Kisah Aneh Banwoldang – Volume 1

<Chapter 5>

 Yu Dan mengambil tali dari laci meja belajarnya, lalu memasukkannya ke dalam tas bersama gunting.

Sebenarnya ia sempat agak khawatir, tapi…

Seperti kata Baekran, tidak ada seorang pun yang bisa melihat Jewoong. Kadang ada orang yang seperti menatap lurus ke arahnya, tapi tatapan mereka kemudian lewat begitu saja.

Yu Dan jadi lebih percaya diri.

Ia mengeluarkan tali dan gunting. Lalu, di samping meja sekolahnya, ia mengikat Jewoong sekencang mungkin.

“Jangan bikin ulah. Diam. Tahan sebentar sampai kesialan muncul.”

Jewoong meronta. Tapi ikatannya terlalu kencang, jadi ia tak bisa bergerak sama sekali. Nyaman sekali, Yu Dan sampai menyesal kenapa tidak kepikiran dari awal.

Yu Dan membuka buku pelajaran.

Dengan persiapan se-komplit ini, ternyata sampai pelajaran selesai hari itu, kesialan tidak muncul.

Semangatnya langsung lenyap.

Ia berdiri di dekat jendela, menatap jauh ke segala arah. Tapi tak ada tanda-tanda aneh sama sekali.

Apa jangan-jangan kesialan sudah menghilang? Kalau iya, itu kabar terbaik.

Tapi ia tetap perlu kembali ke Banwoldang untuk bertanya.

Yu Dan memasukkan Jewoong yang sudah lemas itu ke dalam tas. Mungkin karena terus "perang" dengan boneka jerami itu, rasa lelah tiba-tiba menumpuk.

Lapangan sekolah saat matahari terbenam memerah seluruhnya. Saat berjalan lesu, Yu Dan berpapasan dengan anak-anak sekelas. Mereka menyapa akrab.

“Mau pulang?”

“Mm….”

Pandangan Yu Dan melirik ke sisi mereka.

Kakak… mau main bola denganku…?

Seorang bocah berlumuran darah berdiri sambil memegang bola. Yu Dan pernah mendengar cerita; dulu ada bocah yang main bola sendirian di sekolah saat subuh, lalu seorang guru tidak melihatnya dan menabraknya dengan mobil.

Mau main denganku…? Ya? Kakak… ayo….

Tangan bocah itu meraih ujung seragam salah satu anak sekelas. Seketika, cap tangan merah muncul di seragam. Dari bola pun darah menetes, membasahi lapangan. Yu Dan tak sanggup menatap lebih lama, ia memalingkan wajah.

Sementara itu anak-anak tetap mengobrol tanpa tahu apa-apa.

“Lapar. Kita beli sesuatu dulu yuk?”

“Oh iya, aku harus pakai kupon cheeseburger.”

“Beli satu dapat dua, berarti beli dua dapat empat. Kau mau makan juga, kan?”

Seketika semua menoleh ke Yu Dan. Ia kikuk.

“Aku?--”

Saat itulah, bulu kuduknya meremang. terdengar bunyi aneh tepat di dekat telinganya.

Srak.

Ia terkejut dan menoleh cepat.

Tasnya sudah terbuka. Tangan Jewoong menjulur keluar, memegang gunting yang baru ia ambil dari tas. Dengan tangan satunya, Jewoong menggenggam segenggam rambut yang baru dipotong, lalu memasukkannya ke mulut.

“Jangan!”

Suara Yu Dan bergema.

Dunia seperti terpuntir. Warna dan bentuk bercampur, melengkung dan pecah seperti kaleidoskop. Kepala Yu Dan pusing, ia pun jatuh terduduk.

“Hei, kau kenapa?”

Anak-anak kaget dan mendekat. Bukan ke Yu Dan tapi ke Jewoong.

Makhluk itu sudah tumbuh besar, cepat sekali, sampai berubah menjadi dirinya.

“Tidak apa-apa. Ayo. Aku juga suka cheeseburger.”

Jewoong berbicara memakai suara Yu Dan.

Tidak masuk akal!

Yu Dan berlari dan mencoba menangkapnya. Tapi tangannya justru menembus bahu Jewoong. Ia berdiri terpaku, menatap Jewoong yang berjalan bersama anak-anak. Begitu Jewoong bicara sesuatu, mereka tertawa ramai.

Itu bukan aku! Aku tidak seperti itu!

Jewoong yang memakai wajahnya menoleh dan tersenyum miring.

“Sekarang aku adalah kau, dan kau adalah aku. Lihat. Mereka lebih suka aku. Tidak ada tempat untukmu.”

“Tidak!”

“Kalau begitu jawab! Apa kau pernah menghargai tempatmu?”

“…….”

“Benar, bukan! Jadi kalau direbut pun kau tidak berhak protes! Hahaha!”

Tanah bergetar keras. Retakan hitam muncul di depan mata dan dalam sekejap menganga lebar, menelan lapangan, menelan gedung, menelan langit.

“Masuk sana, dasar pengganti kesialan!”

Jewoong berteriak.

Cap di keningnya terasa panas seperti tersiram api. Yu Dan berusaha bergerak tapi tak bisa. Dari kegelapan, rantai-rantai menyembul dan membelit kakinya. Dunia berubah menjadi roda gigi raksasa yang perlahan menariknya untuk ditelan. Roda itu berderit, seolah memperkenalkan namanya sendiri. Namanya adalah sunri (hukum alam).

Jadi seperti inilah takdir pengganti kesialan….

Dari masa yang sangat jauh—bahkan sejak sebelum lahir—sesuatu yang diwariskan tiap ibu pada anaknya bersama darah dan daging menimpanya seperti gelombang yang menyesakkan.

Yaitu takut pada hal yang kotor dan kesialan.

Tenggorokan Yu Dan tercekat, ia bahkan tak bisa berteriak.

Kegelapan terakhir menutup pandangannya.

Saat itu—

Cahaya menyilaukan menyapu matanya. Yu Dan membuka mata lebar.

Kupu-kupu…? Bukan, itu bujeok (jimat). Puluhan lembar jimat terbang. Dalam sekejap, mereka berubah menjadi roda emas raksasa dan menghantam roda gigi.

Benturan logamnya nyaring, hingga mengikis gendang telinga. Percikan api menyembur ke segala arah. Roda gigi yang menyeret Yu Dan berderit keras, lalu berhenti seketika.

“Roda Dharma milik Jeonryunseongwang (salah satu figur Buddhis) adalah roda keadilan dan dharma. Seperti roda emas yang menghancurkan gunung dan batu, ia pun akan menghancurkan penderitaan makhluk hidup, karma, siklus kelahiran, bahkan takdir.”

Suara dingin dan familiar itu...  Yu Dan menoleh.

Di balik sisa bayangan percikan emas yang jatuh seperti hujan, Rubah berdiri.

Wujudnya sama seperti sebelumnya, tapi ada yang berbeda. Bagaimana Yu Dan bisa merasa dia "mirip manusia"? Dia jelas makhluk yang menyembunyikan dirinya dalam terang, lalu memancarkan kilau di kegelapan.

Rambut dan mata yang siang tadi tampak cokelat muda, sekarang berkilau emas terang. Warna yang sama sekali tak cocok dengan energi siluman yang menyebar dari tubuhnya. Tapi anehnya… itu menarik.

“Sudah kubilang, kamu harus waspada.”

Nada suara dingin itu membuat Yu Dan sadar sepenuhnya.

Baru sekarang terlihat bahwa Rubah itu memegang senjata. Sebuah tombak emas bercabang sembilan.

Yu Dan tidak menyangka ia akan datang sendiri.

“Jangan terharu. Itu membebani. Aku datang hanya untuk melenyapkan itu.”

“Ah… maaf. Aku….”

“Bukan. Justru aku yang harus minta maaf. Aku terlalu meremehkan. Tidak ku kira ada orang yang bahkan tidak bisa menaati satu larangan. Aku berpikir pendek. Tolong maafkan aku, ya?”

Kalau dimaki mungkin lebih baik. Tapi ucapan Rubah terlalu pedas. Yu Dan tahu dia salah, jadi wajahnya cuma memerah dan tak bisa membalas.

“Terus sekarang gimana?”

“Kalau kamu tanya aku… entahlah.”

Dengan wajah dingin, Baekran mengayunkan tombaknya ke arah kegelapan yang mengamuk. Di udara muncul jalan yang terbentuk dari banyak siluman dan monster. Kegelapan yang mereka pancarkan membuat “lubang” itu mundur sesaat.

“Itu… apa?”

“Makhluk dunia bawah. Jangan menatap terlalu lama. Mereka pernah kutaklukkan. Ada saatnya racun melawan racun berguna disaat seperti ini….”

Rubah mengayunkan tombak pelan. Kawanan siluman dan monster memecah menjadi bayangan-bayangan semu di segala arah.

“Sayangnya benda hanya berlaku jika yang dihadapi bisa dihancurkan atau ditundukkan. Tapi kali ini tidak. Ini kesialan. Sudah kubilang, kesialan memang lahir untuk ditimpakan. Ia tidak bisa dimakan, dimurnikan, atau dihancurkan. Ia hanya akan selesai kalau ada seseorang yang menanggungnya.”

Kegelapan raksasa itu mundur sejenak, lalu menjulur ke belakang dan dalam sekejap menelan Jewoong. Terdengar ledakan besar. Yu Dan tersentak.

“Jadi semakin besar!”

“Ya. Jewoong sudah rusak dan tak bisa menjalankan fungsinya. Kesialan marah karena merasa ditipu lagi.”

Baekran mengayunkan tombak lagi. Siluman dan monster serempak menjerit membuat telinga Yu Dan berdenging.

“Seperti yang kamu tahu, aku siluman. Roda dharma itu pun hanya tiruan dari jimat. Aku hanya meminjam bentuk luar perlindungan Buddhadharma sebentar, benda itu bukan yang asli. Jadi ada batasnya, meski bisa memberi kita waktu. Sayangnya… sepertinya sudah sampai batas. Jadi….”

Suara Baekran terpotong oleh dentuman. Salah satu sudut roda retak dan hancur; serpihan jimat terbakar dan beterbangan. Bara api jatuh seperti hujan.

“Jadi, tak ada pilihan lain.”

Rubah menoleh pada Yu Dan. Matanya berkilau emas di kegelapan.

“Ya. Memang tidak ada pilihan lain.”

Bahu Yu Dan merosot. “Noona-ku bilang ini salahku sendiri. Jangan menyalahkan siapa pun.  Aku melakukan hal yang pantas membuatku mati. Terima kasih sudah datang menolong.”

“Kamu bicara apa?”

Baekran mengeluarkan satu lembar jimat. Di ujung jarinya, jimat itu menyala dan dari nyalanya memancar kegelapan yang bahkan lebih pekat daripada “lubang” itu.

“Kamu benar-benar bodoh sampai akhir.”

Dengan senyum tipis mengejek, ia menarik aliran hitam itu dan membawanya ke keningnya sendiri.

Yu Dan tersentak.

Ia sama sekali tak menduga, juga tak paham.

Mau ngapain dia?!

Refleks, Yu Dan meraih lengan baju putih yang berkibar dan memegangnya erat.

“Kenapa kau yang menanggung kesialan? Kau tidak perlu sejauh itu melakukannya untukku!”

“Kamu salah paham—.”

Baekran menepis tangan Yu Dan.

“Bukan untuk orang lain. Untuk diriku sendiri. Aku tidak boleh gagal, dan aku juga tidak ingin gagal. Itu saja.”

Mendadak Yu Dan teringat percakapan Tuan Do dan Heukyo: jangan menuntut bantuan seolah itu hak, hanya karena orang lain punya kemampuan. Sekarang Yu Dan paham.

Karena itu berarti meletakkan beban pada mereka.

Rubah menerima beban itu seolah menjadi keharusan. Bahkan ia tak mau menempelkan alasan mulia “demi menolong orang”. Ia sangat tenang, seolah sudah tahu dari awal inilah yang akan terjadi,  menggantikan Yu Dan dan menanggung kesialan raksasa itu.

Itukah yang mereka sebut kebanggaan cheonho?

“Tapi ini keterlaluan!”

Yu Dan mendorong Rubah, lalu melompat masuk ke “lubang” yang selama ini ia hindari.

Kalau ada yang harus bertanggung jawab, itu adalah dia. Dialah yang merebut manik kesialan dari monster sejak awal.

Kegelapan menyergapnya. Seolah sudah menunggu, emosi yang berputar-putar membanjirinya.

Awalnya, kesialan itu hanya sesuatu yang kecil. Sekadar energi buruk biasa yang terkumpul. Seharusnya, kesialan seperti itu cukup membuat orang kehilangan uang atau mengalami kecelakaan ringan.

Tapi dia tak pernah menemukan tempatnya. Dia tidak memilih untuk lahir seperti itu, tapi semua orang ketakutan dan menghindar.

Kesialan sedih.

Dunia tidak mungkin selalu terang dan menyenangkan. Kegelapan dan kesedihan pun ada alasan keberadaannya. Itulah cara dunia berjalan.

Kalau semua orang menolak bahkan pada kemalangan kecil, lalu bagaimana? Seseorang harus menerimaku supaya aku tenang.

Tapi semua menolak dan saling melempar.

Penganti kesialan menipu pengganti kesialan lain, lalu yang mereka menipu yang lain lagi. Berulang-ulang.

Keterlaluan.

Semakin sedih, tubuhnya makin membesar. Ia mengembara tanpa henti dengan tubuh raksasa yang berat.

Semua hanya menghindariku. Lalu aku harus bagaimana?

Sakit dan marah, Kesialan menekan dada Yu Dan.

Tanpa sadar, Yu Dan berbisik. “Aku mengerti perasaan itu.” Perasaan yang sangat akrab. Waktu kecil, ia mengucapkan saja apa yang ia lihat dan dengar.

Kenapa orang itu menggantung terbalik di langit-langit?

Siapa orang berdarah yang mengikuti kamu di belakang?

Orang di luar jendela itu bilang minta makanan.

Semua orang kaget sampai pucat. Mereka menyuruhnya berhenti bicara aneh dan menatapnya seperti monster. Begitu dicap sebagai anak aneh, ia tak punya tempat di mana pun. Bahkan setelah ia berhenti bicara dengan orang lain, rumor itu tetap mengikuti. Ke mana pun dia pergi, ia tak punya “tempat” sendiri.

Matanya terasa perih.

Aku dan mereka... rupanya sama saja.

Baru kali ini ia benar-benar mengerti. Kalau begitu, bertarung tidak ada gunanya. Harus ada cara lain.

Yu Dan mengulurkan tangan ke arah kegelapan.

Kemarilah.

Kegelapan hitam pekat itu memeluknya erat. Ia mengusap gumpalan besar yang berputar seperti pusaran.

Tidak apa-apa. Sekarang tidak apa-apa. Kamu boleh tenang.

Tiba-tiba, kegelapan yang sangat pekat itu menjadi terang.

Yu Dan menyipitkan mata. 

Dunia berubah putih menyilaukan. Gumpalan cahaya memenuhi segalanya. Makhluk itu  mengembang cepat seperti bintang yang membesar, lalu terpecah menjadi cabang-cabang kecil tak terhitung. Seperti kunang-kunang, dia menyebarkan kilau di dalam gelap dan beterbangan ke segala arah.

Yu Dan terpaku di tengah cahaya itu.

“Apa yang terjadi?”

Di antara ratusan, hingga ribuan benang cahaya, Rubah berdiri. Ia menatap pecahan cahaya yang menyebar, wajahnya entah kenapa menatap seperti kesepian.

“Dia lenyap.”

“Tapi kamu bilang kesialan tidak bisa lenyap.”

“Tepatnya… dia menimpakan kesialan pada dirinya sendiri. Karena dia tak sanggup menimpakan kesialan pada orang pertama yang mengerti kesepiannya. Di detik terakhir, dia memutar arah energinya pada dirinya sendiri dan memusnahkan dirinya.”

Cahaya yang menggambar pola-pola tak terhitung di ruang gelap...

Terlihat sangat indah.

............................ 

Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu