Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 3>

“Ku perhatikan, sepertinya dia sangat menyayangimu. Meski dia bilang kamu adik bodoh, tapi dia memohon agar kamu diselamatkan.”

Adik bodoh? Maksudnya aku?

Yu Dan hendak membantah, tapi lengan baju putih itu bergera melintas di depan wajah, menghalangi penglihatannya, membuatnya kehilangan momen.

“Kalau begitu, lewat sini.”

Baekran menunjuk ke arah tangga menuju lantai atas. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung berbalik dan menghilang lebih dulu.

“Ah, benar-benar….”

Siluman paruh baya itu bergumam kecil sambil mengecap lidah. Di sebelahnya, siluman ular menatap Yu Dan dengan sorot mata seperti ingin membunuh.

Merasa tidak nyaman, Yu Dan menaiki tangga kayu itu.

Tangga tersebut sudah sangat tua. Setiap pijakan mengeluarkan bunyi berderit nyaring, tapi rubah mampu melangkah naik tanpa suara.

Lantai atas merupakan ruang kerja yang luas.

Begitu masuk, rasanya seperti melangkah ke ruang yang jauh lebih besar daripada yang terlihat oleh mata. Mungkin karena jumlah bukunya yang ada banyak. Ruangan itu dikelilingi rak-rak yang dipenuhi buku-buku tua. 

Di tengah ruang yang sunyi itu, ada sesuatu yang mecolok berdiri.

Kucing?

Pikiran itu muncul sekilas, lalu Yu Dan langsung terkejut saat menyadari wujud aslinya. Mengenakan dallyeong (pakaian pejabat) merah dengan hyungbae (bordir) bergambar bangau, lengkap dengan ikat pinggang. Makhluk itu tampak seperti boneka perdana menteri kecil yang lucu.

Wujud asli makhluk itu rupanya seekor katak.

Di belakangnya, bayangan-bayangan tak terhitung jumlahnya bergerak samar. Sepertinya para makhluk yang ikut datang tidak berani menampakkan wujud asli mereka dan bersembunyi.

Katak “perdana menteri” itu berseri-seri melihat Baekran, ia berlari kecil mendekat.

“Ke mana saja Anda? Dengan pedang yang Anda pinjamkan, saya sudah menebas si sialan busangsa (musibah) itu. Ini kepalanya.”

Ia mempersembahkan sebuah bungkusan kain sutra besar dengan kedua tangan.

Kepala? Tadi dia bilang kepala, kan? Aku tidak salah dengar?

“Kerja bagus.”

Hanya dengan satu pujian itu, mata katak tersebut langsung berbinar. Ia merapatkan kedua tangan kecilnya dan menatap Baekran dengan penuh hormat dan kekaguman.

“Untuk sementara kita tak perlu khawatir lagi. Cheonho-nim selalu menyelesaikan masalah sulit seperti ini—sungguh….”

Saat hendak melanjutkan pidato panjangnya, barulah ia menyadari keberadaan Yu Dan dan melonjak kaget.

“Aaah! Tidak mungkin! Manusia! Ada manusia di sini! Tidak sopan! Berani-beraninya menginjakkan kaki kotor di tempat ini!”

Sambil marah-marah, katak itu mengeluarkan sesuatu seperti giok kecil dari balik bajunya dan memukul-mukul kaki Yu Dan. Sayangnya tidak sakit sama sekali, justru geli.

“Dia tamu.”

Begitu Baekran berkata, katak itu langsung terdiam. Wajahnya memerah malu.

“A-ah… tamu….”

Ia menurunkan giok itu canggung, lalu berdehem.

“Begitu rupanya. Sudah lama tidak ada tamu. Mohon maaf atas ketidaksopanan saya. Oh, iya! Perlukah saya ambilkan buku itu? Buku yang selalu Anda keluarkan setiap kali ada tamu.”

Tanpa menunggu jawaban, katak melompat ke rak dan mengambil sebuah buku. Buku itu jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri, dan ia membawanya sambil terengah-engah sebelum meletakkannya di atas meja.

“Kalau begitu, karena Anda sibuk, saya pamit dulu. Jika ada perintah lain, silakan panggil kapan saja.” Ia memberi hormat lalu pergi.

Sejak masuk ke tempat ini, Yu Dan merasa kepalanya semakin lama semakin kacau.

Ia menggelengkan kepala, lalu duduk di seberang meja dan menatap buku yang tampak begitu tua hingga mustahil menebak dari zaman apa asalnya.

“Jeomnyeong…?”

“Gogeum.”

Rubah itu langsung membetulkan.

“Melihat satu atau sepuluh kata saja tidak bisa, tapi kamu tetap asal bertindak, makanya jadi seperti ini. Jangan coba-coba membaca. Dengarkan saja penjelasanku. Lagipula semua ini isinya hanmun. ”

Sungguh ingin Yu Dan membalas karena dipandang seperti orang buta  , tapi mengingat ia sedang minta tolong, Yu Dan menahannya.

“Ya sudah. Aku tidak baca. Jadi ini buku apa sebenarnya?”

“Ini adalah Gogeum Goeijeon—buku yang mencatat semua Unusuals yang diketahui, dari zaman dahulu hingga sekarang.”

“Unusuals? Rasanya beda dari siluman, hantu, atau arwah.”

“Benar.”

Baekran membuka halaman buku.

“Unusuals sudah berkeliaran di tanah ini sejak zaman kuno. Mereka menyusup pada celah kelemahan manusia, tapi tidak selalu berniat jahat. Keberadaannya sendiri sulit dijelaskan. Hanya dengan memahami sebab-musababnya dan menanganinya dengan benar, barulah bisa dikembalikan ke tempat semestinya. Sesuai dengan alur alam.”

Jarinya berhenti.

Seolah menemukan sesuatu yang dicari, ia memutar buku itu dan menyodorkannya ke Yu Dan.

Di samping deretan hanmun (bahasa Tionghoa klasik), ada beberapa ilustrasi. Salah satu yang menarik perhatian adalh gambar seorang biksu yang tewas tertusuk pisau dan tergeletak di genangan darah.

“Ini yang disebut pengganti kesialan.” Baekran berkata pelan.

“Pertama-tama, kamu harus memahami apa itu Kesialan. Kesialan adalah energi jahat yang datang tiba-tiba. Ia mendatangkan kemalangan dan mencelakai manusia. Bisa berupa kehilangan sesuatu yang berharga, kecelakaan tak terduga, bahkan kematian. Karena itu, semua orang berusaha menghindari Kesialan. Tapi Kesialan tidak bisa dihindari begitu saja. Ia harus ‘diterima’ oleh orang lain sebagai pengganti.”

Meski sikapnya tidak ramah, tapi penjelasannya lembut dan terstruktur. Mudah dipahami. Jadi, Yu Dan mendengarkan dengan serius.

“Kisah ini terkenal dan tercatat dalam buku-buku lama seperti Kisah Rakyat Klasik. Dahulu, seorang satto dari Hapcheon mendapat seorang anak di usia senja. Karena anak itu begitu berharga, ia dimanjakan, dan tumbuh menjadi sosok angkuh. Seorang biksu besar dari Haeinsa lalu membawa anak itu pergi dan mendidiknya dengan keras.”

Dalam gambar, para biksu menahan seorang anak, sementara biksu besar menusuk paha anak itu dengan alat runcing.

“Tunggu. Itu bukan menegur. Itu hampir seperti pembunuhan.”

“Anak itu menyimpan dendam, dia belajar keras, lulus ujian negara, dan diangkat menjadi Gubernur Gyeongsang. Ia berniat membunuh semua biksu Haeinsa, tapi saat bertemu biksu besar itu, entah kenapa semua kebenciannya lenyap. Sang biksu besar berkata bahwa ia sudah mengetahui semuanya, dan berpesan: ketika kelak ia menjadi Penguasa Pyeongyang, ia akan mengirim seorang biksu, dan ia harus tidur sekamar dengannya.”

Baekran menunjuk gambar berikutnya.

“Pada hari yang dijanjikan, seorang biksu benar-benar datang. Penguasa itu memperlakukannya dengan sangat baik dan menidurkannya di tempat yang paling hangat. Di tengah malam, ia mencium bau amis dan meraba tempat tidur. Saat menyalakan lilin, biksu itu sudah mati dengan perut tertusuk pisau. Keesokan paginya diketahui bahwa pelakunya adalah seorang budak negara yang menyimpan dendam. Ia mengira Penguasa tidur di tempat paling hangat dan menikam tempat itu. Biksu besar sudah mengetahui semua ini sebelumnya, dan sengaja mengirim biksu itu untuk menerima kesialan sebagai pengganti.”

Yu Dan menatap gambar terakhir. Tubuh biksu yang tewas tergeletak di genangan darah membuat bulu kuduknya meremang.

“Terus… biksu itu salah apa?”

“Entahlah. Mungkin ada sebab-akibat tertentu, tapi kisah ini tidak menjelaskannya.”

Baekran menatap Yu Dan.

“Dengan ini, seharusnya kamu paham apa itu pengganti kesialan. Seseorang yang menerima kesialan yang seharusnya ditanggung orang lain. Masalahnya, jika seseorang tahu bahwa ia dijadikan pengganti kesialan, apakah ia akan rela menerimanya?”

“Tidak.”

“Tepat. Maka orang yang dijadikan pengganti kesialan pun menipu orang lain dan menjadikannya sebagai pengganti kesialan berikutnya. Hal ini terus berulang, hingga kesialan yang seharusnya lenyap justru terus menumpuk. Kesialan itu seperti badai. Karena tak pernah tersalurkan, ia menarik energi buruk lain dan membesar. Seseorang dengan kekuatan tinggi tampaknya menyegel kesialan itu. Tapi ada siluman yang salah mengira itu harta dan memungutnya. Ia tahu tidak bisa membuangnya sembarangan, jadi kerepotan. Lalu muncullah manusia polos yang malah minta benda itu. Betapa senangnya dia.”

Kata “polos” menusuk tepat sasaran. Yu Dan menekan keningnya yang berdenyut.

“Jadi sekarang apa yang harus kulakukan? Lubang itu kelihatannya tidak mempan dengan cara biasa.”

“Itulah sifat kesialan. Kesialan diciptakan untuk menempel pada seseorang. Selama belum menempel, ia tidak akan tenang.”

“Kalau begitu solusinya…?”

“Ya tentu saja harus ditempelkan pada seseorang.” Baekran berkata datar. “Kita butuh pengganti kesialan baru. Kali ini, ia tidak boleh lari dan harus menerimanya sepenuhnya. Jadi, apakah ada orang yang kamu inginkan?”

“Ha?”

“Orang yang ingin kau timpa dengan kesialan.”

Yu Dan tersentak. “Jelas tidak ada! Apaan maksudmu itu!”

“Kalau begitu, bagaimana dengan anjing atau kucing?”

“Tidak mau!”

“Tikus juga boleh.”

“Pokoknya tidak!”

“Lalu siapa yang kamu pilih?”

Yu Dan terdiam. Melihatnya panik, Baekran menyipitkan mata dan tersenyum tipis. "Aku cuma bercanda.”

“Tidak lucu, tau!”

Baekran bangkit, menyusuri rak bagian bawah dengan jarinya, lalu menarik sebuah laci. Entah perasaan saja atau tidak, laci itu terlihat seperti memanjang tanpa ujung.

“Seharusnya masih ada satu atau dua… ah, benar, masih ada.”

Ia mengeluarkan sesuatu berwarna kekuningan.

Boneka kecil dari anyaman jerami.

Jewoong (boneka penampung hal buruk).

Yu Dan pernah melihat Jewoong di museum. Tapi yang ini terasa berbeda, seolah bisa hidup kapan saja. Seperti kata Mia, 'itu sungguhan'.

“Ini yang akan menerima kesialan sebagai pengganti.”

Baekran meletakkannya di atas meja.

“Nama lengkapmu. Yu hanja willow, dan Dan hanja cinnabar. Benar?”

Yu Dan mengangguk spontan.

“Benar.”

Baekran menulis nama Yu Dan di secarik kertas dan menyelipkannya ke dada Jewoong.

“Seharusnya ia diberi pakaian, tapi kita tak punya waktu. Kita pakai potongan pakaianmu saja. Seragam sekolah, tidak masalah? Silahkan lepas satu kancing.”

Yu Dan melepas satu kancing lengan. Baekran membungkusnya dengan kain merah dan memasukkannya ke perut Jewoong. Terakhir, ia menggambar cap palsu di keningnya.

“Seperti yang kukatakan, kesialaan hanya diusir sementara dan akan kembali. Saat itu datang, lemparkan Jewoong ini ke dalam lubang hitam.”

Ia mendorong Jewoong ke arah Yu Dan.

“Kamu sanggup?”

“Mungkin.”

“Tidak sulit. Hanya satu hal yang harus kau patuhi. Dengarkan baik-baik. Jangan pernah memberi Jewung bagian tubuhmu. kuku, rambut, atau apa pun.”

“Kenapa aku harus memberi itu?”

“Maksudku bukan kamu yang memberi, tapi Jewoong akan berusaha memakannya. Jadi kamu harus mencegahnya. Tingkahnya mungkin akan membuatmu jijik dan enggan menatapnya, tapi kau tetap harus mengawasinya.”

“Berarti… ini benar-benar hidup?”

“Tentu. Ia sudah diberi kehidupan. Jangan pernah lepaskan dari pengawasanmu. Bahkan sedetikpun”

Yu Dan menatap Jewoong dengan wajah masam.

“Kamu siluman, jadi mungkin kamu tidak paham. Kalau aku bawa ini ke mana-mana, orang bakal menganggapku gila. Dari dulu aku sudah dicap aneh. Mereka tidak bisa melihat apa-apa, jadi mereka menganggapku melihat udara kosong atau mengejar angin. Kalau kutambah ini, aku benar-benar bisa dibawa ke rumah sakit jiwa.”

“Tidak pelru khawatir.” Rubah terkekeh.

“Jika Unusuals datang, manusia akan menutup mata mereka sendiri. Bukan secara harfiah, melainkan naluri bertahan hidup. Mereka takut kesialan itu menular, jadi meski melihat, mereka tak akan melihat; meski mendengar, mereka tak akan mendengar. Apa pun yang kamu lakukan, mereka tidak akan menyadarinya. Kecuali… orang-orang yang sejak awal memang rusak mekanismenya.”

“Contohnya… aku?”

Baekran tidak menjawab. Mata Yu Dan kembali berdenyut. Ia menutup mata kirinya.

“Dulu aku tidak begini. Hari itu aku….” Kata-katanya terhenti.

“Mengalami kecelakaan.” Baekran menyambung.

“Bagaimana kamu tahu?”

“Kurang lebih aku bisa melihatnya. Meski sangat kacau. Sepertinya kamu bertemu dengan magwi (makhluk jahat) yang sangat kuat.”

“Aku sendiri tidak tahu apa itu. Intinya sejak hari itu aku jadi begini. Aku bukan cuma lihat siluman atau arwah. Ada orang yang lehernya ditumbuhi noda hitam, beberapa waktu kemudian mati terkena kanker. Ada foto orang berbaju putih, tapi aku melihatnya merah, tak lama kemudian kecelakaan. Aku tidak mau melihat semua itu. Apa mata ini bisa dinormalkan lagi? Kenapa aku harus terkena kutukan ini….”

“Itu bukan kutukan.” Baekran menjawab tenang.

“Kalau yang kamu katakan benar, dan yang kulihat juga benar… itu adalah cheonan.”

“Cheonan?”

“Mata yang bisa melihat hukum hidup dan mati. Bagi mereka yang berada di dunia ini, itu adalah harta yang diidamkan.”

Yu Dan terkejut.

Selama ini ia mengira itu kutukan. Tapi ternyata itu harta?

“Tidak masuk akal. Ini cuma membuatku repot. Aku tidak mau. Kalau memang sebagus itu, kenapa kamu mengambilnya?”

“Itu tidak mungkin.” Rubah menggeleng. “Justru aku tak mengerti. Apa yang merepotkan? Kamu hanya bisa melihat.”

“Tapi begitu aku melihat, aku tidak bisa diam. Karena orang lain tidak lihat, yang bisa bertindak cuma aku. Kalau sudah muncul di depan mata, mau tidak mau aku harus membantu.”

“Itu sungguh disayangkan.” Baekran berkata santai. “Salah mengira manik kesialan sebagai alat sihir saja sudah menunjukkan betapa sedikitnya pengetahuanmu. Seharusnya, apa pun yang kamu lihat, kamu berpura-pura tidak tahu. Tapi kamu tak bisa mengendalikan sifatmu. Orang-orang bilang itulah nasib mati mengenaskan.”

“Kali ini cuma sial saja!”

 

.................. 



Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu