Bagian 1-1

PROLOG

​Rasanya aku baru saja terjaga dari sebuah mimpi yang sangat panjang.

Kesadaranku perlahan menyembul ke permukaan, dan saat aku tersadar, aku tengah berjalan di tengah kegelapan.

Meski berada dalam kegelapan pekat tanpa seberkas cahaya pun, anehnya aku tidak merasa takut. Mungkin karena ada seseorang yang menuntun tanganku. Bukan tangan sih, lebih tepatnya jari telunjuk. Yang mendekap jariku adalah sebuah telapak tangan yang hangat, empuk, dan lembut—jelas sekali itu tangan seorang anak kecil.

​Aku tidak punya kenalan anak kecil. Belakangan ini pun aku tidak sedang terlibat proyek bersama aktor cilik.

Saat aku merunut balik ingatanku, ada satu hal yang terlintas. Itulah ingatan terakhir yang bisa kurangkai sebelum aku tiba di sini.

Aku memanggil orang itu ke tangga darurat stasiun televisi, berusaha agar tidak tertangkap mata publik.

Aku yang tiba lebih dulu, berdiri menunggu di bordes tangga darurat.

Terdengar bunyi pintu terbuka. Saat aku hendak menoleh, punggungku didorong dengan kuatnya dan...

​Secara refleks tubuhku berputar, kedua tanganku terulur berusaha menggapai apa pun untuk berpegangan, namun mereka hanya menggapai udara kosong.

Sembari terjatuh, yang kulihat adalah sosok pria yang mengenakan kacamata hitam, masker, dan topi bisbol tengah menatapku dari atas. Perawakannya yang gagah layaknya seorang Alpha, sepertinya itu adalah kamu.

Kamu bahkan tidak mengulurkan tangan. Kamu hanya menatap dingin ke arahku yang jatuh terperosok ke lantai bawah.

Sesaat kemudian, benturan keras menghunjam tengkorakku, dan duniaku terjungkir balik. Di tengah rasa sakit luar biasa yang seolah membelah kepala hingga menjalar ke pangkal mata dan leher, tanpa sadar aku melepaskan kesadaranku.

​Itulah pemandangan berwarna terakhir yang kuingat.

Aku tidak tahu sudah berapa lama waktu berlalu sejak saat itu. Begitu tersadar, aku sudah berjalan di kegelapan ini sambil dituntun oleh seorang anak kecil. Karena terlalu gelap, awalnya kukira mataku terpejam, sampai-sampai aku mencoba menyentuh kelopak mataku dengan tangan yang bebas.

​Pastinya, aku sudah mati.

Aku belum pernah melihat kegelapan semacam ini, kegelapan tanpa satu pun bintang. Meski sejak tadi kakiku terus bergerak, telapak kakiku tidak merasakan sensasi menginjak tanah. Dan yang terpenting, tidak ada bagian tubuhku yang sakit. Setelah jatuh sekeras itu dari tangga, jika aku masih hidup, pasti ada bagian yang terasa nyeri.

Jika aku memang sudah mati, apakah anak yang menuntun tanganku ini adalah malaikat, ataukah malaikat maut versi anak-anak?

​Menyadari kematianku, rasa sesal meruap pahit di dalam dada.

Seharusnya aku tidak memanggilmu.

Aku baru tahu kalau aku hamil, dan aku memanggilmu untuk berdiskusi.

Aku tahu jika aku membicarakannya pun, kamu hanya akan menganggapnya sebagai beban. Jika kamu memintaku untuk menggugurkannya, aku tidak keberatan. Karena aku sendiri tidak bisa memutuskannya, kupikir jika aku bisa merasakan betapa aku dibenci olehmu, mungkin aku akan punya keberanian untuk mengakhirinya.

Namun, sekarang aku mengerti.

Sebenarnya, aku bukan menginginkan dorongan untuk aborsi.

Aku hanya ingin bertemu denganmu.

Sebab jika aku meninggalkan dunia hiburan seperti ini, aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi. Setidaknya untuk terakhir kalinya, aku ingin bicara tatap muka.

Tapi, aku tidak menyangka bahwa aku begitu dibenci sampai-sampai kamu berniat membunuhku. Untuk mengetahui kenyataan itu dengan bayaran nyawaku, kurasa Tuhan sungguh terlalu kejam.

​Sembari memendam rasa dendam, sebuah kekhawatiran melintasi benakku.

—Hei.

Aku memanggil anak yang berjalan di depanku.

—Kenapa aku sendirian? Selain aku, tidak ada bayi? Mungkin bentuknya masih seperti telur.

Aku mengingat kembali foto ultrasonografi yang diperlihatkan di klinik kandungan.

Meski belum berbentuk manusia, benar-benar ada nyawa lain di dalam perutku. Ke mana perginya anak itu?

Jika dia tetap mempertahankan bentuknya saat mati, dia pasti terlalu kecil untuk disadari. Pasti, dia tertinggal sendirian tepat di bawah bordes tangga itu.

Aku merasa jiwa yang sangat mungil itu, seperti anak kecil yang tersesat, sedang menangis mencariku.

Tarikan pada jariku tidak menunjukkan tanda-tahan akan mengendur.

—Tidak apa-apa.

Suara cadel menyahut dari dekat kakiku. Aku tidak tahu apa yang "tidak apa-apa".

—Karena dia ada, jadi tidak apa-apa. Dia akan menghilang sebentar, tapi akan kembali ke tempat Mama.

Tetap saja, arti kata-kata itu mustahil kupahami.

Aku hendak bertanya, "Apakah Mama itu maksudnya aku?", tapi kata-kataku terpotong oleh ucapan "di sana". Tarikan pada jariku mendadak hilang, dan aku menghentikan langkah.

​Di tengah kegelapan, untuk pertama kalinya kulihat warna selain hitam. Seolah cahaya matahari dikumpulkan dengan kaca pembesar, satu titik di depan sana berpijar bulat secara samar.

—Sisanya, Mama harus pergi sendiri.

—Eh? Apakah itu berarti di sana adalah pintu masuk ke alam baka? Kalau pergi, aku ingin bayiku juga ikut...

—Karena tidak ada waktu, Mama harus kembali duluan.

Kata-kata "Mama harus kembali duluan", apakah itu berarti dia akan menjemput bayiku?

Jariku sempat diremas kuat sekali, namun sedetik kemudian telapak tangan itu terlepas.

—Tidak apa-apa. Kalau Mama hidup sebagai diri Mama sendiri, pasti kita akan bertemu lagi.

Itulah kata-kata terakhirnya. Menyisakan rasa kehilangan yang samar di dadaku, suara maupun keberadaan anak itu menghilang.

​Meskipun itu hanya tangan anak kecil, begitu pegangan itu hilang, hatiku mendadak merasa waswas.

Berjalan sendirian di kegelapan total itu menakutkan.

Jika bisa, aku ingin menunggu anak pemandu dan bayiku agar bisa pergi bersama. Namun, ucapan terakhir anak itu terus mengusikku. "Karena tidak ada waktu, kembalilah duluan," begitulah dia mengatakannya.

Di dalam diriku pun ada sensasi seolah digerakkan oleh sesuatu. Aku tidak tahu alasannya, tapi secara insting aku paham bahwa aku harus segera menuju ke sana.

Yakin bahwa menunggu lebih lama pun tidak akan membuatku bertemu lagi dengan anak itu, aku kembali menghadap ke depan.

—Tidak apa-apa. Kalau Mama hidup sebagai diri Mama sendiri, pasti kita akan bertemu lagi.

Didorong oleh kata-kata cadel yang masih terngiang di telinga, aku pun melangkah menuju cahaya.


BAB SATU: PERTEMUAN PERTAMA UNTUK KEDUA KALINYA

​Pohon-pohon di pinggir jalan dihiasi oleh iluminasi, dan lagu-lagu Natal meluap di mana-mana di suatu hari di bulan Desember. Di dalam gedung Towa TV, salah satu stasiun televisi swasta, suasananya terasa lebih sibuk dari biasanya, namun ada aura kegembiraan yang mengalir. Di tengah semua itu, aku sendirian berdiri mematung di pinggir koridor yang penuh dengan orang berlalu-lalang, dengan raut wajah seolah dunia akan kiamat.

​Bagi mereka yang mencari nafkah di dunia televisi, bulan Desember adalah masa panen. Karena setiap stasiun menyusun acara spesial akhir tahun, talenta maupun komedian yang tidak terlalu populer pun akan dipanggil sebagai pelengkap. Aku, Kakitani Natsuki, adalah salah satunya.

Di tahun kedua sebagai aktor ini, aku berhasil memenangkan beberapa audisi dan mendapatkan peran penting dalam drama. Berkat itu, aku mendapat tawaran untuk tampil di acara spesial yang mengumpulkan adegan salah (NG) dari drama yang ditayangkan di jaringan stasiun tersebut—yang biasa disebut "NG Award". Sebentar lagi, proses syutingnya akan dimulai.

​Sebenarnya NG Award bukanlah penghargaan yang membanggakan bagi seorang aktor, tapi hanya dengan dipanggil ke acara spesial akhir tahun saja sudah bisa dikatakan sebagai tahun kemajuan besar. Lagipula tahun lalu, aku hanya mendapatkan peran-peran figuran yang hampir tidak ada dialognya.

Oleh karena itu, raut wajahku yang seperti kiamat saat ini bukanlah disebabkan oleh syuting nanti. Melainkan karena misi penting yang harus kuselesaikan sebelum itu.

​"Natsuki-kun. Kita harus segera pergi, kalau tidak waktu untuk rias rambut dan wajah akan habis."

Manajer yang berdiri di sampingku, Shiraki Seiya, mulai tidak sabar. Dia menegurku dengan sopan karena aku sudah berdiri mematung di koridor selama lima menit tanpa bergerak sedikit pun.

Shiraki-san memiliki wajah yang lembut dengan kacamata, dan sesuai penampilannya, dia memiliki kepribadian yang ramah dan tenang. Usianya dua puluh tujuh tahun, tujuh tahun lebih tua dariku. Selama aku mengerjakan apa yang seharusnya dilakukan, dia tidak akan mengomel.

Mengingat Shiraki-san yang biasanya tenang sampai mendesakku seperti ini, pasti waktu menuju acara sudah sangat mepet.

Aku pun, jika bisa, ingin segera menyelesaikan hal yang tidak menyenangkan ini agar cepat merasa lega. Namun sialnya, tubuhku tidak bisa bergerak seolah sedang terkena tindihan.

​"Kalau kamu begitu gugup, tidak usah memaksakan diri menyapa hari ini, kan? Nanti saat pertemuan pertama bulan depan, kamu tinggal minta maaf dengan bilang 'Maaf bulan lalu tidak sempat menyapa', itu tidak akan dianggap tidak sopan kok."

Meskipun aku sudah memacu diri hingga sampai di sini, keberanianku mulai goyah mendengar kata-kata Shiraki-san.

Menyapa rekan main dan staf adalah salah satu hal yang kutetapkan untuk diriku sendiri di kehidupan kedua sebagai aktor ini. Namun, di NG Award kali ini, formatnya adalah para pemeran mengomentari video adegan salah mereka sendiri per judul drama, sehingga tidak ada interaksi dengan pemeran dari judul drama lain. Seharusnya, sapaan ke ruang rias cukup dilakukan kepada rekan main di drama yang sama dan pembawa acara saja. Dan sapaan itu sudah kuselesaikan sebelum ke sini karena letak ruang rias mereka dekat dengan ruang riasku.

Keberadaanku di sini lebih karena alasan pribadi.

Di daftar pengisi acara NG Award, aku melihat nama aktor yang dijadwalkan akan menjadi rekan mainku di proyek berikutnya, jadi kupikir sekalian saja aku menyapa. Sebenarnya dia adalah orang yang paling ingin kuhindari, jadi aku ingin bertemu dengannya lebih awal agar rasa tidak nyaman ini bisa hilang. Jika dibiarkan, aku tidak akan bisa masuk ke dalam peran, dan itu mungkin akan menghambatku saat membaca naskah.

​Namun, begitu melihat nama orang itu terpampang di pintu ruang rias, kakiku lemas dan tidak bisa melangkah setapak pun. Bagian dalam tenggorokanku terasa perih, dan ulu hatiku perlahan terasa berat. Padahal saat adegan panjang yang tidak boleh salah atau pengambilan gambar sekali jadi pun, aku tidak pernah segugup ini.

Jika terus begini, meskipun aku mengunjungi ruang riasnya, sepertinya aku bahkan tidak akan bisa menyapa dengan benar. Mari menyerah saja untuk hari ini. Tepat saat aku berpikir begitu—pintu di depanku terbuka.

Aroma manis yang menyesakkan menusuk hidung, membuatku menahan napas sejenak.

Wangi parfum mewah, dan aroma manis khas Omega yang berbeda darinya. Serta, aroma familier yang samar-samar bercampur di sana. Namun, rasa familier yang menyentuh dada itu segera tergantikan oleh rasa sakit yang tajam.

​Di depanku yang berdiri terpaku, yang muncul bukanlah sang pemilik ruang rias ini.

Melainkan seorang wanita. Dan lagi, dia adalah wanita tercantik yang pernah kulihat sejauh ini.

Meski ini pertama kalinya aku bertemu langsung, tidak ada orang yang tidak mengenalinya. Dia adalah aktris sangat populer, Nakashima Yumi.

Jumlah penampilannya di iklan pada paruh pertama tahun ini adalah yang nomor satu di antara talenta wanita, sehingga dia dijuluki Ratu Iklan. Dia juga pemeran utama wanita dalam film "Looking Up at the Sky" yang akan kubintangi nanti.

​"Oh yaampun."

Rambut hitam berkilaunya diselipkan ke telinga dengan gerakan yang alami, menyingkap garis wajahnya yang begitu mungil hingga rasanya bisa digenggam dengan satu tangan. Batang hidung yang ramping dan elegan, dengan bibir yang lembap berwarna merah ceri. Mata besar dengan kelopak ganda yang dibingkai bulu mata lentik, memantulkan cahaya lampu hingga pupilnya tampak seperti perpaduan hitam kebiruan dan abu-abu. Perpaduan warna yang rumit itu, ditambah kulit putih transparan, membuatnya tampak tidak seperti orang Jepang asli. Aku teringat profil di situs agensinya menyebutkan bahwa ayahnya adalah orang Inggris.

Saat aku melihatnya di televisi dulu, rambutnya berwarna lebih terang dengan gelombang lembut, tapi sekarang rambutnya dipotong rata sebahu dan berwarna hitam lurus, mungkin demi pendalaman peran.

Ada satu lagi hal yang berbeda dari televisi. Di lehernya melingkar choker hitam khusus Omega. Bersama dengan gaun hitam ketat yang dikenakannya, benda itu semakin menonjolkan putih kulitnya dan garis tubuhnya yang rapuh. Dia tidak terlalu tinggi. Meski memakai sepatu hak tinggi, pandangannya sedikit lebih rendah dariku yang bertinggi 170 cm, jadi tingginya mungkin sekitar 160 cm.

​"Kamu sepertinya orang yang akan bekerja bersamaku di syuting berikutnya..."

Shiraki-san menyenggol pinggangku yang masih terpaku, lalu dia buru-buru mengeluarkan kotak kartu nama dari saku dalam jasnya. Dia mengulurkannya kepada wanita itu seolah mendorongku minggir.

"Saya Kakitani Natsuki dari Tsukishiro Production. Mulai bulan depan saya akan bekerja sama dengan Anda di film 'Looking Up at the Sky', mohon bimbingannya."

Sementara aku, aku tidak merasakan realitas atas apa yang terjadi di depanku, dan hanya menatap kosong ke punggung Shiraki-san yang membungkuk saat memberikan kartu nama.

Lagipula, kenapa dia ada di sini? Namanya tidak terdaftar dalam daftar pengisi acara NG Award. Apakah dia sedang syuting di studio Towa TV yang lain, lalu menyempatkan diri bertemu dengannya di sela-sela waktu?

Dia dan pemilik ruang rias ini memang sudah lama dirumorkan menjalin hubungan asmara.

Setelah menerima kartu nama, wanita itu meminta maaf karena tidak membawa kartu nama, lalu memberikan senyum elegan padaku.

​"Kamu datang untuk menyapa Haru, kan? Maaf ya, aku jadi mengganggu."

Panggilan akrab yang kudengar kembali setelah dua tahun itu menarikku yang tadinya merasa seperti penonton televisi kembali ke kenyataan.

...Haru-san... Benar... Aku datang untuk menyapa orang itu.

Saat itu, tiba-tiba sebuah bayangan muncul di belakangnya.

Dari balik pintu yang masih terbuka, muncul seorang pria yang tingginya sekitar dua kepala lebih tinggi darinya.

Hiruk pikuk di sekitar tiba-tiba terasa menjauh, seolah waktu berhenti berputar.

—Mima Haruhito.

Dia juga rekan main di pekerjaan berikutnya, dan dialah sang pemilik ruang rias ini.

Tubuhnya yang tinggi hampir 190 cm dengan otot-otot yang luwes membalut tubuhnya, memancarkan aura intimidasi yang luar biasa hanya dengan berdiri di sana. Batang hidungnya tegas dan maskulin, dengan bibir tipis yang tampak dingin. Matanya yang tajam sedikit naik di bagian sudut, dan tatapannya terasa jauh lebih kuat daripada yang kulihat di televisi.

​Jantungku berdegup kencang menghantam rongga dada, suaranya sampai berdengung di gendang telingaku. Tenggorokanku serasa tercekik, aku tak lagi bisa meraup oksigen dengan benar.

Dengan dia, aktor berbakat yang enam tahun lebih tua dariku, dalam kehidupan kali ini, hari inilah pertama kalinya kami bertatap muka.

Segalanya, entah itu ini atau itu, seharusnya sudah diatur ulang dan dianggap tidak pernah terjadi di dunia ini. Meski aku terus meyakinkan diri sendiri, reaksi tubuh yang tidak normal ini justru menyodorkan kenyataan pahit padaku. Padahal sudah lebih dari dua tahun berlalu sejak saat itu. Aku dipaksa menyadari bahwa sebagian dari diriku masih terpaku di tangga darurat itu.

Wajahku memucat, dan tubuhku yang hampir limbung segera kutumpu dengan menyandarkan tangan ke dinding.

Mima mengangguk sekilas melewati bahu wanita itu kepada Shiraki-san yang membungkuk. Saat aku merasa tatapannya mengarah ke sini, aku buru-buru menundukkan wajah. Di sudut penglihatanku yang menunduk, kulihat jari-jari putih wanita itu menarik ujung lengan baju pria tersebut.

​"Haru. Natsuki-kun yang akan jadi rekan mainmu nanti datang menyapa, lho."

Gerakan yang sangat alami itu semakin mengacak-acak hatiku.

Wangi parfum berkualitas tinggi bercampur dengan aroma manis yang samar. Dan aroma Alpha lembut yang seolah menyelimuti aroma itu. Selain parfum, mungkin aromanya tidak akan disadari kecuali oleh orang yang memiliki indra penciuman tajam sepertiku. Namun bagiku, itu adalah bau yang sangat menyengat hingga membuatku sesak.

Aku harus segera pergi dari tempat ini. Instingku berteriak demikian.

​"A-Anu... Salam kenal. Saya Kakitani Natsuki. Untuk film 'Looking Up at the Sky', mohon bimbingannya untuk kalian berdua. Karena saya harus bersiap untuk syuting, saya mohon pamit!"

Sambil tetap menundukkan wajah, aku membungkuk sembilan puluh derajat, dan hanya dengan mengatakan itu, aku langsung berlari meninggalkan tempat itu tanpa melihat wajah mereka berdua.

...

​"Natsuki-kun, kulitmu benar-benar bagus ya. Seperti kulit bayi. Kalau saja tidak ada lingkaran hitam di bawah mata, hari ini pun kamu bisa tampil tanpa alas bedak. Sepertinya kamu tetap sibuk ya meski syuting dramamu sudah selesai."

Di tengah sesi rias, aku diajak bicara dan perlahan membuka mata. Lewat cermin, aku bertatapan dengan Mika-san, penata rias yang sedang mengoleskan dasar bedak ke wajahku.

Dia adalah penata rias rambut dan wajah eksklusif di stasiun ini, dengan ciri khas rambut hitam yang disanggul rapi di puncak kepala. Lensa kontak warna, bulu mata sambung yang lebat, serta perona pipi yang tebal memberikan kesan glamor yang tidak menunjukkan usianya, tapi menurut cerita staf, dia sudah bekerja di stasiun ini selama lebih dari sepuluh tahun. Sambil mengobrol ringan, gerakan tangannya cepat dan teliti, sehingga dia sangat dipercaya oleh para pengisi acara. Aku pun selalu dibantu olehnya selama syuting drama.

Seperti yang dikatakannya, di cermin terlihat diriku dengan lingkaran hitam tebal di bawah kedua mata, dan rona wajah yang buruk.

​"Yah, begitulah..."

Karena aku tidak mungkin menceritakan alasan sebenarnya, aku hanya bisa memberikan senyum samar lewat cermin.

Alasan lingkaran hitam ini bukan karena kesibukan kerja. Memikirkan akan pergi menyapa Mima membuatku didera kecemasan dan ketegangan hingga sulit tidur.

Namun, sepertinya di situlah keahlian penata rias populer ditunjukkan. Wajah pucat yang menampakkan kelelahan itu disulap menjadi warna kulit yang cerah dan sehat oleh alas bedak.

​"Sisanya tinggal merapikan alis saja. Kalau punya fitur wajah sempurna seperti Natsuki-kun, pekerjaanku jadi mudah. Padahal kamu seorang Beta, tapi Tuhan benar-benar tidak adil ya. Kalau mau membedakan berdasarkan jenis kelamin, setidaknya di dalam jenis kelamin yang sama, spesifikasinya harusnya disamakan dong."

Dalam hati aku tersentak mendengar keluhan Mika-san, tapi bagaimanapun juga, aku adalah seorang aktor. Wajah yang terpantul di cermin tidak menggerakkan alis sedikit pun, tetap mempertahankan wajah datar.

Mika-san juga tidak benar-benar mengeluh, mungkin itu hanya caranya memberikan pujian. Kemampuannya memuji adalah salah satu alasan dia populer.

​"Tapi, meski aku Beta, kemampuan fisikku tumpul, dan meski latihan beban pun ototku tidak terbentuk, jadi aku tidak punya nilai jual yang menonjol. Sejauh ini, peran-peran yang kudapatkan lewat audisi pun selalu mirip."

Sambil menonjolkan secara halus bahwa aku seorang Beta, aku berpura-pura mengeluh. Mika-san pun menurunkan sudut alisnya dan memberikan senyum yang agak prihatin.

"Di industri ini, wajah yang terlalu rapi malah sering tenggelam, sih."

Karena aku direkrut langsung oleh Direktur Pelaksana agensi hiburan, kurasa wajahku memang termasuk kategori "rapi" di mata publik. Mata yang tajam dengan kelopak ganda sering menarik perhatian orang, sementara batang hidung yang tegas dan bibir tipis tak jarang membuat staf wanita merasa iri.

Hanya saja, di dunia hiburan, orang sekelasku ada sebanyak butiran debu. Tidak ada yang menonjol sampai-sampai bisa mendapatkan pekerjaan hanya dengan modal tampang. Sejak memutuskan hidup sebagai Beta, aku mencoba melakukan latihan beban dan lari demi mencoba peran-peran aktif yang sebelumnya kuanggap tidak cocok dengan citraku, namun sejauh ini belum ada hasil yang terlihat secara kasat mata.

Selama kami bicara, alis yang gagah ditambahkan ke wajahku, dan wajah yang tadinya tampak netral tanpa riasan kini menjadi terlihat lebih maskulin.

Terdengar ketukan pintu, dan pintu ruangan yang terpantul di pinggir cermin terbuka. Yang masuk adalah manajerku, Shiraki-san.

​"Aku sudah bilang pada mereka berdua kalau kamu akan menyapa secara resmi lagi saat pertemuan pertama bulan depan," ucapnya sambil mendekat. Lewat cermin, aku menggumamkan "Maaf" sebagai permohonan maaf.

"Mima-san sempat bertanya, 'Kenapa dia memilih pekerjaan ini?', jadi saat bertemu bulan depan, jelaskan sendiri dengan benar ya."

"Eh? Ah, iya..."

Mungkin karena jawabanku yang ragu-ragu, Shiraki-san sempat menunjukkan wajah heran sesaat, tapi dia tidak mengatakan apa-apa lagi.

Justru akulah yang ingin bertanya—gumamku dalam hati.

Kenapa kamu menerima pekerjaan ini?

Padahal demi menghindari bermain peran bersamamu, kali ini aku sengaja memilih film ini.

​"Maksud kalian 'berdua' itu, apakah Yumi-chan tadi mendatangi Mima-kun?"

Mika-san yang berdiri di belakangku sambil menata rambut pirang pucatku secara acak dengan wax tampak matanya berbinar.

Pertemuan antara Mima Haruhito dan Nakashima Yumi sudah berulang kali diberitakan oleh majalah mingguan. Mendengar kata "berdua", dia langsung terpikir tentang wanita itu. Karena yang bersangkutan tidak pernah membenarkan maupun membantah laporan asmara tersebut, kebenarannya tetap menjadi misteri.

​"Sengaja memanggil ke ruang rias untuk melakukan Marking. Mima-kun ternyata punya sifat posesif yang kuat ya, meski kelihatannya dingin."

"Marking...?"

Seharusnya aku tidak bertanya. Karena mendengar istilah yang tidak familier, aku jadi refleks bertanya balik.

Mika-san membalas dengan senyum penuh arti.

"Tentu saja. Meski memakai choker, pasti banyak sekali Alpha yang mengincar Yumi-chan, kan? Dia menempelkan aromanya sendiri agar Alpha lain tidak punya celah untuk mendekat."

Jadi, aroma feromon Mima yang samar tercium darinya itu karena hal itu?

Lagi-lagi, dadaku terasa ditusuk rasa sakit yang tajam. Aku jadi ingin memukul diriku sendiri, bertanya-tanya kenapa aku harus merasa sakit hati karena urusan orang itu.

​"Ahhh. Seandainya aku seorang Omega, aku akan memasang Heat Trap untuk merebut Mima-kun!"

Mika-san menghentakkan kaki dengan kesal. Tanpa sadar, aku mendengus tawa pahit.

"Ah, sebentar, Natsuki-kun! Kamu barusan menertawakanku, ya? Mentang-mentang kamu seorang Beta yang beruntung!"

Mika-san menatapku dengan wajah seolah akan mengacak-acak rambutku yang sudah dia buat mengembang dengan indah.

"T-Tidak! Itu karena Mika-san yang sedang jatuh cinta tampak sangat imut, jadi aku hanya tersenyum melihatnya."

"Oh, benarkah? Kalau begitu, kamu harus menebusnya dengan foto berdua antara kamu dan Mima-kun untuk media sosial acara!"

Melihat kedipan mata lewat cermin, pipiku terasa kaku.

"K-Kenapa harus foto berduaku dengan Mima-san...?"

"Tentu saja untuk cuci mata dan promosi stasiun!"

Apakah dia bermaksud memintaku berfoto di sela-sela syuting? Bukankah itu syarat penebusan yang terlalu berat?

Saat aku sedang berpikir keras mencari alasan untuk menolak, terdengar suara ketukan dan pintu terbuka.

"Kakitani-san, mohon segera bersiap."

Kepada asisten sutradara yang melongokkan kepala, Shiraki-san menjawab "Segera ke sana". Setelah mengucapkan terima kasih kepada Mika-san yang melepas kepergianku dengan tatapan penuh harap, aku pun keluar dari ruang rias.

​Alasan aku tanpa sadar tertawa pahit mendengar ucapan Mika-san bukan karena meremehkannya. Itu adalah tawa mengejek diri sendiri. Karena aku tahu benar lewat tubuhku sendiri bahwa meskipun seseorang adalah Omega, dia tetap tidak akan bisa memiliki Mima meski menggunakan Heat Trap. Tentu saja, itu jika kejadian tersebut memang benar-benar terjadi dalam realitas.

Sepertinya selama dua tahun ini, aku sedang menelusuri kembali hari-hari yang seharusnya sudah kulewati sekali.

Aku didorong jatuh dari tangga darurat stasiun televisi, dan mengira akan mati di sana. Namun saat terbangun, waktu telah berputar mundur ke dua tahun yang lalu.

​Ayahku menghilang meninggalkan utang saat aku masih SD.

Ibuku, seorang penata rambut yang juga seorang Omega, memang aslinya memiliki tubuh yang lemah. Karena dia bekerja mati-matian untuk melunasi utang Ayah, dia akhirnya meninggal karena sakit saat aku kelas tiga SMA.

Paman dari pihak Ibu menjadi waliku, namun dengan alasan "perjalanan sekolah memakan waktu", dia memintaku tetap tinggal sendirian di apartemen subsidi tempatku tinggal bersama Ibu. Entah karena peduli pada pandangan orang atau apa, dia juga secara tersirat menentang aku masuk panti asuhan, tapi di sisi lain dia tidak memberikan bantuan finansial sama sekali.

Paman memiliki anak laki-laki dan perempuan yang sudah kuliah. Alasan dia tidak mau menampungku mungkin karena aku seorang Omega.

Di dunia ini, selain jenis kelamin pria dan wanita, ada jenis kelamin kedua yaitu Alpha, Beta, dan Omega.

Alpha sering kali terlahir unggul baik secara fisik maupun kemampuan. Beta yang mendominasi sebagian besar populasi cenderung tidak terpengaruh oleh jenis kelamin kedua dan memiliki kemampuan rata-rata. Omega, yang jumlahnya paling sedikit, biasanya bertubuh kecil dengan berbagai kemampuan di bawah rata-rata, namun memiliki kondisi tubuh khusus di mana pria pun bisa hamil. Pada masa Heat (masa subur) yang datang tiga bulan sekali, mereka mengeluarkan aroma manis yang disebut feromon yang menggoda Alpha dan Beta tanpa memandang jenis kelamin. Karena itulah, Omega sering dianggap sebagai beban atau "pengganggu" secara sosial.

​Uang asuransi jiwa Ibu sebagian besar berupa asuransi kesehatan dan uang kematiannya pun jumlahnya sedikit, jadi setelah membayar biaya medis dan pemakaman, hampir tidak ada yang tersisa di tangan.

Sejak masuk SMA, aku mulai bekerja paruh waktu di minimarket dan menabung untuk kuliah, jadi untuk sementara aku hanya bisa menggunakan uang itu untuk biaya sekolah dan hidup. Untuk pekerja paruh waktu siswa SMA, jam kerja dibatasi hingga pukul sepuluh malam, dan di hari Sabtu-Minggu pun maksimal hanya boleh bekerja delapan jam. Terlebih lagi, selama masa Heat tiga bulan sekali, aku butuh libur sekitar satu minggu. Tabunganku terus berkurang, sehingga aku cepat-cepat merelakan niat untuk kuliah, namun kegiatan mencari kerja setelahnya pun tidak berjalan mulus.

Dunia luar sangat kejam terhadap seorang lulusan SMA yang merupakan seorang Omega. Begitu mulai mencari kerja, aku dipaksa menyadari kenyataan itu lagi. Meskipun kolom jenis kelamin di riwayat hidup bersifat opsional, saat wawancara mereka pasti menanyakan jenis kelamin kedua karena itu dianggap perlu untuk menentukan penempatan dan bentuk kerja. Setelah mulai mencari kerja sejak musim panas dan tetap menerima penolakan pada gelombang kedua di musim gugur, aku berpikir untuk menjadi penata rambut seperti Ibu agar setidaknya punya keahlian.

Namun, meskipun aku bersekolah di sekolah kecantikan malam hari sambil bekerja, aku tetap harus menyiapkan uang pangkal. Paman tentu saja menolak saat aku ingin meminjam uang. Meskipun aku menambah jam kerja paruh waktu, jumlahnya tidak akan terkumpul dalam waktu singkat.

​Setelah merasa sangat buntu, aku sempat terpikir untuk terjun ke dunia semacam "Papa-katsu" (mencari pria kaya untuk membiayai hidup).

Sebelumnya pun, aku sering disapa oleh orang-orang mencurigakan tanpa memandang pria atau wanita, jadi aku tahu bahwa diriku mudah dijadikan objek fantasi seksual. Kenyataannya, begitu aku mendaftar di aplikasi semacam itu sebagai pria Omega, langsung masuk beberapa ajakan. Dari sana, aku memilih orang yang tampak relatif aman yang mengirim pesan "Bagaimana kalau kita mulai dengan kencan makan malam saja?", lalu aku memutuskan untuk bertemu dengannya.

Tepat saat itulah, dalam perjalanan pulang sekolah, aku direkrut oleh Direktur Pelaksana Tsukishiro Production, agensiku saat ini.

Dia bilang jika aku bergabung dengan agensi, dia bisa memberikan pekerjaan model brosur segera, dan bayarannya diberikan harian. Bayaran model jauh lebih baik daripada gaji minimarket, dan itu terasa lebih aman daripada Papa-katsu.

Akhirnya, aku menolak janji temu dengan orang di aplikasi tersebut, dan keesokan harinya aku pergi ke kantor agensi untuk mendengar penjelasan, lalu menandatangani kontrak sementara sebagai peserta pelatihan.

​Setelah itu, berawal dari pekerjaan video klip, aku mulai tertarik pada dunia akting. Aku membatalkan niat masuk sekolah kecantikan dan memutuskan untuk mengejar karier sebagai aktor setelah lulus SMA.

Meski aslinya aku pemalu dan tertutup, sejak tes di bangku SMP menyatakan aku adalah Omega, aku jadi takut ketahuan dan semakin menghindari kontak dengan orang lain. Aku sempat ragu apakah aku yang seperti ini bisa melakukan pekerjaan di depan umum, namun karena Ibu sibuk dan aku punya sedikit teman, sejak kecil aku sudah terbiasa membaca buku di sekolah maupun di rumah. Aku suka masuk ke dalam dunia cerita atau membayangkan latar belakang yang tidak tertulis. Pekerjaan sebagai aktor, di mana aku memerankan tokoh yang diberikan sambil membayangkan kehidupan seperti apa yang dia jalani dan cara berpikirnya, terasa sangat menarik bagiku.

Dukungan dari Direktur Pelaksana Tsukishiro yang merekrutku, yang sengaja menyapaku di sela-sela latihan di kantor dan menunjukkan perhatiannya, juga menjadi penyemangat bagiku.

Direktur Pelaksana, yang merupakan putra dari pemilik agensi, berusia sepuluh tahun lebih tua dariku dan saat pertama kali kami bertemu, dia masih berusia dua puluhan. Meskipun memiliki jabatan tinggi, dia sering turun ke lapangan. Penampilannya sangat menawan seolah dia sendiri pun cocok menjadi model atau aktor. Dia terlihat jelas sebagai seorang Alpha, namun tidak memiliki aura intimidasi seperti Alpha lainnya. Selain itu, sorot matanya yang sedikit turun memberikan kesan manis, dan pembawaannya sangat lembut kepada siapa pun.

Setiap kali disapa oleh sosok idaman yang seolah berada di atas awan itu, aku selalu merasa melayang hingga tidak bisa menjawab pertanyaannya dengan benar.

​"Saat tampil di media, anggap saja kamu sedang memerankan sosok talenta bernama Kakitani Natsuki."

Direktur Pelaksana berkata demikian mungkin karena kemampuan komunikasiku yang benar-benar hancur.

Katanya, kalau aku memasang wajah datar, aku terlihat sangat angkuh seolah sedang meremehkan orang lain. Dia juga menyarankan agar aku tidak pernah berhenti tersenyum di depan kamera dan selalu menonjolkan keakraban dengan rekan main.

Sejak pekerjaan di acara varietas bertambah, aku diperkenalkan pada saluran video streaming milik senior yang sudah jarang tampil di televisi sebagai referensi pembentukan karakter. Saluran itu mengajarkan cara menjadi populer dan teknik-teknik percintaan.

Berkat itu, aku mulai cukup populer, mulai dipanggil ke acara varietas dari model majalah, dan pekerjaan sebagai aktor pun meningkat dengan lancar. Publik mulai menjulukiku sebagai "pemuda iblis kecil yang licik tapi imut". Di tahun kedua sebagai aktor, aku terpilih menjadi pemeran utama drama untuk pertama kalinya, namun kemampuanku belum bisa mengimbangi popularitas tersebut. Ditambah lagi, sulit bagiku untuk terus berakting sepanjang waktu. Sebagai dampaknya, aku merasa lelah membentuk karakter, dan berbanding terbalik dengan di depan kamera, dalam keseharian aku tidak pernah bicara dengan orang lain atas kemauanku sendiri.

Di luar bersikap manis kepada penonton, di dalam aku mengurung diri dalam cangkangku sendiri. Seiring dengan turunnya rating drama di setiap episodenya, aku mulai kehilangan ketenangan, dan kepribadian gandaku itu sepertinya menjadi semakin parah. Karena itulah, reputasiku di mata rekan main dan staf kabarnya sangat buruk.

Yang memberitahuku soal itu juga orang itu—Mima Haruhito.

​"Baik, kita mulai syutingnya! Lima detik sebelum mulai! Empat! Tiga! ..."

Hitung mundur dari asisten sutradara dimulai. Aku merasa ada yang menatapku, jadi aku refleks menoleh ke arah itu.

Di deretan kursi penonton yang agak jauh, duduk para pemeran dari drama lain. Di sana juga ada Mima.

Tidak mungkin dia sedang melihat ke arahku, jadi mungkin itu hanya perasaanku saja.

Mima tetap memiliki punggung yang tegak lurus meski kamera tidak sedang menyorotnya; postur tubuhnya tetap sebagus biasanya. Katanya, agar dia terlihat indah saat beradegan di drama kolosal, dia selalu memperhatikan postur tubuhnya sehari-hari. Itu pun informasi yang kudengar di kehidupan pertamaku.

Lagi-lagi, pikiranku hampir ditarik kembali ke masa dua tahun yang seharusnya sudah hilang itu, namun aku segera mengalihkan pandanganku kembali ke monitor.

​Dia adalah satu-satunya orang yang memberitahuku kebahagiaan terlahir sebagai seorang Omega. Dan, dia juga orang yang mungkin saja telah membunuhku.

Aku benar-benar tidak ingin bertemu dengannya lagi. Itu adalah kenyataan yang kurasakan.

Namun, aku juga menyadari bahwa perasaan yang berbeda dari itu, layaknya cahaya kecil yang kulihat di tengah kegelapan, masih ada jauh di lubuk hatiku.

BAB DUA: WAKTU BERPUTAR MUNDUR!?

​Jika ingatanku benar, sepertinya aku sudah mati sekali. Kematian itu terjadi sekitar empat bulan ke depan dari sekarang. Meskipun terdengar aneh mengatakan "mati di masa depan".

Di kehidupan pertamaku, aku didorong oleh seseorang dari tangga darurat stasiun televisi, kepalaku terbentur keras hingga aku kehilangan kesadaran. Saat itu, aku tersadar sedang berjalan di kegelapan sambil dituntun oleh seorang anak kecil.

Aku samar-samar ingat sempat bertukar kata dengannya. Setelah itu anak itu menghilang, dan aku sendirian tersedot ke dalam cahaya yang kupikir adalah pintu keluar.

Ingatanku berakhir di sana. Saat aku terbangun berikutnya, awalnya aku tidak tahu apakah aku sudah bangun atau masih di dalam mimpi.

Sebab, pemandangan yang terbentang di depanku adalah kamar apartemen tempatku tinggal bersama Ibu dulu. Padahal seharusnya setelah lulus SMA aku sudah keluar dari sana dan masuk ke asrama agensi. Terlebih lagi, tidak ada luka bahkan bekas luka pun di kepalaku.

​Dengan pikiran yang kacau aku melihat ponsel pintarku, dan aku merasa sangat terkejut. Tanggal yang tertera di sana adalah sekitar empat bulan yang lalu. Aku buru-buru membuka aplikasi kalender, dan mengetahui bahwa itu bukan tepat empat bulan yang lalu, melainkan dua tahun empat bulan yang lalu. Di saat yang sama, melihat tulisan yang tertera di sana, aku teringat apa yang terjadi pada hari itu.

Hari yang tertulis sebagai 'Wawancara Tsukishiro Production' adalah hari setelah aku direkrut oleh Direktur Pelaksana Tsukishiro—dengan kata lain, itu adalah hari di mana aku pergi ke kantor Tsukishiro Production dan didaftarkan sebagai talenta sementara.

Pikiran tidak masuk akal seperti "Waktu berputar mundur!?" muncul, namun ingatan selama dua tahun empat bulan itu terlalu nyata untuk disebut mimpi. Terutama kekacauan dan ketakutan saat aku didorong dari tangga, serta rasa sakit dan benturan sesaat setelahnya yang membuatku merasa kepalaku hancur, masih membuat tubuhku gemetar dan mual hanya dengan mengingatnya saja. Aku benar-benar tidak bisa menganggap itu hanya kejadian di dalam mimpi.

​Mungkin saja, setelah kepalaku terbentur aku tidak mati, dan saat ini yang kuanggap waktu berputar mundur justru adalah kejadian di dalam mimpi. Berpikir begitu, aku mencoba mencubit pipiku sekuat tenaga, dan itu terasa sangat sakit hingga air mataku keluar, sehingga aku tidak bisa menganggap saat ini adalah di dalam mimpi.

. . . .. . .. .. 



Got an error? Report now
Comments

Comments

Memuat komentar...

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

Silakan daftar/masuk ke akun kamu terlebih dahulu. Lalu Support melalui halaman profil.

Konten Terkunci

Chapter ini khusus untuk supporter

Chapter yang kamu pilih:

-

⚠ Akun kamu belum tergabung dalam Gembokers

Support untuk akses semua chapter gembok tanpa batas.

Kamu sudah login! Suport sekarang melalui halaman profil untuk membaca chapter ini.

Support Sekarang

Volume

🔒 Khusus Gembokers. Klik untuk download.

🎵 Baca sambil
dengerin playlist disini!
langitoren playlist
🎵
Pilih playlist untuk mulai
0:00 0:00
URL tidak dapat diputar. Cek link di konfigurasi.
Memuat...
Pilih playlist dulu