Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 1>

Kisah pertama

<Pengganti Kesialan>


Putra seorang satto (pejabat) dari Hapcheon aslinya adalah orang yang sombong dan tak tahu tata krama, sampai-sampai tak pantas disebut manusia. Namun setelah menerima ajaran dari kepala biksu Haeinsa, ia bertobat dan berubah, lalu diangkat menjadi Gubernur. 

Kepala biksu berpesan agar pada hari, bulan, dan jam tertentu, ketika seorang biksu datang, ia harus dibawa masuk dan tidur di kamar yang sama dengan Gubernur, dan pesan itu diulang berkali-kali dengan sangat sungguh-sungguh.

Beberapa tahun kemudian, benar saja, seorang biksu dari Haeinsa datang berkunjung. Gubernur itupun melakukan persis seperti yang dipesankan. Namun di tengah malam, bau amis menyengat tercium. Ketika lampu dinyalakan, biksu itu telah tewas dengan perut tertusuk pisau, darah menggenangi lantai.

Setelah diselidiki, pelakunya adalah seorang budak milik negara. Karena menyimpan dendam terhadap sang Gubernur, ia mengira bahwa Gubernur itu pasti tidur di bagian lantai paling hangat, lalu menikamnya dalam gelap.

Kepala biksu ternyata sudah mengetahui segalanya sejak awal, dan dengan sengaja mengirim biksu itu agar menjadi pengganti kesialan.

— Kisah rakyat klasik. 


●◉◎◈◎◉●


Wanita di foto memorial itu tampak berusia sekitar tiga puluhan.

Di depannya, seorang anak kecil berlutut, tak bergerak sama sekali, hanya menatap foto itu. Wajahnya terlihat semakin pucat karena pakaian hitam yang dikenakannya, sementara kedua matanya tampak besar. 

Dari belakang anak itu, terdengar suara. “Dan-ah, namamu Dan, kan? Masih ingat aku? Aku bibi buyut dari Mokdong.”

“Sudahlah. Ibunya meninggal tepat di depan matanya seperti itu, memangnya sekarang dia bisa mendengar apa yang kita katakan?”

“Aduh, tapi bagaimana bisa anak tujuh tahun dibiarkan sendirian begitu? Ayahnya ke mana? Anaknya cuma dia, kan?”

“Entahlah. Katanya sangat menyayangi anaknya, tapi sekarang malah tidak peduli.”

“Aku tahu alasannya. Anak itu satu-satunya yang selamat. Pasti ayahnya merasa jijik dan muak.”

“Masuk akal. Anak itu memang aneh. Lihat saja mata kirinya!”

Anak yang sejak tadi hanya menatap foto ibunya itu tiba-tiba berbalik.

Pada saat itu juga, bola mata kirinya berubah menjadi merah menyala.

Wajah para pelayat yang tadi berbisik-bisik berubah. Dari wajah ramah orang tua berambut putih, mulutnya terbelah memanjang ke samping, sambil tertawa cekikikan. 

Mereka bukan manusia. Mereka adalah japgwi (roh rendahan) dan yomul (hantu pengganggu). 

“Ugh….”

Wajah anak itu membiru ketika ia menoleh ke sekeliling. Namun tak satu pun orang dewasa menoleh ke arahnya.

Dari sikap mereka yang sama sekali tak peduli, jelas makhluk-makhluk itu telah melakukan sesuatu.

『Mata seperti itu sangat langka! Dari mana kau mendapatkannya? Apa kau mempersembahkan ibumu sebagai tumbal untuk mendapatkannya?』

『Manusia yang bisa melihat kami seperti ini hanya akan merepotkan. Cabut saja matanya sekarang!』

『Nak, kemarilah. Ini ibu.』

Sambil terkekeh, mereka mendekat, dan salah satu dari mereka berubah menjadi sosok ibunya.

Meski ketakutan, darah anak itu terasa mendidih.

“Pergi!”

Tak tahu dari mana keberanian itu datang, ia memukul dan menendang makhluk-makhluk yang menerjangnya. Lalu teringat sesuatu, ia melepaskan yeomju (manik-manik tasbih) yang diberikan bibinya dan melemparkannya.

『Kiiiik!』

Makhluk-makhluk itu langsung berubah menjadi asap hitam dan menghilang.

Sambil terengah-engah, bahu anak itu terkulai.

Dan disaat itu—

Buk!

Bersamaan dengan suara tumpul, benturan keras menghantam belakang kepalanya.

……

Yu Dan terbangun dengan mata terbelalak.

Mata kirinya sempat menyala merah, lalu perlahan kembali hitam. Pantulan kamar yang sunyi terlihat di dalamnya.

Mimpi itu lagi.

Sudah sepuluh tahun berlalu, tapi ingatannya masih terasa seperti kemarin.

Yu Dan duduk terdiam sejenak, lalu merapikan rambutnya yang berdiri. 

Ia merasa hari ini akan sial.

Dan firasat buruk itu tidak pernah meleset.

Entah kenapa, hari ini ia ingin naik kereta bawah tanah.

……

Yu Dan menatap kursi di depannya.

Dalam cahaya matahari senja yang memerah, hanya ada dua orang di dalam gerbong.

“uhuk! uhuk!”

Siswi yang duduk di hadapannya terus batuk dengan wajah pucat. Ia tiba-tiba menoleh ke belakang, lalu menatap ke bawah kakinya sendiri, bahkan mengusap tengkuk yang kosong, seolah-olah…

Tidak.

Yu Dan memalingkan wajah.

Jangan pedulikan.

Dengan wajah kaku, ia mengeluarkan ponsel. Matanya menyapu layar, tetapi tak satu kata pun masuk ke kepalanya.

『Seru. Ini seru!』

Bisikan kecil terdengar dari suatu tempat.

Sial.

Yu Dan menarik syalnya lebih rapat dan memejamkan mata, tapi—

“uhuk! uhuk!”

Ia langsung membuka mata karena suara batuk yang terdengar seperti cekikan.

Wajah siswi itu membiru, seolah sebentar lagi akan mati lemas.

Ia tak bisa lagi berpura-pura tak melihat.

Pasti akan menyesal, pikirnya, sambil menutup sedikit mata kanan. 

Pemandangan di dalam gerbong menjadi buram, dan sebagai gantinya, “sesuatu” terlihat jelas.

Itu adalah ular.

Ular-ular menjijikkan itu melilit tubuh si gadis erat, sementara dari langit-langit, satu per satu, mereka terus merayap turun.

Pelakunya adalah makhluk aneh di atas rak kereta, mungkin bisa disebut yogoe (monster). Seluruh tubuhnya dipenuhi bisul dan nanah. 

Dari sebuah manik hitam yang ia pegang, makhluk-makhluk kecil terus keluar. 

Kenapa dia melakukan semua ini?

Satu hal jelas; makhluk seperti mereka pasti mengira tak ada yang bisa melihatnya.

“Sudah cukup, kau tidak lelah?”

Monster itu terkejut dan berhenti.

Siswi itu pun menoleh kaget.

“Maaf… tiba-tiba badan saya tidak enak…”

“Bukan kamu.”

Yu Dan menatap tajam ke arah rak.

“Apa itu lucu? Cepat turun! Dan serahkan manik sialan itu!”

Wajah monster itu pucat dan kabur saat pintu kebetulan terbuka.

Yu Dan mendecakkan lidah,

Dasar merepotkan.

Ia berdiri dan segera keluar sebelum pintu tertutup. Bersamaan dengan itu ia mengulurkan tangan ke arah siswi tersebut untuk membantu.

Siswi itu tersentak dan menunduk.

Wajar saja, seorang siswa SMA dengan galak tiba-tiba berteriak pada udara kosong hingga membuatnya ketakutan. Namun saat tangan pemuda itu mencengkeram udara tepat di samping lehernya. Dalam sekejap dadanya terasa lapang. Rasa sesak itu hilang begitu saja.

“Ah…?”

Siswi itu menatap punggungnya dengan wajah bingung.

Dan pintu menutup. 


Langit sudah gelap. Lampu-lampu bar mulai menyala lebih cepat dari bintang. Di antara para pekerja yang pulang, monster itu berlari menghindar.

“Ah, merepotkan….”

Yu Dan menggerutu sambil mengejar.

Mungkin tak menyangka akan dikejar, begitu keluar dari jalan besar monster itu langsung mencari korban lain. Ia menemukan seorang wanita yang berdiri sendirian di halte dan mendekatinya.

Saat hendak menempel di belakangnya, diam-diam Yu Dan mencengkeram tengkuknya.

“Hiik!”

Monster itu terlonjak kaget.

Menyentuh kulitnya yang licin terasa menjijikan, tapi karena sudah terlanjur menangkapnya, Yu Dan menyeret makhluk yang meronta-ronta itu ke gang belakang dan membantingnya ke tembok.

“Apa perkataanku terdengar seperti lelucon bagimu?”

“Aku salah!” Monster itu bersujud memohon. “Aku benar-benar salah! Karena menjadi seperti ini sangat menyiksa, aku tidak tahan ingin mencelakai seseorang….”

“Diam! Siapa yang tanya? Aku tak mau dengar cerita dan tak peduli! Pergi! Jangan muncul di hadapanku lagi!”

“Ta-tapi, biasanya kami tidak terlihat….”

Monster itu melirik mata kiri Yu Dan.

“Mata itu… bagaimana kau bisa memiliki mata seperti itu….”

“Diam!”

“Ma-maaf. Aku salah. Aku akan pergi.”

“Tunggu.”

Yu Dan menginjak ekornya, menghentikan monster.

“Tinggalkan itu. ”

“Eh? Ah, benar.”

Monster itu memasukkan tangan hancurnya ke dalam dada dan mengeluarkan segepok uang. Yu Dan menatap tak percaya, monster itu justru lanjut memasukkannya ke saku Yu Dan.

“Kau ngapain? Siapa yang minta uang? Bukan itu, yang ku maksud manik hitam! Manik yang mengendalikan monster!”

“Apa? Manik?” si Monster terkejut.

Melihatnya pura-pura tak tahu membuat Yu Dan kesal. Makhluk yang berkeliaran mencelakai orang selalu punya sumber kekuatan. Kadang senjata tua seperti pedang atau tombak, kadang perhiasan, kadang kantong misterius. Ada beracam-macam, tapi yang paling sering adalah manik.

Begitu terlihat, harus direbut dan dihancurkan apa pun caranya. Harus dicabut sampai ke akar. Kalau tidak, akan bertemu lagi dan jadi merepotkan. 

“Serahkan saja baik-baik. Kalau tidak, kau akan terus kukejar hingga membuat keributan. Dan kalau ada dukun, biksu, atau rohaniwan yang lewat dan menyadarinya… menurutmu siapa yang akan lebih kesulitan?”

Monster itu tampak panik. Biasanya pada titik ini mereka menyerah. 

“Baiklah.” Ekspresi mencurigakan muncul di wajahnya. “Karena kau meminta, akan kuberikan. Tapi kau sungguh mau mengambilnya? Tidak mau pikirkan sekali lagi?”

“Omong kosong apa itu! Cepat serahkan!”

“Ba-baik….”

Monster itu buru-buru merogoh lagi dan mengeluarkan manik hitam.

Yu Dan menerimanya. Teksturnya aneh, seperti cangkang krustasea yang bisa hancur dengan sedikit tekanan. Permukaannya buram, dan di dalamnya ada kilauan aneh.

Apa ini?

Saat menatapnya dengan mata kiri, riak kecil muncul. Dari kegelapan yang beriak, tercium aroma kengerian yang tak ingin ia ingat. 

Sama seperti kejadian waktu itu.

Ia hanya ingat pernah terjadi kecelakaan. Disana terdengar jeritan orang-orang, lalu dalam kegelapan muncul dua, empat, enam, hingga delapan cahaya api satu per satu. Saat ia sadar, semua orang sudah tergeletak. Bahkan ibunya. Dan mata kirinya terasa sangat sakit.

Tanpa sadar Yu Dan menggenggam ujung syalnya erat.

“Memuakkan.”

Ia menekan manik itu kuat hingga retak. 

Saat retakan tipis muncul di permukaannya, angin dingin menyapu tengkuknya. Ketika menyadari ada yang salah, itu sudah terlambat.

Cangkangnya pecah, dan energi hitam pekat seperti tinta menyembur dan menyelimutinya. Kepalanya terasa sakit seperti dibakar api. 

Apa ini?! 

Yu Dan menoleh panik ke arah Monster.

Bentuk yang tadi bungkuk perlahan membesar melebihi tinggi manusia. Nanah dan luka di tubuhnya lenyap seketika.

“Kukira begitu, ternyata benar.”

Monster—atau entah sekarang disebut apa—kini berbicara dengan suara penuh wibawa.

“Kau benar-benar tak tahu apa-apa. Dengan mata itu, kau hanya bisa melihat! Sayang sekali mata itu!”

“Apa maksudmu?”

“Itu adalah manik kesialan. Karena terlalu tua, aku salah mengira sebagai harta penting dan memungutnya. Sejak memilikinya, aku ditakdirkan menerima kesialan tanpa bisa kabur. Siapa sangka kau justru meminta kesialan itu. Berkatmu, kini aku bebas!”

Makhluk itu menegakkan tubuh dan membentangkan sayapnya.

“Karena kau menjadi target kesialan menggantikanku!”

“Apa? Target kesialan?”

Tanah bergetar.

Lantai beton terbelah dan lubang hitam muncul. Kegelapan yang tadi ada di dalam manik kini berubah menjadi jurang tanpa dasar. Dari kedalaman yang jauh terdengar jeritan makhluk tak hidup memanggil Yu Dan.

Apa sebenarnya ini?

Hampir saja ia tersedot kesana, Yu Dan lalu berlari keluar gang menuju jalan ramai.

Biasanya, sejahat apa pun makhluk seperti itu, mereka menghindari tempat penuh orang. Mereka bersembunyi dan menunggu waktu lain.

Namun kali ini berbeda.

Lubang itu terus mengejar. Menelan segalanya, mendekat tanpa suara seperti predator. Semakin ia lari, semakin cepat ia mengejar.

Pandangannya menggelap.

Bagaimana aku tahu itu kesialan? Seharusnya aku tak ikut campur. Harusnya tak peduli apa pun yang terjadi pada orang lain.

Penyesalan sudah terlambat.

Seseorang pernah memperingatkannya, jika ia menghukum mereka seenaknya, suatu hari ia akan celaka.

Namun….

Yomul yang berubah menjadi ibunya.

Japgwi yang diam-diam hendak mendorong anak dari puncak jungle gym.

Dan siswi yang hampir mati tercekik di gerbong kosong.

Pemandangan seperti itu menyentuh sesuatu di dalam hatinya, melampaui batas yang ia yakini. Setiap kali itu terjadi, amarah lama seakan bangkit. Ia tak bisa pura-pura tak melihat.

Meski, bukan berarti yang ia lakukan benar….

Yu Dan menggigit bibir.

Yang penting sekarang harus hidup. Jika ia mati setelah ibunya, bibi, paman, Mia noona, dan Suhyeon hyung akan sangat terpukul.

Ah, benar. Mia noona.

Sambil berlari ia mengeluarkan ponsel.

Na Mia.

Sepupu perempuannya itu juga bisa melihat hal-hal seperti ini, meski tak sekuat dirinya. Bahkan ia memanfaatkannya untuk pekerjaan paruh waktu.

Kadang pekerjaan seperti ini bisa mengancam nyawa, tapi selalu ada cara untuk selamat.

Apa caranya?

Ah, kamu tak perlu tahu! Hanya itu yang bisa melakukan.”

Mengingat percakapan itu, Yu Dan menelepon berkali-kali.

“Halo.”

Mia akhirnya menjawab dengan suara ketus.

“Aku sedang menonton film. Apa pun itu, jangan ganggu.”

Terdengar suara teman-temannya berceloteh.

Meski tahu mengganggunya saat ia sedang berpura-pura menjadi mahasiswi biasa akan ada akibatnya, ia tak punya pilihan.

“Film apaan! Aku sedang dikejar lubang besar! Gimana caranya itu berhenti?”

“Apa? Lubang?”

“Iya! Lubang itu mau menelanku! Katanya kesialan! Katanya aku jadi target kesialan!”

Suasana di seberang telepon mendadak tegang.

“Apa tadi kamu bilang? Target kesialan?”

“Iya! Aku merebut manik dari Monster dan menghancurkannya….”

“Sudah kubilang jangan sembarangan begitu! Jangan lari dulu. Kalau lari, dia semakin cepat. Harus tenang. Seberapa besar lubangnya?”

“Entah. Diameternya… sekitar lima meter?”

Hening sejenak.

“Ya sudah, mati saja sekalian. Itu salahmu sendiri. Jangan jadi arwah penasaran.”

“Jangan bicara hal sial seperti itu! Cepat beri tahu cara menyelesaikannya!”

“Aku tak tahu. Aku juga tak bisa.”

Jantung Yu Dan terasa merosot. 

“Kenapa? Katanya kau hebat!”

“Itu 'Unusuals'. ”

Unusuals?”

“Aku tak bisa menangkapnya. Tapi 'di sana' mungkin bisa. Karena itu sungguhan. Tapi apa mereka mau membantu? Benar, kamu harus membawa persembahan!”

“Apa maksudmu? Mereka orang yang kamu kenal?”

“Bukan orang.”

Nada tegas itu membuatnya merinding.

“Dengar baik-baik. Tempat yang harus kamu tuju sekarang adalah toko tradisional Banwoldang. Cara mencarinya….”

Mia mulai menjelaskan.

Meski linglung, Yu Dan tanpa sadar menghafal alamatnya.

.................. 

Apa aku menuju tempat yang benar?

Setiap kali menoleh, ia merasa ada sesuatu yang mengganggu di tangannya.

Ah, harus hati-hati.

Ia melirik ujung jarinya. Sebuah kotak besar dengan pita cerah tergenggam di tangannya. 

…Sejujurnya ingin dibuang.

Tapi tidak bisa. Ini adalah “persembahan” yang ditekankan Mia.

Dulu yang dipersembahkan biasanya gadis desa, tapi zaman sudah berubah. Sekarang mereka lebih menyukai kue buatan tangan kelas atas daripada gadis desa yang berisik dan cengeng. Bawalah itu, persembahkan, dan mohonlah agar diselamatkan tanpa banyak tanya. Dengan begitu peluangmu untuk hidup sedikit lebih besar. Mia mengoceh panjang lebar seperti itu.

“Sebenarnya dia menyuruhku pergi ke mana…?”

Dengan setengah khawatir dan setengah gelisah, Yu Dan bergumam.

............................. 

tl note:


hai hai, pj kisah aneh banwoldang yang langitoren teel balik dalam versi novel buat menemani puasa kalian~ teel mulai dari awal deh ya, karna di novel biasanya kan lebih jelas daripada manhwa(ʃƪ˘ﻬ˘)

disini langitoren tetep pertahanin istilah yang sebelumnya dipakai di manhwa (kayak Unusuals, dll), terus... sementara itu aja infonya✌︎( •͈ ᗜ•͈ )✌︎

ikuti aja terus proses teel sekaligus lanjutan kisah yu dan di banwoldang yaw~



Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu