Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 2>


Mau bagaimana lagi, untuk sekarang dia memang harus pergi.

Yu Dan kembali melangkah sambil masih memegang kotak kue itu dengan hati-hati. Lalu ia menoleh sekilas ke belakang.

Sebenarnya ia tidak benar-benar berharap, tapi….

Lubang itu tetap mengejar.

Lubang itu melaju sambil “menelan” bagian tengah kota—pemandangannya seperti film surealis. Para pejalan kaki memang tidak melihat lubang itu, tapi mereka tetap tanpa sadar menghindar. Kadang ada yang seperti tertelan bulat-bulat, namun tak lama kemudian mereka keluar lagi dan berjalan seperti biasa.

Karena yang diincar bukan mereka.

Kening Yu Dan berdenyut. Rasanya seperti ada cap tak kasatmata yang ditempelkan di sana. Pemandangan di sekelilingnya biasa saja, tapi fakta bahwa hanya dia yang mengalami kejadian aneh seperti ini terasa tidak nyata.

Ini harga yang harus ia bayar karena ikut campur.

Sambil menggerutu, Yu Dan mempercepat langkah.

Sepertinya kali ini dia benar-benar sudah masuk ke lokasi yang tepat. Toko yang dimaksud Mia yang ini, kan? Dengan perasaan setengah yakin setengah ragu, ia berbelok ke salah satu sudut. 

Jalan Hoenamu.

Tempat yang dijuluki “jalan tradisional”.

Jalannya lebar dan terbuka, di kedua sisinya berderet atap genteng tradisional. Pepohonan juga banyak, suasananya sejuk. Toko buku tua, toko kerajinan, toko hanbok, kedai teh tradisional, restoran; semuanya berkumpul rapat. Sepi, tapi justru itu yang bikin tempat ini terasa “punya suasana”.

Di Seoul ada tempat begini?

Sambil berjalan, Yu Dan terus menoleh ke sana ke mari.

Kata Mia, kalau sedang dalam kondisi “terkena Unusuals”, tempat itu bakal mudah ditemukan. Benar saja, tak lama kemudian ia menemukannya.

Papan kecil bertuliskan <Banwoldang>.

Bangunan hanok dua lantai dengan taman kecil bergaya tradisional. Tempat yang menjual barang antik sekaligus teh. 

Katanya, pemilik tempat ini—orang yang dipanggil Baek seonsaeng (Pak Guru)—sudah sejak lama menolong orang-orang yang “kerasukan” atau “terjerat” Unusuals. Mia tidak mungkin mengerjainya, kan?

Ragu-ragu, Yu Dan melangkah masuk. Gentengnya yang tua, pilar kayu dengan serat yang masih jelas, juga pintu geser berlapis kertas yang mengilap, semuanya terlihat sudah sangat berumur, setidaknya lebih dari seratus tahun.

Pintu kayu itu terbuka sedikit. Ia mendorong pelan, dan pintunya terbuka mulus tanpa hambatan.

Di dalam agak gelap.

Hal pertama yang menyita perhatian adalah… barang-barangnya.

Satu sisi dinding dipenuhi buku-buku tua, dan berbagai perabot serta barang antik menumpuk di segala arah. Bau kayu perabot lama bercampur bau kertas tua. Ada aroma tinta yang samar. Kalau biasanya ia mungkin akan menganggapnya kuno dan bikin sumpek, anehnya justru terasa segar. Seakan napas yang tadi tersumbat mendadak lega.

Tidak butuh lama sampai ia tahu kenapa tempat ini terasa “melegakan”.

Di sini, “mereka” tidak terlihat.

Biasanya, ke mana pun ia pergi, selalu ada gumpalan hitam berkumpul di sudut-sudut. Ada hal-hal aneh bergelantungan di langit-langit. Kadang ada wajah yang mengintip dari balik jendela. Tapi di sini tidak ada satu pun.

Aneh.

Yu Dan meletakkan kotak kue di atas meja, lalu melangkah sedikit lebih masuk.

Baru saat itu ia menyadari sesuatu.

Di sudut sana, ada orang yang sedang mengomel.

“Aduh, hidupku ini! Tadi hampir jatuh lagi karena kesandung! Lebih baik kubakar saja semuanya!”

Yang menggerutu sambil melotot ke tumpukan buku tua itu adalah pria paruh baya berwajah ketus. Ia memakai kwaeja (rompi tradisional) dan jeogori (atasan hanbok), serta memegang kipas—penampilannya persis bangsawan kaya.

“Orang-orang saja sudah susah nempatkan barang, ini malah nambah sampah! Kenapa barang ini tidak laku-laku!”

“Coba dipikir dengan logika.” Sebuah suara ketus menyambar.

Dari bagian dalam—area kedai teh tempat meja dan kursi tersusun rapat—seorang perempuan yang sedang mengelap cangkir teh menimpali dengan sinis.

Perempuan itu pun sama tidak “normal”-nya.

Entah seragam pegawai atau pakaian latihan bela diri, pokoknya nuansanya seperti drama sejarah. Dan di pinggangnya terselip pedang bergaya kuno.

Rambutnya hitam pekat, diikat asal. Gerakannya saat mengelap cangkir mahal sama sekali tidak tampak lembut. Tapi wajahnya yang cantik,  akan membuat orang otomatis menoleh.

“‘Majalah Bulanan Lukisan Timur’… baru dengar namanya saja sudah bikin ngantuk. Siapa yang mau beli tumpukan rongsokan itu? Dikasih satu juta won supaya mau ambil pun orang bakal menolak, tapi oraboni (kakak) malah membelinya seharga satu juta won! Makanya oraboni dibilang ho-gu (naif) sejagat. Sampai rongsokan itu dibuang, oraboni siap-siap makan sungnyung (Air kerak nasi) tiga kali sehari.”

Tatapannya tajam. Sudut matanya yang terangkat seperti mata kucing, memantulkan kilau kebiruan.

Kelihatannya si pria paruh baya itu kena tipu dan berakhir memborong tumpukan majalah lama. Debunya sampai setebal itu, tampak mustahil laku.

“Kita sudah celaka.”

Seorang gadis yang sedang mengepel bergumam sedih. Ia kira-kira berusia empat belas atau lima belas tahun, memakai pakaian yang mirip si perempuan tadi. Matanya bening dengan hitam-putih yang kontras, pipinya putih dan chubby

“Kalau ‘Majalah Bulanan Lukisan Timur’ itu tidak laku selamanya. Eonni (kakak) tidak akan memasak untuk paman selamanya, paman bakal makan sungnyung terus sampai mati kekurangan gizi. Dan kita seumur hidup akan terus tersandung tumpukan majalah itu. Bahkan sebelum sepuluh tahun, kita semua terkena radang sendi sampai harus pakai tongkat.”

“Jangan begitu.”

Seorang anak laki-laki yang mengelap daun pot di dekat jendela menyahut. Wajahnya mirip sekali dengan si gadis. Sepertinya mereka kembar.

“‘Majalah Bulanan Lukisan Timur’ pasti laku. Dagang itu soal keberuntungan. Kita tidak pernah tahu detik berikutnya jadi apa. Meski cuma stok busuk yang memenuhi tempat, kalau pelanggan yang ‘berjodoh’ datang, ya langsung laku. Tuh lihat. Pelanggan sudah datang, kan? pelanggan itu pasti tertarik sama lukisan timur.”

Semua mendadak menatap Yu Dan. Ia jadi salah tingkah.

Padahal ia sama sekali tidak tertarik pada lukisan timur. Bahkan, ia tidak tertarik pada lukisan apa pun di dunia ini. Dan sekalipun tertarik, jelas sekarang bukan waktunya beli barang seperti itu. Sebelum salah paham makin jauh, ia beralih ke pria paruh baya itu.

“Ehm… Pak Guru Baek…?”

“Apa?”

Ketika pria itu berbalik. Mata Yu Dan membulat. 

Dalam sekejap, pandangan Yu Dan menampilkan lapisan lain dari mereka semua. 

Pria paruh baya itu terlihat seperti guci keramik bulat.

Perempuan itu, ular besar dengan sisik seperti obsidian.

Si kembar adalah ginseng dari gunung kecil yang sedang berbunga.

Yu Dan tersentak.

Jadi mereka bukan manusia. Dan yang lebih mengejutkan ia bahkan tidak menyadarinya, padahal punya mata seperti ini. Itu berarti mereka punya kemampuan hebat untuk menutupi diri asli mereka. 

Hal itu saja sudah cukup membuatnya kaget, tapi mereka juga menjalankan toko dengan santainya dan bergaul dengan orang biasa.

“Memangnya siluman boleh seperi ini?”

Begitu gumamannya keluar, semuanya langsung terkejut. Ular itu menajamkan tatapan.

“Jadi kau bukan pelanggan yang kebetulan tersesat? Bagaimana kau tahu kami bukan manusia? Siapa kau? Kau dapat perintah dari siapa? Cepat ungkap identitasmu!”

Ia maju menghadang, auranya mengerikan, seperti siap mencabut pedang kapan saja. Si kembar pucat dan buru-buru menahannya.

“Tunggu dulu, eonni! Kayaknya dia bukan datang dengan niat jahat!”

“Iya! Dia juga tidak bawa senjata!”

“Hm, coba kulihat….”

Pria paruh baya menyela sambil membuka kipasnya,

krek.

“Kenapa auranya sekasar ini? Nasibmu bukan nasib biasa, Tuan. Astaga, itu….” Ia menatap mata kiri Yu Dan lalu tersentak.

“Kenapa? Memangnya kamu tahu sesuatu…?”

“Aku tidak tahu itu apa, tapi jelas bukan hal sepele. Hehe, hidupmu tidak akan mulus. Satu, dua, tiga… sepuluh tahun lalu kau sempat melewati cobaan besar, tapi itu belum selesai. Seperti berjalan di atas lapisan es tipis di awal musim semi, kau harus selalu hati-hati. Tapi kau terlalu meledak-ledak, hingga akhirnya membuat masalah. Masalah besar pula. Tsk tsk. Mau bagaimana lagi. Lalu… ibumu hilang karena kejadian itu, dan sekarang tinggal ayahmu saja. Hubungan kalian tidak terlalu dekat, tapi apapun itu yang tersisa pada akhirnya cuma darah daging. Hari ini juga, temuilah ayahmu dan sampaikan salam perpisahan terakhir.”

“Ayahku ada di Tiongkok, gimana caranya….” Yu Dan spontan menjawab, lalu diam tersadar. 

Bukan cuma karena pria ini tahu semua hal yang bahkan belum ia ucapkan… tapi dia seperti memvonis dirinya akan mati.

“Maksudmu… aku bakal mati hari ini? Dan kalian bahkan tidak berniat menolong?”

Dirinya memang tidak bisa dibilang orang baik, tapi setiap melihat orang dicelakai, ia berusaha menolong sebisanya.

Tapi… mereka semua siluman. Apa itu wajar? 

Ia juga tidak tahu kenapa makhluk yang dipanggil Pak Guru Baek itu sampai memelihara tiga siluman, tapi kalau tetap seperti ini, peluangnya untuk selamat semakin tipis.

Karena Yu Dan membenci mereka para siluman, dan mereka pun membenci Yu Dan.

“Ya ampun! Lihat sikapmu! Siapa yang mau menolong kalau kau begitu!”

Terutama siluman ular yang sedari tadi bertingkah seolah mereka musuh bebuyutan. Pasti ia akan memastikan Pak Guru Baek tidak mau menolong.

Kalau biasanya, Yu Dan pasti sudah pergi begitu saja.

Tapi….

Begitu membayangkan bibi dan pamannya, juga Mia noona dan Suhyeon hyung menatap foto memorial dirinya… ia tidak sanggup.

Yu Dan menunduk.

“Tolong… bantu saya.”

“Tidak mau.”

Siluman ular itu memalingkan wajah.

Darah Yu Dan langsung naik.

Benar kan, dari awal memang tidak berniat menolong?! 

“Kalian serius bercanda?”

Siluman pria itu maju lagi.

“Ehem, adikku. Jangan bilang ‘tidak mau’. Dia bisa salah paham. Tentu kami ingin menolong. Bahkan ingin menolong sepenuh tenaga. Tapi pemilik tempat ini… beliau sedang sibuk.”

Yu Dan mengernyit.

“Tunggu. Jadi paman bukan Pak Guru Baek? Bukan pemilik tempat ini?”

“Tentu saja. Aku cuma pegawai yang menjaga toko. Bagaimanapun, senang bertemu denganmu. Pergilah dengan selamat.”

Pria itu mendorong Yu Dan keluar, membuat Yu Dan cengo.

“Apaan? Masa mengusir orang tanpa dengar ceritanya? Tolonglah! Bantu aku! Biarkan aku bertemu pemiliknya!”

“Diam!”

Ular itu menepis si kembar yang menahannya, lalu maju.

“Jangan bikin keributan! Kau tahu ini tempat apa sampai berani bikin ulah? Apa pun asal-usul mata itu, kalau kau bicara satu kata lagi, akan kutebas!”

“Apa….”

“Kubilang akan kutebas sungguhan!”

Itu bukan gertakan. Begitu Yu Dan hendak membuka mulut, pandangannya langsung berkilat dengan logam.

Si kembar menjerit.

Benda tajam itu menerjang lurus. Ia benar-benar bisa terbelah dua. Tapi ia tidak bisa mundur.

Kalau diusir keluar, lubang hitam itu pasti sudah menunggu. Ia lebih memilih ada disini daripada berhadapan dengan itu.

“Ya sudah! Terserah kau!”

Logam dingin menyentuh sisi wajahnya.

Di antara bilah pedang, Yu Dan tiba-tiba melihatnya.

Di balik sekat sudut dalam, pada tangga menuju lantai dua, seseorang berdiri. Siluetnya putih saat berada di kegelapan.

“Pantas saja berisik. Rupanya ada tamu.”

Semuanya berhenti.

Mereka membatu. Bahkan siluman ular sekalipun yang tadi mengamuk dengan mengeluarkan pedang.

“Dan ini… bukan tamu biasa.”

Ujung pakaian putih itu berkibar.

Sosok itu melangkah keluar dari gelap. Barulah saat itu ia terlihat jelas.

Mata Yu Dan membesar.

Pakaian putih kuno berlengan lebar. Di dunia yang penuh warna, ia sendirian terasa seperti lukisan dari tinta tipis. 

Di sela rambut cokelat mudanya, ada sepasang telinga binatang yang tebal dan runcing menyembul.

“Rubah…?”

“Seperti yang kamu lihat.”

Jawabannya dingin, tidak ramah.

“Aku siluman rubah yang ada di legenda itu. Siluman rubah yang mencabut hati manusia, menyamar, lalu menipu manusia.”

“……”

“Jadi sebaiknya berhenti menatapku. Aku tidak suka.”

“Ah… maaf.”

Yu Dan mendadak kikuk.

Entah kenapa, melihat rubah itu membuat amarah sepuluh tahun yang ia pendam terasa mereda, dan dadanya jadi lebih tenang.

Baru sekarang ia benar-benar sadar, tempat ini memang berbeda.

Mereka berbeda dari siluman yang selama ini ia lihat.

“Aku paham. Hal seperti ini tentu tidak ada di kebun binatang. Tapi… sebaiknya kamu hidup dengan sedikit kewaspadaan.”

Rubah itu menatap Yu Dan dengan tatapan menyayangkan.

“Kamu merasa pijakanmu kokoh, tapi kenyataannya dunia ini bisa runtuh dengan mudah. Bahkan cuma karena menerima satu manik yang salah.”

Lengan bajunya berkibar ringan.

Seakan ada angin yang menyentuh, kening Yu Dan kembali terasa ngilu.

Yu Dan menatap cermin tua di depannya.

Di keningnya yang tadi tidak ada apa-apa, kini muncul jelas sebuah cap hitam. Yu Dan terlonjak kaget. Para siluman yang melirik juga ikut kaget.

“Itu… tanda target kesialan!” Mereka mundur menghindar.

“Tidak apa-apa.” Rubah itu berkata.

“Kesialan tadi sudah kuusir dengan sedikit kejutan. Meski begitu, akan butuh waktu untuk mereka kembali lagi. Urusan ini kau yang harus selesaikan sendiri, jadi aku tidak bisa mengusirnya selamanya.” Cara bicaranya tenang, benar-benar seperti ahli.

Yu Dan mendongak. “Jadi kamu pemilik tempat ini? Pak Guru Baek?”

“Aku Baekran. ‘Pak Guru’? Siapa yang memakai sebutan aneh begitu?”

“Bukan… itu… noona-ku….”

“Noona?”

“Na Mia. Sepupu perempuanku.”

Begitu mendengar itu, semua yang ada disana mengeluarkan suara “ahh”. Anak laki-laki dari si kembar langsung berseru senang.

“Jadi kamu kerabat nona Mia!”

“Tapi itu tidak mengubah apa pun!” Siluman ular itu berteriak. “Gadis sialan itu! Dari dulu aku sudah tahu dia akan membuat masalah! Cheonho-nim! Mata anak ini sangat aneh! Sebaiknya jangan didekati!”

“Aku akan mengurusnya sendiri.” Jawab Rubah dengan ekspresi sulit dibaca. Namun matanya justru penuh rasa ingin tahu saat menatap Yu Dan.

Padahal tadi dia bilang jangan ditatap karena tidak suka. Tapi dia sendiri menatapku begini? Tatapan dari Rubah entah kenapa membuat mata Yu Dan seperti berdenyut.

“Tidak nyaman, kan. Ditatap.”

“Ya, karna kamu yang menatap!” Yu Dan menjawab ketus.

Tiba-tiba ia teringat.

Benar, ada itu.

Yu Dan mengambil kotak kue yang tadi ia taruh di meja, lalu menyodorkannya. Rubah itu bertanya, heran.

“Kau sedang apa?”

“Mengajak makan.”

“Sekarang?”

“Katanya kamu suka ini.”

“Siapa? Aku tidak makan makanan manusia. Apalagi yang baunya gula seperti itu, aku benci.”

Yu Dan tersinggung. “Harus berkata begitu? Ya sudah. Kubereskan saja.”

“Hanya saja—.” Begitu Rubah berkata, tangan Yu Dan mendadak tidak bisa bergerak. Apalagi ini?

“Hanya saja, karena yang lain di sini menyukainya, aku menerimanya dan berterima kasih, rupanya dia masih ingat itu.”

Dan untuk pertama kalinya, rubah tersenyum tipis. Senyuman yang muncul sesaat. 

.................. 



Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu