Matanya berbinar. Baru kali ini Yu Dan menyadari betapa cantiknya dia. Kalau bertemu dalam keadaan biasa, mungkin ia akan menatap lama.
Heukyo yang sedang mengelap peralatan teh juga sama. Sangat cantik, meski auranya dingin seperti saat menghunus pedang tadi.
Mereka semua siluman.
Perasaan tidak menyangka ini kenyataan menyelusup.
Chaewoo menuang teh lagi.
“Ayahmu di Tiongkok? Masih SMA tapi tinggal sendiri, hebat.”
“Apa hebatnya. Sejak SMP aku sudah sendiri.”
“Masak, cuci piring, cuci baju sendiri juga?”
“Tidak. Ada orang yang bekerja siang hari.”
“Begitu ya? Rumah tanpa wanita memang terasa berbeda. Pasti sulit. Mau kuberikan satu ureonggaksi?”
Dia berbicar tulus hingga terdengar seperti sungguh-sungguh akan menghadiahkan ureonggaksi (roh perempuan dari cerita legenda Korea yang keluar dari cangkang siput).
Yu Dan menggeleng. Ia lalu keluar dari Banwoldang.
.................
